SKAVA {ON GOING}

By ladyszara

1.1M 60.3K 4.2K

Mengisahkan sepasang pemuda yang harus menjalani pernikahan sakral, pernikahan yang dibuat bukan berdasarkan... More

CAST
SATU
DUA
TIGA
EMPAT
LIMA
ENAM
TUJUH
DELAPAN
SEMBILAN
SEPULUH
SEBELAS
DUA BELAS
TIGA BELAS
EMPAT BELAS
LIMA BELAS
ENAM BELAS
TUJUH BELAS
DELAPAN BELAS
SEMBILAN BELAS
DUA PULUH
DUA PULUH SATU
DUA PULUH DUA
DUA PULUH TIGA
DUA PULUH EMPAT
DUA PULUH LIMA
DUA PULUH ENAM
DUA PULUH TUJUH
DUA PULUH DELAPAN
DUA PULUH SEMBILAN
TIGA PULUH
TIGA PULUH SATU
TIGA PULUH DUA
TIGA PULUH TIGA
TIGA PULUH EMPAT
TIGA PULUH LIMA
TIGA PULUH ENAM
TIGA PULUH TUJUH
TIGA PULUH DELAPAN
TIGA PULUH SEMBILAN
EMPAT PULUH
EMPAT PULUH SATU
EMPAT PULUH DUA
EMPAT PULUH TIGA
EMPAT PULUH EMPAT
EMPAT PULUH LIMA
EMPAT PULUH ENAM
EMPAT PULUH TUJUH
EMPAT PULUH DELAPAN
EMPAT PULUH SEMBILAN
ATTENTION❗
LIMA PULUH
LIMA PULUH SATU
LIMA PULUH DUA
LIMA PULUH TIGA
LIMA PULUH EMPAT
LIMA PULUH LIMA
LIMA PULUH ENAM
LIMA PULUH TUJUH
LIMA PULUH DELAPAN
LIMA PULUH SEMBILAN
ENAM PULUH
ENAM PULUH SATU
ENAM PULUH DUA
ENAM PULUH TIGA
ENAM PULUH EMPAT
ENAM PULUH LIMA
ENAM PULUH ENAM
ENAM PULUH DELAPAN
am Back!
TUJUH PULUH
TUJUH PULUH SATU
TUJUH PULUH DUA
TUJUH PULUH TIGA
TUJUH PULUH EMPAT

ENAM PULUH TUJUH

6.6K 370 24
By ladyszara

SKAVA: VOTE DULU!

****

13: 00  AM
Los Angeles - Amerika serikat

𝗔𝗹𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮 𝗛𝗼𝘀𝗽𝗶𝘁𝗮𝗹 Medical Center -📍

Disalah satu ruangan rumah sakit lelaki yang sudah beberapa hari ini masih memejamkan matanya sedang ditangani oleh beberapa dokter yang berada disitu. Skava, jari-jari lelaki itu sudah mulai bergerak pelan. Suster yang melihat kejadian tadi langsung memanggil Dokter untuk dicek keadaan nya.

Perlahan mata Skava terbuka pelan meski sedikit burem ia masih bisa melihat beberapa dokter yang ada disini.

Matanya melirik kearah beberapa dokter yang berbeda dihadapannya. Namun, Rasa sedikit nyeri di bagian perutnya membuatnya meringis.

"Akh... Gue dimana..." batinnya. Ia dapat mengingat kejadian dimana Elvio menusuknya.

"Bagaimana keadaan anda tuan Skava. Untunglah anda sudah sadar kembali, Saya ikut merasakan senang." ucap Dokter yang sudah dua hari ini menangani keadaan Skava semenjak Skava dipindahkan kerumah sakit yang berada dikota Los Angeles.

Skava mengangguk pelan. "Dimana saya sekarang?" tanyanya Penuh kebingungan.

"Anda sedang berada dirumah sakit tuan. Tuan Bimo membawa anda kerumah sakit ternama di Los Angeles Amerika." jelas sang dokter lelaki itu membuat Skava terkejut.

Meskipun masih sakit dan muka masih terlihat pucatnya Skava berusaha bangun. Apakah ia sudah meninggalkan Sena sendiri di Indonesia?

"Tenananglah tuan. Keadaan anda sudah jauh lebih baik, Saya akan memberitahu Tuan Bimo jika anda sudah sadar."

