MUDA [Hwanshi] END

Por xxximctag

72.9K 5.9K 436

Aku bukan anak kecil. #1 Hwanshi 280423 #2 Junghwan 060725 Más

bagian pertama
bagian kedua
bagian tiga
bagian empat
bagian lima
bagian enam
bagian tujuh
bagian delapan
bagian sembilan
bagian sepuluh
bagian sebelas
bagian duabelas
bagian tigabelas
bagian lima belas
bagian enam belas
bagian tujuh belas
bagian delapan belas
bagian sembilan belas
bagian dua puluh
bagian dua puluh satu

bagian empat belas

2.4K 219 9
Por xxximctag

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, Yoshi akhirnya membaringkan tubuhnya di kasur dengan napas lega. Ia menggulir layar ponselnya, menatap satu per satu foto pakaian bayi yang harganya bikin mengerutkan dahi.

Tangannya bahkan sempat terhenti di satu postingan jumper putih polos dengan corak kelinci kecil di bagian dada. Lucu banget, tapi harganya bisa buat belanja bahan dapur seminggu.

Perhatiannya begitu fokus ke layar sampai-sampai ia tidak sadar bahwa Junghwan sudah berdiri di dekatnya. "Sayang.. aku pulang." ucapnya dengan nada lemah.

Junghwan melepaskan dasi beserta kancing kemejanya, dengan wajah lesu ia memasuki kamar mandi dan menyalakan shower. Terdengar dari luar suara Junghwan yang bergumam tidak jelas, ingin sekali Yoshi menghampirinya tetapi ia justru takut membuat suaminya itu merasa tidak nyaman.

Maka Yoshi memutuskan untuk menunggu sampai Junghwan keluar dari kamar mandi dan bantu mengeringkan rambutnya sehabis keramas.

Beberapa menit kemudian, saat Junghwan keluar dengan rambut basah dan bahu lunglai, Yoshi menghampiri untuk membantu mengeringkan rambut suaminya. Namun gerakannya begitu ragu, sampai akhirnya Junghwan sendiri yang meraih tangannya dan meletakkannya di atas dahinya

"Aku capek." gumamnya pelan.

Yoshi tertegun mendengarnya, buru-buru ia membenahi posisinya menjadi duduk menghadap ke arah Junghwan yang berbaring. "Kamu habis ngapain?"

"Gatau tadi kena sial aja, dipermaluin sama dosen pas di kelas."

Detik itu juga Yoshi langsung menarik bahu Junghwan untuk fokus menatap matanya, tatapannya benar-benar horror seakan ingin menginterogasi Junghwan sekarang juga.

"Siapa?"

Tentu Yoshi tahu maksud dari kalimat dipermalukan itu adalah tentang pernikahan mereka yang disembunyikan dari pihak kampus.

Yoshi tidak mengerti. Sebelumnya tidak ada seorangpun yang berani mengungkit masalah ini, tetapi melihat Junghwannya yang kacau seperti ini tentunya membuat Yoshi penasaran.

"Bukan salah siapa-siapa, memang udah saatnya aja kebongkar semua."

Yoshi berusaha menggenggam tangan suaminya. "Junghwannnn.. maaf ya, harusnya kamu ga perlu mengalami ini semua."

Junghwan menggeleng dan meraih tangan Yoshi untuk dicium. Saat ini Junghwan hanya ingin tidur, semua energinya terkuras untuk memendam amarahnya yang bisa merusak segalanya.

Sejak mengetahui Yoshi mengandung anaknya, entah mengapa hal itu berdampak baik bagi emosi Junghwan yang semakin lama semakin terkontrol. Tidak ada lagi Junghwan yang egois, Junghwan yang kekanakan dan mudah marah.

Perlahan matanya mulai terpejam, usapan Yoshi pada rambutnya semakin membuat matanya kian berat. Junghwan tak dapat lagi menahan kantuknya dan berakhir tidur tanpa mengenakan baju.

"Kasihan ayah, nak.." gumam Yoshi pelan mengusapkan tangan Junghwan pada perutnya.

Tak bertahan lama, Yoshi merasa saat ini ia ingin sekali menangis. Takut membangunkan suaminya, Yoshi pun memutuskan keluar dari kamar dan berdiam diri di teras depan.

Merenung, membayangkan seperti apa tekanan yang Junghwan terima dari lingkungan kampusnya. Yoshi bertanya-tanya apakah ada seseorang yang membela, setidaknya seseorang yang membawa Junghwan pulang dengan selamat.

Jika itu adalah Niki, sekarang juga Yoshi ingin menemuinya dan berlutut untuk mengatakan terima kasih sebesar-besarnya karena telah membantu Junghwan untuk mengabaikan celaan warga kampus.

"Arghh.. jangan sekarangㅡ hikss.." Yoshi meringis merasakan nyeri pada perutnya karena jujur saja sejak tadi siang belum ada satupun makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

Semua itu karena ia ingin makan bersama suaminya, tapi sayangnya Junghwan malah pulang dengan keadaan hati dan pikiran yang tidak baik.

