"mengikhlaskan itu tidak ada, yang ada hanya keterpaksaan lalu terbiasa"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*****
"Klek"
Seseorang yang baru saja tiba dari bandara terlihat melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah cepat. Kedatangannya ke Jakarta bukan tanpa sebab yaitu karena ia ingin bertemu adiknya yang juga ada dijakarta.
"Ayah" serunya dengan nafas yang masih memburu
Ayah Alex tersenyum melihat kedatangan putranya "Glen kau sudah tiba nak"ucapnya
Glen menatap sekelilingnya "Tiara dimana? Apa dia keluar?"tanyanya
"Disedang dihalaman belakang bersama suaminya"jawab ayah Alex
Mendengar itu seketika raut wajah Glen berubah, rahangnya tampak mengeras. Matanya menatap tajam pada ayahnya "dia ikut datang kesini juga"tanyanya dengan suara yang dingin dan mencekam
Alex yang melihat perubahan raut wajah putranya merasa heran "dia adalah suami adikmu dan tentu saja ia akan datang dengan adikmu juga"jawab Ayah Alex
Glen menarik dalam nafasnya dan menghela dengan kasar. Entah mengapa, namun setiap mendengar nama pria itu, Glen merasakan aliran darahnya mendidih.
Ia belum sepenuhnya mengetahui apa yang telah direncanakan pria itu. Namun yang ia tahu pasti ia tidak akan mengampuni Anrez jika berani-berani menyakiti adiknya. Dan apapun rencana pria itu, Glen bersumpah akan menemukan cara untuk membongkar semuanya. Bila saatnya tiba tidak akan ada yang dapat menghalanginya untuk menghabisi nyawa pria itu.
Glen pergi begitu saja meninggalkan ayahnya membuat Alex menghela nafas dengan berat. Ia tahu jika putranya itu begitu tidak menyukai Anrez. Bahkan sewaktu-waktu Anak itu akan mengetahui semuanya apa yang telah ia lakukan dulu. Dan mungkin saja baik Glen maupun Tiara akan sangat kecewa dan marah terhadap apa yang telah ia lakukan.
.
.
.
.
***
Glen melangkah perlahan ke arah halaman belakang rumah, setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Sejujurnya ia sangat malas jika harus bertemu juga dengan suami adiknya. Namun mau bagaimana lagi untuk saat ini pria itu masih berstatus suami adiknya. Ia berharap secepatnya ia akan menemukan cara untuk mengetahui rencana pria itu dan melepaskan gelar pria itu sebagai suami adiknya selamanya.
Ini bukan keinginannya dan bukan berarti ia tidak ingin adiknya bahagia dengan memiliki pernikahan dan rumah tangga. Namun, ia merasa Anrez bukanlah pria yang tepat untuk adiknya. Buktinya beberapa waktu yang lalu ia melihat adik kesayangannya itu menangis dan juga ia baru mengetahui yang ditutup-tutupi selama ini oleh adiknya bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Entah kesepakatan apa itu yang jelas Glen akan mencari tahu semuanya.
Langkah kakinya terhenti dipintu halaman belakang rumahnya. Terlihat hanya ada adiknya saja yang sedang duduk dipinggiran kolam renang seraya menatap keatas langit malam.
Matanya mencoba memastikan bahwa adiknya itu hanya duduk sendirian. Dan Ia menghela nafas lega kala merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun disana selain adiknya itu.
Ia pun melangkah perlahan mendekati adiknya dan kemudian duduk disamping Tiara. Namun rupanya adiknya itu belum menyadari akan kehadirannya, karena terlalu asik dan begitu menikmati pemandangan langit malam yang begitu banyak dihiasi oleh bintang-bintang.
"Kalau saja ada bintang jatuh malam ini pasti kita bisa membuat permohonan"ucap Glen dengan nada rendahnya membuat Tiara sedikit tersentak dan menoleh ke sumber suara itu berasal.
"Kakak"seru Tiara diikuti dengan senyuman lebar yang mengembang diwajahnya kala melihat seseorang yang paling ia rindukan duduk disebelahnya kini.
Melihat senyuman lebar adiknya, membuat Glen merasa sangat bahagia pula. Ia tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
"Hai cantik"sapa Glen merentangkan kedua tangannya
Tiara langsung memeluk Glen bahkan menenggelamkan wajahnya di dada kakaknya itu. Ia memang baru bertemu dengan kakaknya itu saat dilondon beberapa waktu yang lalu. Namun kerinduan pada Glen tetaplah begitu besar. aroma maskulin tubuh glen membuat Tiara betah memeluk lama-lama kakaknya.
"Sangat rindu padaku hmm?"bisik Glen mengusap rambut adiknya
Tiara mengangguk pelan dalam pelukan glen "kenapa gak bilang kalau sudah tiba?"
"Lupa, keasikan kencan"jawabnya asal
Tiara membelakkan matanya dan melepaskan pelukan mereka "kakak serius?" Pekik Tiara seraya mengulas senyuman tipis diwajahnya
Glen mengacak rambut adiknya dengan gemas "tentu tidak"jawabnya seraya terkekeh pelan
Senyuman diwajah Tiara seketika menghilang "kau mengerjaiku?"tanya Tiara
Glen mengangguk kepalanya tanpa merasa bersalah, bahkan ia tertawa kecil melihat adiknya yang menatapnya dengan tatapan tajam seperti harimau betina yang siap menerkam nya saat itu juga.
"jahat, Padahal aku ingin bertemu dengan wanita yang sudah bisa menaklukkan hati dingin ini"ucap Tiara lalu menggelitik perut kakaknya tiba-tiba membuat Glen berteriak karena kegelian
"Ampun dek udah stop geli tau"pekik Glen meminta ampun
"Rasain siapa suruh bohongin aku"ucap Tiara tertawa puas setelah menggelitik perut kakaknya
"Wah adik kecilku ini semakin garang saja huuu"decak Glen seraya mencoba menetralkan nafasnya
Tiara menatap Glen seraya menjulurkan lidahnya "biarin"ucapnya
Keduanya pun tertawa bersama-sama karena menyadari apa yang baru saja mereka lakukan sedikit kekanak-kanakan. Namun itulah yang mereka rindukan kebersamaan dan bercanda gurau yang selalu mereka lalukan ketika bersama.
"Berapa lama kalian disini?" Tanya Glen
Tiara perlahan menggerakkan kakinya kedalam kolam renang "1 minggu" gumamnya pelan
Glen menolehkan kepalanya cepat kearah adiknya. Menatap Tiara dengan tatapan terkejut "mengapa secepat itu?" Tanyanya
Tiara menggelengkan kepalanya seraya mendesah "tidak ada pilihan kak. Anrez telah meninggalkan perusahaannya selama 3 minggu. di tambah 1 Minggu lagi disini.Itu artinya dia sudah meninggalkan perusahaannya selama 1 bulan"ucapnya
"Memangnya kalian kemana selama 3 minggu?"tanya Glen sambil mengernyitkan keningnya
"Mampus" batin Tiara merutuki dirinya sendiri karena lagi-lagi menyinggung masalah liburan itu lagi. Dan setelah ini ia yakin akan mendapatkan pertanyaan yang bertubi-tubi dari kakaknya itu
"Hanya liburan biasa kak"jawab Tiara asal
"Kemana? Dimana? Dan dalam rangka apa?"tanya Glen penuh selidik
Tiara menoleh menatap kakaknya. Terlihat dari tatapan mata Glen yang begitu tajam dan penuh selidik, membuat Tiara menghela nafas berat ia tahu tidak akan bisa membohongi Glen apalagi dikala matanya harus menatap mata kakaknya seperti ini.
"Ke pulau Jeju"jawabnya pelan
"Hanya liburan biasa kak, di salah satu desa dimana Anrez pernah menghabiskan liburan bersama kakeknya disana"lanjut Tiara lagi
Glen menatap dalam pada mata adiknya ia tahu ada sesuatu yang tidak dikatakan adiknya " liburan bulan madu maksudmu?" Tanya Glen dengan suara pelan
Dalam hatinya Ia ingin memastikan dan berdoa semoga tidak. Ia tidak ingin pria yang menikahi adiknya hanya berdasar kesepakatan itu menyentuh adiknya
Tiara membalas menatap Glen, bagaimanapun juga ia mengelak, kakaknya pasti akan mampu menemukan kebenaran lewat matanya, dan akan lebih baik jika ia memilih untuk jujur saja
Ia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya mengangguk pelan
Rahang Glen seketika mengeras. aliran darahnya seakan mendidih sampai ujung kepalanya, bahkan sengatan emosi terasa naik memenuhi nya sekarang. Ia mengepal kuat tangannya dan matanya terlihat menunjukkan kemarahan yang mengerikan
"Sialan"gumamnya dengan nada penuh emosi
Melihat kemarahan kakaknya yang memuncak seperti itu, tentunya membuat Tiara takut dan bergidik ngeri. Kemarahan seperti ini sangat jarang ia lihat pada sosok kakaknya. Dan satu hal lagi ia tidak mengerti mengapa kakaknya itu bisa semarah ini setelah mendengar jawaban yang ia berikan.
"Apa dia sudah menyentuhmu?"tanyanya namun terdengar penuh amarah
Tiara merasa bingung "kenapa kakak tampak marah? Apa yang salah dengan itu?"ketusnya
"Jawab saja Tiara!! Teriak Glen emosi karena adiknya itu terkesan tidak memperdulikan kekhawatirannya.
Bukanya tidak perduli dan menjawab. Hanya saja Tiara tidak mengerti. Sungguh ia tidak paham mengapa kakaknya itu harus marah dan murka hanya karena pria yang sudah berstatus sah sebagai suaminya baik Dimata hukum maupun agama, menyentuhnya.
Tanpa berkata apapun Tiara langsung beranjak pergi masuk kedalam rumah meninggalkan Glen yang sudah membentaknya.
Melihat kepergian adiknya itu, Glen menarik dalam nafasnya merutuki dirinya sendiri karena telah meneriaki adik kesayangannya itu.
"Bodoh kenapa kau melakukan itu Glen"ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar
Ia langsung bangkit dari posisinya lalu berlari masuk kedalam. Tangannya segera menahan lengan adiknya yang tampak begitu terluka karena sikapnya tadi.
"Hei. Maafkan kakak sayang. Aku tak seharusnya berteriak seperti itu padamu tadi"sesalnya dengan nada menyesal
Tiara menatap tajam pada kakaknya. Kakak yang belum pernah meneriakinya selama ini, mendadak berteriak keras dan marah padanya hanya karena liburan itu.mengapa? Meskipun saat ini Glen terlihat sangat menyesal namun tetap saja hati Tiara terluka.
"Maaf" ucap Glen lagi dan langsung menarik pelan tubuh Tiara kedalam pelukannya sambil mengusap pelan rambut adiknya itu
Tiara menarik dalam nafasnya lalu menghela nafas secara perlahan. Ia membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang milik Glen
"Kami telah menikah kak. Meski ia ingin menyentuh ku bukan kah itu sah-sah saja"bisik Tiara
Glen menghela nafas berat, ia tahu topik itu bukanlah sesuatu yang harus dibahas lebih jauh lagi "baiklah sayang. Apapun untukmu asal kau bahagia princess"
Dan tak jauh dari sana, Tampak ada seseorang yang sedang memperhatikan keduanya. Anrez. Ya, pria itu sedari tadi bahkan sudah cukup lama menyaksikan dan mendengar semua obrolan kedua kakak beradik itu sedari awal.