Skava tidak memperdulikan ucapan sang dokter matanya meneliti setiap sudut ruangan. "Dimana Sena?"

Dokter menggeleng. "Anda selama berada disini hanya sendiri tuan. Tidak ada orang lain."

Terlihat bagaimana kecemasan seorang Skava yang mengkhawatirkan Istrinya yang jauh darinya. Kenapa bisa sampai sejauh ini ia dirawat dirumah sakit? Kenapa tidak di Indonesia saja. Skava sekarang tahu pasti ini semua ulah sang kakeknya, karena sedari tadi dokter hanya menyebutkan nama Bimo.

"Sialan!"

****

Sudah dua hari ini tidak ada kabar dari Skava. Sena dibuat cemas tentang keadaan Skava yang tidak ada kabar disana. Aryo pun sama ia tidak mendapatkan jawaban dari sang Ayah yang berada disana.

Sena yang sekarang berada diatas balkon apartemen karena ingin menyendiri ditemani udara malam hari. Ia menghembuskan nafasnya berat. Rasa rindunya terhadap Skava sudah sangat kronis bisa dibilang.

Sena menatap bulan yang berdekatan dengan bintang. Wajahnya berseri melihat itu. "Kamu apa kabar kak disana? Kamu baik-baik kan disana? semoga secepatnya kita bisa ketemu lagi kak... Aku kangen banget." ucapnya tak sadar. Menatap hampa langit diatasnya yang terlihat indah.

"Gimana caranya aku bisa liat kamu kak? aku kangen pengen peluk kamu. Kakak cepat pulang dong..." lanjutnya. menatap bulan dan bintang yang indah itu dengan penuh rasa Rindunya terhadap Skava.

"Aku kesepian nggak ada kakak, walaupun disini ada banyak orang yang baik sama aku kak. Tapi kalo gak ada kakak pasti Rasanya tetap sepi." Gumamnya lirih.

Tak terasa hari sudah semakin malam. Dan udara pun semakin dingin, Bergumam dan bercerita yang mungkin didengar oleh langit dan bumi saja. Sena berniat pergi kembali ke apartemen nya sendiri.

Meskipun Aryo sudah mengajaknya tinggal bersama Sena tidak mau. Ia hanya ingin tinggal di apartemen, tempat tinggalnya Skava dan juga dirinya.

Karena hanya itulah ia bisa merasakan kehadiran Skava ditempat ini.

****

Masih dengan tempat yang sama. Skava memandang kearah luar jendela memperlihatkan pemandangan kota-kota disini. Meskipun begitu pikirannya hanya tertuju pada Sena. Apakah Istri kecilnya baik-baik saja disana? Ia takut terjadi apa-apa. Apalagi ketika kejadian beberapa hari yang lalu Elvio memberitahu akan menghancurkan hidupnya begitupun Sena yang ikut terlibat.

"El, gue benar-benar benci sama lo." Gumamnya.

Tak lama seseorang masuk tanpa disadari Skava. Ia menundukan palanya sebentar. Menyapa Skava yang tidak melihat kearahnya.

"Permisi tuan. Perkenalkan saya Marsel dan saya akan membantu tuan selama berada disini."

Skava tidak menoleh kearah seorang lelaki jangkung yang berada tak jauh dari sampingnya.

"Gue pengen secepatnya kembali ke Indonesia. Sekarang juga lo harus urus supaya gue cepat kembali lagi ke Indonesia," ucapnya dingin.

"Maaf saya tidak bisa melakukan itu tuan. Saya diperintahkan untuk tetap menjaga tuan Skava agar tetap berada dirumah sakit ini." jawab Marsel tetap berdiri Disamping brankar Skava tidur.

Mata tajam Skava menatap Marsel yang berani membantahnya. "Sekarang juga lo harus urus kepulangan gue Marsel." tekannya langsung mendapatkan gelengan dari Marsel.

"Maaf tuan, tidak bisa."

"MARSEL!" bentak Skava tidak sopan. Ia sudah sangat kesal sedari tadi menahan amarahnya yang bergejolak.

"Apa yang kamu inginkan cucuku? Apakah kau ingin kembali ke Indonesia?" Opa Bimo berucap. Ia berjalan kearah Brankar Skava dengan tertawa. Melihat cucunya yang sudah sadar kembali membuatnya bangga terhadap dirinya.

