Serangkai

By nsi_nal

119 18 251

Kata Mama kuliah itu sebuah keajaiban, jadi katanya, "Kalau kamu mau kuliah, kamu sama Dio. Mamanya boleh ban... More

02 : Biru Aji Samudra
03 : Dewangga Dio Eldin
4 : Es susu matcha dan banyak tanya
5 : Continue to be

01 : Isthika Sila Laksmi

39 4 30
By nsi_nal

Cantik tak menjamin kamu didekati orang orang baik. Malahan orang orang picik yang terus mengerubungi. Setidaknya itu yang Sisil pikirkan. Bukan tanpa dasar, itu semua merupakan pengalamannya. Mau sekencang apapun teman-temannya berteriak, "Sil, kamu tuh cantik." Atau, "Sil kamu tuh cantikk banget!" Tetap saja Sisil tak puas.

Cowo-cowo yang mendekatinya tak jauh fakboi jancuk atau buaya iprit yang niatnya menjadikan Sisil sebagai piala bergilir. Menyusun permainan dengan teman temannya kira kira siapa yang bisa mendapatkan hati gadis bernama panjang Isthika Sila Laksmi itu. Patut dipotong anu-nya satu-satu.

Sementara jauh dari cowo-cowo bajingan itu, gebetannya Biru terus memilih untuk diam membisu mau taktik apapun yang Sisil pakai untuk pedekate. Mau ia terang-terangan, kode-kodean, atau mengagumi dalam diam, semuanya nyaris tak ada yang membuatnya bereaksi. Entah Sisil tak tahu Biru itu memang sangat tak tertarik padanya atau tingkat kepekaannya sangat rendah tak seperti mahkluk hidup, namun itu tetap membuatnya sangat kesal. Begitu jengkel hingga kadang Sisil ingin menampiling wajah tampannya pakai sepatu pantofel milik Ayah. Namun apa daya, sekali bertemu pun, Sisil sudah jauh lebih dulu kena peletnya. Terhanyut dalam derasnya pesona wajah seorang Biru Aji Samudra. Tenggelam dalam namanya, tak bisa kembali ke tepian.

"Biru itu bangsat, tapi gue demen." Di akhir kalimatnya, Sisil memejamkan mata sembari berdecak kesal. Sudut perpustakaan yang sepi, kini dipenuhi aura kengenesan Sisil yang tetap memilih jomblo sejak lahir gara gara ngejar Biru Aji. Dan tadi di gerbang kampus, ia baru saja menyaksikan untuk yang keseratus kalinya, bagaimana lelaki itu memalingkan wajah. Hampir ia pukul pakai pentongan Pak Satpam.

"Apa dulu gue pernah dikasih makanan apa gitu sama dia, atau minum, atau benda. Tapi perasaan, dia gak pernah ngasih gue apa apa. Apapun bahkan hatinya."

"Jadi apa media peletnya, ya, Sin?"

Gadis yang ia ajukan pertanyaan hanya bergeridik tak mau ambil pusing sambil terus mengunyah permen kakinya. Sementara di meja, sudah berserakan beberapa bungkus dari permen tersebut yang terlalu malas mereka buang sekarang.

"Eh, gue lupa! Pelet gak perlu ada medianya. Dia cukup pake poto gue, terus ke mbah dukun, terus sat set sat set, terus gue terjebak dalam kisah cinta sendiri selamanyaaa..."

Tangannya meraung-raung ke udara. Menggambarkan betapa besarnya arti kata selamanya itu. Lalu setelahnya, Sisil menjatuhkan wajahnya pada meja. Patah semangat hidup saat membayangkan akan betapa menyedihkannya ia kalau sampai entah kapan harus jatuh terjerumus dalam cinta yang tak berbalas. Tak bersama siapapun karena ingin bersama Biru, saat teman temannya pamer kemesraan. Duduk ngenes di pojok kamar, saat para sejoli malam mingguan. Persis chat khasnya, Biru itu ingin tak hih!

"Eh betewe, lo ngapain kesini deh? Bukannya classmeet sekarang lo gak berpartisipasi? Teladan amat." Sisil bertanya, mengakhiri keheningan di antara mereka yang disebabkan sahabat yang bernama Sinta itu terus enggan lepas dari handphonenya. Main game bareng ayang.

"Gue mau liat ayang Awan, dong. Gue gak sengenes lo."

