That's My Dad?

By Upin93

103K 16.9K 29.8K

๐—™๐—ผ๐—น๐—น๐—ผ๐˜„ ๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ป ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ! Wajah, mata, dan yang lebih ajaib lagi... anak la... More

Prolog
1 (Perjanjian)
2 (Bohong?)
3. Penawaran
4. Ayah~
5. Kiss?
6. Be My Friends
7. Jungkook - Junwoo
8. Junwoo - Jungkook 0.2
9. Ruang untuk berdua
10. Pergi
11. Hasil Tes DNA
12. Acuh
13. Jungkook - Eunwoo
14. Like You
15. Pengakuan
16. I'm Your Dad.
17. Jeon's Problem
18. Memilih
19. Kiss?
20. Gift
21. Bar-bar vs Barbarly
22. Be My Girlfriend
23. It's Time
24. Love = War
25. Kembali
26. Pesta
27. Unxpected
28. Feel Like-----?
29. A secret
30. Pertimbangan.
31. A moments
32. Our Lips
33. Stalker
34. Who is he?
35. Another Kiss
36. Seductive
37. Shy
38. Panik Attack
39. Name
40. Silent, Please!
41. What's that?
42. Your Feeling
43. Will you marry me?
44. Be My Girlfriend.
45. Good Bye
46. +Korban
47. Leader of Jeon's family
48. Trust Me
49. Sorry
50. RIVAL
51. Little Boss
52. Thanks
53. Incident
54. Hug
55. One Moment
56. Meet RIVAL again
57. Be mine
58. SOJU! Ish!
59. Answer
60. Plan B
62. Unlimited Power
63. Trauma. (darah)
64. Sick
65. Intens
66. Threat (Pengancam)
PENGUMUMAN! (PERUBAHAN ALUR)
67. Jeon Hweji vs Government
68. Important people
69. About That Man

61. Hate for Love?

1.2K 227 727
By Upin93








Kalo ngk tembus 700 komentar aku mau Hiatus 🙏☺️

Ini mata udah berat banget, maaf juga kalo banyak typo atau ngk nge-feel sama sekali. Soalnya aku ngantuk banget nget nget nget 😵

Ramaikan paragraf sayang semua 💜



































"Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini."

Sebuah kalimat yang tidak pernah ingin Eunwoo dengar akhirnya terjadi. Dia tahu, cepat atau lambat Yeona akan memilih Jungkook. Gadis itu tidak ingin mau tahu tentang perjuangan apa saja yang pernah ia lakukan untuknya. Eunwoo selalu ada disampingnya, dia bersama Yeona jika gadis itu kesulitan. Eunwoo pun bahkan membantu Yeona dalam merawat Junwoo sedari bayi.

Jadi seperti ini rasanya sakit hati?

Cha Eunwoo tidak bisa merangkai sebuah kalimat untuk menjabarkan perasaannya sekarang. Dia hanya merasa kalau dadanya tiba-tiba sesak, aliran darahnya pun terasa cepat, serta degup jantung yang bekerja berkali-kali lipat lebih dari biasanya.

Segelas Baileys Irish Cream menjadi pusat perhatian Eunwoo. Dia tampak tersenyum kecut, lalu mengambil minumannya itu dan menegaknya.

"Eun..... maafkan aku."

Pria ini ingin sekali memberontak, menyerukan tepat di depan muka Yeona bahwa kata maaf bukanlah definisi yang tepat untuk diungkapkan sekarang. Dia sakit hati!! Tidakkah Yeona mengerti itu?!

Cha Eunwoo lalu melemparkan tatapan datar kearah Yeona yang langsung menundukkan kepala. Mata itu... mata yang selalu membuatnya terpesona kini tidak lagi berarti apa-apa.

"Kau mengkhianati janjiku pada Ayahmu,"

Ucapan Eunwoo membuat Yeona langsung menoleh padanya. "Kau marah, Eun?"

"Pertanyaan bodoh macam itu?"

