THE PRICE OF COMING BACK

Bởi Checilier

317K 25.4K 1.5K

Jennie Kim pernah memiliki segalanya Nama besar, perusahaan keluarga, dan cinta yang ia yakini akan bertahan... Xem Thêm

At Her Side, Always
Her Guard, Not Her Choice
Six A.M. Is Not Ours
If I Have to Ask
Of Course.
You Stand Too
If I Can't Stay, I'll Leave With You
Where I Always Return
The Space You Never Left
Between the Wound and Her Name
Where I Choose You, Again
Deals, Bloodlines, and the Girl Who Refused to Be a Pawn
The Space I Wouldn't Let You Cross
Left Waiting in the Hallway
Hurt the One You Hold
Recorded. Thanks
The Night I Let Myself Break
The Day I Was Told to Know My Place
Seven Meters Too Late
She Learned to Stand Alone
On The Brink of Bankruptcy
Someone Who Looked Like You
Not The Lisa I Loved
Let Them Come Crawling
The Price Of Coming Back
Fourteen Buildings Worth of Silence
Control Was Taken
I Loved You Enough to Be Cruel
She Knows How to Breathe Me Back
Touched
Pressure Without Warning
I Didn't Deserve
Wait for Me to Come Back (Again?)
The Day Dadda Opened Her Eyes
Epilog -

The Day She Disappeared

25.3K 1K 22
Bởi Checilier

Seorang gadis turun dari sebuah Porsche Cayenne putih dengan gerakan anggun. Seorang gadis lain berwajah blasteran Asia sigap menutup kembali pintu mobil begitu gadis pertama itu melangkah menjauh.

Tanpa melirik ke belakang, gadis tersebut berjalan dari area parkir universitas menuju gedung utama.

Tubuh Jennie Kim menjulang semampai. Rambut hitam kecokelatan tergerai hingga punggung, ujung-ujungnya dibentuk ikal bergelombang yang jatuh rapi. Alisnya, meski tidak terlalu tebal, dibentuk melengkung halus, sepadan dengan sepasang mata cokelatnya yang menyerupai mata kucing tajam, namun tenang.

Setiap kali Jennie melewati lorong-lorong kelas, bunyi decakan kagum dan tatapan mata mengiringi langkahnya. Namun, ia sama sekali tidak mengacuhkan sekeliling.

Pandangan matanya lurus ke depan. Sesekali jemarinya menyibak rambut yang tertiup angin. Ekspresinya datar, nyaris dingin tidak mencerminkan mahasiswa kebanyakan.

Beberapa langkah di belakangnya, gadis blasteran lain berjalan dengan ritme yang terukur. Lisa.

Aura yang ia bawa tak kalah menyita perhatian. Wajahnya unik dengan paduan oriental yang kuat, membuatnya tampak seperti penyanyi asal Negeri Ginseng.
Postur tubuhnya tegap dan atletis. Sepasang matanya tajam, sikapnya dingin sebuah kombinasi yang menghadirkan kesan misterius yang sulit diabaikan.

Lalisa Manoban mengekori Jennie Kim dengan gaya berpakaian santai dan terkesan cuek. Pada salah satu daun telinganya, terpasang anting hitam—model yang biasa dikenakan para personel band, dan hampir selalu menjadi ciri khasnya.

Flashback

"Lalisaaa... di mana sepatunya? Haruskah aku berteriak dulu baru kau bergerak cepat? Ck!"

Gadis bermata kucing itu, yang baru menginjak usia delapan belas tahun tengah bersiap berangkat kuliah. Meski dikelilingi banyak asisten rumah tangga yang siap mengurus segala kebutuhannya, gadis manja itu hanya menginginkan satu orang untuk direpotkan.

Bodyguard-nya.

Jennie Kim adalah anak tunggal dari pasangan pengusaha kaya, Kim Woo Bin dan Jung Rae Won salah satu dari lima keluarga dengan kekayaan terbesar di Korea Selatan.

Sejak kecil, Jennie memang diberikan satu orang pengawal pribadi. Seseorang yang dilatih khusus, bukan hanya untuk melindunginya, tetapi juga mengurus segala keperluannya.