Terpaksa Yoshi mengurungkan niatnya untuk bermanja-manjaan dengan Junghwan karena ia justru dua kali lebih takut apabila Junghwan membentaknya tanpa sadar.

"Hhhuhhh... tenang ya sayang, jangan marah.. kita makan sekarang, oke?"

Yoshi berjalan menuju dapur, mengambil beberapa butir telur rebus yang sengaja disimpannya di dalam lemari makan. Sebelumnya Yoshi memisahkan terlebih dahulu putih dan kuning telurnya, karena sejak hamilㅡ Yoshi jadi tidak suka kuning telur.

Perlahan lahan ia coba memisahkan kuningnya yang baru saja kelihatan sedikit langsung membuat Yoshi mual seketika. Diletakkannya sendok dan telur yang belum selesai dipisahkannya, kakinya sudah buru-buru memasuki kamar mandi yang ada di dapur.

"Hwoekkk—!"

Tangannya mencengkeram wastafel, napasnya putus-putus. Air mata mengalir tak terbendung. Hwoek— lagi, lagi, dan lagi. Sakit. Tenggorokannya panas. Tubuhnya menggigil, dan ia mulai kehilangan keseimbangan.

Yoshi tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan. Ia menyalakan keran air agar suara muntahnya tidak terdengar sampai kamar. Ia tak ingin membangunkan Junghwan, tak ingin suaminya tambah stres.

Namun sial... air dari bak memercik, membasahi lantai ubin.

Saat ia mencoba berdiri, kakinya terpeleset.

"Ahhh—!"

Tubuhnya ambruk, terhempas keras ke lantai. Bahu kirinya menghantam pinggiran bak. Perutnya... seperti ditusuk dari dalam.

Yoshi membeku. Rasa nyeri menohok dari bawah perut hingga ke punggung. Kedua tangannya refleks menutup perut. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak tidak karuan.

"Aku kenapa...?" bisiknya lemah, suara nyaris tak terdengar.

Ia mencoba bangkit tapi tubuhnya lemas. Tangannya gemetar saat menyentuh ubin yang dingin. Ia ingin teriak, tapi tak ada kekuatan.

"A-aku..."

Lalu semua tampak gelap.














ㅡ♡











Beberapa menit berlalu...

Junghwan terbangun karena mendengar suara air dari kamar mandi yang terbuka. Ia mengerjap— lantai kamar masih gelap, dan kamar mandi di dapur pun gelap. Suara air masih mengalir. Aneh.

Ia bangkit, berjalan keluar kamar pelan-pelan sambil mengusap wajah. Saat melewati dapur, langkahnya terhenti.

"Sayang?"

Junghwan langsung pucat.

Yoshi terbaring di lantai kamar mandi, basah kuyup. Kakinya terbuka ke samping, sebelah tangannya menutupi perut dan satunya lagi terentang lemas. Sisa muntahan terlihat menggenang di wastafel. Lantai licin. Badannya dingin. Bibirnya pucat.

"Yoshi!" Junghwan setengah berteriak, langsung berlutut dan mengguncang bahunya pelan. "Yoshi, bangun. Sayang, sayaang!!"

Tidak ada respon.

Jantung Junghwan seperti berhenti berdetak. Ia buru-buru menepuk pipi Yoshi dan menyentuh lehernya, memastikan napasnya masih ada. "Ya Tuhan..."

Tanpa pikir panjang, Junghwan mengangkat tubuh Yoshi dan membawanya ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan yang baru, seperti membawa boneka kain. Sepanjang jalan menuju luar rumah, tangannya gemetar. Sandalnya tidak sempat ia pakai. Jantungnya berdebar tidak karuan.

Ia berlari menuju mobil, menyalakannya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam tangan Yoshi yang ia baringkan di kursi tengah. Junghwan sangat panik melajukan mobilnya menembus gelapnya malam.

Setibanya di rumah sakit, Junghwan langsung mengangkat Yoshi dan berlari ke loby igd. Syukurlah perawat di sana langsung tanggap menyambut kedatangan Junghwan dengan membawa brangkar.

"Pak, mohon tunggu di luar." suara perawat memutus momen panik Junghwan. Ia ragu untuk melepas genggaman tangan Yoshi, tapi ketika seorang dokter masuk dan menarik tirai ruangan, Junghwan terpaksa mundur.

Di luar, ia terduduk di lantai, kepala bersandar di dinding rumah sakit. Kedua tangannya menutup wajah. Air matanya keluar perlahan. Bukan histeris, bukan meraung. Tapi diam— dan perih. Ia merasa gagal, padahal baru kemarin sore mereka berbicara tentang masa depan, tentang anak mereka, tentang menjadi orang tua yang baik.

Pintu ruangan terbuka, membuatnya langsung berdiri kaku. Salah satu perawat keluar. "Keluarga dari pasien Yoshi?" Junghwan mengangguk cepat. "Iya, saya."

Perawat itu hanya menunduk sedikit. "Tolong tunggu sebentar ya pak."

Junghwan menelan ludah. Tangannya gemetar hebat. Nafasnya berat, seperti membawa beban ribuan ton di dadanya. Tak lama kemudian, seorang dokter muda membuka tirai dan menghampirinya.

