【𝑾𝒊𝒍𝒍 𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆?】

By ThornyAzniar28

3.5K 1.4K 2.8K

》FOLLOW SEBELUM MEMBACA^^ ─────────────────── Syakila Auries, gadis yang sejak kecilnya sudah lebih dulu mera... More

P R O L O G
#1
#2
#3
#4
#5
#6
#7
#8
#9
#10
#11
#12
#13
#14
#15
#16
#17
#18
#19
#20
#22
#23
#24

#21

84 21 141
By ThornyAzniar28

"Hadirnya dirimu aku mengerti apa itu bertahan bersama kasih sayang yang melimpah. Thank you my sky." -Syakila Auries

"Aku mendapatkan jawabannya, ternyata seperti ini ya rasanya?"
Keanu Amorgatha Scaetc-

"You are mine now!" -Angkala Samudra

Selamat membaca

.
.
.

"Astaga babe, pelan-pelan makan es krimnya, nanti mau aku kurangi nih hadiahnya?"

Syakila langsung menggeleng cepat, "Kean nih.. kalo niat kasih aku hadiah jangan pake kurang dong, tambah aja pake coklat."

"Memang Kila mau coklat?" Syakila mengangguk dengan semangat dan menatap Keanu penuh harap.

"Kalo gitu, aku juga perlu tambahan tenaga nih... di sini--"

Cup

Keanu terdiam, jari yang ia arahkan ke pipinya itu tersentuh sesuatu yang lembut dan sedikit tekanan yang cukup membuat kepalanya terdorong ke samping.

"Ka-kamu beneran ci-cium pipi a-aku?"

"Kamu tanya?" Sinis Syakila menatap lelaki itu yang mungkin masih terkejut karenanya. Kemudian ia menyentuh telinga Keanu, "telinga kamu merah, perasaan gak ada nyamuk deh yang gigit telinga kamu."

Sial!

Keanu salting karena kecupan pertama langsung dari bibir Syakila di pipinya. Biasanya ia yang selalu mengecup kening gadis itu tanpa ragu. Dan ini!?

Ouch damn!

Ekspresinya perlahan berubah, garis bibir lelaki itu membentuk sebuah sabit yang indah sampai kedua dimplenya timbul.

"Kamu ini ya!!!" Menarik Syakila ke dekapannya, memeluknya dengan gemas dan penuh cinta.

"Astaghfirullah Kean, es krim aku nanti jatuh."

Keanu menghiraukannya, Syakila terlalu menggemaskan baginya. Ia perlahan mengubah pelukan itu menjadi sebuah pelukan hangat dan nyaman. Jantung keduanya berdegup sangat kencang, baik Syakila maupun Keanu dapat merasakan sekaligus menikmati ritme detak jantung mereka.

Gadis itu bahkan semakin terlarut dengan kenyamanan itu sampai tidak sadar dia menjatuhkan es krimnya yang tersisa sedikit tersebut untuk membalas pelukan Keanu.

Dirinya merasa sangat bersyukur karena sang Pencipta telah mempertemukannya dengan sosok lelaki baik hati ini yang sudah memberinya banyak cinta dan kasih sayang di setiap pertemuan. Walau dulu sempat menjadi traumanya, tapi dia juga sudah membantu dirinya menghapus trauma itu.

Tangan Keanu terus mengusap lembut rambut Syakila yang sudah memanjang. Ia tersenyum sambil memejamkan matanya, menikmati setiap detik yang berjalan dengan manis ini.

"Aku ingin mengatakan sesuatu, di sore yang indah dan hangat ini...," ucap lelaki itu tiba-tiba lalu mengurai pelukan tersebut membuat Syakila ikut melepasnya, tapi tidak dengan tangan mereka yang masih saling menggenggam erat seakan tak ingin terpisah.

Keanu mengulurkan sebelah tangannya ke arah wajah Syakila, menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah gadis itu.

Syakila diam dalam buaian jemari lelaki itu di wajahnya, belum lagi tatapannya yang dalam dan hangat itu membuat dirinya terhanyut di dalamnya hingga lupa dengan sekitar. Itu adalah tatapan kesukaannya, ia sangat menyukai tatapan dari Keanu tersebut yang hanya ditunjukkan olehnya.

