Happy reading
***
Hiro masuk ke dalam kelas. Hiro menoleh ke arah Akira yang sedang duduk di kursinya sambil memakan sneak yang terletak di atas mejanya. Hiro berjalan mendekati Akira. "Akira apakah kau punya waktu sepulang sekolah nanti?"
Akira masih memakan sneak di tangannya. "tidak, aku sudah punya janji untuk menemui seseorang sepulang sekolah nanti. Jadi, saat bel pulang sekolah nanti kau pulang duluan saja, Jangan menungguku!" ucap Akira.
"bukan begitu. Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu di rooftop sepulang sekolah nanti. nanti kau datang ya!" pinta Hiro.
"soal monster bayangan pengendali?" tebak Akira.
Hiro terkejut karena tidak menyangka Akira telah mengetahui hal yang ingin dia bicarakan. "Hey darimana kau tahu soal itu?" tanya Hiro berbisik.
"memangnya apa yang tidak aku ketahui di sekolah ini? Aku mengetahui semua yang terjadi di sekolah ini. Orang itu terus memperhatikan mu setelah kau mengalahkan Karina dulu. Sepertinya dia menyukaimu, Hiro." Akira tersenyum menggoda.
Hiro mengigil saat mendengar ucapan Akira. "huh.. Jangan mengatakan hal yang mengerikan seperti itu! Tidak mungkin orang seperti dia menyukaiku."
"tidak, bukan dalam arti seperti itu. Tapi, dia menyukaimu sebagai boneka barunya yang kuat. Apakah kau mau menjadi boneka dari orang sepertinya, Hiro? Kau bisa jauh lebih kuat lho saat bersamanya dan juga urusanmu di sekolah ini bisa jadi lebih mudah karena dirinya." tawar Akira.
"kau gila ya.. Akira? Bagaimana mungkin aku mau menjadi boneka dari orang yang sangat kejam seperti dirinya." bantah Hiro.
Akira tertawa. "haha.. Jadi begitu kau lebih memilih bersama denganku daripada dengan dirinya, Sungguh setia. Aku akan memperlakukanmu dengan baik sebagai bonekaku."
"hey, hey, Akira. Jangan menunjukkan sifat gilamu di saat seperti ini! Kau jadi sebelas dua belas dengan dirinya. Aku ingin tahu bagaimana kau bisa mengetahui hal itu? Akira. Kumohon jawab aku dengan jujur!"
"dia mendatangiku lalu dia memberikan penawaran padaku. Dia mengatakan padaku bahwa dia akan memberikan bantuan pada kita. jika aku memberikan dirimu kepadanya."
"terus kau jawab apa Akira? Kau menolaknya kan?!"
"karena sepertinya sangat menarik sekaligus menguntungkan untukku. Jadi, aku menerimanya." Akira tersenyum.
"Akira. Kau benar benar sudah gila. Bagaimana mungkin kau memberikan seorang pengawalmu kepada orang yang--"
Akira menarik kerah baju Hiro mendekat ke arahnya. "ck. Di luar kau adalah milik kakak. Tapi, di sekolah kau adalah milikku, Jangan lupakan hal itu! Aku memang menganggapmu sebagai temanku, Hiro. Namun, Walaupun begitu kau seharusnya menyadari posisimu. kau adalah seorang pengawal yang dikirim oleh kakak untuk menjagaku dan kau juga diharuskan untuk menuruti apapun perintahku. Jadi, aku harap kau tidak melupakan tugasmu itu. Dan satu lagi pelankan suaramu! Aku tidak ingin ada orang yang curiga kepadaku. Kalau hal itu sampai terjadi maka kau juga yang akan kusuruh untuk menyelesaikan masalah itu. Ikuti saja apapun permainanku, Hiro. Ini perintah!" bisik Akira tajam. Akira lalu mendorong Hiro.
Hiro mundur beberapa langkah ke belakang. Dia menundukkan kepalanya lesu. "sudah sangat lama semenjak kau terakhir memberikanku perintah seperti ini. Baiklah.. Nona Akira." ucap Hiro pelan.
Bel masuk pelajaran berbunyi.
"pergilah ke tempat dudukmu lalu bersikaplah seperti biasa. Aku tidak ingin kau menunjukkan wajah menyedihkanmu itu kepada siswa lain! Ini perintah," suruh Akira.