"Pasien dalam kondisi stabil. Sayangnya, terjadi peluruhan janin akibat benturan dan tekanan yang diterima saat terjatuh. Kami sudah memberikan penanganan terbaik, namun..."

"Istri saya keguguran..?" suara Junghwan lirih.

Dokter itu menunduk. "Saya turut berduka. Usia kehamilannya memang masih sangat muda, sehingga sangat rentan terhadap trauma fisik seperti yang dialami oleh pasien."

Junghwan tak bisa berkata apa-apa. Ia menunduk, lututnya lemas. Seakan ada sesuatu yang menggerogoti lehernya, Junghwan ingin berteriak tapi tidak bisa.

Setelah dipindahkan ke kamar rawat, Junghwan akhrinya diperbolehkan untuk menjaga Yoshi di kamar mereka. Kamar VIP karena Junghwan tidak tahu bagaimana caranya mengurus kelas BPJS.

Tak berapa lama Yoshi akhirnya siuman. Matanya terbuka perlahan, melihat ruangan rumah sakit yang putih dan dingin. Kepalanya berat. Ia mencoba menggerakkan jari, dan langsung merasakan genggaman hangat di tangannya.

Junghwan tertidur di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan Yoshi erat seolah takut kehilangan.

"Sayang..." suara Yoshi parau.

Junghwan langsung tersadar. Ia menatap Yoshi dengan mata sembab, wajahnya kusut, rambut berantakan. Tapi ekspresi lega mendominasi semuanya.

"Sayang..." Junghwan mencium punggung tangan istrinya berkali-kali. "Maaf... aku gak bisa jaga kamu... aku—"

Yoshi memotongnya dengan senyum lemah. "Bayi kita...?"

Hening.

Junghwan menggigit bibir bawahnya dan mengangguk pelan. Matanya kembali basah.

Yoshi tidak menangis. Hanya mengalihkan pandangan ke jendela, berusaha tegar. Tapi pipinya yang perlahan basah membocorkan semuanya. 

"Hikss... aku salah!"

Junghwan naik ke ranjang, memeluk Yoshi perlahan dari sisi samping. Dikecupnya pelipis Yoshi yang dingin. "Ga apa-apa sayang, nangis aja. Keluarin semuanya, aku ada di sini untuk kamu."

"Aku gak pantas ya buat jadi ibu."

Junghwan menggeleng dan memeluk istrinya semakin erat. "Ssstt. engga sayang, kamu pantas. Kamu calon ibu yang hebat, aku bangga sama kamu udah bisa bertahan sejauh ini."

"Tapi kenapa anak kita diambil, Hwan.."

Hati Junghwan semakin terenyuh, Yoshi terlihat sangat desperate dengan tatapan matanya yang begitu kosong. "Aku ga tau, sayang."

Semakin dieratkannya pelukan mereka saat menyadari Yoshi kembali menangis. "Tapi yang pasti, kita harus kuat. Anak kita juga ga mau lihat mamahnya sedih nyalahin diri sendiri, pasti anak kita mau mamahnya ceria lagi."

Kepala Yoshi meronta, tangisnya semakin pecah dan kini ia mulai memukuli bahu Junghwan yang berusaha mendekapnya. Tak ada pilihan lain, Junghwan merelakan segalanya. Termasuk dirinya untuk jadi luapan emosi sang istri.

Junghwan mengerti betapa sakit yang dialami Yoshi sekarang, dan di tengah sunyinya ruangan rumah sakit, hanya ada mereka berdua, saling menggenggam luka, saling menjaga napas satu sama lain agar tetap utuh. 

Setidaknya mereka masih memiliki satu sama lain.




— selanjutnyaa...

eh guys kalian tuh tidur jam berapa sih?

Seguir leyendo

También te gustarán

18K 549 20
Kumpulan ff Soobin x Yeonjun TXT Slight Taehyun x Beomgyu
19.3K 1.4K 19
"ℎ𝑖𝑠 𝑎𝑠𝑠, 𝑓𝑒𝑒𝑙 𝑙𝑖𝑘𝑒 𝑖𝑡 𝑓𝑖𝑡𝑠 𝑖𝑛 𝑚𝑦 ℎ𝑎𝑛𝑑." ꔛ 𝐽𝑒𝑜𝑛𝑔𝐽𝑎𝑒 𝑆𝑡𝑜𝑟𝑦 ꔛ 𝑓𝑡. 𝑇𝑟𝑒𝑎𝑠𝑢𝑟𝑒 !!! 𝑫𝑰𝑺𝑪𝑳𝑨𝑰𝑴𝑬𝑹...
45.6K 3.3K 18
[18+] Hyunsuk harus pindah ke sekolah khusus laki-laki dengan peraturan yang amat ketat karena Ibunya menikah lagi dan harus pindah ke Kota baru untu...
6.4K 923 10
Bagaikan tulang yang hanya dibalut oleh kulit, rasa sakit terus melanda disekujur tubuhnya, rantai yang memborgol tangan, membuat sulit baginya untuk...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas