Shinichi mulai diamankan oleh Kou agar dia bisa beristirahat kembali untuk sebentar, kali ini Shinobu dapat mengerti tentang kondisinya itu dimana ia juga mau membantu demi kondisinya itu.
Tetapi Kou meminta mereka semua untuk tidak ikut campur dengan permasalahan rumit itu, yang dibutuhkan oleh Shinichi hanyalah sebuah ketenangan.
Dan tentunya ketenangan itu berasal dari Neneknya sendiri yaitu Kou dimana ia mulai menggunakan The Mind program dalam kepalanya itu sampai mengakses secara langsung pikiran Shinichi.
Mata mereka yang saling memandang memberikan semacam koneksi dimana Kou bisa merasakan sistem [Overlord] berlebihan di dalam kepalanya sampai ia tahu bahwa Shinichi masih terbebani.
Kou mampu menahannya karena kapasitas yang dimiliki oleh program dalam The Mind tidak mempunyai batasan apapun.
The Mind miliknya menyampaikan beberapa pesan dan peringatan kepada Shinichi dimana tubuh berhenti bergerak ketakutan.
Proses itu mulai dilakukan pelan-pelan sampai Kou dapat merasakan pertahanan Shinichi yang begitu lunak dalam hati dan otaknya itu.
Mau tidak mau Shinichi harus melepaskan segala hal yang dipertahankan di dalam dirinya itu, ia langsung menangis di hadapan Kou seperti anak kecil yang benar-benar lelah.
Shinichi langsung memeluk tubuh Kou hanya untuk melampiaskannya pada Neneknya itu yang tentunya sangat dia percayai dengan kehidupannya sendiri.
Sesosok Nenek yang bisa memperbaiki kesalahannya terhadap Ibundanya yang sudah tiada, Shinichi terus menangis agar bisa melepaskan semua beban yang menyangkut dalam pikiran dan hatinya itu.
Kou di sana berdiri tegak selagi menerima pelukan itu dengan penuh kasih sayang, walaupun Shinichi adalah sesosok Legenda pria yang kuat.
Dia juga tetap memiliki sisi kelemahan yang dapat membuat dirinya terlihat lemah seperti ini dengan menangis layaknya seperti anak kecil karena kelelahan.
Mental Shinichi memang belum sepenuhnya kuat karena sejak kecil sampai remaja semua itu belum dia asah sama sekali hingga selalu saja akan berada di titik kelelahan yang begitu dahsyat.
Kou memberikan beberapa usapan pada kepalanya itu dimana tubuh robotnya mengeluarkan semacam arwah halus yang dapat memeluk Shinichi dari belakang agar ia bisa merasa tenang lebih cepat.
Tangisan yang dilepaskan Shinichi terdengar jelas oleh Shinobu dimana ia saat ini sedang berdiri tepat di hadapan pintunya itu dengan ekspresi serius.
"... ..." The Mind Shinobu bereaksi dengan sendirinya untuk menangkap beberapa pelampiasan itu.
Dan ternyata dugaannya benar bahwa Shinichi adalah sesosok pria yang selalu memaksakan dirinya sendiri dalam menerima informasi berlebihan hingga dirinya tak bisa menanganinya sekaligus.
Dia memerlukan ruangan lebih, dan Shinobu yakin bahwa dirinya pasti akan terbiasa ke depannya terutama lagi dengan konflik keluarga yang dia miliki dengan Beatrice saat ini.
"... ..." Shinobu melangkah pergi untuk menikmati pipa rokoknya pada malam hari yang damai dan indah.
Membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk Shinichi merasa tenang sampai kepalanya mulai enteng sekarang, dia juga kembali tersenyum kepada Kou dengan ikhlas.
Terkadang kelemahan miliknya itu memang hanya bisa diurusi dengan tangisan serta orang yang mau mendengarkannya.
