Jejak Kasih

By neomuhane

16.8K 1.9K 550

(COMPLETED) Tentang Kita Side Story | Tirta x Danisha from 'Tentang Kita' universe. Tirta lelah, namun Danish... More

sisi satu.
sisi dua.
author's note.
a glimpse of us
the final chapter

closure; hati-hati di jalan dan jaga diri

1.8K 244 21
By neomuhane


Perjalanan membawamu

Bertemu denganku

Ku bertemu kamu

Sepertimu yang kucari

Konon aku juga seperti yang kau cari

=

Tirta lama tidak pulang ke rumah, namun ketika ia pulang, hal yang paling ia rindukan setelah Mamanya adalah kamarnya yang beraroma seperti buku-buku lama, parfum apek dari baju-baju di belakang pintu yang tak kunjung ia cuci, juga cat air kering di meja belajarnya yang lama tak ia bersihkan.

Meskipun campuran aroma itu tidak begitu ramah di indera penciumannya, Tirta tidak pernah merasa terganggu, karena begitulah rasanya pulang. Khas bau-bauan inilah yang menjadi penanda bahwa dia tengah berada di rumah. Benar-benar rumah yang memiliki kehangatan.

Karena akhir pekan kali ini Tirta tidak begitu sibuk dengan pekerjaannya, juga tidak ada jadwal latihan band, Tirta memutuskan untuk pulang tanpa diminta. Reaksi Mamanya sudah jelas heboh. Antara senang, tapi juga mengomel karena katanya beliau belum sempat memasak apapun untuk menyambut kepulangannya.

Padahal Tirta tidak butuh diperlakukan seperti tamu, dilayani ini dan itu seakan-akan ini bukan rumahnya. Tapi mungkin begitulah afeksi yang coba Mamanya tunjukkan tiap kali ia pulang ke rumah.

Setelah mandi air hangat dan makan malam yang mengenyangkan, Tirta masuk ke kamarnya. Dia menghidupkan lampu yang mulai agak remang-remang seperti akan mati kapan saja, kemudian menyalakan radio butut yang masih bertahan sejak zaman dia masih SMP.

Sambil mendengarkan suara Penyiar yang tengah berbincang membahas hal-hal yang bisa dilakukan pada Jumat malam, Tirta bergerak menyusuri kamarnya. Mulai membersihkan benda-benda yang sudah tidak terpakai dan baju-baju bau apek yang sudah terlalu lama dia anggurkan.

Entah kapan sejak terakhir kali dia membereskan kamarnya.

Ketika lelaki itu akan membuang cat-cat kering di meja belajarnya, sebuah album foto usang di antara tumpukan buku-buku Hukum Internasional menarik perhatiannya.

Album berwarna biru muda itu sudah agak menguning di bagian sampul, debu tebal mengurangi estetika benda persegi panjang tersebut, menggerakkan Tirta untuk segera mencari tisu agar kotor yang menempel di atasnya menghilang.

D&T 2016

Melihat tulisan yang ditebalkan dengan menggunakan spidol di cover album tersebut, mau tak mau membuat Tirta terkekeh sambil mengusapnya pelan.

Oh, ternyata ini kumpulan memori dari potongan-potongan polaroid Tirta dan Danisha ketika mereka baru resmi pacaran. Masih hangat-hangatnya, sebelum berbagai bencana mengguncang hubungan mereka.

Tirta hanya mampu melakukannya sekitar setahunan—mungkin kurang, karena di tahun berikutnya, hubungan dia dan Danisha sudah tidak selengket sebelumnya. Masih, mereka masih manis pada satu sama lain, hanya saja, ada sesuatu yang mulai berbeda tiap pergantian tahun.

Entah intensitas kebersamaan mereka yang berkurang, atau antusiasme rasa yang sudah tak lagi sama. Tirta tidak pernah mendapatkan jawabannya hingga sekarang.

Membuka halaman pertama, Tirta disuguhkan dengan potret polaroid dirinya dan Danisha di malam tahun baru, bertepatan dengan hari di mana Tirta manggung dan nembak Danisha setelahnya.

