Sore itu, suasana warkop di pojok jalan tampak cukup ramai. Empat remaja laki-laki berseragam abu putih sedang duduk melingkar di meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas. Asap dari gorengan panas mengepul, berbaur dengan suasana sore yang mulai meredup.
"Sumpah, tugas Fisika Pak Surya beneran harus dikumpulin besok?" Sean Elland Yeidara cowok tempan itu mengeluh sembari memijat pelipisnya. Ekspresi wajahnya tampak frustrasi, seolah rumus-rumus fisika adalah beban paling berat dalam hidupnya.
Gandhi Andreas Harmono yang sedang duduk dengan posisi kaki naik ke kursi, tertawa kecil. Ia menatap temannya itu dengan pandangan geli, "Ya dikumpulin lah, bego. Emang lo mau dapet nilai E lagi terus harus remedial sendirian?"
"Ya habisnya gue nggak paham sama sekali, Ndi. Otak gue beneran mentok kalau udah bahas rumus kayak gitu." balas Sean dengan nada memelas.
Di sampingnya, seorang cowo playboy kelas teri yang hobby flirting bernama Kenzo Areond Aditya itu tengah sibuk menatap layar ponselnya, sesekali merapikan tatanan rambutnya dengan jari.
"Gue sih udah pasrah. Paling nanti juga gue tinggal nyalin punya Gerland. Otak gue isinya cuma list cewek yang mau gue ajak jalan pas weekend, bukan buat ngitung percepatan benda jatuh." ujar Kenzo enteng.
Vernando Noah Trapasipta cowok itu duduk paling tenang tampak sedang menikmati gorengannya tanpa beban, "Gausah binggung, gausah pusing, kita nanti nyontek si Gerland." ucapnya sambil mengunyah bakwan.
"Gerland mana Gerland?" tanya Kenzo celingak-celinguk.
"Tuh, lagi nunggu jemputan. Tumben banget dia nggak bawa motor sendiri." tunjuk Gandhi ke arah cowok tinggi yang lagi berdiri di depan pintu warkop.
Gerlandra Vrismo Adikusuma, pria tampan yang hanya ingin hidup tenang akhirnya jalan mendekat ke meja mereka. Tingginya yang hampir 185 cm membuatnya terlihat paling mencolok di antara temen-temennya yang lain.
Cowok itu duduk, menaruh tasnya, lantas menatap mereka satu per satu dengan tatapan datar yang ikonik dan khas.
"Ngapain lo pada bahas tugas? Udah selesai?" tanya Gerland santai.
"Belum! Si Sean sama Kenzo nih, otaknya mampet." adu Gandhi tertawa meremehkan.
"Dih, lo juga! Tadi gue liat jawaban nomor lima lo salah, Ndi. Sok pinter amat." timpal Kenzo nggak mau kalah.
Gerland hanya tertawa pelan, "Udah, nanti gue kirim ke grup chat, jangan disamain persis tapi, biar nggak keliatan kalau satu sumber."
"Nah, ini baru Bos gue! Cinta banget dah." kata Noah sambari ingin memeluk bahu Gerland, tapi langsung didorong pelan sama cowok itu.
"Najis, jauh-jauh lo, No. Bau bakwan." ledek Gerland, yang langsung disambut tawa pecah mereka, berbeda dengan Noah yang sudah di dorong menjauh itu berdecih. Memilih mojok sembari memakan gorangan.
Gandhi yang tengah memainkan korek api di sela jarinya, tiba-tiba memajukan tubuhnya ke tengah meja. Matanya menyipit penuh antusiasme yang tertahan.
"Woy, lo pada denger something nggak soal Citra 12 IPA 3?" tanya Gandhi dengan nada berbisik yang sengaja dibuat dramatis.
Kening Kenzo terangkat penasaran, ia langsung menoleh, dan mematikan ponselnya, "Citra? Kenapa lagi tuh cewek? Bukannya dia lagi rajin-rajinnya belajar buat olimpiade?"
