ZAUJATI

By Shafaveda

234K 10.8K 4.1K

-Ana uhibbuki fillah, Zaujati- "Apa bisa anda menjamin jika saya menikah denganmu, saya akan mendapat surgany... More

Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan
Sepuluh
Sebelas
Dua belas
Tiga Belas
Empat belas
Lima belas
Enam Belas
Tujuh belas
Delapan belas
Sembilan belas
Dua Puluh
Dua puluh satu
Dua puluh dua
Dua puluh empat
Dua puluh lima
Dua puluh enam
Dua puluh tujuh
Dua puluh delapan
Dua puluh sembilan
Tiga puluh
Tiga puluh satu
Tiga puluh dua
Tiga puluh tiga
Tiga puluh empat
Tiga puluh lima
Tiga puluh enam
Tiga puluh tujuh
Tiga puluh delapan
Tiga puluh sembilan
Empat puluh
Empat puluh satu
Empat puluh dua
Empat puluh tiga
Empat puluh empat
Empat puluh lima
Empat puluh enam
Empat puluh tujuh
Empat puluh delapan
Empat puluh sembilan
Lima puluh
Lima puluh satu [END]
EXTRA PART
aku mau tanya dong

Dua puluh tiga

4K 189 81
By Shafaveda

"Semakin lo ngelak, semakin rasa itu mulai tumbuh Ag. Udah deh jangan terlalu gengsi, emang lo mau dia direbut sama cewek lain?"


-Sabrina-

-Zaujati-

Agni, Sabrina dan Selena mengambil tempat di salah satu bangku yang disediakan kampus. Hari ini ada acara ceramah, oleh karena itu beberapa mahasiswa datang untuk mendengar ceramah.

Agni sendiri datang karena desakan Sabrina, dan Selena malah ngikut, ya sudah ketiganya menghadirinya bersama.

Sabrina menyenggol lengan Agni, membuat gadis itu menoleh. "Ag, itu cowok yang kemarin ngajak lo kenalan bukan?"

Agni melirik lelaki yang ditunjuk Sabrina, iya lelaki yang bertemu dan mengajak kenalan Agni tempo hari. Masih ingat dengan Wildan?

Lelaki itu tampak gugup ketika mengetahui Agni dan Sabrina berada di tempat yang sama, membuat Sabrina terkekeh.

"Malu banget dia pasti," ujar Sabrina.

"Kalian ngomongin siapa?" tanya Selena, tak paham.

"Udah, lo kagak tau."

Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Sabrina terkejut ketika mengetahui siapa yang menjadi pembicara siang ini, wanita itu langsung mengguncang tubuh Agni.

"Ag, lihat deh siapa yang jadi pembicara."

Agni sama terkejutnya dengan Sabrina, pembicara yang dimaksud Sabrina tadi adalah suaminya, Muhammad Avan Ghazalah.

"Kok bisa?" monolog Agni.

Avan tersenyum pada Agni sebelum memulai ceramah, membuat beberapa mahasiswa curiga bahwa mereka ada sesuatu.

Avan tersenyum pada Agni sebelum memulai ceramah, membuat beberapa
mahasiswa curiga bahwa mereka ada sesuatu.

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Saya Muhammad Avan Ghazalah, terimakasih untuk pihak kampus yang sudah mau mengundang saya untuk menjadi pemateri dalam acara ini."

Avan melirik Agni sekilas, tersenyum pada istrinya itu membuat satu ruangan ricuh karena melihat senyuman Avan.

"Hari ini saya akan bercerita tentang mengapa nabi Ibrahim As, berada di sebelah kanan Arsy sedangkan nabi Muhammad shalallahu'alaihi wasallam berada di sebelah kiri, sebelum saya bercerita ada yang tau mengapa Nabi Ibrahim yang berada di sebelah kanan Arsy? Kenapa bukan Nabi Muhammad?"

Merasa semua semuanya terdiam, Avan memulai ceramahnya.

"Tidak ada yang tau Maka hari ini saya akan bercerita. Rosullullah bersabda : ketahuilah bahwa mimbar nabi Ibrahim As berada di sebelah kanan Arsy dan mimbarku di sebelah kiri Arsynya Allah."

"Maka para sahabatnya bertanya : wahai Rosulullah, engkau lebih utama dari nabi
Ibrahim, kenapa engkau ditempatkan di sebelah kiri Arsy, sedangkan nabi Ibrahim di sebelah kanan Arsy?"

"Rosulullah menjawab : jalan ke surga berada di sebelah kanan Arsy, sedangkan
jalan menuju neraka di sebelah kiri Arsy. Aku berada di sebelah kiri, supaya aku dapat melihat umatku yang akan dimasukkan ke neraka dan kemudian aku berikan syafa'at kepadanya. Masyaallah."

Banyak mahasiswi yang terkagum-kagum dengan Avan. Selain tampan lelaki itu juga kelihatan sholeh dan sangat berpendidikan, maka tak heran jika para gadis jatuh cinta kepadanya.

"Gue penasaran, apa sih doa lo? Kok bisa-bisanya dapet suami kayak pak Avan?" tanya Sabrina, terkagum dengan sosok Avan.

Agni masih diam dan menyimak ceramah dari Avan. Bibirnya tanpa sadar terangkat, entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat ketika Avan sesekali melirik padanya sambil tersenyum.

Sabrina melirik Agni. "Ekhem, kayaknya ada yang udah mulai jatuh cinta nih."

Lamunan Agni buyar, ia melirik tajam Sabrina. "Paan sih lo? Gue kagak bakal kesengsem sama dia!"

"Semakin lo ngelak, semakin rasa itu mulai tumbuh Ag. Udah deh jangan terlalu gengsi, emang lo mau dia direbut sama cewek lain?"

Kedua bola mata Agni membola. "Heh! Jangan sampe ya, awas aja kalau dia berpaling, gue bejek-bejek mukanya!"

Selena melirik Agni dan Sabrina secara bergantian, lalu kembali melihat penampilan Avan. Sudut bibirnya terangkat sambil menatap Avan.

***

"Kok lo bisa ceramah sih?"

Agni dan Avan pulang bersama setelah acara kampus selesai. Kalian tidak akan tau jika tadi para gadis kecewa ketika tau bahwa Avan ternyata adalah suami Agni.

Avan menoleh. "Kamu pikir saya lima tahun di Kairo ngapain?"

Agni mengetukkan jarinya di dagu membuat Avan gemas sendiri.

"Tapi kok lo bisa gitu? Gak tremor dilihatin banyak orang?"

"Saya sudah biasa Agni, sebelum saya menikah denganmu, saya sering berceramah di pesantren ketika setelah sholat subuh."

Agni mengangguk mengerti, ia kira ini adalah pertama kalinya Avan ceramah, karena gadis itu belum pernah melihat Avan ceramah di depan umum, dan sekarang? Sungguh suatu yang wah bagi Agni!

Agni melirik Avan yang sedang merapikan baju keduanya dan memasukkan ke koper. "Lo ngapain?"

"Punya mata kan?"

Agni berdecak. "Maksud gue kita mau kemana? Kok beres-beres baju?"

"Tadi ummi menelpon, besok acara harlah pesantren Al Barokah yang ke 26 tahun, maka dari itu kita akan ke sana," jelas Avan.

"26 tahun? Berarti lebih tua pesantrennya dong dari pada elo," terkekeh.

Avan ikut tertawa mendengar kekehan Agni. "Betul."

Keduanya bersiap untuk melakukan perjalanan menuju pesantren Al Barokah. Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, keduanya akhirnya sampai dan disambut hangat oleh Sarah, ummi Flora, dan Abi Abdul. Tak lupa juga ada Dara dan Elang yang sudah sampai lebih dulu.

Mama Daun dan papa Ranting pun turut hadir di sana untuk membantu. Kini semuanya sedang bersantai di ruang tamu sembari berbincang ringan.

"Mah, dari kedua putri kita kira-kira siapa yang akan memberi kita cucu dulu?" tanya papa Ranting, menggoda mereka.

Dara dan Agni saling menatap. Agni kelihatan canggung, sementara Dara malah malu-malu sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

"Sebelumnya saya dan Dara ingin memberitahu sesuatu," ujar Elang.

Kedua keluarga tampak penasaran dengan hal yang akan disampaikan Elang. Lelaki itu melirik Dara, lalu beralih melirik perut istrinya itu.

"Dara tengah mengandung." Ucapan Elang membuat mereka menatap Dara senang. "Usia kandungannya baru menginjak tiga minggu, oleh sebab itu kita belum memberitahu kalian."

Mama Daun mendekati putrinya, bahagia dengan keadaan Dara yang kelihatan bahagia setelah menikah dengan Elang. Ia mengelus perut Dara, sementara papa Ranting mengecup kening putrinya.

"Kita akan mempunyai cucu mah," ujar papa Ranting yang diangguki oleh mama Daun.

Ketika semua sedang berbincang, mama Daun menatap Dara, tersenyum padanya.

"Sayang, bagaimana pernikahanmu dengan Elang?"

Dara melirik Elang. "Dia suami yang baik mah, bahkan aku sendiri tidak percaya menikahi lelaki sebaik dia."

Mama Daun tersenyum. "Ingat nak, ketika Allah mengambil sesuatu dari genggamanmu, sebenarnya ia tidak menghukumimu. Ia hanya sedang membuka tanganmu, untuk menerima yang lebih baik."

"Sekarang kamu tau kan? Mengapa Allah mengambil Avan darimu? Karena dia ingin menggantinya dengan yang lebih baik, iya dengan adanya Elang," lanjut mama Daun.

Dara sangat bersyukur karena Tuhan mendatangkan Elang padanya. Lelaki yang benar-benar bisa membimbingnya menuju surganya Allah.

Dara beralih melirik Agni, gadis itu kelihatan berbincang sesuatu dengan Avan. Lengkungan senyum tercipta di bibirnya.

"Semoga kalian selalu bahagia."

***

Semua santriwati termasuk para ustadzah sedang sibuk membantu warga ndalem untuk mengolah makanan. Malam ini adalah acara ulang tahun pesantren, tentu saja mereka sibuk mempersiapkannya.

Tak lupa juga dengan Agni yang sibuk mengolah makanan, karena jarang memasak tentu saja gadis itu kesusahan. Apalagi porsi makanan yang ia masak itu jumbo, menambah kesusahan bagi Agni.

"Ning Agni, sini biar saja yang mengolahnya," ujar salah satu ustadzah di sana-ustadzah Naya.

Agni memberikan alat untuk menggoreng pada ustadzah Naya. Agni duduk dan istirahat sebentar, ustadzah Naya melirik Agni sinis.

"Baru segitu saja sudah lelah, apa kamu tidak pernah memasak?"

"Avan yang sering masak," jujur Agni.

"Kenapa Gus Avan yang memasak? Bukankah itu kewajibanmu sebagai seorang istri?"

Agni melirik ustadzah Naya, tersenyum paksa padanya. "Kalau Avan saja tidak keberatan, kenapa anda yang keberatan?"

Ucapan itu cukup membuat ustadzah Naya bungkam. Sementara Tsurayya dan ustadzah Nanik yang mendengar itu tersenyum. Akhirnya ada juga yang bisa membuat ustadzah Naya bungkam seperti itu.

Ustadzah Naya dikenal dengan sifat sinis dan judesnya, oleh sebab itu warga pesantren sebagian besar tidak menyukainya. Selain itu ustadzah Naya juga suka sekali mengatur, apapun yang ia mau harus ia dapatkan.

Ustadzah Nanik menyentuh bahu Agni. "Jangan didengarkan Ning, ustadzah Naya memang suka begitu," bisik Agni.

"Bilangin sama dia, jangan suka nyinyir. Jadi ustadzah kok tukang nyinyir, malu sama jabatan," balas Agni yang juga berbisik, lalu keduanya tertawa bersama.

Keduanya tak tau bahwa bisikan mereka didengar oleh ustadzah Naya, ia melirik Agni dan ustadzah Nanik secara bergantian.

"Awas saja, aku akan membalasmu."

***

Dara diem-diem udah bunting aja. Agni lo kalau gak mau Avan mending buat gue aja deh.

Untuk ustadzah Naya, lo sebenernya siapa sih? Dateng-dateng bikin naik darah aja.

Ustadzah Naya

Purbalingga, 21 Oktober 2022

Continue Reading

You'll Also Like

363K 10.5K 56
๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐›๐š๐œ๐š, ๐ก๐š๐ซ๐š๐ฉ ๐Ÿ๐จ๐ฅ๐ฅ๐จ๐ฐ! __ Fatharazka Al-Gifari tak pernah menyangka, satu kebohongan kecil akan mengubah seluruh hidupnya...
Gus Fahry By yaa_rhm

General Fiction

5.2M 324K 59
"Diantara semua nikmat yang ada, Una adalah nikmat termanis yang pernah Aa' terima," -ungkap Fahry tulus pada una *** "Una harus nikah sama Gus Fahry...
5.5M 539K 50
CERITA INI SUDAH TERBIT DAN TERSEDIA DI TBO SHOPEE DAN GRAMEDIA ๐Ÿซถ Romansa - Spiritual - Militer BERTEMU JODOH DI JABAL RAHMAH? BERTEMU JODOH DI MARK...
11.8M 762K 71
[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Apakah seorang anak Kiai harus bisa menjadi penerus kepemilikan pesantren? Ya. Namun, berbeda dengan seorang Haafiz Alif Fae...
Wattpad App - Unlock exclusive features