notes: ayaaang... ini final chapter Mars & Mara, jangan lupa vote yahh
7.
Hesa memicingkan matanya, ia seperti melihat sosok yang ia kenal di food court salah satu mall di daerah pusat. "itu Asmara ya?" ia kembali memperhatikan perempuan muda yang tengah makan siang bersama beberapa teman kantornya, sesekai Mara tertawa saat salah satu temennya bercerita.
Kemudian hesa meraih ponselnya, ditekannya nomor telepon Mars.
"Halo." Jawab Mars, suaranya parau, mungkin baru bangun tidur karena ini masih pagi di Belanda.
"Mars, gue ketemu Mara nih barusan."
"Hah," Matanya terbuka lebar, beberapa bulan berlalu dan nama itu masih saja membuatnya mual. "apaan sih Hes. Ga peduli gue."
"Hahaha... ini pertama kalinya aja gue liat dia lagi setelah beberapa bulan. Makanya pengen kasi tau lo..." Ujar Hesa.
Mars duduk, "Hes, liatin perutnya deh."
Mara dan teman-temannya beranjak karena mereka telah selesai makan. Tatapan Hesa jatuh ke perut Mara, "rata, Mars..." entah kenapa ia ikut kecewa.
Mars mendengus sengit, "beneran aborsi tuh orang? Well, selamat deh, bisa back in market lagi tuh."
Hesa tidak berkomentar.
"Sama siapa aja dia?"
"Katanya ga peduli?"
"Terlanjur! Elo sih, pake bangunin gue pagi-pagi." Sungut Mars.
"Dia berlima, tiga cewe, dua cowo, kayanya sih anak-anak kantornya, mereka pake baju rapih dan pake nametag."
"Oh..." gumam Mars.
"Mau gue salamin ga?" tanya Hesa usil.
"Salamin aja, bilangin, dapet salam dari bapaknya anak yang lo aborsi."
"Serius lo?"
Mars berusaha tertawa, "gak lah, ya terserah lo sih... ga peduli gue. Udah ya mau cari kopi dulu." Mars menutup telepon itu lalu duduk dipinggir tempat tidurnya. Ia sudah pindah kesebuah studio apartemen kecil didekat kampusnya, dimana Mars kembali jadi mahasiswa baru dijurusan impiannya, desain grafis.
Ia mengusak wajahnya dengan kasar.
Perutnya rata, kata Hesa. Mars mendengus kesal, bukan kesal karena Mara, tapi kesal karena matanya panas. sudah cukup ia menangisi semua ini diam-diam. Mars pikir ia sudah cukup kuat sekarang, tapi mendengar kabar Mara ternyata masih saja membuat dadanya nyeri. Entah sampai kapan, tapi Mars tau ia hanya harus fokus pada kehidupannya yang sekarang saja.
~~
Hari ini sudah lebih dari dua bulan sejak Mara keluar rumah sakit. Mara masuk ke ballroom yang ada di mall itu, ia sedang ditugaskan untuk ikut seminar oleh perusahaannya, tadipun ia makan di foodcourt bersama peserta seminar lain, makanan di food court mall mewah ini betul-betul mahal. Ia tadi hanya mampu membeli makanan paling standar, nasi goreng, disebuah gerai franchise makanan lokal.
Ponselnya bergetar, ia mengintip dan menemukan admin kampusnya menanyakan soal pembayaran sekolah.
Mara menghela nafas, ia masih belum punya solusi untuk biaya sekolahnya, tabungannya betul-betul nol setelah ia melunasi biaya operasi dua bulan lalu, dan ia sudah ga mungkin pindah ke kos yang lebih jelek dari itu lagi.
Sekembalinya ia ke kantor, Mara membantu beberapa divisi melabeli paket-paket yang akan dikirim ke HQ Singapura. Ia juga melihat sebagian besar ruangan sudah kosong, tiba-tiba ketakutan melanda Mara. Ia kan masih magang, kalau seluruh fungsi kantor ini pindah ke Singapura, bisa-bisa ia kehilangan pekerjaannya.
Ponselnya bergetar lagi, telepon dari kampus.
"Halo?" ia sudah ga bisa mengelak lagi.
"Eureeka Asmara, ini kan sudah hampir tiga bulan kamu belum juga bayar SKS dan tuition fee, kamu juga belum booking untuk skripsi... kamu terancam ga bisa ikut ujian midterm."