Skava menatap geram kearah Pria tua dihadapanya ini. "Skava bakal balik ke Indonesia sekarang juga Opa."

Opa Bimo menatap Cucunya bingung. "Baru juga sadar. Kenapa langsung ingin kembali ke Indonesia?"

"Skava udah baikan Opa, tolong ngertiin Skava kali ini aja." ucap Skava masih sabar menghadapi pria tua dihadapanya sekarang.

Opa Bimo terkekeh. "Kamu akan tinggal lama disini Skava. Semua keperluan kamu sudah diurus disini. Jadi kamu tinggal menjalankan kehidupan baru barsama kakekmu ini."

Skava berusaha menahan kekesalannya yang semakin memuncak. "Nggak bisa Opa, Skava udah punya tanggung jawab di Indonesia."

"Kamu tidak akan punya tanggung jawab lagi Skava!" ucap Opa Bimo sedikit meninggikan suaranya.

"Punya, Skava masih punya Istri disana. Dan Skava akan tetap kembali ke Indonesia." jawab Skava. Ia tidak takut dengan Kakeknya Ini yang memaksanya untuk tetap berada disini.

"Gadis murahan itu? Untuk apa kamu mempertahankan dia? Yang asal usulnya pun tidak jelas." ejek Opa Bimo. Skava yang mendengarnya pun seperti terbakar.

"Istri Skava bukan cewek murahan! Jangan sampai Opa ngomong kaya tadi lagi. Sena wanita baik-baik." Bela Skava tidak ingin Kakeknya menghina istrinya.

"Jika bukan murahan sebutan yang cocok untuknya apa Skava? Atau yang cocok untuknya Jalang?" Dengan ucapan yang semakin menjadi Opa Bimo mengatakan hal keji seperti itu dihadapan Skava.

PRANG!

"ISTRI GUE BUKAN JALANG!"JAGA UCAPAN ANDA!" bentak Skava tidak tahan menahan emosinya.

Marsel yang melihat perdebatan itu tidak bisa ikut campur. Memang yang ia ketahui Skava mempunyai istri yang statusnya masih sekolah di menengah akhir. Hanya itu yang ia tahu.

Opa Bimo menatap garang kearah Skava yang berani tidak sopan seperti itu. "Jaga perilaku kamu terhadap Opa Skava." Tegasnya marah.

Skava terkekeh kecil menatap tajam Opa Bimo. "Skava bisa ngelakuin hal lebih dari itu. Jangan sekali-kali ngerendahin Sena. Jangan sampai Opa selamanya bakal kehilangan Skava. Dan Skava menganggap Opa Bimo bukan kakek dari Skava lagi. tapi orang asing!"

Opa Bimo yang mendengar hal itu tidak bisa berkata-kata lagi. Skava memamg benar-benar sudah kelewatan sifatnya terhadapnya.

****

BRAK!

"ANAK ITU SUDAH MATI! ANAK HARAM ITU SUDAH TIDAK ADA LAGI REYNA!"

Reyna melebarkan bola matanya dengan air mata yang mengalir deras. "DIAM KAMU MAS! KAMU TIDAK PANTAS MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU SAMA ANAK KANDUNG KAMU SENDIRI!"

Avanka mengusap wajahnya kasar. Perdebatan ini kembali terjadi. "Anak itu sudah mati Reyna! Dan dia bukan darah daging saya. Cukup aku ingin hidup damai seperti dulu Reyna."

Reyna menggeleng memegang ujung meja dengan kuat. Avanka memintanya hidup seperti awal dan menjalankan hari-hari penuh kebahagiaan. Tetapi ketika syarat yang ia minta terhadap Avanka untuk memberitahu anak yang selama ini hilang pria itu marah dan menganggap anaknya sudah meninggal.

"Kembalikan anak ku mas, dia anak yang tidak bersalah. Dia darah daging kamu... Kapan kamu percaya sama aku mas..." lirihnya.

"Anggaplah dia sudah tidak ada Reyna. Saya yakin dia sudah meninggal karena kecelakaan yang menimpa Dika dan Eva tiga tahun yang lalu." ucap Avanka. Ketika ia mengetahui bahwa Dika dan Eva meninggal karena kecelakaan bersama anak adopsinya.

Plak!