Tirta masih ingat, di antara kerumunan para manusia yang tengah beramai-ramai melakukan penghitungan menyambut pergantian tahun, Tirta dengan lutut yang lemas dan jantung yang berdegup kencang, mengutarakan isi hatinya pada Danisha sambil tangan mereka saling menggenggam erat.

Tirta tidak akan pernah melupakan sensasi kembang api yang bukan hanya meletup di langit malam Bandung kala itu, namun juga meletup di perutnya begitu Danisha menjawab pernyataan sukanya dengan senyuman paling tulus yang pernah ia lihat dari gadis itu, sambil balik mengatakan bahwa dia juga suka. Tidak lupa dengan kecupan ringan di pipi kirinya.

Tirta mengelus lembut potongan polaroid itu mencoba mengingat kembali momen 1 Januari paling melegenda dalam sejarah percintaannya.

1 Januari 2016

Finally, you're mine<3

Tirta terkekeh pelan begitu membaca tulisan hitam alay yang sempat dia corat-coret di kertas polaroid tersebut sambil cengengesan sepulangnya cowok itu dari acara Festival pukul 3 Pagi.

I used to be in love this deep back then.

Tidak begitu heran, karena Danisha sempat jadi cinta tak sampai-nya Tirta, hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan setelah setengah tahun lulus SMA, di acara kampusnya Danisha.

Mungkin kalau kala itu The Committed tidak menerima tawaran manggung di Ganesha, pertemuan yang dinantikan itu tidak akan pernah terjadi, dan tidak akan pernah ada kita di antara keduanya.

Kukira kita asam dan garam

Dan kita bertemu di belanga

Kisah yang ternyata tak seindah itu

Lagu dari radio butut di pojok kamarnya tidak membuat Tirta menghentikan kegiatannya membuka halaman kedua, menemukan potongan polaroid yang diambil pada saat kencan pertama mereka di Dago Pakar. Tempat paling mainstream untuk orang Dago yang sekolah di Smansa, seperti mereka ini.

Tirta ingat, karena semasa mereka saling mengenal di SMA mereka tidak pernah main bersama di luar sekolah, cowok itu akhirnya menyarankan tempat paling membosankan yang sering dikunjungi di sekitar sekolah mereka dulu. Dan ide gila lainnya, mereka kencan sambil mengenakan seragam SMA.

Pada potret polaroid di halaman kedua, mereka terlihat mengenakan seragam putih abu sambil menggendong tas ransel, bergaya peace duduk di atas ayunan tua yang sudah agak reyot. Tirta lupa siapa yang membantu mereka mengambil foto tersebut, tapi yang jelas Tirta sangat berterima kasih karena waktu itu mereka agak kesulitan mengambil foto seluruh badan.

16 Januari 2016

Our first date; and our first kiss ;)
happy birthday, Sha<3

Oh, benar juga. Kencan pertama mereka adalah ketika Danisha berulang tahun yang ke-20.

Hari itu juga menjadi penanda kalau Tirta mencium Danisha—di bibir untuk pertama kalinya.

Ingatan tersebut agak samar-samar, namun Tirta yakin dia mencium Danisha ketika gadis itu baru turun dari motornya saat dia mengantarkan pulang sampai di depan pagar rumah.

Yang Tirta ingat adalah after-effect setelah melakukan itu, Tirta tidak bisa tidur karena terus-terusan memikirkan apakah yang dia lakukan itu sebuah kesalahan atau bukan. Respon dingin yang diberikan Danisha membuat Tirta jadi tidak percaya diri kalau-kalau mungkin Danisha tidak menyukai ciuman tersebut.

Namun setelah diusut, rupanya malam itu Danisha hanya salah tingkah hingga dia tidak tahu harus bereskpresi seperti apa. Wajah dinginnya memang seringkali disalahartikan, untung Tirta dulu cukup komunikatif, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang panjang.

Kalau dipikir-pikir, hingga akhir pun Tirta selalu berusaha bersikap komunikatif pada Danisha. Hanya saja, Danisha selalu terlalu sibuk untuk sekadar peduli, sehingga komunikasi mereka tidak pernah berjalan lancar.

Tirta merasa tidak pernah menyerah untuk mencoba membicarakan apa yang ada di dalam kepalanya pada Danisha, namun timing yang mereka punya tidak pernah tepat, hingga seringkali menimbulkan pertengkaran di antara keduanya.

Benar apa kata Tulus, kisah mereka memang tidak seindah itu.

Oh, semua hubungan mulanya memang selalu indah. Bagi Tirta, keindahan di antara dia dan Danisha itu fana.

Setahun setelah mereka bersama, mulai sering terjadi konflik di antara keduanya perihal sulitnya mengatur waktu untuk mempertemukan mereka.

Tirta takjub dia masih bisa mempertahankan hubungan yang banyak lubangnya itu sampai 5 tahun kemudian. Padahal teman-temannya sering meledekki Tirta, kalau cowok itu katanya tidak akan bisa mempertahankan hubungan mereka lebih dari 2 tahun, namun nyatanya Tirta cukup kuat untuk tetap membangun pondasi yang kokoh di antara keduanya.

Meski pada akhirnya pondasi tersebut harus roboh juga.

Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku

Tirta tidak terlalu menemukan banyak kesamaan di antara dirinya dan Danisha.

Namun menurut Tirta, perbedaan-perbedaan di antara keduanyalah yang menjadi latar belakang pemersatu mereka.

Tirta akan senang jika dia mendapatkan partner yang memiliki sifat ceria dan bawel. Namun, Tirta tidak yakin dia akan belajar menjadi kuat dan mengurangi kadar keegoisan dalam dirinya jika dia mengencani perempuan seperti itu.

Danisha juga mungkin akan senang mendapatkan partner dengan sifat dan karakter yang tidak jauh beda dari dirinya, mendiskusikan isu-isu terkini sambil pacaran baginya mungkin bukanlah hal yang membosankan. Namun, apakah hubungan keduanya akan berjalan langgeng jika Danisha mengencani lelaki dengan karakter yang sama dengan dirinya? Baru satu pekan, mungkin keduanya akan saling mendiamkan tanpa mencoba berkomunikasi.

Tirta ingat wejangan Mamanya kalau pasangan terbaik dalam hidup adalah pasangan yang bisa mengerti, memahami, dan sabar pada kita tanpa syarat. Dan sepertinya itulah faktor besar yang membuat Tirta selalu mencoba untuk menerapkan prinsip tersebut dalam hidupnya.

Be kind to others. Be kind. Be kind. Be kind.

3 Februari 2016

Danisha said she loves me for the first time,
I never felt so loved in my life.

Kukira takkan ada kendala

Kukira inikan mudah

Kau aku jadi kita

Tirta terus membalik halaman demi halaman album fotonya.

Berbagai memori kembali mencuat ke permukaan.

Ada Danisha yang tertawa ketika mereka dalam perjalanan penuju Punclut dengan vespa andalan Tirta, ada Danisha yang makan donat hingga toppingnya belepotan mengenai pipi tembamnya, ada juga Danisha yang tengah memasang ekspresi serius ketika tengah menyelesaikan maketnya.

Ternyata Tirta banyak mengabadikan momen-momen sederhana di tahun pertama kebersamaannya dengan Danisha.

Tirta sampai hampir lupa kalau dia dulu pernah sebucin ini pada Danisha saking sudah lamanya dia tidak memikirkan perempuan itu.

Sudah berapa lama ya, sejak pertemuan terakhir mereka.

Setengah tahun lalu? Ya, sudah enam bulan sejak perpisahan mereka.

Kalau ditanya apakah Tirta baik-baik saja setelah konfrontasi bulan Desember tempo hari, Tirta tidak bisa bilang iya. Karena dia juga sama hancurnya seperti bagaimana Danisha bersimpuh menangis hingga menciumi kakinya.

