Twisted Fate (TERBIT)

By HazaRory

9.5K 4.4K 4.4K

[ SUDAH DITERBITKAN, BISA DIAKSES/DIBELI LEWAT GOOGLE PLAYBOOK. LINK EBOOK TERTERA DI BIO. ] ----- ㅤ [ BOOK O... More

00 | prolog
01 | welcome to Brooklyn
02 | blind date
03 | first date
04 | party
05 | jealousy
06 | officially taken
07 | scandal
08 | a father's anger
09 | how could you?
10 | informations
11 | the reasons why
12 | panic attack
13 | a dare
14 | thanksgiving
15 | came unannounced
16 | suspicious
17 | confession
18 | suspect
19 | birthday gift
20 | Aubree Seagraves
21 | confrontation
22 | there's no "us"
23 | moving on
24 | the fight
25 | tequila
26 | saving her
27 | caught
28 | you meant the world to me
29 | sleepover
30 | testpack
31 | London
32 | kidnapped
33 | pursuit
34 | pursuit pt. 2
35 | decision
37 | scolded

36 | an attempt

135 14 27
By HazaRory

Welcome back! Jangan lupa votenya ya :)

.
.
.

Rafael berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sendirian. Dokter yang ia panggil menyuruhnya untuk kembali ke ruangan Mia lebih dulu karena harus memeriksa pasien lain.

Jadi, Rafael menelepon Nolan setelah menemui dokter, meminta pria paruh baya itu untuk menjemputnya karena Mia telah diperbolehkan pulang. Setelah mematikan panggilan dan berjalan kembali, langkahnya terhenti di depan kamar inap Mia. Ia membuka pintu ruangan yang tak sepenuhnya tertutup itu dan melangkah ke dalam.

Dahinya mengernyit heran begitu menyadari ruangan itu kosong. Seingatnya, Mia baru saja sadar ketika Rafael meninggalkan ruangan tadi, ke mana perginya wanita itu?

"Pumpkin?" panggil Rafael.

Tak ada sahutan.

"Pumpkin, kau di mana?"

Ia memeriksa kamar mandi, namun ruangan itu juga kosong. Tak ada tanda-tanda Mia di mana pun.

Dada Rafael mendadak terasa berat. Perasaan tidak enak membasuhnya. Rafael keluar ruangan dan celingukan, mencari keberadaan Mia. Ia mencoba bertanya pada suster dan dokter yang ia lewati, tapi tak ada satu pun yang melihat wanita itu.

Langkahnya terhenti, matanya teralih pada tangga darurat tak jauh darinya. Percakapannya dengan Mia beberapa saat lalu kembali terputar di benak, perasaan mengganjal yang dirasakan Rafael ketika wanita itu mengatakan terima kasih tanpa konteks membuatnya heran.

Mungkinkah?

Sesuatu seakan berbisik padanya, memberitahunya bahwa itulah jalan untuk menemukan Mia. Tanpa ragu, Rafael berlari menaiki tangga. Dalam hati, ia berdoa wanita itu akan baik-baik saja. Ia berharap kalau dirinya belum terlambat, jikalau sesuatu yang buruk memang terjadi padanya.

Rafael melompati dua tangga sekaligus, menuju sebuah tempat yang ia pikir di mana Mia berada saat ini. Benar saja. Pintu menuju atap rumah sakit terbuka lebar. Angin kencang berembus dari luar, seolah sedang menyuruhnya untuk bergegas.

Ia melihat Mia berdiri di dekat ujung, kedua tangannya mencengkeram pagar. Kantong infusnya tergeletak di lantai, tetesan darah merembes keluar, mengotori punggung tangan Mia. Jantung Rafael seakan jatuh ke perut ketika melihat betapa dekatnya wanita itu dari ambang kejatuhan.

"Mia!" serunya begitu ia melihat Mia hendak memanjat pagar.

Wanita itu membelalak kaget dan bergerak secepat mungkin untuk memanjat. Rafael berlari secepat yang ia mampu. Begitu dirinya berada cukup dekat, ia melingkarkan lengan pada bagian atas perut Mia, berhati-hati untuk tak menekan bekas jahitan di perut wanita itu, lalu menyentaknya ke belakang.

Wanita itu segera memberontak ketika Rafael menariknya menjauh dari pagar. Ia harus memegangi Mia seerat mungkin agar wanita itu tak terjatuh dan berakhir melukai dirinya sendiri.

"Tidak! Lepaskan aku! jerit Mia. "Aku tak menginginkan ini! Lepaskan!"

"Hentikan!" bentak Rafael. "Membunuh dirimu sendiri bukan jawabannya, Mia!"

Mia menggeram seraya ia mencoba melepaskan diri. Rafael harus memastikan lengannya tak menekan perut bawah wanita itu, atau ia akan merobek bekas jahitan Mia, dan yang lebih buruk lagi, Rafael tidak ingin menyakiti janin di perut Mia secara tak sengaja.

"Kau tidak tahu apa pun soal langkah yang benar, Rafael--" Mia mendesis. "Lepaskan!"

Wanita itu sungguh mampu membuatnya kewalahan, Rafael hampir saja melepaskan Mia karena kuku wanita itu menggores lengannya.

"Kenapa!? Kau sedang hamil!"

Sesaat setelah mengatakannya, Mia memberontak sekuat tenaga dan berhasil melepaskan diri. "Dialah alasan aku melakukannya! Aku tidak menginginkan bayi ini, Rafael!" jeritnya.

"Dia bayimu, Mia!" Rafael berseru, berusaha menyadarkan wanita itu.

"Aku lebih baik mati daripada harus mengandung anak ini!" desis Mia.

Rafael tersentak kaget, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Raut Mia berubah sendu, air mata kini meluncur deras membasahi pipinya. "Aku tidak ingin hamil, Raf. Aku tidak menginginkan seorang anak."

Sambil mengambil langkah satu per satu mendekati Mia, Rafael berkata, "Kau tidak menginginkan anak itu, maka jalan keluarmu adalah dengan mengakhiri hidupmu sendiri? Apa kau sungguh akan membunuh dirimu hanya karena seorang pria?" tanya Rafael tak percaya. "Apa kau ingin mengulang keputusan Gabby?"

Mia tersentak mendengarnya. Rafael tahu itu ucapan yang kasar, tapi jika itulah yang ia butuhkan untuk menyadarkan Mia, maka Rafael akan mengatakannya.

"Apa kau ingin berakhir seperti Gabby? Mengakhiri dirimu sendiri karena tak menerima keberadaan bayi di kandunganmu? Apa kau benar-benar yakin itu ide yang bagus? Bagaimana dengan orang-orang yang menyayangimu? Bagaimana dengan orang tuamu? Adikmu? Teman-temanmu?" Dengan suara bergetar, Rafael menambahkan, "Bagaimana denganku?"

Mia tidak menjawab.

"Aku tahu Dexter telah menyakitimu. Tapi mengakhiri hidupmu bukanlah jalan keluarnya, Mia. Masih ada alternatif lain. Di luar sana, ada banyak pasangan yang menginginkan seorang anak, tapi Tuhan tak memberikannya. Juga ada para wanita yang menginginkan seorang bayi namun tak ingin merasakan sakit dan lelahnya mengandung seorang anak."

Begitu berada cukup dekat, Rafael meraih tangan Mia yang tampak merenungi ucapannya. "Aku bisa membantumu merawat anak itu," tawarnya. "Aku akan ada di sana untukmu."

"Aku menyayangimu. Begitu juga dengan keluargamu. Teman-temanmu. Pikirkan soal mereka. Mereka akan sangat terluka kalau kau mengakhiri hidupmu begitu saja."

"Rafael--"

"Kau bisa meminta tolong pada mereka, atau padaku. Kami akan membantumu melewati masa-masa sulit ini. Kau tidak harus melewati ini semua sendirian."

Rafael kehilangan keseimbangannya ketika Mia menjauh dan kembali mendekati pagar. "Kumohon, Pumpkin, jangan lakukan ini pada dirimu sendiri," pintanya.

"Aku tidak bisa, Rafael," lirih Mia.

"Tidak!" Napas Rafael berubah cepat dan tak beraturan karena panik. "Tidak. Kumohon. Aku tidak bisa kehilangan dirimu juga, Pumpkin. Aku bisa gila kalau aku kehilanganmu. Kau adalah satu-satunya alasanku bertahan di dunia ini. Kau adalah alasanku mampu menghadapi semua penderitaan yang kulalui setelah kehilangan Mom dan Gabby."

Mata Mia terpejam seraya alisnya berkerut penuh luka. "Jangan buat ini semakin berat untukku, Rafael."

"Kumohon," pinta Rafael, "Pikirkan ulang keputusanmu. Aku tahu mengandung seorang anak bukan hal yang mudah. Karena itulah aku menawarkan diri untuk membantumu."

"Kenapa!?" sela Mia dengan suara bergetar. "Kenapa kau mau melakukan itu untukku? Kenapa repot-repot? Aku hanya sahabatmu, Rafael."

Rafael tertawa sumbang. "Kau bukan sekadar sahabat bagiku, Mia. Kau tak pernah menjadi 'sekedar sahabat' bagiku. Kau lebih dari itu."

Ia tahu Mia memahami maksudnya. Mungkin karena itulah air mata Mia mengucur lebih deras. "Aku tidak pantas menerima cintamu, Rafael."

"Kau tidak bisa mengatakan itu. Karena akulah yang berhak memutuskan siapa yang pantas untukku. And it's you. It has always been you, Mia."

Wanita itu begitu terlarut pada benaknya hingga tak menyadari bahwa Rafael telah berada di depannya. Ia merengkuh tubuh Mia dan menariknya menjauh dari pagar pembatas atap.

"I got you," bisik Rafael.

"Aku minta maaf," lirih Mia parau.

"Semuanya sudah berlalu. Kau telah aman, itu yang terpenting."

Untuk beberapa saat, Rafael membiarkan dirinya memeluk Mia sedikit lebih lama. Wanita itu sudah lebih tenang dan telah berhenti menangis.

"Rafael?" panggil Mia.

"Hm?"

"Bagaimana jika aku berakhir menjadi ibu yang buruk? Bagaimana jika aku gagal merawatnya?"

Rafael menarik diri. Ia menangkup pipi Mia dan membelai tulang pipinya dengan ibu jari. "Kau adalah wanita paling perhatian dan penyayang yang pernah kukenal. Aku yakin kau akan menjadi ibu yang hebat untuknya."

"Jika kau membutuhkanku untuk membesarkannya, aku di sini. Aku akan membantumu. Aku tidak peduli meski anak itu bukan milikku, aku rela merawatnya demi kau."

Mia menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya, Raf. Aku tidak ingin membuatmu repot."

"Kau tidak harus melakukan semuanya sendiri, Pumpkin. Kita bisa merawatnya bersama-sama," ujar Rafael meyakinkan. Ia membelai rambut Mia. "Kau tahu," katanya dengan nada dipenuhi keraguan, "kita bisa... menikah, kalau kau merasa malu dengan pandangan orang lain. Kita bisa mengakui anak itu milikku. Orang-orang tidak perlu tahu."

Mia tertawa miris. "Apa aku terlihat semenyedihkan itu?"

"Bukan maksudku untuk--"

"Tidak," potong Mia. "Aku mengerti."

Rafael diam, menunggu Mia mengatakan lebih. Karena wanita itu tak kunjung berbicara, ia pun mengatakan, "Aku hanya menawarkan. Kau boleh menolaknya kalau mau."

Mia tak juga menjawab. Rafael menghela napas kecewa. Apa lagi yang harus kulakukan agar kau bisa mencintaiku, Mia? batin Rafael berbisik nelangsa.

"Ayo kita kembali ke ruanganmu, ya?" ajaknya. Mia tersenyum kecil dan mengangguk.

.
.
.

TBC


Lagi bimbang antara mau publish sampai end atau berenti sampai sini aja wkwk

ㅤㅤ
[ March 8th, 2024 ]

Continue Reading

You'll Also Like

2M 79.2K 42
Dark romance stories 1 Bercerita tentang obsesi Garvin, yang tergila-gila pada seorang perempuan asing. Highest Rank on Wattpad : #1 in crazy [ 05 Ap...
55.6K 1.6K 30
Eleana hidup dalam kemewahan, kebebasan, dan status sebagai pewaris bisnis terbesar. Ia terbiasa dengan hidup tanpa batasan-hingga pernikahan yang di...
14.2K 273 48
( SUDAH SELESAI, MASIH LENGKAP, DAN SUDAH DI REVISI ) ••• Menjadi anak piatu tentu bukan lah hal yang diinginkan semua orang. Rafael Arsya Ravindra...
3.2M 172K 89
🔞⚠️WARNING! ADULT-DARK ROMANCE MATURE TOXIC STORY! BERADEGAN KEKERASAN⚠️🔞 [ON-GOING] Tidak ada yang lebih buruk bagi Kristal Damara Lancaster, dari...
Wattpad App - Unlock exclusive features