"Saya... saya udah ga ambil matakuliah lagi kok, bu."
"Iya, tapi, nilai magang kamu juga bisa-bisa ga keluar kalau begini." ujar petugas kampus itu, "kamu bisa ke kampus ga?"
"Bisa, bu, saya usahakan kesana... Tapi kan baru sekali ini saya uang kuliahnya telat bu, masa ga ada keringanan?"
"Justru kamu lebih dipantau karena kamu adalah anak beasiswa yang tiba-tiba dicabut beasiswanya. Kasus seperti ini kan karena ada pelanggaran atau penurunan nilai, saya liat nilai kamu baik-baik aja..."
Mara mengesah pasrah tau kalau admin-admin kampus pasti membicarakannya, Mara kehilangan beasiswa pasti karena perilaku buruk, ditambah fakta ia pernah pacaran dengan Mars, si anak emas yang tiba-tiba pindah ke luar negri, Mara paham kalau semua orang pasti bergunjing, "bu, kasih saya waktu sedikiit lagi..."
"Saya udah mengulur-ulur buat kamu Asmara, karena kamu dulu rajin bantu saya, tapi ini sudah ada surat dekan yang minta kamu dipanggil."
Dekan?
Ketemu dekan? bapaknya Mars?
Enggak mau.
Mara segera menuju ruang CEO nya, disana ia menemukan Journey sedang memeriksa beberapa dokumen, dan bu Helga juga sedang duduk diseberang Journey, memilah-milah beberapa kertas.
"Pak," ujar Mara.
Journey dan bu Helga menoleh berbarengan. "Mara?"
"Boleh saya bicara?"
"Sama saya?" tanya Journey.
"Iya."
"Silahkan."
"Bapak tau kemampuan saya kan? Nilai saya juga bagus, perilaku saya baik, pekerjaan saya juga tidak mengecewakan."
Journey hanya mengerutkan keningnya, "iya, lalu?"
"Boleh ga saya menjadi pegawai tetap disini pak?"
"Kalau nanti kamu sudah lulus kamu boleh mendaftar disini, saya sudah tau kualitas kamu, jadi saya pasti carikan posisi yang baik."
Mara menelan ludah dengan susah payah, "masalahnya pak, saya ga mampu menyelesaikan sekolah saya, saya... saya mungkin terpaksa harus mundur karena saya ga mampu bayar biayanya."
"Mundur?"
Mara mengangguk, "seluruh tabungan saya habis untuk operasi, dan saya juga berpikir untuk tidak lagi melanjutkan tahun terakhir saya di kampus itu." Ujar Mara mantap.
"Uang sekolah?" tanya Journey, "kalau kamu mau, kamu bisa minta bantuan saya atau kantor-"
"Saya mau hutang uang pendidikan ke bapak," ujarnya, "tapi bukan di kampus itu. saya ga mau lagi kembali ke kampus itu lagi."
Journey melihat kilatan dimata Mara, dan dari seluruh cerita yang ia dengar dirumah sakit, CEO itu paham rasa sakit yang Mara rasakan, gadis muda yang cemerlang dengan segala keterbatasannya, yang masa depannya dihancurkan oleh seorang laki-laki ga bertanggung jawab.
Journey tiba-tiba tertawa kecil sambil menaruh seluruh kertas-kertas ditangannya lalu menoleh ke Helga, sekretarisnya, "Alright, Helga, I think I found my new secretary who will come with me next week to Singapore."
.
.
.
Empat tahun kemudian.
Sebuah gedung modern dengan papan nama besar didepannya bertuliskan 'Clique' advertising agency, sudah hampir tiga tahun belakangan Clique menjadi salah satu digital & advertising agency yang bergengsi di ibukota, kliennya tidak main-main.
Marshal Asoka membangun agency ini bersama Hesa, sahabatnya, sesaat setelah Mars pergi ke Belanda. Saat itu Hesa telah lulus kuliah. Mars dan Hesa berhasil bekerjasma jarak jauh dan itu justru membuat hubungan pekerjaan mereka makin bagus karena telah teruji berbagai macam hal, dari jarak hingga komunikasi.
Setahun yang lalu Mars sebagai co-founder kembali ke tanah air, ia langsung membantu Hesa mengerjakan proyek-proyek yang mereka dapat.