Tawaan sinis terdengar, "Rajin belajar mata lo! Dia nggak masuk dua minggu ini bukan karena sakit tipes, tapi gara-gara dia lagi isi. Perutnya udah mulai kelihatan." jawab Gandhi.
Sean yang tadinya menyandarkan punggung langsung menegakkan tubuh terkejut, "Sumpah? Citra yang sok alim itu? Anjir, gacor juga tu anak."
"Siapa yang hamilin?" tanya Noah, tangannya berhenti menyomot gorengan.
"Anak band sekolah sebelah yang montornya sering parkir di belakang gedung." jawab Gandhi cepat. Cowok itu menatap teman-temannya satu per satu, menanti reaksi mereka.
"Tadi pagi gue liat dia mual-mual di toilet belakang perpustakaan. Muka dia pucat kaya kanebo kering."
"Gila, kalau beneran hamil sih tamat riwayatnya," timpal Sean sambil geleng-geleng kepala, "Bokapnya ketua komite sekolah. Habis itu cewek kalau ketahuan."
Anggukan kepala terlihat, Noah mengangkat tangannya ke atas, "Saking setujunya tangan gue ga bisa turun."
"Kok bisa hamil sih? Kecelakaan gitu?" Kenzo berdecak.
Tatapan Gerland langsung teralih, cowok itu memutar bola mata jengah, "Hamil kecelakaan? Wah, otak lo udah masuk kategori buntu."
"Hamil bisa dibikin kecelakaan?" Sean berdecih, lantas ia langsung melempar dua buah cabe pada kepala Kenzo saking sebalnya.
Tiba-tiba sekali, Gandhi berdiri cowok itu merentangkan kedua tangannya seolah tengah melerai perdebatan, "Bukan cuma itu. Gue denger dia lagi bingung nyari klinik buat gugurin tu anak. Masalahnya, si cowok anak band itu nggak punya modal. Benar-benar sampah, kan?"
"Anjay, cowok kere berani ngehamilin anak orang." Tandas Noah kejam, ia menggelengkan kepala tak percaya.
Decakan kecil terdengar, Gerland menghisap vapenya dengan nikmat, "Orang mah kalau uda nafsu ga inget bakal jadi nggak itu anak."
"Zo dengerin. Lo hobby banget flirting sama banyak cewe, tau-tau pada minta tanggungjawab. Apa nggak tekor dompet lo." kata Sean dengan senyuman penuh ejekan.
Tatapan datar Kenzo lemparkan, cowok itu mengacungkan jari tengahnya, "Congor bisul amat lo! Gue masih perjaka ting-ting!" tandasnya tak terima, berdecih.
"Kalau videonya kesebar mantep tu." Noah berkata santai sambil memakan gorengan, sesekali menyeruput kopi hitam panasnya dengan syahdu.
"Bukannya Citra mantannya Kenzo ya? Pas masa MPLS dulu." Gerland membuka suara, menatap Kenzo penuh tanda tanya.
Sedangkan yang ditanya pura-pura tak mendengar, sibuk bermain ponselnya sesekali melirik Gerland. Mati pula Kenzo jika ketahuan pernah menjalin asmara dengan siswi itu.
"EH!" Gandhi menggebak meja, "Citra mantannya Kenzo, inget banget gue mereka pas masih MPLS dulu. Jamet banget kaya anak punk lagi."
"Mantan lo hamil nih, Zo." kata Sean memanasi.
Kenzo berdecak, "Ya terus? Muka gue kelihatan cemburu? Lagian bukan anak gue sih. Najis juga gue kalau harus tanggung jawab sama cewek yang seleranya malah jadi anak band jamet begitu."
"Pedes," ledek Gandhi tertawa ngakak, "Tapi bener, selera Citra emang anjlok. Dulu sama lo masih mendingan, sekarang malah sama cowok yang pegang gitar aja nggak becus."
Gerland hanya tersenyum tipis, matanya melirik ke sekeliling, "Udah, bahas yang lain. Mual gue bahas sampah."