Hiro mengangkat kepalanya lalu tersenyum ceria. "baiklah.. Aku mengerti." Hiro berjalan menuju kursinya lalu duduk di sana. "Akira. Apa yang terjadi dengannya? Aku tahu dia bukanlah orang yang seperti ini. Mungkin masalah tentang monster bayangan pengendali membuat Akira menjadi lebih emosi. Aku harus membiarkan dia sendiri terlebih dahulu agar dia bisa berpikir lebih bebas. Dia pasti akan datang padaku jika dia menginginkan bantuan dariku." batin Hiro.
Beberapa saat kemudian. Murid kelas A kembali masuk ke kelas lalu kemudian buk Ririn memasuki kelas. Mereka melakukan proses ajar mengajar seperti biasanya sampai terdengar bel pulang sekolah berbunyi.
Hiro mengemasi peralatan sekolahnya memasukan semuanya di dalam tasnya. "Akira ayo kita pu--" Hiro melihat Akira keluar dari kelas. "oh ya.. Tadi dia bilang bahwa dia punya janji sepulang sekolah. Dia menyuruhku untuk pulang duluan, tidak usah menunggunya." Hiro berdiri lalu berjalan menuju pintu keluar. "yosh.. Aku tidak perlu khawatir. Jika itu adalah Akira aku yakin dia pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Karena di mataku Akira dan monster sanjaya itu sama. sama sama orang gila."
***
Farrel duduk sendirian di dalam ruangan osis. Dia membaca lembaran kertas di atas meja. "huh.. Kenapa semakin lama semakin banyak sekali murid yang melakukan pengajuan untuk dibuatkan klub resmi kepada osis. Apalagi nama klub yang mereka ajukan ini banyak yang aneh."
"huh.. Dasar payah. Katakan dengan tegas kepada mereka bahwa sekolah ini bukan tempat untuk bermain main melainkan tempat untuk mencari potensi dan bakat! Kalau mereka memberikan surat pengajuan untuk dibuatkan klub sekolah hanya dengan niat untuk bermain main, Tanpa adanya ambisi untuk memajukan dan mendapatkan prestasi untuk sekolah ini. Langsung tolak saja! Sobek kertas itu di depan wajah mereka agar dengan begitu mereka bisa paham kalau mereka tidak bisa bermain main saat berada dihadapan osis."
"hm.. Jadi begitu. Tapi bukankah hal itu terlalu kejam. Melakukan Hal itu mungkin bisa membuat mereka patah hati lalu berbalik menjadi musuh osis." Farrel mengangkat kepalanya melihat orang yang berbicara dengannya.
"huh.. Kau takut pada mereka? Pantas saja walaupun sekarang kau adalah orang nomor satu di sekolah ini dan juga orang terkuat di osis. Para osis bawahanmu tidak menghormatimu. Ternyata seperti ini cara sistemmu bekerja. Sistem yang lemah dan pengecut seperti ini tidak akan membuat sekolah ini maju. Kau harus berani mengambil resiko. katakan kebenaran dengan tegas walaupun hal itu bisa membuatmu dibenci dan memiliki banyak musuh. Karena Dengan begitu kau bisa dihormati oleh orang di sekelilingmu."
Farrel berdiri dari tempat duduknya lalu menjauh beberapa langkah dari orang itu. "kau?! Kenapa kau ada di sini?" Farrel melihat seorang siswi yang memakai jaket hoodie hitam dengan tudung kepala menutupi setengah wajahnya.
"huh.. Hanya karena sudah lama tidak kesini bukan berarti aku tidak boleh ke sini kan?!" siswi berjaket itu mendekati rak yang berisi kumpulan berkas dari kegiatan osis.
"apa yang ingin kau lakukan?" tanya Farrel.
"aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku." siswi berjaket hitam itu mendorong rak berisi berkas itu ke samping. Dibalik rak itu terdapat pintu rahasia. Dia lalu mengambil kunci dari dalam jaketnya lalu membuka pintu itu. Di dalam pintu itu terdapat bermacam macam barang yang tersusun rapi di sana. Pandangan siswi berjaket teralih ke salah satu jaket berwarna ungu yang tergantung di sana. Dia lalu mengambil jaket itu.
"Shotto, sebenarnya apa yang membuatmu kembali lagi kesini? Bukankah selama ini kau terus bersembunyi dan tidak ingin--" sebuah benda dilemparkan oleh siswi yang disebut oleh Farrel bernama Shotto. Mengenai kepala Farrel lalu membuatnya terjatuh. Farrel melihat benda itu adalah sebuah bola besi kecil seukuran kelereng.
"kau banyak sekali bicara ya.. Apakah kau pikir aku tidak akan menginjak injakmu lagi setelah kau menjadi ketua osis?"
Farrel menundukkan kepalanya. "maaf,"
"Aku tidak bersembunyi, Aku hanya tidak terlihat. Tetapi, aku tetap mengawasi semuanya." Setelah Shotto mengambil jaket berwarna ungu. dia terlihat seperti mencari sebuah benda lagi di sana. "huh.. Dasar setelah lulus mereka mengambil semuanya tanpa menyisahkan satu pun yang berharga di sini, para senior sial*n." dibalik tumpukan buku Shotto melihat sebuah buku tulis yang cukup usang. "ketemu!" Shotto mengambil buku itu lalu keluar dari ruangan itu. Dia menutup pintu itu lalu menguncinya kembali. Dia menarik rak berisi berkas agar kembali menutupi pintu itu. Shotto lalu berjalan mendekati Farrel.
"Shotto, kalau ada masalah atau apapun itu yang membuatmu harus datang kesini lagi. Tolong beri tahu aku. Aku pasti akan menyelesaikannya untukmu." ucap Farrel.
"Farrel, Farrel, kau itu hanya orang lemah yang bahkan tidak bisa menjalankan tugas mu dengan benar. Jadi, buat apa aku memberitahumu. Kau bahkan tidak bisa melindungi Akira yang selama ini dirundung oleh faksi Karina padahal itu adalah tugas mu yang sangat penting. Apa kau tahu apa yang akan terjadi jika waktu itu kesabaran Akira telah habis lalu berbalik melawanmu. Kau bisa dihancurkan olehnya lho."
"maaf.. Aku sudah berusaha untuk terus melindunginya seperti perintahmu. Tapi, walaupun sudah kuperingatkan berkali kali Karina tetap membangkang dia terus terusan menyuruh faksinya untuk merundung Akira,"
"huh.. Apakah kau tahu apa yang akan aku lakukan jika aku melihat sebuah dahan yang telah kering dan tidak berguna di pohon yang telah aku telah rawat? Benar. aku akan memotong lalu menyingkirkannya." Shotto tersenyum.
"Tapi, bukankah itu sangat kejam,"
"ya.. AKu tahu. Aku kan cuma membicarakan bagaimana aku yang dulu. Waktu itu kan era yang paling gila dimana semua sekolah satria garuda jaya menerapkan hukum rimba. Jadi, hanya mereka yang kuat dan berguna yang akan dipertahankan. Tapi, sekarang sudah berbeda. Ini adalah era mu, Farrel." Shotto meninju lalu menekankan tinjunya di dada Farrel. "sebagai salah satu monster sanjaya yang masih aktif dan sebagai pemimpin baru sekolah sanjaya. Kau yang akan membuat sejarah baru di sekolah sanjaya highschool. Kakakmu telah memilihmu sebagai ketua dan aku telah memilih Claudya sebagai wakil. Jadi, aku yakin kalian berdua pasti mampu membuat sekolah ini bangkit kembali,"
"hm.. Entah kenapa setelah mendengar perkataan darimu aku merasa lebih lega dan bersemangat untuk menjalani tugas sebagai ketua osis. Terimakasih. Oh ya.. Aku juga ingin meminta pendapatmu mengenai murid baru itu, Hiro?! Shotto,"
"hm.. pendapatku dariku ya..? Dia adalah orang yang menarik. Tapi, jika dia datang untuk menantangmu maka Lawan dia!"
"apa? Bukankah dia adalah rekannya Akira?"
"walaupun dia itu adalah rekannya Akira, kau masih harus tetap menghadapinya jika dia nanti datang untuk menantangmu. karena itu adalah kewajibanmu sebagai pemimpin sekolah sanjaya."
"baik, jika kau telah mengatakan begitu maka aku akan melakukannya."