"Eun-----"

"Kau menyuruhku kemari malam-malam dengan memberi pesan bahwa kau ingin kita berkencan. Tapi pada akhirnya kau membuat kejutan, terimakasih Yeona."

Kalimat Eunwoo terdengar sarkas, Yeona bahkan terus mengatai dirinya sendiri sangat jahat! Dia tidak memiliki kemampuan untuk mencintai Eunwoo, satu-satunya pria yang saat ini berhasil memporak-porandakan hatinya hanyalah Jungkook.

"Apakah ada lagi yang ingin kau bicarakan?"

"Aku bisa membantumu untuk melunasi segala hutang Cha pada Jeon."

"Jadi karena masalah itu kau menjual diri?"

"Eun!"

"Aku tidak mungkin salah bicara." sahut lelaki tersebut. Lalu kembali menyesap Baileysnya.

Sungguh, Yeona saat ini tidak lagi menjadi perempuan yang harus di perlakukan istimewa bagi Eunwoo. Dia sudah cukup kecewa padanya. Pada wanita yang beberapa menit lalu telah menjadi mantan kekasihnya.

Agak merepotkan, Eunwoo sama sekali tidak ingin kehilangan Yeona apalagi menjadikannya barang bekas seperti seluruh kekasihnya yang dulu.

Cha Eunwoo tertawa dari dalam hati, dia pun ingin sekali menyuarakan diri pada dunia tentang;

Jangan sekali-kali berusaha! Kau tidak akan jadi pemenang dari hasil akhirnya!

"Tolong maafkan aku...."

"Setidaknya kau berterimakasih padaku, Yeona..." si pemilik nama mendongak. Memberi perhatian penuh pada Eunwoo yang kini menatapnya dalam. "Aku tahu kau hanya memanfaatkanku saja."

"Jeon memang selalu unggul dalam hal apapun, dan yang lain harus mengalah."

"Eun, ini bukan tentang seperti apa kekuatan seseorang. Tadinya aku ingin menepis perasaanku pada Jungkook dan pada akhirnya aku tahu kalau itu sulit."

"Aku rasa pembicaraan ini harus berakhir."

"Kau menyimpan dendam padaku?"

Bohong jika Eunwoo bilang tidak! Pria itu bahkan hanya terdiam dan masih membelakangi Yeona.

"Jika kau mau melampiaskan rasa sakitmu maka padaku saja, Eun. Jungkook tidak tahu apa-apa."

"Setelah memutuskan aku, kau menilaiku sebagai orang jahat?"

"Eun-----"

"Saat kau tidak sengaja mematahkan pena seseorang apa kau akan menggantinya?"

Yeona mengalihkan pandangan kearah lain tanpa berani menatap langsung pada lirikan tajam pria tersebut.

"Kau bahkan tidak tahu caranya menjawab pertanyaan sepele." tukasnya lalu segera melangkahkan kaki keluar dari cafe tersebut.

Meninggalkan Yeona dengan rasa bersalahnya, dia tidak ingin hal ini terjadi! Yeona tahu bahwa dia sudah membuat Eunwoo menyimpan dendam padanya.

Kesalahannya terlalu fatal, dia memanfaatkan kebaikan hati dari seorang pria yang selalu ada untuknya belasan tahun. Dan kini.... Yeona membuangnya demi memilih seseorang yang baru saja memasuki kehidupannya.

Bae Yeona meninggalkan beberapa lembar won diatas meja kemudian mengenakan tasnya dan beranjak pergi. Berjalan seperti tak memiliki tujuan, Yeona sampai melamun beberapa kali hingga banyak orang di sekitarnya menegur agar dia bisa fokus melihat jalanan.

Tin! Tin!

Lamunannya kabur seketika, mana kala sebuah mobil sedan Corolla bewarna hitam berhenti tepat didepannya yang sedang menunggu lampu merah.

"Ayo masuk...."

"Tuan?"

Sanghoon langsung membuka pintu mobil, mempersilahkan gadis itu memasuki kendaraannya tentu saja.

