LONELY

By fhracinta

223 14 0

Tentang kehilangan lalu mengikhlaskan. Namun seseorang datang untuk menggagalkan. ••• Kondisi keluarga yang t... More

PROLOG
1. (Not) Here
2. Déjà vu
3. Keharusan
4. Bersamanya
5. Memori Masa Lalu
6. Adaptasi
7. Ingin Tahu atau Memang Peduli?
8. Senandika
10. Feel Blue
11. Teman Katanya
12. Hold My Hand
13. Payung Kuning
14. Garis Lengkung
15. Atmosfer

9. Rumah

8 0 0
By fhracinta

Matahari menyelusup masuk melalui jendela kamar seorang pemuda jangkung yang baru saja menguap. Kini tangannya yang habis menutup mulut dipergunakan untuk menata rambutnya yang berantakan.

Rey melamun selama beberapa menit sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Sekitar 10 menit Rey berdiri di bawah guyuran air hangat. Ia keluar dari kamar dengan seragam yang sudah rapi. Juga berbagai atribut yang tak lupa dipakai tentunya.

Laura, wanita yang ia panggil dengan sebutan... "Mama!" sudah menyiapkan berbagai lauk pauk di atas meja makan.

"Pagi kasep!"

Rey duduk di kursi sembari memandangi masakan buatan Laura. Harum menyeruak masuk ke indra penciumannya.

"Tumben bangun pagi. Takut telat lagi, ya?" Laura tertawa kecil.

Rey ikut tertawa. Ini memang masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Tapi tak apa lah, Rey ingin mencoba hal baru.

"Abang kamu masih belum bangun, kamu tinggalin aja dia. Ga usah dibangunin, kemarin kan dia gituin kamu," ujar Laura. Ia pun mengambilkan nasi ke piring anaknya. Berbagai lauk ia biarkan Rey memakan sepuasnya.

"Jadi, Mama nyuruh Rey balas dendam gitu?" Rey menyantap satu sendok penuh ke mulutnya.

Laura menggeleng ringan, ikut duduk di depan Rey. "Balas dendam itu ga baik, Rey. Kalau seseorang ngelakuin sesuatu yang buruk ke kamu, Mama harap kamu ga ngelakuin hal buruk juga ke orang itu." ucap Laura serius.

"Rey bukan orang yang kayak gitu kok," sahut Rey meyakinkan.

Suasana ruang makan hening seketika. Menyisakan suara dentingan sendok pada piring. Hingga Rey telah menghabiskan sarapannya, ia meminum segelas air putih.

"Rey mau ketemu Papa. Sama---"

"Ayo berangkat!" Seseorang menghampiri dua manusia lain yang mana satunya terpotong pembicaraannya.

"Abang makan dulu," perintah Laura pada anak pertamanya.

"Ga usah, Ma. Hari ini harus berangkat pagi, jadi makan di sekolah aja, ya?"

"Yaudah biar Mama buatin kamu bekal yaa."

"Oke."

☁️☁️☁️

Katanya, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Iya, memang benar. Ayah adalah laki-laki pertama yang Naomi cintai, tapi ayahnya pula yang menjadi laki-laki pertama yang ia benci.

Lihat saja sekarang. Ayahnya baru bangun sudah ikut berkicau dengan para burung-burung di luar. Ayah Naomi terus meracau, mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak memiliki hubungan.

"Leher jerapa emang panjang, tapi masih pendek an leherku HAHAHAHAHAHAH." Ayah Naomi tertawa keras sekali, membuat Ayu, Iko dan Odi menutup telinga masing-masing.

Naomi membuang napas gusar. Ia menggeser kursi yang ia duduki ke belakang secara kasar lalu ia berdiri. "Aku berangkat sekarang." celetuk Naomi sebelum melenggang pergi begitu saja.

"SALIMNYA MANA SAYANG??? KAMU KENAPA GA SOPAN BEGITU???"