Tamparan keras Avanka terima. Keributan itu terjadi lagi. Reyna menatap tidak percaya kearah suaminya.

"Apa maksud kamu Mas?!"

Avanka terdiam sejenak. Tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya yang selama ini ia sembunyikan selama tujuh belas tahun.

"Anak itu aku berikan ke Dika dan Eva. Kamu tau Reyna, Aku sangat membencinya karena bayi itu bukan darah daging aku. Kamu berhianat Reyna, kamu berhianat dibelakang aku lalu--" belum sempat Avanka melanjutkan kata-katanya Reyna langsung memotong nya.

"CUKUP MAS!" Karena sudah muak Reyna membentak. "Bayi itu anak kamu sendiri mas, kapan kamu percaya sama aku mas? Sampai kapan kamu kaya gini? Aku udah lelah mas. Selama ini aku sabar sama sikap kamu. Sama ego kamu sendiri, kamu selalu merasa paling benar Mas. Selama ini aku cukup sabar ngadepin kamu, kenapa selalu anak-anak aku yang jadi korban atas keegoisan kamu?" Reyna mengeluarkan isi hatinya yang selama ini terpendam dihadapan Avanka yang sedari tadi mendengarkannya.

"Bayi yang baru aja lahir ke dunia belum kita kasih nama. Dan kamu? Seenaknya kasih dia ke orang? Orang tua macam apa kamu mas? Oh mungkin kamu gak mau anggap anak itu sebagai anak kamu sendiri. Tapi aku? Aku ibu kandung nya yang selama sembilan bulan mengandung dia penuh kasih sayang."

Avanka mengalihkan pandangannya. Menarik nafas dalam lalu berucap. "Aku udah pernah bilang dari awal gugurkan janin itu Reyna!"

"DIAM KAMU MAS!" bentak Reyna. "Aku bukan orang tua biadap yang dengan kejamnya membunuh darah daging aku sendiri!" Desisnya.

"Lihat? Kamu itu egois, karena keegoisan kamu Remon sampai pergi dari rumah Mas, kamu selalu ngekang dia. Dan Zidan? Dia sebenarnya udah capek mas sama sikap kamu. Tapi dia masih mau bertahan dirumah ini karena Aku!" ucap Reyna ia benar-benar sudah muak dengan semuanya.

Reyna menghapus sisa air matanya. Ia menarik nafas dalam. "Kalo kamu masih mau bertahan sama aku. Kasih tau dimana anak aku?"

Avanka menggeleng. "Dia sudah meninggal Reyna."

"Dimana anak aku." tekan Reyna Ia tidak suka Avanka berbicara seperti itu.

"DIA SUDAH TIDAK ADA REYNA! DIA SUDAH MENINGGAL KARENA KECELAKAAN!" sentak Avanka dihadapan Istrinya.

Reyna menangis pilu. Apakah benar anaknya yang selama ini menghilang sudah meninggal? Jika benar. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian yang sudah terjadi.

"Bayi yang selama ini menghilang selama tujuh belas tahun itu belum meninggal Pah!" ucap Zidan dari arah pintu yang baru saja terbuka.

Avanka dan Reyna menoleh kearah sumber anaknya.

Avanka mengepalkan tangannya. "Maksud kamu apa Zidan?!"

Reyna menghampiri Zidan yang berdiri didekat pintu. Ia tidak mengerti maksud Zidan itu seperti apa.

"Maksud kamu apa sayang...?" tanyanya Penuh harap.

Zidan menatap mata Reyna yang habis nangis. Terlihat betapa rindunya Mamahnya ini terhadap bayi perempuan yang terbuang begitu saja.

"Anak perempuan mamah masih hidup. Adik Zidan, masih hidup mah..." ucapnya penuh haru.

Reyna Mengangguk lirih. Ia berharap ini semua bukan mimpi. "Dimana dia sekarang Zidan...? Mamah mau ketemu sama dia Zidan... Mamah mohon..."

Avanka yang mendengar itu semua seperti marah. "Cukup Zidan! Jangan ngaur kamu! Kamu tidak tau apa-apa. Anak itu sudah mati!"

Tatapan Zidan beralih kearah Avanka menatap tajam pria itu. "Tau dari mana papah? Zidan udah tau semuanya dari awal. Anak yang Papah buang tujuh belas tahun yang lalu itu masih hidup dan udah menikah!"

