⚠️ VOTE SEBELUM MEMBACA ⚠
Ceklek
Mereka berdua sampai di mansion Rangga, tapi saat hendak menaiki lift kepala Rendi sudah sangat pusing dan badan terasa panas sekali
"Rendi? Hey, kau kenapa?"
Ternyata cairan yang disuntikkan tadi adalah cairan perangsang, dan itu mulai bekerja di badan Rendi
"Ah.. ra-rangga.. aku.. akhh sangat pusing.."
Ia terjatuh di pundak di depan
"Woah! Rendi! Kau baik-baik saja?! Hey!"
"Bawa.. akhh.. bawa aku naik ke atas.. sekarang!"
Rangga menurutinya, ia segera membawa Rendi ke kamar nya dan meletakkannya nya dikasur
"Sebentar, aku akan mengambil mu air untuk minum"
Rangga ke dapur sebentar dan balik lagi ke kamar Rendi dan hendak mendudukkan Rendi namun di tahan tangan Rangga oleh Rendi
"Tolong.. kasih aku minum.. lewat mulut mu.."
"Re-rendi.. apa-"
"Sudah cepatlah!"
"Ba-baiklah"
Rangga meminum air itu dan langsung mengambil dagu Rendi untuk ditegukannya air itu di tenggorokan Rendi
Gulp gulp
Ia ingin melepaskan pautan itu tetapi Rendi mendorong kepala Rangga dan memperdalam ciuman mereka
"Mmphh!?"
"Mmhh re-rendi-mmhhh"
Rangga sudah kehabisan nafas, ia segera mendorong Rendi cukup keras hingga terlepas ciuman mereka
"Kau.. kau kenapa Rendi?"
Tak lama Rangga mencium sesuatu dari tubuh Rendi
"I-ini.. kau heat?"
Rendi segera menarik dasi Rangga hingga ia tertidur di atas dada Rendi
"Akh!?"
"Lakukanlah.. honey.."
Degg
"Rendi, apa kau serius-mmhh"
Rendi kembali mendorong kepala Rangga dan melanjutkan ciuman mereka hingga 20 menit lama nya
"Mmhh.. mmphh-pwaahh.. cu-cukup Rendi.. aku tidak bisa bernafas kalau seperti ini terus.."
Rendi segera membuka kancing jas milik Rangga dan menampilkan badan Rangga yang sangat besar itu
"Rendi.."
"Aku ingin melakukannya Rangga.. kumohon.."
"Tapi.. apa kau ingat kata dokter -"
"Kalau begitu.. gunakan lah kond*m bodoh!"
"Tapi Rendi-"
"Lakukan atau aku yang akan melakukannya untukmu!?"
"Fine! Aku tidak ingin kau terluka, aku yang memainkannya"
***
"Nngghh.. rah.. Rangga.. akhh akhhh mmhh..."
"Akh.. akhh.. kau yang memintanya.. akhh"
"Pe-pelan bodoh! Ini menyakitkan!"
Bukannya memperlambat Rangga semakin mempercepat ritme gerakannya
"Akhh! Akhh bo-bodoh akhh semakin ahhhh menyakitkan.. akhhh"
Rangga mengambil dada Rendi dan mendirikannya sama dengan dirinya
"Akhhh semakin dalam.. ahhh Rangga.. ahhh"
"Tahanlah"
Rangga menjilati telinga Rendi dan itu menambah sensasi nikmat kepada Rendi
"Ahh ge-geli.. mmhh"
Ia kembali melumat bibir Rendi dan semakin mempercepat gerakannya
"Mmphh!! Mmhhh akhh hahhh ahhhh"
"Akhh Rendi.. aku akan keluar.."
"Tu-tunggu tunggu.. ahhhhh"
Rangga melepaskan cairannya didalam kond*m itu, sangat banyak sampai mengenai perut Rendi
"Ahh.. hahh hahh.."
"Aku sudah membantumu Rendi.. berterimakasih lah-"
"Z.. z.. z..."
"Ah.. dia sudah tertidur "
"Tapi.. bagaimana dengan kandungannya nanti? Apa akan baik-baik saja?"
Rangga tidak memikirkan itu, sekarang ia harus memandikan Rendi dan membiarkan nya tidur untuk nanti ia bawa ke dokter untuk memeriksa kandungan nya
"Enghh.."
"Hey.. sudah bangun?"
"Mmhh?"
