"Jalur Merah – Chapter 6 : Godaan"
Fanfiction by Dramaquenns
Warning(s) : Alternate Universe, sedikit hints Taufan x Yaya dan Halilintar x Ying, horornya dikit, dramanya banyak, bahasa dialog non-baku.
.
.
.
Taufan mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh. Gopal dan Fang yang berjalan di sampingnya juga ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Fang, mengerutkan dahi heran.
"Kalian dengar barusan ada yang teriak, nggak?" Taufan balas bertanya, pandangannya menelusuri sekitar.
"Siapa? Aku nggak denger apa-apa, kok," Gopal menggeleng. Ia bergidik dan berdiri merapat di sebelah Fang.
"Masa' nggak dengar, sih? Tadi ada yang teriak," ucap Taufan, bersikeras. "Suaranya mirip Yaya, deh."
"Halu aja kali kamunya." Fang masih terus mencoba fokus untuk mencari arah yang benar. "Di sini emang sering gitu. Banyak yang ngerjain, jadi nggak usah gampang percaya."
Taufan mengerutkan kening. Ia merasa yakin suara yang di dengarnya memang mirip dengan suara Yaya. Namun, Fang juga benar. Sudah beberapa kali ia dan Gopal terkecoh tadi. Lebih baik tidak mengulangi kesalahan yang sama dan berakhir menambah masalah.
Sekali lagi, Taufan menoleh ke belakang, hanya untuk memastikan. Senternya menyoroti bayangan pepohonan yang gelap, tapi ia tidak melihat siapapun selain mereka di sana. Walau sebenarnya masih penasaran, Taufan memang sebaiknya menuruti Fang. Lagipula saat ini Yaya pasti bersama Halilintar dan yang lain. Halilintar pasti bisa menjaga mereka semua.
"Kita sebenarnya mau ke mana, sih? Dari tadi cuma muter-muter nggak jelas aja. Capek, tau," keluh Gopal.
"Kita kan mau nyari yang lain. Dari tadi belum ketemu, gimana nggak muter-muter?" tukas Fang tak sabar.
"Nggak bisa nyari besok aja?" usul Gopal penuh harap. "Ini masih gelap banget. Mau kita muter ke manapun nggak keliatan apa-apa. Mending kita balik ke pondok dan istirahat."
"Nggak bisa," decak Fang. "Ini di hutan, bukan di pasar. Kita nggak bakal bisa tau kejadian apa yang mungkin menimpa mereka kalau nggak dicari sekarang.
Taufan masih tidak fokus mendengarkan. Ia masih terbayang-bayang dengan suara yang didengarnya barusan. Bagaimana jika itu benar-benar Yaya? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadis itu? Mungkinkah teman-teman mereka yang lain juga terpisah dan sekarang saling berpencar?
Taufan tersentak, seketika menoleh ke samping. Keningnya berkerut mendengar suara langkah kaki, terseret. Perlahan, dengan rasa was-was ia menyorot senternya ke tengah kegelapan.
"Oi," panggil Taufan, berbisik. Namun itu cukup membuat Fang dan Gopal ikut berhenti. "Kayaknya di sana ada orang deh."
"Kamu jangan aneh-aneh, deh," Gopal lagi-lagi mengerut takut. "Kamu dengar apa lagi sekarang?"
Taufan memicingkan mata, memfokuskan penglihatan pada sosok yang tampaknya bergerak mendekat. Senter Taufan menyirit ke tanah, dan ia sedikit lega melihat ada dua pasang kaki yang bergerak pelan di seberang mereka.
"Itu ada orang," ucap Taufan.
"Yakin itu orang?" Gopal menyembunyikan diri di belakang punggung Taufan.
"Yakinlah. Ada kakinya, kok," tunjuk Taufan. "Tapi mereka kok nggak ngeliat kita, ya?"
"Mungkin bukan siapa-siapa," kata Fang, tampak ragu. "Mending kita lanjut jalan, jangan terkecoh."
Taufan mengabaikan saran Fang dan justru berseru, "Hoi! Siapa di sana?"
"Taufan?" Sahutan terdengar. Suara familiar perempuan yang dikenal mereka.
"Ying!" Taufan berseru heboh, menoleh antusias pada kedua temannya. "Eh, itu Ying. Ying! Ying! Di sini. Kita di sini. Ikutin arah senternya!"
Taufan melambaikan senternya dengan bersemangat, mengarahkan Ying untuk mendekat. Senyumnya langsung berubah menjadi ekspresi horor begitu melihat Ying muncul dari balik pohon sambil memapah Halilintar yang berlumuran darah.
"Halilintar!"
Taufan lebih dulu berlari menghampiri, disusul oleh Gopal dan Fang. Ketiganya menatap Halilintar dengan mata membeliak. Halilintar tidak serapi biasanya. Jaketnya sobek, ada guratan lumpur di setiap garmennya. Belum lagi kakinya yang harus dililit—tunggu, apa itu syal milik Ying? Dan beberapa goresan di wajah serta darah yang terciprat di wajah dan bajunya.
"Hali, kamu habis ngapain?" Taufan bertanya cemas, sekaligus penasaran. "Digigit setan?"
Kepala Taufan langsung dikemplang Gopal dari belakang. "Jangan bicara sembarangan! Nanti setannya muncul beneran, gimana?"
"Dia ... habis diserang binatang buas," Ying bantu menjawabkan.
"Apa? Fang bilang kan di sini nggak ada binatang buas! Ternyata kamu emang bohong, Fang?" tuding Gopal.
"Aku nggak bohong," Fang mendesah lelah. "Di sini emang harusnya nggak ada hewan buas."
"Jadi Hali beneran digigit setan?" tanya Taufan lagi.
"Daripada kalian ngomong ngelantur terus, mending bantuin sini," sela Ying. Ia menurunkan Halilintar dengan hati-hati dan membantunya berbaring di rumput. "Hali kayaknya udah nggak sanggup jalan lagi. Kita harus gimana?"
Taufan ikut berjongkok, memeriksa kondisi saudaranya. Ia menempelkan dua jari di leher Halilintar, merasakan denyut nadi yang bergerak cepat. Napas Halilintar tak beraturan, dan matanya terpejam.
"Kalian cuma berdua?" Taufan menoleh pada Ying. "Yaya sama Gempa mana?"
"Eeh—itu. Itu aku nggak tau." Ying menggeleng, menggigit bibir cemas. "Hali bilang, dia ninggalin mereka berdua karena mau cari aku... Tadi kami juga sempat kepisah."
"Kamu ninggalin mereka berdua? Serius?" Taufan menatap Halilintar tak percaya.
"Aku nggak punya pilihan," gumam Halilintar dengan mata tertutup. "Gempa pingsan. Aku nggak bisa terus gendong dia sambil nyari Ying."
"Ya tapi masa' kamu ninggalin mereka gitu aja? Apalagi kamu bilang Gempa pingsan? Pingsan kenapa?"
"Aku nggak tau jelasnya kenapa,"ujar Halilintar. Napasnya terdnega rpendek-pendek. "Tapi yang pasti, Gempa sempat ngejar kalian bertiga di danau."
"Hah? Kok ngejar kami? Kami aja nggak pernah ke danau," kata Taufan. Fang dan Gopal mengangguk mengiyakan. "Jadi kamu ninggalin mereka di mana?"
Halilintar tidak menjawab, dan Taufan mendesah gusar.
"Kok bisa-bisanya kamu ninggalin Yaya sendirian sama Gempa yang lagi pingsan?! Kalau kejadian sesuatu sama mereka berdua gimana? Kamu mau tanggung jawab?!"
Halilintar mengerang kesal dan membuka mata, menatap Taufan tajam. "Terus kalau ada sesuatu sama Ying gimana? Dari tadi dia cuma berkeliaran sendirian di hutan ini! Bahkan dia nggak bawa senter! Kalau aku nggak datang, mungkin dia udah mati dimakan binatang itu. Kamu juga mau tanggung jawab kalau sampai kayak gitu?!"
"Kenapa malah berantem, sih?" Fang menyela tak sabar. "Sekarang kita udah hampir ngumpul semua, jangan malah berantem. Kita cuma harus cari Gempa sama Yaya aja sekarang. Setelah itu kita bisa cari jalan keluar dari hutan ini."
"Yaya..." gumam Taufan, mendadak teringat sesuatu. "Gimana kalau suara teriakan yang aku dengar tadi beneran suara Yaya?"
"Kamu ... dengar Yaya teriak?" tanya Ying cemas.
Taufan menganggagguk. Ia menunjuk arah dengan cahaya senternya.
"Tadi aku dengar di sebelah sana. Dia teriak kenceng banget," jelas Taufan. "Tapi karena Fang dan Gopal nggak dengar, jadi kupikir itu bukan dia." Ia lalu menoleh pada Halilintar. "Kamu ninggalin mereka berdua di mana, Hali?"
"Kayaknya masih belum jauh dari danau," sahut Halilintar. "Aku nggak hapal jalannya, jadi nggak tau pasti."
"Kalau gitu biar aku cari mereka," kata Taufan. Ia bergegas beranjak dan sudah hampir melangkah pergi saat Fang kembali menahannya.
"Kamu mau pergi sendiri?" Fang melotot tak percaya.
"Iya, lah. Mau gimana lagi?" tukas Taufan. "Hali udah nggak bisa jalan, kita nggak mungkin ninggalin dia cuma berdua sama Ying. Jadi kamu Sama Gopal tetap di sini, biar aku yang cari Gempa dan Yaya."
"Jangan bodoh, Taufan." Fang tetap menahan tangan Taufan. "Kita hampir ngumpul semua dan kamu mau nyari mereka sendirian? Jangan bikin semuanya tambah susah."
"Ya terus gimana? Kita harus cepat nyari mereka sebelum sesuatu terjadi!"
"Gini aja, biar aku yang mapah Halilintar. Kita tetap cari mereka bareng-bareng," usul Gopal. Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat berani dan bertekad. "Fang bener. Jangan bikin semuanya tambah susah, Fan."
"Kelamaan kalau nyarinya bareng-bareng," Taufan berdecak tak sabar. "Apalagi kondisi Hali kayak gitu. Walau dipapah juga, langkah kita bakal terhambat. Lebih cepat kalau aku pergi sendiri."
"Terus kalau kamu nyasar lagi gimana? Dan kami harus muter-muter lagi nyari kamu? Yang ada kita nggak bakal bisa keluar dari hutan ini!" seru Fang gusar.
"Aku bakal nyari—"
"Gini, deh." Ying memotong cepat perkataan Taufan. "Kalian bertiga cari aja Gempa dan Yaya. Biar aku yang bawa Hali ke tempat aman. Kita ketemuan di pondok tempat kita istirahat. Itu lebih efektif menurutku. Gimana?"
"Nggak. Kamu ikut aja sama mereka," Halilintar ikut menyela. Mereka semua kini memandangnya heran. "Keadaan aku udah kayak gini, aku nggak bisa jagain kamu. Kita nggak tau pasti seberapa jauh kita dari pondok. Gimana kalau dalam perjalanan ke sana ada apa-apa, dan aku nggak bisa ngelindungin kamu? Jadi mending kamu ikut bareng Taufan, Fang, dan Gopal."
"Kamu bercanda, ya?" Ying menatapnya tak percaya. "Terus kamu mau balik sendirian dengan kondisi kaki kayak gitu?"
"Nggak apa-apa daripada kamu yang kenapa-kenapa, 'kan?" Halilintar tersenyum lemah.
Taufan memutar mata melihat sikap sok pahlawan saudaranya.
Ying justru terdiam sebentar, sebelum menggeleng pasti. "Nggak ada yang jalan sendirian. Aku bakal nemenin kamu sampai ke pondok. Urusan ada apa-apa kita pikirin nanti. Kamu jangan halangi aku, Hali."
"Um ... aku ikut kalian aja." Gopal memberi usul, meski suaranya bergetar takut. "Biar Taufan pergi sama Fang. Karena Fang lebih kenal hutan ini, kemungkinan buat nemuin Yaya dan Gempa bakal lebih cepet. Gimana?"
"Oke." Fang mengangguk, meski ia tampak tidak begitu senang mereka harus berpencar lagi. "Kalian balik ke pondok, harusnya nggak jauh dari sini. Ikutin jalan setapak aja, jangan sampai keluar apapun yang terjadi. Kami bakal nyusul ke sana kalau udah ketemu Gempa sama Yaya."
Halilintar, Ying, dan Gopal mengangguk.
"Tapi," Fang melirik Taufan sebelum melanjutkan. "Kalau—kalau kami nggak balik juga, kalian harus tetap nunggu di sana sampai pagi. Terus cari jalan turun, dan panggil bantuan. Oke?"
"Oke." Ying mengangguk.
Fang dan Taufan membantu Halilintar berdiri dan membuatnya bersandar pada Gopal. Ying ikut berdiri di sebelahnya, memegang erat tangan Halilintar yang kotor oleh lumpur dan darah.
"Kita ketemu lagi nanti," kata Taufan. "Hati-hati."
Taufan sejenak bertatapan dengan Halilintar. Mereka mengangguk, mau tak mau harus saling percaya bahwa mereka akan berkumpul kembali dengan selamat, begitu juga dengan Gempa.
Ayo, Fan."
Fang memberi isyarat kepada Taufan untuk meneruskan pencarian. Mereka melangkah berlawanan arah dengan Ying dan Gopal yang memapah Halilintar perlahan-lahan.
"Yakin Gopal nggak apa-apa Sama mereka? Ngeliat tupai aja dia langsung jerit," komentar Taufan, melirik tiga orang yang sudah mereka tinggalkan di belakang.
"Ya kita nggak punya pilihan lain, kan? Kamu mau ninggalin Ying sendiri sama Halilintar yang lagi kayak gitu?" tanya Fang.
"Yah, nggak juga, sih." Taufan menghela napas. "Yah, semoga aja mereka beneran nggak kenapa-kenapa deh."
Fang bergumam pelan dan menyoroti senternya lurus ke jalan setapak. Sementara Taufan mengikuti langkahnya dengan resah. Ada firasat buruk yang menggelayuti dadanya, entah apa. Semoga mereka bisa segera menemukan Gempa dan Yaya dalam kondisi selamat
"Jadi, dimana tadi kamu dengar Yaya teriak?" tanya Fang.
"Di sekitar sana deh kayaknya," tunjuk Taufan. "Kamu yakin nggak denger? Suaranya kencang banget gitu, kok."
"Aku nggak denger apa-apa," Fang menggeleng. Ia memicingkan mata untuk melihat di balik kegelapan. "Mungkin tadi emang cuma perasaan kamu aja kali."
"Nggak kok." Taufan bersikeras. "Aku yakin tadi emang dia yang teriak."
Fang menghela napas. Ia mengawasi seluruh hutan yang bisa dijangkau oleh pandangannya. Bulan purnama mulai bergeser lagi, menandakan pagi semakin dekat. Fang berharap setidaknya ada suara jangkrik satu saja yang bisa memecah kesunyian.
"Fang," panggil Taufan.
"Apa?" sahut Fang tanpa menoleh.
"Kayaknya ada yang ngikutin kita, deh," gumam Taufan.
"Hah? Siapa?" Fang melirik ke belakangnya tapi tidak melihat apapun.
"Nggak tau," Taufan ikut menoleh perlahan. "Kayaknya aku dengar suara langkah kaki."
"Di mana?" Fang menyorot senter ke sekeliling dan mencari-cari. "Aku nggak dengar apa-apa."
"Coba berhenti dulu deh." Taufan menahan tangan Fang untuk menghentikan langkah. "Dengerin baik-baik. Ada suara langkah kaki, tapi bukan dari belakang."
Fang memasang telinga baik-baik, mencoba mendengarkan. Namun, yang didengarnya hanya suara desau angin dan juga napas Taufan di sebelahnya.
"Nggak ada suara apa-apa, kok," kata Fang. Namun, ia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. Seperti ... ada yang tengah mengawasi mereka dari balik kegelapan.
"Masa', sih?" Taufan mengerutkan kening heran. Lalu mendengarkan sekali lagi. "Kita harus mastiin, Fang. Siapa tau itu Gempa sama Yaya. "
"Taufan, tunggu!"
Taufan melangkah lebih dulu, keluar dari jalan setapak. Ia menyibak semak-semak, berjalan melewati becek dan berusaha menghindari dahan-dahan pohon yang tumbang.
Fang mengejar sebisa mungkin, berusaha memaksa Taufan kembali ke rute awal mereka, tapi tidak dihiraukan. berdecak kesal. Kenapa orang-orang ini tidak mau mendengarkannya? Bagaimana kalau nanti ada apa-apa dengan mereka?
"Gempa?" Taufan coba memanggil sambil terus mengedarkan cahaya senter ke sembarang arah. "Yaya? Itu kalian? Ini aku sama Fang! Kami di sini!"
Tidak ada yang menyahut, tapi Taufan bisa melihat ada bayangan yang bersembunyi di balik pohon. Dan Fang juga melihatnya.
"Gempa?" Taufan mencoba memanggil sekali lagi, tapi suaranya terdengar ragu. Tidak ada sahutan.
"Udah, kalau kayak gitu biasanya bukan yang kita cari," dengkus Fang. Ia menarik tangan Taufan, memberi isyarat untuk pergi secepat mungkin.
"Fang ... Tolong..."
Langkah Fang berhenti mendadak.
"Fang? Kenapa?" tanya Taufan yang tak sengaja menabrak pundak Fang. "Katanya jalan terus."
"Kamu dengar yang barusan?" tanya Fang.
"Dengar apa?" tanya Taufan heran. "Katanya kamu nggak dengar apa-apa?"
Fang kembali memasang kuping, tapi memang tidak terdengar apapun. Mungkin ... mungkin itu hanya halusinasinya. Seharusnya Fang jadi pemandu di sini dan tidak boleh terkecoh, benar, 'kan? Ia baru hendak meneruskan langkah, saat suara itu kembali terdengar.
"Ada... yang minta tolong," gumam Fang.
"Hah, siapa? Gempa? Yaya?" Taufan menukas cepat, harap-harap cemas.
"Bukan ... " Fang menggeleng lemah. Ia kembali memasang telinga, dan suara itu terdengar lagi. Sepertinya ... ia mengenali suara itu. "Abang?" bisik Fang lirih.
