Antagonist Lady And The Villa...

By Luluk_Layalie

16.5K 2K 343

Dikutuk, diasingkan hingga dipalsukan kematiannya sehingga menjadi rahasia besar Kerajaan? Leviza Xavier, ras... More

Prolog
Semua Luka Karenamu!
Leviza Dan Jalan Dunia Baru!
Menjadi Wanita Bayaran?
Buronan Kerajaan
Kebangkitan Sang Raja Iblis
Duel
Kekacauan Besar
Mari Hidup Bersama
Permusuhan

The Antagonist Princess

2.2K 315 26
By Luluk_Layalie

"Ayahanda, aku ini juga putrimu!" jerit Leviza masih berusaha meronta dari cengkeraman penyihir yang mencekal kedua tangannya.

"Tutup mulutmu! Kau, beraninya kau membunuh putriku! Oh Lenora, putriku yang malang. Mengapa aku harus membesarkan anak pemberian iblis sepertimu?!" bentak Raja Devian menangis frustasi. Lantas pria itu berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan kemarahannya.

Di sisi lain, ia merasa sangat kehilangan sosok putri bungsunya yang telah dibunuh oleh saudarinya sendiri. Namun, ketika memandang wajah Leviza, hatinya juga hancur karena tak kuasa melihat darah dagingnya melakukan kejahatan sebesar ini.

"Dia saudarimu, Leviza. Dia saudarimu ...." Kali ini Raja Devian terisak. Namun, sedetik kemudian, wajah sang Raja berubah menjadi gelap penuh kabut amarah. "BAGAIMANA KAU BISA MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI?!"

Dada Laviza kembang kempis, ia tak tahu lagi harus berkata apa. Hatinya terlalu sakit menerima semua ketidakadilan ini.

"Seharusnya, sejak awal aku tidak perlu membesarkan iblis sepertimu. Kau benar-benar pembawa petaka di Kerajaan ini!"

"Ayahanda, a-aku ... apakah Ayahanda pikir aku tidak sakit? Apakah Ayahanda pikir dikurung dalam kastil selama bertahun-tahun tidak kesepian? Bahkan, aku tidak pernah mendapatkan hakku sebagai seorang putri pun aku tidak pernah protes. Namun, aku hanya meminta satu, aku hanya meminta Duke Axton untukku, tapi apa? SELALU ADIKKU YANG MENDAPATKAN SEMUANYA!"

"Sekarang, ayo bunuh aku, Ayahanda! Bunuh saja! Aku muak hidup dalam kesepian seperti ini! Aku lelah! Aku benci Ayahanda! Aku benci Ibunda! Aku membenci semua saudaraku yang telah merebut semua milikku! Aku benci kalian semua! Bahkan, aku juga tidak akan menyesal jika membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri!"

"LEVIZA!!" Kali ini Duke Axton angkat bicara. Pria itu membentak sang putri. Amarahnya sangat menggebu setelah tunangannya dibunuh oleh kakaknya sendiri dengan alasan konyol bahwa Leviza mencintainya. Tidak. Gadis itu terobsesi pada dirinya. Buka jatuh cinta.

"Anda suda keterlaluan," lanjut Duke Axton menatap sengit ke arah Leviza.

"Aku melakukan ini demi bisa bersamamu, Duke! Mengapa Anda tidak mengerti?!"

"Kau salah paham, Putri Leviza. Kedekatan kita selama ini hanya sebatas teman. Dan lagi, saya tidak membutuhkan pengorbanan apa pun dari Anda. Satu-satunya yang saya sesalkan adalah pernah bertemu dengan Anda. Siapa sangka, gadis yang saya cintai ternyata mati di tangan Anda. Jika saya tahu akhirnya seperti ini, saya tidak akan pernah mau bertemu dengan Anda."

Mendengar bahkan orang yang paling ia cintai, tempat yang ia yakini untuk melabuhkan hati juga mengeraskan suara padanya, Leviza dibuat tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa memandang dengan mata yang basah oleh cairan hangat yang tak mampu ia bendung. Sakit, sangat menyakitkan. Remuk sudah hatinya, hancur tak bersisa.

"Kau terlalu hina untuk keagungan Duke Axton, Leviza. Kau hanya 'lah gadis iblis yang juga pantas menikah dengan iblis sialan itu!" murka Raja Devian kembali menarik pedangnya.

Sedetik kemudian, pandangan pria itu terangkat, melempar senyum bengis pada sang putri. Tak ada lagi rasa iba di sana selain amarah yang begitu besar tak terkendali. Pedangnya berayun, Leviza tak sempat melakukan perlawanan karena tubuhnya hanya bisa membeku dan menerima tajamnya bilah besi itu memenggal kepalanya.

"MATI SAJA KAU KE NERAKA BERSAMA FALCON!!!"

Crash!

***

Di sebuah gua yang dipenuhi kegelapan, sosok pria berjubah hitam seraya membawa obor tampak membuka mata setelah cahaya dari sebua buku yang ada di atas batu di depannya pudar. Pria itu lantas tersenyum miring.

"Tugas pertama telah selesai."

Pria itu meletakkan telapak tangannya di depan dada lalu membungkuk hormat kepada buku yang ada di atas batu. Dari cahaya temaram obor yang ia bawa, tampak 'lah kerutan di wajah sosok pria tua itu.

"William Carter menyambut kebangkitan Falcon."

***

"Hah!"

Leviza bangun dengan napas tersengal-sengal. Wanita itu mendudukkan diri, ia berada di atas lantai kayu. Hal pertama yang langsung ia pastikan adalah lehernya. Telapak tangannya langsung menyentuh permukaan lehernya dengan panik.

"Masih utuh?" gumamnya tak percaya.

Pandangan matanya menelisik sekeliling, ia berada di dalam kamarnya. Rasa sesak sekaligus lega langsung membekap hatinya. Jika hanya mimpi, tetapi ia menjalani hari-hari dengan begitu jelas dan panjang. Semua perasaan itu sangat nyata. Jadi, satu hal yang terjadi saat ini adalah ia hidup kembali.

Lelehan air mata jatuh perlahan di pipinya. Tubuhnya bergetar hebat bersamaan dengan rasa sesak yang tersisa.

"Aku ... masih hidup?" gumamnya sendiri.

Alis Leviza mengerut ketika ia merasakan sesuatu yang mengganjal di tangannya. Begitu membuka telapak tangannya, Leviza dibuat nyaris memekik saking terkejutnya. Bagaimana tidak? Di tangannya ada sebuah botol yang masih teringat jelas di kepalanya bahwa itu adalah botol racun yang ia gunakan secara berkala untuk membunuh adik bungsunya.

"Sebenarnya, apa yang terjadi?"

Dua puluh tahun hidup di dalam kastil dengan hidup serba berkecukupan dan mewah, membuat Leviza Xavier, sang putri sulung Kerajaan Gloria tumbuh menjadi pribadi yang angkuh dan semena-mena. Wajar saja, alih-alih menjalani rutinitas layaknya putri kerajaan lain yang menghadiri berbagai pesta dan acara kerajaan, kehidupan Leviza selama dua puluh tahun ini hanya dihabiskan belajar, membaca, dan entah apa pun di dalam sangkar emas bersama para pelayan.

Jangan salahkan gadis itu apabila ia merasa iri pada kedua adik kembarnya. Pangeran Leonard, saudara ke dua serta Putri Lenora si bungsu, mereka menjalani kehidupan layaknya bangsawan tingkat atas pada umumnya. Menghadiri pesta dan berbagai perjamuan, mendapatkan debutante, bahkan mereka bisa menjejakkan kaki ke berbagai kerajaan lain dalam berbagai urusan.

Kebebasan yang kedua adiknya itu dapatkan sangat bertolak belakang dengan berbagai kekangan yang didapat Leviza. Sejak kecil, tak pernah sekali pun Leviza keluar dari dinding beton yang mengelilingi halaman kastil miliknya ini. Meski terlihat megah, tetapi di dalamnya hampa. Leviza kesepian. Meski sesekali Raja, Ratu dan kedua saudaranya berkunjung, tetapi tak mampu mengusir rasa kesepian dan dambaan akan kebebasan.

Mereka tidak tahu, ketika mendengar bagaimana ketika ia mendengarkan kedua adiknya itu bercerita mengenai dunia luar dan kebebasan berpetualangan ke sana kemari, jauh dalam lubuk hati Leviza ingin menjerit. Ia iri, sangat iri. Mengapa kedua adiknya itu bisa menikmati dunia yang bebas, sementara dirinya tidak. Bahkan, kedua adiknya telah melakukan debutante, di mana ia hanya bisa mendengar suara alunan musik dan berbagai keramaiannya dari jendela puncak kastil.

Agaknya, kehadiran sosok pemuda yang pertama kali ia temui dala hidupnya selain ayah dan adiknya membuat Leviza jatuh hati pada ketampanannya. Duke Axton Lectuzen, bangsawan muda yang terbiasa hidup di medan perang, menggantikan posisi ayahnya yang telah wafat dan menjadi pemuda tertangguh di kerajaan.

