Love Series

Por mpokkinem

859 54 446

What is love? Ini adalah sekumpulan ide random yang keluar begitu saja saat sedang melamun ಥ‿ಥ Más

Our Promise
What Kind Of Future
Selamat
Ego
Cantik
Hello, Again
Tentang Aku, Kita dan Pertemuan (From AU In The Kost)
Final chapter (From AU Aku dan Bintang)
Final chapter 2 (Epilog singkat)
Shania dan Setara

Do You Feel The Love?

99 7 65
Por mpokkinem


***



Cinta? Apa itu sebenarnya?

Jika ditanya, jawaban tiap orang akan berbeda.

Ada yang menjawab kasih sayang, ada juga yang menjawab itu adalah perasaan yang hanya dirimu sendiri tau. Tapi, apakah jika orang merasakan cinta juga merasakan sayang bersamaan?

Ya tidak tau jangan tanya, haha.

Apalagi itu jika jatuh cinta sendirian, bagaimana rasanya? 

Mau dijawab sakit ya salah sendiri jatuh pada orang tidak akan dirimu.



"Kamu sudah makan?" 

Pertanyaan ini selalu ada setiap ia menelponku.

"Sudah, lauknya ayam goreng." Jawabku lengkap. Biasanya ia akan menanyakan hal itu juga.

"Sayurnya?" 

Oh iya, aku lupa satu ini. "Warung yang biasanya tutup, cuma ayam sama nasi doang."

Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Kebiasaan, makan sayur itu-

"Iya-iya, sehat dan bagus untuk kulit agar tidak penuaan dini." Potongku, menirukan perkataan yang biasa ia katakan.  "Tadi warungnya banyak yang tutup. Cuma itu aja adanya, baru sekali ini kok."

"Makan yang sehat nak, kamu tinggal sendiri disana. Ibu ngga bisa sering datang, adek kamu masuk SMA." 

"Iya tau, lagian aku baik-baik aja. Ibu sama ayah fokus sama adek aja, aku masih bisa sendiri. Kalo ada rejeki lebih aku kirim."

"Pentingkan kebutuhan kamu dulu, ngga usah ikutan.

"Iya-iya, aku siap-siap dulu. Istirahat yang cukup, salam untuk ayah sama adek. Jaga kesehatan juga."

"Iya." Lalu sambungan kami terputus.

Aku menghela nafas melihat ponselku yang layarnya sudah hitam. Tadi ibuku, duniaku.

Kami sudah berpisah selama dua tahun ini, dan ia rutin menelponku dua kali dalam seminggu. atau mungkin bisa lebih.

Kali ini aku menatap wajahku dicermin, sembari memoleskan pewarna bibir tapi tidak terlalu banyak. Yang penting tidak seperti mayat hidup sudah cukup.

"Oke sudah." Sekali lagi aku memperhatikan diriku dicermin, lumayan tidak terlalu mirip gelandangan.

Aku keluar dan langsung mencari ojek menuju tempat kerja. 

Oh iya, aku bekerja disebuah cafe kekinian yang bukanya siang sampai malam . Jadi kalau pagi aku biasanya berada di sebuah Taman Kanak-kanak, membantu temanku yang guru disana. 

Tidak menjadi guru, tapi staff biasa yang menyiapkan beberapa keperluan. Apa itu disebutnya?

Perjalanan ku memakan waktu sekitar 10 menit dari rumah, kalau tidak macet sih. Biasanya bisa lebih dari ini.

Sampai disana salah seorang rekanku sudah datang, ia membersikan meja. Aku bergegas ke dalam lalu mengambil sapu dan juga pel, kita bagi tugas.

"Akhir pekan." Ia bersuara tiba-tiba, aku hanya menoleh.

"Bakal rame banget ngga sih?" Katanya lagi.

"Udah pastilah, pake nanya lagi." Jawabku.

"Please, gue cape sama bunyi blender."

"Ya udah, hari ini bagian kue." Kataku.

"Mager benar!" 

"Berhenti deh." Ucapku kesal, ia hanya terkekeh.

"Nyari dimana lagi kalau berhenti, jaman sekarang cari kerja susah. Apalagi lulusan SMA."

"Nah tu tau." Sahutku, ia menoleh jengkel.

"Mending lo masuk sana, kesel bet dah liat muka lu."

Aku hanya tertawa dan berjalan ke belakang. Kalau masih disitu nanti kena amuk.

***

Dijam-jam pertama setelah buka memang tidak langsung ramai atau ada pengunjung, biasanya pas sore baru ramai. Apalagi ini tempatnya cukup strategis, dekat dengan taman. Jadi jangan heran jika Nina, rekanku tadi mengeluh akhir  mendekat pekan itu cukup melelahkan. 

Tapi kali ini baru saja sejam kami buka, bunyi lonceng yang menandakan ada pengujung itu berbunyi.

