Juno...
Lo masih marah ya sama gue?
Mau sampe kapan lo diemin gue kayak gini?
Gue minta maaf
Please, jangan diemin gue kayak gini
Gue... Guekangensamalo!
Naveen mengela nafas kasar dan mengacak rambutnya frustasi. Pesannya tak di balas, bahkan di baca juga tidak. Dia bingung, Juno benar-benar mengabaikannya. Sudah beberapa hari ini cowok tampan yang selalu mengganggunya dengan pesan-pesan yang membuatnya terganggu itu kini tak pernah lagi mengiriminya pesan walau hanya sekadar untuk menanyakan sedang apa dia sekarang.
Naveen sudah mengesampingkan egonya untuk mengirimi Juno pesan via WA, line, bahkan ia sudah beberapa kali menghubungi Juno namun Juno hanya membacanya tanpa ada balasan ataupun mengangkat telponnya. Itulah yang membuat Naveen frustasi dan prasangka buruk mulai memenuhi otaknya. Juno benar-benar mengabaikannya. Tapi Naveen berharap, Juno melakukan itu bukan karena tak mau bertemu lagi atau berhenti berjuang.
Naveen resah seketika.
Apakah setelah ini Juno benar-benar akan menjauhinya? Berhenti berjuang meluluhkan hatinya? Entahlah. Tapi, jauh di lubuk hatinya, Naveen takut dan berharap Juno tidak akan melakukan itu.
Tapi, sudah beberapa hari ini pria itu sama sekali tidak ada kabar ataupun memberinya kabar.
Naveen membuka laptopnya. Ia membuka salah satu folder yang berisikan khusus untuk foto-foto Juno. Naveen melihat satu persatu foto Juno dengan berbagai tempat dan eagle.
Kalian jangan berpikir Naveen mengambil foto Juno secara diam-diam, no! Kalian salah! Naveen mendapatkan foto tersebut dari akun sosial media milik Juno kemudian Ia menyimpannya.
"Lo kalo lagi diem kayak gini keliatan cool. Kalo senyum keliatan kayak anak kecil yang polos. Dasar Mr. Tengil." Kekeh Naveen sembari memandangi satu persatu foto Juno yang ada di laptopnya.
Naveen menghela nafas kemudian bangkit dan beranjak dari duduknya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king sizenya. Ia memandang langit-langit kamar dengan perasaan berkecamuk dan menerawang pada kejadian-kejadian saat di mana Juno yang selalu mengganggunya dengan gombalan recehnya walaupun hanya melalui chatt.
Naveen menoleh ke arah ponselnya dengan helaan nafas lemah.
'Kenapa Juno belom juga jawab pesan dari gue?' Bathin Naveen.
'Gue tuh kangen sama lo, Jun. Gue kangen sama tingkah lo yang selalu ngegombalin gue dan gak ada capeknya ngejar gue.' Lagi. Naveen bergumam dalam hatinya.
"Kata Dilan, rindu itu berat, dan sekarang gue ngerasainnya sendiri. Kira-kira di sana Juno rinduin gue juga gak, ya?" Monolognya.
"Anjir! Kenapa gue jadi melankolis begini?" Naveen memukul kepalanya saat sadar ia menjadi melankolis hanya karena merindukan seseorang yang jauh di sana.
Drrrttt...
Ponselnya bergetar, dengan cepat Naveen meraihnya dengan wajah sumringah dan senyum yang tersemat di bibirnya. Namun, sesaat Kemudian senyuman itu luntur dan mendesah kecewa. Ternyata yang menghubunginya bukan Juno, melainkan Mario, teman satu tongkrongannya.
"Ck, gue kira Juno yang nelpon gue." Gerutu Naveen sebelum menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Ngapain lo nelpon gue?" Ujar Naveen pada seseorang di sebrang sana dengan nada jutek.
Padahal Naveen sudah sangat berharap yang menelponnya adalah Juno, bukan Mario.
"Etdah, jutek amat lo, nying! Malem ini ada tanding, lo mau ngikut kagak?" Sahut Mario.
Naveen diam sejenak sebelum mengiyakan ajakan Mario
"Oke deh, gue mau ikut. Lagian di rumah juga gue suntuk banget."
"Yaudah, gue Tunggu di tempat biasa, ya? Malem ini ada anak baru yang mau gabung bareng kita. Dia juga mau sekalian kenalan sama lo. Katanya dia mau tahu jagoan jalanan kita kayak apa." Ujar Mario. Naveen mengangguk saja walaupun Mario tidak melihatnya.
"Gue otw sekarang!" Tanpa mau repot-repot menjawab ucapan Mario, Naveen memutuskan sambungan telponnya begitu saja.
Naveen berpikir tidak ada salahnya ia menerima ajakan Mario. Hitung-hitung untuk menghilangkan rasa jenuhnya selagi menunggu kabar dari Juno.
Ya, inilah kebiasaan Naveen kalau ia sedang suntuk atau bosan. Ia akan mengikuti ajakan temannya untuk balap liar atau hanya sekadar nongkrong di cafe..
Naveen bangkit berdiri dan beranjak menuju lemarinya untuk mengambil jaketnya kemudian meraih kunci motornya yang terletak di atas meja belajarnya. Setelah itu ia segera bergegas.
Saat di tangga terakhir, Naveen berpapasan dengan mama Rania yang menatapnya dengan dahi berkerut.
"Kamu mau kemana malem-malem begini, sayang?" Mama Rania bertanya namun Naveen memutar bola matanya seolah malas menjawab peetanyaan sang mama.
"Mau ketemu temen!" Naveen menjawab singkat.
"Tapi, 'kan ini udah malem, sayang. Apa nggak sebaiknya besok aja ketemuannya?"
"Gak bisa! Yaudah yah, mah, aku buru-buru. Udah di tungguin soalnya. Mama gak usah nungguin aku, kemungkinan malam ini aku gak pulang."
Usai mengatakan itu, Naveen melengos begitu saja. itu, Naveen melengos begitu saja. Mama Rania menghela nafas berat melihat sikap Naveen yang selalu seperti itu.
*****
Juno menghela nafas berkali-kali ketika ponselnya terus saja berdering. Beberapa pesan masuk dan telpon terus saja mengganggu indra pendengarannya.
"Handphone lo dari tadi berisik banget sih, bang. Angkat napa biar gak berisik. Ganggu banget, sih!" Gerutu Jean merasa terganggu karena suara notifikasi dari ponsel kakak kembarnya itu.
"Gue juga maunya gitu, Je, tapi hati gue tuh terlalu lemah, yang ada ntar gue malah luluh lagi. Gue tuh masih mau kasih pelajaran dulu buat ayang Naveen biar tahu rasa." Jelas Juno melirik sekilas Jean yang kini sedang duduk di atas tempat tidurnya.
"Lagian lo juga ngapain coba di kamar gue?"
"Pengen aja." Jean menjawab sekenanya.
"Pingin iji." Cibir Juno Kemudian kembali fokus pada gamesnya lagi.
Ting...
Jean tidak memperdulikan gerutuan Juno, ia lebih memilih fokus pada ponselnya yang baru saja ada notifikasi masuk. Tertera nama Haechan di sana.
'Tumben lo ngechat gue, Je? Ada apaan? Oh, gue tahu nih, lo pasti mau nanyain Naresh, 'kan?'
Itu serentetan isi pesan balasan dari Haechan.
Tebakkan Haechan memang benar. Jean sengaja mengirim pesan pada Haechan untuk bertanya atau lebih tepatnya mencari tahu tentang kehidupan Naresh. Ia menjadi penasaran ketika tempo hari ia mendengar kegaduhan di dalam rumah pemuda manis itu. Belum lagi luka di dahi Naresh yang semakin membuat Jean bertanya-tanya.