Reyna menatap terkejut kearah Zidan. Bagaimana bisa?

"Maksud kamu apa Zidan...?" lirihnya.

Zidan berjalan kearah Avanka dan menatap mata Pria itu. Tangannya terkepal kuat menahan amarahnya karena Avanka menganggap Sena sudah meninggal.

"Papah tau? Karena Papah kehidupan dia hancur! Karena keegoisan Papah dia tinggal dilingkungan kebencian. Dia dibenci sama keluarga besarnya Pah. Dia dikucilin sama sodaranya disana, Hidup mandiri. Kerja banting tulang buat makan sehari hari diumur nya yang masih kecil. Semenjak Om Dika dan istrinya kecelakaan. Anak itu selamat Pah. Dengan gak adilnya warisan nya diambil sama Om tantenya sendiri." ucap Zidan hatinya terasa sesak. rahasia yang selama ini ia sembunyikan berhasil ia bongkar.

Tubuh Reyna terasa lemas. Tubuhnya meluruh ke lantai setelah mendengar semuanya. Apakah semiris itu kehidupan putrinya selama ini?

"Anak mamah..."

"Putri mamah..."

Zidan menunduk dalam menahan air matanya yang rasanya ingin ikut keluar.

Avanka pun sedikit tersentuh apakah benar? Walaupun ia yakin anak itu bukan darah dagingnya sendiri. Namun, Ia hanya kasihan terhadap anak yang diperlakukan seperti itu oleh keluarga besarnya.

"Siapa anak itu Zidan?" tanya Avanka.

Zidan terkekeh sinis. "Kalo Zidan kasih tauz Apa Papah bakalan percaya?"

"Zidan... Mamah mau tau siapa dia sayang...?" kini giliran Reyna yang bertanya.

Zidan mengangguk. Pikirnya sekarang memang sudah saatnya semuanya terbongkar dihadapan Reyna dan Avanka.

"Sena Ezaquel Mahardika." ucap Zidan.

"Perempuan yang waktu itu Papah tabrak. Dan Perempuan yang Mamah pertama kali temuin di apartemen Bang Remon." lanjutnya. Avanka Dan Reyna mengingat. Benarkah. Atau ini semua hanya kebohongan.

"S-sena...?" lirih Reyna.

Sedangkan Avanka terdiam. Apakah benar anak itu adalah Sena?

"Apa yang kamu maksud dia sudah menikah diumur nya yang masih belasan Zidan?" tanya Avanka mengalihkan pandangannya.

Zidan mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengucapkan nya. "Dia dihamilin pada saat nganter makanan ke club malam."

"Waktu usia kandungan nya empat bulan, kejadian yang nggak terduga dia dapetin. Saat itu dia kehilangan janinnya sendiri...,"

Reyna yang mendengar itu hatinya terasa teriris. Ia meremas kuat ujung bajunya. Benar yang ia lihat pada saat pertemuan pertamanya diapartemen Remon. Sena pada saat itu tengah hamil.

"Maafin mamah... Maaf... Maaf...," dengan rasa sesak nya Reyna bergumam. Merasa dirinya pun ikut salah karena tidak tahu apa-apa.

Zidan menghampiri Reyna yang terduduk dilantai. Rasa tidak tega dihatinya melihat Mamahnya seperti ini begitu membuatnya ikut merasakan apa yang dirasakan Reyna.

"Mamah mau ketemu sama Putri mamah...," ucap Reyna. Tidak sadar sekarang waktu sudah malam. Membuat Zidan menggeleng.

"Besok, sekarang mamah harus Istirahat"

Reyna menggeleng keras. "Mamah mau bertemu dia Zidan... Mamah mohon...,"

Zidan kembali menggeleng. "Besok, sekarang mamah harus istirahat. Udah malam mah. Pasti Sena juga lagi Istirahat, Besok Zidan janji bakal anter mamah Kesana."

Reyna Mengangguk mengerti. Benar ia tidak mau menganggu waktu istirahat putrinya. Sekarang ia benar-benar merasa Bahagia sudah mengetahui dimana keberadaan putrinya.

Tanpa mereka berdua ketahui Avanka sudah tidak ada lagi disana. Entah kemana perginya.
Mungkin saja Pria itu ingin mengindikasikan pikirannya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.