Sambil tersenyum tipis gadis tersebut menuruti permintaan dari pimpinan BIN ini. Yeona memakai sabuk pengaman, lalu selang tak beberapa lama. Sanghoon menancap gas dalam kecepatan sedang.

"Kau keluar malam-malam begini? Mana Jungkook?"

"Keluar kota, lagipula saya sudah meminta ijin padanya."

"Paling tidak kau bawa sopir pribadi dari rumah. Memangnya kau punya keperluan dengan siapa Yeona?"

"Itu----teman."

Sanghoon menautkan kedua alis, dia jelas tidak percaya. Tetapi lelaki paruh baya ini memilih untuk bersikap masa bodo.

"Anda sendiri darimana?"

"Markas, aku meminta ijin libur satu hari karena Minji."

"Kenapa dengan Nyonya?"

"Dia ingin aku ikut menenamimu dan Jungkook fitting baju pengantin."

"A-ah, begitu.....?" gumamnya memainkan ujung bajunya ini sambil menggigit bibir. Jika membahas soal rencana pernikahannya dengan Jungkook entah mengapa malah membuat gadis tersebut malu-malu.

"Jalanan macet parah," Sanghoon menghela nafas lalu melihat kearah jam tangannya dimana menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Dia bisa terkena omelan Minji jika tidak kembali dalam waktu 30 menit lagi.

Tidak, tidak bisa begini! Sanghoon jelas tidak ingin mendengar ocehan panjang Minji hingga menggagalkan niatnya untuk memiliki sang istri malam ini.

Dia segera menurunkan kaca mobil, memunculkan kepalanya darisana sambil mencari seseorang yang dirinya kenali.

"Donghae!! Apa kabar?" tanya Sanghoon dibarengi senyum penuh makna.

Polisi lalu lintas yang dipanggil namanya langsung membungkukkan badan kemudian mengatur kendaraan disana agar Sanghoon bisa lewat.

"Bukankah anda sudah melawan aturan, Tuan?"

"Apakah aku meminta, Yeona? Mereka mempersilahkan aku."

"Tapi----tetap saja."

"Aku tidak akan maju jika tak diberi peluang, polisi tadi sangat baik ya?"

Andai saja Yeona memiliki keberanian untuk menjawab. Dia pasti sudah berteriak tepat di depan muka Sanghoon kalau; Wajar saja!! Anda ini seorang Jenderal besar!

Jangankan keberanian, baru mendapat senyum merekah Sanghoon saja Yeona sudah ngeri sendiri?

"Lagipula mengapa jalanan bisa semacet ini?"

"Ada kecelakaan, lima orang luka-luka dan dua orang pasangan suami istri dinyatakan tewas. Bayi mereka selamat...."

"A-apa?!"

"Jangan khawatir, pihak keluarga dari bayi itu masih ada. Mereka siap bertanggung jawab, tadi mereka sudah berjanji padaku."

"Apa yang anda katakan?"

Sanghoon mencoba untuk mengingat jelas tentang kejadian tadi. Pada saat dirinya pulang dari markas, dia menemui kecelakaan beruntun. Sanghoon turun dari dalam mobil, dia pun turut membantu sebentar sampai keluarga dari bayi yang malang itu pun datang.

Sanghoon juga tidak melakukan ancaman apapun, dia diam sambil menggendong bayi yang terus menangis itu dan keluarganya langsung bersujud, bahkan bersumpah kalau mereka tidak akan menelantarkan bayi tersebut.

"Aku tidak mengatakan apapun."

"Rasanya sangat aneh,"

Jeon Sanghoon terkekeh pelan kemudian mengacak surai Yeona begitu gemas. "Boleh aku tahu ceritamu tentang Kijung? Kau pasti sempat memiliki banyak momen dengannya kan?"

"Dia orang baik, dia mencintai Kakakku. Tapi aku baru sadar kalau Kijung Oppa ternyata jahat,"

"Hanya karena dia menyembunyikan identitasnya?"

