Transmigration Freak!!! [END]...

Por IchaSunny

759K 100K 3.3K

Elora Raneysha hanyalah seorang mahasiswi semester akhir yang hampir menyelesaikan skripsinya. Namun dia haru... Más

PERINGATAN
[01] Transmigration
[02] Aileen Ercyxi Grace
[03] New Life
[04] Life Plan
[05] Theodore Roosevelt
[06] The World Is Cruel
[07] Leopard Gillard
[08] Self-Defense
[09] Hypocritical Technique
[10] Math Test
[11] Save The Moon
[12] Little Bunny Girl
[13] Singing Like An Angel
[14] Movie
[15] Princes Son
[16] Parfume
[17] Same Scent
[18] Why So Similar?
[19] Be Gentle
[20] Bullying
[21] Escape
[22] Partner
[23] Tease You
[24] Is This Reality?!
[25] Harem?
[26] Dream Or Reality
[27] Mirah Band
[28] A World That Feels Unfair
[29] That Trauma
[30] What's Wrong?
[32] New Teacher?
[33] Mussic Club
[34] Who's The Girl?
[35] Three Juniors Clinging
[36] Guts's Test
[37] Trapped
[38] Secret Admirer?
[39] Who?
[40] The Truth
[41] The Truth (2)
[42] First Meeting With You
[43] The Misunderstanding Ended
[44] The Memories
[45] Matcha
[46] She's Not Aileen
[47] Guilt
[48] Caught
[49] The Trapped Angel
[50] Killing That Trash
[51] Just Back Where It Should Be
[52] Everything Revealed
[53] Plan To Reply
[54] Princess's Past
[55] Revealed
[56] Last Judgment
[57] Is It True?
[58] A Show For You
[59] Marriage And Promises Between Us
[60] End of Journey (End)

[31] Sick

13.2K 1.8K 45
Por IchaSunny

"Aku dengar kamu ke stadion semalam, selain Eric dan Viole, kamu bawa dua gadis. Itu siapa?" Gadis berambut rose gelap menatap Xaviero tajam dengan tatapan curiga dan marah.

Xaviero melirik nya malas, melanjutkan membaca buku di tangannya. "Bukan urusanmu."

"Itu urusan ku! Kau tunangan ku. Aku berhak tahu siapa gadis yang berada di sekitar mu." Gadis itu menggebrak meja. "Dari yang aku tahu, kau sepertinya menempeli seorang gadis, bukannya itu yang kemarin di bioskop? Gadis yang menggendong bayi? Itu yang kau tiduri bukan? Dia ada bersama mu semalam! Apa kau berencana selingkuh dengannya?!"

"Diam lah, Rosalyn." Xaviero membanting bukunya ke meja, meskipun sudah berusaha tenang, dia tetap tidak bisa menjaga ketenangannya kali ini. "Aku sedang bicara baik-baik padamu, tutup mulutmu."

Rosalyn tidak terlihat takut sama sekali, dia justru bersandar di meja dan menatap Xaviero geli. "Selagi bicara baik-baik? Kau lucu, Vier."

"Jangan panggil aku dengan nama itu. Kau tidak pantas." Desisnya, menatap penuh kebencian gadis ini. Jika dia bisa, jika saja dia bisa, dia pasti sudah membunuh parasit ini sejak lama.

"Kau tidak ingat perjanjian itu? Kau ingin menentang? Kau ingin menanggung konsekuensinya? Kau tahu bahwa permaisuri bukan lah orang yang lunak kan?" Rosalyn tersenyum licik, "bagaimana lagi... Jika itu mau mu..."

"Jangan coba-coba..." Xaviero menahan giginya yang bergemelatuk menahan emosi.

Rosalyn tersenyum penuh kemenangan. "Jika begitu, jadilah baik dan menurut lah. Sebelum aku menyingkirkan apa yang membuat ku kesal." Gadis itu tersenyum iblis, "namanya Lumine Asgard, kan?"

"Berapa?"

"Apa itu, Xaviero sayang?"

