Kim Haera terduduk nyaman di pangkuan Lee Mark. Kedua matanya mengarah pada layar televisi yang sedang menampilkan berita terkini. Berita heboh yang berhasil menggemparkan Korea Selatan sejak tadi pagi. Dispatch baru saja mengungkap skandal kencan antara aktris Kim Yerim dengan mantan atlet Nasional, Park Sooyoung. Pasangan sesama jenis itu terungkap sudah berkencan selama lebih dari 5 tahun. Ini gila. Kim Haera tidak bisa berkata-kata.
"Tidak usah pura-pura bodoh."
Lee Mark sudah berusaha sebaik mungkin menutupi kegugupannya. Ia merasa kalut tanpa alasan yang jelas. Ia sangat buruk dalam berakting. Sial. Padahal Lee Mark sengaja menyibukkan diri bermain ponsel, agar tidak terlihat tertarik pada berita yang sedang tayang. Tapi sepertinya percuma. Kim Haera bisa merasakan tubuh kakunya.
"Mwo?" Sahut Lee Mark.
"Jelaskan padaku, kenapa kekasihmu bisa diberitakan dengan pelatih Park."
Harus berapa kali lagi Lee Mark tegaskan kalau Kim Yerim bukanlah kekasihnya? Jika ia boleh menarik Kim Yerim ke hadapan Kim Haera, maka akan ia lakukan sekarang juga. Lee Mark tidak terima terus dikaitkan dengan wanita itu, okay?
"Kim Yerim hanya kekasihku di depan publik. Kami tidak pernah benar-benar berkencan."
"Haruskah aku percaya?"
Apatis, skeptis, egois. 3 kata itulah yang pantas menggambarkan sosok Kim Haera. Bukankah Lee Mark sangat hebat? Katakan, pria mana yang bisa tahan menghadapi jenis wanita seperti Kim Haera ini. Hanya Lee Mark seorang. Hubungan mereka di masa lalu terbilang sangat singkat. Meski demikian, keduanya memiliki perasaan yang sangat besar. Seharusnya tidak ada kendala yang begitu berarti. Namun si keparat Park Sooyoung tiba-tiba mengambil peran hingga semuanya berakhir kacau balau. Sial sekali.
"Aku bersumpah tidak pernah mengkhianatimu, Haera-ah. Kim Yerim hanya teman masa kecilku. Kalau kau tidak mau percaya, aku akan memintanya datang dan menjelaskan padamu tentang hubungan kami."
Kali ini ia harus bisa meyakinkan Kim Haera. Bagaimana pun Lee Mark juga memiliki batas kesabaran. Dimusuhi terus-terusan hanya karena berita bohong bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Pria camar itu tidak bisa menerimanya lagi. Ayolah, sudah 4 tahun berlalu, dan Lee Mark tidak pernah mempermasalahkan semua pemberitaan yang bertebaran di luar sana. Itu pun karena ia sakit hati saat mendengar kabar pernikahan Kim Haera. Namun sekarang situasinya sudah jauh berbeda, bukan?
"Aku mohon, percaya padaku. Tidak ada Kim Yerim atau pun wanita lainnya dalam 4 tahun terakhir. Hanya kau, Kim Haera." Lee Mark memohon sedemikian hebatnya.
Hening. Untungnya masih ada suara televisi yang menyamarkan suasana canggung di antara keduanya.
"Baiklah. Aku percaya padamu." Ungkap Kim Haera kemudian. Lee Mark mempererat pelukannya di pinggang Kim Haera. Ia lalu mengecup lembut pipi wanita itu. Kim Haera hanya pasrah. Biarkan saja Lee Mark melakukan apa pun yang ia inginkan.
"Sekarang katakan, kenapa ada berita seperti ini?"
Tampaknya Kim Haera sangat penasaran. Park Sooyoung yang mengencani seorang wanita memang patut dipertanyakan. Ia sudah lama mengenal Park Sooyoung, dan ia tidak tahu kalau mantan pelatihnya itu memiliki ketertarikan pada sesama jenis.