Namun, karena sifatnya yang cenderung semena-mena, Jennie menolak dilayani orang lain. Ia hanya mau satu orang itu—meskipun ia tahu, bodyguard tersebut akan selalu pergi bersamanya ke mana pun.

Bodyguard itu bernama Lalisa Manoban.

Meski seumuran dengan Jennie, Lisa jauh lebih bisa diandalkan. Ia berani, kuat, dan cerdas. Selain menguasai berbagai jenis bela diri, Lisa juga unggul secara akademik—sebuah kombinasi yang jarang dimiliki seseorang seusianya.

Namun, sehebat apa pun Lalisa Manoban, Jennie Kim tetap menjadi nomor satu baginya. Tidak ada posisi yang lebih tinggi, tidak ada perintah yang bisa ia bantah.

Hari ini adalah hari pertama mereka resmi menjadi mahasiswa.

Jennie Kim melanjutkan pendidikannya di universitas milik keluarganya sendiri—The Kim's University. Sebuah institusi prestisius yang berdiri di bawah nama besar Kim Woo Bin, ayahnya.

Mereka berkuliah di tempat yang sama. Sebuah fakta yang bagi sebagian orang mungkin biasa, namun bagi Lalisa Manoban, itu adalah pengecualian yang tidak semua orang dapatkan.

Lisa hanyalah anak yang dipungut Kim Woo Bin.

Pengusaha kaya raya itu dikenal berhati dingin dalam urusan bisnis, namun bermurah hati dalam satu hal yautu putrinya. Demi kenyamanan dan keamanan Jennie, ia tidak keberatan memberikan Lisa tempat tinggal, pendidikan, dan akses yang sama, selama gadis itu tetap berada di sisi Jennie.

Sebagai penjaga.
Sebagai bayangan.

"Aku sedang mengeringkannya," jawab Lisa singkat.

"Lambat!" gumam Jennie kesal.

Ia menghentakkan kaki kecilnya di lantai saat menyusul Lisa ke bagian belakang rumah. Rol rambut masih tergulung rapi di poni, menandakan persiapannya belum sepenuhnya selesai—namun emosinya sudah lebih dulu memuncak.

"Cepat, bodoh. Aku hanya mau sepatu yang itu," omel Jennie dingin.

Di hadapannya, Lisa berdiri kewalahan. Dua buah hair dryer menggantung di kedua tangannya, diarahkan pada sepasang sepatu yang basah. Wajahnya tetap tenang, tanpa keluhan, tanpa bantahan.

Ia hanya mengangguk pelan.
Seolah segala kata Jennie adalah perintah mutlak.Walaupun Jennie Kim memiliki puluhan pasang sepatu, ia hanya menginginkan satu yang saat ini berada di tangan Lisa.

Sepatu putih itu adalah favoritnya.
Hadiah dari Lisa, tepat di hari ulang tahunnya yang ke delapan belas.

Sayangnya, sepatu itu sempat ternoda lumpur ketika hujan mengguyur Seoul sehari sebelumnya. Jennie terpaksa menginjak genangan di lapangan universitas saat sedikit tersandung ketika sedang berkeliling, melihat-lihat area kampus.

"Pakai yang lain saja, Jennie...," ucap Lisa menahan napas. "Aku bahkan belum mandi. Kita bisa terlambat."

Lisa masih mengenakan piyama bergambar beruang. Rambutnya sedikit berantakan, matanya menyiratkan kantuk yang belum sepenuhnya pergi.

"Atau aku mandi dulu dan tugas ini kuberikan pada Pak Nam saja?" lanjutnya membujuk. "Biar aku bisa siap-siap."

Jennie Kim menyipitkan mata, seolah benar-benar mempertimbangkan tawaran itu.

Di sisi lain, Lalisa mulai kelelahan. Tangannya terasa pegal akibat terlalu lama memegang hair dryer sejak pagi buta. Belum lagi setelah itu ia masih harus menyiapkan pakaian untuk sang majikan manja.

"Tidak."

Jawaban Jennie datar, tanpa ruang untuk negosiasi.

"Untuk apa dia punya banyak maid," gerutu Lisa dalam hati.

Sikap Jennie cukup membuat gadis jangkung itu berdecak kesal—dan suara kecil itu ternyata tertangkap oleh pendengaran Jennie. Namun, alih-alih menegur, gadis bermata kucing itu hanya melengos lalu kembali masuk ke kamarnya, seolah semua sudah seharusnya berjalan sesuai kehendaknya.

Setelah waktu yang terasa terlalu lama, Lisa akhirnya berhasil mengeringkan sepatu itu hingga bersih dan kering. Tanpa membuang waktu, ia langsung bergegas mandi dan bersiap menuju kampus.

Lalisa mengenal Jennie terlalu baik.

Gadis itu akan tetap mengomel jika mereka terlambat—bahkan jika keterlambatan itu sepenuhnya disebabkan oleh dirinya sendiri.

Lisa POV

Hari ini aku memilih Porsche 718 Cayman putih.

Ironisnya, aku yang secara kontrak hanya seorang bodyguard, justru menambah daftar tugas di luar kewajaran.

Mengurus bayi.
Ya. Bayi besar itu.

Aku merangkap menjadi apa pun yang dibutuhkan Jennie Kim—pengawal, sopir, asisten pribadi. Kami berkuliah di tempat yang sama, bahkan di jurusan yang sama pula. Sebuah kebetulan yang terasa terlalu disengaja.

Aku mengenakan kaus polo hitam dan celana senada, dipadukan dengan sepatu putih. Praktis. Siap bergerak. Tidak menarik perhatian berbanding terbalik dengan dirinya.

"Kau tidak sarapan?"

Aku menoleh saat suara yang sangat kukenal itu terdengar. Ia bertanya sambil mengunyah, matanya menatapku yang berdiri di samping mobil.

"Telan dulu," ucapku kesal.

Lihat pipinya.
Penuh. Menyebalkan.

Tangannya menyodorkan roti lapis yang sudah ia gigit hampir separuh, diarahkan ke mulutku tanpa rasa bersalah.

"Tidak, Jennie," tolakku pelan.

Aku membukakan pintu penumpang untuknya, lalu berjalan ke kursi pengemudi.

"We?" tanyanya singkat, masih sibuk menghabiskan sisa roti.

"Sudah terlambat," jawabku, nada suaraku tak sepenuhnya berhasil menahan kesal, sembari mengeluarkan mobil dari garasi.

"Huh?"

Dan sekarang tanpa rasa berdosa, apalagi bersalah ia meminum teh hangat milikku dari tumblr yang terletak di samping persneling.

Aish. Gadis ini.

"Tidak apa-apa."

"Kenapa tidak makan?" Ia mengulang pertanyaan yang sama. Jennie tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Itu prinsipnya.

"Apa kau marah?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

"Kau marah, kan?" desaknya, nada suaranya terdengar kesal tanpa sebab. Aku bisa merasakan tatapannya menusuk dari samping.

Jika sudah begini, aku hanya bisa menoleh ke arahnya dan memasang senyum konyol dipaksakan.

"Astaga... tidak mungkin," ucapku berlebihan. "Nona Jennie yang terhormat."

Aku yakin wajahku tampak bodoh sekarang.

Dan seperti biasa, itu berhasil. Jennie kembali mengacuhkanku dan mengeluarkan ponselnya.

"Tidak mungkin aku marah," gumamku pelan, sambil membawa mobil keluar dari mansion megah miliknya.

Jennie POV

"Tidak mungkin aku marah."

Aku tersenyum lebih tepatnya tertawa dalam hati. Ia memang tidak akan marah, dan aku tahu itu. Selalu begitu.

Perjalanan menuju universitas memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Hari ini, entah kenapa, jalanan terasa lebih padat dari biasanya. Mobil-mobil di depan nyaris tidak bergerak.

Sesekali aku mendengar Lalisa mendecak pelan, merutuki kemacetan yang seolah tak berujung. Ia tetap fokus menatap jalan, kedua tangannya mantap di setir, meski jelas rasa kesalnya tak sepenuhnya tersembunyi.

Dan melihatnya seperti itu... entah kenapa justru membuatku ingin menggodanya lebih jauh.

