Berasa ada yang mengganjal diotakku setiap hari karena novel ini belum aku tamatin, padahal cuma tinggal beberapa part doang. Maafkan aku yaaa para readerku tersayang, apa kalian masih ingat alurnya? Lupa? Gak papa karena author juga lupa-lupa ingat jadi harus baca ulang 😄😄.
Tapi beneran deh kaya dikejar-kejar hutang karena belum namatin novel ini, semoga untuk part-part akhir ini aku bisa konsisten namatin ya, doain jangan lupa vote juga. 🙏🙏
Happy reading
Hari terakhir Alluna di Indo kami semua teman-temannya mengantarkan ke Bandara, dia sudah terlihat lebih baik meski pergelangan tangannya masih dibalut kasa. Sekilas memang tak ada yang aneh dengan penampilannya dia masih tetap modis dan stylish, cantik dan ceria.
Namun dibalik itu semua ada beban yang coba dia redam, ada luka yang harus disembuhkan. Dia juga mengambil cuti dari karirnya sebagai model.
"Kabari gue ya Xel tentang perkembangannya."
"Thanks El, Sa. Sorry kayaknya gue sama Luna gak bisa datang diacara pertunangan kalian, gue doain semoga kalian selalu bahagia."
"Thanks bro."
"El..." Alluna memeluk Eldern dan menangis disana. "Makasih buat semuanya." Lalu dia berbalik dan memeluk Aurissa, cukup mengagetkan baginya karena selama ini hubungan mereka cukup rumit.
"Maafin aku ya Sa, tolong jangan lepasin Eldern dia sayang banget sama kamu."
"Aku juga minta maaf dan tentu saja aku gak akan lepasin dia."
Waktu keberangakatan tiba nomor penerbangan mereka sudah dipanggil, Axell dan Alluna meninggalkan Indonesia dengan semangat dan harapan baru.
***
"Kamu yakin gak mau aku anterin ke Bandung?"
"Ngapain, nanti juga kan kakak nyusul kesana."
"Tapi lima hari lho Sa, aku pasti kangen banget sama kamu."
"Lebay.." Teriak Ben keluar dari kamar.
"Udah sana pulang, gue bentar lagi mau ke Bandung sama Aurissa."
"Tega banget lo Ben."
"Hus hus pergi lo jangan sampai restunya gue cabut, dan jangan lupa bawa seserahan yang banyak, mobil ferarri kalo bisa buat gue tapi."
"Gila, belum jadi kakak ipar aja udah pemerasan, gimana kalau udah sah."
"Biarain kalau gak Aurissa gak gue ijinin kawin sama lo."
"Nikah kak Ben, kawin memangnya aku ayam, lagian kita pulangnya nanti malem, aku juga masih kangen sama Kak El."
Eldern menaik turunkan alisnya merasa menang dibela Aurissa.
"Awas ya kalau kalian macam-macam."
"Gue gak macam-macam Ben, cuma satu macam doang." Bela Eldern sambil memeluk Aurissa.
"Dasar bucin," Balas Ben dengan muka malas.
"Lagian kak Ben buruan berangkat gih beli pesenan mama, nanti keburu tutup tokonya."
"Gimana kalau kalian aja yang beli pesenan mama biar sekalian jalan-jalan."
"Emang mama pesen apaan Sa?"
"Mama pesen kue apa kak Ben?"
"Hokkaido Baked Cheese Tart, 10 box."
"Hah, banyak amat."
"Buat kerabat katanya."
"Yaudah yu Sa kita aja yang beli."
"Beneran mau?" Eldern mengiyakan. "Aku ambil tas dulu."
Mereka berdua turun ke basement tempat mobil Eldern berada, dan baru saja masuk mobil El membuat pergerakan yang membuat Aurissa kaget tapi senang juga.
Eldern memeluk Aurissa erat. "Aku pasti bakal kangen banget sama kamu."
Mereka saling berpandangan, mata tajam El tertuju pada bibir merah Aurissa.
"Can I?"
Aurissa mencium Eldern duluan yang tentu saja disambut baik oleh El, ciuman mereka semakin intens, pikiran El sudah kalut karena akan LDR seminggu dengan Aurissa, jadi kesempatan ini dia manfaatkan sebaik-baiknya.