Shinichi langsung bangkit secepat mungkin selagi menepuk wajahnya tanpa henti, "Baiklah... tidak ada waktu lainnya yang harus dihabiskan dengan bersedih."
"Aku seharusnya sudah tahu konsekuensi serta risiko yang harus dihadapi."
"Ya... tapi..." Shinichi dan Kou menatap satu sama lain dengan ekspresi kebingungan seketika.
""Bagaimana bisa orang yang masih hidup memiliki versi lain...?"" Keduanya bertanya secara bersamaan hingga memicu tawa kecil juga di antara mereka.
"Mungkin bukan hanya orang yang sudah tiada saja, kalau tidak salah kalian semua tiba di dalam botol ini karena proses pembentukan Touregniration bukan?"
"Benar... poin pentingnya pasti berada di proses pembentukan dimana aku sendiri sempat mati rasa ketika berada di dalamnya."
"Hm! Itu artinya Shinichi sendiri memiliki versi yang lain!'
"Ya, jika dipikirkan kembali itu memang masuk akal..."
"...aku harus membiasakan diri untuk tidak 'hahhhhh!!!' begitu. Intinya terlalu dramatis lah." Shinichi menghela nafasnya dimana Kou langsung menepuk kepalanya pelan.
"Terkejut sedikit itu tidak apa kok, bisa dibilang cukup normal ketika kau bertemu dengan seseorang yang tak disangka-sangka."
Shinichi memegang dagunya sendiri, "Yang sangat tidak aku sangka adalah bertemu dengan Koizumi kecil, aku sempat mengira diriku memimpikan semacam masa depan?"
"Yah dari penampilannya saja mereka cukup mirip."
"Ada perbedaan yang sangat besar loh." Shinichi langsung membandingkan dada Koizumi asli dan yang kecil sampai ia merasa kecewa seketika.
"Maksudku adalah rambut hitamnya yang beda posisi, dan dia juga tidak menggunakan pin unik berlambang jam yang aku sukai."
"Aku kira kamu membicarakan tentang hal lain."
"Apa itu?"
"Sikapnya."
"Aku tidak tahu banyak sih, tetapi sepertinya dia adalah sesosok putri dimana sikapnya tak jauh berbeda dari sesosok putri yang terlalu membanggakan dirinya itu."
Beberapa menit kemudian, Shinichi menghadap secara langsung kepada semua orang untuk meminta maaf karena sudah memberikan banyak sekali kerepotan.
Terutama lagi untuk Haruka dan juga Rokuro yang tidak merasa keberatan sama sekali, "Tidak apa-apa, anggap saja seperti rumah sendiri."
"Dikarenakan dunia di luar sana sedang dalam bahaya, ada baiknya untuk beristirahat dengan damai di dalam rumah barumu ini." Ucap Haruka.
Shinichi tersenyum, "Kalian baik sekali, padahal aku tidak melakukan banyak hal yang bisa dibilang berlebihan."
"Hahahahaha!" Rokuro langsung tertawa keras ketika Shinichi mencoba untuk merendah.
"Kamu ini Shiratori yang sangat humoris ya, Shinichi."
"Padahal kenyataannya kau benar-benar menyelamatkan nyawa yang sangat bermanfaat untuk dipertahankan!"
"Seandainya jika kau tidak ada di sana maka diriku sudah pasti takkan pernah bisa menemui anggota keluarga yang sangat aku cintai."
"Papa! Jangan berbicara seperti itu!" Seru Koizumi yang mulai berdiri di atas kursi dengan ekspresi kesal.
"Koizumi, duduk yang benar!"
"Tetapi yang dikatakan oleh Papa itu sangat menyebalkan!"
"Heh? Apa ini, Koizumi? Katanya kamu sudah siap untuk hidup mandiri tanpa Papa, ahahaha!"
"Uuuuuuu! Menyebalkan!" Koizumi kembali duduk selagi menyilangkan kedua lengannya dimana ia langsung melirik ke arah lain.
Haruka hanya bisa tertawa kecil lalu ia menepuk kepala Rokuro, "Bicaranya memang suka sembarangan ya, dasar suamiku ini."
Shinichi dan Kou terdiam ketika melihat keharmonisan keluarga Shimatsu yang bisa dibilang berbeda, dari sikapnya saja sudah beda jauh sampai Kou hanya bisa tersenyum.
Dia tahu bahwa Rokuro yang asli adalah sesosok Legenda tegas dimana sikapnya sudah dipastikan dingin hingga tidak bisa memperlihatkan kebahagiaan apapun secara terang-terangan.
Berlaku juga untuk Koizumi yang bisa mempertahankan ketegasannya itu sampai ia memiliki harga diri yang begitu besar untuk terus dipertahankan.
Haruka sepertinya mendapatkan sedikit sikap dari Rokuro asli dimana ia cukup dingin dari luar, tetapi kenyataannya terdapat kehangatan yang sangat besar di dalam dirinya.
"Aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa, tetapi hanya ini yang bisa aku berikan padamu." Rokuro memperlihatkan banyak sekali makanan yang dibuat oleh mereka.
"Tidak perlu berlebihan, ini saja sudah cukup kok." Shinichi mengangguk.
Dia mulai berpikir bahwa Koizumi harus melihat versi lainnya dari Rokuro dan Haruka yang ada di dalam dunia gelembung itu terutama lagi dirinya yang terlihat seperti gadis kecil.
Shinichi menyadari tentang Shinobu yang pergi entah kemana, Hotaka dan Menma juga tidak ada di dalam ruangan itu.
"Kemana yang lainnya?"
"Hotaka sepertinya sedang menemani Menma pergi menuju rumah sakit agar bisa mengurusi nyawa Super Legend yang sedang dalam kritis."
"Koneko seperti biasanya sibuk mengurusi beberapa kasus yang perlu dipecahkan di luar sana. Dia juga tidak ingin memenuhi ruangan ini dengan asap rokok." Jawab Rokuro.
"Kalau begitu semuanya, mari kita menikmati makanan ini bersama!!!"
""Selamat makan!!!""
Shinichi mulai menatap mangkuknya itu yang dipenuhi dengan sup, ia hanya bisa memperlihatkan senyuman lebarnya itu karena dia baru saja merasakan sebuah peristiwa menghangatkan.
Ini pertama kalinya dia bisa menikmati makan malam bersama dengan kedua mertuanya itu, sebuah mimpi yang benar-benar ingin dia capai secepatnya.
Ketika dia mengambil satu sendok yang dipenuhi dengan sup itu, ia langsung mencicipinya hingga kedua matanya terbuka dengan sangat lebar.
Keterkejutan yang dia rasakan saat ini berbeda karena isi mulutnya diledakkan dengan rasa...
...rasa yang sangat tidak enak seperti memakan makanan basi dan juga mentah.
Shinichi menyadari wajah Koizumi dan juga Rokuro yang hanya bisa tersenyum lebar selagi menahan rasa menjijikkan itu di dalam mulut mereka.
Ekspresi yang diperlihatkan oleh Shinichi sempat disadari Haruka, "Shinichi, apakah makanan itu tidak kamu sukai...?"
Shinichi mencoba untuk menahannya tetapi kedua telapak tangannya itu terus bergetar mencoba untuk menutupi mulutnya itu agar dia tidak memuntahkan sesuatu yang sedang dikunyah.
Rokuro menendang kaki Shinichi sampai ia langsung menatapnya dimana kedua matanya tertutup rapat selagi memperlihatkan senyumannya itu walaupun sedang mengunyah
Shinichi langsung menelannya dengan penuh tenaga, "Rasanya enak sekali... w-wah, aku sudah berpikir untuk menambah lebih banyak."
"Senangnya~ kalau begitu aku akan menambahkan porsi yang lebih banyak untukmu besok, Shinichi!"
"Tidaakkkkkkkkkkkk!!!"