"Eh, bener!" Gandhi tiba-tiba menurunkan suaranya, matanya berbinar licik, "Kalian sadar nggak, Bu Ratih sama Pak Baskoro makin sering rapat bareng?" Jari tengah dan telunjuknya terangkat, seolah mengisyaratkan sesuatu. 1
Sean menyipitkan mata, "Maksud lo? Si guru perut buncit itu?"
"Tadi gue liat mobil Baskoro parkir di tempat sepi belakang sekolah," sahut Gandhi semangat, "Bu Ratih keluar dari sana sambil rapiin kancing baju. Lecek parah, kayak abis dikucek mesin cuci."
"Gila," gumam Noah, "Baskoro kan istrinya galak. Bisa abis Bu Ratih kalau dijambak."
Gerland tanpa banyak bicara menaruh ponselnya di meja. Layarnya menampilkan foto dua orang familiar sedang check-in di hotel, "Tadi siang, mereka emang lagi check-in."
Kenzo melongo, hampir keselek gorengan. "Serius itu Baskoro sama Ratih?!"
"Iyalah," jawab Gerland santai, "Fotonya jelas banget kan?"
Kenzo menyeringai jahat, "Gila sih. Guru Bahasa Inggris yang tiap hari ceramahin moral, ternyata kelakuannya bejat banget. Pantesan tiap rapat guru mereka kompak banget menghilang."
"Btw, si Baskoro kalau pas olahraga emang suka aneh, ya? Sering banget tiba-tiba ngilang ke ruang ganti padahal anak-anak lagi pemanasan." celetuk Sean sambil memutar-mutar sedotannya.
"Iya, anjir! Terus balik-balik bajunya udah basah keringet, tapi baunya wangi parfum cewek. Curiga gue dia bukan ganti baju, tapi ganti suasana." timpal Kenzo sambil ketawa.
"Lagian siapa sih yang mau ama Baskoro? Perut buncit, napas bau kopi, terus kalau ngomong suka nyiprat lagi. Bu Ratih seleranya emang rendah apa emang lagi pengen tantangan hidup?" celetuk Gandhi.
Noah menggeleng-gelengkan kepala sambil mengunyah gorengan terakhirnya, "Mungkin dia bosen hidup tenang. Atau jangan-jangan Baskoro punya ilmu pelet?"
"Halah, pelet pala lo! Itu mah namanya nafsu, bukan pelet." jawab Sean sambil menoyor kepala Noah.
"Eh, tapi kalian sadar nggak, sepatu Baskoro tuh merknya KW semua. Masak guru olahraga pake sepatu yang solnya copot pas lagi lari? Kasihan bener Bu Ratih harus selingkuh sama orang kere."
"Nggak kere sih, cuma pelit." sahut Gerland singkat sambil melirik jam tangan.
Kenzo tiba-tiba berdiri sambil menepuk-nepuk celananya, "Eh, udah jam enam nih. Gue harus cabut, disuruh emak beli gas. Kalau telat, kena omel lagi."
"Dih, anak mami banget lo, Zo!" ledek Sean.
"Bodo amat! Mending anak mami daripada jadi anak band jamet kayak cowoknya Citra." sahut Kenzo yang langsung disusul tawa dari yang lain.
Gerland ikut berdiri, menyambar jaketnya yang tersampir di kursi, "Gue juga balik. Males lama-lama di sini, bau gorengan nempel di baju gue."
"Ya elah, baru juga mau bahas drama lainnya!" Gandhi ikut berdiri sambil meregangkan badan, "Ya udah lah, gue juga laper. Nyokap masak rendang, nih."
"Oke, cabut lah. Besok di sekolah kita liat muka Baskoro, kalau dia sok galak, kasih kode aja." kata Noah sambil jalan duluan ke arah motor.
Inilah mereka, menurut pandangan orang lain sircel yang berisi lima orang itu terlalu sempurna, berwajah tampan, hidup berkecukupan, berisi orang-orang berbakat. Namun? Kenyataan tidak sesuai.
Dalam sircel yang disebut elit itu malah menjadi pengosip paling handal.