***
Malam ini, sebuah acara intimate digelar di kediaman rumah keluarga Aurissa di Bandung, dekorasi hasil EO sewaan mamanya telah menyulap rumah mereka menjadi semakin mewah, lampu kristal menggantung dengan anggun, memantulkan cahaya yang menerangi ruang yang penuh dengan keluarga, kerabat dan sahabat dari kedua belah pihak.
Di antara keramaian itu, Aurissa dan Eldern berdiri di tengah ruangan di hadapan para keluarga dan sahabat yang menyaksikan dengan khidmat.
Suasana yang tadinya dipenuhi dengan gelak tawa dan obrolan, kini berubah menjadi hening dan penuh harap.
Aurissa mengenakan gaun malam berwarna cream yang elegan, dengan hiasan kaluang bertahtakan berlian yang semakin membuatnya terlihat anggun dan menawan. Rambutnya ditata rapi bergaya half up do, sementara senyumnya tak dapat menutupi kegugupannya.
Di sisi lainnya, Eldern tampak tegap dalam tuxedo hitam yang dipadukan dengan dasi kupu-kupu. Tangannya menggenggam kotak kecil berwarna hitam, di dalamnya terletak cincin berlian yang telah dipilih oleh olehnya sebagai salah satu bukti keseriusan untuk mendapatkan sang kekasih hati.
Setelah serangkaian acara dilakukan, saatnya ia melangkah pasti, Eldern mendekati Aurissa, wanitanya, yang tak lama lagi akan sepenuhnya menjadi miliknya. Di belakang mereka, keluarga besar dari kedua belah pihak memandang dengan perhatian penuh, sementara suara musik lembut mengalun di latar belakang, menciptakan suasana magis dan romantis.
Eldern berhenti tepat di depan Aurissa, matanya bertemu dengan mata perempuan yang sejak lama ia idamkan. Aurissa merasakan ketegangan di udara, meskipun ia sudah tahu apa yang akan terjadi, detak jantungnya tetap tak bisa ia kendalikan.
"Semua orang di sini akan menjadi saksi dari perjalanan kita," suara Eldern begitu tenang, kadang Aurissa iri bagaimana ia bisa setenang itu sedangkan ia sendiri sangat gelisah sejak tadi.
“Aurissa, setelah aku menemukan dirimu, aku menemukan keajaiban yang tak pernah aku bayangkan. Senyummu adalah bahagiaku, dan hatimu adalah rumah yang selalu aku rindukan. Malam ini, di hadapan kedua orangtua kita aku ingin memintamu untuk menerima cinta tulusku, menghormatimu, dan menjagamu. Maukah kamu menerima lamaranku, menjadi pelengkap hidupku, berjalan bersama dan selamanya menjadi miliku?”
Aurissa menatap kedua orangtuanya yang memberikan anggukan sebagai dukungan, lalu menatap kekasihnya yang sangat sempurna malam ini, matanya berkaca-kaca tapi ia berusaha untuk menahan tangis, tangis bahagia.
Eldern membuka kotak kecil itu, menampilkan sebuah cincin berlian yang begitu memukau. Ia meraihnya dan dengan lembut menggenggam tangan Aurissa, matanya penuh dengan cinta dan harapan. "Aurissa, maukah kamu bersamaku menjadi bagian hidupku?"
Suasana semakin hening, setiap pasang mata tertuju pada Aurissa, menunggu jawaban yang tak hanya akan menentukan masa depan mereka, tetapi juga perjalanan dua keluarga besar yang akan semakin erat terjalin.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Aurissa akhirnya mengangguk, bibirnya tersenyum dengan lembut. "Aku mau dan aku menerimamu."
Eldern tersenyum lebar, mata berbinar dengan kebahagiaan yang tak terbendung. Ia segera memakaikan cincin berlian itu di jari Aurissa, dan seketika itu juga, tepuk tangan meriah terdengar memenuhi ruangan. Keluarga kedua belah pihak berdiri, memberikan penghormatan atas hubungan baru yang lebih serius, sementara Aurissa dan Eldern saling pandang penuh cinta, ada setitik air mata diujung mata Eldern, tentu air mata bahagia, tinggal selangkah lagi dia akan segera memiliki wanitanya seutuhnya dan dia sudah tidak sabar untuk saat itu.