"Berapa mata-mata yang kau kirim?"

"Tidak mungkin aku beritahu bukan?" Gadis itu tertawa, "percuma saja berusaha melindunginya selama ini, kau tahu. Aku ini memiliki kuasa untuk memantau tunangan ku sendiri, kau tidak bisa menolak."

Xaviero mengepalkan tangannya, bahkan kini cairan merah mengalir dari kepalan tangan yang teramat kuat itu.

"Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku sayang..." Rosalyn mengedipkan sebelah matanya, "aku bukan gadis yang sabar." Setelah mengatakan itu, gadis iblis itu melenggang keluar kamar, meninggalkan Xaviero yang melampiaskan emosinya dengan menonjok cermin hingga pecah berserakan di lantai.

"Sial!"

//*TF*//

Ercy demam, dia hanya terbaring lemas di atas ranjang. Wajahnya pucat dan tubuhnya sangat panas. Lumine sampai menginap untuk menjaga Ercy, karena bibi Mei sibuk mengurusi Leo yang rewel.

Lumine memeras kain dan menempelkannya ke kening Ercy. "Nona Ercy, apakah sudah merasa lebih baik?"

Ercy mengangguk. "Aku baik. Terima kasih, maaf sudah merepotkan." Suaranya sengau, gadis itu bahkan batuk-batuk beberapa kali.

Lumine memainkan jemarinya, nampak ragu untuk bertanya, tapi pada akhirnya memutuskan buka suara. "Nona Ercy... Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah ada yang menggertak mu di stadion? Atau kah ada yang lain?"

Ercy menunduk, jelas tidak siap dengan pertanyaan itu. Dia memiliki terlalu banyak rahasia yang sudah dia kubur dalam-dalam, dan dia bingung untuk menjelaskan.

Dia juga tidak siap untuk menggali luka kembali.

Ercy memasang wajah menyesal, "maafkan aku... Aku..." Dia meragu sejenak sambil menatap wajah Lumine.

Lumine menyadari jika Ercy tidak mau membicarakan nya, jadi dia tersenyum penuh pengertian. "Aku mengerti. Nona Ercy bisa bercerita jika sudah siap. Aku akan menunggu."

Ercy merasa tidak enak hati, "maaf, Lumi. Bukan berarti aku tidak percaya padamu. Aku justru mempercayai mu dan menganggap mu sahabatku. Aku hanya... Tidak bisa membicarakan ini sekarang. Terlalu menyakitkan untuk diingat." Ercy memejamkan mata, berusaha menghalau ingatan-ingatan tidak enak di kepalanya.

Pintu di ketuk dan bibi Mei muncul darisana, "nyonya Ercy, tuan Theo ada di bawah."

Ercy mengangguk dan bibi Mei kembali turun untuk memanggil lelaki itu.

"Nona Ercy, kau tau? Theo sangaaatt khawatir padamu. Dia bahkan kehilangan selera makan setelah melihat mu begitu kesakitan dan ketakutan di stadion. Dia selalu membicarakan mu, memikirkan mu. Dia bahkan terlihat semakin lesu ketika kau sakit. Theo itu begitu menyayangi mu, nona Ercy."

Ercy terenyuh. Dia tahu Theo perhatian dan sayang pada Aileen, tapi tidak dia duga, lelaki itu juga sama pedulinya padanya. Meskipun dia bukan Aileen, meskipun dia bukan sahabat asli Theo, lelaki itu tetap menganggap nya sama. Meskipun Theo tahu bahwa mereka adalah jiwa yang berbeda, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus.

Benar saja ucapan Lumine, Theo masuk ke kamar itu dengan wajah lesu dan kantung mata menghitam di bawah matanya. Raut wajahnya terlihat khawatir dengan kondisi Ercy saat ini. "Ercy, bagaimana kabarmu? Apakah masih pusing?"

Ercy mengangguk, "aku belum bisa pergi ke sekolah besok. Mungkin lusa aku baru bisa."

"Istirahat saja sampai kau benar-benar sembuh." Theo membuang muka, "sampai kau benar-benar bisa sekolah."

"Maaf, aku belum bisa bilang padamu Theo. Ketika waktunya tepat barulah aku akan mengatakannya pada kalian berdua. Sebenarnya ini bukan masalah besar--"

"BUKAN MASALAH BESAR?!" Sentak Theo, membuat kedua gadis itu tersentak kaget. "Kau menggigil ketakutan dan menangis sambil mengigau maaf, kau bilang bukan hal besar?! Itu trauma berat, Ercy! Apakah kau begitu santai hingga menganggap hal-hal serius semacam itu adalah hal kecil?! Justru hal itu bisa mempengaruhi kejiwaan mu!"

"Ugh..." Ercy kehilangan kata-kata. Baru kali ini dia melihat Theo benar-benar marah, dan sejujurnya dia tidak siap.

"Hei, Ercy..." Theo duduk di kasur, tepat di depan Ercy. Matanya tajam namun Ercy bisa membaca suasana hatinya dengan jelas. "Ceritakan padaku masalah mu. Apapun itu. Aku sahabatmu. Kecuali jika kau tidak menganggap aku, maka aku akan mengerti mengapa kau memilih diam."

Ercy panik, dia mencengkeram lengan Theo, "maaf! Bukan berarti aku tidak menganggap kalian. Hanya saja... Menceritakan trauma itu memaksa ku untuk kembali mengingatnya. Aku benar-benar tidak ingin mengingat apapun! Itu menyakitkan... Kumohon mengertilah..." Ercy merasakan dadanya sesak menahan tangis. "maaf, aku janji, suatu hari nanti, ketika aku siap, aku akan ceritakan. Aku mohon..." Dia terisak pelan lagi.

Theo menggigit bibirnya dan menarik Ercy ke dalam dekapannya. Dia memeluk punggung gadis itu, dan menyenderkan kepalanya ke dada bidangnya, guna memberikan kehangatan yang dia bisa. Ercy tidak menolak dan kembali menangis di dada Theo.

Dia bukan orang yang cengeng. Dia bukan orang yang lemah. Dia bukan orang yang akan menangis di depan orang lain dan merepotkan mereka. Dia tipe memendam segala rasa sakitnya untuk dirinya sendiri.

Namun kini, dia tidak bisa menahan apapun lagi.

Mungkin, dia harus belajar berbagi rasa sakitnya dengan orang yang bisa mengerti dia. Dia mungkin bisa meringankan bebannya.

Ercy merasa lemah saat ini, jadi dia hanya bisa menangis, berharap ingatan buruk tidak kembali dan menghantui nya lagi setiap malam. []

TBC

Sesuai judul, sick ini ada dua jenis di chapter ini. Rosalyn yang sakit mental, dan Ercy yang sakit demam, wkwkwk

Maaf kalo aku ga bisa balas komen di chapter sebelumnya satu satu, jadi aku mau terima kasih disini, makasih banyak buat yang udah baca ^^ maaf kalo update nya kelamaan, ehehehe

Sampai jumpa di next chapter ^^

Bye bye!!!

Seguir leyendo

También te gustarán

782K 100K 31
"Impian gue untuk memiliki kost penuh cogan akhirnya terwujud!" Guina Landoko adalah seorang mahasiswi semester 6 yang merupakan maniak cogan, diusia...
271K 17.4K 38
Rasa sakit teramat sangat dirasakan Geisha setelah menangis beberapa saat, hanya karena sebuah novel yang membuat tokoh kesayangannya berakhir tragis...
336K 27.4K 88
[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!! ] #Series one transmigration "Pada akhirnya, kau akan menjadi orang asing yang tau semua rahasiaku" Olivia, seorang...
18.3M 1.5M 55
#1 in roman Agustus 2021 #1 in pregnant juli 2021 #1 in toxicfamily Juli 2021 #1 in tanggungjawab Agustus 2021 #1 in mba Agustus 2021 #1 in chicklit...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas