"Kenapa lagi?" tanya Arsen ketika mereka sudah sampai di basemen gedung apartemennya. Sedari tadi istrinya malah terlihat bengong. Selesai parkir mobil dan mematikan mesin pun, istrinya tetap diam.
Antara emang lagi bengong atau tertidur dalam keadaan mata terbuka? Apa itu gaya model baru tidur wanitanya?
"Kita udah sampai, loh. Masih mau diam di mobil?" Arsen meniup telinga Nira. Membuat wanita itu akhirnya menoleh dengan wajah kebingungan.
"Hah! Kenapa, Mas?"
"Kamu kenapa? Kok bengong terus. Sedari tadi diajak ngomong malah diem aja."
"Oh, maaf nggak denger."
"Mikirin apa?"
"Ehmmm, nggak papa."
"Beneran?" Arsen memicingkan mata seperti tak percaya dengan apa yang diucapkan wanitanya itu. Atau bisa jadi ia memang kecapean. "Yaudah. Ayo turun."
Nira menurut tanpa bantahan. Mulutnya sedang malas untuk berdebat. Ucapan bocah itu membuatnya jadi memikirkan hal buruk. Entah kenapa maksud ucapan itu seperti mengarah ke pernikahannya yang baru hitungan hari.
Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di kamar apartemen Arsen. Melihat pintunya saja membuat Nira jadi teringat ketika pertama kali ia menginap disini. Dan tak disangka malah kini ia datang kembali dengan status yang berbeda.
Ketika pintu ditutup, Arsen memeluknya dari belakang dan langsung mencumbuinya. Membuat Nira sulit untuk menolaknya. Selalu saja bisa membangkitkan gairahnya.
"Pelan pelan ya. Masih sakit," ucap Nira disela kegiatannya.
"Hemmm. Harus makin sering biar nggak sakit lagi," elaknya dengan suara serak.
See? Sungguh ucapan lelaki itu tidak bisa dipercaya. Tetap saja selalu mencari celah ketika lengah.
Nira pun hanya bisa pasrah ketika Arsen menggendongnya ke kamar mereka.
***
Nira melangkah gontai di lorong kampus. Badannya serasa remuk diajak begadang terus oleh Arsen. Sepertinya gairah lelaki itu sedang tinggi-tingginya deh. Nira hanya bisa berdecak heran dengan tingkah suaminya itu.
Kalau saja mata kuliah kali ini bisa bolos, rasanya ia masih ingin meringkuk dibawah selimut. Sayangnya kesempatan bolosnya sudah habis. Bisa-bisa nanti dirinya harus mengulang. Dan bertemu kembali dengan dosen matematika bisnis tentu saja bukan hal yang diinginkan Nira.
Suasana kampus pagi ini belum begitu ramai. Hanya baru terdapat beberapa mahasiswi yang sedang bergerombol di depan perpustakaan. Obrolan mereka terlihat seru, entah sedang membicarakan apa.
Diantara kerumunan itu, Nira tidak begitu familiar dengan wajah-wajahnya. Ia akui memang jarang bergaul dengan kawan seangkatan bahkan sekelasnya. Dirinya termasuk kupu-kupu.
Kuliah pulang kuliah pulang.
Daripada berkumpul tidak jelas, ia memang lebih suka untuk segera sampai di kosan, lalu beristirahat.
Mengingat kosan, sepertinya ia harus mampir sebentar untuk melihat mantan kamar tercintanya. Barang-barangnya memang masih disana. Belum sempat dipindahkan.
Jam kuliah Nira lebih seringnya malam. Tapi terkadang ada jam jam mata kuliah yang harus ia ambil pagi. Yang syukurnya, tempatnya bekerja membolehkannya masuk setengah hari bila ia sedang kuliah pagi. Terpenting kerjaan beres. Tentu saja Nira merasa beruntung memiliki pekerjaan yang mendukung kuliahnya.
Lebih beruntung lagi, ia malah menikah dengan pemimpin perusahaan itu. Mirip sekali dengan cerita cerita di novel yang sering dibacanya.
Kelas yang ditujunya sudah terlihat. Ia pun bergegas masuk, lalu duduk di bangku tengah. Belum banyak yang datang. Hanya baru dua tiga orang. Nira hanya menyapa sekedarnya saja.
[Beres kuliah langsung pulang saja. Tidak usah masuk kerja.]
Chat dari Arsen membuatnya mengernyit. Enak sekali ngomong begitu. Nanti kalau atasannya ngomel bagaimana.
[Tidak bisa pak. Kerjaan saya belum kelar. Udah ditunggu sama Pak Indra.]