Hanya saja, ada satu titik di mana Tirta merasa dia jauh lebih lega setelah mengakhiri hubungannya dengan Danisha dibanding saat dia bertahan, namun gelisah karena selalu merasakan kekhawatiran berlebih akan hubungan yang semakin hari hanya berjalan satu arah.

Tirta percaya kok, kalau Danisha mencintainya. Cinta yang sama besarnya dengan bagaimana Tirta mencintai gadis itu.

Hanya saja, Tirta paham betul bahwa dua insan yang saling mencintai pun tidak bisa selamanya bersatu jika kebersamaan mereka justru adalah racun bagi keduanya.

Tirta ingin hidup lebih tenang tanpa perlu menerka-nerka apa yang tengah Danisha lakukan dengan kesibukannya di mana pun dia berada.

Danisha pun pasti akan belajar hal-hal baik setelah berakhirnya hubungan mereka. Tirta tahu Danisha adalah gadis yang pintar. Dan gadis pintar, cepat belajar dari kejadian-kejadian kecil dalam hidupnya.

Perpisahan mereka bukanlah hal besar. Patah hati bukanlah kehancuran dunia.

Kehidupan masih akan terus berjalan sebagaimana mestinya, dan itulah yang harus mereka lakukan. Terus berjalan maju.


9 April 2016

Danisha's sleeping face.
she fell a sleep after our first ever argument
I'm sorry I have to say that your angry face is freaking cute hahaha


15 Mei 2016

Don't stress yourself too much, Nyi.
we know that you can do ALMOST everything<3


20 Juni 2016

I like the way you smile, but your laugh is prettier


1 Juli 2016

Whoopsss it's finally my 21st birthday!
guess who's bought a cake and met my friends for the first time???
yes, it's her! I know socializing with people was never be your thing, but I'm glad that you want to get to know my friends better though it's still hard for you. thanks for doing your best.

I love you, Nyi. Always. xoxo


Pada akhirnya Tirta tidak menyelesaikan hingga halaman terakhir.

Dia menutup kembali album usang tersebut lalu bangkit menyimpan benda tersebut di rak bukunya, di tumpukan terbawah di mana letaknya tidak akan mudah terlihat hanya dengan sekali tengokan.

Tirta memutuskan untuk kembali melanjutkan aktivitasnya.

Rasanya luka yang sudah kering itu seperti dikorek lagi, dan Tirta memutuskan untuk berhenti sebelum lukanya kembali berdarah.

=

Hari ini

Kau berdamai dengan dirimu sendiri

Kau maafkan

Semua salahmu ampuni dirimu

***

Danisha terbangun tanpa alarm.

Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul 3 pagi.

Selalu. Selalu seperti ini selama beberapa bulan terakhir.

Menyingkirkan selimut yang menutupi dirinya, Danisha bangkit dari tempat tidur, berjalan mendekati meja untuk membuka air mineral yang selalu dia sediakan kalau-kalau setiap malam dia terbangun kehausan.

Setelah selesai meneguk air mineral di botol Danisha kembali ke tempat tidurnya, dinyalakan lampu tidur di nakas yang selalu dia matikan tiap malam semenjak dia menerapkan tidur di bawah pukul 12.

Danisha mencari ponselnya, membuka aplikasi pemutar lagu lalu mendengarkannya melalui earphone.

Menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, Danisha memejamkan mata. Mencoba mencari ketenangan di keheningan pagi pukul 3.

Semenjak berpisah dengan Tirta enam bulan lalu, Danisha perlahan belajar memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruknya. Mulai dari hal terkecil yaitu memperbaiki jam tidurnya yang berantakan, hingga mencoba membiasakan diri untuk mengurangi intensitas pekerjaannya yang hampir membuatnya gila.

Fase awal putus, Danisha masih melakukan penolakan. Masih tidak terima dan merasa tidak adil dengan keputusan Tirta yang membuangnya begitu saja. Masih menyalahkan Tirta atas kehancuran yang dia alami setelahnya.

Namun perlahan, Danisha mulai paham. Dia belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai keinginan dan rencana hidupnya. Dan bila kegagalan itu terjadi, Danisha hanya harus menerima kemudian memulai kembali.

