ALGLARA

By iscyen

35.7K 1.4K 67

ALGLARA || [ON GOING] Alglara Keaniarga. Si sarkastis yang pandai menjatuhkan mental lawan bicaranya. Petarun... More

ALGLARA
MORENZA
2. DIA KETUANYA
3. HUKUMAN BERSAMA
4. MEREKA TRAVIESCO
5. PULANG BARENG
6. ANEH
7. TERUSIK
8. INSIDEN
9. SEDIKIT MENARIK
10. RAJAWALI DI SERANG
11. SENJA TANPA NESTAPA
12. SISA DENDAM
13. AVESTRA
14. REBEL GUY
15. COMPETITION
16. ENVIOUS
17. WRONG NUMBER
18. TOGETHERNESS
19. NERVOUS
20. HAZARDOUS
21. UNCONTROLLABLE
22. 3H2 + N2 โ‡Œ 2NH3
23. 70% ISOPROPIL 30% ETHANOL
24. METANOIA (TEOLOGI)
25. TACTIEKEN
26. PLANNED

1. INI AWALNYA

2.5K 96 5
By iscyen

"Seekor ulat yang berusaha mengenal dirinya sendiri tidak akan pernah menjadi kupu-kupu."


Bel sekolah berbunyi dengan alunan nada serta suara seorang wanita. Menandakan jam pelajaran telah usai dan waktunya para murid SMA Rajawali menghampiri rumahnya kembali. Alglara yang sedaritadi lebih memilih tidur terbangun karena suasana kelas sangat berisik. Guru yang sedaritadi mengajar ia hiraukan karena matanya sangat butuh istirahat. Walaupun tidurnya terbilang nyenyak namun tak bisa di pungkiri telinganya masih mendengar samar-sama Bu Srik menjelaskan pelajaran. Di sebelahnya pun sama Zicko tidur dengan lelapnya.

"Alglara Keaniarga Adinata!"

"Zicko Candra Dewantara!"

"Nyenyak tidurnya di jam pelajaran saya?" tanya Bu Srik. Guru matematika yang selalu menjadi ejekan anak kelas XII IPS I. Belum lagi memang Bu Srik yang tidak terlalu killer sangat gampang di jahili.

Alglara terkekeh kecil dari bangkunya dan menendang tempat duduk Zicko yang masih dengan lelapnya tertidur. Alglara menggelengkan kepalanya ."Kurang nyenyak. Ibu banyak teriak-teriaknya kalau ngajar."

Jawaban dari Alglara membuat isi kelas tertawa dan Bu Srik hanya mampu menggelegkan kepalanya. Bu Srik memilih untuk meninggalkan kelas daripada kepalamya pusing menghadapi seorang Alglara Keaniarga.

"Emang gila lo." ungkap Kevin yang duduk tepat di depan Alglara.

Alglara hanya mengendikkan bahunya bodo amat. Ia bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan kelas yang hanya terisi teman-temannya dan beberapa murid lainnya yang mendapatkan tugas piket besok.

"Woy!!" teriakan nyaring yang tepat di lubang telinga Zicko membuat cowok itu terbangun seketika.

"Bangsat lo Len!" sentak Zicko kaget sekaligus kesal. Tidurnya terusik karena cowok dengan cengiran tanpa dosanya.

"Enak banget lo tidur sedangkan gue harus melek dari tadi." keluh Galen dengan muka melasnya.

"Siapa suruh berisik. Dipindahin kan lo ke depan." ejek Devano.

Setiap pelajaran Matematika Galen dan Sakha akan di tempatkan di bangku paling depan. Karena Bu Srik setiap mengajar keduanya selalu berisik di bangku belakang. Sekali dua kali masih di toleransi oleh Bu Srik. Namun ketiga kalinya mereka berdua langsung di oper ke bangku depan. Keduanya pun patuh dan menerima nasib dengan lapang dada.

"Emang si Galen mulutnya ngalahin betina. Nyesel gue duduk sama dia. Pinter kagak bego iya." Sakha mengeluh dengan nasibnya yang tersiksa terus-terusan kena masalah jika duduk bersama Galen.

"Lo berdua gak ada bedanya." ujar Kevin yang langsung membuat mereka terkekeh.

"Noh contoh si Kevin. Sekali ngomong bikin ginjal gue bolong." kata Sakha dengan dramatisnya.

Saat keenamnya hendak keluar kelas suara melengking seorang cewek membuat mereka berhenti.

"WOII SAKHA LO DAPET BERSIHIN KELAS HARI INI!! JANGAN KABUR LO!!" Brisia menghadang jalan Sakha menggunakan sapu. Brisia teman piket sekaligus bendahara di kelas IPS I yang memiliki kepribadian over feminim dengan suara melengking. Teriakannya membuat Alglara, Zicko, Kevin, Devano, Galen, serta Sakha berhenti.

"Gue bayar denda deh besok Bri. Gue ada kepentingan mendesak nih." Sakha dengan wajah sok paniknya membohongi Brisia.

Brisia yang sudah sering di tipu oleh Sakha kali ini tidak termakan omongan cowok ceking itu. "Bayar denda bayar denda. Uang khas dari bulan lalu aja masih nunggak!"

Sakha hanya cengengesan mendengar aibnya di buka oleh sang bendahara kelas. "Al, bilangin dong. Masak gue gak boleh izin piket hari ini." dengan nada yang dimanja-manjakan Sakha mengadu kepada Alglara.

"Dih monyet lo. Udah gak bayar uang khas mau bolos piket lagi." ejek Galen.

Sakha mendelik tajam tanda protes dengan Galen.

"LO JUGA SAMA YA GALEN LINTANG SURENDRA!!" teriak Brisia membuat Galen menampilkan cengir kudanya. Tau begini dia lebih memilih diam tadi daripada aibnya juga ikut terbongkar.

"Malu gue punya temen kayak lo berdua. Nggak di Bu Cok gak di Brisia, kerjaan lo ngutang mulu." heran Zicko sambil menoyor keduanya.

"Udah sana piket. Kita tunggu di parkiran." ujar Alglara sambil melangkahkan kakinya keluar diikuti dengan Kevin, Zicko, dan Devano.

"UDAH CEPETAN AMBIL SAPU DI BELAKANG!!" perintah Brisia dengan tampang galaknya.

"Bri, jangan teriak-teriak tar disangka gue cabulin lo lagi." ucap Sakha dengan senyum andalannya, senyum menggoda yang malahan membuat Galen serta Brisia menatap Sakha beneran cabul.

Brisia mengusap bulu kuduknya ngeri dan memilih melanjutkan menyapu. Galen lebih memilih mendudukan dirinya di atas bangku sambil memainkan ponselnya selama menunggu Sakha selesai dengan tugas piketnya.

Sedangkan Alglara, Zicko, Kevin, dan Devano tidak ingin ambil pusing lebih memilih langsung pergi meninggalkan mereka. Mata elang Alglara menyalang menatap kedepan, menghiraukan para siswi yang memanggil namanya. Sementara Zicko malahan tebar pesona.

"Woy cogan kemana?!" teriakan dari suara bariton di arah lapangan membuat keempatnya menoleh.

Sosok lelaki dengan tangan yang membawa bola basket serta cengiran menyapa mereka. Di sebelahnya terdapat sosok lelaki yang lebih menampilkan wajah datarnya sambil mendribble bola.

"WMC, sini!" teriak Alglara dengan keras agar terdengar oleh Revano dan Arsenio. Keduanya berteman dengan kepribadian yang berbeda. Satunya tengil banyak tingkah sedangkan yang satunya irit suara. Mereka berdua masih kelas XI namun memang diperintahkan oleh Alglara agar tidak memanggilnya dengan embel embel 'kak' atau 'bang' agar lebih santai jika mengobrol.

"Nanti kelar ngajar doi basket." balas Revano dengan tengilnya. Padahal disana masih ada abangnya yang menatap adiknya jengkel.

Alglara mengacungkan jempolnya, sementara Zicko menyahuti dengan berteriak kencang. "Doi yang mana satu tuh?"

Revano terkekeh di sebrang sana. "Kepo lo Zick!"

"Sen, jagain adek gue. Takut orang-orang kena rabies deket dia." kata Devano yang membuat Arsenio terkekeh kecil. Arsenio hanya mengacungkan jempolnya.

"Dih anjing lo Bang!" kesal Revano tidak terima dikatai rabies oleh kakaknya sendiri.

Zicko dan Kevin terkekeh mendengar perdebatan kakak beradik itu. Sementara Alglara sudah lebih dahulu melangkahi kakinya menuju parkiran. Meninggalkan ketiganya yang masih cekcok dengan Revano.

"ALGLARA TUNGGUIN NAPA NJIIRR!!" teriak Zicko karena saat menoleh ke samping ketuanya sudah menghilang.



°°°°



Akhirnya bel yang ditunggu-tunggu berbunyi juga. Saat ini di dalam kelas XII IPA I mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia yang diajar langsung oleh Kepala Sekolah. Guru yang seharusnya mengajar sedang izin karena baru melahirkan. Selama tiga puluh menit suasana kelas IPA I sangat tegang padahal Pak Gutama enjoy dalam mengajar.

"Baiklah, karena jam pelajaran telah usai. Saya akhiri pelajaran Bahasa Indonesia hari ini. Semoga minggu depan Ibu Ina sudah bisa mengajar." ujar Pak Gutama lembut dan ekspresi wajah ramah. Beliau meninggalkan kelas setelah berpamitan.

"Anjir, jantung gue berasa lari lima kilo meter dari tadi." keluh seorang gadis dengan rambut curly bagian bawahnya. "Lo sih asik tidur aja dari tadi, Jes."

Gadis yang di panggil 'Jes' itu hanya menggaruk kepalanya karena baru tersadar dari tidurnya. "Apaan kok gue?" tunjuknya pada dirinya sendiri.

"Iyalah, gara-gara lo gue harus melek mulu biar Pak Tama gak liatin ke bangku kita. Tau gitu tadi gue duduk sama si Kinan lemot."

"Gue diem aja kena. Temen lo tuh, Ra." sahut Kinan cewek dengan gaya over feminim.

"Iya deh, yang modelan jeleknya semua temen gue." pasrah Amora memilih mengiyakan saja daripada kasusnya panjang.

Empat cewek dengan kecantikan di atas rata-rata serta kepribadian yang berbeda itu tengah duduk di bangku kelas yang isinya sudah pulang semua. Amora, Sabintang, Kinan, dan Jesslyn.

"Mau kemana habis ini?" tanya Sabintang Rembulan atau kerap di panggil Bintang, cewek dengan rambut curly itu.

"Gue ngikut aja." sahut si tukang ngikut karena malas berpikir dia Kinan Nareswari. Gadis dengan mata sipit padahal bukan keturunan Cina.

"Beli boba." sahut Jessly semangat. Cewek dengan kepribadian sedikit tomboy, sangat mencintai minuman bulat-bulat itu. Jesslyn Mustika Saga. Kapten basket putri SMA Rajawali.

"Males gue boba mulu dari kemarin. Hari ini yang pedes-pedes." begitulah Bintang ia yang bertanya tapi ia juga yang mengusulkan.

"Yaudah beli bakso deket sekolah aja. Sebrang jalan itu." usul Amora yang sedaritadi memilih diam.

"Dih ogah, disana ada anak-anak Morenza. Males gue liat si dedemit Sakha." tolak Bintang mentah-mentah. Bintang dengan Sakha dulu waktu kelas sepuluh sempat berpacaran. Namun kandas di pertengahan kelas sebelas karena Sakha yang suka menggoda adik kelas.

"Gaya banget lo. Masa lalu jugaan." Amora meraup wajah Bintang dengan tangannya. "Gamon lo?"

Bintang yang mendengar itu mendelik tajam. "Idih amit-amit dah gue gamonin dia. Mending gue beli truck."