Aku yang tadinya fokus dengan botol berisi chocochips menoleh ke arah pintu.

"Dia lagi." Gumamku pelan.

"Americano, strawberry cake." Ucapnya ketika sudah mendekat kearahku.

Aku hanya mengangguk lalu menyiapkan pesanannya. 

"Selamat menikmati." Kataku. Ia merimannya dengan tersenyum manis. 

Ah, bukan. Dia hanya memiliki garis senyum diujung bibirnya, makanya terlihat begitu. 

Aku hanya terkekeh, bisa-bisanya berpikir seperti itu. 

Dan seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu duduk di pojok kanan dekat jendela yang pemandangannya mengarah ke jalanan. 

Menggunakan earphone berwarna putih, ia memusatkan perhatiannya pada buku dan juga tablet hitam miliknya. 

Ia biasanya menghabiskan waktu dua sampai tiga jam duduk disitu. Bahkan aku sempat berpikir apakah tidak pegal duduk diam disitu saja, tidak kemana-mana?

"Dia sebenarnya siapa?" Tanya Nina yang tiba-tiba saja muncul disampingku.

"Kaget." Kataku melihatnya.

Tidak peduli dengan wajahku, ia masih saja menatap orang tadi. "Dari kemaren duduk disitu, pas ada yang sadar minta foto."

"Selebgram mungkin." Sahutku.

"Bisa jadi." Katanya mengalihkan pandangan. "Jangan diliat terus, nanti jatuh cinta."

Aku menoleh cepat. "Apaan?"

Nina tertawa. "Ya kali aja, lo kek ngga biasanya liatin orang sampe melamun gitu."

Aku langsung pergi dari situ, apa benar seperti itu?

"Cie salting kepergok merhatiin cowok." Nina masih saja meledek.

"MANA ADA!"

"Weits santa sahabat, kalo ngga ada jangan ngegas." Kata Nina tergelak.

"Loh pipi lu napa?" Tanya Nana, kembaran Nina.

"CIEE BENERAN." Suara Nina terdengar lagi. 

Aku yang sudah kepalang malu, mendekatinya dengan jengkel. Tapi ia malah berlari kedepan.

"HEH TUNGGU!" Teriakku tapi terkejut setelah tau kami kearah depan. 

Laki-laki tadi menoleh melihat kearahku, dan membuat ku kelagapan. "Ah maaf." Kataku sambil membungkuk.

Ia hanya mengangguk, lalu aku masuk ke dalam. 

"Nina sialan." Umpatku. 

Aku memgang pipiku yang terasa panas, kenapa tiba-tiba memerah seperti ini. Maih mengipas wajahku, suara bel dari depan terdengar.

'Kenapa dia lagi sih?' Batinku ketika melihat siapa itu.

"Terima kasih." Ucapnya menyerah beberapa lembar uang pas untuk makanannya tadi.

Belum sempat membalas, ia langsung pergi begitu saja. Jadi aku hanya memperhatikan punggungnya yang menjauh dan menghilang. 

Aku menghela nafas pelan. "Apa aku benar suka pada pandangan pertama?"

***

Tidak hanya sehari atau dua hari saja ia datang, tapi hampir setiap hari. Tapi jika diperhatikan, kecuali hari Senin sampai Rabu ia tidak datang.  Dari hari Kamis sampai Minggu ia kembali menjadi penghuni meja pojok kanan.

Dan benar saja, ia orang yang cukup di kenal. Selama empat hari berturut-turut ia disini, ada banyak bentuk orang menemuinya. Mulai dari orang berdasi, sampai hawa yang mempunyai spek bidadari.  Selama itu juga aku memperhatikannya, ia memang menjadikan cafe ini tempat kerjanya? Bisa saja, kan ada Wifi gratis.

Dilihat-lihat juga tidak mungkin ia orang seperti itu. Dilihat dari gaya berpakaiannya, santai tapi mewah, bukan menghadap sawah ya. Jujur saja, aku langsung insecure melihatnya. Apalah aku? Hanya seorang pegawai cafe biasa.

Aku bahkan hapal dengan segala aktivitas nya, mulai dari datang sampai ia pulang. Apa ini aku benar jatuh cinta padanya?

-

Hari ini hujan, mungkin karena sudah masuk musim penghujan tiap sore selalu turun hujan, padahal paginya panas.

 Hari ini juga ia tidak datang, positif thinking saja ia menunggu hujan reda. Tapi ini sudah dua hari ia tidak datang, kemana dia?

Tunggu, kenapa aku malah mencarinya? 

Aku menggeleng kepala cepat, dan kembali pada pekerjaanku. Hari ini ramai juga meskipun hujan.

-

Sampai pukul 8 malam, hujan masih saja belum berhenti. Cafe sudah kami tutup, Nina dan juga kembarannya sudah dahulu pulang. Aku tidak mungkin menumpang, nanti malah mirip cabe diguyur hujam. Sisa aku sendiri, yang tidak bisa pulang karena tidak ada tumpangan dan juga payung.