"Anda langsung mengerti maksud saya,"

"Apakah kau membenci putra pertamaku Yeona?"

"Jika saya menjawab 'Ya apakah anda punya jawaban untuk merespon?"

"Tentu,"

"Ya, saya membenci dia."

"Benci pada seseorang yang sudah tiada, tidak ada gunanya Yeona..."

"Kalau begitu saya akan membenci anda sebagai pelampiasan."

"Kau sudah membenciku sejak dulu, aku tidak mungkin kaget. Tapi sebentar lagi keadaan berubah, kau akan menjadi menantuku. Bukankah rasanya tidak sopan jika kau masih menyimpan dendam padaku?"

"Mengapa anda membuat saya tak memiliki pilihan lain?"

Sanghoon tertawa kecil, dia sungguh berbeda jika bersama orang-orang pilihannya. Sanghoon punya sifat lembut, mirip sekali dengan Seohyun hingga Yeona seperti melihat Kakaknya hidup dalam diri pria paruh baya ini.

"Jungkook anak yang bebal kalau di bilangi, tolong urus itu ya? Aku tak memiliki waktu untuk membimbingnya,"

"Kenapa anda bilang begitu?"

Sambil tersenyum Sanghoon menjawab, "Nanti kau akan tahu...."


















____________


















Minji, Junwoo dan Yeona memasuki butik lebih dulu, sementara Jungkook dan Ayahnya baru saja keluar dari dalam mobil. Tatapan mereka terlihat begitu malas kearah gedung besar di depan sana, Jungkook bahkan terus saja menghela nafas sambil melepaskan kaca mata hitamnya dengan gerakan kasar.

Dia jelas mau menikahi Yeona! Rasanya tidak sabar malah! Tapi Jungkook pikir... dia hanya perlu datang ke gedung, meresmikan hubungan sucinya bersama gadis yang sangat dia cintai itu tanpa mengurus apapun.

Namun pagi-pagi sekali Ibunya justru menahan agar Jungkook tidak pergi kemana-mana sebab mereka harus fitting baju! Minji begitu bersemangat, perempuan itu pun sampai memaksa agar suaminya bisa libur selama satu hari dan tak membiarkan Jungkook masuk kerja sama sekali!

"Ayo."

"Aku pikir Ibu sudah tahu ukuran bajuku seperti apa? Tck!"

"Dulu saat aku menikah, aku juga melakukan ini dengan Ibumu."

"Bagian ini sangat merepotkan!" tukasnya kemudian melangkah masuk kedalam butik tersebut diikuti sang Ayah.

"Jungkook, sayang! Coba lihat kemari, Honey..."

Pemuda Jeon menghela nafas lalu segera pergi menuju sang Ibu. Jungkook bukannya tidak mau melakukan fitting baju, namun dia memiliki banyak sekali jadwal penting deripada harus mengurus hal ini.

Jangan lupa soal mulut-mulut sialan Pamannya yang akan mengoceh panjang saat Minsung dan Haruki menemukan banyak sekali kesalahan dari kinerja Jungkook. Mereka tidak akan berhenti memberikan kritik serta pujian bodoh untuk keponakan tercinta mereka. Minsung pun sampai memberi julukan si otak sempit dari Jeon akibat kegagalannya dalam menjadi cucu dari Jeon Jaeguk.

"Aku lebih suka yang ini." sahut Jungkook, menunjuk sebuah tuxedo lain sehingga membuat Minji mengedipkan kedua mata berulang-ulang.

Pletak!!

"Yang benar saja bodoh! Apa kau tidak lihat ada kelap-kelipnya?! Malu sekali aku punya anak sepertimu! Selera fashionmu ini sungguh rendahan."

Sudah sakit di pukul bagian kepalanya, sakit pula hatinya mendengar Minji mengata-ngatai dirinya ini dan itu. Dia baru saja ingin memberi protes keras, tapi Sanghoon menahan lengan sang putra agar tidak mencari perkara dengan seorang Nyonya Jenderal.

"Jungkook tidak apa-apa?" tanya Yeona, yang justru malah mendapat ekspresi wajah memelas pria itu. "Ibu jahat sekali."

"Sabar, ya?"

"Yeona... sayangku! Coba kemari! Ada gaun yang lebih bagus!!"

Gadis tersebut segera menemui Minji, meninggalkan Jungkook yang masih berada disana bersama Ayahnya.

Jangan tanya Junwoo dimana! Bocah itu asik sekali cerita bersama salah satu pekerja butik.

"Ini baru permulaan,"

"Maksud Ayah?"

"Ibumu sering membawa gunting di dalam tasnya, jika dia benar-benar kesal maka rambutmu akan dia botaki."

"HA?!"

"Ayo," Sanghoon segera menarik tangan sang putra. Menyusul istri dan calon menantunya yang berada di tempat lain.

Jungkook ikut memilih, dia benar-benar suntuk berada di ruangan ini dan rasanya ingin segera pergi!

Siapapun yang tahu arah jalan kabur dari Minji, tolong bantu pemuda menyedihkan ini.

Mereka terus memutari berbagai tempat, hanya demi mencari pakaian untuk dipakai pada hari kedua acara pernikahan.

"Kenapa kau tidak pilih warna putih saja? Model kedua sepertinya lebih cocok?" ujar Minji yang kini tengah menemani Jungkook dan calon menantunya fitting baju pengantin.

"Tapi aku tidak mau warna putih! Yeona sudah memilih warna ini. Bukankah warnanya akan langsung mati jika senada? Iya kan sayang?" tanya pemuda Jeon tersebut yang langsung membuat gadis-nya malu-malu.

"Sayang-sayang dengkulmu!! Jangan dengarkan dia Yeona... ayo kita pergi di tempat lain!"

"Oi!!! Ibu!!"

Sanghoon menghela nafas lalu menarik kerah kemeja Jungkook dibagian belakang untuk ikut bersamanya. "Kau akan jadi urusannya Ayah."

"Yang benar saja?!! CALON ISTRIKU DIBAWA LARI TAHU!!!"

"Bukankah sudah Ayah bilang untuk menurut? Kau sudah dapat pakaian untuk acara pernikahan di hari kedua. Sekarang kau harus serius memilih pakaian untuk resepsi pernikahanmu,"

"Tapi aku suka model pertama!"

"Dengarkan saja pilihannya Ibumu,"

"Sebenarnya yang mau menikah itu aku atau Ibu sih?!"

"Ayo coba tuxedonya." tutur Sanghoon, duduk di sebuah kursi dengan tatapan malas. Dia sudah lelah berjalan memutari berbagai tempat, apalagi ocehan Jungkook tiada habisnya. Sungguh membuat kuping panas saja?!

Korea Selatan akan memasuki musim gugur, hari yang sangat baik untuk melangsungkan pernikahan. Sanghoon sengaja memilih musim itu agar bisa sama dengan hari pernikahannya bersama Minji.

"Wahhhh.... baju barunya Ayah bagus, deh!"

"Iya kan? Ayahmu ini memang tampan dan keren!"

Junwoo terkekeh lalu berlari mendekati Jungkook, dia berdiri lama dihadapannya. Dengan kepala mendongak keatas disertai tatapan penuh kekaguman.

"Junwoo juga mau baju begini, Ayah...."

"Baiklah, setelah ini kita cari punyamu ya?"

"UHM!!"

"Sudah pas, kan Jungkook?"

"Aku rasa sedikit sesak, mungkin karena ada baju tambahan."

Sanghoon menganggukkan kepala lalu memanggil salah satu pekerja butik untuk menyimpan tuxedo itu sampai hari H.

Lalu dirinya bersama Jungkook dan Junwoo kembali berkeliling untuk mencari baju bocah kecil berusia 5 tahun ini. Jangan kira dia anak kecil maka bocah tersebut dilarang untuk bergaya oke?! Salah besar! Bahkan Sanghoon sudah mempersiapkan banyak hal agar Junwoo bisa menyandang gelar sebagai Jeon secepat mungkin.

