GIBRAN UNTUK PRIMILLY

By maissylst__

4.3K 383 21

Mencintai manusia paling cuek bukanlah keinginan Prim, tapi di cintai oleh Gibran adalah impiannya. "Senyumn... More

PROLOG
1. || PINGSAN
2. || PENOLAKKAN
3. || USIL
4. || KALI PERTAMA
5. || BANGUN CHEMISTRY
6. || ICE CREAM
7. || GIBRAN PRANATA CHANDRA
8. || RUMAH GIBRAN
9. || AH TIDAK!!!
10. || SENYUMAN
11. || ALGA SAGATA
12. || KANGEN LALA OLIV
13. || PERHATIAN
14. || BERUANG KUTUB
15. || MALAM MINGGU
16. || CELOTEH GIBRAN
17. || MASIH DENGAN GIBRAN
18. || FAVORITE DIALOG
20. || MEROBEK SUNYI
21. || SOAL GOSIP
22. || LEO
23. || HANYA KAMU
25. || DI RUMAH PRIM.
26. || GIBRAN DAN PRIMILLY
27. || DOUBLE DATE.
28. || PENYAKIT PRIM
29. || TIDAK BERSAMA GIBRAN
30. || PENAT
32. || BERTEMU EMILY
33. || AJAKAN
34. || ANTARA PRIM, BELLA DAN ALGA
35.|| ALGA BRENGSEK!
36. || SURAT DARI EMILY.
37. || PECAHAN TANGIS
38. || KESEDIHAN PRIMILLY.
39. || BAPER
40. || KADO UNTUK GIBRAN
41. || 8 MEI
41. || SEUSAI ITU....
42.|| PENGAKUAN
43. || TERBONGKAR
44. || SEBUAH JANJI
45. || HILANG KABAR
46. || BERTEMU GIBRAN.
47.|| BUCIN
48.|| MENELAN NASIB
49. || IKHLAS
50. || PUISI GIBRAN
51. || MENYAMBUT RINDU.
#menujuending
52. || LDR
53. || RINDU YANG TRAGIS
54. || SENYAP.
55. || SEBUAH TAKDIR.
56. || TIDURLAH YANG TENANG
EPILOG

31. || MERACIK MOMENT

49 7 0
By maissylst__

Sebuah moment akan menjadi lebih berkesan jika Aku melibatkan mu di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di jam istirahat Prim menolak ajakan Bella yang mengajak dirinya ke kantin, hari itu Prim tidak memiliki rasa semangat seperti hari biasanya. Gadis itu lebih memilih duduk sendiri di dalam kelas, walaupun kenyataannya Gibran malah menemani Prim di kelas. Gibran memperhatikan tingkah gadis itu yang tampak tidak menghampirinya, Prim memasang tatapan kosong, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

"Lo sakit?" tanya Gibran

Prim tidak mendengar suara lelaki itu, ia masih bergelut dengan pikirannya. lalu Gibran melemparkan pulpen dirinya ke arah Prim hingga menyentuh pada bagian bahunya. Hal itu membuat Prim tersadar sehingga ia menoleh ke arah belakang, tepat dimana lelaki itu duduk di kursinya.

"Apa Gibran?" tanya Prim sembari tersenyum.

"Lo nggak makan?"

"Oh iya Prim sampai lupa, Prim punya bekal buat Gibran. sebentar ya." ucap Prim sembari merogoh tas nya.

"Ini buat Gibran." ucap gadis itu ketika berdiri di hadapan Gibran.

Gibran mendongak menatap Prim yang menunjukkan wajah lucunya, seketika membuat Gibran menghela nafas. Prim mengernyitkan dahinya melihat Gibran yang tiba tiba menatap tanpa arti.

"Kenapa?"

"Duduk."

"Kenapa Gibran?"

"Udah gue bilang berapakali sih, lo jangan jadi bego untuk diri lo sendiri."

"Lah, emang Prim ngelakuin apa?"

"Lo ngasih gue bekal, sedangkan lo belum makan."

"Prim lagi nggak laper."

"Gue nggak mau."

"Yaudah kalau nggak mau terserah, Prim taro disini. Bayy."

Prim meninggalkan Gibran dengan sekotak bekal roti keju serta susu kotak strawberry. Gibran melepaskan pandangan pada gadis itu yang sudah tidak terlihat lagi. lelaki itu memperhatikan kotak bekal yang masih tersimpan di mejanya.