"Tolong ..."
"Abang!"
"Hah—oi!" Taufan berseru kaget, segera mengejar Fang yang berlari cepat. "Fang! Tunggu!"
Fang berlari menembus semak-semak dan batang pohon mati. Ia mengikuti suara rintihan, yang kini semakin terdengar lirih.
"Abang!" panggil Fang. "Abang di mana?"
Fang mengedarkann pandang dengan kalut. Ia mendengar suaranya, tapi tak ada sosok sang kakak di manapun.
"Oi, Fang!" Taufan berlari mendekat dan menahan tangannya. "Kamu kenapa, sih? Cariin siapa?"
"Abang..." Fang bergumam. Ia terus menyoroti apapun yang ada di sekitarnya, berharap ia benar-benar bisa melihat sosok Kakak.
"Abang? Abang siapa?" tanya Taufan.
"Abang!" Fang berusaha memanggil lagi dan mencari-cari dengan panik. "Abang di mana?!"
Taufan menarik tangan Fang, merebut senternya dan membuat Fang seketika berhenti.
"Kamu nyariin siapa sih? Abang siapa, Fang?" tanya Taufan. "Bang Kaizo?"
"Ya iya, lah!" Fang merebut kembali senternya dari tangan Taufan dan mendelik. "Abangku hilang di hutan ini setahun yang lalu, dan aku sengaja ngajak kalian ke sini buat nyari dia!"
Taufan membelalak. "Jadi ... kamu sengaja bikin kita nyasar buat nyari abang kamu?"
Fang tersentak, menyadari ia tidak bisa mengontrol bicaranya karena terlalu panik.
Mata Taufan melebar tidak percaya menatap Fang. "Kamu ... kamu sengaja ngusulin kita hiking ke sini, kamu bikin kita kesasar, kamu bikin kita mencar ... karena mau nyari abangmu yang hilang setahun lalu? Kamu udah ngerencanain ini ... dari awal?"
"Aku—aku cuma ngajak kalian ke sini biar aku punya temen buat nyari abang... Aku nggak bermaksud bikin kita semua nyasar," gumam Fang dengan kepala tertunduk.
"Tapi sekarang jadinya apa?" hardik Taufan. Matanya menyorot Fang murka. "Kita sekarang berpencar dan hampir celaka! Halilintar kakinya sampai digigit entah apa. Dan sekarang ... sekarang Gempa sama Yaya hilang. Kamu mau tanggung jawab kalau mereka kenapa-napa?!"
"Bukan gitu, aku beneran nggak—"
"Kamu ngejebak kita," tandas Taufan. Ekspresi marahnya berubah menjadi kekecewaan. "Aku nggak percaya kalau kamu seegois dan sejahat itu, Fang. Kamu sengaja manfaatin kami buat kepentinganmu sendiri. Gimana kalau nanti Yaya Sama Gempa bakal bernasib sama kayak abangmu? Kamu mau tanggung jawab, hah?!"
"Aku cuma—"
"Udahlah. Kamu nggak usah nyari alasan," ketus Taufan. "Kalau sampai terjadi sesuatu sama Gempa dan Yaya, aku nggak bakal pernah maafin kamu."
Taufan berbalik dan menghantak langkah pergi. Fang bergegas mengejar dan menahannya.
"Kamu mau ke mana?!"
"Mau nyari Gempa sama Yaya, lah!" Taufan berujar ketus. "Ngapain lagi?"
Fang menggeleng. "Kamu jangan gegabah. Kita 'kan mau nyari mereka bareng-bareng."
"Udah, kamu cari aja Abang kamu. Aku mau cari Gempa dan Yaya."
"Tapi—"
"Kenapa? Kamu takut nyari sendirian?" sindir Taufan. "Karena itu kamu ngajak kami ke sini, 'kan? Kamu sengaja nggak ngasih kami peringatan apa-apa supaya kami nurut aja ke manapun kamu pergi. Dasar pengecut."
"Bukan gitu," Fang menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya mencoba membela diri. Semua ini memang kesalahannya. "Tapi harusnya kita emang nggak boleh sendirian. Harusnya—"
"Udahlah, Fang. Nggak usah banyak alasan. Kalau kamu emang mau nyari abangmu, ya cari aja sana."
Fang kembali mengejar Taufan yang lebih dulu bergegas pergi. "Dengar, aku minta maaf, oke?" tukasnya. "Memang salah aku nggak ngejelasin dari awal. Tapi aku juga nggak mau kejadiannya kayak gini."
"Buat apa minta maaf sekarang? Emang itu bisa balikin Gempa Sama Yaya?" kata Taufan sinis.