Beberapa minggu setelah hubungannya dengan Tirta selesai, Danisha memutuskan untuk mengambil cuti. Jatah cuti yang tidak pernah Danisha pakai itu akhirnya berguna. Dia melarikan diri ke Lombok, mencari ketenangan dan ketentraman atas kegagalan yang baru saja dia alami. Berharap dengan kabur, dia akan menemukan jawaban dari luka-luka yang telah dia terima.

Kemudian, sepulangnya dari Pulau indah tersebut, Danisha membawa tekad yang kuat dan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat, bahwa dia akan resign.

Dia akan menghentikan kegiatan yang membuat dirinya menjadi racun untuk orang lain, sebelum setelahnya bercermin. Mencari hal-hal mana saja yang salah dalam dirinya.

Hari ini

Ajak lagi dirimu bicara mesra

Berjujurlah

Pada dirimu, kau bisa percaya

Danisha mengetuk-ngetukkan jemarinya pada lutut, mencerna setiap lirik yang masuk ke gendang telinganya.

Danisha ingat, begitu pulang ke Bandung dengan masih diselimuti lara, Danisha mencoba menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan produktif seperti yoga, membuat kue, menonton film di bioskop, dan masih banyak lagi. Kegiatan-kegiatan yang sudah lama tidak pernah dia lakukan semenjak dia sibuk dengan segala hiruk-pikuk dunia perkantoran.

Meskipun merasa ada yang hilang dalam dirinya, Danisha menyadari bahwa beban pikirannya mulai terasa ringan.

Perlahan, Danisha mencoba hal-hal lain yang tidak pernah dia lakukan, salah satunya adalah sesederhana bicara dengan teman.

Danisha tidak punya teman dekat. Namun, di tengah lara yang menerpa, dia berhasil menemukan satu. Seakan itu adalah jawaban dari Tuhan bahwa perginya satu orang di dalam hidupmu, bukan alasan untuk kamu tidak mendapatkan satu orang lain yang mungkin akan membuat kamu merasa lebih baik.

Dan itulah yang Danisha rasakan ketika bertemu dengan Radin, seseorang yang dipertemukan dengan Danisha secara tidak sengaja di toko kue, dan membuat Danisha berani untuk mencoba peruntungan.

Perlahan, langkah demi langkah Danisha gerakkan. Dan dia yakin dia akan berjalan tanpa penyesalan.

Maafkan semua yang lalu

Ampuni hati kecilmu

Sejujurnya, menjadi Arsitek adalah impiannya sejak kecil.

Bukan tanpa alasan mimpi itu tercipta. Mimpi besar itu mulanya hanya impian kecil Danisha untuk membangun rumah yang hangat untuk siapapun keluarga yang akan tinggal di dalamnya.

Dan meski sekarang Danisha harus berhenti sejenak menjalankan mimpi tersebut, itu bukanlah bukti kalau dia menyerah.

Danisha hanya tengah mengistirahatkan fisik dan psikisnya, sebelum kelak dia akan kembali mengais semangat-semangat yang kini telah berceceran.

Sekitar bulan lalu, Danisha baru saja berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai kontrak di kantor tata ruang kota Bandung setelah bekerja kurang lebih selama tiga bulan. Tiga bulan yang dia lewati bukan hanya semata-mata karena dia tidak tahan menjadi pengangguran, melainkan karena dia ingin belajar untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan tempat dirinya berada, meski itu artinya Danisha harus keluar dari zona nyaman.

Setelah berhenti dari lingkungan kantor yang lumayan membuatnya sakit kepala, Danisha mulai menata jadwal tidurnya, dan kini fokus membuat resep kue baru kalau-kalau satu atau dua tahun lagi keinginannya untuk mewujudkan toko roti benar-benar terwujud.

Sama seperti impiannya menjadi seorang Arsitek, membangun sebuah toko roti juga adalah impian kecil yang ingin Danisha besarkan nantinya.