"Lo kenapa sih peduli banget sama gue?" gumam pada batinnya sembari mengambil bekal tersebut.

***

Di rumah sakit dokter menjelaskan mengenai keluhan yang di derita Prim, rupanya benar Prim mengidap Kanker otak. Penyakit itu ada karena faktor dari keturunan, Prim terkejut tidak bisa bicara apapun selain berharap kepada Tuhannya. Ia terus menatap hasil secarik kertas yang memberitahukan hasilnya. Duduk sendiri di tengah keramaian rumah sakit, gadis itu memejamkan matanya seakan berharap itu hanyalah mimpi.

Dengan kondisi nya yang seperti itu Prim tidak ingin dulu memberitahukannya kepada Aneu dan Jefri, Prim takut kondisi dirinya semakin merepotkan mereka. Gadis itu melangkah pergi untuk pulang ke rumah. Namun saat keluar dari rumah sakit, Prim berpapasan dengan Gibran. lelaki itu memperhatikan Prim yang terlihat pucat, sedangkan Prim masih kalut dengan pikirannya sehingga tidak menyadari adanya Gibran.

"Heh lo, ngapain disini?"

"Gibran."

"Lo sakit?"

"Ngg-nggak. Prim abis jenguk temen. terus Gibran ngapain disini?" Prim menyembunyikan kertas putih yang berada di genggamannya.

"Bu Jeni minta gue jagain Emily sebentar."

"Kalau Gibran jagain Emily, yang jagain Prim siapa?"

"Lo kan nggak sakit."

"Emang harus sakit dulu ya, biar bisa di jagain Gibran."

"Ikut gue." ajak Gibran menuju kamar rawat Emily.

Gibran menarik pergelangan tangan gadis itu, Prim mengikuti langkahan Gibran dengan keadaan tangannya yang masih di genggam.

"Mau Kemana?"

"Gibran, Prim nggak suka lama lama di rumah sakit."

"Prim mau pulang Gibraaann." Prim mengoceh hingga membuat Gibran menghentikan langkahannya.

Gibran menatap mata gadis itu, lalu melepaskan genggaman tangannya. Gibran mengangguk pelan, membiarkan Prim pergi untuk pulang ke rumah. Gibran tak berkata pada gadis itu, ia kembali melanjutkan langkahannya.

Prim memperhatikan setiap langkahan lelaki yang sudah pergi, pandangan yang tidak lepas dari Gibran seketika membuat Prim kembali mengikuti Gibran. ia berlari lalu kembali menggandeng lengan lelaki itu. Prim mendongakkan kepalanya sembari tersenyum, Gibran hanya menoleh dan mengalihkan pandangannya lurus kedepan.

"Prim mau pulang bareng Gibran."

"Gue nunggu Emily dulu."

"Iya. Prim tungguin kok."

"Yakin?"

"Iya Gibraaaannn."

Gibran tidak melepaskan gandengan Prim sampai berada di ambang pintu ruang rawat Emily. Prim melihat gadis seusianya itu terbaring lemah di ranjang dengan selang infus yang menempel di tangan kanannya. Gadis itu menoleh pada kedatangan Gibran dan Prim, ia tersenyum pada keduanya. Prim tertegun menatap Emily, rupanya gadis itu adalah gadis yang pernah ia perhatikan dari jarak jauh. Gadis yang ia kasihani ketika duduk di kursi roda sendiri sembari melamun.

"Emily, ini temen gue."

"Primilly."

"Aku Emily."

"Gibran inikan perempuan yang waktu---" ucapan Prim terpotong oleh Gibran.

"Iya."

"Gimana keadaan Kamu Em?" tanya Prim mendekat.

"Ya gini aja." ucap Emily tersenyum.

"Sebelumnya Prim pernah lihat Emily dari kejauhan waktu duduk di kursi roda."

"Oh ya?"

"Kamu sakit apa?"

"Prim." sebut Gibran untuk tidak membahas penyakit yang di derita Emily.

"Nggak apa apa Gibran, Prim kan mau tau, Aku sakit Kanker leukemia atau kanker darah."

"Ya Allah." jawab Prim terkejut, menutup mulutnya oleh kedua tangannya.

