Sudah dua hari berlalu semenjak pertemuan Emily dan Juna malam itu. Sampai sekarang pun Emily tidak lagi bertemu dengan Sang Pangeran, meski dirinya juga tidak ingin bertemu kembali. Pasalnya, Emily kerap kali diserang panik karena gemar membayangkan wajah garang Juna. Dia juga tidak tahu kenapa hal itu terjadi.
Sehingga gadis itu menyimpulkan bahwa ia hanya penasaran terkait sikap aneh Juna. Bukan, bukan adegan mengambil daun, melainkan pemuda tersebut yang lebih dulu mengetahui nama Emily sementara gadis itu tidak pernah berkenalan secara resmi dengannya.
Ya, hanya itu. Tetapi Emily selalu kepikiran.
Srang..
Emily terkejut bukan main karena suara pedang yang beradu itu melintas di depannya. Rupanya Steve dan Jake yang tengah berlatih pedang. Dua pemuda itu tak sadar jika mereka keluar dari arena, sebab terlalu berambisi saling mengalahkan.
Mengabaikan pertarungan sengit yang menjadi tontonan para Culous, Emily memilih untuk berjalan sambil celingukan mencari eksistensi sahabatnya, Gwen.
Saat ini mereka sedang berada di lapangan Blue Hall untuk berlatih pedang. Emily dan Gwen datang berbarengan tadi, kemudian Gwen pergi untuk menghampiri tutornya dan menyisakan Emily yang berdiri sendirian di tengah-tengah orang berlatih sembari memegang pedang besar di tangan mungilnya itu.
Seseorang menepuk pundaknya. "Hei, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku mencarimu, Gwen!" Sungut Emily masih kesal dengan kemunculan Gwen yang membuatnya kaget. Gadis itu memang mudah sekali terkejut.
Gwen mengamit lengan kirinya dan menuntun Emily menuju kerumunan Culous. "Kau tidak boleh melewatkan kesempatan ini, di sana..." Gwen menunjuk ke arah kerumunan tersebut, "Ethan sedang unjuk kemampuan bermain pedang."
"Sepertinya dia menguasai semua keahlian, ya," ujar Emily ketika dirinya dan Gwen sudah menemukan tempat untuk menonton pertarungan pedang. Mereka duduk di paling depan, tentu saja Gwen yang menerobos hingga menabrak Culous lain untuk mendapatkan tempat itu.
"Exactly!"
Suara Gwen yang lebih terkesan berteriak itu cukup menarik perhatian di sekitarnya. Semua menoleh pada sumber suara, tak terkecuali pemuda yang sedang mengusap mata pedang dengan ibu jarinya di depan sana. Netranya yang sebiru lautan itu menatap Emily sekilas.
Degup jantung Emily berirama cepat, entah karena menjadi pusat perhatian atau karena tatapan Ethan. Ia menggelengkan kepala, lalu kembali melihat Gwen yang sedang meminta maaf kepada para Culous.
Emily menyikut pinggang Gwen agak keras. "Memalukan sekali," ucapnya dan Gwen hanya meringis.
"Tidak usah heran," sebuah suara dari arah belakang menginterupsi. "Dia memang titisan keledai, terkadang aku ingin menyumpal mulutnya yang barbar itu dengan kaus kakiku."
Steve menerima tonjokan di perut setelah mengatakan itu. Gwen tidak terima sebab dirinya menjadi bahan tertawaan. Emily yang menyaksikan dua sejoli hobi bertengkar itu tak bisa menahan tawanya. "Keledai ha.ha.ha," ejeknya.
"Diam kau!"
Gwen menekuk bibirnya, kesal. Sedangkan Emily masih berusaha meredakan sisa-sisa ketawanya. Ia menoleh ke belakang dan ber-tos ria dengan Steve. Semakin kesal saja Gwen.
Baiklah, kembali lagi pada arena.
Di sana, ada Ethan yang berjalan memutari arena sembari mengatakan banyak wejangan pada para Culous yang melingkarinya. Dia melakukan itu setelah berhasil mengalahkan salah satu Culous. "Perlu diingat, pertarungan ini adalah cara untuk mengetahui perkembangan kemampuan kita. Anggaplah kalian sedang melawan musuh. Laki-laki atau perempuan, siapapun yang ingin mengukur sejauh mana kemampuan kalian, silakan berdiri!"
Tepat setelah mengatakan itu, salah satu Culous lelaki berdiri. Dia menarik pedangnya dan mengulurkannya pada Ethan. "Aku akan melawanmu."
Semua yang ada di sana menyaksikan dengan kagum. Ethan dengan kelihaiannya mengayunkan pedang seolah benda itu seringan kapas. Tubuhnya yang atletis itu mampu dengan gesit menghindar dari pedang milik Rick, Culous yang menjadi lawannya. Sesekali kemeja putih dengan lengan tergulung itu tersingkap. Yakin sekali kalau para gadis menikmati pemandangan itu, termasuk Emily.