***
Malam itu berlanjut dengan tawa, percakapan ringan, Retha yang menginap dirumahnya sejak dua hari lalu ikut memeluk dan memberinya selamat. "Gue bahagia tapi juga sedih, temen gue bentar lagi bakal jadi istri orang, tapi selamat ya sayangkuu doain gue juga supaya dapet pacar biar bisa nyusul lo."
"Amiin"
Selain Retha datang juga Kevin, dan juga teman dekat Eldern, Reno dan Ghea yang mulai terlihat baby bump-nya.
Lalu ada Daren yang akhirnya bisa memberi restu pada Aurissa, setelah drama ngambeknya.
Aku akan menceritakan kenapa Daren terlihat bete waktu itu.
Sempat ada drama lucu sebelum akhirnya seluruh keluarga menetapkan tanggal acara lamaran mereka.
Daren, dia sempat mogok bicara seminggu dengan sebab tak jelas, usut punya usut dia tidak setuju kalau kakaknya bertunangan dengan Eldern, alasannya dia terlalu sayang pada Aurissa, tak ingin berpisah setelah selama ini mereka hidup terpisah Bandung-Jakarta. Aurissa sangat terharu mendengarkan pengakuan adiknya yang sering mengajaknya ribut itu.
"Gini-gini gue sayang sama lo kak, gue berencana nyusul lo ke Jakarta setelah gue lulus, dulu lo ninggalin gue gitu aja saat lo tiba-tiba kuliah di Jakarta, gue kesepian di rumah gak ada yang bisa di ajak ribut, sekarang elo malah mau kawin."
"Nikah Daren."
"Ya maksud gue nikah sama itu orang, gue gak ikhlas kak."
Jujur awalnya Aurissa dan Eldern bingung cara menanggapi Daren, Eldern diam-diam memberikannya hadiah sepatu keluaran terbaru dari Eisport, satu set perlengkapan olah raga, tiket konser, tiket nonton bola, bahkan mainan gundam kesukaannya, tapi Daren masih belum ikhlas menerima Eldern sebagai kakak iparnya.
Hingga pada suatu siang, Daren dengan lantangnya menantang Eldern untuk main basket satu lawan satu.
Dan tentu saja dengan senang hati Eldern menerima tantangan itu, sampai akhirnya Daren ikhlas kakaknya dilamar oleh Eldern, bukan karena dia kalah, ia tau kalau Eldern mengalah demi dirinya, tapi karena ia bisa melihat dan merasakan kalau Eldern sangat menyayangi kakaknya itu.
***
Setelah beramah tamah Aurissa merasa kakinya sangat pegal, ia melipir menuju taman samping rumah hendak beristirahat di gajebo, melepas sepatu hak tingginya lalu mulai meluruskan kakinya.
Saat ia menikmati semilir angin malam ia mendengar langkah kaki mendekat, dan sayup-sayup mendengar namanya dipanggil.
"Sa, sayang kamu disitu? " Suara Eldern, mendekat, "aku cariin kamu dari tadi lo."
Lalu tanpa aba-aba ia menarik Aurissa dan memeluknya erat. "Kangen banget, seminggu gak ketemu." Bisiknya seranya menciumi rambutnya, Aurissa membalas pelukan calon suaminya (ciee calon suami).
"Kan tiap hari vidio call."
"Gak puas cuma mandangin layar."
Perlahan mereka mengurai pelukan tanpa benar-benar menjauh.
"Cantik banget sih calon istri aku." Aurissa tersipu. "Jadi pengen langsung nikah aja terus dikunci dikamar."
"Apaan sih."
Eldern kembali memeluk erat Aurissa, sebelum seuara deheman keras terdengar.
"Ehemm... Dilarang peluk-peluk, belum sah, ngapain berduaan ditempat remang-remang begini."
"Ayo kak dicariin mamah." Aurissa ditarik sesuka hati lalu sang pelaku melirik tajam pada Eldern.
Bisa tebak kan siapa pelakunya. 😁
***
See you in next chapter 🤗🤗.