****

Malam ini didalam jeruji besi Vera benar-benar merasa tidak nyaman tidur berdekatan bersama yang lainnya seperti ini. Dirinya merasa sesak akibat oksigen yang didapat nya hanya sedikit akibat terlalu banyak orang.

"Pengen nangis gue," lirihnya.

Vera memilih duduk dipojok menyenderkan dirinya sendiri. Kehidupannya benar-benar sudah berubah. Dirinya sudah tidak bisa berfoya-foya seperti dulu. Keluar malam-malam untuk refreshing dan berbagai macam hal lainnya.

"Ini semua salah gue, gue nyadar semua yang udah gue lakuin salah...,"

Mengingat hal-hal yang ia rindukan kebersamaan nya dengan seseorang namun sekarang sudah tidak bisa lagi.

"Kapan gue bisa hidup kaya dulu lagi bareng sama Skava..?" Gumamnya.

Ia menatap perutnya yang sudah membesar. Beberapa bulan lagi pasti anaknya lahir kedunia. Namun, sayang sekali bayi ini harus berada dipenjara selalu. Ia ingin sekali tahu perkembangan anaknya. Namun hal itu tak bisa ia lakukan.

Tangan Vera terulur mengelus perutnya. "Lo pasti nyesel lahir dari rahim gue ya?"

"Tenang aja deh, nanti setelah lo lahir. Gue-" Vera menggeleng memperbaiki ucapannya.

"Masa sama anak sendiri gue bicaranya kaya sama temen sih?" gerutunya.

Vera berfikir sejenak. "Mami? Nanti anak gue manggil gue mami aja? Pasti lucu. Mami mami mami." ucapnya girang sendiri.

Vera menganggguk merasa ucapannya benar. "Nanti Mami bakal kasih Dede bayi ke Papah. Okey?"

Tiba-tiba Vera merasa sedih. Mungkin setelah bayi nya lahir ia tidak bisa bersama anaknya karena berada dalam penjara. Ia mungkin akan menyerahkan nya pada Leon selaku ayah kandung dari anak nya sendiri. Meskipun tak rela. Namun, ia harus meminta pada siapa lagi selain Leon?  Arga? Tidak mungkin ia lebih memilih memberinya pada Leon selaku Ayah dari anaknya nanti.

"Nanti Dede bayi jangan nakal. Mami disini dulu sementara. Walaupun mami Belum tau berapa tahun mami didalam sini..." lirihnya.

****

Skava berusaha mencari ponselnya namun tetap tidak ada. Ia hanya ingin mengabarkan keadaan nya kepada Sena. Dan juga ingin melihat keadaan Sena disana bahwa perempuan itu baik-baik saja.

"Dimana heandphone gue?" tanya Skava pada Marsel yang masih berada disitu.

Marsel menggeleng tidak tahu.

Skava berdecak malas. Dirinya sangat kesal berada disini. Ingin rasanya ia kabur dari tempat ini dan kembali ke asal negaranya. Namun pasti akan sulit jika tidak ada yang membantunya.

"Marsel. Mungkin cuma lo yang bisa bantu gue sel disini. Bantu gue buat pulang ke Indonesia lagi. Lo pasti bisa." ucap Skava ia tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa dalam keadaaannya yang seperti ini.

Marsel pun menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan bisa melakukan semua itu. "Maaf tuan, semua ada konsekuensi nya jika saya melakukan itu. Dan saya tidak ingin tuan Bimo marah nantinya."

Skava menghembuskan nafasnya kasar. Benar-benar dibuat Frustasi ia berada disini

"Sekarang mending lo keluar sel. Gue lagi pengen sendiri." ucapnya.

Marsel pun kembali mengangguk ia akan membiarkan Skava sendiri dulu dan berjaga diluar saja.

Dan sekarang hanya ada Skava sendiri dikamarnya. Pikirannya benar-benar hanya tertuju pada Sena. Istri tercintanya. Yang sangat ia rindukan kehadirannya begitupun Sena mungkin.

"Kalo gue telfon dia. Disana juga pasti malam, pasti sekarang lagi tidur." Skava bergumam sendiri. Ia sedikit menarik senyumnya membayangkan wajah Sena ada didekatnya.

"Gue kangen banget sama lo, Sena."

