Assalamu'alaikum semuanya?
Bagaimana kabarnya?
Aku datang lagi nih, jangan lupa vote, komen dan follow aku yaa
Happy reading 💕
|
•
|
•
|
•
|
Sudah seminggu lamanya Septi meninggalkan kita semua. Padahal tidak lama lagi, mereka akan merayakan kelulusan
Tak banyak yang berubah, semuanya masih sama. Ya walaupun mereka sudah mengikhlaskannya, tapi rasa rindu dan kehilangan masih mereka rasakan. Dan rasa itu tidak akan pernah bisa mereka singkirkan
Setelah penyelidikan tentang kasus kecelakaan Septi seminggu lalu terbongkar, sesuai niat dan rencana mereka akan membalasnya. Mereka sudah lebih dulu menantang Outlaws untuk bertanding
Revan sang leader Vanostra mentitah anggotanya untuk bersiap-siap menyerang Outlaws, lebih tepatnya mereka akan bertempur di salah satu jalan yang sedikit sepi dari warga.
Bahkan mereka memilih membolos untuk menyusun rencana dan strategi.
Tak banyak dari mereka telah bersiap untuk mengalahkan Outlaws. Tanpa senjata apapun. Bermain sportif sksk
Rezi terlihat datar, muka yang memerah dan tangan mengepal. Ia akan membalas kematian Septi.
"Siap?" Tanya Revan dengan muka yang tegas dan mata yang menajam. Seperti elang yang siap menerkam mangsanya
"SIAP" seru mereka semuanya dengan tangan yang di gepal ke atas
Semuanya mulai menaiki motornya masing-masing untuk menuju tempat yang sudah mereka tentukan.
Puluhan motor mulai berjalan memenuhi jalan raya yang sedikit padat. Tak banyak dari mereka pengguna jalan memvideokan aksi Vanostra. Dengan jaket kebanggaan yang melambangkan burung elang yang tubuhnya diganti dengan pedang mereka duduk tegak di atas motor, muka yang serius dan mata yang menajam membuat semua pengguna jalan memilih menyingkir
°°°
"Nai" panggil Aluna yang sedang membereskan buku-buku di mejanya
"Iya, kenawhy?" Tanya Naira
Aluna memandang Naira malas, "dih sok Inggris banget lo" cibir Aluna yang disahuti ketawa oleh Naira
"Kak Revan sama yang lainnya kemana ya? Dari tadi pagi ngga nampak?" Tanyanya dengan muka yang penuh kebingungan
"Dih sok-sokan tanya kak Revan, bilang aja mau tanya tentang kak Reza" goda Naira
"Yaudah iya terserah lo, mereka kemana ya?" Tanyanya lagi dengan muka yang pasrah
"Ga tau" jawab Naira singkat menaikkan bahunya
Aluna cemberut mendengar jawaban Naira, capek-capek ia bertanya jawabannya malah tidak ada
"Dah lah, pasrah gue" ujar Aluna
"Lo mau gue antar aja ga?" Tanya Aluna seraya keluar dari kelas diikuti yang lainnya
"Ga usah Lun, ntar ngerepotin" balas Naira sungkan
"Dih sok banget, ngerepotin mananya coba?" Tanya Aluna sinis
"Serius gapapa?" Tanya Naira dengan pandangan yang tidak enak
"Kalo buat lo lima rius" canda Aluna
"Yaudah deh boleh" cengir Naira
Keduanya berjalan menuju gerbang dimana supir Aluna sedang menunggu sang anak majikan. Ngomong-ngomong tentu Keysha dan Gwen, mereka lebih dulu keluar karna Gwen ingin numpang sama Keysha katanya
"Pak antar Naira dulu ya" pinta Aluna pada sang supir setelah masuk ke dalam mobil
"Siap non" balas sang supir
"Non jalan yang biasanya lagi macet non, ada kecelakaan tadi" beritahu supir Aluna menatap Aluna yang duduk di belakang
"Cari jalan lain aja pak, yang agak sepi. Biar ga lama nyampenya" titah Aluna dengan sopan nya
Di dalam mobil hanya diisi suara Aluna dan Naira yang sedang bercerita panjang lebar
"Gimana Nai?" Tanya Aluna ambigu