Hari pertemuan pertama mereka adalah ketika Duke Axton yang tak sengaja menginjakkan kaki di daerah kerajaan tak sengaja tersasar. Pria itu berada di dataran tinggi, memandang bingung ke penjuru arah. Hingga matanya tertuju ke arah bangunan kastil yang ada di area bawah. Kastil besar yang tersembunyi dari bangunan lain, tetapi tampak sangat terawat.

Yang membuat Duke Axton semakin tertarik adalah ketika ia tak segaja melihat seorang gadis berkulit pucat dan memiliki rambut perak tengah berada di gerbang. Gadis itu berlutut, tangannya berusaha menggapai sesuatu di luar pagar, tak menyadari jika keberadaannya sejak tadi menjadi pusat perhatian Duke Axton.

Sebuah gulungan benang merah.

Merasa penasaran, Duke Axton berjalan mendekat. Pria itu memungut gulungan benang merah, lalu mengulurkannya kepada si gadis bersurai perak. Merasa terkejut dengan kedatangan orang asing, sontak wajah Leviza dibuat terangkat terkejut. Kedua matanya membelalak, terkagum-kagum melihat sosok pria rupawan di hadapannya.

Leviza ingat betul, itu adalah cinta pertama. Siapa sangka, sosok cinta pertamanya itu 'lah yang kelak membuatnya buta dan tersesat.

"Nona ini siapa? Mengapa berada di sini?"

Mendengar pertanyaan Duke Axton, Leviza dibuat terheran-heran karena sosok itu tidak mengenalinya. Ya, wajar saja, toh dia adalah putri yang disembunyikan. Dan sekarang Leviza baru menyadari, bahwa mungkin selama ini namanya tidak pernah ada dalam sejarah Kerajaan Gloria.

"Leviza Xavier."

"Seorang putri?" Duke Axton tampak sangat terkejut. "Nona, tolong jangan bercanda dengan nama keluarga kerajaan."

Leviza mendengar suara dari sisi pria itu. Mata gadis itu membelalak saat melihat tangan pria itu menarik sedikit pedang dari sarungnya. Seketika itu, Leviza berubah ketakutan.

"Duke Axton! Apa yang kau lakukan di sana? Kakak, mengapa kau berada di luar? Udara sangat dingin nanti kau bisa sakit!" teriak Putra Mahkota Leonard Xavier, salah satu adik kembarnya yang segera datang menuruni anak tangga batu yang menuju kediaman kastil milik Leviza.

Leviza segera bangkit dan membalikkan badan. Wanita itu berlari ke dalam kastil. Keesokan harinya tiba-tiba Duke Axton kembali mengunjunginya dan meminta maaf. Meski awalnya terasa kaku, tetapi karena Leviza memang sangat terpukau dengan ketampanan milik sang Duke, mereka pun mudah akrab. Sejak hari itu, Duke Axton menjadi temannya. Namun, jauh dalam lubuk hati Leviza sendiri berharap mereka lebih dari teman.

Sekarang, Leviza hanya bisa tertawa sumbang. Leviza masih ingat betul di detik-detik terakhir hidupnya. Ekspresi dingin pria itu ketika pedang sang Raja menebas leher Leviza.

"Aku menyesal pernah jatuh cinta pada pria sepertinya dan aku tidak butuh rasa kasihan oleh siapa pun."

Satu hal yang seketika langsung terbesit di benak Leviza. Tepat di detik-detik sebelum kematiannya, Raja Devian sang ayah menyebut nama Falcon dan iblis.

"Siapa Falcon?"

Continue Reading

You'll Also Like

253K 21.5K 20
Follow dulu sebelum baca 😖 Hanya mengisahkan seorang gadis kecil berumur 10 tahun yang begitu mengharapkan kasih sayang seorang Ayah. Satu satunya k...
214K 646 11
CERITA DEWASA KARANGAN AUTHOR ❗ PLIS STOP REPORT KARENA INI BUKAN BUAT BACAAN KAMU 🤡 SEKALI LAGI INI PERINGATAN CERITA DEWASA 🔞
585K 36.1K 63
(WAJIB FOLLOW SEBELUM MEMBACA!) Ini tentang Amareia Yvette yang kembali ke masa lalu hanya untuk diberi tahu tentang kejanggalan terkait perceraianny...
2M 295K 77
The Another World Series (1) - Anstia Cerita berdiri sendiri. Dia terbangun dengan tangan mungil dan badan yang tidak dapat di gerakkan seperti bia...