"Yaudah ayo ke sana." Amora langsung merangkul pundak Bintang dan memaksanya berjalan.

Jessly dan Kinan mengikuti keduanya sambil terkekeh. Begitulah perempuan, padahal awalnya bertanya lalu masuk ke tahap pengusulan dan perdebatan. Pada akhirnya tetap memilih tempat itu-itu saja.


°°°°


"Wah, tumben warungnya sepi. Padahal gue udah pasang tampang jutek." ujar Bintang celingukkan, kepo kenapa tumben anak Morenza belum pada nangkring di WMC– Warung Mang Cepi. Warung yang tepat berada di seberang warung bakso.

"Idih najis lo Tang. Tadi aja sok-sokan gamau ketemu Sakha. Sekarang malah nyariin." cibir Jessly mendorong sedikit pundak Bintang.

"Jangan panggil gue Tang, njir! Lo pikir gue tang alat buat benerin motor apa?" sebalnya tidak suka dipanggil 'Tang'.

"Lah itu kan nama lo? Terus mau gue panggil apa? Babi?" sahut Jesslyn yang masih tak mau kalah. Mereka berdua jika sudah disatukan memang adu mulut saja kerjaannya. Amora sampai pusing mendengarnya.

"Ini mau makan apa adu bacot terus?" Amora jengah lalu menarik kursi untuk duduk.

"Makan lah, gue udah laper." sahut Jesslyn lalu duduk di hadapan Amora.

"Mang, baksonya empat porsi ya." teriak Kinan karena warung masih sepi jadi tidak masalah baginya.

Mereka duduk dengan tenang. Namun ponsel berada di genggaman mereka semua.

"Liat deh postingannya si Veronica. Makin hari hidungnya bisa seruncing pensil Bu Sirik."  ujar Bintang sambil melihatkan postingan Raqueenla Veronica. Amora tak habis pikir dengan temannya. Ada saja bahan yang mereka jadikan topik ghibah.

"Bu Srik." koreksi Kinan.

Veronica atau lengkapnya Raqueenla Veronica. Cewek dengan sejuta penggemar di sosial media. Postur tubuh bak gitar spanyol. Idola para lelaki SMA Rajwali. Parasnya sangat cantik dengan hidung mancung serta mata bulat. Namun ada juga beberapa yang tidak menyukainya karena terlalu berlebihan dalam merias wajah. Contoh nyatanya ada di samping Amora. Yap! betul, Sabintang Rembulan.

"Punya duid, wajarlah." sahut Jesslyn.

"Tapi tanpa di rombak juga bakalan tetep cakep." kata Bintang.

"Kesukaan orang beda-beda. Gak bisa lo samain." timpal Amora.

Bakso mereka pun datang. Seketika suasana hening karena keempatnya sibuk memakan bakso mereka.

Sementara suara bising deruan motor membuat telinga mereka terganggu. Suara itu berasal dari warung sebrang. Motor-motor itu parkir dengan rapi berjejer. Itu adalah anak Morenza. Warung Bu Cok adalah tempat anak Morenza berkumpul sepulang sekolah.

"Berisik banget knalpot mereka semua." cibir Amora sambil menoleh ke arah sebrang.

"Gak di sekolah gak di jalanan, rusuh doang kerjaan mereka." Bintang berujar sambil memasukkan baksonya ke dalam mulut.

"Namanya aja anak geng." timpal Kinan. "Tapi yang boncengan sama Zicko ganteng banget deh." tunjuk Kinan kepada cowok yang baru saja melepaskan helmnya.

"Arsen?" tanya Bintang. Kinan mengendikkan bahunya pertanda tidak tau siapa namanya.

Bintang memang hampir hafal sama nama anak-anak Morenza. Berpacaran hampir kurang lebih setahun dengan Sakha membuatnya mengenal anak Morenza. Bahkan Bintang juga akrab dengan ketua Morenza. Alglara Keaniarga.

"Iya itu Arsen, adek kelas."