Ayah Naomi pulang kemarin malam. Tentunya dengan keadaan mabuk berat. Itu sudah jadi biasa bagi keluarga ini. Ayah Naomi jarang pulang ke rumah, tapi sekalinya pulang selalu meracau tidak jelas.

Berbeda dengan ayah orang lain yang pulang sehabis kerja, dan tak melupakan membelikan anak-anaknya makanan juga minuman enak.

"Aku pasti akan cari kerja lagi, Ibu." putus Naomi ketika berhadapan dengan ibunya yang masih memejamkan mata di ranjang.

Baru-baru ini Naomi terpaksa berhenti bekerja karena bos nya memutuskan kontrak sepihak. Mau tak mau ia harus mencari pekerjaan lain.

"Pria ga bertanggung jawab itu harusnya ga kembali lagi ke sini, Bu. Seenggaknya dia kembali ke rumah dalam keadaan normal, bukannya malah mabuk-mabukan." Naomi sedikit terisak saat mengatakan kalimat itu. Ia memegang tangan kurus ibunya.

Ibu Naomi tiba-tiba membalas genggaman tangan anaknya. Naomi pun mengangkat wajahnya, melihat ibunya yang kini tersenyum menenangkan ke arahnya. "Dia tetap ayah kamu, Naomi."

☁️☁️☁️

Satu hari terlewati dengan cepat. Malam telah datang, dengan bulan yang bersinar terang di langit gelap. Cuaca sangat dingin malam ini. Rey memprediksi sebentar lagi mungkin akan turun hujan.

Rey baru ingat ia sudah selesai menyalin catatan milik Retta. Karena bosan di rumah, lebih baik ia mengembalikkan bukunya sekarang.

Ini baru pukul tujuh. Retta pasti belum tidur. Rey mengambil hoodie abu-abu yang tersampir di kursi meja belajar. Buku catatan ia simpan di saku hoodie yang lebar.

Rey keluar dari kamarnya. Rumah ini sepi. Laura belum selesai dengan pekerjaannya di luar sana. Sedangkan Abang nya sendiri sedang sibuk dengan teman-temannya.

Tak perlu waktu lama untuk Rey sampai ke rumah gadis itu. Ia berjalan ke arah gerbang yang tidak ditutup. Matanya menyapu ke arah sekitar. Rumah ini lebih sepi dari rumahnya. Sama seperti waktu pertama kali ia menginjakkan kaki di sini, untuk mengantar Retta sehabis kerja kelompok.

Prang!

Oh owh, ternyata ia salah sangka. Sebuah suara seperti barang pecah menarik kaki Rey untuk mendekat ke arah pintu rumah. Pintunya memang tertutup, tapi tidak rapat.

"Salah besar saya besarin kamu! Seharusnya waktu itu Mama kamu nurutin saya untuk gugurin kamu. Tapi sayangnya Mama kamu itu seorang dokter kandungan. Rusak reputasinya kalau orang-orang tau dia mau menggugurkan janin di perutnya." Samar-samar dapat Rey dengar percakapan tidak mengenakkan hati itu.

Sedangkan di dalam sana, Retta berusaha keras menahan air di pelupuk matanya terjun. "Kenapa ga jadi digugurin aja sih?" Retta bertanya dengan sekali hentakan nafas. "Aku pasti lebih bahagia kalau ngga menghirup udara di dunia ini. Aku lebih baik mati daripada hidup bersama orang seperti kalian!" lanjutnya begitu muak.

Dean mendelik marah. "Apa maksud kamu Aretta?!"

"Kalau gitu, untuk apa aku masih tinggal di rumah ini?"

Rumah yang bahkan tak bisa ku sebut rumah.

Tepat saat itu juga Retta pergi. Meninggalkan rumah tanpa memperdulikan Dean dan Sonya yang berteriak kesal memanggilnya.

Betapa terkejutnya ia karena di depan pintu ada Rey. Apa laki-laki ini mendengarkan obrolan tadi? Itu yang Retta pikirkan sekarang. Retta sama sekali tak punya alasan mengapa tangannya tiba-tiba menarik pergelangan Rey. Mengajak dia kabur dari rumah sialan ini.