Jean segera mengetik balasan untuk Haechan.
'Iya. Gue gak mau basa-basi. Gue mau lo ceritain semua tentang kehidupan Naresh ke gue.'
Tulis Jean to the point dalam pesannya. Jean bukan tipikal orang yang suka berbasa-basi, ia akan to the point, karena itu hanya akan membuang waktunya saja.
'Ck! Lo tuh emang, ya, bukan tipe orang yang suka basa-basi. Tapi, nanti ada bayarannya gak nih? Soalnya informasi yang bakal gue kasih tahu ke lo ini bersifat pribadi, jadi gue gak boleh sembarangan ngasih tahu kalo gak ada bayarannya.'
Balas Haechan mencoba bernegosiasi.
Bukan Haechan ingin memanfaatkan Jean, Haechan hanya berpikir realistis saja.
"Gue bakal traktir lo selama seminggu penuh!"
"Oke, deal!"
"Okey, lo bae-bae, ya. Sebenernya gue udah janji gak akan ceritain tentang kehidupan Naresh ke siapapun, termasuk lo. Karena gue juga gak berhak buat ngomong apa-apa tentang dia. Tapi, kali ini gue mau ingkarin janji itu demi kebahagiaan dia.'
'Sebenernya selama ini Naresh selalu di perlakukan gak baik dan gak adil sama ibu dan kedua kakaknya. Naresh di perlakukan layaknya pembantu, bahkan sekarang Naresh harus ngehidupin dirinya sendiri dengan kerja paruh waktu di cafe. Setelah ayahnya meninggal, dia gak pernah lagi ngerasain kasih sayang, yang dia dapetin cuma kesengsaraan. Hidupnya jauh dari kata bahagia.'
'Apa Naresh gak mau keluar dari rumahnya biar dia bisa bebas dari ibu dan kakak-kakaknya?'
'Gue udah sering nyaranin Naresh buat pindah, tapi dia selalu nolak dengan alesan di rumah itu banyak kenangan dia sama mendiang ayahnya.'
'Gue harap, setelah ini lo mau nerima Naresh. Bukan karena kasian, tapi karena lo bener-bener cinta sama Naresh. Kalo mau nerima Naresh karena kasian, mendingan gak usah. Karena itu bakal bikin Naresh sakit hati. Dia udah cukup menderita selama ini. Dan gue berharap lo gak mainin perasaan dia.'
Setelah membaca pesan-pesan dari Haechan, Jean termangu, apakah semenderita itukah Naresh? Sosok yang selama ini selalu terlihat ceria ternyata menyimpan banyak rahasia dan kesakitan yang tidak ada satu orang pun tahu kecuali sahabatnya. Haechan.
Apa mungkin memar di dahinya tempo hari itu karena ulah ibunya? Kalau iya, Jean harus segera membawa Naresh keluar dari rumah itu agar pria manisnya tidak lagi terluka dan di sakiti.
'Gue janji sama lo, Chan, gue bakal bahagiain Naresh.'
Jean menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Jean jadi semakin merasa bersalah karena selama ini selalu bersikap acuh pada Naresh.
*****
Ceklek...
Tiba-tiba saja pintu kamar Juno terbuka dan masuklah Jisung dengan cengiran polosnya.
"Hallo, abang-abangku yang ganteng. Adikmu yang cakep ini is kaming." Jisung menutup pintunya dan berjalan ke arah Jean yang sedang fokus dengan ponselnya.
Juno memutar bola matanya malas. Sementara Jean terlihat acuh dan tetap fokus pada ponsel di genggamannya.
"Nambah satu lagi. Lo ngapain ke sini, bocah?" Gerutu Juno di akhiri dengan pertanyaan.
"Icung mau minjem PSP lo bang, boleh kagak?"
"Kagak! Ntar gue kena marah bunda kalo minjemin lo PSP lagi." Tolak Juno membuat Jisung merengut.