"Ya aku mau nebus kesalahan aku dengan nyari mereka sama-sama," tukas Fang. "Kamu jangan keras kepala bisa nggak, sih? Sekarang prioritas kita itu nyari Gempa sama Yaya. Dan kita nggak boleh mencar, harus tetap sama-sama!"
"Terus Abang kamu gimana? Dia prioritas kamu juga, 'kan?" selidik Taufan dengan mata memicing.
Fang terdiam sebentar. "Abangku biar jadi urusan aku," tegasnya. "Sekarang aku pengen nyari Gempa sama Yaya dulu. Kita harus tetap bareng supaya bias nemuin mereka dan balik ke bawah dengan selamat."
Taufan masih tampak tidak yakin dengan ucapan Fang, tapi ia hanya mendengkus dan membiarkan Fang kembali berjalan di sisinya.
Mereka melanjutkan perjalanan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kesunyian hutan kini terasa semakin mencekam tanpa ada yang saling berbicara.
Taufan merapatkan jaket dan melipat lengan memeluk tubuhnya sendiri. Suhu udara semakin dingin menjelang pagi. Fang sesekali melirik ke samping, meski Taufan masih tidak mau berbicara. Mereka hanya berjalan bersisian dengan senter yang saling tergenggam di tangan masing-masing.
"Fang ... Tolong ..."
Fang kembali terhenyak, langkahnya melambat.
"Taufan ... Tolong ..."
"Yaya." Taufan menoleh ke belakang, matanya melabar.
"Kamu dengar itu?" ujar Taufan dan Fang bersamaan, membuat keduanya terkejut.
"Yaya/Abangku!" Mereka berseru.
Fang dan Taufan bertatapan dengan mata yang saling melebar.
"Apa maksudnya abangmu? Jelas itu suara Yaya!" tukas Taufan.
"Bukan. Itu suara abangku," balas Fang. "Tadi aku juga dengar suaranya. Dia pasti nggak jauh dari sini."
Fang menyorot senter ke sekitar dengan cemas.
"Nggak, itu suara Yaya. Aku yakin itu memang dia," Taufan tetap bersikeras. "Suaranya dari arah sana, ayo."
"Tapi aku dengar suaranya dari sini," Fang menunjuk arah berlawanan dari Taufan.
Mereka berhenti melangkah saling berpandangan.
"Kamu emang sebenarnya mau mencar, 'kan? Ya udah, nggak apa-apa," ujar Taufan dingin. "Kamu cari abangmu, biar aku cari Yaya Sama Gempa ke sana."
"Kamu jangan bikin kesimpulan seenaknya," Fang memutar mata, dan mendengkus jengkel. "Siapa juga yang mau mencar? Aku cuma bilang kalau abangku—"
"Abangmu apa sih? Itu jelas-jelas suara Yaya!" Taufan berseru gusar.
"Nggak. Bukan itu." Fang menggeleng. Kepalanya menoleh, dan meski tidak melihat apa-apa, ia tahu mereka memang tengah diawasi. "Pasti itu yang mereka mau."
"Kamu ngomong apaan sih, Fang?" Taufan berdecak. "Kamu kalau mau kita berpencar, ya udah—"
"Bukan." Fang menandas kalimat Taufan. "Kamu denger suara Yaya, aku denger suara abangku. Jelas itu yang mereka mau. Mereka mau—" Suaranya sejenak tercekat. "Mereka mau kita berpencar, supaya kita susah buat selamat."
"Mereka siapa?" Taufan mengerutkan dahi.
"Ya... mereka... yang ada di hutan ini," Fang menengadah dan mengawasi dedaunan yang berdesir di atas kepala mereka. Sepasang mata mengintip di sana, sebelum kemudian berkedip dan menghilang.
"Iya, tapi mereka siapa?" Taufan semakin penasaran.
"Sesuatu yang ada di hutan in," gumam Fang. "Yang bikin kita kesasar dan saling berpencar. Intinya ... kita bener-bener jangan sampai kepisah."
"Terus sekarang gimana?" tanya Taufan. "Kita mau diam aja di sini? Nggak usah ngikutin suara-suara itu?"
"Nggak usah," Fang menggeleng. "Malah mendingan kita pergi ke arah berlawanan dari suara-suara itu. Ayo."
"Tapi gimana kalau itu beneran mereka? Gimana kalau itu memang suara Yaya, atau abangmu? Kamu nggak mau mastiin dulu?"
"Mereka cuma mau ngejebak kita," sahut Fang. "Setelah kita hampiri, biasanya malah nggak ada apa-apa. Ayo."
