Two Brother ✅

By DeanaChernovita

19.3K 2K 833

Karena Kematian Ibunya, Yoongi Harus Berpisah Dengan Seokjin Adiknya. Yoongi Diangkat Anak Oleh Seorang Kongl... More

Chiken Chiken
Bertahan Terluka
Keluarga Jeong
Pengaruh Byungmo
Yoongi vs Yunho
Siapa Byungmo?
Taehyung atau Byungmo
Perkelahian
Song Seung Wan
Kematian Jungkook
Peringatan
Masa lalu
Mampir ya
Ancaman
Rahasia
Di Rumah Sakit
Markas Di Serang
Bekerja
Minta bantuan
Kegelisahan Yoongi
Kembali
Tugas
Lee Jung Jin
Misdirected
Jwan atau Seokjin
Order
Resigned
Attack
Third meeting
Past stories
Go home
Divorced
Destroyed
Jealous
Memory
Jealous PT.2
A Number Of
Suddenly Lost
Berita
Accept
Suspect
Whatever that is
Worry
Complaint
Deep Breath
Kill
Trust Me
Rangkuman
Two brother Season 2
Hurt

Jwan dan Minho

315 42 8
By DeanaChernovita

Mentari pagi tersenyum hangat setelah semalaman hujan lebat mengguyur bumi.

Minho membuka kelopak mata dan mengerjap perlahan. Dia merasakan tubuhnya terasa remuk dan sakit luar biasa. Wajahnya meringis merasakan nyeri di perut dan kakinya. Bau obat samar masuk ke indra penciumannya. Kepalanya terasa sangat berat.

Minho mencoba menggerakkan tangannya yang terasa berat, namun sulit. Seperti ada sesuatu beban yang menindih tangan kanannya. Minho melirik, dan baru menyadari, tangannya ditindih kepala Jwan yang sedang pulas tertidur.

Minho mengangkat tangannya hati hati agar tidak membangunkan bocah itu. Setelah terlepas, Minho mengusap lembut rambut Jwan dengan sayang.

Seperti merasa ada yang menyentuhnya, Jwan terbangun dan matanya mengerjab, lalu tersenyum ketika Minho sudah bangun.

"Hyungie sudah merasa baik, kan?" Tanya Jwan dengan membenarkan letak bantal.

"Kau tidak pulang semalaman?"

"Pulang kok Hyung, setelah hyungie selesai di operasi. Terus tadi habis shubuh kesini lagi."

"Kau sudah makan?"

Jwan menggeleng dan tersenyum malu. Bahkan dia lupa belum makan sejak semalam. Nasi goreng kimchi yang dibelinya tadi malam entah kemana, mungkin dia meninggalkan di jalan saat berlari masuk ke dalam rumah.

"Ayo makan."

"Nanti saja, Hyung."

"Kenapa harus nanti? Tidak ada uang?"

Jwan terdiam. Dan Minho mengerti dengan diamnya bocah itu.

"Kemarilah. Dekatkan telingamu pada Hyung." Jwan mendekatkan telinganya di bibir Minho, dan terlihat pria itu berbisik.

"Kau tahu kan, ranjang tempat tidur Hyun?" Jwan mengangguk.

"Saat tidak ada orang, geser ranjang itu, dan nanti ada kertas koran dengan gambar Rambo, sobek kertas itu. Uang Hyung ada di dalam cerukan dinding itu. Ambil semuanya. Ingat, jangan ada orang yang tahu."

Jwan memandang Minho dengan tertegun.

"Bawa kesini. Kau paham?" Bocah itu mengangguk pelan.

"Dengarkan Hyung lagi. Ada pengkhianat diantara anak buah kita. Hyung tidak pernah menyuruh mereka membunuh anak buah Jungjin. Jadi memang ada yang mau mengadu domba. Setelah kau berhasil mengambil semua uang Hyung, kita pergi dari kota ini, karena hyesung tidak akan membiarkan kita hidup. Jangan katakan pada siapapun rencana kita. Entah apa rencana orang itu untuk mengadu domba Hyung dan Hyesung, kau paham?"

Lagi dan lagi Jwan hanya mengangguk.

"Pergilah dan cepat kembali kesini. Jangan bawa apapun, agar tidak ada yang curiga."

"Nee, Hyung. Jwan pergi sekarang dan akan hati hati."

****
Dua sosok terlihat mengendap meninggalkan rumah sakit tengah malam. Minho berjalan sedikit terhuyung dan pincang karena kakinya terluka parah.

"Apa hyungie bisa bertahan?" Bisik Jwan khawatir.

"Tidak perlu khawatir, yang penting kita harus segera pergi dari sini." 

Jwan menopang tubuh Minho yang berjalan tertatih. Mereka menghentikan taxi karena halte bus jauh dari rumah sakit. Mereka berhenti di halte bus menuju luar seoul. Jwan terlihat mendekap erat tas ransel yang berisi semua uang dan beberapa gram emas tabungan Minho.