"Kau bohong?" tanyaku sambil menatapnya menyelidik.

"Tidak," jawabnya singkat, matanya masih mengamati jalanan yang mulai bergerak perlahan.

"Iya, kau bohong," tudingku beruntun. "Kau kesal, kan? Mengakulah."

Ia akhirnya menoleh, sekilas saja.

"Tidak, Jennie," jawab Lisa, nadanya terdengar putus asa.

Aku tahu ia tidak marah. Paling hanya kesal sedikit dan itu pun mungkin sudah hampir dilupakannya.

"Katakan kau marah padaku karena sepatuku," kataku santai, "atau aku akan melompat."

Ancaman konyol itu langsung membuatnya panik.

Gadis jangkung yang telah bersamaku sejak kecil itu tersentak kaget. Kepalanya bergerak cepat, bergantian menatapku dan kondisi jalan di depan, wajahnya jelas tegang.

"Jennie," ucapnya tegas, kali ini benar-benar menatapku.

Aku hanya tersenyum kecil.

Konyol. Ancaman macam apa itu?
Hanya karena sepatu aku mau apa? melompat?

Tanpa sadar ujung bibirku terangkat. Sedetik kemudian aku menangkap reaksinya; Lalisa memutar bola mata dengan jengah.

"Aku bersumpah aku tidak marah, Jennie. Aku mohon, jangan nekat," ucapnya malas, namun nada suaranya tetap waspada.

Aku sangat mengenalnya.
Si Manoban ini tahu betul ancaman itu berlaku untuknya, meskipun ia sadar sepenuhnya bahwa ucapanku hanyalah omong kosong.

Karena satu hal:
dia sangat takut aku terluka.

Lisa pernah menerobos hujan demi diriku. Hanya untuk membeli payung di minimarket, saat hujan turun tiba-tiba berlawanan dengan ramalan cuaca yang disiarkan televisi pagi itu.

Ia pulang dalam keadaan menggigil, lalu jatuh sakit. Demam.

Aku tahu.
Ia tidak pernah mengatakannya secara langsung, meski aku melihat sendiri betapa tubuhnya nyaris menyerah hari itu.

"Lalu mengapa kau tidak makan?"

Tatapan mautku sukses membuatnya terpojok.

"Ah... kau mulai lagi," gumamnya.

Dalam diam aku tergelak. Dari luar ia dikenal angkuh dan kuat, tapi di hadapanku, sifat aslinya selalu muncul terutama saat kami berdebat seperti ini.

Dan aku tidak peduli.

"Aku akan makan nanti di kantin. Kita sudah sampai. Ayo turun."

Lisa membuka pintunya lebih dulu, lalu berlari kecil ke sisiku untuk membukakan pintu.

"Nanti kau harus makan," ucapku acuh.

"Ya. Nanti."

Aku mendengus kesal mendengar jawabannya.

Jika Lisa sampai sakit dan meninggalkanku hari ini, maka Pak Nam atau anak buah ayahku yang akan menggantikannya. Pikiran itu membuatku tanpa sadar merasa sedikit menyesal karena tidak membiarkannya bersiap lebih dulu pagi tadi.

Padahal, itu hanya sepatu putih sederhana.
Sepatu yang dibeli Lisa di mall.

Aku menyukainya bukan karena mereknya. Aku senang karena aku tahu bagaimana Lisa mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit di celengan berbentuk beruang yang selalu ia simpan di atas lemari kamarnya.

Dan mungkin...
itulah sebabnya aku bersikeras memakainya hari ini.

Lisa tinggal serumah denganku. Kamarnya terletak persis di sebelah kamarku cukup satu dinding tipis yang memisahkan ruang pribadiku dan keberadaannya yang nyaris selalu siaga.

Setelah tiba, aku dan Lisa langsung memasuki area universitas. Kami memang terlambat. Dengan langkah tenang dan tanpa rasa bersalah, kami berjalan melewati barisan mahasiswa baru.

Sungguh, aku tidak berniat sedikit pun mengikuti orientasi mahasiswa atau berkenalan dengan siapa pun.

Aku pemiliknya.
Untuk apa repot-repot seperti itu?

