"Nyari apa?"
"Apa aja yang bisa buka pintu Cilla Nan"
Adnan mengernyit bingung, "Kunci kamar lo ilang?" tanya Adnna yang Cilla jawab dengan anggukan.
"Minta serepan sama bu Jeni"
"Udah gak punya. Waktu itu pernah Cilla minta karena sebelumnya juga kunci kamar Cilla pernah ilang" jelas Cilla. Keliatan jelas gadis itu lagi panik.
"Tuman" katanya lalu masuk kamar ngambil linggis kecil yang ada di bawah lemarinya.
Adnan sempet minjem linggis Nicho buat meretelin lemari kayu nya yang udah rusak, dan bagian kayu yang masih bagus dipake buat rak-rak an baru. Udah pernsh mau dibalikin tapi Nicho bilang simpen aja.
"Bobol aja ya? Nanti ganti gagang pinti baru"
"Yaudah deh" jawab Cilla.
Setelah 5x percobaan congkel mencongkel akhirnya pintu kamar Cilla bisa kebuka.
"Alhamdulillah Puji Tuhan" ucap Cilla, "Makasih ya Nan"
"Heh!"
"Hah?"
"Bisa-bisa nya lo buat dua Tuhan colab" ujar Adnan.
Cilla sih cuma bisa cengengesan. Ya negara kita ini kan mayoritas muslim, Cilla sebagai minoritas yang temennya kebanyakan muslim suka ikut kebiasaan ngucap Alhamdulillah, Astaghfirullah, Allahuakbar, sampe ke Masya Allah dan Subhanallah. Jadi biar gak di azab Tuhan nya, Cilla gak pernah lupa ngucap puji-puji an untuk Tuhan nya setelah ngucap puji-puji an untuk Tuhan nya orang lain.
"Adnan, ini kalo Cilla mau beli gagang pintu baru dimana ya?" tanya Cilla.
Adnan menghela nafas. Bisa-bisa nya ni cewek gak tau.
"Ganti baju, gue anter"
Cilla senyum lebar. Gak nyusahin gak Cilla namanya.
"Cilla ambil tas sama dompet aja bentar" kata Cilla terus masuk ke kamarnya, sedangkan Adnan jalan ke motornya.
Adnan emang niatnya mau keluar buat beli lampu belajar, karena lampu belajar nya yang lama bohlamnya mati. Karena udah tua juga tuh lampu jadi Adnan ganti sekalian aja. Tapi baru aja keluar kamar dia liat Cilla mundar mandir kebingungan, makanya doi samper.
"VELA CILLA PINJEM HELM NYA!" teriak Cilla dari depan pintu kamar Vela. Kayanya sih orangnya tidur, soalnya gak nyaut. Yaudah yang penting Cilla udah izin.
Setelah pake helm, gadis itu langsung naik ke atas motor.
"Berangkat mas"
"Gue bukan kang ojol"
"Haha, canda Adnan" ujar Cilla sambil ketawa.
Adnan ngelirik Cilla dari spion kirinya terus senyum tipis. Tipis banget sampe gak keliatan.
🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱
Cewek, mahluk tuhan paling ribet dan gak ketebak apa maunya di kutip dari sudut pandang Rakha. Gak sedikit cewek yang terang-terangan menunjukan rasa suka nya pada Rakha, namun cowok itu selalu membabat habis harapan gadis-gadis itu. Rakha itu definisi single itu pilihan. Ada banyak gadis cantik disekelilingnya tapi cowok itu enggan membuka hati.
Kalau ditanya alasanya apa, Rakha gak ada alasan khusus. Gak ada juga faktor seperti pernah diselingkuhi, gamon atau dighosting. Gak ada juga problem internal keluarga. Keluarga Rakha bisa dikatakan harmonis, ditambah Rakha anak tunggal yang udah jelas kasih sayang yang didapet dari ortunya banyak banget. Ya intinya sih cuma belum siap aja menjalani sebuah hubungan.
Kaya lirik lagu older nya Sasha Alex loving is hard, it don't always work. Dibuktikan dengan Saga yang galau hebat karena cinta sepihak, Bian yang ngejer-ngejer Anin kaya orang gila, dan Vela sama Ettan yang hobinya berantem mulu.
Tapi hari ini diawali seutas kalimat Nicho yang dibalas dukungan rentetan kalimat lainnya dari Bian, Ettan, Dul dan Saga semalam, Rakha jadi goyah. Kaya nya udah saat nya Rakha buka hati. Ceilah
"Gak ngampus Ka?"
Rakha menoleh ke sumber suara lalu menggeleng, "Kau sendiri gak ngampus Sya?"
"Ini baru balik. Cuma ada satu matkul hari ini" jawab Trisya yang langsung Rakha balas dengan anggukan mengerti.
"Sya, awak mau tanya"
"Hmm?"
"Menurut kau, pacaran itu apa?"