Rey tak banyak bicara. Ia patuh saja saat gadis di sisinya ini meminta di boncengin. Rey makin bingung ketika ia bertanya tujuan mereka, tapi hanya dijawab, "jalan aja."

Air turun tanpa permisi. Mengguyur dua manusia yang tidak dekat, tetapi tiba-tiba kabur bersama. Retta dan Rey menghabisi waktu perjalanan tanpa bicara. Hanya suara hujan yang mendominasi. Retta tidak ingin berteduh. Ia ingin bertemu hujan, teman tanpa wujudnya.

Hingga akhirnya Retta meminta berhenti, baru lah Rey menepikan motornya. Di bawah pohon dekat danau. Air danau terlihat gelap dan dalam. Pohon sekitaran sini bahkan sangat besar-besar. Wilayah disini minim cahaya. Lampu jalanan redup-redup belum sempat diperbaiki. Menambah kesan horor.

Rey melepaskan hoodie yang ia kenakan untuk menutupi baju tipis Retta yang semakin terlihat tipis akibat terkena air. Meski hoodie nya sendiri basah, tapi itu lebih baik.

"Gue ga mau balik ke rumah," Retta bersuara serak.

Rey pun menolehkan kepalanya tanpa merespon apapun. Ia masih tak menyangka dengan apa yang ia dengarkan 1 jam lalu.

"Mereka ga butuh gue, karena gue emang ga berguna. Mereka butuh anak cowok. Mereka ga ngarepin bakal ngehadirin anak cewek yang ga bisa apa-apa kayak gue...." Pertahanan Retta runtuh. Gadis itu menangis, untuk pertama kalinya di hadapan seorang Reygan Juniarka.

"Nangis. Nangis sepuas lo, Ta." Rey pun menarik Retta ke dalam rengkuhannya. Menyembunyikan tangisan gadis itu yang makin terasa sesak di dada Rey.

"S-selama ini... selama ini gue berusaha jadi anak yang mereka mau. Tapi apapun yang gue lakuin... ga akan pernah cukup untuk mereka." Retta berusaha mencari oksigen sejenak. "Gue tetep bodoh, sekalipun gue udah belajar mati-matian."

Retta melepas pelukan yang entah kenapa terasa hangat padahal cuaca sedang dingin-dinginnya. Matanya menatap netra coklat milik Rey yang balik menatapnya. Tangannya bergerak gemetar ketika ia memukul lemah dada Rey.

"Kenapa? Kenapa lo selalu dateng di saat titik terendah gue?"

Di kelas saat ia tak punya teman kelompok, di rumah sakit saat perkenalan penerus keluarga, atau saat di UKS. Dan sekarang---

"Karena gue yang akan nemenin lo ngelewatin semuanya, Aretta." ucap Rey tulus dengan mata yang masih setia menatap Retta.

Karena malam ini adalah awal dari segalanya. Tangisan-tangisan rapuh dari bibir Retta membuat Rey jadi sangat ingin menjaga gadis rapuh ini. Menjaganya dari segala hal yang akan menyakiti hati kecilnya.

~To Be Continued~

Continue Reading

You'll Also Like

2.2K 431 31
[Naskah terbaik dalam Event Writing Challenge Batch 01 di adakan oleh penerbit @journeymedia ] ●●● Pertemuan dan perpisahan adalah satu paket lengkap...
210K 5.7K 9
Erine tak pernah menyadari bahwa setiap langkahnya di panggung, setiap gerakan tariannya yang anggun, selalu ada sepasang mata yang mengawasi-mata mi...
37.4K 2.2K 34
Ini mengenai gadis manis yang pendiam dan gemar menari. Merahasiakan segalanya di balik senyum dan tawa ceria. Sampai pada saat rahasianya tak lagi d...
Wattpad App - Unlock exclusive features