"Kalaupun gue disuruh Opa harus lama tinggal disini. Itu semua gak mungkin terjadi, lo harus sabar nunggu gue balik. Gue pasti bakal secepatnya pulang dan langsung meluk lo." ucapnya tersenyum seperti hal itu sebentar lagi akan terjadi.

****

-Indonesia📍

Sekarang sudah pukul jam sepuluh pagi. Diapartemen Sena hanya memasak untuk dirinya sendiri. Ia hanya memasak bahan-bahan yang masih ada dikulkas. Meskipun sudah ada beberapa yang tidak tersedia Sena memasak bahan yang seadanya saja.

Selesai dengan sarapannya sendiri dirinya sekarang tidak tahu harus apa. Karena sedang hari weekend Sena hanya diam saja didalam apartemen nya tidak ada niat untuk keluar.

"Kira-kira kapan ada kabar dari kamu kak... Aku nungguin loh." gumamnya. Memperhatikan layar ponselnya berharap ada kabar dari Skava.

Tingnong Tingnong

Bel apartemen berbunyi pertanda ada seseorang. Sena segera beranjak pergi untuk melihat siapa yang sudah datang pagi-pagi ini.

Ceklek.

Sena sedikit terkejut atas kedatangan seseorang yang tidak dapat ia kenali. Karena seseorang ini memakai masker dan juga kacamata yang dipakai nya.

"Dengan siapa?"

Seseorang dibalik masker itu tersenyum Smirk. Karena merasa tidak ada jawaban dari orang tersebut membuat Sena merasa ngeri dengan kehadiran nya. Niat ingin menutup pintu kembali orang tersebut langsung mendorong dirinya untuk masuk kedalam.

Sena langsung terkejut. "KAMU SIAPA?!"

"Diam! Jangan berisik, mau gue bunuh lo!" Elvio mengancam lalu mengeluarkan pisaunya dari dalam jaketnya yang ia pakai.

Seseorang itu ternyata Elvio datang kemari untuk melancarkan aksinya yang belum terselesaikan. Yaitu membuat Sena tahu siapa orang tua kandungnya. Dan menghancurkan mentalnya.

"Kamu siapa..." cicitnya merasa dirinya sedang terancam.

Elvio segera membuka maskernya dan kacamata hitamnya. Memperlihatkan bentuk wajahnya kepada Sena. Sena pun yang sudah melihat siapa orang asli dari balik masker itu Mundur beberapa langkah. Tubuhnya bergetar merasa takut.

"K-kamu, mau ngapain lagi?! PERGI!!" teriak Sena. Seketika kejadian yang menimpanya waktu itu teringat kembali.

"Suut, Diam cantik. Kali ini gue gak bakal ngapa-ngapain in lo kalo lo nurut sama gue."

Sena menggeleng keras. "Pergi atau aku bakal teriak sekeras kerasnya!"

Karena Elvio sudah kesal langsung saja ia membenturkan Tubuh Sena ke dinding. Dengan tidak ada Rasa kasihannya.

Sekaranang Sena sudah terduduk dilantai akibat dorongan Elvio yang cukup kencang. Sedangkan Elvio ia berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya dengan Sena.

"Lo tau Sena? Apa yang pengen gue lakuin ke diri lo?" tanya Elvio.

Sena menggeleng. Ia tidak tahu. "A-apa? Kenapa kamu selalu ganggu aku?!"

Elvio terkekeh miris. "Karena lo bagian dari hidup Skava. Gue benci itu."

Sena terisak pelan. Bisa dikatakan dalam pikiran nya menyebut Elvio ini kejam dan Gila.

"A-apa yang kamu mau. Apa kejadian yang menimpa waktu itu belum puas?! Aku udah kehilangan janin aku sendiri! APA KAMU BELUM PUAS?! HAH!" teriak Sena mengeluarkan air matanya.

Elvio menganggguk. "Ya, gue lumayan puas. Tapi lo harus ingat Sena. Yang udah ngebunuh janin lo itu bukan gue! Tapi Vera. Vera yang udah nusuk lo."

Sena membuang wajahnya kesamping tidak mau menatap Elvio yang membuatnya teringat atas kejadian waktu itu.

"Pergi... Jangan buat masalah lagi... Aku mohon..."

Elvio Tersenyum sinis. "Ada hal yang harus lo tau sekarang juga Sena. Meskipun ini bukan urusan gue, tapi gue pengen lo tau siapa sebenarnya lo."