Trisya yang ditanya menautkan alisnya tanda bingung. Pertanyaan yang agak sedikit diluar pirkiraan Trisya aja gitu. Kirain mau nanya materi atau apa gitu.
Tanpa ragu Trisya menjawab "Pacaran itu sumber kebahagian dan sakit"
"Apa bahagianya dan apa sakitnya?"
"Bahagianya tuh gak bisa digambarkan pake kata-kata, intinya sampe hal sepele yang kalo dilakuin sendiri kesanya biasa aja dan membosankan bisa jadi hal paling indah dan bermakna" jelas Trisya panjang lebar,
"Sakitnya tentu gak kalah besar dari bahagianya. Terikat status kadang gak mengenakan. Bukan gak bebas tapi ada hati yang harus kita perhatiin. Ada aja masalah yang bisa aja merusak benteng hubungan yang udah dibentuk se kokoh mungkin kalau kita gak teliti dan cekatan. Balik lagi, hubungan ini mengikat dua orang dengan isi kepala yang udah jelas banyak beda nya"
Rakha mengangguk mengerti. Cowok itu mulai membayangkan bagaimana nanti ia menjalani hubungan bernama pacaran dengan seseorang. Apa Rakha bisa? Rakha sangat sadar betapa keras kepalanya dia. Terkadang bisa menjadi seseorang yang menyebalkan dan egois. Maklum anak tunggal yang belum khatam apa itu berbagi dan mengalah.
"Kenapa nanya gitu? Kamu lagi suka sama cewek?" tanya Trisya, membuyarkan isi kepala Rakha yang sedang lari kesana kemari.
Rakha menggeleng cepat, "Cuma kepikiran aja, kayanya awak sudah harus membuka hati. Ya gak harus langsung pacaran sama orang sih, senggaknya awak bisa cinta-cintaan kaya orang lah. Awak juga takut lama-lama awak bisa tidak doyan perempuan"
Trisya terkekeh geli.
"Awak serius ini Sya"
"Ya bagus deh kalo gitu. Pada akhirnya kita bakal terikat sama suatu hubungan yang lebih sakral. Kalo kamu gak buka hati dari sekarang, mau melajang sampe tua?"
"Nah itu. Awak gak mau jadi perjaka tua Sya"
Trisya ketawa, "Sebelumnya emang kamu gak pernah suka-suka gitu sama cewek Ka?"
"Kalau sekedar suka aja pernah, tapi gak sampe cinta-cinta an atau kepikiran mau deketin sampe jadian gitu"
"Syukur lah, masih normal berarti"
"HEH?!"
Trisya ketawa lepas.
"Awak emang masih normal Sya! Awak sadar kodrat awak berpasangan dengan lawan jenis"
"Hahaha, Puji Tuhan"
"Sya, awak mau tanya lagi"
"Apa?"
"Emang anak cewek kos ada yang suka awak?" tanya Rakha lagi.
Trisya tampak berpikir. Ya setau dia dan sepenglihatan nya dia, kayanya gak ada anak cewek kos yang keliatanya punya rasa ke Rakha sih. Emang ciwi-ciwi kos suka gibahin anak cowok kos yang sebenernya ganteng-ganteng, cuma sayangnya mereka udah tau bobroknya mereka jadi udah ilang selera buat suka ke mereka.
"Aku kurang tau sih Ka kalo itu" jawab Trisya tak yakin.
"Sebenernya awak juga tak percaya lah kalau ada anak kos yang suka awak. Tapi itu yang ngomong Nicho, anak itu tak mungkin lah bohong"
Trisya ngangguk-ngangguk, "Iya sih"
Mereka benar-benar percaya 100% sama ke pekaan Nicho.
"Kira-kira kamu ngerasa lumayan agak deket sama siapa gitu gak?"
Rakha mikir bentar terus menggeleng. Ya dia sih ngerasa sama aja ke semua ciwi kos Teknik.
"Bukan kau kan Sya?"
Trisya agak sedikit terkejut. Dikit aja kok gak banyak. Rakha yang liat itu buru-buru mengibaskan tanganya di udara.
"Awak yakin nggak sih"
Trisya senyum kikuk. Reflek cewek itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sorry Sya, awak asal bicara saja"
"Gapapa Ka"
🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱
Sial. Satu kata itu menggambarkan semua rentetan kejadian yang menimpa Inggi hari ini. Mulai dari masuk kelas telat di matkul yang dosen nya sensian abis. Mana sebelum itu kaki nya segala pake masuk parit karena buru-buru masuk kelas. Jangan lupakan lagi tadi doi salah masuk toilet yang tadi ada sekitar 3 orang di dalamnya. MALU WOY
Dan sekarang yang paling sial. Dari kepala sampe ke paha nya basah karena ke siram es teh. Katanya sih gak sengaja tapi yang namanya Inggi gak mungkin gak murka. Gak peduli yang dihadapannya ini adalah kakak tingkatnya, yang jelas Inggi gak terima.