[Atasannya Indra siapa? Ya saya juga kalau dibilangin suami tuh nurut.]
Dih, dasar egois! Nira hanya bisa menggerutu dalam hati. Sudah berapa hari dirinya tak masuk kerja dengan alasan urusan keluarga. Bisa kena SP nanti kalau sekarang tidak masuk lagi.
[Tapi .... Yaudah. Terserah bapak aja.]
Nira langsung mematikan ponsel, ketika dosen yang ditunggu akhirnya datang. Ia pun tak sadar ternyata ruangan kelas sudah terisi.
"Tugas yang saya kasih Minggu lalu, langsung di kumpulkan di depan ya."
***
Nira sedikit celingukan melihat keadaan sekitar. Ngeri takut si brondong itu tetiba nongol lalu merecokinya. Mana suaminya tuh punya insting tajem banget pula kalau udah berhubungan dengan lelaki lain yang mendekatinya. Seperti kejadian waktu lalu. Bisa bisanya nongol mendadak.
Dirasa aman, Nira langsung memutar anak kunci, lalu menutupnya kembali. Entah kenapa ia jadi seperti maling yang mengendap-endap. Padahal ia kan masuk ke kamarnya sendiri. Bahkan tanpa sadar ia sampai menahan napas.
"Fyuhh! Akhirnya bisa masuk kamar juga."
Nira memindai kamarnya. Barangkali ada yang berubah posisi. Aman. Semua masih ditempatnya.
"Rasanya berat sekali mau pindah dari kamar ini."
Nira berkeliling kamar seraya mengingat masa masa yang telah lalu. Dari yang belum ada apa-apa, hanya baju beberapa biji, itupun hanya di taruh di dalam tas saja, sampai akhirnya ia punya lemari kecil, menyusul perlengkapan lainnya. Memang tidak begitu banyak dan mewah isinya. Tapi disinilah perjuangannya.
Capek berkeliling, Nira merebahkan tubuh di kasur tipisnya. Kosannya ini termasuk tempat yang nyaman untuk beristirahat. Tidak berisik. Apalagi kebanyakan isinya adalah para pekerja.
"Tidur bentar enak kali ya ..."
Baru saja hendak menjemput alam mimpi, suara pintu yang digedor membuyarkan kedamaiannya.
"Ya ampun! Siapa sih tuh orang. Nggak sopan banget!"
Khawatir suara berisik itu mengganggu kenyamanan orang lain, bergegas Nira bangkit dari tidurnya. Lalu memutar anak kunci. Ketika pintu terbuka, cengiran khas dari seorang pemuda dengan baju seragamnya, menampilkan giginya yang rapi, membuat Nira sedikit geram.
"Kenapa harus menggedor pintu seperti itu sih? Emang nggak bisa ketuk baik-baik?"
Bukannya menjawab, pemuda itu langsung nyelonong masuk begitu saja, tanpa dipersilakan. Melihat kelakuannya, membuat Nira semakin kesal.
"Udah, Mbak. Jangan ngomel terus. Nanti cepet tua loh. Saya kesini tuh cuma kangen. Masa udah berapa hari ini, batang hidungnya nggak keliatan. Saya kan jadi rindu loh."
Pemuda itu duduk begitu saja di depan televisi. Lalu menyalakannya. Nira hanya bisa mengelus dada dengan tingkah absurd pemuda ini.
Exhale. Inhale.
"Kok kamu tau sih saya ada di kosan?" tanya Nira penasaran. Padahal kan ia sudah mengendap-endap. Bahkan dijamin seratus persen, tadi tuh tidak ada orang yang berkeliaran disekitar kosan.
"Radar saya tuh sudah disetel untuk mengetahui keberadaan mbak ada dimana. Ya jelas dong saya tau mbak sedang berada disini atau tidak," jawabnya dengan enteng.
"Masa sih?" Nira hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mau tidak percaya, tapi pemuda ini mengatakannya dengan mimik serius. Mau tak mau, ia pun ikut duduk tak jauh dari pemuda itu.
Penampilannya terlihat berantakan dari terakhir mereka bertemu. Kaos belel, celana jeans sobek sobek, ada bulu bulu halus di sekitar pelipis.
Kalau diperhatikan pemuda ini tidak terlalu jelek. Alis matanya terlihat rapi, bulu matanya bahkan lentik seperti wanita. Nira saja kalah jauh. Bulu matanya pendek, bahkan sering rontok. Belum lagi bibirnya terlihat kemerahan. Padahal Nira pernah melihat pemuda ini merokok.
"Saya ganteng ya, Mbak? Sedari tadi serius amat ngeliatin saya. Kan jadi malu nih."
"Dih." Nira langsung membuang muka. Malu juga ketauan memperhatikan orang. Ia pun langsung berdiri mengambil minum.
"Malu ya? Lucu banget kalau lagi malu. Makin cantik."
Oh, astaga! Pemuda ini sungguh menyebalkan.
"Kamu mau ngapain sih kesini? Ganggu orang tidur aja."
"Ya kan tadi udah bilang. Saya kangen. Udah berapa hari nggak ketemu. Berkarat nih rindunya."
"Ish ish." Sebenarnya pemuda ini lucu. Tapi tak mungkin Nira berkata jujur. Nanti malah makin kegeeran ini bocah satu.
"Kalau mau tidur ya tidur saja. Nggak bakal saya apa-apain kok."
"Kamu mau tau tidak perkataan lelaki yang tidak bisa dipercaya?"
"Apa?"
"Pertama, aku sayang kamu. Kedua, janji nggak ngapa-ngapain."
"Iya sayang kamu juga."
"Dih, itu bukan ungkapan ye."
"Tapi saya beneran loh."
"Au ah."
"Eh, saya bawa cemilan nih." Pemuda itu membuka tasnya yang ternyata berisi berbagai macam cemilan.
"Kirain itu tas isinya buku mata pelajaran."
"Itu mah nggak penting. Saya nyatatnya sudah cukup di otak saja. Ngapain juga harus saya catat di buku. Nggak level."
"Masa?"
"Nih saya bawa jajanan kesukaan Mbak. Ayok, dimakan. Nggak usah malu malu ya."
Mau diusir seperti apapun, rasanya memang percuma. Tidak mungkin pemuda ini mau nurut begitu saja. Nira hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Nira pun mengambil salah satu jajanan kesukaannya, yang herannya memang benar, semua jajanan yang pemuda itu bawa memang favoritnya. Nira tak mau berpikir lebih jauh atau kebingungan, bagaimana pemuda ini bisa tau tentang semuanya. Makin mumet nanti pikirannya.
"Saya sudah tau nanti mau lanjut kuliah dimana."
"Dimana?"
"Universitas prima bangsa."
"Uhukkk." Nira langsung mengambil air di gelas yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Kenapa? Kok langsung kesedak?"
"Nggak papa. Kenapa kamu mau kesitu?"
"Ya biar saya semangat kuliahnya dong."
"Emang apa yang membuat semangat?"
"Kan ada mbak juga disana."
"Kalau kuliah tuh, semangatnya untuk diri sendiri. Bukan karena orang lain. Kan nanti kalau kamu maju yang untung kan kamu sendiri."
"Ya nggak seru dong, Mbak. Justru karena melihat orang yang disuka jadi makin semangat."
Nira jadi bingung. Pemuda ini beneran suka atau bagaimana. Lagipula dirinya kan sudah menikah. Jadi tak tega mematahkan hatinya.
"Belajar yang bener. Kalau kamu nanti sukses, mau pilih perempuan seperti apapun kamu tinggal tunjuk doang."
"Kalau saya maunya cuma mbak gimana?"
"Kamu belum aja nanti ketemu wanita yang cantik yang bakal meluluhkan hati kamu. Dan tentunya jauh lebih cantik dan lebih segalanya dari saya. Pada saat itu terjadi, kamu juga jadi lupa dengan saya."
"Memangnya hati saya apaan. Bisa semudah itu bolak balik perasaan."
"Ya barangkali saat ini kamu hanya kagum. Bukan suka seperti apa yang kamu kira. Masuknya cinta monyet."
"Kita lihat saja nanti. Akan seberapa lama rasa ini akan bertahan. Apakah benar ini hanya cinta monyet semata atau cinta yang memang tulus," ucapnya menatap netra Nira langsung.
Saat mengucapkannya, Nira melihat kesungguhan di mata pemuda itu. Bahkan sampai membuat bulu kuduknya merinding.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
***
Hai gaes ada yang rindu? Maaf ya aku lama banget updatenya. Super duper banget sibuknya. Kalau dipaksain juga ga bakal bagus.
Duh Nira jadi galau ga nih😅
Oiya ada info nih. Cerita aku yang judul:
- Cinta wanita biasa
- Cinta terlarang
- Diajak nikah brondong
- Istri yang tak mau mengurus suaminya
- misteri kampung mistis
Sudah ada di ebook ya gaes. Tinggal klik aja namaku. Happy reading