Semua perkataan Tiara dan juga Glen tentu saja ia dengar, bahkan sangat terdengar dengan jelas oleh telinganya. Dan itu benar-benar membuatnya bertanya-tanya mungkinkah Glen mulai mencurigainya? Atau yang lebih buruknya lagi Glen telah mengetahui semuanya?
Tak ingin terlihat oleh dua insan yang sedang berpelukan, Anrez pun Segera berbalik dan melangkah pergi. Ia pikir, secepatnya ia harus mengungkapkan semuanya pada Tiara sebelum wanita itu mengetahui kebenaran yang sebenarnya dari orang lain, termasuk dari kakaknya.
.
.
.
.
****
Anrez melangkah perlahan masuk kedalam kamar. Matanya tidak sengaja melihat seseorang sedang berdiri dibalkon dan membelakanginya.
Perlahan ia melangkah menghampirinya "ini hampir tengah malam,tidak ingin tidur?"tanyanya pelan
Tiara sedikit tersentak kaget oleh suara Anrez yang menginterupsinya.ia menoleh kearah pria itu yang tak ia ketahui sejak kapan telah berdiri disampingnya kini.
"Entahlah.setelah tinggal cukup lama dilondon, aku harus belajar adaptasi lagi dengan waktu malam disini"ucapnya pelan
Anrez hanya mengangguk kecil, matanya kini beralih ke arah langit malam yang masih dipenuhi oleh banyaknya bintang
"Kamu sendiri? Kenapa tidak tidur? Kali ini wanita itu yang balik bertanya
Anrez menarik panjang nafasnya sambil memasukkan kedua tangan disaku celananya "sama sepertimu juga. Aku masih tidak terbiasa dengan waktu malam disini"ucapnya
Tiara tertawa pelan " jadi, malam ini kita tidak akan tidur? Begadang?"gumamnya
Anrez tersenyum tipis seraya mengangkat kedua bahunya "maybe"gumamnya
Tiara berbalik dan menatap Anrez "lalu, apa ingin bermain?"tanyanya
"Permainan apa? Batu gunting kertas lagi? Tanya Anrez sambil menaikan alisnya
Tiara menggelengkan kepalanya seraya menggulum senyum di bibirnya " ku pikir itu bukan ide yang baik"
Anrez menganggukkan kepala tanda setuju "sangat buruk. Bagaimana kalau dare or dare?"tanya Anrez
Tiara tergelak mendengar usulan Anrez "aku tidak pernah mendengar permainan itu. Namun kurasa itu lebih buruk"ucapnya
Melihat Tiara yang tertawa membuat Anrez sedikit menarik ujung bibirnya keatas menampilkan sedikit senyuman diwajah tampannya.
"Kurasa lebih baik tidak bermain apapun"ucap Tiara
Lagi-lagi Anrez memberi anggukan sebagai tanda setuju. ide bermain itu adalah ide terkonyol yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.
Keduanya tiba-tiba terdiam karena tidak tahu ingin mengatakan apa lagi. Namun, Tiara yang tidak suka dengan keheningan ini mencoba bertanya sesuatu pada Anrez
"Apa kamu percaya takdir?"tanya Tiara membuat Anrez mengangkat sedikit kepala dan menatapnya
"Tidak.Aku tidak percaya dengan yang namanya takdir. Karena takdir hanya akan mempermainkan. Saat aku masih kecil, aku telah kehilangan ayahku bahkan saat berumur 18 tahun aku harus mengurusi bisnis yang saat itu bagi sebagian orang menganggapnya bahwa aku masih terlalu muda untuk mengurusi bisnis dan perusahaan.sejak itulah kakek telah memperkenalkan aku dengan dunia yang sesungguhnya. Sebelum Kakek meninggal, ia pernah mengatakan padaku untuk tidak percaya dengan yang namanya takdir.didunia yang kejam ini takdir hanya dapat membuatmu menjadi debu jika sampai mempercayainya."gumamnya
Tiara menggeleng pelan " takdir tidak selamanya akan selalu buruk"
Anrez menggeleng "tidak. Takdir memang akan selalu seburuk itu. Mungkin tidak pada orang lain. Namun ia selalu buruk padaku.
