Yerim terduduk di lantai kamar tidurnya dengan lemas. Matanya sembab. Tubuhnya terasa sedikit nyeri.
Dua orang gila yang mendatanginya tadi telah pergi setelah membuat kondisi Yerim menjadi seperti ini.
Meninggalkannya begitu saja setelah puas 'bersenang-senang'.
Yerim masih terguncang.
Ia mencoba untuk kembali mengenakan bajunya yang berserakan di lantai dengan sedikit gemetaran.
Ia merasa déja-vu.
Dirinya pernah mengalami ini sebelumnya. Kejadian itu hampir sama persis dengan apa yang ia hadapi hari ini.
Kala itu, ia juga dipaksa untuk meladeni perbuatan sinting keduanya.
Seolah tidak cukup hubungan sedarah yang mereka lakukan, keduanya merasa harus menyeret Yerim untuk ikut dalam permainan tak beradab mereka.
Dan saat Yerim menolak, yang terjadi justru lebih buruk.
Ia dipaksa duduk di bangku dan menyaksikan pergumulan keduanya, sementara tangan dan kakinya terikat.
Keduanya akan memaksa Yerim agar wanita itu ikut orgasme saat menyaksikan hubungan intim mereka dengan berbagai cara.
Bejat sekali.
Mereka melakukannya untuk memberi pelajaran pada Yerim. Jika sekarang alasannya karena perceraian yang ia ajukan, maka dulu keduanya marah besar kala Yerim mencoba membongkar hubungan gelap mereka pada keluarga Jeon. Hingga berakhir dengan Yerim yang dihancurkan habis-habisan. Mereka membuat wanita itu tidak berani lagi untuk buka mulut.
Tentu saja saat ini Wonwoo memilih melakukannya di saat Jungkook tidak ada. Sebab ia tahu Jungkook akan menghajarnya habis-habisan jika memiliki kesempatan. Bahkan mungkin membunuhnya.
Yerim ingat Jungkook datang dan memeluknya untuk pertama kali setelah dirinya mengalami kejadian itu dan ditinggalkan sendirian begitu saja.
Kejadian yang sesungguhnya mengawali perselingkuhannya dengan Jungkook.
Kala itu, Jungkook menenangkannya. Memberikannya perlindungan dan kehangatan. Pria itu yang paling tahu betapa besar trauma yang ia miliki.
Tapi saat ini ia hanya sendirian. Jungkook sedang tidak berada di sisinya.
CKLEK
Atau.. tidak?
Yerim refleks menoleh ke arah pintu, matanya yang sembab melebar menangkap sosok Jungkook yang sudah berdiri di sana.
Pria itu menatap Yerim dalam diam, nampak memproses apa yang kira-kira tengah Yerim lakukan di lantai dengan kondisi seperti itu.
Jungkook mulai berjalan masuk, ia masih menatap heran Yerim yang kini mengenakan bajunya dengan cepat-cepat dan nampak kalang kabut.
Tak butuh waktu lama bagi Jungkook untuk mencurigai penuh apa yang sesungguhnya terjadi pada wanita itu, apalagi setelah melihat kondisi kamar yang nampak cukup berantakan.
Jungkook dengan cepat mensejajarkan tubuhnya dengan Yerim. Pria itu menyadari ada yang betul-betuh aneh dari sikap Yerim saat ini.
Wanita itu gemetaran. Wajahnya jelas menunjukkan jika ia habis menangis. Lebih dari itu, Yerim nampak gugup dan terguncang.
Jungkook mencengkeram kedua bahu Yerim dengan mata yang melebar.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanyanya cemas.
Bahkan Jungkook dapat merasakan tubuh wanita itu bergetar hebat.
Yerim membisu. Ia jelas tak mampu menjelaskan apapun kepada pria itu.
"Kim Yerim?? Jawab aku!" Jungkook semakin panik kala Yerim malah semakin gemetaran dan menundukkan wajahnya sambil menangis.
"Mereka.. tadi.. mereka datang.." ucap Yerim sesegukan.
"Mereka siapa??" Tanya Jungkook lagi. Pria itu terdiam sejenak untuk memikirkan siapa 'mereka' yang dimaksud Yerim itu.
Hingga di detik selanjutnya, tatapan Jungkook menajam dengan sendirinya. Nampaknya ia mulai terpikirkan dengan 'mereka' yang dimaksud Yerim itu.
Jungkook harusnya memang adalah yang paling paham dengan situasi ini.
Dirinya pernah menemukan wanita itu dalam kondisi yang nyaris sama persis sebelumnya.
Pria itu kembali berdiri dengan cepat, berjalan keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya. Sementara Yerim menatap punggung Jungkook yang menghilang dengan getir. Yerim mencoba kembali meredam tangisnya.
Setelah beberapa saat, wanita itu akhirnya ikut beranjak mengejar Jungkook.
Jungkook menyalakan komputernya dengan cepat. Mencoba membuka sebuah folder dan mengecek isi data dalam folder tersebut.
Jungkook membuka sebuah video, hasil rekaman CCTV yang memang terpasang di halaman depan rumahnya. Dan benar saja, ia mendapati Wonwoo dan Somi berdiri di sana, menemui Yerim saat wanita itu tengah sendirian.
Sayangnya, tidak ada CCTV di dalam rumah, sehingga Jungkook tidak dapat melihat apa yang dilakukan keduanya terhadap Yerim.
Meski begitu, Jungkook sudah tahu. Ia tahu apa yang kedua saudaranya itu lakukan pada Yerim. Ia tahu apa yang membuat Yerim nampak begitu terguncang seperti barusan.
Pria itu kemudian kembali berjalan keluar ruang kerjanya, hanya untuk mendapati Yerim sudah berdiri di hadapannya dengan amat gugup.
Sesungguhnya Yerim tidak menduga Jungkook akan sampai lebih dulu dari perkiraannya.
Yerim menatap Jungkook dengan takut, sebab pria itu kini terlihat seperti akan memakan orang hidup-hidup.
Tatapannya begitu nyalang. Tatapan penuh amarah yang nyaris tidak pernah Yerim lihat sebelumnya.
Bukannya pria itu tidak pernah mengeluarkan tatapan tajam atau marahnya, tapi kali ini berbeda. Sirat matanya menggelap. Ada ketidakrelaan besar di dalam sana. Ada sarat kebencian yang begitu menumpuk hingga tak terbendung. Ada yang nampak begitu menghancurkan hatinya.
Pria itu tahu apa yang telah dilakukan Wonwoo dan Somi padanya.
Yerim tahu jika Jungkook benar-benar marah besar kali ini. Sudah tidak ada lagi kesabaran pria itu yang tersisa.
***
Yerim memeluk erat-erat tubuh Jungkook yang berontak dari belakang.
Pria itu terlihat begitu naik pitam. Yerim teramat kewalahan untuk menahan tubuh Jungkook yang nyaris pergi meninggalkan rumah.
"Akan kubunuh mereka berdua!" Ucapnya menggelegak.
Yerim hanya terus menggeleng-geleng sambil tetap memeluk tubuh pria itu, berusaha menenangkannya.
Jungkook nampak benar-benar akan membunuh Wonwoo dan Somi seperti yang dikatakannya tadi.
Yerim bukan tidak mau kedua bajingan itu mati, ia bukan tidak mau Jungkook menghajar Wonwoo dan Somi untuknya. Hanya saja Yerim takut jika Jungkook tidak bisa menahan diri dan benar-benar membunuh keduanya dengan tangannya sendiri.
Yerim tidak ingin Jungkook menjadi seorang pembunuh dan harus masuk penjara hanya karena dua bajingan sialan itu. Yerim tidak ingin hidup Jungkook hancur hanya karena keduanya.
Maka yang bisa Yerim lakukan saat ini adalah mencegatnya pergi.
"Kumohon... Jeon.." pinta Yerim sekali lagi. Kali ini sambil kembali terisak.
Yerim menangis hebat, putus asa dengan segalanya.
Isakan pilu Yerim itulah yang membuat Jungkook mau tidak mau berhenti dan sontak berbalik pada wanita itu seraya Yerim yang melonggarkan pelukannya.
"Temani aku saja.. aku takut.." pinta Yerim lagi sambil menunduk dan terus menangis. Ia meremas ujung kemeja hitam yang dikenakan Jungkook. Tubuhnya masih terus gemetar.
Jungkook pada akhirnya menarik wanita itu ke dalam dekapannya masih dengan nafas yang memburu. Memeluknya dengan teramat erat. Seraya dirinya juga mencoba menetralkan emosinya yang tadi memuncak.