"Ganteng banget, deketin gue dong, Bin." Kinan memainkan bibirnya memohon pada Bintang.

"Deketin sendiri. Tuh anak susah banget diajak ngobrol. Suaranya semahal gedung SM Entertaiment." ujar Bintang.

"Mending jangan, nanti lo kayak Bintang. Nangis mulu." kata Amora karena cowok setipe Arsen itu lebih berbahaya daripada sejenis Sakha.

Bintang mendelik tak terima mendengar dirinya dicibir begitu oleh Amora.

"Kenapa gitu?" tanya Kinan yang belum mengerti. Amora mendengus.

"Cowok dingin biasanya bikin kita mundur sebelum berusha. Jadi jangan coba-coba ya Kinan lemot." jelas Bintang sabar sambil mengelus surai cokelat milik Kinan.

"Udah selesai belum lo pada? Nyokap gue udah chat nyuruh balik nih." kata Jesslyn sambil mengangkat ponselnya menampikan chat dari mamanya.

"Bayar dulu baru balik." kata Amora lalu bangkit untuk membayar. Setelah selesai Amora kembali pada teman-temannya.

Keempatnya melangkah untuk mengambil motor mereka. Amora boncengan bersama Bintang karena arah rumah mereka searah aedangkan Jesslyn dan Kinan membawa motor sendiri.

"Gue duluan ya, bye guys!" Jesslyn lebih dulu pergi dan meninggalkan ketiganya yang masih sibuk dengan pengait helm milik Kinan.

"Lain kali ganti helm aja lo. Nyusahin helm lo." gerutu Bintang kesal karena helm Kinan, tangannya jadi luka kena tusuk besinya.

"Makannya hati-hati kalau bantuin orang. Matanya fokus juga, jangan noleh ke sebrang terus." cibir Amora lalu beralih menaikkan dirinya ke atas jok motor belakang.

"Thankyou, Bintang Kejora." kata Kinan semangat dan langsung mengegas motornya sambil melambaikan tangannya.

"Dasar anak kunyuk, main ganti nama gue aja."

"Naik motor yang bener lo." kata Amora galak karena Bintang masih saja tengok kanan-kiri seperti mencari sesuatu.

Sedangkan di warung sebrang. Gerombolan anak laki-laki itu tengah bercanda sambil menceritakan hal lucu di sekolahan tadi. Sangat ramai sampai suara mereka terdengar ke jalanan.

"Ada mantan lo noh, Ka." ujar Galen menunjuk ke arah motor Vespa berwarna kuning di warung sebrang.

Dengan semangat Sakha berlari ke depan dan benar saja disana ada Bintang dengan temannya Amora. Sakha melambaikan tangannya iseng sambil berteriak.

"Hai mantan!"



°°°°

Hi love!
Gimana untuk ceritanya? Boleh kasi masukkam dan sarannya?
Semoga suka ya!!
Kalau ada typo tolong bantu tandain pake komentar ya love.

[a/n: ada perubahan untuk nama ya dari Pinka jadi Kinan, xoxo]

C U NEXT PART!

Continue Reading

You'll Also Like

16.8K 1.5K 27
[FOLLOW SEBELUM BACA] . "๐ฌ๐ž๐ญ๐ข๐š๐ฉ ๐š๐๐š ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š๐ง, ๐ฉ๐š๐ฌ๐ญ๐ข ๐š๐๐š ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฉ๐ข๐ฌ๐š๐ก๐š๐ง"-Raja. Mereka yang tadinya bermusuhan, kini t...
279K 17.3K 17
[PART DI PRIVAT ACAK, FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Albara yang kerap di panggil Bara, Murid laki-laki paling berpengaruh di SMA Jingga. Pemimpin salah sat...
9.5K 979 46
โš ๏ธFOLLOW SEBELUM MEMBACAโš ๏ธ HELP ME TO GET 3k READERS and 900 VOTES ยกHappy Reading! Aletta Nadira. Remaja cantik yang selalu ingin terlihat bahagia da...
Wattpad App - Unlock exclusive features