Fang menarik lengan jaket Taufan dan mulai berjalan ke arah berlawanan dari arah suara yang mereka dengar. Suara-suara itu semakin terdengar jelas di telinga Fang selagi mereka menjauh, seolah berusaha memancing untuk kembali. Itu justru membuat Fang yakin bahwa suara yang didengar memang bukan milik sang kakak.
Fang tidak lagi ambil pusing dan sebisa mungkin menghalau suara-suara yang didengarnya. Namun, Taufan masih merasa cemas, suara Yaya jelas terdengar lebih keras. Ada dorongan yang membuat Taufan ingin berbalik dan memastikan itu Yaya atau bukan. Terlebih rintihan itu terdengar menyakitkan.
"Taufan ... Tolong ..."
"Jangan didengerin," Fang berbisik, menahan Taufan erat-erat agar tidak berbalik.
Suara keresak keras dedaunan membuat keduanya sama-sama terlonjak. Mereka berhenti melangkah, saling melirik dengan waspada. Senter diacungkan ke depan sebagai satu-satunya senjata. Dan detik itu mereka dikejutkan dengan sosok yang muncul dan menabrak mereka hingga tersungkur.
"Gempa?"
Taufan mengerang dan mengusap kepalanya yang terantuk. Ia membuka mata dan melihat Fang tengah menarik Gempa bangun. Ia pun segera bangkit berdiri.
"Gempa?" Taufan membelalak gembira, segera memeluk adik bungsunya. "Kamu habis dari mana? Kamu nggak apa-apa? Ada luka, nggak? Nggak digigit hewan buas, 'kan?"
Gempa menggeleng, tampak sedikit linglung. Ia menatap Fang dan Taufan bergantian, seolah tak yakin mereka memang nyata.
"Kamu sendirian aja?" tanya Taufan segera. Ia mengawamati penampilan Gempa yang berantakan, dengan daun kering dan ranting patah yang tersangkut di rambut dan pakaiannya. Namun, selain itu, Gempa terlihat baik-baik saja. "Mana Yaya?"
"Yaya ... Yaya..." Gempa menghela napas berat, memijit pelipisnya. "Yaya ngilang ..."
"Hah? Hilang?!" Taufan berdecak gusar sekaligus khawatir. "Kok bisa hilang?"
"Dia ... ditarik pergi..." gumam Gempa tercekat.
"Siapa? Ditarik siapa?"
"Aku—aku nggak tau," Gempa menggeleng. "Tadi aku dan Yaya sempat ngeliat—"
Gempa bergidik dan tidak sanggup meneruskan ucapannya.
"Gempa, Yaya kenapa? Ditarik siapa?" Taufan bertanya tidak sabar. Gempa menjawab dengan menggeleng lemah. "Gempa! Kasih tau Yaya ke mana? Dia hilangnya di mana?"
"Dia ... ditarik kamu bilang ...?" Fang kemudian bergumam. "Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?" Taufan menoleh pada Fang dan melotot, menuntut jawaban. "Jangan-jangan apa, Fang? Yaya ditarik siapa?!"
"Kita—kita harus cepat nemuin Yaya pokoknya. Sebelum dia kenapa-napa," tukas Fang segera.
"Iya, kita cari di mana?"
Fang menggeleng, tidak memberi jawaban pasti. "Kamu terakhir bareng sama Yaya di mana, Gem?"
Gempa menunjuk ke arah kedatangannya, dan mereka bergegas pergi untuk kembali mencari Yaya.
"Kamu beneran nggak apa-apa? Tadi Hali bilang kamu pingsan," komentar Taufan sementara mereka berjalan.
"Aku nggak apa-apa," kata Gempa, menggeleng lesu. "Tadi sebenernya Yaya udah ngasih tau aku buat nggak ke mana-mana dan nunggu Hali balik, tapi aku ngotot cari kalian. Harusnya ... tadi aku dengerin Yaya ...."
"Eh tunggu," Gempa mendongak. "Kalian ketemu Hali? Dia di mana sekarang?"
"Halilintar, Ying, Sama Gopal udah balik ke pondok," jelas Taufan. Pandangannya tetap awas menelaah sekitar. "Kami nyuruh mereka nunggu di sana sementara aku sama Fang nyariin kamu dan Yaya."
Gempa mengangguk dan tidak mengatakan apapun lagi. Fang juga hanya diam, tapi ekspresinya jelas-jelas tegang dan resah.
Ketiganya berjalan beriringan membelah kegelapan. Suara daun bergesekan dengan angin, tapi tetap tidak terdengar suara binatang apapun. Entah apa di hutan ini ada makhluk hidup yang nyata selain mereka.
"Ke mana kita harus cari, Yaya ...." Fang menyoroti segala arah, memeriksa setiap jejak dedaunan yang jatuh. "Semoga dia nggak kenapa-napa. Kita harus nemuin dia secepat mungkin."