Penglihatan gadis itu tidak lekang dari semua pergerakan Ethan. Rambut sehitam langit malam yang basah oleh keringat. Begitupun wajahnya yang tampak serius dengan sesekali memunculkan smirk. Jangan lupakan tatapan tajamnya yang siap menghunus tepat ke jantung.
Tanpa sadar Emily tersenyum. Pemuda idaman gadis-gadis itu adalah tutornya, yang dua hari lalu berada satu ruangan yang sama dengannya. Pemuda yang dengan lembut mengajarinya hal baru. Bolehkah ia merasa bangga?
Kekagumannya itu terus berlanjut hingga Ethan berhasil mengalahkan lawan keempatnya. Barangkali pemuda itu belum cukup lelah, ia kembali menawari Culous untuk menjadi lawannya.
"Sebentar," Steve mendadak bicara membuat Emily dan Gwen menoleh ke belakang. "Aku tadi melihat ada kecoa tapi sepertinya aku salah lihat."
Gwen memutar bola mata. Ia menjitak kepala Steve dan sukses membuat pemuda itu mengaduh. "Bodoh."
"Apa ada lagi yang ingin duel bersamaku?" Pandangan Ethan mengitari para Culous di hadapannya, mencari siapa yang mau menjadi lawan selanjutnya.
Hening. Namun tanpa diduga-duga, bisikan Steve di belakang Emily menjadi awal mula sumpah serapahnya keluar dari bibir itu.
"Itu dia kecoanya ada di kaki Emily!"
"Oh shit?! Mana mana?!"
"Tadi ada di sana!" Steve sibuk menunjuk-nunjuk rerumputan di bawah kaki Emily. Sementara si gadis sudah berdiri berusaha menghindar dari kecoa -entah nyata atau tidak- yang Steve katakan.
Insiden itu tentu saja ditangkap oleh Ethan dengan sudut pandang lain. "Nona Emily? Kau mau bertarung pedang denganku?"
Merasa terpanggil, Emily dengan sigap menoleh pada Ethan. Dia sendiri pun terkejut mendapati hanya dirinya lah Culous yang berdiri. Matanya membola, begitu juga dengan mulutnya.
"A-aku....bukan begitu. Kecoanya Steve-"
"Silakan maju ke sini, Emily."
"Hah?"
"Aku yakin kau pasti ingin melihat kemampuanmu dalam melawan musuh, bukan? Lagipula sejak tadi aku belum melihat perkembanganmu. Jadi ayo kemari dan tunjukan pada kami semua."
Emily berkedip-kedip lucu. Memang benar yang dikatakan Ethan bahwa dia belum menunjukkan bagaimana perkembangannya dalam bertarung. Walaupun Emily sudah mempelajari dasar-dasarnya, tetap saja ini terlalu mendadak.
Ia menelan salivanya susah payah. Lalu menoleh pada Gwen dan Steve untuk mendapatkan dukungan, tidak lupa satu umpatan ditujukan pada Steve, "Sialan kau!"
Kemudian perlahan tapi pasti gadis itu maju. Agak gemetaran sebetulnya tapi beruntung ia pandai menutupinya. Emily meyakinkan diri untuk tetap tenang dan tidak gentar. Sorakan dari para Culous di sana malah membuat nyalinya bersembunyi, takut jika tidak sesuai ekspektasi.
"Huh, aku harap aku tidak melupakan gerakan dasar secara mendadak," gumamnya.
Ethan berdiri secara gagah di hadapannya. Emily ikut-ikutan. Sukses menggelitik perut Ethan hingga pemuda itu terkekeh. Bagaimana tidak, gadis yang menjadi lawannya itu bahkan kesulitan memegang pedang dengan jari-jari menggemaskannya. Emily mencoba berdiri tegap selayaknya pendekar yang siap menghadapi bahaya. Namun pemandangan itu justru menjadi lucu di mata Ethan.
Kekehan Ethan yang samar-samar itu terhenti saat Emily mengacungkan pedangnya ke arah Ethan meski tahu bahwa dirinya sendiri sedang gemetaran. "Aku akan mengalahkamu, kak."
Pemuda itu mengangguk. Ia terbitkan senyum angkuhnya pada Emily supaya gadis itu terpancing. Ethan tersenyum miring, meremehkan ancaman Emily.
Selanjutnya yang terjadi adalah Emily berlari ke arah Ethan dengan pedang yang mengibas, namun dalam satu kedipan mata, pedang Ethan berhasil menghalau pedang Emily sehingga terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Melihat itu, Ethan berdecak yang justru terlihat seperti mengejek.
"Ambil itu dan lawan aku kembali," ucap Ethan penuh penekanan. Emily mendengus seraya mengambil kembali pedangnya dan kali ini ia mengeratkan cekalannya.
Pertarungan berlanjut. Gadis yang keningnya sudah berpeluh itu kewalahan mengalahkan Ethan yang bahkan tidak butuh usaha keras. Pemuda itu hanya berpindah sedikit-sedikit dari tempatnya berdiri, sementara Emily sudah kepalang lelah ditambah lagi gaunnya yang mengganggu pergerakannya.