Rasanya Ingin Sisil banting hape itu sekarang juga. Tapi mau semarah apapun, sahabatnya itu memang benar. Sisil itu sungguh menyedihkan. Lihat bagaimana riwayat chatnya dengan Biru, nyaris dipenuhi emoji batu. Entah apa yang merasuki pria itu.

Sakit hati lalu bangkit lagi. Percaya diri lalu jatuh berkali-kali. Kisah percintaannya tak weleh roda yang berputar. Namun ketika nasib cintanya sedang ada di bagian bawah, roda itu secara ajaib macet tak jalan. Menjadikan kisah cintanya paling memprihatinkan dari semua kisah romansa sahabatnya. Lebih pedih lagi, selain kisah cinta, Sisil juga punya lingkungan keluarga yang entahlah... Mungkin memang ia yang kurang bersyukur.

Mama hampir setiap pagi mengantar sang adik ke sekolah SMP-nya, yang kebetulan sekali sangat tak sejalur dengan sekolah Sisil. Ayah kerja pergi malam pulang malam, membuatnya harus naik angkutan umum tiap pagi. Namun, kadang Sisil bahagia juga, karena itu seluruh siswa angkatannya berbondong bondong memanggilnya independent women. Membuat hidungnya kerap merekah jika sudah ngobrol dengan mereka.

Tapi selain itu, ada hal-hal lain yang membuatnya sebagai independent women sedih. Merasa iri dan tak pantas juga.

Mungkin tak banyak orang tahu bahkan Sinta sahabatnya sendiri, bahwa Sisil tak terterima di kampus lewat snmptn bukan semata mata karena nilai gadis bersurai panjang itu kurang memumpuni. Tapi ekonominya yang belum menjanjikan. Adiknya, Sindy tahun depan akan masuk SMA, dan perekonomian keluarga mereka yang Sisil tahu karena ia telah dewasa membuatnya dengan mandiri bilang pada Mama untuk tak kuliah karena tak mau. Ia juga bilang pada teman temannya tak keterima masuk kampus padahal memang tak daftar. Sisil hanya cukup mengerti akan keadaan. Itu yang membuatnya unggul di antara semua gadis gadis dewasa lainnya. Ia adalah manusia yang terlalu pengertian.

"Terus gimana utbk lo?"

"Yaaa, gue udah cukup belajar sih. Lumayan bikin kena mental juga. Lo tahu buku latihannya yang gue pinjem dari tetangga? Beh, tebelnya kek lapisan Langit." Begitu ucapnya pura pura lagi. Sukses membuat tawa Sinta menggelegar seantero Perpustakaan yang sunyi.

Jujur saja, meski tak latihan sungguhan, Sisil tak bohong. Ia melihat langsung bagaimana buku latihan soal soal itu, dan memang sangat lah tebal. Agaknya kalau ia kilo ke tukang rongsokan, mungkin ia bisa dapat uang dua puluh ribu dari itu.

"Nanti ngambil seni berarti, ya. Wihhhh anak pendisplay nih."

Sisil hanya mendelik saja. Padahal memang fakta bahwa kemampuan menggambarnya di atas rata rata. Hanya saja, ia memang terlalu rendah hati untuk dibangga-banggakan.

"Udah, si! Gue mau balik aja lah. Suntuk banget di sini." Ia mengangkat bokongnya dari kursi. Berniat pulang lalu rebahan ke rumah hingga tumbuh akar dari kasur.

"Gak mau nonton anak anak dulu?"

"Males banget."

Jawabnya pendek lalu keluar dari perpustakaan. Berjalan lunglai di antara banyaknya anak anak yang sedang nontonin pertandingan futsal, membuat energinya bagai terkuras habis di perjalanan itu. Sisil bukan siswa yang mager-mager amat sebenarnya, staminanya hanya kurang baik. Ia mudah lelah, pokoknya tak sebagus orang orang.

"At least lah, gue ikut tarik tambang." Serunya pada diri sendiri untuk mengobati perasaan semacam mengutuk diri karena tak berguna, yang kerap kali datang.

Di perjalanan menuju perempatan depan untuk naik angkutan umum, Sisil banyak memikirkan hal hal yang kembali membuatnya lelah. Acapkali perihal kuliah. Ia ingin, sungguhan ingin, hanya saja ia terlalu memikirkan banyak hal. Seperti bagaimana ucapan Nuca-sahabatnya yang lain- bakatnya memang harus disalurkan. Ia ingin beli pendisplay juga, tak hanya menggambar lewat handphone saja yang layarnya tak memadai. Namun Sisil, tak pernah ingin memberatkan siapapun.

Atau barangkali di masa depan, ia akan kuliah dengan uangnya sendiri, ya. Mencari kerja terlebih dahulu, lalu menabung banyak-banyak hingga setinggi gunung. Tidak ada yang tidak mungkin, meski ia berpikir hal itu agak mustahil.

Ia naik ke dalam angkot dengan pemikiran yang masih runyam saat secara beruntung sebuah angkot masih butuh penumpang untuk melaju ketika dia sampai di perepatan. Ia mendudukan diri di jok, berhadapan dengan dua orang teman sebayanya yang ternyata kabur juga dari sekolah.

"Eh sumpah, Bibi gue mau biayain kuliah di kedokteran, cuman gue males pake banget."

"Gue juga maunya kerja, tapi Emak gue maksa maksa biar gue kuliah dulu. Dia lagi gila-gilaan pengen punya anak guru."

"Asli ya, orang tua tuh emang gak pernah mikirin gimana pusingnya anak mereka nanti."

"Iya, niatnya bahkan gue mau langsung nikah aja. Udah mumet banget kalo harus berhadapan sama belajar-belajaran."

"Iya kan, terus-- Eh Sil, lo pulang juga ternyata."

Yang tadinya sibuk mendengarkan sambil memperhatika jalan, selanjutnya menoleh ke hadapan lalu tersenyum simpul. Entah mengapa, Sisil mendadak malas bercengkrama atau sebatas melihat wajah mereka saja. Kenapa ia jadi merasa begitu marah setelah mendengar pembicaraan mereka.

"Justru kalian yang gak ngerti, gimana orang orang di sekeliling kalian mengusahakan yang terbaik."

"Kalian gak ngerti, gimana susahnya orang orang di luar sana ingin punya kesempatan yang sama."

"Sementara kalian ditawari dengan gampang, nolak gitu aja."

Mendadak Sisil lupa, bahwa perasaan dan keinginan setiap orang berbeda beda. Dan ia tak bisa menyama-ratakannya. Sisil hanya merasa bahwa semesta tidak cukup adil. Kenapa ia yang menangis siang dan malam, berdoa mati matian ingin kuliah tak diberikan kesempatan semacam itu. Kenapa ia yang benar benar berniat, bertujuan baik untuk berpendidikan tak kunjung diberi jalan. Justru yang semesta berikan kemudahan, adalah orang orang semacam mereka. Yang sudah jelas tak punya niat. Yang sudah jelas enggan.

Andai saja, siapa saja, kuliah di kampus mana saja, jurusan apapun bahkan jika itu bukan seni, Sisil berharap ia punya kesempatan yang sama. Semesta bisa secara tiba tiba mengirimkan seseorang, siapapun itu yang dapat memfasilitasinya untuk berkuliah, ia tak akan menolak. Andai saja, andai saja.

"Eh gue nanya loh sama lo! Tumben minggat?"

"Oh ya?" Sisil hanya tak sadar.

"Ah, kepala gue agak pusing aja."

"Kiri-kiri." Tuturnya agak keras. Sampai angkot berhenti di depan sebuah kompleks perumahan sederhana.

Tak ada ungkapan pamit yang hangat untuk penumpang angkot lainnya seperti biasa jika ia akan turun. Sisil terlalu merasa sedih untuk hal hal seperti itu. Hingga sebuah mobil yang terparkir di garasi membuatnya mendongak lagi setelah sekian lama tertunduk.

Ingatnya, Ayah tak punya mobil.

Pasti milik saudara-saudarinya.

Ia kembali mengeluh. Mempersiapkan hati untuk pasti dibanding bandingkan dalam segala sisi.

Langkahnya bagai tak bernyawa ke dalam rumah. Lemas tubuhnya hampir membuat badan tak tegap itu beringsut hampir tersungkur ke tanah. Sisil lelah, namun ia harus menghadapi kenyataan di depan mata.

"Sisil pulang..." Ucapnya lirih.

Sambutan mulai terdengar, wajahnya masih lesu, namun saat ia mendongak pelan, yang ia temukan tengah duduk di sofa bukanlah saudaranya. Ia hanya melihat dua figur asing yang sama sekali tak pernah ia temukan sebelumnya.

Seorang lelaki dengan usia yang tak bisa ia taksir, dan wanita paruh baya yang mungkin Ibunya.

"Salim dulu sama tante." Titah Mama yang langsung Sisil laksanakan meski sambil bertanya tanya.

Apa mereka mungkin kerabat baru? Tapi, mana ada yang namanya kerabat baru.

"Eh Dio, jabat tangan dulu! Ini Sisil yang Bunda ceritain kemarin."

Mata keduanya langsung beralih. Bertemu pandang saat badannya saling berhadapan. Lelaki di hadapannya mengulurkan tangan saat Sisil sibuk berpikir kenapa wanita itu menceritakan perihal dirinya pada anak laki lakinya. Lalu tak lama, ia balas menggenggam tangan manusia asing di depannya ini.

Tangan yang hangat, untuk ukuran pertama kali berjabat.

Setelah tautan mereka terlepas, Sisil diperintah Mama untuk membawakan mereka berdua minum yang enak. Ini pertama kalinya, Mama memperbolehkan teh kesayangannya untuk diseduh orang lain. Jadi mungkin, dua orang itu adalah tamu spesial.

"Makin bongsor aja, dulu aku liat masih segede gini."

Suara wanita yang menyebut dirinya Bunda terdengar saat tangan Sisil sibuk mengaduk teh hangat. Lalu ia memutar matanya malas.

"Ya masa gue gak tumbuh-tumbuh gitu." Ia berbisik lirih.

"Cantik banget lagi." Suaranya terdengar lagi.

"Nah, basa basinya gitu dong." Dan kembali Sisil berujar.

"Mau kuliah ke mana?" Dan itu mampu menghentikan tangannya yang tengah sibuk mengaduk untuk melarutkan gula. Perlahan bibirnya menipis, tetap setia mendengarkan jawaban Mama walau perih.

"Gak kuliah, dia gak mau. Dan juga..."

Kata kata selanjutnya yang Mama ucapkan tak dapat Sisil dengar. Mungkin Mama bicara setengah berbisik, mungkin memberi tahu keadaan ekonomi keluarga mereka.

"Yaudah, suruh kuliah di kampusnya Dio. Biar mereka bareng-bareng juga."

"Aku boleh tanya, ya, dia mau masuk fakultas mana."

Walau entah bagaimana rincinya, tapi bukankah ini perwujudan doanya barusan di perjalanan. Sisil menjerit diam. Entah bagaimanapun nanti rincinya, pokoknya sekarang ia bahagia sekali.






•••

So, hai! Aku membawa sebuah cerita yang sebenernya sedang aku peruntukan untuk seseorang. Itu kamu Sil(aku bingung mah tag akun wattpadmu atau enggak:() selamat ulang tahun ya hari ini. Semua doa doa baik untukmu. Ada sebuah cerita yang sama sekali bukan adaptasi kisah hidup kamu, ini hanya fiksi yang kutambahkan dan kukurangi sesuatu. Tapi yang ingin aku sampaikan di work ini adalah bagaimana caraku dan cara orang-orang di sekitarmu melihat kamu. Yang aku berharap hari ini dan hari hari berikutnya, kamu bisa memandang diri kamu sendiri dengan cara yang sama dengan kami.

Aku juga ingin membayangkan kamu terlihat tsundere( ◜‿◝ )

Sekali lagi, selamat ulang tahun, ya!

Semoga kamu berkenan baca work ini hingga selesai, walau meski berkali kali mogok di jalan.

Oh ya, mari lihat pelakon-pelakon kisah ini,

Biru Aji Samudra.
Mempesona dengan semua emot batunya.




Dewangga Dio Eldin
Si maskulin yang bakal bikin capek batin.







And the queen...

Isthika Sila Laksmi
Gadis yang kelewat pengertian dan kuat







Maaf atas kekurangannya nanti.

Dan untuk yang lain, ingat, ya! Ini hanya fantasi.

Continue Reading

You'll Also Like

4.8K 495 34
mungkin hyunjin memang bukan untuk ryujin #20 itzy #11 hyunjinryujin #15 hyunjinryujin
6.6K 702 15
"Tetapi, kenyataannya memang tak bisa dimungkiri lagi. Bahwa sampai dirinya lulus SMA, Choi Beomgyu tidak bisa ia dapatkan. Malah, mereka bilang bahw...
368K 41.9K 67
[SELESAI REVISI] FOLLOW DULU SEBELUM BACA!! "gue akan berusaha agar lo bisa jatuh cinta sama gue dan gue harap kita bisa berjuang bareng buat pertaha...
1.6K 190 47
;sebuah kisah klise sederhana antara, beomgyu, faela, dan keterlibatan yeonjun. "Fae, meninggalkan apa yang kita cintai emang susah, tapi semakin lo...
Wattpad App - Unlock exclusive features