Sebisa mungkin Retta berusaha untuk tetap bertahan dengan apa yang kedua orang tuanya tekankan. Kamu harus jadi dokter. Katanya, agar mencapai hasil yang sempurna harus melewati proses yang panjang. Tapi proses yang panjang itu bukan kah butuh usaha yang besar? Dan usaha apabila tak ada minat bukan kah sia-sia?
Sekeras apapun usaha Retta memahami materi, mengerjakan latihan soal dan sampai pada saat menjalankan ujian...
"Tunjukkan ke kita kalau kamu bisa!"
... Retta masih bodoh. Ia tidak bisa memenuhi permintaan Mama dan papanya untuk jadi peringkat atas.
Oleh karena ia masih ingin jadi anak yang diharapkan Dean juga Sonya, Retta terus mengeluarkan usahanya. Setiap saat berkutat dengan berpuluh-puluh buku. Merelakan waktu bersantai-santainya demi sampai ke peringkat dua. Tapi itu belum cukup....
Retta menyoret kasar tinta hitam di atas lembaran buram akibat tak kunjung menemukan jawaban. Hingga kelas hampir penuh, ia masih belum menyelesaikan satu latihan soal. Pikirannya benar-benar buntu.
Laki-laki itu masuk tepat saat bel berbunyi nyaring. Ketika dirinya berhasil mendudukkan bokongnya ke kursi, Retta menelan ludahnya. Ia jadi ingat kejadian malam tadi. Tentang bagaimana seorang Retta menangis lalu menceritakan segala kesedihannya yang entah kenapa malah pada Rey, si anak baru.
Retta belum sempat mengatakan apa-apa ketika guru kimia mulai memasuki kelas dan memberikan salam. Maka semuanya pun membalas. Guru kimia tersebut tanpa banyak bicara langsung menuliskan spidol ke papan putih sambil menerangkannya di sela-sela.
Oke, cukup main-mainnya. Waktunya Retta kembali menjadi anak harapan orang tuanya itu. Berpura-pura menjadi orang lain. Yang melelahkan batinnya.
☁️☁️☁️
"Hari ini waktu latihan anak basket!" Haidar menyeletuk kesal pada segerombolan siswa ekskul lain saat di lapangan.
"Mana ada! Yang ada tuh sekarang waktunya anak paskib yang latihan! Lo coba deh liat langit. Mendung kan? Nah ntar kalau hujan, kita pada ga bisa latihan lagi kayak kemarin!!" seru salah satu siswa perempuan ikut tersulut emosi.
"Yaelah, hujan mah yaudah tinggal hujan. Gausah latihan ribet amat," nyinyir Haidar.
Rey, Vando dan Elang di belakangnya sedari tadi hanya berdiam diri tanpa mau ikut berdebat. Mereka menyerahkan semuanya pada ahlinya.
"Anak basket mah bisa latihan di lapangan indoor yee."
"Sayangnya lapangan indoor ga ada mataharinya."
"Lah, ngapa tiba-tiba jadi matahari?"
"Ya karena jadi ga panas oneng!"
"Justru yang butuh panas itu kita. Kalau ga panas bukan anak paskib namanya!"
"Ini apaan sih rame-rame?" Tiba-tiba suara lain datang menyela perdebatan pagi itu.
Lea dengan rambut dikuncir tinggi juga baju khas cheerleading itu berdiri di tengah-tengah Haidar dan si gadis paskibra. Matanya memandang malas pada si gadis.
"Ngapa ni bocah?" tanya gadis itu heran.
Naomi yang juga memakai pakaian yang sama seperti Lea ikut mendekat. "Anak paskib pindah dulu, deh."
"Hah? Apa maksud tiba-tiba ngusir??" sahutnya tak terima.
Lea merotasikan bola matanya sekali lagi. Badannya terarah penuh menghadap si gadis paskibra ini. Sedangkan Haidar di belakangnya ketar-ketir mengetahui jaraknya dengan Lea yang terbilang dekat.
"Sebentar lagi ada tanding basket. Pak Agam sendiri yang bilang, nyuruh anak paskib ngalah dulu, lapangan mau dipake anak basket plus anak cheers. Masih mau protes?" Lea berujar kelewat santainya.
Si gadis paskibra itu terlihat begitu kesal. Ia menghentakkan kakinya sebagai pelampiasan. Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia mengajak para rombongannya pergi meninggalkan lapangan.
Haidar terpesona dengan apa yang dilakukan Lea. Sejak awal Lea masuk ke area lapangan dan berhasil mengakhiri perdebatan antara Haidar dan si.... Eh tunggu! Haidar mulai berpikir yang iya-iya, mengenai gadis ini apakah cemburu melihatnya dengan gadis lain?
"My Baby Lea help Romeooooo!!!!" teriak Haidar begitu histeris.
Lea yang masih membelakanginya berdecak. "GR ya ni orang?"
Kemudian semuanya mulai fokus pada latihan. Seperti yang dibilang Lea, akan ada pertandingan. Tim basket sekolah lain akan datang ke sekolah ini, SMA Lentera. Dan tentunya para anggota cheerleading dibutuhkan untuk memberi support.
Mereka latihan hanya sebentar. Mengetahui mereka mengambil jam istirahat. Sebelum kembali masuk kelas, beberapa anak cheers masih duduk-duduk ria di kursi tribun. Dengan Naomi dan Lea yang berada di kursi paling atas.
"Lo suka sama dia?" Lea tiba-tiba bertanya pada Naomi yang sedari tadi tak mengindahkan tatapannya dari laki-laki beralis tebal disana.
Naomi yang tak siap diberi pertanyaan begitu tertegun. "A-apaan sih?? Ya enggak lah." Matanya kini mencari objek lain untuk ditatap.
"Your eyes tell." ungkap Lea. Gadis itu menyilangkan kedua kakinya dan mengambil salah satu botol minuman dingin di sekitar situ untuk ia minum segera.
"Beneran kok. Gue cuma... ah, akhir-akhir ini dia baik banget ke gue---"
"Lo ga menyalah artikan kebaikan dia, kan?" Lea menutup tutup botol lalu meletakkannya di dekat pahanya. Matanya mendadak memicing ketika melihat gadis kuncir kuda itu lewat di depan segerombolan anak cheers. "She's here," kata Lea menyenggol bahu Naomi.
Naomi tersenyum melihat gadis itu. Senyuman tanda akan ada bencana. "Haiiiii Aretta Valerie! Sendirian aja, temennya manaaa??" Naomi menyapa dengan volume sebesar-besarnya. Seakan semua orang disini harus mendengar juga.
Retta berhenti berjalan. Ia mendongak ke atas tribun. Memandang tak suka ke arah Naomi serta Lea yang sedang tertawa.
"Sssttt sejak kapan dia punya temen?" celetuk Lea masih tertawa.
"Mau gabung ga, Ta?" tawar Naomi yang makin mendapat pandangan tak suka dari Retta.
"Shut up!" balas Retta sembari kembali berjalan.
"Oh no, it's so f*cking lonely!"
Naomi segera saja berdiri. Kemudian menuruni tribun dan mengikuti kemana gadis kuncir kuda itu pergi.
Langkahnya terhenti di dekat tangga. Naomi langsung menarik pergelangan tangan Retta secara kasar. Membawa dia ke balik tangga agar tak ada yang melihat.
Tanpa aba-aba Naomi melonggarkan ikatan rambut Retta. Membuang ikatan rambut itu jauh sampai tak terlihat. Tak cukup hanya disitu, Naomi mendorong kedua bahu Retta kelewat kencang.
Retta terjatuh di antara tumpukan kardus-kardus yang ada disitu. Ia mendengus, sedang tak ada tenaga untuk melawan.
"Lo nyadar ga sih, Ta?" Naomi bertanya yang sama sekali tak ditangkap maksudnya oleh Retta.
Naomi makin mendekat pada Retta. Ia berjongkok sembari mengambil dagu Retta. Ia pandang netra hitam itu dengan pandangan paling benci di seluruh muka bumi. Retta pun membalas dengan pandangan yang sama.
Kedua orang itu seakan-akan bicara dalam hening.
Setelah agak lama mereka diam, Naomi menarik beberapa helai rambut Retta. Ia bagi dua dan ia satukan dengan cara diikat. Retta buru-buru menghempas tangan Naomi sebelum ikatan rambutnya jadi rapat dan susah dilepas.
"Ga ada kerjaan?" Retta mendengus. Ia mendorong bahu Naomi balik lalu ia berdiri.
"Ta, gue tau lo heran, kan?" Naomi ikut berdiri.
Retta mengangkat satu alisnya. "Heran apa?"
"Kemarin lo ngasih gue pertanyaan, kenapa gue terus ganggu lo. Sekarang, apa lo masih pengen tau?" tanya Naomi sembari menyisir rambut Retta dengan jemari. Lalu 5 detik ke depan, ia orak arikkan.
Ada 2 tipe manusia ketika lelah dengan hidup; yang pertama, dengan melampiaskan rasa sakit ke orang lain lalu yang kedua... pada diri sendiri. Mereka adalah dua manusia yang saling menutup diri, menutup berbagai rasa sakit yang dialami dengan menyakiti satu sama lain. Namun, tentunya masih ada bedanya.
"Mau gue kasih tau sekarang?"
"Banyak om---"
"Retta!" Suara lain dari arah belakang Naomi mendekat.
Rey tanpa berbicara apapun meraih tangan Retta untuk segera dibawa pergi. Menjauhi Naomi, yang kini menendang kardus kesal.
☁️☁️☁️
Lorong sekolah sepi sekarang. Murid-murid sudah memasuki kelas sejak 10 menit lalu bel berbunyi.
"Stop, Rey!"
Genggaman erat itu otomatis terlepas. Mereka berhenti tepat di depan sebuah kelas kosong. Retta menggelengkan kepala lalu Rey menghela napas dalam diam.
"Lo berantem lagi sama Naomi?"
"Bukan urusan lo," balas Retta memalingkan wajah.
"Urusan gue." tandas Rey. "Lo lupa kemarin gue ngomong apa?"
"Lo ga perlu ngelakuin hal itu."
Hening.
"Dan soal kemarin, please lupain. Anggap gue ga pernah cerita kayak gitu ke lo." Kali ini Retta mengangkat wajahnya. Menunjukkan rautnya yang terlihat begitu... lelah.
"Kalau akhirnya gini..." Rey berhenti sejenak untuk mengambil oksigen. "Harusnya ga perlu nunjukin sisi lo yang itu, Ta."
"Maaf, kemarin gue cuma kebawa suasana. Gue cuma, butuh, temen buat gue bagi cerita." kata Retta lirih.
"Yaudah."
"Apa?"
"Gue mau jadi temen lo, Aretta."
~To Be Continued~