Aku pernah mencoba percaya pada takdir. Dan terbukti pada akhirnya takdir itu menghancurkan aku. Dan jika aku semakin mempercayai takdir itu lebih jauh lagi. Mungkin selanjutnya aku akan kehilangan seluruh aset milik keluarga ku"desah Anrez.
Tiara hanya memilih diam, ia mungkin tidak setuju dengan pemikiran pria itu. Namun ia mencoba mengerti mengapa Anrez begitu tidak mempercayai takdir dalam hidupnya
Ya, sesuatu yang teramat berarti dalam hidupnya telah direnggut dengan paksa darinya. Untuk seseorang yang mengalami hal itu pasti tidak akan mungkin ia bisa mempercayai takdir jika takdir itu sendiri telah mengkhianatinya. Itulah mengapa dalam hidupnya Anrez tidak mudah mempercayai apapun dalam hidupnya.
"Kamu tidak sibuk bekerja lagi?"tanya Tiara mengalihkan topik pembicaraan
Anrez mengangkat sedikit alisnya keatas "maksudnya?" Tanyanya dengan heran
"Ya sibuk bekerja. Bukankah kamu selalu sibuk menghubungi Max" gumamnya
"Sibuk. Namun saat ini Max sedang melakukan meeting dengan salah satu investor. Dia akan menghubungi ku setelah 3 jam nanti"jawab Anrez
Suasana yang semakin larut dan terasa dingin membuat Tiara memeluk tubuhnya bahkan suara kendaraan yang melewati rumahnya sudah tidak terdengar lagi
"Masuklah"ucap Anrez kepada Tiara ia menyadari jika wanita disebelahnya itu merasa kedinginan dan mulai mengantuk.
.
.
.
.
.
****
Pagi harinya......
Tiara melangkah perlahan menuruni anak tangga rumahnya. Matanya beberapa kali bergerak menatap sekeliling rumahnya mencari orang-orang yang sedari tadi belum ia temukan.
"Selamat pagi non" sapa bi ida yang sedang menyiapkan sarapan
"Selamat pagi bi. Maaf aku bangun kesiangan hari ini"ucap Tiara
Bi Ida hanya mengulas senyuman "tidak apa-apa non. Bibi juga paham kalau waktu disini dan di London sedikit berbeda. Pasti non dan den Anrez tidak dapat tidur kemarin malam"ucap Bi Ida seraya mengoleskan sepotong roti dan kemudian memberikannya kepada Tiara
Tiara meraih roti yang diberikan bi Ida untuknya lalu memakanya " ayah, anrez dan kak Glen kemana bi? Aku belum melihat mereka"tanya Tiara seraya mengunyah rotinya
"Oh Tuan sudah pergi kekantor non, begitupun juga dengan den Glen katanya tadi dia ingin keluar sebentar mengurus sesuatu yang penting. Dan den Anrez sejak tadi pagi bibi lihat dia sudah berada dibelakang rumah menerima telpon yang cukup penting sepertinya"jelas bi Ida
Mendengar itu Tiara hanya bisa menghela nafas. sepertinya sekarang ia memiliki tiga pria dalam hidupnya yang tidak pernah lepas dari urusan bisnis dan perusahaan setiap harinya.tiga lelaki super sibuk.