"oh ya.. Satu lagi. Aku ingin kau memberikan padaku posisi sebagai ketua divisi hubungan antar sekolah dan juga tolong siapkan sebuah ruangan untuk orang orangku berkumpul di sekolah ini nanti." pinta Shotto.
"kalau boleh tahu untuk apa kau menginginkan posisi itu?" tanya Farrel.
"kau banyak sekali bertanya ya.. Apakah mulutmu mau kemasukan kelereng?"
Farrel menunduk ketakutan. "baiklah.. Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi, Shotto semua persyaratan harus terpenuhi untuk melakukan itu. jadi, aku tidak bisa--"
"kalau kau tidak mau melakukannya. Akan aku obrak abrik sekolah ini!" ancam Shotto.
"baiklah.. Aku setuju. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan posisi itu kepadamu dan juga aku akan melakukan segala cara agar bisa memberikanmu sebuah ruangan klub untukmu," Farrel langsung menyetujui permintaan Shotto karena takut akan ancamannya.
"huh.. Baiklah. Terima kasih. Aku akan pulang sekarang." Shotto berjalan keluar dari ruangan osis. "ingat pesanku Farrel. Berusahalah sekuat tenagamu. Namun, jangan memaksakan dirimu. Jika kau sudah tidak sanggup maka menyerahlah karena itu lebih baik dari pada melawan namun malah memberikanmu lebih banyak kerugian. Tidak semua hal harus berakhir dengan kemenangan terkadang kekalahan dapat memberikan kita pelajaran." setelah mengatakan pesan itu Shotto pergi meninggalkan Farrel sendirian.
Farrel tersenyum lega melihat kepergian Shotto.
***
Di dalam uks. terlihat lima orang anggota faksi Elang berbaring di atas ranjang yang ada di sana. Dua diantara mereka berbagi ranjang satu sama lain. Mereka adalah Robey dan teman temannya.
Elang masuk ke dalam uks. Elang berjalan mendekati Robey dan yang lainnya. "apa yang terjadi dengan kalian? Apakah bocah itu yang membuat kalian jadi seperti ini?" tanya Elang.
Jerky duduk di atas ranjang. "ketua, maaf kami tidak bisa memberikan pelajaran kepada bocah itu seperti--"
"gue nggak peduli tentang hal itu. Yang peduliin sekarang adalah apa yang terjadi dengan kalian? Siapa yang membuat kalian menjadi seperti ini?!" tanya Elang marah.
Robey, Jerky, dan Farzha saling memandang satu sama lain. "ketua. Hiro yang melakukan hal ini kepada kami." jawab Robey.
"sialan. Bocah itu, gue pasti bakalan membalas semua perbuatan yang dia lakukan kepada kalian. Apakah kalian bisa menceritakan kepadaku apa yang terjadi kepada kalian dan juga kepada Raihan dan Evan sehingga mereka jadi tidak sadarkan diri seperti ini?" tanya Elang.
"dia mencekik Raihan sampai membuat dia tidak sadarkan diri. dia kemudian merebut pemukul base ball dari tangan Jerky lalu memukul kami semua dengan itu." ucap Farzha pelan.
"sial*n. Nggak bisa dimaafkan. Gue nggak akan pernah memaafin orang yang telah membuat teman teman gue jadi seperti ini. Lihat saja!" Teriak Elang sambil memukul keras tembok di sebelahnya.
"woi ketua faksi tidak terkenal. Apakah kau tahu bahwa di uks ada peraturan bahwa murid dilarang berisik dan teriak teriak saat berada di dalamnya. Dan juga kalau pun kau nggak teriak teriak kayak begitu mereka masih bisa mendengar suaramu. Jadi, pelankan suara mu! Karna itu membuat tidurku terganggu." di pojok ruangan terlihat seorang siswi yang sedang duduk. Dia memakai sweter merah dan pita pink di sisi rambutnya menegur Elang karena berisik di uks. Dia menguap lalu menyandarkan kepalanya ke dinding berusaha untuk tertidur.
"hey.. Tukang tidur. Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Elang.
"tukang tidur?! Aku memiliki nama. Jangan memberikan nama sebutan yang aneh kepadaku!"
"gue nggak peduli tentang hal itu. Sekarang beritahu gue bagaimana kondisi mereka semua?"
"huh.. Kau bisa melihatnya sendiri kan, mereka semua terluka parah. Kalau aku boleh menyarankan bawa saja mereka ke rumah sakit karena kehadiran kalian di sini hanya mengganggu waktu tidur siangku."
Elang berjalan mendekati siswi itu lalu berjongkok di hadapannya. "gue tanya serius ya.. Seberapa parah luka yang mereka alami? Gue nggak punya waktu untuk bermain main denganmu. Jadi, Jangan mentang mentang kau adalah seorang cewek dan juga berasal dari faksi yang netral. kau bisa memandang remeh faksi kami. Gue nggak akan segan segan buat nyakitinlu. Neruka." Elang mencengkeram kerah baju Neruka.
"Elang Bodoh. Singkirkan tanganmu dari ku! Aku akan menjawab pertanyaan mu." Neruka melepaskan tangan Elang Lalu berdiri. "mereka semua terluka parah, Sangat parah. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan untuk mengobati luka mereka. lebih baik kau segera suruh mereka untuk pergi ke rumah sakit karena itu adalah hal yang paling benar untuk dilakukan sekarang!"
Elang juga berdiri mengikuti Neruka. "apakah kau benar benar mengobati mereka dengan baik? Atau kau hanya asal asalan mengobati mereka karena kau ingin cepat cepat kembali tidur." ucap Elang.
Neruka menatap tajam Elang. "jangan meremehkan posisiku sebagai ketua divisi kesehatan dengan berkata seperti itu! Walaupun aku sangat suka tidur. tapi, aku tidak pernah bermain main saat menjalankan tugasku. Aku dikenal sebagai orang paling netral di sekolah ini karena mengobati semua orang di sini tanpa pandang bulu. Aku telah mengobati para siswa dan guru di sini selama satu tahun. Jadi, kuperingatkan kau Sebaiknya menjaga ucapanmu kepadaku kalau kau masih ingin anggota faksi Elang diterima disini." ancam Neruka.
"hah.. Kau pikir ruangan uks ini adalah milikmu sehingga seenaknya saja kau Menolak anggota faksiku di sini."
"apakah kau berpikir bahwa kau bisa menggunakan obat obatan di sini kalau tidak ada aku. Orang sepertimu tidak akan mengerti mengenai obat obatan. Kalau kau masih ingin mereka ada di sini lebih baik diam saja lalu biarkan aku tidur." Neruka kembali duduk di pojok ruangan lalu membaringkan kepalanya di dinding.
"huh.. Dasar tukang tidur. Apakah setengah dari apa yang kau lakukan di sekolah ini hanya tidur. Dasar pemalas,"
"huh.. Setidaknya semua tugasku sebagai divisi kesehatan selesai dengan baik. Tidak seperti dirimu. Kau adalah ketua divisi pertahanan sekolah. namun, kau bahkan tidak bisa melindungi sekolah ini. Apakah kau masih punya wajah untuk mengatakan bahwa dirimu adalah lambang pertahanan sekolah ini setelah mengirimkan semua teman sekaligus anggota faksi terkuat mu untuk melawan satu orang. Namun, setelah sampai disana malah mereka yang dihajar sampai babak belur. Kalau aku jadi kau, aku akan membalaskan dendam teman temanku dengan berhadapan sendiri dengannya lalu menghajarnya sampai babak belur juga."
"gue emang bakalan ngelakuin itu kepada bocah yang sudah membuat teman teman gue terluka!"
"benarkah? Kau nanti bisa dihajar juga olehnya lho. Karena sepertinya dia itu adalah orang yang lebih kuat darimu." Neruka tersenyum meremehkan.
"lu ngeremehin gue? lihat aja! gue pasti bakalan ngehajar bocah itu sampai babak belur lalu gue akan membawanya ke hadapan lu buat ngebuktiin padalu kalau gue jauh lebih kuat dari pada bocah itu." Elang berjalan mendekati Robey dan yang lainnya.
"aku akan menunggu momen kekalahanmu. Aku akan menunggu saat dimana kau yang dibawa kesini karena babak belur dihajar olehnya." Neruko merilekskan tubuhnya lalu memejamkan matanya.
"Kalian semua. Aku akan menelepon supir mobil di rumahku lalu mengantarkan kalian semua ke rumah sakit. Jadi, tunggu sebentar di sini! aku akan segera kembali." Elang berjalan keluar dari ruangan uks. "dan untukmu. Lihat saja besok akan ada kejadian yang akan membuatmu mengakui kalau gue adalah benar benar lambang pertahanan sekolah sanjaya yang sangat kuat." Elang menunjuk Neruka.
