"Bos, kalo misal diem-diem Rea juga punya perasaan ke lo, gimana?" tanya David sambil menghirup benda berasap nikotin yang ada ditangannya.
Alvin tersenyum miring. "Tergantung de'e, sakjane aku yo berharap si,"
-tergantung dia, aslinya gue juga berharap si,"
"Terus?" sahut Destin.
"Belum waktunya, sembuhin dulu baru mulai hubungan lagi," jawab Reza selaku cowok paling cool dan bijaksana diantara teman-temannya.
"Jangan terburu-buru, Vin. Rea kasihan kalo harus menerima lo dengan keadaan lo yang masih belum bisa move on dari Calista."
"Kalian kenapa sih? belum tentu juga Rea mau sama gue," Alvin berkata seenak jidat.
"Ngegorok leher lo halal kan, bos?" ucap Destin mempertajam netra matanya.
"Lo udah kaya, lo punya segalanya, dan yang paling penting lo cukup sama satu cewek." David memutar bola matanya malas, padahal cowok bertipe seperti Alvin banyak diminati beberapa perempuan di Indonesia.
"Cabut aja yok, bantuin gue bentar," ajak Alvin melangkah keluar dari lorong WC sekolah itu.
"Ngapain?" tanya Reza.
"Ikut aja."
Ke 3 temannya hanya bisa saling tatap menatap lalu meninggalkan tempat keramat yang tidak lain adalah markas mereka sendiri.
Sesampainya di kelas, mereka ketinggalan jam pelajaran pertama seperti biasa.
"Loh, si Rea gak berangkat?" tanya Alvin saat melihat kursi di sampingnya itu kosong.
"Dia sakit, tadi ngasih chat lewat WhatsApp ke bu Rina." Jawab Safira, bendahara kelas yang pernah ia tampar waktu itu.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya paham, sepanjang pelajaran cowok itu terus melamuni gadis sederhana yang bahkan tidak terlalu mencolok di mata cowok lain.
"Alvin!" sentak bu Rina menyadarkan cowok yang sedari tadi melamun di bangku pojok belakang.
"Eh iya, Rea. Kenapa?" jawab Alvin terbawa oleh lamunannya.
Sontak se isi kelas terkejut dan melebarkan matanya.
"kayaknya ada yang lagi jatuh cinta, nih," ucap Ica membuat pipi cowok itu memerah karena kata-kata yang ia lontarkan.
"Apaan sih lo, Ca!" Alvin memutar bola matanya malas.
"Ciee."
satu demi satu gulungan bola kertas terbang ke arah Alvin, membuat cowok itu sedikit kesakitan karena goresan kertas tajam yang sesekali mengenai kulitnya.
"Sudah sudah," urai bu Rina.
"Jangan lupa pajaknya ya,Vin." lanjut guru tersebut melempar spidol ke arah Alvin.
"Lo juga jadi guru ikut-ikutan bae." ujar Alvin menghindari spidol dari wali kelasnya itu.
••••
"Ma, pa. Kalo misal Alvin pacaran lagi boleh gak?" tanya putra dari keluarga Anggara.
Bu Berlin, pak Dirga dan Alesha tersedak secara bersamaan, tidak percaya dengan apa yang cowok itu katakan.
"Yang serius, bang," bentak Alesha kasar, melebarkan kedua bola mata mungilnya.
"Kali ini gue serius, Sha."
Seketika beberapa tepukan tangan mendengung di ruang makan itu.
"Anak gue nih, bos." ujar pak Dirga bangga.
"Kalo boleh tau dia siapa, nak?" tanya bu Berlin penasaran.
"T-tapi..."
"Biar aku jelasin dulu, mah, pa!" bentak Alvin memukul meja makan, membuat beberapa gelas dan piring mengeluarkan bunyi nyaring.
"Monggo den bagus," jawab Alesha menundukan tubuhnya serta menjulurkan tangan kanannya, memperbolehkan cowok itu agar menjelaskan keadaan yang sedang ia alami.
"Cewek yang Alvin taksir keluarganya hancur, dia sekarang tinggal sendiri, mah." keluh Alvin, takut jika keluarganya tidak merestui hubungan yang akan ia jalani.
Bu Berlin tersenyum, mengerti dengan perasaan yang sedang dialami putranya. "Terus?"
"Hmm, mama sama papa emang mau ngerestuin hubungan Alvin? secara keluarga cewek yang Alvin taksir itu hancur, dan..." Alvin ragu dalam kata-kata yang akan ia lontarkan selanjutnya.
"...dan dia juga dari keluarga sederhana, pa. Derajatnya jauh dari kita."
Mendengar penjelasan dari putranya, pak Dirga dan bu Berlin diam sejenak, lalu menertawai pola pikir dari anak mereka.
"Kalian pikir mama sama papa dulu langsung jadi orang kaya yang punya segalanya?" tanya bu Berlin.
Alvin dan Alesha menggelengkan kepala.
"Dulu, waktu mama sama papa masih pacaran hidup kita itu susah, bahkan susah banget kalo dibilang."
"Tapi... mama sama papa usaha biar bisa sukses karena kita tau usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil," sahut pak Dirga mengambil satu sendok lauk di depannya.
"Dan hasilnya ya gini, papa sama mama kamu sekarang jadi orang sukses dan bisa ngebiayain hidup kalian, se'enggaknya bisa buat makan biar tetep hidup."
"Jadi... direstuin gak?" tanya Alvin gugup.