Ia meraih gelas berisikan susu yang telah di tuangkan pelayan untuknya lalu menyesapnya pelan "ya begitulah bi mereka selalu pergi pagi dan akan pulang saat malam bahkan terkadang tengah malam. Perusahaan itu seolah telah menjadi rumah kedua bagi mereka"ucap Tiara lalu kemudian ia termenung memikirkan apakah mereka yang selalu sibuk mengurusi perusahaan dan bisnis tidak lelah atau tidak ingin bersantai sejenak untuk beristirahat.
Untuk sesaat Tiara larut dalam lamunannya. hingga akhirnya ia merasakan ada seseorang yang menyentuh pundaknya, membuatnya tersentak kaget
Tiara segera menoleh dan mendapati seseorang yang ternyata adalah Anrez telah menyentuh pundaknya.
"Kamu sejak kapan ada disini? tanya Tiara kaget karena pria itu menyentuh pundaknya
"Baru saja"jawab Anrez
Bi Ida yang melihat itu hanya tersenyum ia dan para pelayan lainnya segera melangkah pergi.
Anrez mengukir senyuman tipis melihat ekspresi wajah Tiara yang masih terlihat kaget "maaf telah membuatmu kaget. Aku kira kamu menyadari kehadiranku"
Tiara menggeleng cepat kepalanya "tidak masalah. Aku hanya sedang mengobrol dengan bi Ida tadi. Ada apa?"tanyanya
"Tidak. Aku hanya berpikir apakah kita berdua dapat keluar jalan-jalan?"
Tiara mengulas senyuman kecil diwajahnya "kenapa? Apa kamu sudah merasa bosan dengan hanya dirumah? Aku pikir kamu masih sibuk, makanya aku tak ingin menganggumu"
Anrez menggeleng pelan "tidak lagi. Mungkin untuk saat ini sampai beberapa jam kedepan aku tidak akan sibuk. Jadi bisakah kita pergi jalan-jalan?"tanya Anrez lagi.
.
.
.
.
****
Jakarta aquarium. Ya, disinilah mereka berada sekarang untuk melihat kehidupan dibawah laut.
"Sea world"gumam Anrez
Tiara menoleh kesamping menatap pada Anrez yang tampak heran "kenapa? Kamu tidak pernah mengunjungi tempat seperti ini di london?
Anrez menggeleng " Perancis dan Bangkok memiliki ini juga. Sea life Paris val D'europe dan sea life Bangkok ocean world. Hanya saja aku tidak pernah ke sana"
Tiara mengulas senyuman tipis diwajahnya. wajar saja karena pria itu setiap pergi ke negara lain pasti hanya selalu mengurusi bisnis. "Jika begitu, hari ini kamu akan lebih dulu mengunjungi aquarium versi Jakarta. Ayo"ajaknya seraya menarik tangan Anrez untuk masuk ke dalam.
Sebuah aquarium besar berisi aneka jenis ikan langsung menyambut mereka saat pertama kali masuk. Tiara kemudian mengajak Anrez ke sebuah aquarium yang berbentuk lorong dimana mereka berdua bisa masuk langsung dan melihat linsang yang lincah dari jarak dekat.
Keduanya begitu menikmati pemandangan ikan yang sibuk menari-nari didalam air "apa kamu ingin menyentuhnya? Tanya Tiara
"Apa bisa?"ucap Anrez sambil menaikkan sedikit alisnya
"Bisa.Ayo kita ke area touch"ajak Tiara lagi
Anrez hanya tersenyum dan mengangguk mengikuti kemana wanita itu membawanya. Sesampainya Di area touch, mereka pun bebas menyentuh hewan laut yang menggemaskan,bahkan keduanya terlihat asik sekali bermain-main dengan hewan laut tersebut.
Tak selesai disitu, keduanya juga menyaksikan kegiatan feeding time saat para penyelam masuk kedalam aquarium untuk memberi makan ikan.
Hampir seharian mereka berkeliling menikmati setiap pertunjukan yang ada di aquarium Jakarta. Dan juga mereka menyempatkan untuk berbelanja dan mencari makanan di mall.
.
.
.
.