"huh.. Jangan mengganggu tidurku! Cepatlah pergi dari sini! Lagian aku tidak akan mengakuimu karena aku yakin kau yang akan kalah."
"gue nggak bakalan kalah. Lihat aja nanti!" Elang keluar dari ruangan uks.
Neruka tersenyum. "huh.. Ternyata sangat mudah membuat dia terpancing. Setidaknya dengan begini aku sudah menjalankan tugas dari ketua," batin Neruko. "sekarang waktunya tidur," ucap Neruka pelan.
***
Keesokan harinya. Icha keluar dari ruangan kelasnya lalu berjalan pergi dari sana. "huh.. Kak Hiro. Tadi pagi dia janji pada Icha kalau dia ingin belajar memasak di ruangan klub tata boga. tapi, kenapa tiba tiba dia membatalkan janjinya itu memangnya apa yang dia lakukan di rooftop sekolah sampai sampai membatalkan janjinya secara mendadak kepada Icha?" Icha berjalan menuju rooftop sekolah. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Alyssa.
Alyssa berjalan menghampiri Icha. "ketua. Apa yang kau lakukan di sini? Ayo kita kembali ruangan klub tata boga sebentar lagi kan kegiatan dari klub tata boga akan dilaksanakan!" Alyssa merangkul Icha mengajaknya kembali ke ruangan klub tata boga.
"tidak, Icha ingin ngelihat kak Hiro."
"buat apa?"
"Begini Tadi pagi kan dia janji sama Icha akan datang ke klub tata boga untuk belajar memasak. Tapi, tadi dia chat Icha bahwa dia membatalkan janji itu karena memiliki urusan mendadak di rooftop sekolah. Jadi, Icha ingin tahu apa urusan mendadak yang dimaksud oleh kak Hiro itu? Jadi sekarang Icha bermaksud untuk mendatangi rooftop sekolah untuk menemui kak Hiro. Siapa tahu Icha bisa membantu dalam urusan kak Hiro. Alyssa juga mau ikut menemani Icha nggak?" tanya Icha.
"tidak," jawab Alyssa.
"yah.. Kenapa?" tanya Icha.
"itu karena salah satu dari kita harus berada di ruangan klub tata boga untuk memulai kegiatan di sana. Dan juga Kalau kita berdua tidak ada di sana nanti bisa membuat mereka jadi khawatir. Oleh karena itu aku harus datang ke sana lalu menjelaskan pada mereka apa yang terjadi. Icha pahamkan apa yang aku katakan?"
"hm.. Jadi Alyssa tidak bisa menemani Icha ya..?"
"tidak akan jadi masalah kan kalau aku tidak menemanimu ke rooftop sekolah, karena aku yakin Icha kan sudah dewasa kalau hanya ke rooftop sekolah sendirian Icha pasti beranikan?" tanya Alyssa.
Icha mengangguk. "iya, tidak masalah. Icha kan sudah dewasa. jadi, Icha tidak akan takut ke rooftop sekolah sendirian. Alyssa cepatlah pergi ke ruangan klub tata boga katakan pada mereka bahwa Icha baik baik saja jadi kalian jangan khawatir!"
"baiklah.. Aku akan segera pergi ke ruangan klub tata boga. Dah.. Icha." Alyssa berjalan meninggalkan Icha sambil melambaikan tangannya. "dengan ini tugasku sudah selesai senangnya." batin Alyssa senang.
Icha menaiki tangga Rooftop setelah sampai di atas Icha hendak membuka pintu rooftop. Namun, Icha menghentikan perbuatannya itu karena dia mendengar suara dari dalam sana. Icha lalu mengintip dari balik pintu apa yang ada di rooftop sekolah. Icha terkejut saat melihat dari belakang Hiro merangkul Akira mesra. "hey.. Apa yang terjadi di sini? Apakah kak Hiro dan kak Akira berpacaran kenapa mereka berdua sangat mesra?" batin Icha. Dia melihat Hiro meringis lalu mendekatkan wajahnya ke Akira. "wha.. Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka ci-ci-ciuman." batin Icha panik karena dia hanya melihat bagian belakang dari Akira dan Hiro. Jadi, dia tidak tahu bagian depannya seperti apa. "tidak, ini pasti salah paham. Icha tidak boleh berpikir seperti itu Icha harus memastikan apa yang mereka bicarakan." Icha mengeluarkan kepalanya dari pintu berusaha mendengar apa yang dikatakan oleh Akira dan Hiro.