Minho memakai topi dan selalu menunduk agar tidak ada yang mengenalinya. Minho dan Jwan menyambut mentari pagi menyapa. Minho sendiri sebenarnya belum tahu mereka mau pergi kemana. Dia hanya akan menurut pada bus yang membawa mereka nanti terakhir kemana akan berhenti. Yang pasti saat ini, mereka harus pergi sejauh-jauhnya dari Seoul, karena hidupnya sudah tidak aman. Dia akan menyusun kekuatan kembali agar nanti saatnya tiba, dia akan kembali ke Seoul dan membalaskan dendamnya.

Jwan sudah tahu siapa anak buahnya yang berkhianat. Hanya saja dia belum tahu siapa dibalik Jaewook dan apa motifnya untuk mengadu domba dirinya dengan Hyesung.

Satu bulan kemudian...

Jwan sedang membantu sebuah kendaraan yang akan parkir di terminal. Minho mengamatinya dari jauh dan duduk di pinggir terminal bus. Lukanya sudah cukup membaik.

Uang yang dia miliki sangat berguna untuk menyewa sebuah rumah untuk tinggal mereka berdua dan menyuap beberapa preman terminal agar memberi mereka pekerjaan pada Jwan. Minho sangat bersyukur memiliki Jwan. Tidak sia sia dulu dia menyelamatkan anak itu dari amukan anak buahnya karena berani menapung salah satu anak buahnya yang mencoba memalaknya.

Dan disinilah mereka, disebuah kota Busan. Bus yang membawa mereka berhenti terakhir di tempat ini.

"Jwan! Makan dulu, saeng!" Teriak nya menyuruh anak itu untuk makan. Jwan hanya melambaikan tangan karena pekerjaannya belum selesai. Dia merasa kasihan dengan bocah itu. Usianya sekarang hampir masuk 18 tahun dan harus nya ia meneruskan ke jenjang universitas, tapi karena kejadian itu, mereka harus pergi dari Seoul.

Malam tiba, dua orang tampak sedang menikmati makan malam mereka dengan ramyeon yang dibeli di dekat terminal bus. Karena keramahan dan kebaikan Minho juga kecerdasan Jwan, kini mereka sudah banyak memiliki teman. Tentu saja teman sesama preman terminal.

"Kau tidak boleh berhenti belajar bela diri. Karena itu bekalmu kelak." Kata Minho sambil meneguk kopi yang sudah dingin.

"Nee, hyungieee. Jwan akan berlatih terus."

"Kau tahu, Jwan. Seandainya anak Hyung masih hidup, pasti sekarang sudah sebesar kamu," Minho menatap kopinya yang hampir habis dengan sendu.

"Itu sebabnya Hyung mengganti namamu dengan Jwan. Karena saat pertama kali melihatmu, kau mirip dengan Jwan anak nya Hyung." Minho tersenyum sendu ke arah Jwan.

"Dan kau tahu, siapa yang membunuh anak dan istriku?" Jwan menatap Minho dan menggeleng.

"Shin Hye Sung." Dahi Jwan mengernyit tanda tidak paham.

"Saat itu, Hyung baru pulang dari terminal dan bertemu dengan Hyesung di jalan. Memang sejak dulu kami tidak pernah akur. Dia selalu mencari gara gara denganku. Kami saling bersitegang dan hampir saling menyerang, saat Taeyeon istriku datang dengan menggendong Jwan yang baru berusia tiga tahun karena demam tinggi. Disaat bersamaan, hyesung mendorongku agar terjatuh, tapi naas, Taeyeon yang datang dan berada di belakang tubuhku bersama jwan ke belakang, dan sebuah mobil yang melaju kencang menabrak mereka," Minho mengusap air matanya yang mengalir.

" Sejak saat itu aku tidak bisa memaafkan hyesung. Dan kini dia jadi orang kaya. Jwan... Dengarkan hyungie. Dibalik Hyesung yang merebut lahan kita ada seorang pemuda tampan. Mereka memanggil nya tuan muda. Pemuda itu sangat kaya dan menjadi penguasa. Dia juga yang menyuruh anak buah hyesung untuk menghabisi Hyung. Dan dia juga yang memberi Hyung dengan banyak uang, termasuk uang yang kita pakai untuk hidup disini adalah pemberian dari tuan muda itu. Hyung tidak tahu apa maksudnya, setelah menghajar lalu memberi banyak uang.
Ingatlah Jwan, kau harus mencari tahu siapa Tuan muda itu. Karena dia ada dibalik semua pekerjaan Hyesung saat ini."