Rendi hendak mau duduk tetapi ia merasakan pinggul nya seperti akan patah
"Shh.."
"Apa sakit?"
"A-apa yang terjadi?"
Rangga sengaja memalingkan wajahnya dan tersenyum tetapi itu disadari Rendi
"Apa yang terjadi!?"
"Hmm~ Rendi mesum ~"
"A-apa?"
"Tidak apa lupakan, bersiaplah. Kita akan memeriksa kandungan mu lagi"
"A-ah baiklah"
Rendi perlahan bangun dari tempat tidur dan itu membuat Rangga tertawa karna gerakan jalan Rendi yang cukup pelan. Karna geram, Rendi melempari Rangga dengan bantal dan tepat mengenai wajah nya
Bughh
"Akh!"
"Humph! Rasakan! Ketawa lagi!?"
"Ti-tidak.."
Rendi sudah rapih, dan ia segera mengikuti Rangga dan masuk ke dalam mobil nya menuju rumah sakit
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Tentu, sudah jangan khawatir"
"Tentu aku khawatir, anak ini yang sedang kau kandung adalah anak ku"
"Baiklah baiklah, kita sudah hampir sampai"
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit itu dan Rangga menuntun Rendi yang masih susah berjalan itu masuk ke rumah sakit
Sampainya di lobi, ia sudah bertemu dengan dokter Rendi yang hendak keluar
"Ah kau Rangga"
"Dok, kami ingin memeriksa -"
"Maaf tuan Rangga, bisakah kau menunggu sebentar disini? Ada pekerjaan yang harus ku selesai kan terlebih dahulu "
"Akh-ah.. baiklah, Rendi.. kita menunggu disini ya"
"Baiklah"
"Terimakasih tuan"
Dengan cepat dokter itu berlari keluar dan mendapati pasien yang tewas karna bunuh diri dari lantai atas rumah sakit itu
"Dokter ini.. sepertinya ia sudah tidak bernyawa "
"Huh.. sudah terlambat, bawa dia ke ruang pemandian jenazah cepat!!"
"Ba-baik dok!"
Dengan cepat para suster itu segera membawa mayat itu menggunakan kasur rumah sakit dan membawanya masuk ke dalam
"Maaf tuan Rangga, kau harus menunggu"
"Tidak apa, hmm apa itu korban kecelakaan? Wajah dia hancur"
"Oh itu tidak, ia adalah pasien kami yang bunuh diri dari lantai atas rumah sakit ini"
"Apa!? Bunuh diri!?" panik Rendi
"Hey tenanglah, tidak apa. Ia sudah di urus oleh suster-suster yang ahli okay?"
"Huh syukurlah" ucap Rendi
"Jadi? Apa dia meninggal?" bisik Rangga
"Tentu, dia akan kami periksa untuk ke depannya nanti. Sekarang, mari tuan Rendi pemeriksaan nya akan segera saya mulai"
"Oh! Tentu.."
Perlahan Rendi bangun dibantu oleh Rangga yang tepat di belakangnya memegang erat tangan Rendi
"Silahkan duduk tuan Rendi, tuan Rangga"
"Terimakasih dok"
Pemeriksaan itu sedang berlangsung, dan dokter mendengar kan menggunakan stetoskop nya di perut Rendi
Bugh
"Akh.."
"Ada apa dok?"
"Se-sepertinya ini menendang.."
Rangga dan Rendi saling bertatapan dengan senyum di wajah mereka
"Apa benar dok?" tanya Rangga
"Benar, silahkan tuan Rangga rasakan"
Rangga perlahan memegang perut Rendi dan menempelkan telinga nya di perut Rendi
Bugh
"Akh! Benar! Ini menendang!"
Rangga segera memeluk Rendi dan memberikan ciuman sekilas di dahi Rendi
"Rendi.. ini menendang.. anak ku menendang.."
"Ekh.. berarti ini sudah berapa lama dok?"
"Kandungan tuan Rendi sudah hampir 4 bulan"
"Ah 4 bulan.. tidak terasa aku bersama mu sudah cukup lama Rangga"
Rangga melihat Rendi dan mengelus rambutnya perlahan
"Tinggal lah dengan ku sangat lama, aku akan menjaga mu"
"Haha baiklah"
"Tetap ingat tuan Rendi, anda tidak boleh kelelahan karna itu bisa membuat kandungan nya melemah"
"Siap dok"
"Terimakasih banyak dok, kalau begitu kami permisi"
"Iya, hati-hati yah"