Menunggu lagi 30 menit, tapi hujannya masih belum berhenti. Mau tidak mau aku harus menerobos, kalau menunggu lagi malah nginap disini.

Keluar ruangan hawa dingin langsung menerpa tubuhku, karena aku sudah jompo , jadi dengan cepat aku memeluk tubuhku sendiri.

Lebat sih tidak, tapi pasti basah. Jadi ya sudah lah, mari membuat tubuh menjadi lebih renta.

Bersiap menerobos, tiba-tiba ada payung menutupiku.

"Ayo bersama." Kata si pemilik payung.

Aku diam karena masih mencerna apa yng terjadi, ini dia. Orang itu.

"Ke mana aja?" Tanya ku refleks, kemudian menutup mulut setelah itu.

Ia tertawa kecil. "Sambil jalan." katanya menggenggam tanganku.

Tangannya besar dan hangat, tanganku tenggelam digenggamannya. 

Tidak ada yang membuka suara selama kami berjalan, hanya suara hujan.

"Aku punya sesuatu." Katanya, lalu memasang earphone ditelingaku.

Aku hanya diam mendengarkan apa yang ia putar, bukankah ini aku? Hehe, tidak salahnya berharap.

"Dua hari ini aku sibuk, besok aku berangkat." Katanya ketika kami sampai di kost ku.

"Seminggu aku akan keluar kota untuk persiapan lagu terbaruku, kamu mau nunggu?"

Aku mengernyit heran. "Maksudnya?"

Ia tersenyum. "Ingat dengan kertas-kertas kecil di pesananku? Jawabannya disitu."

"Sudah sampai, masuk gih. Dingin." Katanya.

Tidak banyak bicara, aku langsung masuk. Apalagi harinya dingin.

Aku berbalik ketika sampai didepan pintu, ia tersenyum lagi. Apakah perasaanku terbalaskan? 

***

Dia benar-benar pergi hari ini, aku mengetahuinya dari pesan yang ia kirimkan tadi pagi. Dan aku tidak tau dari mana ia dapat kontakku.

Sampai cafe aku langsung teringat dengan perkataannya kemarin, kertas-kertas kecil. Dan kebetulan, aku tidak pernah membuangnya, itu kukumpulkan.

Aku menyatukan lima kertas kecil yang ternyata ada tulisan di sana, dan selembar kertas kosong. 'Do You Feel The Love?', jika disatukan. Aku bingung, apa maksudnya? 

Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti ini? Aku benar-benar membuatkan cake strawberry itu sepenuh hati. Aku masih penasaran apa ini? Kemudian beralih pada kertas kosong.

Dan aku baru sadar, ini ditulis menggunakan air lemon. Aku lalu menuju lampu, itu kode.

Pesan tiba-tiba masuk, dan pengirimnya dia. Oh namanya Shaka. 

'Udah liat kan? Sekarang buka ini' 

Aku mengklik tautan yang ia kirimkan, dan mengikuti petunjuk disana. Sampai akhirnya terbuka sebuah tulisan panjang.

"Hai, aku tau kalau kamu berpikir aku orang aneh. Tapi sepertinya iya, aku benar-benar aneh. Hari minggu, ditaman dekat TK mesra. Disitu pertama kali kita bertemu, ngga sadar kan?

 Pernah dengar fall in love at first sight? Sepertinya itu terjadi padaku, dan sampai sekarang sangat berharap bisa menyampaikan ini padamu. Tapi ternyata ini sulit, aku terlalu penakut. Bahkan kadang bertatapan denganmu saja aku bingung, yang kamu liat sebenarnya itu topeng.

Bahkan waktu kita pualng bersama aku merasa sangat gugup. 

Aku sengaja selalu datang ke tempat kerjamu karna ingin melihatmu saja, mendengarmu berteriak, juga tertawa. Seperti penguntit ya? 

Semoga setelah kamu baca ini, semoga kita tidak canggung. Jujur aku harus bagaimana mengutarakannya, jadi seperti ini saja.

Ah ini terlalu panjang, nanti kita bertemu lagi."


Aku terkekeh setelah membaca isinya.  Jadi,Perasanku terbalas?



Selesai


AWOKAWOKAWOK...




Seguir leyendo

También te gustarán

84.4K 5.6K 45
Menikah itu impian setiap orang? Tapi tidak seperti ini?!!!!!
37.8K 2.7K 26
ketika orang yang kamu cintai ternyata mencintai orang lain itu yang di rasakan sana karena harus membagi cintanya pada wanita lain karena kekasihnya...
251K 19.5K 21
Tentang cinta dalam sebuah group antara Jaemin dan Renjun.
299K 20.2K 24
Sebenarnya apa yang dicari dalam sebuah ikatan pernikahan?
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas