Halo, Guys. A-Ca is back!
Alhamdulillah..
Berkat kuasa-Nya, aku bisa meraih gelar sarjana akhir bulan lalu.
Aku akan berusaha untuk menyelesaikan naskah ini dan update semampunya ketika punya waktu luang. Doain semoga bisa terlaksana.
Terimakasih untuk semua yang udah setia baca, enjoy this chapter.
Isinya emosi mulu, semoga kalian gak bosen. Ily 🌷
***
"Farhan, Arsa mana!?" Meira menggebu-gebu saat mengetahui kabar dari adik kelasnya selepas acara.
Meira punya firasat bahwa ini ada sangkut pautnya dengan bocah sombong itu, siapa lagi jika bukan Arsa.
"Arsa? Lo ngapain nyari dia?" Farhan kebingungan.
"Lo gak usah banyak tanya deh, Nami sekarang di rumah sakit dan gue pastiin ini ada kaitannya sama temen lo itu!"
"Hah? Nami sakit? Lo-"
"Oke ketemu, lo gak usah banyak bacot" Meira menyela Farhan karena sosok yang dicari sudah ada di depan mata.
Arsa Aditya sedang bersiap-siap untuk pulang.
"ARSA!" yang dipanggil menoleh, dia sudah merasakan aura kemarahan dari gadis yang memanggilnya.
'Meira capek atau emang marah?' Batin Arsa.
"Kenapa?" Arsa mencoba tenang, diantara kerumunan orang yang berdesakan untuk pulang.
Konser Sheila On 7 malam itu berjalan lancar, kerja keras panitia terbayar, tidak ada kendala, dan semuanya pun puas dengan rangkaian acara yang dibuat oleh anggota OSIS dengan maksimal.
"Ikut gue!" Meira menarik Arsa dengan paksa, membawanya ke tempat dimana orang-orang tidak bisa mendengar mereka.
"Kenapa sih, Mei?"
"Lo abis ketemu sama Nami?"
'Ada apa lagi dengan gadis itu?' batin Arsa.
"Sa, jawab! Gue serius!"
Tunggu, Arsa tiba-tiba sadar bahwa gadis itu tidak terlihat setelah pengakuan yang diberikan secara tidak sengaja tadi.
"Arsa!"
"Iya, Mei. Gue ketemu, kenapa?"
"Kenapa lo bilang? Lo abis apain dia, Sa?" tanya Meira frustasi.
"Gue gak ngapa-ngapain, lo gausah nuduh sembarangan deh!" Arsa sudah muak jika Meira menyudutkan dirinya.
"Dia gak mungkin masuk rumah sakit kalo gak ketemu sama lo!" Meira akhirnya mengaku.
Deg.
Arsa merasa hatinya berdesir, satu kalimat yang diucapkan Meira membuat dirinya tampak seperti penjahat.
Arsa tidak salah, pun dengan Nami. Mereka sama-sama berterima kasih dan menyudahi hal yang tidak pernah dimulai itu.
Tapi, mengapa tiba-tiba jadi seperti ini?
"Nami masuk rumah sakit?" ia bertanya, memastikan.
"IYA! PASTI GARA-GARA LO KAN!" Meira semakin emosi.
"BUKAN GARA-GARA GUE, MEI!"
Meira kaget dengan nada Arsa yang meninggi, lelaki di depannya itu tampak serius. Dia pun mencoba menenangkan diri. Arsa ikut lelah, dirinya sangat bingung dengan semua ini.
Kenapa semua rumit semenjak ada Nami di hidupnya?
"Lo abis ngomong apa sama dia, Sa? Dari awal tuh dia sakit, dia udah berusaha buat ikut acara sampe selesai, tapi-" belum sempat gadis itu berbicara, Arsa tiba-tiba ingin pergi.
"ARSA, LO MAU KEMANA?! GUE BELUM SELESAI NGOMONG!"
"Lanjut entar," jawabnya buru-buru, segera meninggalkan lawan bicaranya.
"Sialan ya, sakit banget lo, Sa!"
Dengan rasa frustasi, Meira melanjutkan aktivitas. Ia bergegas menuju aula sekolah untuk melakukan evaluasi bersama anak-anak lain.
Tampak anak-anak lain mulai duduk melingkar, dengan tatapan sedikit takut bagi kelas 11. Sementara raut wajah anggota senior terlihat cemas dan dingin.
Evaluasi berjalan dengan tegang, tidak ada amarah yang menggebu-gebu. Walaupun ada beberapa kesalahan, tapi semua bisa ter-handle dengan baik.
"Evaluasi selesai, gue cuma mau bilang makasih buat semuanya yang udah berjuang sampai di titik ini. Thankyou banget buat kalian yang udah ngeluarin waktu, materi, tenaga, pikiran, dan semuanya buat acara kita dari awal sampai akhir," Yesaya memberikan kalimat terakhir sebelum rapat evaluasi ditutup.
"Sorry kalo selama ini gue sama temen-temen yang lain salah, gue harap kalian bisa belajar dan berusaha buat jadi lebih baik dengan versi kalian di periode selanjutnya" imbuhnya.
"Kok diem aja!? TEPUK TANGAN DOOOONG!"
Anak OSIS yang mulanya hanya tatap-tatapan kini mulai bertepuk tangan, menandakan mereka telah mengakhiri kegiatan-sekaligus program kerja tahunan yang membuat mereka sangat sibuk itu.
"WOOAAHHH AKHIRNYA SELESAII"
"FIUHHH, FINALLY BANGET!"
"YES, BEBAN GUE SEKARANG UDAH GAK ADA" siapa lagi kalau bukan Sam, anak itu lupa jika sudah memasuki kelas akhir.
"Halah, lu mah kagak ada ngaruhnya" sambung Tasya, dirinya daritadi sangat menahan emosi.
"Syirik aja lu bendahara!"
"Udah udah, sekarang yang kelas 11 lanjut bersih-bersih. Untuk kelas 12, kita bisa rapat bentar dulu ya"
"Cie.. udah mau purna ya, Kak Yes?" goda Syifa, adik kelasnya itu.
"Iyee, kenapa? Kangen lu, Cip?" sahut Sam.
"Apaan sih kak, ikutan aja"
"Udah hust hust sana, kita mau rapat"
"Udah tau kali, huuu"
Sementara yang lain berkumpul, Meira segera memberitahukan keadaan Nami. Ya, saat itu juga semua teman Nami sedih. Siapa sangka, Nami memendam sakit sendirian. Ia bahkan tidak memberitahu seputar sponsor pada rekannya.
"Tapi gini deh, sekarang Rifky udah stand by di rumah sakit dan posisi juga udah malem. Apa gak sebaiknya kita kesana besok aja? Setelah semuanya kita beresin, kita minta maaf sama Nami besok aja" kata Nara, dirinya memikirkan semua kemungkinan jika tiba-tiba mereka semua pergi ke rumah sakit.
"Iya juga sih, takutnya doi keganggu. Kan lagi sakit tuh, pasti gak boleh rame-rame juga" kata Rafly.
"Berarti kita nunggu kabar dari Rifky? Sumpah ya, gue merasa bersalah banget sama Nami. Gue beneran emosi, sorry guys" sesal Tasya.
"Ini pelajaran buat kita, jangan lampiasin emosi sama orang yang bahkan gak tau apa-apa. Kita bahkan gak tau Nami berjuang buat dapet uang sponsor"
"Iya, Mei. Gue khilaf"
"Udah, yang penting kita semua tau kesalahan kita. Gue juga sebagia ketua gak seharusnya diem aja tadi"
"Lo juga jangan nyalahin diri sendiri kali, Yes" kini, Diandra angkat bicara.
"Sponsor dan semua acara kan kita urus bareng-bareng, jadi gausah ngira berat sebelah atau gimana. Kita tanggung barengan juga, kan?" tambahnya.
Mereka mengangguk pasrah, hening sesaat.
"Oke, kalian beresin urusan masing-masing, besok kita kumpul buat jenguk Nami. Gimana?"
"Setuju gue" jawab Farel yang sedari tadi memang mengantuk.
"Oke, gue seneng banget akhirnya goals kita selesai. Gue sayang banget sama kalian, dan gue harap akan selamanya gitu"
"AAAAAA YESAYANG MAU BIKIN SAM SUSAH MOVE ON YA?"
"SAM APAAN SIH, GELI"
Sam membuat semua orang tertawa, menghibur diri sejenak.
***
Di sisi lain, lelaki dengan nafas ngos-ngosan tengah berada di meja administrasi rumah sakit. Belum sempat menenangkan diri, dirinya bertanya dengan raut wajah cemas.
"Malam mbak, mau tanya. Pasien atas nama Namira ada di kamar mana ya?" Arsa langsung menanyakan tujuannya kemari.
"Sebentar ya mas, saya cek dulu"
Beberapa menit kemudian, orang di balik meja administrasi kembali bertanya.
"Mohon maaf mas, ada tiga pasien atas nama Namira. Kalau boleh tau, nama lengkapnya siap-"
"Namira Cahaya.. Putri" belum sempat petugas administrasi menyelesaikan pembicaraan, Arsa langsung memotong.
Siapa sangka, Arsa Aditya Mahendra mengetahui nama lengkap gadis yang selalu memujanya itu.
"Oke, untuk pasien dengan nama tersebut ada di lantai 2, Kamar Anggrek. VVIP, baru saja dipindahkan dari UGD"
"Oke, makasih mbak"
Dirinya bergegas menuju kamar yang disebutkan. Saat sampai, dirinya melihat kamar tersebut sekilas.
'Masuk ga ya?'
'Di dalem ada orang gak sih?'
'Entar gue bilang apa kalo ditanya?'
"Aduh, kenapa jadi bodoh gini sih, Sa?" monolognya pada diri sendiri.
Pertama, Arsa mengetuk tiga kali. Tapi, tidak ada jawaban.
Lelaki itu membuka pintu perlahan. Kosong, sepintas ia melihat kamar yang cukup luas. Gadis yang biasanya selalu ceria dan mengejarnya dengan seribu cara itu terbaring dengan wajah tenang.
Bibirnya pucat, selang infus berada di tangan kirinya. Perlahan, Arsa mendekat. Nami masih belum sadarkan diri.
"Nam?" untuk pertama kalinya, seorang Arsa memanggil Nami dengan lemah lembut.
"Are you okay?" tentu saja tidak mendapat jawaban.
Arsa melihat sekeliling, tidak menemukan seorang pun yang menjaga Nami. Untuk itu, dia berinisiatif menjaganya. Menarik kursi yang ada di dekat ranjang, mendudukkan diri disana. Tanpa aba-aba, tangannya menyentuh tangan sang gadis.
"Ini karena gue, ya?" hening.
"Bilang sama gue kalo lo sakit, jangan tiba-tiba bikin khawatir kayak gini, Nam"
"Ngeliat lo terbaring disini bikin gue sadar kalo..." Arsa memotong ucapannya, tangannya perlahan mengelus rambut Nami.
"Gue jahat. Gue jahat, Nam. Tapi, gue belum bisa suka sama lo. Bukannya gue lebih jahat kalo nerima lo dengan terpaksa?"
"Egois kalo gue bilang lo harus nunggu gue buat jatuh cinta, lo udah banyak berkorban" katanya dengan lirih.
"Gue jahat karena gak bisa apa-apa"
"Sorry, Nam."
Cukup lama ia menunggu gadis itu, hanya keheningan yang tercipta. Nami tak kunjung sadar.
"Nam, lo kapan sadarnya? Gue janji deh kalo lo sadar, gue bakal-" belum selesai menamatkan kalimat, handphone di sakunya berdering, menampakkan kontak yang ia hindari. Papa.
Arsa mereject, tidak merespon. Namun, sedetik setelahnya ia memutuskan bangkit. Pulang sebelum papa mencari tahu lebih banyak tentang dirinya.
Baru selangkah, dirinya berbalik. Menatap gadis itu, sekali lagi. Siapa sangka, kecupan hangat mendarat di dahi seorang Nami selama beberapa detik. Sambil mengelus kembali, Arsa tersenyum tulus.
"Lekas sembuh, Namira"
Tanpa Arsa sadari, ia melewati seorang laki-laki yang menghadap tembok. Setelah Arsa pergi, dirinya menuju kamar tempat Nami dirawat.
Apa yang ia lihat?
Gadis kecilnya tiba-tiba menggerakkan tangan, kemudian mengerjapkan mata perlahan.
Namira sadar. Namira bangun.
"Nam, gimana keadaan lo? Udah baikan?"
"Rif,"
"Iya?"
"Gue tadi mimpi.."
"Iya. Mimpi apa, Nam?"
"Arsa disini, sama gue. Arsa nangis depan gue" ia memberi jeda.
"Lo gak liat Arsa disini, Rif?"
'Masih sakit aja lo mikirin dia, Nam'
Rifky sadar, dirinya tak berarti apapun.
'Lo gak salah, Nam. Takdir lo lucu banget,'
'Lo sesayang itu sama dia?'
Arsa itu penyebab luka Nami. Tapi, gadis itu mungkin tidak akan sadar jika Arsa tidak berkunjung.
Sebab, luka dan obat dirinya tercipta dari orang yang sama.
Arsa.
***
See you in the next chapter, loves 🧚🏻♀️
Oh iya, kalian bisa kunjungi tiktok @_esmilooo_ dan buka playlist "Anaimy"
Kalian bisa liat konten-konten tentang Arsa, Nami, Rifky, dan teman-teman lain disana 🦋