"Karna mereka memang berkencan. Nona Park itu, bagaimana aku harus mengatakannya..."
"Katakan saja." Balas Kim Haera
"Aku sudah lama mengenal Nona Park. Entah kenapa dia selalu terobsesi mengalahkanku. Tapi aku tidak akan membahas tentang itu." Lee Mark menjeda kalimatnya.
"Dia mengirim foto-foto kebersamaanku dengan Kim Yerim ke media dan mengarang cerita seolah-olah kami memiliki hubungan spesial. Lalu Kim Yerim datang dan memohon padaku agar aku tetap diam. Aku tidak bisa menolak Kim Yerim karna bagaimana pun dia masih temanku."
Pria camar itu tampak geram. Ia menghela napas panjang setelahnya. Jika di ingat-ingat lagi, sifat licik Park Sooyoung sangat menyebalkan hingga ia berpikir untuk mencekiknya sampai mati. Wanita itu juga mengelabui Kim Yerim demi menghancurkan hubungan Lee Mark dan Kim Haera. Menyebalkan sekali.
"Dan berita hari ini, akulah yang membeberkannya pada media. Aku tidak terima mereka baik-baik saja, sementara kita harus melewati semua ini." Ungkap Lee Mark pada akhirnya.
"Kenapa dia melakukan itu? Maksudku, apa untungnya untuk dia mengarang berita kencanmu?"
Penjelasan Lee Mark sedikit membingungkan Kim Haera. Bukankah Kim Yerim kekasih Park Sooyoung sejak awal? Lalu kenapa Park Sooyoung melemparkan kekasihnya pada seorang pria yang ia anggap sebagai pesaingnya sendiri?
"Karna dia cemburu pada hubungan kita. Memang apa lagi?"
Jawaban Lee Mark semakin membingungkan Kim Haera. Park Sooyoung cemburu? Pada siapa? Lagi pula, sejak kapan wanita itu mengetahui hubungannya dengan Lee Mark?
"Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa pelatih Park harus cemburu padaku, sedangkan dia hanya menyukai seorang wani-"
Kedua mata Kim Haera membulat sempurna. Ucapannya terhenti kala sebuah kemungkinan baru saja melintasi kepalanya. Wanita itu membekap mulutnya yang menganga. Mungkinkah? Astaga, ia merasa mual seketika.
"Aigoo, ekspresimu sangat berlebihan." Ejek Lee Mark.
"Katakan kalau aku salah. Rasanya tidak mungkin pelatih Park menyukaiku."
"Tidak ada yang tidak mungkin, sayang." Lee Mark menyahut santai.
"Oppa serius?"
"Tentu saja, dia sendiri yang mengaku padaku."
Bahkan kabar ini jauh lebih mengejutkan dari kabar kencan Lee Mark dan Kim Yerim beberapa tahun lalu. Sial. Informasi yang diberikan Lee Mark benar-benar mengikis kesadaran Kim Haera. Wanita itu terlihat bingung dengan tatapan kosong mengarah pada televisi. Kim Haera dibuat bertanya-tanya, jika Park Sooyoung memang menyukai dirinya, lantas kenapa wanita itu menghancurkan hidupnya?
"Apa itu masuk akal? Dia terlihat membenciku." Kim Haera terlalu naif. Tak heran jika ia gampang ditipu.
"Kau pikir begitu? Tapi sebenarnya tidak. Nona Park hanya putus asa saat itu. Dia pikir dia bisa menghancurkan hubungan kita dengan mudah. Tapi nyatanya, kau hamil anakku. Dan... ya, begitulah."