"Sudah dapat?" tanya Minji, diikuti Yeona dari belakang.

"Ya, aku ambil pilihan Ibu."

"Baguslah, Yeona juga sudah dapat gaun yang pas."

"Apa?! Aku juga mau lihat tampilan calon istriku!"

"Tidak, tidak boleh. Biarkan saja menjadi kejutan."

Jungkook berdecak sementara Minji langsung meraih tangan sang cucu bersama Yeona untuk meninggalkan butik ini lebih dulu. Dia itu setelah kehadiran calon menantunya jadi lupa kalau punya anak kandung.

Hati Minji sudah berpindah haluan, dia lebih mencintai Yeona dan Junwoo bahkan mengungkapkan bahwa kehadiran dua orang itu lebih penting dari pada apapun.

Kim Minji juga tidak keberatan untuk membedakan nilai kasih sayangnya pada Jungkook dan Sanghoon; 3/10. Sementara Yeona dan cucunya memperoleh nilai; 100/10.

"Sayang, pergi ke pantai ya?"

"Sudah sore, sebaiknya kita pulang." ujar Sanghoon dengan nada lembut sementara Minji tampak mempoutkan bibir. "Kau mau kita ke pantai, kan?"

Mendapat tatapan seperti itu, Sanghoon tanpa basa-basi langsung menyuruh Jungkook untuk menuju tempat yang Minji mau.

Dia pun sempat mengutuk hari yang cerah ini, andai hujan tiba-tiba datang. Sanghoon sudah berpikir bahwa Minji pasti ingin pulang detik itu juga! Wanita ini benci hujan, musim yang paling tidak dia sukai bahkan bisa sampai uring-uringan di kasur seharian penuh.

Begitu sampai di kawasan pantai, Minji segera mengajak Yeona pergi untuk membeli jajanan khas disana serta minuman. Sementara Jungkook berbincang dengan rekan bisnis yang tak sengaja dia temui.

Sanghoon menemani cucunya bermain di bibir pantai, mereka pun tampak begitu asik menikmati tempat ini kemudian saling kejar-kejaran dengan sapuan ombak dan tertawa bersama.

"Jenderal...."

Mendengar itu, Sanghoon segera berbalik. Dia tersenyum lembut sementara pria tersebut langsung memberikan hormat pada pimpinannya ini.

Junwoo memperhatikan kedua orang itu lama, lalu tanpa di duga... anak kecil ini pun ikut memperagakan bawahan Sanghoon.

Dia hormat pada Kakeknya, sehingga membuat beberapa pengunjung langsung mengabadikan momen tersebut.

Pria paruh baya itu tersenyum penuh rasa bangga, dia membalas hormatnya dan sang bawahan, lalu menggendong Junwoo dan mencium pipinya.

"Kalau begitu saya permisi, Pak...." ujarnya membungkukkan badan lalu segera melangkah pergi darisana.

"Kakek, itu siapa?"

"Bawahannya Kakek."

"Junwoo juga mau jadi bawahannya Kakek."

"Kalau begitu Junwoo harus tumbuh besar,"

Yeona memperhatikan kedekatan putranya bersama Snaghoon dari kejauhan. Kekaguman itu muncul lagi, senyum dan tawa kecil dari calon mertuanya ini sungguh bisa membuat harinya kembali hidup, bahkan bisa dibilang menyelamatkan rasa rindunya pada sang Kakak.

"Yeona,"

Jungkook datang membawakan sebungkus es krim untuk gadis-nya, lalu kemudian pria tersebut pun duduk tepat di samping Bae Yeona, beralaskan pasir pantai tentu saja.

"Melamunkan apa?"

"Tidak ada. Jungkook.... bagaimana hubungan kedekatanmu dengan Tn. Sanghoon?"

"Biasa saja, dia pria tua membosankan seperti yang pernah ku katakan padamu Yeona."

"Jungkook pasti tidak melihat keseriusannya dalam menjadi sosok Ayah yang baik. Iya atau tidak?"

"Dia memang tidak pernah serius." sahutnya asik memainkan pasir pantai sambil melihat kearah Yeona yang tengah menikmati es krimnya. Sampai matanya memancarkan tatapan kagum akan setiap garis kecantikan dari profil wajah calon istrinya ini. "Saat guru memberi tugas padaku untuk merangkai aktivitas apa saja bersama Ayah..... aku benar-benar bingung. Dan pada hari dimana tugas harus terkumpul. Kertasku kosong,"

Jungkook menatap kearah langit kemudian tersenyum untuk menyatakan pada dunia bahwa dia adalah orang paling bahagia. "Aku tidak pernah memiliki waktu bersamanya. Dia terlalu sibuk mengurus negara ini, bahkan dia melupakan hari ulangtahunku sampai terhitung 20 kali."

Miris? Jangan ditanya, Jungkook bahkan tidak perlu repot memberitahu bahwa Ayahnya selalu saja salah tanggal setiap kali memberinya kejutan dalam merayakan hari kelahiran.

"Aku tidak ingin Junwoo merasakan seperti apa yang pernah aku alami. Yeona... aku berjanji akan meluangkan banyak waktu untukmu dan anak-anak kita. Tolong ingat ya?"

"Ayahmu seorang tentara, beliau Jenderal besar. Dia tentu tidak memiliki waktu luang seperti orang biasa, Ayahmu itu seorang pahlawan."

"Orang lain boleh bangga, bahkan ada yang ingin jadi sepertinya. Tapi aku tidak, aku justru membenci profesi Ayahku. Dia tidak lebih dari seorang pria bodoh yang lebih mementingkan nyawa pasukannya daripada keluarga sendiri."

"Jungkook...."

"Tapi kadang-kadang aku mengkhawatirkan dia juga. Sial! Aku bahkan membenci semua orang yang menaruh dendam pada Ayahku."

"Aku tahu Jungkook tidak sejahat itu...." katanya, menatap kearah pria yang kini sedang berbaring diatas pasir.

Si pria terkekeh lalu mencium punggung tangan Yeona secara tiba-tiba. Lalu bersikap seperti tak terjadi apa-apa kemudian menoleh kearah Sanghoon yang tengah bermain kejar-kejaran dengan Junwoo.

"Biar bagaimanapun.... dia itu Ayahku." Bae Yeona terkekeh lantas memberikan kecupan singkat pada kening Jungkook.












Tbc.















"Saat ku bilang jangan ganggu dia maka berhentilah menganggap perkataan ku sebagai lelucon." Jungkook muncul kedalam ruang rapat, membuat seisi pejabat yang berada di ruangan tersebut pun bungkam seketika.

Muncul dua orang lain di belakangnya, mereka adalah pengacara Noh dan notaris Han.

Sanghoon menarik sudut bibirnya kemudian beranjak lalu berdiri tepat dihadapan sang putra. "Silahkan, Jungkook... Ayah memberimu ijin."

See you soon 👋













Continue Reading

You'll Also Like

94.9K 9.5K 22
[Eษดแด…] Remake dari drama tahun 2000an *** Sejak menerima jantung dari seorang pendonor, jantungnya akan berdetak lebih cepat jika bertemu dengan seseo...
404K 33.8K 76
Follow sebelum baca~ Dia terlalu mencintai Anna, perasaannya pada wanita itu teramat dalam dan sulit jika di ungkapkan dengan kata-kata. Perempuan ya...
9.5K 543 49
โHidup itu penuh kejutan, nak. Dan dunia nggak pernah nunggu kamu siap untuk nerima semua candaannya.โž *** Ini tentang sepasang remaja yang berusaha...
38.7K 4.8K 83
[THE COMPLATEโœ”] [NO REVISIONS] [CHAPTER MANY AND LONG] [STORIES WITH COMPLICATED PROBLEMS] Perjodohan yang berakhir dengan sebuah fakta yang terbong...
Wattpad App - Unlock exclusive features