"Akira kau tahu apa bedanya dirimu dengan durian? Kalau durian adalah raja buah kalau kamu adalah ratu di hatiku," gombal Hiro.
Icha kembali memasukan kepalanya lalu bersandar di balik pintu ruangan itu. "ternyata benar mereka berdua pacaran. Icha tidak boleh mengganggu mereka. Icha harus pergi dari sini." batin Icha. Icha berjalan menuruni tangga rooftop. "huh.. Tidak Icha sangka ternyata kak Hiro sudah punya pacar dan pacarnya adalah kak Akira. Kok Icha ngerasa aneh ya.. Dengan perasaan Icha sendiri padahal Icha kan nggak punya hubungan apa apa sama kak Hiro. Tapi, kenapa Icha ngerasa nggak suka ngeliat kak Hiro sama cewek lain." dengan wajah cemberut dan badan lesu Icha berjalan menuju ke ruangan faksi Elang. Setelah sampai di sana Icha langsung masuk ke dalam ruangan faksi Elang.
Di dalam ruangan itu terlihat Elang yang sedang mengiring bola menggunakan kakinya. saat Elang melihat ke datangan Icha. Elang menendang bola itu ke atas lalu menangkapnya menggunakan tangan. "Icha tumben kau ke ruangan faksi Elang. Ada urusan apa dengan kakak?" Elang berjalan mendekati Icha.
Icha berjalan melewati Elang. Dia lalu berjalan ke sebuah kursi di depan meja Elang. Icha duduk di sana lalu meletakkan keningnya ke meja.
"hey ada apa? Kau tidak menjalankan kegiatan klub tata boga sekarang? Kenapa kau datang ke sini?" Elang berjalan mendekati Icha lalu menyentuh bahunya.
"Icha sedang tidak ingin datang ke klub," jawab Icha tanpa mengubah posisinya.
"hm.. Kenapa apakah ada masalah di ruangan klub tata boga sehingga kau tidak mau pergi ke sana? Ayo cerita sama kakak! Kakak yakin masalah Icha pasti akan cepat selesai Jika Icha mengatakannya kepada kakak,"
"nggak ada. Icha nggak punya masalah di klub tata boga."
"hm.. Terus kenapa kau terlihat lesu begini? Ayo senyum dong kayak Icha yang biasanya!"
"nggak mau," tolak Icha.
"hey.. Ayolah kakak jadi sedih jika melihat Icha tidak bersemangat seperti ini. Ayo tersenyumlah!" Elang menarik tubuh adikknya perlahan ke atas sehingga membuat Icha sedikit mengangkat kepalanya.
"nggak mau, lepaskan Icha!" Icha menepis tangan Elang lalu kembali ke posisi semua.
"kalau Icha punya masalah apapun Icha cerita ya.. Sama kakak! Kakak pasti akan memberikan solusi untuk masalah Icha." Elang tersenyum. Namun, dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Icha. "kalau kau mau bercerita maka anggaran untuk klub tata boga akan kutambah."
Icha mengangkat kepalanya. "baiklah Icha akan cerita sama kakak."
"bagus. Katakan semua hal yang membuat lu jadi seperti ini?!"
"tadi Icha lihat kak Hiro-"
"Hiro, apa ada dengan bocah tengil itu? Apakah dia yang membuat Icha jadi seperti ini?" tanya Elang.
"tadi kak Hiro." Icha kembali meletakkan keningnya ke meja. "nggak jadi deh. Nanti kakak marah."
"huh.. Sebenarnya apa maumu? Cih.. Baiklah. Gue janji apapun yang akan kau katakan gue nggak akan marah. Jadi, cepatlah katakan apa masalahmu sama Hiro?!" kesal Elang.