Orang tua dari cowok itu hanya terkekeh melihat kepolosan putra mereka.
"Ya di restuin lah ganteng." jawab bu Berlin Dan pak Dirga secara bersamaan, menghampiri meja makan anaknya lalu memberikan pelukan hangat ke Alvin.
"Alesha nggak?" wajah gadis yang sedari tadi diam itu berubah menjadi sedih lalu mengerucutkan bibirnya.
"Anak papa sama mama harus dapet pelukan yang sama, tapi kalo yang satu ini kayaknya butuh kecupan juga." ujar bu Berlin menggoda Alesha lalu menerjunkan satu kecupan di kening gadis itu.
"Jadi, kapan anak papa mau jadian?" tanya pak Dirga.
"Kalo udah tepat aja waktunya, pah. Takut gak di terima," keluh Alvin merasa resah.
"Loh, harus optimis dong, Vin. Mama sama papa dukung kamu kok, tapi kalo gak diterima berarti emang kamunya aja yang dekil," sahut bu Berlin.
Alvin menghembuskan nafasnya kasar, lalu terkekeh kala melihat tingkah kedua orang tuanya yang masih asik bersenda gurau dengan adik semata wayangnya itu.
"Alvin bakal bawain orang spesial buat mama sama papa." ujarnya menaiki anak tangga, lalu beranjak mengambil jaket denim yang ia gantung di belakang pintu.
"Mau ke mana?" tanya Alesha
"Bukan urusan lo, kucing gue nanti jangan lupa kasih wiskas punya lo dulu, gue belum beli," ucap Alvin berlari ke arah garasi mobil yang terparkir di samping rumah.
"Kucing lo dari kemaren gue kasih makan nasi ikan asin doang, gak rela kalo kucing gembel kayak gitu dikasih makanan mahal. Mubadzir," jelas Alesha panjang lebar, tidak rela jika kucing hitam itu memakan wiskas yang ia beli.
"Serah lo."
-MARKAS CRYSTAL GANG-
Kini Ica dan Tiara tengah asik bermain boneka Barbie yang mereka beli dari toko mainan.
Sedangkan Reza, Destin dan David asik dengan game di ponselnya.
"Pyak pyak, mati lo barbie," ucap tiara mendorong barbie milik icaa.
"Dih apaan lo barbie ghaib, sini gue rukyah dulu."
Dengan segera, Icaa mengambil air yang sudah ia racik dengan serpihan bumbu yang sudah tertulis di wadah tempat barbie itu dikeluarkan.
Dengan mantra yang ia komat kamitkan, kini serpihan bumbu itu mengeluarkan asap berwarna warni yang sangat indah.
Setelah disiram, boneka milik Tiara seketika berubah warna dan mengeluarkan suara. "Ay, ay, ay i'm your little butterfly."
Icaa dan Tiara kagum lantaran mainan barbie yang mereka beli dengan harga 2 juta itu ternyata bisa berubah warna serta dapat mengganti ekspresi wajahnya sendiri.
"Gue bosen nih," ujar David.
"Gue gak."
"Gaje banget hidup lo," sahut Reza memuat bola matanya malas.
Semua sorot mata kini beralih ke mobil Alphard yang memarkirkan diri di samping markas, itu adalah mobil milik bos mereka, Alvin Anggara.
Pria tampan itu berjalan memasuki markas dan duduk di sofa kosong samping Reza.
"Sorry gue telat, tadi ada urusan sebentar,"
"Urusan apa emang?" tanya Reza masih sibuk dengan game yang ia mainkan.
"Biasalah... bisnis," jawab Alvin menyibak-nyibakkan anak rambut yang menutupi matanya.
"Bisnis bodong?" sahut Destin.
"Matamu! tadi gue habis beli motor, gak tau tiba-tiba aja mood gue pengin mampir ke dealer motor," jawab Alvin dengan datar.
"Terus, mana motornya?" Tanya David.
"Mau gue hadiahin buat Rea," jawab Alvin penuh harapan, berharap Rea mau menerima motor yang ia beli.
"Lo... mau nembak pake motor?" tebak David tercengang dengan apa yang akan dilakukan oleh Alvin.
Cowok itu mengangguk, membuat se isi ruangan menghentikan aktivitasnya secara bersamaan.
"Edan po koe!" sahut Tiara.
-Gila kali lo!-
"Diem lo beban, Alvin mending make uang segitu buat beli motor, dari pada lo dua juta cuma buat beli boneka waria." ujar Destin mengejek anggota cewek itu.
"Jadi, lo mau nembak kapan?" tanya Reza. Netra matanya menatap Alvin dengan sungguh-sungguh.
"Rahasia." jawab ketua dari Crystal gang itu, lalu beranjak ke dapur markas berniat membuatkan kopi dan teh hangat untuk anggotanya.
"Tumben bos kita rajin," bisik David.
"Biasa, bos kalo lagi seneng mah gitu, padahal belum tentu juga di terima."
Saat Destin mengeluarkan kata-kata itu, seketika satu sendok melayang dari arah dapur, tepat mengenai jidat anggota paling muda di markas crystal gang.
Pak Dirga: duh, bentar lagi punya cucu nih gue.
Bu Berlin: berani nyentuh suami saya langsung saya santet di tempat.
Alesha: Alesha mau ngajakin pacar baru bang Alvin buat ikut event cosplay bareng ah!
Icaa: ini kenapa tiba-tiba barbie gue jadi siluman luak anjir.
••••