Harry's POV
apa yang harus aku lakukan sekarang? Bajingan itu tetap tak ingin membatalkan permainannya. Its been a few days sejak kejadian malam itu, aku dan the boys tidak menampakan diri dihadapan shafzee gals. Kami bahkan beberapa kali bolos rekaman yang diadakan bersama mereka.
Beberapa kali maxie menelponku mengatakan mengapa kami selalu saja menghindar dari mereka. aku tahu seberapa kebingungannya ia sekarang, Namun bukan itu maksud kami yang sebenarnya, kami bingung terutama aku. Kami belum tahu apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan mereka.
hmmmmm. ah ya!
aku tahu. Aku tahu sekarang. Ide ini muncul begitu saja dalam benakku. Sontak aku memutuskan menghubungi liam lewat pesan singkat.
H: Kutunggu kau dirumahku sekarang,hubungi yang lain. I've a big plan. Sejam dari sekarang. Tidak ada kelonggaran waktu. H
Tak lama setelah pesanku terkirim. Liam membalasnya
L: Tak perlu sejam dari sekarang. Kita berkumpul sekarang. Tidak ada kelonggaran waktu
Ah keras kepala anak ini masih saja belum menghilang, tanpa berpikir panjang aku pergi menuju rumahku. Ku biarkan pintu kamar apartemenku terbuka begitu saja. Menginjak pedal gas ku tanpa memikir panjang lagi. Mengapa pikiran ini selalu menghantuiku saat menyetir seperti ini?! Ini mengangguku, sangat menggangguku. Jarak dari apartemen menuju rumahku tidaklah jauh hanya perlu menghabiskan kurang lebih 10 menit. Aku segera keluar dari Mobil dan masuk. Kulihat semuanya telah lengkap disini. Mengapa mereka bisa sampai secepat ini?
"Sebelum aku menyampaikan ide gilaku ini apakah ada yang mau mengusulkan ide lain?" Tanyaku tanpa banyak basa-basi.
"Tidak. Kami bingung harus melakukan apa sekarang. Jadi kami Kira ide gilamu bisa menjadi alternatif kami" ucap liam. Dialah yang dianggap paling dewasa diantara kami. Tak heran ia disebut sebagai daddy direction oleh para directioners.
Kupandangi wajah sahabat-sahabatku itu satu persatu. Dari mulai louis, niall, liam lalu zayn. Tersirat jelas rasa takut diwajah mereka. Maksudku bukan rasa takut terhadap justin dan kawan-kawannya. Jika kami diberi kesempatan untuk berkelahi bersama mereka kami yakin kamilah pemenangnya. Mereka bukanlah apa-apa bagi kami. Ketakutan yang kumaksud adalah ketakutan akan kehilangan lagi. Ketakutan melihat orang yang mereka cintainya tersakiti. Jujur akupun takut jika harus melihat sikeras kepala itu disakiti dihadapanku. Ia mempunyai sesuatu yang membuatku tak bisa jauh darinya. Padahal wajahnya jauh dari kata cantik. Ya memang dia cantik. Setiap wanita itu cantik ya aku tahu itu tapi tak ada hal yang menarik darinya. Dia jauh dari mantan-mantanku sebelumnya. Jauh dari taylor, cara ataupun kendall. Tapi kepribadiannya membuatku merasa dia harus kulindungi. Dia ada disini Karna sebuah alasan. Dia ada disini untukku.
Tapi aturan itu..... Aku bisa Manyelamatkannya jika aku menaati peraturan itu. Aku rasa aku tau apa yang harus kami lakukan sekarang.
"Harry?" Tepuk niall membuyarkan lamunanku.
"Ayolah katakan idemu. Sebodoh bodohnya idemu. Segila gilanya idemu. Aku yakin ide mu itu akan meyelamatkan mereka. Akan menyelamatkan aldea untuk ku dan zayn. Akan menyelamatkan faith untuk liam. Akan menyelamatkan maxie untuk louis...... dan kau" lanjutnya ragu-ragu
"Tapi sehebat apapun rencana yang kita buat aku rasa itu takkan mengubah apa apa. maksudku kau tahu, zamora..... dia berada dipihak justin. Apapun yang kita rencanakan takkan berhasil. Pegang kata-kataku" sahut louis.
"Baik pegang kata katamu lou. Karna aku yakin rencana ini akan berjalan dengan lancar. Akan ku usahakan sebisaku untuk melindungi saudara saudaraku. Dan kau jangan khawatir wanita itu akan menjadi urusan ku. Jika tidak ada lagi pertanyaan dan protes protes yang tidak penting rencana ini akan ku jelaskan nanti lewat pesan singkat" jawabku.
"Aku harus pergi sekarang. Aku akan menemui Simon ada hal yang harus aku urus. Siapkan diri kalian kita jalankan rencana ini besok pagi" ucapku sambil meninggalkan rumahku. Aku terpaksa pergi begitu saja meninggalkan teman temanku demi menemui simon. Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan kepadanya. Tentu ini ada sangkut pautnya dengan rencana yang telah aku susun. Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan saudara saudara ku dan dia.
Maxie's POV
Ada apa dengan harry, louis dan kawan-kawannya? Beberapa hari ini mereka seakan-akan menghindar dari kami semua. Dari hari pertama kami berjumpa semuanya terasa baik-baik saja bahkan lebih dari baik-baik saja. Namun semenjak pria bernama justin yang zamora kenalkan kepadaku membicarakan soal permainan mereka semua berubah. Apalagi harry perubahan itu terlihat jelas didirinya. Setelah pulang pesta malam itu dia berubah begitu baik. Dia bahkan meneleponku saat ia baru sampai dirumahnya untuk memastikan apakah aku baik-baik saja. Namun keesokan harinya ia menghilang. Mereka tak menghadiri rekaman yang dijadwalkan bersama kami selama beberapa hari ini. Apakah aku berbuat salah kepadanya? Kesalahan macam apa yang kuperbuat hingga membuatnya berubah menjadi seperti ini lagi? Mengapa aku merasa hampa saat ia tak ada? Namun saat ia berada disampingku malah pertengkaran yang terus terjadi. Aku seakan-akan takut kehilangannya.
"Zayn dan niall tak ada kabar, mereka menghilang semenjak malam itu" keluh aldea. Sontak aku terkejut dia sama sekali tak mengetuk pintu kamarku. Membuatku terkejut bukan main.
"Kau menangis, maxie? Ada apa?" Tanyanya.
Shit akupun tak tahu mengapa air Mata ini tiba-tiba mengalir begitu saja. Setakut inikah aku kehilangannya? Apa berartinya dia untukku? Bahkan dia menghinaku dan teman temanku dihari pertama kami berjumpa. Tapi tanpanya aku merasa hampa. Mengapa hari itu aku merasa sangat bahagia. Bahkan dia dan louis bisa mengalihkan perhatian ku dari ingatan tentang fitz. Sebelumnya tak pernah ada yang bisa mengalihkan perhatianku dari ingatan tentangnya. Mereka seolah-olah mengubah kehidupanku, cara pandangku dalam waktu satu hari saja. Ini gila! Bagaimana bisa mereka melakukan itu padaku. Dan aku yakin the boys melakukan hal yang sama pada teman temanku ini.
"Tidak. Tidak apa apa aku hanya merindukan keluargaku" dustaku
"Uhhhh janganlah bersedih kami keluargamu sekarang, kau mempunyai kami sekarang. Jangan sungkan untuk berbagi keluh kesahmu bersama kami ok? Sejujurnya aku benci di anggap orang lain" candanya
"Faith!" Ia baru saja melewati pintu kamarku dan ia menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Yas aldea?" Jawabnya santai. Ya seperti itulah gayanya begitu santai.
"Apakah liam memberimu kabar?"
"Tidak. Sama sekali tidak semenjak malam itu kami bertemu dengan seorang pria bernama adam yang mengatakan dia menginginkanku menjadi partner dalam permainannya" jelas faith
"P-permainan?! Apakah liam memberitahumu apa maksudnya itu?" Sahutku. Tiba tiba rasa ingin tahuku memuncak. Lagi lagi soal permainan. Permainan macam apa yang mereka bicarakan?! Karena semenjak itu pula harry menjadi pendiam dan hilang entah kemana.
"Aku tak tahu. Liam tak menjawab saat aku menanyakan hal itu padanya. Wajahnya malah berubah begitu pucat. Kau tau apa permainan yang mereka maksud?" Tanya faith memberi tatapan curiganya.
"T-ti-tidak tentu tidak. Aku sama sekali tidak tahu soal itu" jawabku ragu. Mereka semua meninggalkanku untuk melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
Mengapa permainan itu terlihat sangat mengganggu mereka? Mengapa wajah liam memucat sama seperti harry semenjak kejadian itu. Mengapa mereka semua kompak menghilang begitu saja? Dan siapa itu adam?
Harry's POV
H: Kalian sudah mengerti bukan apa maksud dan rencanaku? Siapkan barang barang kalian. Ku tunggu kalian semua di bandara jam 8 malam ini. Aku sudah menghubungi pilot jet pribadi kita. Dan mereka siap take off setengah jam setelah kita semua berkumpul. H
Pesan singkat itu ku kirimkan kepada semua teman temanku. Setelah memastikan mereka menerima pesan dariku itu, aku pergi menuju apartemen shafzee gals.
Kuketuk pintu apartemen mereka pelan pelan. Tak lama kemudian dia membukakan pintunya. Dia. Dia yang selama ini kurindukan. Dia terlihat begitu kacau. Matanya sembab pagi ini ugh ada apa dengannya. Siapa lagi yang berani menyakitinya!
"Bolehkah aku masuk? Dan panggilkan teman temanmu untuk segera berkumpul dibalkon" pintaku.
"Darimana saja kau? Kau menghilang begitu saja harry." Matanya berubah begitu sendu. Apakah ia merindukanku saat aku tak ada? Ah mana mungkin. Dia membenciku aku tau itu.
"Aku tak ada waktu untuk menjelaskan itu. Ayo panggil teman temanmu sekarang juga. Kutunggu kalian semua dibalkon" jawabkudiiringi nada teduh sambil melangkah menuju balkon.
Tak lama aku menunggu, akhirnya mereka semua datang menghampiriku. Ayo harry jangan rusak skenario yang telah kau tulis sendiri. Belajarlah sedikit bersandiwara.
"Baiklah sekarang beritahu kita ada apa?" Tanya maxie
"Kau terlihat kacau, maxie" jawabku mencoba berbasa-basi
"Dia merindukanmu harry" sahut aldea.
Ah bagus aldea! dia memberikan alasanku untuk sedikit menggoda maxie dan mencairkan suasana.
"Aku tau itu" jawabku sambil tersenyum meliriknya. Wajahnya memerah aku melihat jelas itu.
"Aku takkan berbasa basi Kali ini. Aku datang memberi tahu kalian bahwa kita akan pergi kedubai malam ini. Kita semua. One direction dan shafzee gals jadi kalian semua harus bersiap siap sekarang. Kutunggu kalian semua di airport malam ini jam 8. Tidak ada kelonggaran waktu. Mengerti?" Jelasku.
"A-apa? Mengapa begitu mendadak? Dalam rangka apa?" Tanya faith
"Simon bilang kita harus saling mendekatkan diri sebelum tour dimulai. Jadi ini dalam rangka pendekatan diri. Dan kita akan pulang kesini 1 minggu sebelum tour dimulai" jelasku mencoba meyakinkan.
Tentu saja bukan itu alasan yang sebenarnya. Jika aku memberitahu alasan yang sebenarnya mereka semua takkan mau ikut bersama kami kedubai. Maafkan aku telah membohongi kalian semua. Terutama kau, maxie. Ini semua demi kebaikan kalian.
Aku berdiri dan berjalan meninggalkan balkon apartemen mereka namun sebelum pergi aku mengatakan sesuatu tepat di hadapan zamora.
"Jauhi justin. Kau akan menyesal nantinya" kataku
"Tidak! Kau pikir kau siapa menyuruhku menjauhinya! Tidak." Kulihat raut wajahnya berubah menjadi begitu menegang menandakan kemarahannya.
"KAU HARUS MENDENGARKANKU! INI YANG TERBAIK UNTUKMU! KAU AKAN IKUT DENGAN KAMI DAN TAKKAN KU BIARKAN KAU MENEMUINYA LAGI!" sentakku
"APA APA AN KAU! KAU TAK BISA MENGATUR HIDUPKU SEENAKNYA! OH FINE THEN I WOULDNT GO. AKU AKAN DISINI BERSAMA JUSTIN. SILAHKAN KALIAN PERGI. AKU TAK PERLU MENDEKATKAN DIRI DENGAN ORANG BRENGSEK SEPERTIMU"
Apa! Dia berani memanggilku brengsek?! Suasana diapartemen itu tiba-tiba menegang semua Mata tertuju padaku dan zamora.
"KAU AKAN MENYESAL" kataku memandangnya dengan tatapan tajamku dan pergi meninggalkan apartemen mereka. SHIT! wanita ini sulit sekali diatur! Bagaimana jika justin Bertindak lebih jauh lagi? Bagaimana jika ini semua tidak berhasil? FCK!
vomment pls. x