****
"Lelah?"
Tiara menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Anrez "kamu sendiri?" Tanya Tiara
Anrez tersenyum pelan "sejauh ini aku menikmatinya"gumam Anrez
Saat ini keduanya sedang duduk disebuah bangku yang tak jauh dari dalam mall. menikmati ice cream sambil memandangi air mancur.
"Disini sangat sejuk" gumam Tiara seraya memakan ice cream nya
Anrez tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya dan menoleh menatap Tiara yang terlihat tersenyum lebih lebar kala menatap langit yang begitu indah
"Terimakasih untuk hari ini"ucap Anrez pelan menatap kearah air mancur
"Telah sangat lama rasanya sejak terakhir kali aku menikmati liburan bahkan aku sudah sangat lama tidak duduk bersantai sambil memakan ice cream seperti ini"lanjutnya
Tiara tersenyum pelan mendengarnya "itu karena Kamu bahkan tidak dapat meninggalkan pekerjaanmu sebelumnya. Lalu bagaimana mungkin kamu dapat menikmati liburan dalam hidupmu. Terkadang kita juga harus beristirahat sejenak menikmati apa yang sudah kita lakukan. Jangan terlalu keras pada diri sendiri"
"Kamu benar. Namun, Sekarang pun aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku"gumam Anrez
"Tapi aku sangat menikmati jalan-jalan hari ini bersamamu"lanjut Anrez lagi
Mendengar perkataan pria disebelahnya membuat Tiara kembali tersenyum. Dan Anrez yang juga sedang menatap Tiara tanpa sadar ujung bibirnya juga ikut terangkat membentuk bulan sabit
"Kamu cantik bila tersenyum seperti ini"ucap Anrez yang entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu terpesona setiap kali melihat senyuman wanita itu.
Tiara menaikan sedikit alisnya menatap kaget sesaat pada Anrez "hah?"
Melihat keterkejutan diwajah Tiara membuat Anrez tidak dapat menahan senyuman diwajahnya "aku mengatakan kamu cantik bila tersenyum. Aku menyukai senyumanmu. Jadi seringlah untuk tersenyum"ucap Anrez
Tiara memberikan tatapan tidak percaya. Bila yang pertama ia kira salah mendengar, maka yang kedua ini Takan mungkin salah lagi, kalimat itu benar-benar nyata ia dengar dari bibir pria itu.
Ia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat sekarang. Pujian yang sederhana namun mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Selama ini pria itu selalu tampak tidak perduli dengan segala hal bahkan ia tidak pernah memuji seseorang. Namun, hari ini mendadak ia melihat ada sosok lain dari Anrez. Atau apakah sebenarnya inilah sosok pria yang sesungguhnya?
"Kamu juga akan terlihat tampan jika lebih sering tersenyum"gumam Tiara
"Benarkah?"gumam Anrez dengan nada suara rendahnya
Tiara mengangguk pelan " dulunya kamu sangat jarang tersenyum. bahkan, hampir tidak pernah. Namun, akhir-akhir ini aku melihatmu cukup banyak tersenyum. Setidaknya wajah tampanmu ini terlihat lebih sempurna saat senyuman terukir disana"
Anrez hanya memilih diam. Matanya menatap sesaat pada Tiara yang kini sedang menatap lurus kedepan. Ia juga mengalihkan pandangannya menatap orang-orang yang sedang bermain air mancur didepan mereka.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Tiara tanpa mengalihkan pandangannya
"Batu gunting kertas?"ucap Anrez
Tiara tergelak mendengarnya menatap pria itu "kamu tampak menyukai permainan itu"
"Mungkin. Permainan itu adalah permainan yang membuat kita mulai saling berbagi tentang kehidupan masing-masing secara jujur. Aku menyukainya"
Tiara mengangguk setuju memang benar permainan itu memanglah menjadi awal untuk kedekatan keduanya.
"Benar. Namun aku sedang tidak ingin memainkannya saat ini.aku hanya ingin bertanya satu hal padamu dan jika boleh ku mohon tolong berikan jawaban sejujurnya padaku"
Anrez hanya diam dan menunggu pertanyaan apa yang ingin wanita itu tanyakan
"Aku tahu untuk saat ini kamu belum mampu mencintai siapapun "ucap Tiara dengan nada melirih
"Tapi, jika suatu hari nanti hatimu telah siap untuk mencintai seseorang lagi. Mungkinkah itu salah satunya untukku"tanya Tiara sambil memejamkan matanya
Anrez terdiam sejenak jujur ia terkejut atas pertanyaan wanita itu. Sesungguhnya ia tidak tahu jawaban apa yang seharusnya ia berikan pada Tiara. Karena hingga sampai saat ini, ia bahkan tidak tahu apakah dirinya akan siap untuk jatuh cinta lagi atau tidak.
Tiara membuka matanya menatap Anrez yang masih memilih diam "sesungguhnya aku berharap kamu mengatakan ya. Aku tahu memang pernikahan kita ini berawal hanya dari sebuah kesepakatan dimana kamu akan bersedia membantu dan melindungi ayahku asalkan aku menikah denganmu"ucap Tiara berhenti sejenak menggigit bibirnya bawahnya karena merasa gugup
"Aku tidak tahu mengapa. Hanya saja aku mulai berdebar untukmu dan aku mulai..."
"Aku juga"ucap Anrez memotong sebelum Tiara menyelesaikan perkataannya
Tiara yang mendengar itu segera menoleh menatap Anrez dengan wajah terkejut ia ingin memastikan lagi apakah pria itu baru saja mengungkapkan bahwa ia juga merasakan debaran itu"
"Ya, aku merasakannya"ucap Anrez lagi seolah menjawab pertanyaan yang kini berada dibenak wanita itu
Anrez menarik panjang nafasnya dan menghela dengan berat "aku merasakan debaran itu juga Tiara. Terdengar gila memang dan aku juga berpikir bahwa aku mungkin telah gila. Namun debaran itu nyata adanya ketika kamu memelukku, menyentuhku bahkan saat hanya dengan melihatmu seperti ini jantungku berdebar"jujur Anrez menatap Tiara
Tiara terdiam tanpa dapat berkata apapun otaknya kini tengah bekerja keras untuk mencerna setiap perkataan Anrez barusan.
Bukankah ini terlihat seperti pengakuan cinta daripada hanya perbincangan sederhana? Apakah ini pertanda bahwa cintanya akan terbalas?
Anrez memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya ia membuka matanya kembali. Nafasnya terdengar sangat tidak teratur setelah mengatakan hal itu. Ia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghela dengan berat "aku tidak mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu saat ini. Namun, jika nanti hatiku telah siap untuk mencintai seseorang. Maka pastilah wanita itu adalah kamu"ucap Anrez pelan
Tidak ada perkataan yang keluar dari bibir Tiara sekarang selain sebuah senyuman setelah mendengar ucapan Anrez.Bisakah Tiara merasa senang sekarang? Ya, setidaknya ini tidak terlalu buruk. Setidaknya ia tidak mendapatkan penolakan yang menyakitkan. Kini sebuah harapan datang padanya.
Ia hanya perlu menunggu. Dan ia tahu penantian itu tidak akan lama. Setidaknya pria itu telah mengatakan juga bahwa merasakan debaran seperti yang ia rasakan. Ia bahagia setidaknya tak akan berakhir dengan hanya mencintai tanpa dicintai.
Bersambung.....
Glen semakin gencar nih buat cari tahu kebenaran yang sebenarnya terus gimana dong sama hubungan Anrez dan Tiara?
Stay tune terus ya🤗
Jangan lupa vote+komen ya yeoreobun 😘
See you next part 👋
Kamis-23-06-2022