"Bentaran doang bang. Pelit amat, sih, sama adek sendiri. Lagian gue juga udah minta izin, kok, sama bunda. Kata bunda boleh tapi jangan lama-lama, sejam katanya. Ayolah bang pinjemin Icung. Orang pelit nanti kuburannya sempit loh, bang." Bujuk Jisung namun Juno tetap menolak meminjamkan PSPnya pada Jisung.
"Tetep nggak!"
"Gue bayar sepuluh rebu deh,"
"Nggak! Duit sepuluh rebuan mah banyak noh dalem dompet gue." Ujar Juno, Jisung mencibir.
"Lo pinjem aja tuh punya si Jean." Sambungnya lalu menunjuk Jean dengan dagunya.
Jisung mendengus sebal sebelum beralih pada Jean.
"Bang__"
"No!" Sela Jean singkat, jelas, padat setelah memotong kalimat Jisung.
"Ih, kalian pelit banget, sih, sama adek sendiri! Ayoklah bang Juno." Bujuk Jisung yang sepertinya belum mau menyerah sebelum Juno mau meminjamkannya PSP.
"Yaudah deh, dua puluh rebu?" Juno menggeleng.
"Gocap dah gocap?" Lagi. Juno menggeleng.
"Seratus rebu dah seratus rebu."
"Oke, deal! Tapi, bener, ya cuma sejam doang?"
"Iya! Huh, kalo duit aja cepet lo, bang."
Jisung mengambil PSP yang Juno sodorkan padanya kemudian berjalan ke arah ranjang milik Juno. Sebelum itu, ia merampas cemilan milik Juno yang ada di atas meja.
"Heh, keripik gue itu, cil! Kembaliin gak?! Main rampas aja."
"Minta dikit doang, bang." Tanpa memperdulikan gerutuan Juno, Jisung mulai memainkan gamesnya sembari menikmati keripik hasil jarahannya.
*****
"Bang, lo lagi chattan sama siapa, sih? Fokus banget dari tadi. Chattan sama kak Naresh, ya?" Jisung mengintip sedikit ke arah layar ponsel Jean. Tapi, langsung Jean sembunyikan agar Jisung tidak bisa melihatnya.
"Eh, kok itu Chan, sih, bang? Kalo kak Naresh pasti Na atau nggak Resh. Kok ini malah Chan?"
"Apaan, sih, lo kepo banget, bocil!"
"Je, jangan bilang lo chattan sama Haechan? Sahabatnya Naresh? Wah, lo gila ya, Je. Naresh yang ngejar-ngejar tapi lo malah ke cantol sama sahabatnya? Emang benar-benar kampreto banget lo jadi cowok!" Juno berbalik dan memicingkan matanya menatap curiga saudara kembarnya itu.
"Gue emang chattan sama Haechan, tapi bukan beerarti gue ada something sama dia. Gue ngecatt dia cuma pengen nanya-nanya tentang Naresh aja. Asal banget nuduh orang." Ungkap Jean.
"Kirain."
Hening. Suasana ruangan itu menjadi hening. Ketiganya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Bang Je," Jisung kembali membuka suara, memecah keheningan.
"Hm?" Jean menyahut tanpa menolehkan kepalanya.
"Icung mau nanya nih."
"Iya, gue mau jawab."
"Kalo abang di kasih pilihan. Milih 100 kak Naresh atau kak Naresh yang berumur 100 tahun?" Tanya Jisung tiba-tiba.
Jean melirik sekilas ke arah Jisung sebelum menjawab pertanyaan sang adik yang menurutnya sangat tidak penting.
"Gue bakal pilih Naresh yang berumur 100 tahun."
"Alesannya kenapa?"
"Pada saat itu tiba, gue bakal nganter dia ke rumah sakit, ngejaga dan ngerawat dia. Kalo 100 Naresh gue gak yakin bisa nanganin." Balas Jean.
"Wow! So sweet."
"Kalo bang Juno?" Jisung beralih pada Juno.
"Paan?"