Dengan nada rendah Keanu melanjutkan kalimatnya dengan mengikis jarak wajahnya pada Syakila, "aku mencintaimu sebesar angkasa yang tak pernah bisa terukur dengan alat apapun, aku tidak tau apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama dengan ku or not but...,"

"I'm sure in your heart there is a place for me."

Kini posisi mereka sangat dekat, bahkan kedua hidung mereka hampir bersentuhan dengan tangan mereka yang kembali saling bertautan.

"Bolehkah aku menjadi angkasa, mu?"

Syakila terdiam, garis lengkung bibirnya berubah menjadi garis datar yang seperti kelu untuk bergetar, karena kalimat dan pertanyaan yang terucap di akhir itu dari lelaki di depannya.

Terlebih pada satu kata yang membuatnya semakin diam terbungkam adalah....
angkasa.

-Flashback on

Waktu mendapat kabar dari Ken twins kalau mereka sudah sampai di bandara, Keanu langsung bergegas untuk menjemput mereka. Namun si kembar menolak, sebab mereka lebih menginginkan lelaki itu menjemput sepupunya dan memberikan waktu mereka untuk berduaan. Karena hari ini adalah hari terakhir Keanu berada di Indonesia.

Jadi lah Keanu bersama Syakila. Selama di perjalanan Syakila terus berbicara dengan semangat atas keberhasilannya dan sepupunya di perlombaan akademik antar provinsi. Keanu pun ikut menanggapinya seperti seorang Ayah yang bangga dengan keberhasilan putrinya.

"Kamu udah janji kan sama aku kalau aku udah balik, kamu mau nuruti semua keinginanku hari ini sebagai hadiah, kan?"

"Tentu babe, anything for you."

Syakila langsung tersenyum lebar mendengarnya dan kembali menatap jalanan dari kaca jendela mobil. "Kean, di sana ada jual jajanan jadul deh kayaknya. Coba ke sana dulu dong."

Keanu mengikuti arah yang ditunjuk Syakila. "Di seberang itu kah?"

"Iya, aku mau beli itu, ya ya? Kamu tunggu di dekat halte itu aja, biar aku aja yang nyebrang ke sana, boleh ya?"

Keanu mengangguk dan memberhentikan mobilnya di dekat halte. Syakila sangat menginginkannya dan ia pun mengizinkan gadis itu membelinya sendiri.

Saat gadis itu beranjak keluar, ada sebuah kertas kecil bermotif langit malam berbintang, jatuh di tempat gadis itu duduk.  Ia pikir itu hanyalah kertas biasa yang mungkin tidak ada hal penting apapun di dalamnya. Tapi karena penasaran ia mengambil kertas itu dan melihat sisi bagian dalamnya.

───────•••••───────
-Random words today..

Mengira aku akan kehilangan angkasa, tempat yang harus aku lukis dengan kuas yang aku miliki agar dia tidak lagi merasa sepi.

Tapi... aku justru ingin jadi buminya, tempat dia tinggal dan menetap.

Dia Angkasaku dan aku buminya, aku tau ini tidak nyambung, tapi yang pasti perasaan ku dengannya pasti saling menyambung tanpa ada akhiran di ujungnya.

Dan perasaanku seluas namanya... Samudra...♡by Lala.
───────•••••───────

Setelah membaca isinya, lelaki itu langsung meremas kertas itu dan melemparnya ke luar kaca mobilnya dengan rasa panas dan emosi yang menjalar di hatinya.

-Flashback off

Keanu masih setia menunggu gadis itu bersuara. Dari hati yang terdalam, ia sangat berharap Syakila memiliki perasaan yang sama dengannya. Walau hanya sedikit pun tidak apa, asal setelah sore ini yang akan diakhiri oleh hari yang lebih gelap, ia bisa lebih tenang saat berpamitan untuk kembali ke negara Argatha Scaetc─almarhum Papanya di Amerika.

Perlahan kepala gadis itu menunduk, matanya berembun panas, hatinya tergerak tak tentu arahnya, pikirannya pun ikut berkabut mendung di dalamnya. Ia bingung, apa yang harus ia katakan?