Prim seketika meneteskan air matanya teringat dengan penyakit yang di deritanya. Prim tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dirinya seperti Emily, hanya bisa berbaring menyusahkan orang orang di sekitar Prim. ia memeluk Emily begitu lembut, menatap rasa kekhawatiran dirinya terhadap Emily.

"Emily harus kuat ya."

"Iya Prim. Kamu kenapa nangis?" tanya Emily mengusap bahu Prim.

"Prim sedih, kalau Prim di posisi Emily. Prim nggak tau bakalan kayak gimana."

"Prim nggak boleh bayangin kayak gitu. Aku yakin, hidup Prim jauh lebih beruntung daripada Aku."

Prim mengangguk pelan lalu menggambarkan senyuman di wajahnya. Sebetulnya ia tak yakin dengan kalimat yang di ucapkan Emily.

Sementara Gibran yang sedari tadi berdiri di belakang Prim, mendengarkan dialog keduanya membuat dirinya mendekat lalu menarik bahu Prim pelan sehingga ia memutarkan tubuh gadis itu menghadap ke arahnya.

"Ada apa sama lo?" tanya Gibran masih menempelkan kedua tanganya di bahu Prim.

"Apa Gibran?" Prim mendongak tapi matanya tak berani menatap lelaki di hadapannya.

"Lo itu suka bercerita, kenapa nggak di ceritain ke gue?"

"Apa sih Gibran, Prim cuma sedih lihat Emily berjuang sendiri."

"Dia nggak berjuang sendiri Prim, Dia dapat dukungan dari gue dari lo dari orangtua nya biar bisa sembuh dari penyakitnya."

"Udah udah, kalian nggak mau lihat Aku sedih kan?" tanya Emily tiba tiba.

"Maaf Em."

"Yaudah daripada sedih Kita cerita yang lain aja ya." ucap Emily.

"Oh iya Prim Kamu udah kenal Gibran lama?"

"Prim kenal Gibran waktu di mos, Gibran yang terlihat misterius."

"Oh yah? Prim temenan sama Gibran dari kapan?"

Pertanyaan Emily membuat Prim bercerita panjang tentang kisah bertemu dengan Gibran hingga bisa menjadi teman dekat. Namun Prim tidak menceritakan bagian dimana ia mencintai lelaki itu.

Emily di buat tertawa pelan, saat Prim mencoba memeragakan dinginnya Gibran. hal itu membuat Gibran tersenyum tipis. Tingkah Prim mengundang kehangatan di dalam ruang rawat Emily.

Gibran memperhatikan setiap bagian wajah Prim begitu dalam. Ia memperhatikan kedua mata Prim dengan bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, alisnya yang hitam natural, pipinya yang tembem, cara berbicara nya yang berisik, gambaran tawanya, tatapannya yang tulus, semuanya membuat Gibran tersenyum. Apakah Gibran sudah jatuh cinta dengan Prim? Gibran tidak bisa menemukan jawabannya, yang jelas Prim tetap menjadi gadis paling berisik.

.

.

.

.

GIMANA NIH? SUKA GA? NGGAK? YAHHH, PADAHAL GIBRAN UDAH NGGAK DI BIKIN DINGIN DI BAB INI :( KALAU ADA YANG SUKA, MAKASIH YA. JANGAN LUPA VOTE.:)

Continue Reading

You'll Also Like

1M 42.4K 90
"Haha Kapan jalannya?" "Ini lagi ganti baju" "Vc dong! Pengen ngelihat" "Abang! Alii ganj ,- "Apaan sih, ngadu ngadu bang zidan segala! Umur berapa...
ZERGAN By jijel

Teen Fiction

23K 355 21
zergana agraish. cowo dengan wajah nyaris sempurna, disisi lain mereka akan ketakutan apabila melihat sisi iblis dari lelaki itu, meskipun begitu ban...
145K 10.5K 48
⚠️⚠️⚠️⚠️ PERINGATAN: Cerita ini murni hasil pemikiran pribadi penulis. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, alur, tempat, maupun kejadian, hal tersebut...
242 49 14
"Lo itu cuek,tapi gue suka,lo itu pinter,tapi gue juga suka,gak ada yang nggak gue suka dari lo Al,yang pasti lo selalu jadi yang pertama di fikiran...
Wattpad App - Unlock exclusive features