"Bang Jun, abang kalo di suruh milih, pilih 5 kak Naveen atau kak Naveen berumur 5 tahun?"
"Tentu aja gue bakal pilih Naveen yang berumur 5 tahun lah. Gue pengen ketemu sama Naveen yang gemesin di umur 5 tahun. Pipinya pasti tembem kayak bakpau. Pengen gue unyel-unyel jadinya." Balas Juno memandang ke atas, seolah ia sedang membayangkan betapa lucu dan menggemaskannya Naveen di usia 5 tahunnya.
Dalam hati Jisung be like : idih si najis! Idih idih, najis banget gue liatnya.
"Ya, jelaslah lo bakal pilih kak Naveen berumur 5 tahun. Seumpama lo pilih 5 kak Naveen, belom tentu lo bisa taklukin. Satu kak Naveen aja belom bisa lo taklukin apalagi 5, bang." Ujar Jisung menohok hati Juno.
"Hhmmpp..."
"Apa lo, Je? Mau ketawa? Ketawa aja! Mentang-mentang udah jadian sama Naresh, sombong lo!" Sungut Juno melihat Jean sedang menahan tawanya.
"Lo kenapa, sih, bang? Sensi amat dah perasaan?" Tanya Jisung.
"Bang Juno lagi galau, Cung. Makanya dia uring-uringan kayak gitu." Jean menyahut.
"Galau mulu, bang! Mending lo makan ini aja nih, keripik. Perut kenyang, hati pun senang."
"Bacot!"
*****
Naveen menancap gasnya kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sehingga ia bisa mengejar yang lain dan saat ini Naveen berada di posisi paling depan kemudian di susul oleh seseorang yang baru saja bergabung dengan mereka.
Sorakkan dari para penonton mengiringi kemenangan Naveen yang sudah melewati garis finish.
"Makin jago aja lo, Veen. Padahal udah lama lo gak ikut gabung sama kita." Puji Mario saat Naveen baru saja membuka helmnya.
Naveen tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil saja.
Tidak lama kemudian, seseorang menghampiri dan menyapa mereka berdua.
"Ternyata bener kata Mario, lo emang hebat dan pantes dapet julukan raja jalanan." Puji orang itu.
Freddy, seseorang yang di ceritakan Mario saat di telpon dan baru saja bergabung di acara balapan mereka. Freddy memiliki postur tubuh yang tinggi, kekar dengan bisep dan trisep yang terlihat sempurna. Wajah tampan khas dengan garis rahang tegas, hidung mancungnya dan bola mata berwarna abu-abu semakin menambah nilai ketampanannya.
"Thanks." Singkat Naveen menjawab.
"Gimana kalo buat ngerayain kemenangan lo dan sebagai tanda pertemanan kita, gue traktir minum?" Ujar Freddy lagi.
"Sorry banget, tapi gue gak bisa, gue mau langsung cabut aja." Tolak Naveen.
"C'mon, Veen. Lo kan gak pernah ikut, ayolah sekali-kali gak masalah, 'kan? " Mario merangkul bahu Naveen dan berusaha membujuknya.
Naveen memang selalu menolak saat Mario dan teman-temannya yang lain mengajaknya ke bar walaupun hanya sekadar untuk minum sembari bercengkrama. Naveen tidak terbiasa dengan hal-hal dan tempat seperti itu, Naveen hanya ikut balap liar saja bersama mereka, tidak lebih.
"Ayok, Veen! You must join with us." Mario tidak menyerah begitu saja.
"Oke, gue ikut. Tapi, gue gak bisa lama-lama, ya?" Kata Naveen akhirnya. Walaupun sebenarnya terpaksa.
*****
Hingar bingar ruangan itu dan dentuman musik yang memekakan telinga mengusik pendengaran Naveen yang terlihat tidak nyaman di tengah-tengah lautan manusia yang sedang menikmati alunan musik yang di mainkan oleh seorang dj dengan meliuk-liukkan tubuhnya di atas dance floor. Sebagian orang ada yang sedang menikmati minuman alkohol hingga mabuk bahkan tak sadarkan diri. Asap rokok tercium di indra penciumannya, sangat mengganggu.