Mulutnya sempat terbuka cukup singkat itu kembali menelan kata-kata yang hendak  keluar dari tenggorokannya. Ia takut, jika ia mengatakan sejujurnya pada Keanu, itu akan menyakiti perasaan Keanu.

Melihat Syakila yang tak kunjung bersuara, Keanu menipiskan sabit di bibirnya. Sepertinya Keanu sudah mendapatkan jawabannya, diamnya gadis itu cukup jelas apa yang dipendam Syakila tidak dapat dilontarkan padanya.

Itu artinya.. apa aku harus pamit dari rasa ini juga?

Keanu menjauhkan wajahnya, melepas tautan jemarinya dari Syakila sambil mundur selangkah. Gerakan kecil lelaki itu membuat Syakila tersentak bingung.

Apa dirinya salah?

Keanu kembali menyempurnakan senyumannya saat Syakila menatap dirinya, walau sudah terciptanya rasa kecewa yang cukup sulit ia gambarkan.

Syakila semakin dibuat bingung olehnya, ditambah lelaki itu menurunkan satu lututnya ke tanah. Tangan Keanu mengambil sesuatu dari saku celananya.

"Tidak apa jika tidak dijawab tapi, aku akan senang jika Kilanya aku mau terima hadiah sederhana ini sebagai penutup pertemuan kita hari ini, karena setelah ini aku akan langsung ke bandara untuk kembali dan menetap di negara Papa."

"Yeah... anggap saja sebagai tanda persahabatan kita, mungkin? Bagaimana?"

Syakila tidak bisa membendung air matanya lebih lama lagi. Ia tidak menyangka Keanu akan benar-benar pergi darinya... jauh lebih lama dari yang sebelumnya.

Gadis itu mengulurkan tangan kirinya, mengizinkan lelaki itu menyematkan beda kecil itu di jari manisnya.

"Maafkan aku Kean... sebenarnya kamu punya tempat di hati ini dari dulu tapi, di sini juga ada Samudra yang tetap menjadi pemenangnya... ku mohon maafkan Kilanya Kean ini..." batin Syakila.

Lelaki itu pun mulai memasangkan cincin berbentuk hati yang bergantung tersebut di jari manis Syakila.

"Aku akan berusaha menjadi orang yang paling kamu butuhkan. Tolong, jangan pernah lupakan aku sekalipun kita telah dipertemukan kebahagian kita masing-masing nantinya..."

****

Hari semakin gelap dan dingin. Kakinya terus melangkah teratur dengan arah yang sudah ia tentukan kemana ia akan pergi.

Rasa dingin yang menyapa dirinya cukup brutal, bahkan jaket hangat yang ia kenakan itu pun masih bisa angin tembus. Tapi ia mengabaikan rasa dingin itu demi sesuatu yang harus ia perbaiki.

Dan itu adalah hatinya...

Ia tidak lagi merasa bahagia dan nyaman di sekolah semenjak kembalinya Sisil. Hampir setiap harinya ia dihujam oleh masalah yang bukan ulahnya. Mungkin jika ia dikucilkan oleh seluruh siswa dan siswi di sekolah bukan masalah, tapi.. jika dirinya sudah dicap tinta merah oleh pihak sekolah, apa ia masih baik-baik saja?

Tentu saja tidak.

Rasa ingin membalas perbuatan gadis itu tentu ada, entah itu secara lisan atau fisik bisa saja ia lakukan. Tapi Sisil adalah perempuan, ia bukanlah laki-laki yang suka menyakiti perempuan.

Jadi, diam baginya solusi dari segala permasalahan, walaupun saat ini mentalnya tengah terombang-ambing oleh dahsyatnya gelombang air laut.

Sekarang ia sudah sampai di tempat favoritnya. Bulan mulai menampakkan diri secara perlahan, memantulkan cahayanya dengan indah ke arah telaga. Sepertinya langit tidak jadi murung, sampai bintang-bintang ikut hadir dan membuat langit semakin terlihat indah.

Ia memandang bulan tanpa sadar yang menjadi beban pikiran dan perasaannya sirna dalam sekejap.

Kunang-kunang turut hadir menerangi sekitarnya, membuat tempat yang tadinya gelap dan cukup mencekam itu menjadi tempat yang seperti surga dunia yang diimpikan.