"Hei, kalian!"

Sebuah suara lantang dari arah lapangan memaksa kami menoleh—meski dengan enggan.

"Kemari!"

Seorang pria bernama Kim Nam Joon berdiri di sana, diikuti Hanbin di belakangnya. Aku hanya melirik jengkel, sama sekali tidak berniat menghampiri mereka.

Seluruh perhatian di lapangan tertuju pada kami. Tatapan takjub, bisik-bisik, dan rasa heran bercampur menjadi satu saat dua mahasiswa baru berani berjalan masuk begitu saja, sementara yang lain berdiri rapi dalam barisan.

"Tunggulah sebentar," ucap Lisa singkat.

Ia melangkah ke arah lapangan tempat dua orang itu berdiri. Aku hanya mengangguk malas. Dari penampilan dan sikap mereka, jelas—kakak tingkat yang diberi kuasa untuk mengatur mahasiswa baru.

"Cepat," kataku datar. "Di sini panas."

"Kau murid baru, kan?" bentak Nam Joon. "Mengapa tidak ikut barisan? Sudah terlambat, tidak memakai atribut! Kalian pikir kalian yang punya sekolah, hah?"

Tangannya terangkat, berniat menoyor kepala Lisa.

Lisa berdecak.

Wajahnya tetap tenang mata cokelat terangnya tajam, bibirnya terkatup rapat, posturnya tegap. Dengan tinggi seratus enam puluh tujuh sentimeter, ia sama sekali tidak terlihat kecil di hadapan Nam Joon.

Dengan satu gerakan cepat, ia menepis tangan pria itu. Sentuhan ringan di bahunya cukup satu dorongan pelan membuat tubuh Nam Joon terjengkang dan jatuh tersungkur ke rumput.

"Sudah?" tanya Lisa datar.

Nam Joon menatapnya tak percaya. Wajahnya menegang, harga dirinya runtuh di hadapan banyak pasang mata.

Aku tersenyum miring sambil melipat tangan di dada.
Lucu.

Di sekeliling, mahasiswa baru bahkan beberapa kakak tingkat membulatkan mata, terkejut bukan main.

Lisa menatap Nam Joon yang tergeletak di kakinya dengan ekspresi jijik, seolah yang ia lihat hanyalah seekor ulat hijau di balik daun jambu.

"Lalisa Manoban. Cepatlah. Di sini panas."

Ia langsung menoleh saat mendengar suaraku, lalu berlari kecil ke arahku, meninggalkan Nam Joon yang masih membatu di rumput lapangan.

Saat kami berjalan masuk ke dalam gedung, suara-suara berbisik mulai terdengar di belakang.

"Lalisa Manoban...? Bukankah dia salah satu The Most Wanted Girl's 2022?"

"Dia yang kemarin masuk berita, kan?"

"Itu Jennie Ruby Jane Kim?"

"Berarti itu Jennie Kim?!"

"Anak pemilik universitas ini?"

"Gila... jantungku tidak aman."

Aku tidak menoleh.
Tidak perlu.

Topik pembicaraan itu sudah berjalan masuk bersamaku.

Karena Lisa entah kenapa adalah pelengkap hidupku.

Đọc tiếp

Bạn Cũng Sẽ Thích

214K 19.1K 93
[18+] "Caraku merekam hidup, merupakan proses terindah yang tidak pernah dapat terbayangkan oleh logika manusia lainnya"
68.4K 8.5K 18
Caraku mencintai langit, berbeda dengan caraku mencintaimu. Biarkan ketulusan yang berbicara, maka kau akan mengetahui perbedaannya.
14.1K 1.5K 9
"Kamu masih mencintainya?" tanya Lalisa, sebaik mungkin ia jaga suaranya supaya tidak bergetar, kala melemparkan pertanyaan itu. Tatapnya pun ia bua...
67K 6.5K 31
- Kekasihku gagah dan tampan, dia unggul di antara sepuluh ribu orang. Kepalanya seperti Emas Murni, ramburnya berombak dan hitam, sehitam burung gag...
Ứng dụng Wattpad - Mở khóa các tính năng độc quyền