Luka, luka, hilanglah luka

Biar tentram yang berkuasa

Kau terlalu berharga untuk luka

Katakan pada dirimu

Semua baik-baik saja

Sudah pukul 4 pagi.

Tidak terasa Danisha sudah merenung selama satu jam.

Berbaring meluruskan punggungnya, Danisha melepaskan earphone yang menempel di telinga, lalu menyimpan ponselnya di samping kepala.

Menatap langit-langit kamar, Danisha diam-diam merapalkan doa, kalau dia ingin berhenti terbangun di waktu-waktu menjelang pagi yang berujung hanya membuatnya overthinking.

Danisha ingin tidur nyenyak tanpa gangguan. Tanpa memikirkan luka-luka lama yang seharusnya telah pulih karena setengah tahun telah terlewati di mana dia dan dia tidak lagi dipertemukan.

Meskipun mengingat kembali peristiwa tempo hari masih menimbulkan nyeri di dada dan dentuman tak nyaman, namun Danisha kini mulai mengakui, bahwa perpisahannya dengan Tirta adalah demi kebaikan bersama.

Danisha kini tidak lagi meragukan kasih sayang Tirta selama 6 tahun terakhir, karena dia tahu, jauh lebih tahu dan merasakan, bagaimana rasanya dicintai dengan begitu tulus oleh seorang laki-laki baik hati yang selalu mencoba memahaminya.

Selama 6 tahun, Tirta selalu berusaha memahami Danisha, dan kini giliran Danisha yang harus memahami Tirta, bahwa perpisahan di antara mereka adalah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat.

Danisha belajar banyak hal baik setelah perpisahan menyakitkan tempo hari.

Dan Danisha tidak ingin menghapus ingatan itu, meski luka yang ditorehkan belum juga kering.

Sudah waktunya Danisha memaafkan dirinya sendiri, atas semua salah yang dia perbuat. Atas semua sakit yang dia berikan pada orang yang menyayanginya. Dan atas semua luka, yang tanpa sadar dia torehkan pada dirinya sendiri, maupun pada Tirta.

Semuanya akan baik-baik saja.

Dan Danisha pun memejamkan mata.


***


aku selembar kertas

yang terbakar

tetapi aku gegabah

menganggap

diriku api

Aan Mansyur dalam Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau


***


"Sha...?"

"Oh—hai,"

"... I didn't expect to meet you here."

"Aku juga... gimana kabar kamu...?"

"Never been this good. Kamu...?"

"Fine, I guess,"

"So glad to hear that."

"You sure?"

"Hahahaha. Aku selalu berharap kamu bahagia, Sha. Nggak pernah nggak."

-


Next episode; a glimpse of us




a/n:

halooo! Ini masih ada lanjutannya ya, karena ini full narasi. Nanti di episode ((((EPISODE))) selanjutnya bakal ada scene mereka ketemuan. Terus chapternya bakal berdasarkan lagunya Joji yang lagi viral which is lagu dantit banget:"))

tapi, lanjutannya bakal aku post di akun KaryaKarsa aku, ya!

yang udah follow tinggal tunggu notifnya, yang belum follow cari aja uname neomuhane, pasti ketemu.

Sampai ketemu lagi secepatnya, ya.... bye!

Continue Reading

You'll Also Like

308K 7.6K 13
" Daddy, apa kita akan terus bersama? " " Oh tentunya sayang, daddy tidak akan meninggal kanmu " Apakah semuanya berjalan dengan lancar? adakah cobaa...
104K 11.6K 23
❝We are just stuck in nostalgia.❞ Mereka telah bahagia dengan keluarga mereka masing-masing. Jauh dari segala masalah, sangat harmonis. Tapi ketika t...
83.5K 11.5K 31
[Baku | Sequel of Stay With Me] -Jenyong- Buat kalian yang cerita ini belum baca cerita Stay With Me, aku saranin baca itu dulu biar ngerti soal toko...
38.2K 3K 16
ONGOING slow update jenlisa story #jenlisa #chaesoo #jensoo #chaelisa #blackpink #jenlim #genbender
Wattpad App - Unlock exclusive features