"Lo tolol ya? Mana ada orang gak sengaja tapi numpahinnya dari kepala?!" tanya Inggi dengan nada meninggi. Dia udah emosi banget.
"Ya namanya gak sengaja, gue mana tau kalo tumpahnya ke kepala lo. Lagian cuma ketumpahan segelas, gak bikin lo basah kuyup gak usah lebay" jawab kating nya itu masih dengan santainya padahal urat Inggi udah segede gaban.
"Makin tolol. Posisinya gue duduk di meja pojok dan meja lo di pojok sana—"sambil nunjuk meja pojok sebelah kanan kalo di liat dari pintu masuk. Sedangkan meja Inggi dkk tuh di pojok kiri.
"Bukanya mau seudzon. Tapi kalo gak sengaja ya ngapain lo jauh-jauh lewat sini padahal meja lo disana? Masih mau ngelag kalo gak sengaja? Dan satu lagi, tadi lo bilang cuma?–" ujarnya lagi lalu menumpahkan satu gelas jus apulkat yang baru diminum sedikit.
Tepat seperti yang kakak tingkatnya ini lakukan. Inggi menumpahkan jus apulkat itu ke atas kepala gadis di depannya ini.
"Impas kan? Sama-sama sengaja dan cuma satu gelas" kata Inggi lalu beranjak pergi dari kantin yang semua pengunjungnya tengah mononton nya dan kakak tingkat nya itu.
"Dasar cewek sinting!" maki kakak tingkat nya. Baru sekitar 5 langkah, surai panjang Inggi ditarik kasar.
Kalo ada yang mikir, Inggi balik jambak dan akhirnya mereka berdua jambak-jambakan. Yak kalian betul!
Baik temen nya Inggi dan kakak tingkatnya sudah berusaha memisahkan keduanya. Tapi tenaga mereka bener-bener kuat banget. Itu jambakan gak lepas-lepas.
Sampe akhirnya ada seorang cowok yang dateng dan dengan mudahnya menarik tangan dua tangan yang masing-masing sedang menarik rambut lawannya.
"Gen cepet bawa pergi dah si Inggi" kata Salsa, salah satu teman Inggi.
Ya cowok itu Genta. Katakan lah ini takdir, karena gak ada angin gak ada ujan Genta beserta 5 temannya yang biasanya males ke kantin gedung C tiba-tiba ke sana karena gak tau mau nunggu kelas selanjutnya dimana. Dan pemandangan pertama yang Genta liat adalah segerombolan manusia yang berdiri melingkari dua gadis yang sedang melakukan aksi jambak-jambakan.
"Gue belum selesai sama dia" kata Inggi pas Genta narik tanganya buat keluar dari sana.
"Is Genta!" kesal Inggi. Merasa tidak dapat respon apa-apa, Inggi berusaha menarik tanganya dari cengkraman Genta.
"Apa?" tanya Genta dingin. Mana si Genta segala natap Inggi, ya doi jadi ciut lah.
"Gu—gue belum selesai sama tu orang"
Genta melirik arah kantin sebentar lalu beralih menatap manik mata Inggi.
"Yaudah sana lanjutin" katanya sambil melepas genggaman tanganya di lengan kanan Inggi.
Inggi masih diem. Bahkan gak gerak sama sekali.
"Kenapa? katanya belum selesai. Lanjutin lah sampe botak kalian"
Inggi berdecak sebal, "Ya gak gitu juga lah"
"Tapi dia dia duluan Gen. Gak ada angin gak ada ujan nyiram gue pake es teh. Katanya gak sengaja, tapi kok nyiramnya dari pucuk kepala kan tolol. Ya gak salah dong kalo gue siram balik pake jus apulkat. Trus dia malah segala jambak gue, ya gue jambak balik lah. Gak salah dong gue" adu Inggi pada Genta.
"Iya gak salah" ujar Genta sambil ngerapihin rambut Inggi yang udah berantakan macem sapu ijuk.
Awalnya Inggi diem aja, tapi pas dia sadar Genta ngerapihin rambutnya gadis itu langsung mundur.
"Ngapain lo?"
Genta menaikan sebelah alisnya, menurut dia pertanyaan Inggi gak perlu di jawab. Ya dia kan bisa liat si Genta lagi rapihin rambut nya, kenapa masih ditanya.
"Gue duluan" pamit Inggi lalu beranjak pergi dari sana. Tapi sebelum Inggi melangkah lebih jauh, Genta buka suara.
"Langsung masuk kelas, jangan sampe berantem lagi!"
Inggi balik badan sambil masang muka gak suka, "Lo pikir gue tipe yang sana sini diajak ribut hah?!"
Genta ketawa geli lalu mengacak rambut Inggi dengan gemas.
Rambut yang diacak-acak, hati Inggi yang berantakan. Sialan
Kos Teknik