Seperti menemukan potongan puzzle. Perkataan Lee Mark berhasil memberikan pencerahan pada Kim Haera. Park Sooyoung sengaja menciptakan skandal kencan Lee Mark dan Kim Yerim agar Kim Haera marah lalu memutuskan hubungannya dengan Lee Mark, benar? Namun semuanya menjadi tidak terkendali saat Park Sooyoung mengetahui kehamilan Kim Haera.
Jika dilihat sekilas, Park Sooyoung memang sangat membenci Kim Haera. Tapi sebenarnya bukan Kim Haera yang menjadi target utamanya, melainkan si camar Lee Mark. Sayangnya, Lee Mark adalah lawan yang tangguh. Hal itulah yang membuat Park Sooyoung beralih menghancurkan Kim Haera. Ia tahu betapa berharganya Kim Haera bagi seorang Lee Mark.
"Jalang sialan." Umpat Kim Haera kemudian.
Sebenarnya Lee Mark tidak bermaksud mengungkit-ungkit masa lalu lagi. Saat ini ia hanya ingin Kim Haera fokus pada kesembuhannya. Tapi mau bagaimana lagi? Kesalahpahaman di antara mereka harus segera diselesaikan sebelum menjadi bola liar.
"Sudahlah, jangan pikirkan apa pun lagi. Kau hanya perlu fokus pada kesehatanmu."
"Tapi, Oppa?" Sayangnya Kim Haera masih memiliki pertanyaan yang mengganjal dikepalanya.
"Kenapa?" Sambut Lee Mark dengan suara rendah yang begitu renyah.
"Pelatih Park itu, apa dia pihak bawah?" Wajah konyol sang kapten tampak sangat menghibur. Ayolah, mana mungkin Lee Mark mengetahui urusan pribadi Park Sooyoung? Ia benar-benar tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Kau serius menanyakan hal itu padaku? Kenapa kau ingin tahu?" Lee Mark mendelik heran.
"Aku hanya penasaran. Dilihat dari sifatnya, bukankah dia seorang dominan? Tapi..."
"Apa!" Sepertinya Lee Mark sama sekali tidak menyukai topik ini.
"Tapi dia terlalu lemah untuk seorang dominan. Dia bahkan tidak mampu menyamai kekuatanku."
"A-apa maksudmu?"
Seketika Lee Mark dilanda perasaan gugup. Kim Haera mengerang kesal kala menyadari debaran jantung Lee Mark bertalu-talu tidak karuan. Pria itu masih sama bodohnya seperti dulu. Bisa-bisanya ia berpikir kalau Kim Haera juga bagian dari kaum penyuka sesama jenis. Dasar camar. Sekali bodoh tetaplah bodoh.
"Ya Tuhan, si bodoh ini. Aku pikir otakmu sudah di upgrade. Ternyata belum."
"Bicara yang jelas, Kim Haera. Kenapa Park Sooyoung tidak bisa menyamai kekuatanmu." Lee Mark menggerutu kesal. Ia terlihat tak sabar mendengar penjelasan Kim Haera.
"Mana aku tahu? Aku hanya mengerahkan seluruh kekuatanku saat memukulnya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Cih! Apanya yang dominan?" Celotehan Kim Haera mendatangkan perasaan lega di hati sang kapten. Akhirnya Lee Mark bisa bernapas dengan normal setelah beberapa saat merasa tercekat.
"Kau memukulnya? Kapan?" Tanya Lee Mark.
"Itu hari yang sama dengan berita skandal kencanmu. Pelatih Park menemaniku di ruang kesehatan saat aku dinyatakan hamil."
"Lalu kenapa kau memukulnya?"
"Karna dia tidak berhenti mengataiku jalang. Aku sangat marah, jadi aku menghajarnya habis-habisan." Kim Haera bersungut-sungut kesal mengingat kejadian 4 tahun silam.
"Woah... seharusnya kau mencekiknya sampai mati. Sayang sekali."