Yang lebih menyebalkan bagi Emily adalah, wajah Ethan yang tak menunjukkan raut kasihan pada dirinya. Dia seolah menganggap Emily salah satu dari tikus kecil yang sedang memberontak lantas akan kalah hanya sekali tebas. Apakah dia pemuda yang sama seperti pemuda yang mengajari Emily melatih telekinesis?
Kemana perginya Ethan yang lembut?
Lagi, pedang Emily terjatuh, kali ini bersama dirinya yang juga ikut terjatuh. Meski demikian, itu tak menyurutkan tekadnya untuk mengalahkan Ethan yang kini tengah menancapkan pedang miliknya ke tanah, menumpukan tangan di atasnya. Netra biru Emily mengitari Culous yang menonton. Berbagai macam tatapan ditujukan padanya. Kemudian ia kembali berdiri dan memusatkan atensi pada pemuda sombong itu, Ethan yang sedang tersenyum miring.
"Cih, menyebalkan sekali wajahnya itu."
Detik berikutnya Emily berjalan penuh percaya diri menghampiri Ethan. Entah jiwa apa yang merasukinya saat ini, yang pasti hal tersebut membuat Ethan memiringkan kepalanya. Kagum dengan kegigihan gadis itu.
Ingatan-ingatan mengenai taktik Ethan dalam mengayunkan pedang terlintas di kepalanya. Tanpa sadar Emily mempelajari itu. Pertama ia ayunkan pedangnya dan berhasil ditahan oleh Ethan, kemudian ia memutar tubuhnya dan kembali mengayunkan pedang tepat di perut Ethan. Pemuda itu refleks membungkuk sembari memundurkan diri.
Memanfaatkan kesempatan, pedang Emily lagi-lagi beraksi. Kali ini ia mengincar leher pemuda itu namun dengan gesit ditangkisnya.
'Ah, jadi begitu cara menangkisnya.' Batin Emily.
Ethan tidak tinggal diam, ia menyerang Emily secara beruntun dan secara cepat gadis itu berhasil membalas pedangnya.
Suara dari dua pedang yang beradu itu sukses membuat Culous yang menyaksikan terkagum-kagum. Emily di depan sana menunjukkan gerakan menghindar, menangkis, bahkan gerak tubuhnya sangat lihai seperti pendekar pedang profesional.
'Sial, dia mempelajari gerakanku.' Batin Ethan yang sekarang sedang memegangi kakinya yang baru saja ditendang oleh Emily.
Pertarungan semakin sengit. Kedua alis dan mata Emily menyiratkan adanya ambisi. Dia kembali menyerang Ethan tak peduli bahwa pemuda itu sedang menahan sakit pada pergelangan kakinya. Serangan dari Emily tersebut membuat Ethan menangkis hingga ia terus mundur.
Sampai pada akhirnya,
Tak..
Pedang milik Ethan terlempar cukup jauh. Namun sebelum ia berlari untuk mengambil pedang itu, Emily lebih dulu mengacungkan pedangnya ke leher Ethan. Pemuda dengan keringat yang membasahi baju serta napasnya yang cepat itu membeku. Ia menatap Emily yang keadaannya tak jauh berbeda dengan dirinya.
Daripada merasa senang karena berhasil mengalahkan pemimpin Bluewest, justru Emily memasang wajah kebingungan. Cukup terkejut dengan aksinya. "Aku mengalahkanmu?"
Butuh beberapa detik mencerna apa yang terjadi. Masih dengan pedang yang setia mengarah ke leher Ethan, gadis itu memperhatikan semua Culous yang kini bertepuk tangan. Gwen dan Steve yang paling heboh, mereka berdua berteriak-teriak menyerukan namanya.
Meskipun semua orang kagum dengannya, Emily malah heran dari mana datangnya keberuntungan itu, sampai ia berhasil mengalahkan seseorang yang dikenal terampil dalam semua bidang. Pedang terlepas dari tangannya, jatuh di antara kaki Ethan dan Emily.
Emily menatap mata Ethan. Tampak raut seolah bertanya 'kau baik-baik saja?', di wajah tampan Ethan.
"A-aku tidak mengerti," cicit Emily terlampau pelan tapi mampu terdengar di pendengaran Ethan.
Setelah mengatakan itu, kakinya mundur perlahan dan secara gugup ia berbalik untuk pergi dari lapangan. Ethan menyaksikan kepergian Emily itu dengan wajah bingung. Banyak pertanyaan yang mengawang di pikirannya. Kemudian pandangannya jatuh ke bawah, lebih tepatnya pada pedang yang tadi digunakan Emily. Pedang yang hampir menyentuh lehernya.
Kejadian di lapangan itu terekam semuanya oleh sepasang mata yang menyaksikan dari jendela di lantai kedua Blue Hall. Sosok itu menyunggingkan senyum miring.
"Jadi dia orangnya."
🤍🤍