Perasaannya masih tak karuan. Jungkook masih tidak bisa merelakan kejadian kali ini begitu saja. Ia merasa begitu marah dengan apa yang diperbuat oleh kakak dan adik kandungnya itu terhadap Yerim.
Yerim memeluk Jungkook dengan teramat erat, masih dengan tubuhnya yang bergetar. Pria itu memang adalah tempat ternyamannya untuk berlindung.
Meski ia terkejut dengan kedatangan Jungkook, setidaknya kini ia tidak sendiri lagi.
Ada Jungkook yang akan menemaninya melewati semua ini. Ada Jungkook yang akan selalu melindunginya.
Meski kemudian Yerim tahu jika ia akan menghadapi kemarahan pria itu lagi, setelah ia memberitahukan segala hal yang terjadi saat pria itu pergi.
***
Yerim membuka matanya perlahan setelah tertidur sekitar lima sampai enam jam. Ia dapat merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang. Tangan itu tentunya adalah milik Jungkook.
Tadi setelah nyaris mengamuk dan pergi menemui Wonwoo, Jungkook akhirnya memilih untuk menemaninya. Pria itu membantunya untuk terlelap sambil membelai kepalanya dengan lembut berkali-kali hingga ia nyenyak.
Dan kini Yerim terbangun dengan posisi membelakangi pria itu. Membuatnya penasaran apakah pria itu tengah tertidur juga atau tidak.
Yerim akhirnya membalikkan tubuhnya. Ia mendapati Jungkook juga tengah terlelap di sana.
Hatinya merasa sedikit lega untuk beberapa alasan. Ia menjadi tenang kala terbangun dan mendapati pria itu di sisinya. Ia juga tenang kala berhasil membuat pria itu meredamkan emosinya.
Yerim merasa hatinya menjadi sedikit lebih mudah.
Meski lagi-lagi Yerim tahu, ketenangan itu tidak akan berlangsung lama.
Ia kemudian memajukan tubuhnya. Memeluk tubuh Jungkook dalam kondisi berbaring. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu, meresapi aroma tubuhnya yang amat Yerim sukai.
Seketika Jungkook nampak ikut terbangun dari tidurnya. Ia lalu balas merengkuh wanita itu masih dalam posisinya berbaring tanpa mengatakan apapun.
Lima menit Yerim membiarkan dirinya tetap dalam posisi seperti itu. Keheningan membalut. Hanya suara nafas Jungkook yang dapat dirinya dengar di sana.
Yerim kemudian memundurkan tubuhnya. Ia mendongak menatap Jungkook yang telah kembali memejamkan mata.
"Jeon..." panggilnya sedikit parau.
Jungkook membuka matanya mendengar panggilan Yerim. Pria itu nampaknya memang tidak tertidur lagi semenjak terbangun tadi.
Yerim menatap Jungkook dan memastikan pria itu mendengarkannya. Ia sudah memantapkan hatinya kali ini.
"Aku ingin pulang." Pintanya kemudian. Jungkook lantas menatapnya penuh tanya.
Pulang? Bukankah ini adalah rumah tempat Yerim pulang?
"Ke mana?"
"Ke rumah ayah dan ibu." Jawab Yerim sambil kembali menunduk. Ia tidak yakin dengan bagaimana Jungkook akan merespon.
Yerim tak mendengar suara Jungkook lagi. Keheningan kembali terjadi.
"Baiklah. Aku akan mengantarkanmu ke sana dan menjemputmu setelah satu minggu."
Pria itu akhirnya bersuara. Memilih untuk langsung mengeluarkan pernyataan daripada pertanyaan lain.
"Tidak.. maksudku.."
"Aku tidak ingin kembali lagi." butuh cukup keberanian untuk Yerim bisa menuntaskan kalimatnya.
Keheningan menyelimuti mereka lagi. Kali ini Yerim mendongakkan kepalanya untuk menatap Jungkook.
Pria itu nampak terdiam membisu, menatap kosong udara di depannya, tapi pelukannya pada Yerim mengendur dengan sendirinya.
"Jeon.."
Jungkook menggerakkan bola matanya, menatap ke arah lain, bukan menatapnya.
"Kau tahu.. Wonwoo dan Somi melakukan semua itu karena mereka marah terhadap keputusanku."
Jungkook masih terdiam membisu.
Meski ucapan Yerim selanjutnya sukses membuat pria itu kembali menatap Yerim dengan terpaku.
"Mereka marah karena aku sudah mengajukan perceraian ke pengadilan."
***