Situasi mendadak riuh. Keduanya menyemburkan tawa kala menyadari kecocokan satu sama lain. Bagaimana mungkin Lee Mark dan Kim Haera berbagi pemikiran yang sama? Mereka tertawa terbahak-bahak seakan baru saja mendapati hal paling lucu di dunia ini. Begitulah jika 2 manusia kejam berakhir dalam sebuah hubungan romansa.
***
"Bagaimana? Masih sakit?"
Tubuh Kim Haera selalu melemah ketika malam datang. Beberapa saat lalu Kim Haera mengalami kesakitan di bagian perutnya. Rasa sakit yang tidak tertahankan hingga membuat Lee Mark kalang kabut. Seperti biasanya, Lee Mark mengompres perut Kim Haera menggunakan air hangat. Ia hanya bisa berharap kalau rasa sakit yang diderita Kim Haera segera menghilang atau setidaknya berkurang. Menyaksikan wanitanya kesakitan adalah hal terakhir yang ia inginkan. Lee Mark bahkan tidak kuasa menahan airmatanya saat mendengar ringisan kesakitan Kim Haera.
"Sunny sudah tidur?" Kim Haera membalas lirih pertanyaan Lee Mark.
"Sudah. Dia langsung tertidur setelah menghabiskan susunya." Penjelasan sang kapten disambut senyuman hangat di wajah pucat Kim Haera. Lee Mark sedang berdiri tidak jauh dari tempat tidur sambil menenteng baskom kecil berisi air hangat di tangan kekarnya.
"Oppa, rasanya aku mau mati saja." Ucap Kim Haera tiba-tiba.
"Apa yang kau katakan?" Lee Mark segera menjatuhkan bokongnya di samping Kim Haera. Jika sedang kesakitan, wanita itu selalu mengucapkan hal-hal aneh di luar akal sehat. Tidak sekali dua kali Lee Mark menemukan Kim Haera berusaha melukai dirinya sendiri.
"Aku tidak tahan lagi."
"Haera-ah, bertahanlah. Setidaknya demi putri kita. Kau sangat menyayangi putri kita, bukan?"
Terkadang Lee Mark sangat pandai mengembalikan semangat Kim Haera. Pria itu mengusap lembut wajah pucat Kim Haera lalu memaku obsidian sayu sang wanita. Suara rendah Lee Mark juga selalu berhasil menenangkan Kim Haera.
"Maaf."
"Untuk?" Kening Lee Mark berkerut bingung.
"Maaf karna aku sangat merepotkan. Aku merasa tidak pantas untukmu. Kau berhak mendapat seseorang yang jauh lebih baik."
Lee Mark tidak suka mendengar hal ini. Kim Haera tidak pernah merasa insecure sebelumnya. Wanita itu selalu percaya diri, ia bahkan masih bisa mengangkat dagunya saat pertemuan mereka di klub malam sekitar 3 minggu yang lalu. Kebodohan Lee Mark di masa lalu benar-benar sudah merenggut jati diri seorang Kim Haera. Andai saja ia memiliki keberanian untuk membantah perintah orangtuanya, mungkin semuanya tidak akan berakhir serumit ini.
"Aku benar-benar akan menikahi Lee Jeno kalau kau berkata seperti itu lagi."
Apa ada jawaban lain yang lebih lucu? Kim Haera sampai meringis kesakitan kala perutnya terasa diremas. Ia tidak bisa menahan tawanya karena kata-kata yang dilontarkan Lee Mark. Ada-ada saja. Dari sekian banyak wanita cantik yang bisa ia sebutkan, kenapa harus Lee Jeno?
"Jangan tertawa. Aku sedang serius." Geram Lee Mark.
Tidak mengindahkan teguran si pria camar. Kim Haera justru semakin tertawa terbahak-bahak. Lee Mark memandang aneh tingkah Kim Haera. Namun detik berikutnya ia sadar kalau Kim Haera hanya sedang memaksakan diri.
