ABYSS (Complete)

By Emli_Kim

27.2K 2.2K 261

Kim Jisoo dan Kim Seokjin dibesarkan bersama-sama di sebuah panti asuhan. Saat masih remaja, Seokjin selalu m... More

1. Panti Asuhan Harapan
2. Pertandingan Basket
3. Beasiswa
4. Good Bye, Jisoo
5. Surat untuk Jisoo
6. New Life
7. One Sided Love
8. Miss Him so much
9. He's Back?
10. Miss Her so Much
11. Cinta atau Obsesi?
12. Busan
13. Finally, we meet
14. Apa Kabarmu
15. Atasan, Sahabat, Kakak yang Baik
16. Sayang
17. Roses for Rosè
18. I Love Her
19. Ketakutan
20. Today
21. Insting Seorang Ibu
22. Sample Design
23. Dua Mangkok Kongguksu
24. Satu Kesalahan
25. Affair
26. Maafkan Aku, Min Yoongi
27. Nothing Happened
28. Hope World
29. The Truth Untold
30. Namjoon and Rosè
31. Good bye (again)
32. I'm Sick
33. We Meet again
34. Anxiety Disorder
35. No More Hope
37. Slow but Sure
38. Dating
39. Simple Things
40. Nightmare in Jeju
41. Abyss
42. Spring in Our Heart
43. First Night
44. Honey Moon
45. Extra Chapter 1
46. Extra Chapter 2

36. Memulai dari Awal

572 52 18
By Emli_Kim

Setelah Jisoo memberikan coat pada Seokjin, tanpa mengatakan apapun lagi ia meninggalkan Seokjin begitu saja.

Baru beberapa langkah kakinya menjauh, Jisoo merasakan Seokjin memeluknya dari belakang. Tentu saja pelukan erat dari pria itu membuatnya terdiam. Ia bisa merasakan nafas Seokjin menerpa kulit lehernya.

Tanpa mereka berdua sadari, kedua pasang netra Namjoon dan Rosè melihat mereka dari balik jendela dari dalam rumah.

"Kau lihat itu, Oppa?" Tanya Rosè pada suaminya. "Mereka berdua itu saling mencintai. Apa kau tega melarang Seokjin untuk bertemu dengan Jisoo?"

"Aku tau mereka berdua saling mencintai.." Namjoon menjeda ucapannya. "Tapi aku tidak ingin Jisoo kembali menjadi Jisoo setahun ke belakang, Jisoo yang selalu merasa cemas dan selalu mimpi buruk setiap malam. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi, sayang."

"Aku paham bagaimana kekhawatiranmu itu, Oppa. Tapi Jisoo juga berhak memutuskannya sendiri. Jika ia mengijinkan Seokjin Oppa untuk menemuinya biarkan saja. Tapi jika ia memang tidak ingin menemui Seokjin Oppa, dia pasti tau bagaimana harus bertindak." Tutur Rosè mencoba membujuk Namjoon agar tidak terlalu mengekang keinginan Jisoo.

"Tapi bagaimana jika nanti Jisoo kembali---"

Rosè menempelkan jari telunjuknya pada bibir Namjoon untuk memotong ucapan Namjoon. "Sssttt.. Kau harus percaya pada Jisoo, Oppa. Aku yakin ia bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik untuknya. Kau sebagai kakaknya harus mendukung apapun keputusannya."

Namjoon pun tersenyum manis hingga memperlihatkan dimple nya. "Kau tau, sayang? Aku sungguh beruntung memiliki dirimu sebagai istriku."

Rosè hanya mengernyitkan dahinya.

"Kau bisa mengingatkanku apa yang seharusnya aku lakukan pada Jisoo. Kau memang istriku yang terbaik!" Ucap Namjoon yang kemudian mengecup kening istrinya itu.

"Istrimu hanya aku, Oppa." Ucap Rosè sambil memeluk suaminya dari samping. "Ayo kita tidur. Aku sudah mengantuk."

Namjoon memalingkan wajahnya pada dua orang yang masih di luar sana.

"Sudahlah, Oppa. Biarkan saja mereka menyelesaikan urusan mereka."

Namjoon pun menuruti perkataan Rosè dan kemudian sepasang suami istri itu meninggalkan Jisoo dan Seokjin di luar.

Sedangkan di luar rumah, Seokjin masih saja memeluk tubuh Jisoo dari belakang.

"Kumohon Jisoo.. Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh."

Tidak ada sepatah kata apapun yang keluar dari bibir Jisoo.

Seokjin melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Jisoo agar bisa berhadapan dengannya. Jisoo hanya menundukkan kepalanya ketika berhadapan dengan Seokjin. Seokjin pun menyampirkan coat pada pundak gadis itu karena terlihat tubuhnya mulai menggigil karena hawa dingin menerpa tubuh ringkihnya itu.

Perlahan tangan kiri Seokjin meraih dagu Jisoo agar ia dapat menatap wajah Jisoo. Kini Seokjin bisa melihat dengan jelas wajah cantik milik gadis yang ia rindukan selama satu tahun ini.

Sesaat kedua netra mereka saling menatap sendu. Seokjin dapat melihat di dalam mata Jisoo ada sebuah keraguan dan ketakutan. Dan ia pun tau ketakutan Jisoo itu muncul karena perbuatannya.

Dengan penuh keberanian, Seokjin mendekatkan wajahnya pada wajah Jisoo dan mengecup bibir Jisoo. Awalnya ia mengira Jisoo akan menolak ciuman darinya, namun ternyata Jisoo sama sekali tidak menolaknya bahkan ia melihat Jisoo menutup matanya. Perlahan tapi pasti ia mulai melumat lembut bibir Jisoo. Air mata Jisoo pun turun dan membasahi pipinya. Seokjin melepas ciumannya ketika Jisoo tak kunjung membalas lumatannya.

Jisoo masih menutup kedua matanya ketika ciuman mereka terlepas dan Seokjin melihat pipi gadis itu sudah basah oleh air mata. Dengan segera Seokjin menghapus air mata Jisoo dengan kedua ibu jarinya.

"Mungkin dia memang belum siap." Batin Seokjin.

Seokjin kembali memeluk Jisoo yang terisak pelan. "Maafkan aku, sooya.. Aku berjanji akan menebus kesalahanku padamu. Aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkanku."

Jisoo melepaskan pelukan Seokjin dari tubuhnya.

"Pulanglah, Oppa. Ini sudah malam." Akhirnya Jisoo mau berbicara.

"Baiklah. Aku akan pulang. Kau istirahatlah." Ucap Seokjin sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga Jisoo. "Apa boleh aku besok kembali lagi?"

Butuh waktu beberapa detik bagi Jisoo untuk menjawab permintaan Seokjin.

Seokjin tersenyum senang ketika Jisoo menganggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa ia boleh menemui Jisoo lagi besok.

"Baiklah. Aku akan menemuimu besok setelah meeting dengan klienku. Aku akan menghubungimu besok." Seokjin mengecup kening Jisoo. "Aku pulang dulu."

Belum Seokjin membalikkan tubuhnya, ia merasakan ujung jasnya ditarik oleh Jisoo.

"Apa besok kau benar akan kembali?" Tanya Jisoo ragu. Ia takut jika Seokjin hanya berjanji saja tapi tidak bersungguh-sungguh menemuinya lagi besok.

"Tentu, sooya. Besok aku akan menemuimu lagi." Ucap Seokjin meyakinkan Jisoo.

"Kau berjanji?"

Seokjin mengangguk. "Ya.. Aku berjanji."

Jisoo melepaskan genggamannya pada jas milik Seokjin dan membiarkannya untuk pergi.

Saat melihat Seokjin melangkah menjauh darinya, wajahnya terlihat cemas. Ia cemas jika Seokjin tidak menepati janjinya untuk menemuinya besok. Namun dengan segera ia mengontrol semua itu. Wajah yang sebelumnya cemas kembali tenang. Kemudian ia masuk ke dalam rumah untuk beristirahat dan menyerahkan semua yang akan terjadi pada hari esok.

Jisoo hanya pasrah tanpa berharap lebih pada seoarng Kim Seokjin.

***

Keesokan harinya

Jin Oppa
Tunggu aku, sooya.
Sebentar lagi meetingku selesai.
Aku akan segera menemuimu di rumahmu.

Begitulah pesan yang Jisoo terima di ponselnya dari Seokjin dua jam yang lalu. Namun hingga detik ini pria itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Bahkan pria itu tidak menghubunginya lagi.

Jisoo yang tadinya bisa menahan, kini rasa cemasnya mulai muncul di pikirannya. Ia khawatir jika Seokjin tidak menepati janjinya semalam.

Kini Jisoo sedang duduk di kursi di samping kolam renang. Ia duduk menatap kosong pada kolam renang. Ia mencoba sekuat tenaga untuk melawan rasa cemas berlebihan akan Seokjin yang tidak menepati janjinya.

Rosè yang tak sengaja melihat Jisoo langsung menghampirinya.

"Kau tidak apa-apa, Jisoo?" Tanya Rosè yang memecah lamunan Jisoo.

Jisoo menengok ke arah Rosè. "Oh, Rosè. Ya.. Aku.. tidak apa-apa." Jawabnya terbata-bata.

Rosè paham Jisoo sedang mencemaskan sesuatu terlihat dari raut wajahnya. "Kau sedang memikirkan sesuatu? Kau bisa menceritakannya padaku."

Jisoo menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Sungguh!" Ucap Jisoo mencoba meyakinkan pada Rosè bahwa ia sedang tidak apa-apa.

Namun Rosè sudah paham bagaimana Jisoo yang tidak mau membagikan keluh kesahnya pada orang lain. Ia tidak akan memaksa Jisoo harus menceritakan masalahnya. Ia hanya ingin Jisoo membicarakannya sendiri nanti.

"Rosè.. Apa yang akan kau lakukan jika ada seseorang berjanji padamu? Apa kau akan mempercayainya begitu saja?" Tanya Jisoo yang akhirnya mau mencoba untuk membagi sedikit masalahnya pada sahabat sekaligus kakak iparnya itu.

Rosè pun tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Jisoo. "Ya.. tergantung orang itu menjanjikan apa."

"Jika dia berjanji akan menemuimu lagi.." Jisoo menjeda ucapannya. "Apa kau akan percaya?"

Rosè langsung mengerti arah pertanyaan Jisoo. Rosè berpikir bahwa Jisoo sedang menunggu kedatangan Seokjin yang mungkin saja semalam berkata bahwa akan menemuinya lagi hari ini.

Rosè pun menggenggam tangan Jisoo untuk membuatnya lebih tenang. "Seokjin Oppa akan datang, Jisoo. Kau tenang saja. Dia bukan tipe pria yang suka mengingkari janjinya."

Ucapan Rosè sontak membuat Jisoo malu. "S-siapa yang menunggunya?" Ucap Jisoo terbata-bata yang tengah malu karena Rosè tau bahwa ia sedang menunggu Seokjin.

"Aku tau, Jisoo. Raut wajahmu yang mengatakan semuanya." Goda Rosè.

"Apakah terlihat begitu jelas?" Tanya Jisoo sambil menangkup kedua pipinya yang mulai merah. "Padahal aku sudah berusaha untuk menutupinya."

Rosè terkekeh. "Apa kau mau ku bawakan sesuatu? Agar kau bisa lebih tenang sambil menunggu Seokjin Oppa darang." Tawar Rosè.

"Tidak perlu." Elak Jisoo yang tidak ingin merepotkan Rosè yang tengah hamil muda itu. "Oh iya.. Bagaimana kabar keponakanku?" Tanya Jisoo sambil mengelus perut datar Rosè. "Maafkan aunty ya, yang selalu membuat daddy dan mommy mu khawatir."

"Kau bicara apa, Jisoo? Kau itu bukan orang lain. Kau itu adikku! Jangan pernah sungkan jika kau membutuhkan sesuatu. Bilang saja padaku." Tutur Rosè.

"Terima kasih, Rosè. Selama ini aku hanya terlalu sibuk memikirkan satu orang saja tanpa memikirkan orang lain yang juga menyayangiku. Maaf karena setahun kemarin aku mengabaikan kalian semua."

"Jangan berpikir seperti itu! Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu. Kau harus bisa kembali seperti Jisoo yang ku kenal dulu. Jisoo yang ceria. Yang bisa membuat orang di sekelilingmu merasa senang saat berada di sisimu."

"Tapi aku tidak begitu dengan Yoongi Oppa." Jisoo menghela nafasnya kasar. "Dulu aku sangat jahat kepadanya. Aku selalu mengabaikannya dan bahkan dengan tega aku membatalkan pertunangan kita. Mungkin ini lah karma yang aku dapatkan karena berbuat jahat padanya."

"Kau bicara apa, Jisoo?!" Sahut Rosè. "Yang berlalu biarlah berlalu. Kalian sudah memiliki kehidupan masing-masing sekarang. Bahkan Yoongi Oppa sekarang sudah bahagia bersama Jennie. Jadi sekarang giliranmu untuk membuat hidupmu bahagia."

Setelah Jisoo dan Yoongi membatalkan pertunangan mereka, entah bagaimana ceritanya Yoongi mulai dekat dengan Jennie. Awalnya Jennie ragu untuk menerima perasaan Yoongi karena pria itu adalah mantan tunangan sahabatnya serta tidak ingin hanya menjadi pelarian bagi Yoongi yang batal menikah. Ia juga tidak ingin dicap sebagai orang ketiga di antara Jisoo dan Yoongi meski orang-orang terdekatnya tau bagaimana faktanya yang bukan seperti itu. Namun dengan keyakinan hatinya serta dukungan dari Rosè dan Lisa akhirnya ia mau menerima Yoongi sebagai kekasihnya. Bahkan pernikahan mereka akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

"Terima kasih, Rosè. Namjoon Oppa sangat beruntung memilikimu sebagai istrinya. Aku bahkan tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang Kim Namjoon mendapatkan istri sebaik dirimu."

Rosè terkekeh. "Aku yang beruntung mendapatkan suami sepertinya, Jisoo. Pria yang bisa mencintaiku dengan tulus."

"Ya.. ya.. Kalian berdua sama-sama beruntung. Kalian bisa saling mencintai dan melengkapi satu sama lain. Semoga kelak aku juga bisa memiliki suami yang bisa mencintaiku dengan tulus."

"Sudah ada, Jisoo." Sahut Rosè.

"Apa maksudmu?" Tanya Jisoo.

"Suami yang tulus mencintaimu. Kau sudah memiliki calonnya."

"M-maksudmu siapa?" Tanya Jisoo malu-malu.

"Jangan pura-pura tidak tau, Jisoo." Rose terkekeh. "Aku tau hanya Seokjin Oppa yang kau cintai. Dia juga sangat mencintaimu. Dan dia sudah kembali. Jadi tunggu apa lagi?"

Wajah Jisoo berubah sendu. "Aku tidak tau, Rosè. Setelah apa yang dilakukannya padaku aku tidak tau apa aku bisa menerimanya kembali atau tidak."

"Aku tau kau masih sulit untuk menerimanya kembali. Tapi berilah satu kesempatan lagi untuknya. Aku lihat dia bersungguh-sungguh mencoba untuk memperbaiki semuanya denganmu."

"Ya.. Kau benar. Aku juga tau itu. Tapi aku takut nanti dia akan meninggalkanku lagi--"

"Tidak akan.. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi." Sahut seorang pria yang ternyata mendengar semua percakapan antara Jisoo dan Rosè.

Jisoo dan Rosè menengok ke sumber suara dan melihat siapa itu. Dan ternyata itu Kim Seokjin.

"Jin Oppa.."

Rosè kemudian beranjak dan meninggalkan Seokjin dan Jisoo agar bisa berbicara empat mata. Sebelum benar-benar meninggalkan mereka berdua, Rosè lebih dulu menepuk bahu Seokjin untuk memberinya semangat. Seokjin pun tersenyum menanggapinya.

Seokjin berjalan mendekat ke arah Jisoo dengan satu tangannya yang ia sembunyikan ke belakang. Setelah sampai di hadapan Jisoo, ia menekuk satu kakinya agar bisa mensejajarkan wajahnya pada Jisoo. Kemudian ia menyerahkan sebuket bunga mawar merah yang ia sembunyikan di balik punggungnya tadi.

Jisoo pun menerima buket bunga pemberian Seokjin.

Jisoo melihat Seokjin merogoh saku jasnya mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dan membukanya. Ia bisa melihat ada sebuah cincin di dalam kotak kecil itu.

"Maaf aku terlambat, Sooya. Tadi aku membeli ini dulu sebelum kesini."

Jisoo menatap bingung ke arah cincin dan Seokjin bergantian. "Apa ini, Oppa?"

Tanpa menjawab Jisoo, Seokjin langsung menyematkan cincin itu di jari manis milik Jisoo.

"Aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu, Sooya. Maukah kau memberi satu kesempatan lagi untukku?"

****










Tidak... ini terlalu cute.. 🤩🤩






Dan ini juga terlalu cantik..





Seperti biasa ya.. jangan lupa tinggalkan jejak dengan ngevote dan komen biar author lebih semangat lagi nulis cerita abal-abal ini.
Thanks for reading...

Continue Reading

You'll Also Like

71.3K 3.7K 40
Orang bilang tidak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan, tapi hal itu berbeda dengan kisah Seokjin dan Jisoo yang sudah menjalin hub...
93K 6.1K 50
Awalnya Kim Seokjin menolak dijodohkan dengan wanita pilihan ayahnya. Namun setelah tau siapa wanita yang akan dijodohkan dengannya, ia langsung mene...
55.7K 4.5K 48
Wanita bernama Kim Jisoo yang ditemui Kim Seokjin di sebuah club malam mengingatkannya pada Kim Jihyun, tunangannya yang telah menghilang setahun yan...
193K 19.4K 44
(End) 🔞 Bukan hanya sekali Jisoo menyatakan cinta pada lelaki yang menjadi teman nya itu. Namun hal itu di tolak mentah - mentah mengingat status so...
Wattpad App - Unlock exclusive features