Dengan slowmotion netranya jatuh pada objek di rumah pohonnya. Tepatnya seseorang yang juga tengah menikmati cahaya rembulan sendirian.

"Dia...,"

****

"Janji jangan beritau Ken twins?"

Nathaniel memandang jari mungil Syakila ragu. "Lo yakin aman? Kalo lo kenapa-napa lagi, gue yang kena bantai Sya."

"Gak akan, nanti gue bantu lo juga kok kalo gak bisa bikin alasannya."

Nathaniel mengehela napas lelahnya. Gadis itu ternyata sama dengan dirinya, keras kepala.

"Iya, lo juga janji sama gue. Entar kalo ada apa-apa telepon gue, lo harus balik dengan keadaan fine, ngerti?" tegas Nathaniel sambil menautkan jari kelingkingnya ke kelingking mungil Syakila.

"Janji!" balas Syakila senang, setelahnya gadis itu berlari meninggalkan cowok itu yang hendak mengucapkan sesuatu.

Ia hanya bisa terdiam terpaksa sampai bayangan gadis itu semakin mengecil di matanya.

Nathaniel tersenyum kecut, sekarang ia paham di balik alasan Keanu yang mutlak untuk tinggal di Amerika. Dan ia juga tau, kapal siapa yang pantas bersinggah dan menetap di pelabuhan gadis itu.

"Emang dasarnya gue baperan mungkin ya?" Ia pun pergi bersama mobilnya, membiarkan gadis itu pergi semaunya.. hanya untuk kali ini, saja.

.
.
.

Syakila merasa jenuh di rumah si kembar. Keduanya begitu sibuk berkutat dengan komputer mereka masing-masing yang entah apa yang dikerjakan si kembar, ia sama sekali tidak paham dengan dunia informatika dan perbisnisan.

Jadilah ia memilih pergi ke tempat yang pernah terjadinya masalah mentalnya kambuh, dengan alibi ia ingin jalan-jalan bersama Nathaniel untuk mencari cemilan. Untungnya si kembar setuju dengan permintaannya.

Dalam hati Syakila berdoa, semoga saja ia tidak lagi seperti dulu, ia akan buktikan bahwa ia sudah sembuh dan siap bertemu kembali dengan dia.

Syakila berjalan hati-hati melewati akar-akar besar yang membentuk seperti jembatan menuju telaga biru. Sudah cukup lama ia tidak ke tempat tersebut, tapi tidak ada yang berubah sedikitpun suasananya.

Sambil berjalan ia terus mengusap kedua lengannya yang bebas terkena angin. Rasa dingin yang kuat dan menusuk itu membuatnya sedikit menggigil.

Hampir 1 menit lebih ia sudah sampai di telaga biru. Sayangnya keadaan sekitar masih gelap, samar-samar bulan memberikan cahayanya ke bawah karena tertutupi oleh awan yang numpang lalu.

Untung saja Syakila membawa ponsel dan  mengaktifkan lampu ponselnya ke arah di mana rumah pohon itu berada.

Rumah pohon itu tidak terlalu tinggi, jadi ia tidak kesulitan untuk naik ke atas.

Sesampainya di rumah pohon, Syakila menatap bagian dalam rumah itu keseluruhan. Sangat minimalis, namun terkesan makna yang dalam di setiap hiasan kecil yang tertepel di dinding.

Tetapi matanya lebih tertarik oleh sebuah ukiran tulisan cantik di kertas kecil yang menempel itu.

°Angkala Samudra__Cahaya ketenangan dalam rembulan.

"Kamu benar-benar pecinta langit ya, Sa." Gumamnya lalu melihat tulisan lainnya di sebelahnya juga di bagian bawahnya.

°Angkala Samudra__si penyendiri yang tidak suka kesepian.

°Angkala Samudra__siapa nama asli Lala?

°Angkala Samudra__aku menyukai seorang gadis bernama Lala.

°Angakala Samudra__bisakah aku memilikinya?

Sudut bibirnya tiba-tiba saja tertarik dengan sendirinya hingga membentuk sabit yang manis, tepat di tulisan terakhir yang ia baca.

'Aku juga menyukai seseorang pemilik fake name Angkasa. Tanpa harus ku jawab, dia sudah menjadi pemilik pelabuhanku yang sebenarnya,' batinnya.