****

Hari ini byungmo merayakan pesta untuk semua anak buahnya disebuah hotel bintang lima di daerah Gangnam. Black House merayakan kemenangan mereka karena telah menguasai pangsa pasar hingga Itali dan Meksiko. Semua bebas menikmati semua fasilitas hotel dan para wanita penghibur yang sudah disediakan oleh Joy.

"Sayang Tuan muda tidak mau hadir diantara kita," Joy meneguk Vodka nya.

"Dia hanya tidak mau pulang, itu saja," sahut Hyesung.

"Bagaimana dengan Minho? Kenapa tidak ada berita tentang nya?" Byungmo yang baru datang ikut duduk bersama mereka.

"Dia menghilang, bos. Bersama seorang bocah yang sudah seperti anaknya sendiri," sahut Joy.


"Menghilang?" Byungmo mengernyitkan kening tidak mengerti.

"Minho melarikan diri dari rumah sakit, masih dalam keadaan terluka parah. Sepertinya kita telah salah sangka, bos." Hyesung ikut menimpali.

"Salah sangka bagaimana maksudmu?"

"Yang membunuh anak buah Jungjin bukan Minho. Sepertinya ada yang mau mengadu domba kita. Minho tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu," Byungmo mencerna kalimat hyesung dan berpikir.

"Ada seseorang lagi yang ingin sok tahu. Selidiki masalah ini, dan cari tahu sejauh mana orang itu tahu tentang kita," perintah byungmo dengan anggukan kedua anak buahnya.

"Ada kabar juga dari Tuan Kim, bos. KIM GRUP ingin mengajak CHOI GROUP bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Taekwoon," ujar Hyesung dengan meneguk minumannya.

Byungmo tertawa puas," Bagus. KIM GRUP adalah musuh utama Taekwoon. Mereka pasti merasa ada yang janggal dengan kematian putra mereka saat itu."

"Tapi... KIM GRUP juga mengincar Tuan muda. Karena menurut mereka, Tuan muda ada dibalik kematian putranya."

Byungmo menatap Hyesung dengan kening berkerut," lalu apa yang dikatakan Jung Hyun?"

"Jelas Tuan Jung Hyun pura pura tidak tahu tentang Tuan muda. Dia berusaha terus mendekati KIM GRUP agar tetap percaya pada CHOI GROUP. Dan menurut Tuan Jung Hyun, Kim Grup mencoba mencari keberadaan Tuan muda."

"Dengan cepat pasti mereka akan segera menemukannya. Beri peringatan pada tuan muda, dan tingkatkan keamanan baginya. KIM GRUP bisa sewaktu waktu melakukan balas dendam, karena dia merasa Tuan muda pemuda biasa yang mudah diperdaya." Byungmo menghisap rokoknya dan menghembuskan nya perlahan.

"Aku akan menghubungi Tuan muda sekarang, dan kau mencari tahu tentang siapa yang menjebak Minho," kata Hyesung pada Joy.

"Yaa, santai. Sekarang bukan waktunya kita bekerja, nikmati malam ini. Bukankah kita kemari untuk bersenang-senang?" Byungmo berdiri dan menghampiri seorang wanita seksi dan cantik.

Hyesung dan Joy tertawa kemudian mereka juga mengajak seorang wanita dan pria untuk masuk ke dalam kamar hotel.

****
Ruangan beraroma lembut dan didominasi dengan warna kalem membuat siapa saja yang berada di dalamnya menjadi betah.

Jung Hyun sedang meneliti beberapa dokumen dan sesekali netranya melirik pada komputer di depannya yang dari tadi menyala.
Pintu ruangan terbuka dan masuklah Tuan Wonhae, ayahnya.

"Ini sudah tengah malam, nak. Tidakkah kau istirahat terlebih dahulu?"

"Nanggung, appa. Sebentar lagi juga selesai kok."

"Kau sudah bekerja keras membuat Choi group kembali berjaya. Appa rasa, pengabdianmu pada tuan muda sudah lebih dari cukup."

Continue Reading

You'll Also Like

136K 7.6K 31
Semua berawal dari kecelakaan waktu itu, andai tuhan mengubah takdir jaemin didetik itu mungkin kebahagiaan selalu menyertainya hingga kini. Rela har...
984K 69.5K 38
Start 14 Maret 18 End 3 November 18 Revisi 27 Agustus 2022 Bagaimana jika 7 namja tampan tiba2 menemukan bayi di depan rumah mereka Dan apa mereka...
87.6K 4.7K 27
Akankah Yn mendapatkan kepercayaan ketujuh kakaknya kembali sebelum ia pergi? Start : 15 Desember 2022. End : 31 Januari 2023.
65.3K 5.1K 23
Keputusan Hongjoong untuk membawa pulang seorang anak kecil yang ia temui malam itu di halte membuat kehidupannya lebih berwarna. Kebahagiaan dan cin...
Wattpad App - Unlock exclusive features