"PERGI! AKU GAK PERDULI!" teriak Sena.

"Dengerin gue Sena!"

Sena menggeleng ketika Elvio mencengkram dagunya kuat.

"Gue belum aja nyakitin lo! diam, atau hal yang lebih gue lakuin sama lo," ancamnya.

Sena menurut lebih baik ia diam. Dari pada membuatnya terluka nanti. Memperhatikan Elvio yang belum juga membuka suara Lagi.

Beberapa menit terjadi keheningan setelahnya Elvio membuka map yang ia bawa. Meneliti map tersebut dengan senyum kecil.

"Apa benar lo anak dari Om Dika sama Tante Eva?" tanya Elvio menatap kearah Sena.

Sena Mengangguk kenapa lelaki ini bisa tahu?

Setelahnya Elvio tertawa. Membuat Sena merasa takut. Aneh sekali lelaki ini, Ia hanya ingin Elvio segera pergi dari hadapannya sekarang juga.

Elvio menghembuskan nafasnya kasar setelahnya. "Gue punya rahasia yang selama ini lo gak tau. Orang yang selama ini dekat sama lo itu udah bohong sama lo Sena." ucapnya. "Lo mau tau? Siapa aja yang udah bohong sama lo selama ini,"

Sena menatap Elvio benci. Apa maksud dari lelaki dihadapannya sekarang?

"S-siapa?"

"Pertama Zidan. Dia manusia paling munafik yang hadir dalam hidup lo." beritahu Elvio.

Sena mengepalkan tangannya tidak terima Zidan dituduh seperti itu. Elvio datang hanya untuk menghancurkan hidupnya saja.

"Sen, Om Dika itu Paman gue begitupun Tante Eva dia Tante gue. Dan yang harus lo tau, Dia gak pernah punya anak."

"M-maksud kamu A-apa?"

Elvio mengeluarkan satu kertas didalam map tadi. memperlihatkan isinya dihadapan Sena. "Lo bisa liat. Surat keterangan kalo mereka belum pernah mempunyai anak kandung, Dan lo bukan siapa-siapa mereka selama ini."

"Lo masih ingat sen? Pas acara keluarga dulu dirumah kakek nenek? Lo dikucilin sama mereka kan? Ya karena mereka gak suka sama kehadiran lo. Bagi mereka lo cuman sampah yang dibuang sama keluarga lo sendiri." lanjutnya.

Sena menangis merobek kertas tersebut hingga tidak terbaca lagi. Walaupun dirinya sudah membaca isi kenyataan tadi ia masih tidak percaya.

"Pergi! Aku tau kamu cuma bohong! Kamu cuma mau ngehancurin hidup aku kan?!" Kata Sena dalam tangisannya.

"Lo nggak percaya sama gue? Atau mau langsung gue kasih tau siapa diri lo sebenarnya?" tanya Elvio mencengkram kuat lengan Sena.

Sena menangis meminta untuk dilepaskan benar-benar tidak mungkin jika memang ini semua benar.

BUGH!

"BAJINGAN!"

****

Holaa

Lama tidak berjumpa dengan kalian! Sorry lama update lagi banyak kerjaan hehehehe...

Semangat terus oghey nunggu cerita ini update! Luv sekebon untuk yang udah vote!

Maaf bestie ngegantung...
Papaay

-araa

Continue Reading

You'll Also Like

16.3K 1.2K 24
Pernikahan yang semakin hambar Akankah Jungkook dan Taehyung menemukan kembali cara untuk jatuh cinta atau mereka memutuskan untuk mengakhiri pernik...
15.7K 440 17
kisah cinta remaja yang saling memperebutkan gelar terpopuler di sekolah. cinta yang berawalan saat orang Tua Zee yang harus mengurusi cabang perusa...
98 7 4
Kisah dari dua manusia yang tidak sengaja di pertemukan oleh semesta dan saling mencintai, sayangnya mereka harus di pisahkan juga oleh semesta tapi...
161 1 5
【sintaΓ—Aji+Sahabat Jadi Cinta+Cinta Manis】Percintaan sepasang kekasih yang menjalin hubungan di masa sekolah. sehingga mereka melakukan hubungan beba...
Wattpad App - Unlock exclusive features