"tambahin uang jajan bulananku baru aku akan mengatakan apa masalahku pada kakak,"
"apa? Tunggu sebentar semenjak kapan kau jadi orang licik seperti ini? Setauku kau adalah orang yang akan melakukan apapun jika diberi permen. kenapa sekarang kau malah jadi orang yang gila uang seperti ini? Belajar dari mana kau hal itu?"
"kak manfaatkan semua peluang untuk menghasilkan uang dan tidak ada informasi yang gratis semuanya membutuhkan bayaran." ucap Icha serius.
"tahu dari mana kau kata kata itu?"
"dari film detektif yang kutonton saat streaming semalam. Detektif di film itu sangat keren dia menghabisi penjahat dengan tangan kosong." mata Icha berbinar melihat Elang.
"begitu ya.. Baiklah kalau begitu setelah pulang ke rumah gue akan langsung mengganti password wifi di rumah dan akan gue pastiin kalau kau nggak akan tahu apa password wifi yang baru." ancam Elang.
Icha berdiri lalu memeluk Elang. "ya.. Kak passwordnya jangan diganti dong. Kalau Icha nggak tahu apa password wifi di rumah bagaimana Icha mau streaming film lagi? Nggak boleh! Kakak nggakku bolehin buat ngeganti password wifi di rumah kita." Icha merengek lalu menghentak hentakan kakinya ke lantai.
"gue nggak peduli. Setelah gue mindahin televisi rumah kita ke kamarku supaya kau tidak menonton lagi film yang tidak mendidik itu ternyata kau masih menontonnya lewat handphone. Gue benar benar bakalan mengganti password wifi kita di rumah,"
"jangan dong. Icha akan melakukan apapun. Tapi, kakak jangan mengganti password wifinya."
Elang memegang kedua bahu Icha lalu melepaskan dirinya dari pelukan Icha. "kalau begitu cepat katakan apa masalah mu?! Sebenarnya aku juga sedang pusing karena semua rencanaku gagal. Tapi, sebagai kakak yang baik gue masih ingin mendengarkan apapun masalahmu. jadi, jangan menambah beban pikiranku dengan bicara bertele tele seperti ini! Atau kau akan kuhukum Icha," teriak Elang.
Icha terlihat ketakutan kepada Elang. "Icha tadi lihat kau Hiro pacaran sama kak Aki--" ucap Icha.
Elang melepaskan tanganya dari bahu Icha. "huh.. Hanya itu masalah mu. Kau suka pada Hiro. Tapi, Hiro sudah punya pacar. Dasar bocah tengil itu. Gue akan memberikan pelajaran padanya karena dia sudah berani mempermainkan hati adikku dan membuatnya berharap," batin Elang.
"kakak tidak marah?" tanya Icha.
"ya.. Enggaklah buat apa gue marah soal masalah percintaanmu. Oh ya.. Tadi siapa nama pacarnya Hiro?" tanya Elang karena dia tadi tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Icha.
"kak Akira,"
Elang terkejut mendengar nama itu. "apa?! Jadi dia pacaran sama Akira? Sial*n." Elang memukuli tembok di sampingnya. "gue benar benar akan membunuhnya! Gue akan menghabisinya sampai dia mau memutuskan Akira! Berani beraninya dia merebut Akira dariku. Padahal gue dan Diandra sudah bersaing sengit untuk mendapatkan hati Akira. tapi kenapa malah dia yang baru datang dengan mudah bisa mendapatkannya. Sial, sial, sial, gue akan hancurin kepalanya." Elang terus memukuli tembok untuk melampiaskan kemarahannya.
"bukankah kakak sudah janji pada Icha bahwa kakak nggak akan marah?"
"aku tidak marah. Aku hanya kesal,"
"apa bedanya marah dan kesal?"
"kalau marah itu adalah gue sedang marah. Dan kalau kesal itu adalah gue sedang kesal. Kau ngerti sekarang? Jadi, pergilah karena gue sedang melampiaskan kekesalanku!" Elang kembali memukuli tembok.
"hm.. Begitu. Walaupun Icha nggak terlalu mengerti. namun, Icha akan selalu percaya sama perkataan kakak. Kak Elang kayaknya karena kak Elang Icha jadi lebih semangat untuk kegiatan klub tataboga. jadi, Icha mau pergi ke ruangan klub tata boga Sekarang, Dadah kak." Icha melambaikan tangannya lalu pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Elang yang masih memukuli tembok karena kesal atau marah.
Bersambung