Lee Mark tersenyum tipis lalu menjatuhkan kecupan lembut di kening Kim Haera. Ia membawa tubuh Kim Haechan ke dalam pelukannya. Hanya ini yang bisa ia lakukan, menghibur Haera-nya dengan sebuah pelukan. Setidaknya wanita itu akan merasa aman dan nyaman. Sebenarnya Lee Mark sangat lelah berharap waktu bisa diulang kembali. Namun ia tidak pernah berhenti mengharapkan hal itu. Tangis pilu Kim Haera menghancurkan hatinya. Suasana sendu seketika melingkupi keduanya. Ia sangat membenci orang-orang yang sudah membuat Haera-nya berakhir seperti ini. Termasuk dirinya sendiri.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tidak peduli bagaimana orang lain akan menilai hubungan kita, aku akan tetap mencintaimu. cintaku, Kim Haera."
Pengakuan Lee Mark sama sekali tidak membantu. Kim Haera semakin tersedu-sedu karena merasa terharu. Lee Mark tidak pernah melebih-lebihkan perkataanya. Jauh sebelum keduanya bertemu, pria itu sudah lebih dulu jatuh hati pada sosok Kim Haera. Pertemuan pertama mereka bukanlah sebuah kebetulan. Lee Mark memang sering mengikuti Kim Haera secara diam-diam. Sayangnya tidak ada seorang pun yang mengetahui fakta ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyeretmu dalam masalahku. Aku sangat putus asa saat itu, dan aku sendirian. Aku-"
Bibir Kim Haera segera dibungkam. Lee Mark hanya tidak ingin mendengar wanita itu kembali menyalahkan diri, untuk sesuatu yang terjadi di luar kendali. Bagaimana pun, Lee Mark merasa bahwa dialah alasan terbesar Kim Haera bisa berakhir seperti ini.
Keduanya mulai hanyut dalam lumatan panas yang didominasi oleh sang pria. Lee Mark membawa tubuh Kim Haera berbaring dibawahnya. Ia selalu bersemangat saat mencumbu Kim Haera. Tidak ada penolakan dari Kim Haera. Sepertinya wanita itu juga menyukai kegiatan ini. 5 menit berlalu, keduanya masih sibuk menginvasi bibir masing-masing. Tidak ada yang berinisiatif untuk memutuskan tautan. Pasangan kekasih itu tampak menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar berciuman. Untungnya Lee Mark masih memiliki kesadaran dan segera menghentikan kegilaannya.
"Maaf." Kim Haera berucap lirih di sela-sela upayanya untuk mengumpulkan oksigen. Ia baru saja menyadari tingkahnya yang sudah membangkitkan libido Lee Mark.
"Tidak. Tolong jangan meminta maaf untuk sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan. Ini normal, sayang." Sahut Lee Mark.
"Tapi seharusnya aku membantumu."
"Ssst... nanti. Saat kau sembuh nanti, kau bisa membantuku sampai mati."
"Apa-apaan. Cara bicaramu seperti maniak seks."
Sang kapten terkikik geli setelahnya. Haera-nya masih saja frontal seperti dulu. Begitulah seharusnya Kim Haera bersikap. Sarkas, kejam, dan selalu berterus terang. Lee Mark semakin tidak sabar menunggu Kim Haera sembuh total. Ia sangat merindukan berbagai kata makian yang terlontar dari bibir ranum wanita itu.
"Tentu saja. Siapa yang tidak akan menjadi maniak saat dihadapkan dengan si lezat Kim Haera?" Goda Lee Mark.
Mendengar ucapan mesum dari sosok yang lebih tua, Kim Haera tidak bisa menghentikan laju tangannya. Ia mencubit perut berotot Lee Mark dengan sekuat tenaga. Cubitan Kim Haera tidak pernah main-main. Lee Mark sampai meringis kesakitan akibat rasa perih yang tidak tertahankan.
"Ssshh... appo..." Rengeknya terlampau manja. Dasar pria camar.
*
*
*
*
*
____________
29 July 2022