"Hah!? Gimana apanya?" Tanya Naira balik
"Hubungan lo sama kak Revan" ujar Aluna menjelaskan maksud pertanyaannya
Naira melotot matanya kaget, "ya ga gimana-gimana " jawabnya malu-malu
"Tolong mukanya di kondisikan" ujar Aluna menatap Naira datar,
"Kenapa? Cantik ya?" Tanya Naira dengan tersenyum manis
"Cantik sih, tapi lebih cantikan gue" ujar Aluna dengan pedenya
Naira mendengus malas, sahabatnya ini sangat lah kepedean
"So, lo beneran married sama kak Revan ba'da kak Revan tamat?" Tanya Aluna dengan bahasa yang diganti-ganti
"Kalo ga bisa ngomong, mending diam Lun" balas Naira yang membuat Aluna memandangnya males
"Mulut gue ini, jadi terserah gue dong" ujar Aluna dengan nada yang membanggakan dirinya sendiri
"Iya iya terserah kamu" balas Naira, ia malas berdebat
"Jadi gimana?" Tanya Aluna dengan muka yang gregetan
"Hah! Apanya yang gimana?" Naira balik bertanya dengan muka yang lugu
"Pertanyaan gue sebelumnya"
"Rencananya sih gitu, tapi kan kita sebagai manusia cuma bisa merencanakan dan Allah yang menentukan" jawab Naira
"Lo cinta ga sama kak Revan?" Tanya Aluna lagi dengan tersenyum jail
Naira menunduk malu, bahkan pipinya memerah
"Skip skip" kata Naira tak mau menjawab pertanyaan Aluna
"Dih ga asik ah" cibir Aluna dengan bibir yang di monyong kan
"Non, sepertinya di depan ada tawuran" ujar sang supir tiba-tiba
Sontak membuat Naira dan Aluna kaget
"Duh gimana dong pak?" Tanya Aluna bingung sekaligus takut
"Putar balik aja non?" Tanya supirnya balik
Niatnya mencari jalan lain biar ga macet karena kecelakaan, eh sekarang malah macet karna tawuran.
Naira dan Aluna memusatkan pandangannya ke arah tawuran yang sedang terjadi di depan mobil mereka, tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat
Tapi tunggu, sepertinya mereka mengenal seseorang
"Itu bukannya kak Rezi?" Tanya Aluna yang diangguki Naira
"Bentar bentar, kalo ada kak Rezi berarti ada--" Aluna menghentikan perkataannya dan memandang Naira
"Ada kak Revan"
"Ada kak Reza"
Jawab mereka berbarengan dengan muka yang saling pandang
"Duh gimana?" Tanya Aluna kebingungan, bahkan duduknya pun tak tenang
"Aku juga gatau" balas Naira yang ikutan panik
"Kalo kita bantuin, malah yang ada kita bonyok" lanjut Naira lagi
"Jadi gimana non?" Tanya sang supir melihat anak majikannya sedang panik
"Kita tunggu sebentar disini pak, kalo mereka kenapa-kenapa kita lapor polisi" jawab Aluna
Naira mengangguk setuju
"Lo gapapa kan Nai pulang lambat dikit?" Tanya Aluna
"Gapapa, aku udah kasih tau umi kok" balas Naira masih menatap mereka yang sedang bertarung di depan sana
°°°
Seluruh anggota Vanostra telah sampai di tempat yang ditentukan bahkan di depan sana sudah ada anggota Outlaws yang memakai topeng, sepertinya mereka masih menyembunyikan identitas mereka
"Tujuan lo?" Tanya Revan yang menjadi pemimpin Vanostra
"Kalian mati" balas seseorang yang memakai topeng berdiri di depan Revan sedikit jauh
"Belum puas kalah?" Tanya Revan tersenyum miring
Anggota Outlaws menggeram tak terima
"Dulu, tidak untuk sekarang" balas ketua Outlaws yang belum diketahui identitasnya
"Siap-siap mati!" Balas Revan keras
"Nyawa dibalas nyawa!" Sambung nya dengan suara yang terendam tapi menakutkan
"Sialan. SERANG" teriak sang ketua Outlaws marah
Mereka semua bertarung melawan sang lawan bertujuan mendapatkan keadilan untuk Septi.
Pukulan demi pukulan mereka layangkan, tendangan demi tendangan mereka lakukan. Bahkan banyak anggota yang sudah tumbang
"Lo udah bunuh ketua Outlaws, dan sekarang gue yang akan bunuh lo" desis ketua Outlaws menatap Revan tajam
"Kalian cuma salah paham!" Balas Revan berseru keras
Tetapi itu tak membuat sang ketua Outlaws yang baru percaya, ia malah melayangkan pukulan ke arah Revan tetapi masih bisa ia tepis
"Baru satu kan yang mati? Tunggu selanjutnya" lanjut ketua Outlaws
Hal itu semakin membuat amarah Revan membuncah
Brukh
Revan menendang lawannya dengan keras
Sang lawan terjatuh, dengan cepat Revan menginjak dadanya
Akhh
Bukan sang lawan yang berteriak tapi Revan
Perutnya yang merupakan bekasan tendangan dari ketua Outlaws merasa nyeri membuat ia kehilangan keseimbangan sedikit. Dengan segera pria itu menendang Revan
Angga langsung berlari menuju Revan yang lagi-lagi akan ditendang oleh pria itu
Tetapi gagal, Angga lebih dulu menendang pria yang tak punya hati itu
"Kenapa?" Tanya Angga
"Gapapa" balas Revan singkat
Ia menahan perutnya yang terasa nyeri, ia tak ingin membuat semuanya khawatir
Dengan menahan perut yang nyeri Revan kembali menghabisi ketua Outlaws sampai ia tergeletak di jalan dengan mengenaskan
Hingga akhirnya kemenangan lagi-lagi diraih oleh Vanostra, Outlaws memilih menyerah. Tetapi akan membalas sewaktu-waktu.
Mereka berkumpul tak jauh dari mobil yang ditumpangi Naira, tetapi sebagian anggota sudah terlebih dulu pulang ke markas untuk mengobati lukanya
"Gimana Zi? Udah puas?" Tanya Reza merangkul Rezi
"Puas ga puas, Septi juga ga bakal balik lagi" balas Rezi, Septi semalam sempat datang di mimpinya, memberitahukan bahwa ia sangat bahagia disana. Jadi Rezi tak usah risau dan khawatir.
Reza menepuk pundak Rezi beberapa kali, untuk menguatkan sang sahabat yang sudah dianggap kembaran.
Pandangan Reza teralih, ia memandang satu mobil yang tepat tidak jauh dari posisi mereka, "itu bukannya mobil Aluna?" Tanya Reza yang menghafal plat nomor mobil yang sering menjemput Aluna
Ia memilih menelpon Aluna untuk lebih jelasnya
"Naira sama Aluna Van" beritahu Reza yang sudah memutuskan panggilannya dengan Aluna
Revan mengambil handphone di motornya, memilih menelpon Naira
"Pulang" ujar Revan singkat setelah Naira mengangkat panggilan itu
"Iya kak" balas Naira dengan suara yang kecil, ia kaget saat tiba-tiba Revan menelponnya
Revan tersenyum kecil, "iya apa?" Tanya Revan balik
"Iya pulang" balas naira gugup
"Hm" balas Revan
"Kak Revan gapapa?" Tanya Naira dengan nada yang pelan
"Gue gapapa" balas Revan
"Dih kayak cewe aja bilang gapapa" cibir Rezi pelan
Ah jika begini, mereka jadi rindu Septi. Biasanya Septi yang sering mencibir Revan tanpa takut
Revan tak menghiraukan ucapan Rezi, ia memilih mematikan sambungan telponnya
"Balik!" Titah Revan kepada anak-anak yang masih disitu
Mereka kembali dengan kemenangan. Kemenangan yang akan diserahkan kepada Septi
°°°°
Holla beb!!
Maaf kalo part ini kurang nyambung huhu:(
Kalo ada typo, maapin yak
Jangan lupa follow aku, biar tambah semangat
Aku tunggu komen dari kalian baru up lagi
Bahagia selalu ya kalian ♡
See you cantik dan ganteng!!!