Selesai mengagumi isi dalamnya, Syakila menatap keluar jendela, melihat bulan yang mulai menampakkan diri secara perlahan. Ia senderkan kepalanya di pembatas rumah pohon tersebut. Menikmati setiap belaian angin yang menyapa wajahnya dengan sejuk.

Entah mengapa ia merasa lebih tenang saat memandangi bulan tersebut. Sambil memandang bulan, Syakila jadi mengingat kedua sahabatnya, si kembar, lalu Nathaniel dan juga Keanu. Seketika ia bersyukur karena bisa bertahan hingga saat ini. Berkat mereka yang sudah sabar membantunya untuk bangkit dari traumanya, akhirnya ia bisa keluar dari mimpi buruknya.

"Tersisa satu lagi yang belum usai...,"

"Tidak ada yang usai karena belum menumpahkan tinta hitam di kertas novel yang masih kosong." sahut seseorang.

Deg..

Suara itu..

Syakila langsung menoleh ke belakang. Sosok lelaki jangkung berdiri dengan kokohnya di ambang pintu. Sosok yang sudah berani membuat dirinya tersiksa akan kerinduan yang tak tertahan. Dan dia yang selalu hadir dalam bentuk bayangan di setiap mimpinya.

Syakila merindukannya.. pada Samudra.

Sesaat kedua mata mereka sama-sama berembun, dan menjatuhkan kristal mereka yang terdapat kejelasan sebuah rindu di dalamnya.

Samudra melangkah mendekat, menarik Syakila ke dalam pelukannya. Hitungan detik tangis keduanya pecah, seperti dua luka yang sudah terpisah lama, kini bertemu kembali dalam haru yang piruk.

"Jangan pernah memintaku untuk pergi lagi... aku akan sangat tersiksa jika itu terulang kembali hiks.. jangan pernah.." ucap Syakila memperkuat cengkeramannya pada jaket Samudra.

Begitupun Samudra yang semakin erat memeluk gadis itu seolah tak ingin terpisah lagi. "Tidak akan pernah lagi, maafkan aku La... maafkan kebodohan ku waktu itu, aku sudah berani jahat sama kamu.. ku mohon maafkan aku, La."

Syakila mengurai pelukan itu. Ia mengusap kedua pipinya, menghapus jejak air matanya lalu ia juga menghapus jejak air mata lelaki itu dengan tangan gemetarnya. "Aku sudah memaafkan mu─because I'm yours, chagiya.. nado saranghae.." bisik gadis itu di depannya bersama senyuman manis di bibirnya.

Sejenak Samudra terdiam.

Chagiya... nado saranghae?

Gadis itu membalas perasaannya?

"Ka-kamu---"

"Aku juga menyukaimu, Angkasa." potong Syakila cepat tanpa ragu dan malu.

Samudra mendengarnya tidak bisa lagi menahan perasaan bahagianya. Ia pun mengangkat tubuh Syakila yang lebih kecil darinya itu sambil berputar senang.

"CHAGIYA!!!! NEOMU SARANGHAE!!!!" teriak Samudra yang disambut baik oleh Syakila dengan sama bahagianya.

"NADO!!!"

.
.
.

'Kamu milik aku, milik Angkala Samudra...'











































































#T B C#

Haiiii.... lama buanget ya gak up eheheh..

Gimana nih sama babnya?

Ramein dungs:')

Ada bonus nih dari Samudra⬇😗

Samudra : See? cinta gue dibalas dong ama ayang... masa kalian chat doi masih centang abu-abu sih?😂

Continue Reading

You'll Also Like

2.9K 618 33
[COMPLETED] "Teruntuk diriku, Ada malam dimana kamu menangis. Lalu ada malam dimana kamu mengubur kesedihanmu dan berkata kamu sudah lelah. Tapi sel...
1K 256 14
(Ending) Slow update!!! (Sorry ceritanya agak gaje karena cerita pertama!) Tersenyum di balik luka itu tidak mudah,tampang biasa biasa saja,tapi tern...
16.8K 1.3K 41
FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA *** Ini tentang Aidanata Novandri Anggoro. Ketua geng Samurai yang paling disegani, cuek dan pembaca novel bergenre fa...
Wattpad App - Unlock exclusive features