"Kamu masih belum ceritain soal abangmu, Fang," Taufan mendadak berceletuk. "Kenapa dia bisa sampai hilang di sini? Dan kejadiannya udah setahun lalu, tapi kamu nggak pernah bilang apa-apa sama kami?"
"Apa? Abang Fang hilang di sini?" Gempa memandang Fang terkejut.
"Sekarang bukan waktunya untuk bicarain itu," tukas Fang. "Yang penting, kita harus cari Yaya dulu sampai ketemu."
"Bukan waktunya apa?" Taufan mendelik. "Seenggaknya ceritain dulu tentang abang kamu, Fang. Kenapa bisa dia hilang? Siapa tau ini juga berhubungan Sama kejadian Yaya, 'kan?"
"Mungkin memang ada hubungannya," gumam Fang. "Makanya kita nggak boleh buang-buang waktu dan harus segera nemuin Yaya."
"Tapi—"
"Taufan, Fang." Gempa menyela perdebatan mereka. Langkahnya mendadak terhenti dan ia menunjuk ke depan.
"Hah, apa?"
Fang dan Taufan ikut menoleh. Wajah mereka dipenuhi ekspresi kaget yang sama.
"Yaya!" Taufan berseru antusias.
Ia bergegas lari untuk menghampiri, tapi tudung jaketnya ditarik oleh Fang.
"Tunggu, Taufan!" Fang berseru memperingatkan.
"Apa? Aku harus nyamperin, Yaya." Taufan memberontak, tapi Fang menggeleng dan tetap menahannya. "Dia ada di sana, Fang!"
"Nggak segampang itu, Taufan," bisik Fang. "Kita harus mastiin itu beneran Yaya atau cuma tipuan."
Saat itu, Yaya yang berdiri beberapa meter jauhnya dari mereka, menoleh. Taufan menahan jeritan saat sorotan senternya mengenai wajah Yaya.
Itu bukan lagi wajah yang dikenalnya. Setengah sisi wajahnya hancur seperti baru saja dibakar. Sudut-sudut bibirnya robek, menciptakan seringai menyeramkan yang pasti akan terus menghantui benak mereka. Namun, saat ia membuka mulut, suaranya masih selembut suara Yaya yang mereka ingat.
"Taufan," panggilnya. "Kemarilah. Aku butuh bantuanmu."
Taufan membeku, semua peringatan Fang terhapus dari kepalanya. Apa itu benar-benar Yaya? Sudah tentu, 'kan? Memangnya siapa lagi? Suaranya seakan menghipnotis Taufan untuk bergerak maju.
"Taufan, jangan!"
Fang berusaha untuk menahan langkah Taufan agar tak semakin bergerak, tetapi Taufan seakan tuli.
"Yaya, itu ... kamu?" Suara Taufan tercekat.
Yaya mengangguk. Wajahnya untuk sesaat kembali utuh, dan ia tersenyum sedih seraya terus memanggil Taufan mendekat.
Taufan melangkah tanpa sadar. Gempa dan Fang harus menahannya bersama-Sama untuk mencegahnya menghampiri Yaya.
"Taufan, dia bukan Yaya!" kata Fang memperingatkan.
Taufan tidak mendengar, justru langkahnya semakin penuh tekad. Ia harus menghampiri Yaya, apapun yang terjadi. Gadis itu membutuhkannya.
Fang menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong Taufan mundur hingga ia terjengkang.
"Taufan..."
Yaya terus memanggil, membuat Taufan segera saja bangkit dan mendorong Fang menjauh darinya.
"Jangan, Taufan!" Gempa menahan Taufan untuk tetap di tempat.
"Gempa, bawa Taufan pergi dan temuin Yaya yang asli!" seru Fang "Cepat!"
Namun menahan Taufan untuk tetap di tempat sudah sulit, apalagi mencoba membawanya pergi. Taufan mulai memberontak dari cekalan Fang dan Gempa dan menjeritkan nama Yaya.
"Yaya! Yaya, tunggu aku!" Taufan menjerit putus asa. "Aku bakal datang, tunggu—lepasin aku!"
Taufan terus meronta hingga akhirnya bisa melepaskan diri dari Fang dan Gempa yang menahannya. Ia segera berlari ke arah Yaya yang merentangkan tangan untuk menyambutnya. Taufan tersenyum. Ia hampir berhasil meraih tangan Yaya, saat menyadari kakinya kehilangan pijakan. Taufan sempat menunduk dan melihat jurang gelap yang menanti di bawahnya, sebelum ia tergelincir dan terperosok jatuh ke dalam kegelapan.
"TAUFAN!"
.
.
.
bersambung