Naveen mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan dengan tak nyaman. Sungguh. Rasanya Naveen ingin segera beranjak dan bergegas pulang ke rumah. Apalagi ketika pandangannya tak sengaja melihat Freddy dan Mario yang sedang di gelendoti oleh dua wanita penghibur di sana. Bahkan tangan wanita itu bergerilya mengusap dada kedua cowok itu dengan sensual membuat ia mengernyit jijik. Belum lagi di sofa yang tak jauh dari tempatnya duduk, sepasang laki-laki dan wanita sedang bercumbu dengan tangan si pria berada di dada si wanita tanpa memperdulikan sekitarnya. Naveen benar-benar tidak nyaman. Tempat ini sangat asing baginya. Naveen menyesal mengiyakan ajakan Mario dan Freddy. Seharusnya ia tetap menolak lalu bergegas pulang.
Malam semakin larut, dan mereka semakin larut dengan kegiatan mereka terkecuali Naveen yang masih mempertahankan diri di sana walaupun rasa tidak nyaman semakin menyelimuti hatinya.
"Diem aja lo dari tadi, Veen?" Freddy menghampiri Naveen dengan dua gelas wine di tangannya. "Nih minum dulu." Freddy memberikan salah satu gelasnya pada Naveen.
"Alkohol?" Tanya Naveen meyakinkan.
Freddy mengangguguk, "Iya. Emangnya lo pikir apaan? Jus strawberry? Minuman yang kayak begitu mana ada di sini, Veen?"
"Thanks. Gue gak minum yang begituan."
"Ayolah Veen, ini kadar alkoholnya dikit, kok, minum sebotol gak akan bikin lo mabuk," Sela Mario ikut bergabung.
Jujur, Sekarang Naveen memang sedang haus tapi ia juga tidak terbiasa minum alkohol. Naveen tidak suka aromanya.
"Di tempat kayak gini gak ada jus ataupun air putih, Veen. Adanya cuma ini aja. Lagian lo kan cowok, masa minum ini aja lo gak berani, sih? Cemen banget!" Ucap Freddy lagi dengan nada mengejek.
Naveen mendengus sebal karena merasa di ejek oleh cowok itu. Dia merasa Freddy dan Mario memiliki sifat pemaksa yang kuat. Dengan terpaksa dan sedikit ragu ia menerima minuman tersebut lalu meneguknya. Mata Naveen menyipit ketika minuman yang asing itu melewati dan terasa membakar tenggorokannya. Rasa pahit dan tajam menyeruak di lidahnya.
Terdengar gelak tawa dari Mario, Freddy dan teman-temannya yang lain ketika melihat reaksi Naveen.
"Mau lagi?" Tawar Freddy yang tentu saja langsung Naveen tolak. Tanpa sadar tadi Naveen meneguk habis minuman itu dan sekarang Naveen merasakan kepalanya sedikit berdenyut, sepertinya Naveen memang tidak bisa meminun minuman yang seperti itu.
"Gue Mau pulang," Naveen berusaha bangkit namin dengan cepat Freddy menahannya.
"Mau kemana, sih, Veen? Buru-buru banget. Kita seneng-seneng aja dulu lah." Tapi Naveen tetap menolak. Ia melepaskan cengkraman Freddy di tangannya kemudian berlalu dari sana tanpa memperdulikan mereka.
Naveen berhasil keluar dari tempat itu, Ia bergegas ke parkiran untuk mengambil motornya. Sesampainya di parkiran, Naveen langsung melajukan motornya.
*****
Tok tok tok...
"Iya, tunggu sebentar!" Suara seseorang di balik pintu menyahut. Tak lama kemudian pintu rumah terbuka, menampilkan om Edward yang memandangnya dengan dahi berkerut.
"Naveen? Ngapain kamu malem-malem begini ke sini?" Tanya om Edward.
"Aku Mau nginep di sini boleh, om?" Ujar Naveen mengabaikan pertanyaan om Edward.
Kerutan di dahi om Edward semakin dalam ketika mencium aroma yang sangat familiar dari mulut keponakannya itu.
"Kamu minum?"
Naveen hanya bisa diam dengan kepala menunduk tanpa mau menjawab pertanyaan yang di layangkan om Edward padanya. Naveen tidak berani menatap om Edward, karena Ia tahu, omnya itu pasti akan sangat marah ketika mengetahui Naveen minum. Om Edward selalu melarangnya untuk ke tempat seperti itu apalagi sampai menyentuh minuman yang memabukkan itu.
"Bau rokok? Alkohol? Club?" Naveen hanya mampu menganggukkan kepalanya saja.
Hufff....
Om Edward menghembuskan nafas kasar sebelum menyuruh Naveen masuk.
"Ini, kamu minum ini dulu biar pusingnya berkurang." Om Edward menyodorkan segelas jus jeruk pada Naveen yang saat ini sedang duduk di kursi mini bar.
Naveen menerimanya tanpa membuka suara lalu meneguk jus jeruk tersebut hingga tersisa setengah.
"Kenapa kamu minum? Om kan udah ingetin, jangan sampai kamu nyentuh apalagi minum-minuman haram itu. Kamu pulang jam segini pasti habis trek-trekan lagi, 'kan?" Cecar om Edward.
"Kalo ada masalah tuh cerita sama om, jangan kamu pendem sendiri apalagi sampe lari ke hal negatif yang nantinya bisa merusak diri kamu dan masa depan kamu sendiri." Sambungnya. Om Edward mengusap wajahnya frustasi.
"Maafin Naveen, om."
"Om gak butuh maaf kamu. Sekarang kami cerita apa masalahnya!"
"Ini soal Juno," Cicit Naveen.
"Juno? Kenapa sama Juno? Dia nyakitin kamu?"
Naveen menggeleng, "Nggak. Justru aku yang nyakitin dia. Udah beberapa hari ini dia nggak ngehubungin aku, dia cuekin aku, om."
"Kamu udah ngechatt atau nelpon dia?"
"Udah. Tapi gak di bales apalagi di baca. Di telpon juga gak di angkat. Juno kayak ngehindarin aku, om. Itu yang bikin aku gelisah dan akhirnya nyetujuin waktu temen aku ngajak balap."
"Aku berpikir mungkin dia udah nyerah dan gak mau berjuang lagi. Naveen takut kalo itu beneran terjadi, om."
"Mungkin sekarang Juno lagi pengen istirahat sejenak sebelum kembali berjuang buat dapetin kamu. Seseorang yang mencintai kamu tidak akan meninggalkan hati yang di cintainya, bagaimanapun keadaannya." Om Edward menjeda kalimatnya sejenak.
"Pesen om, mulai sekarang kamu belajar menghargai seseorang yang mau mati-matian perjuangin kamu. Percayalah, di abaikan itu rasanya menyakitkan. Dan sekarang kamu ngerasain itu, 'kan? Cinta juga punya batasan, kamu bisa berjuang sama orang yang kamu cintai juga mencintaimu. Tapi, nggak dengan sama orang yang sama sekali gak pernah mencintai kita. Everything will be easy if you want to respect him and accept him. It's very easy isn't it? Don't complicate things just because of your ego." Om Edward mengakhiri kalimatnya.
"Ini udah larut, sekarang kamu istirahat sana di kamar, biar besok gak kesiangan bangunnya." Titah om Edward menepuk bahut Naveen.
"Makasih, om." Om Edward menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Naveen bangkit dari duduknya kemudian beranjak menuju kamar yang biasa Ia tempati saat menginap di rumah om Edward.
*****
TBC...
Naveen udah mulai luluh nih keknya 🤭