"Hesa, sibuk ya?" Mars mengintip kedalam ruang rapat dengan desain yang santai, betul-betul gaya kantor anak jaman sekarang yang banyak mengadopsi nyamannya kantor Google.
"Engga, ini lagi brief anak-anak, yang mau dikirim ke Singapur."
"Ada proyek apa?" tanya Mars sembari melihat-lihat kertas-kertas yang berserakan dimeja besar depan Hesa.
"Salah satu klien gede kita, File & Filament, minta team buat kesana." Hesa kemudian menyuruh seluruh anak buahnya yang tadinya rapat dengan dia untuk keluar, "biar gue diskusi dulu sama Mars," ujarnya.
"Proyek apaan?" ia meneliti company profile itu lagi.
"Ini perusahaan tekstil sih tapi mau keluarin home produk, basic essentials gitu... produknya menarik sih, menarik banget..." Hesa menyodorkan dokumen lain.
"Bentar, bentar..." Mars kembali melihat-lihat company profile itu, "File & Filament... kaya akrab." Mars terdiam, "oh."
"Apa? Kenapa?" tanya Hesa.
"Engga, gapapa."
"Apaan Maaars, katanya ga ada rahasia diantara kita?" ujar Hesa dibuat-buat manja.
"Ck! Apaan sih Hes, engga... gue baru inget ini tuh tempat magangnya Mara dulu."
"Ohh..."
Mars diam sambil menyibukan diri baca-baca materi, "udah berapa lama nih peusahaan jadi klien kita?"
"Emm, dari waktu lo masih di Belanda sih, kita yang bikinin safety guide video buat pekerja pabriknya, terus akhirnya company profile dan lain-lain kita yang pegang, sekarang mereka langsung percaya kita buat presentasi semua promo launching sama iklan home product mereka, skala gede nih Mars kalo deal."
"Oh... jadi sering kesana ya?"
"Gue sampe pernah ke pabriknya yang di Jabar, gede banget... mana jauh banget dari kota—" Hesa terdiam sejenak, "tapi ga pernah liat dia kok Mars."
"Liat siapa?" Mars pura-pura cuek.
"Siapa lagi..."
"Apa sih? Mara? Ya kali masih kerja disana, kan cuma magang." Ujar Mars, "lagian kata bokap gue dia ga nyelesaiin kuliah, langsung ngilang gitu aja."
"Iya lo cerita tuh dulu... ngeselin ya? Dia bener-bener hapus lo dari hidup dia."
Mars terkekeh pahit, "sekarang sih udah bodo amat gue, emang ga bener tuh orang."
Hesa menepuk punggung Mars, "ya udah ga usah dibahas tuh perempuan jahat... mending sekarang lo bantu gue."
"Bantu apa?"
"Lo aja yang leading team Singapur gimana? Gue ada proyek film nih quarter tiga taun ini..." ujar Hesa.
"Hadeh... iya iya..."
Sorenya setelah beberapa meeting di kantornya, Mars menyetir menuju selatan kota, memarkir kendaraanya diparkiran besar kampus FEB lalu turun menuju sebuah gedung.
Sepasang kakinya melangkah menaiki tangga tua kearah atap sebuah gedung serba guna di kampus UPB, jemari memutar kunci dan membuka ruang terbuka diatas sana. Isinya telah berubah, tidak ada lagi kursi-kursi bekas, tidak ada lagi pojok favoritnya.
Hampir senja waktu itu, dan Mars melihat berkeliling. Rupanya telah berubah tapi pemandangan yang disuguhkan masih sama, kecuali ada beberapa gedung baru yang sedikit menutupi luasnya langit. Laki-laki itu duduk disebuah kotak kayu yang terletak di area yang dulu adalah meja dan kursi tempat Mara biasa duduk. Lalu ia terdiam disana cukup lama.
Entah apa yang membawanya kemari, Mars tidak butuh patah hatinya diperbarui, ia sudah sembuh. Begitu setidaknya yang otaknya percaya. Hembusan nafas berat keluar dari bibirnya, "kenapa sih bahkan setelah hampir empat taun gue masih aja nyari lo, Mar?" gumamnya.
~~
Berisik orang berlalu lalang di pedestrian area sebuah kawasan elit Singapura, seorang perempuan manis dengan kemeja rapih masuk kedalam celana pendek kain, melangkah dengan tangan terayun sesuai dengan ayunan kakinya yang dihiasi sneakers santai. rambutnya yang sebahu tertata apik disematkan dibelakang telinga, sapuan make up tipis sekedar untuk menambah segar wajahnya yang selalu dihiasi senyum manis yang ramah. Seolah ia tak pernah disakiti dunia.
Eureeka Asmara, salah satu sekretaris terbaik dan yang paling betah menghadapi betapa dingin, tegas, dan moody-nya seorang CEO bernama Journey Lee. Ia juga cekatan dan handal dalam mengatur urusan rumah tangga Journey.
Tahun pertama kepindahannya Mara kembali mengambil kuliah singkat di National University of Singapore, ia juga dikagetkan dengan kedatangan seorang anak berumur enam tahun yang merupakan anak dari Journey Lee. Rupanya Journey baru memenangkan hak asuh atas anak itu dari mantan pacarnya—iya, dia tidak menikah dengan pacarnya saat itu—tiga tahun lalu, dan selama beberapa bulan Journey mengurus segala kepindahan HQ perusahaannya ini, Logan, nama anak itu, dititipkan dirumah ibu si anak itu di New York. Namun sekarang mereka sudah bisa berkumpul lagi.
Akhir pekan yang harusnya jadi waktu istirahat sepertinya tidak berlaku untuk Mara, setelah mendapat pesan singkat dari Journey, ia mengganti baju rumahnya yang nyaman menjadi pakaian santai tapi rapih karena bos-nya yang paling terhormat memintanya secara mendadak untuk menjemput Logan, anaknya dari jadwal soccer.
"Mana papa kamu?" tanyanya pada Logan, yang ditanya hanya angkat bahu.
"Mara, I'm hungry."
"Okay, bentar." Mara merapihkan tas Logan.
"I want burger."
"Iyaaa.. di Dempsey hills banyak!" Mara menggandeng Logan sampai masuk kedalam mobil. ia melewati beberapa restoran di daerah itu.
"Mar, shake shack aja... yang di Neil."
"Ya, ya." Mara berhenti dilampu merah, mempersilahkan para pejalan kaki menyeberang, "papa ga bilang mau kemana gitu tadi?"
Logan menggeleng sambil memainkan rubik kecil yang jadi gantungan kuncinya.
Mata Mara tertuju kedepan, memperhatikan orang-orang menyeberang sampai disekelebatan mata ia menemukan sosok itu. Hati Mara seperti dicubit. Dia...? "ga mungkin..." gumamnya.
"Apa?" tanya Logan.
"Ha? engga..." ga mungkin orang itu ada di Singapura. Mara bahkan meninggalkan ibukota untuk melupakan dia.
"Mara," panggil Logan, "hijau."
~~
"Kenapa sih ga cari makan di yang deket-deket aja?" omel Mars.
"Ih mas Mars nih, Dempsey nih tempat makannya lucu-lucuuu..." ujar Ava. "eh ijo, ayo nyebrang!" Ava menarik Isabel yang tengah memandang berkeliling.
Mars mengekor dua bawahannya di tim yang ditugaskan ke Singapura itu menyebrang jalanan yang tak seberapa besar. matanya melihat kearah mobil-mobil yang berhenti mempersilahkan para pejalan kaki lewat, ia melihat sekilas sebuah mobil SUV eropa, didalamnya ada seorang perempuan yang membuat jantungnya hampir terhenti.
Mara??
Perempuan itu tengah menoleh melihat seorang anak laki-laki disebelahnya, wajah anak itu blasteran asia dan mungkin eropa atau amerika, dan nampaknya lebih tua dari empat tahun.
Ia menghela nafas sejenak, kalaupun itu Mara toh ga mungkin anak laki-laki itu adalah anaknya, kan anak mereka sudah Mara gugurkan? Mars mendengus kesal lalu mengembalikan pandangannya kedepan, melangkah cepat menyusul Ava dan Isabel.
Sebuah restoran peranakan dengan desain yang sangat instgramable menjadi pilihan dua perwakilan gen-Z yang duduk dihadapan Mars, dua perempuan itu sibuk memilih-milih makanan yang akan mereka pesan karena ternyata restoran di Dempsey selain bagus-bagus juga mahal-mahal.
"Pesen aja, nanti gue bayar." ujar Mars karena mereka cukup lama memilih dan Mars sudah lapar.
"Serius??" Isabel berbinar.
"Iya! cepetan, laper nih gue." Mars kemudian menyibukan diri melihat sekitar, pikirannya kembali ke orang yang ia lihat di penyebrangan tadi, ia tau hampir tidak mungkin sosok yang ia lihat adalah Mara, toh selama empat tahun ini sudah sering Mars kaget melihat orang yang punya perawakan mirip dengan Mara, tapi tak pernah pikiran itu tertinggal lama diotaknya.
Tapi kali ini berbeda, perempuan dalam mobil tadi membuat bulu kuduknya meremang.
Apa mungkin karena perempuan tadi sedang berinteraksi dengan seorang anak kecil?
Sebegitu inginnyakah Mars mendapati Mara masih mempertahankan anak mereka?
Kadang Mars membiarkan imajinasinya menjelajah, membayangkan opsi kedua yang tidak pernah terjadi. Opsi dimana Mara tidak pergi meninggalkannya, Opsi dimana mereka menikah dan memiliki anak itu bersama.
Kalau itu terjadi, kira-kira hari ini mereka sedang apa ya?
Mungkin Mars lulus dari kampus bisnis, mungkin ia tidak akan punya advertising agensi, mungkin ia akan bekerja kantoran. Mara juga pasti akan bekerja di BUMN, mungkin bank, atau perusahaan besar milik negara lainnya.
Dirinya dan Mara juga mungkin sekarang tengah sibuk mencari sekolah untuk anak mereka yang berusia empat tahun yang sudah waktunya masuk pre-kindergarten.
Bahagianya...
"Mas." panggil Ava.
Mars menoleh cepat, tersentak dari lamunannya. Ia pernah berjanji untuk hidup dimasa kini, bukan masa lalu. dan itulah yang harus ia lakukan. fokus pada masa kininya. "ya?"
"Besok ke kantor FF jam berapa?"
"Kita kesana pagi buat rapat sama bagian produk, tapi siangan CEO-nya mau ketemu bentar, pengen kenal katanya, soalnya ini pilot project dia bikin home product jadi dia excited. Tapi karena sibuk dia cuma ada waktu setelah makan siang."
"Lu udah liat belom profil CEO-nya?" tanya Ava ke Isabel.
"Belom, mana?"
"Wah bisa pingsan lo, soalnya CEO-nya kece badai..."
"...tornado, angin ribut memporak porandakan hati para gadis belia ya?" lanjut Isabel.
"Yoooii...hahahah..." Ava tertawa bersama Isabel.
Mars geleng-geleng atas kelakuan anak awal duapuluhan itu.
~~
Setelah pisah dari pacarnya yang dulu dan memenangkan hak asuh anak, Journey, bos Mara memang lama sendiri, tidak memedulikan hal lain selain Logan, anaknya. Tapi, seminggu yang lalu akhirnya Journey mengumumkan pertunangan dengan seorang mantan model cantik bernama Karina.
Siang itu Mara ada janji makan siang dengan tunangan CEO-nya yang sedang hamil muda. Mara melirik perut rata perempuan cantik bernama Karina itu. Namanya juga baru beberapa minggu, perutnya belum kelihatan. Batinnya sambil tak sadar mengusap perutnya sendiri. Didepannya Karina sedang mengeluh karena berita kehamilannya sangat heboh di media. Ia betul-betul ga menyangka soal popularitas tunangannya.
Mara tersenyum, Karina begitu polos dan cantik. Mara selalu khawatir soal perempuan seperti apa yang akan dekat dengan Journey. Journey telah begitu baik padanya, Journey sedikit banyak telah menyelamatkan hidup Mara dan Mara ingin Journey selalu dikelilingi orang-orang baik. dan sejak hari pertama Mara mengenal Karina saat perempuan itu menjadi personal stylist Journey untuk sebuah event, Mara sudah menyukai perempuan cantik ini. ia ga neko-neko, tidak juga memperlihatkan ketertarikan yang berlebih pada Journey. Ia apa adanya.
Tak lama Logan datang dan bergabung makan siang dengan mereka, tapi ponsel Mara berbunyi, menandakan ia harus kembali ke kantor.
"Ada meeting, gue harus nemenin bapak." Ujar Mara."Lo sama Logan dulu yah? jangan lupa Logan ada soccer."
Karina mengangguk dan melepas Mara kembali ke kantor.
Dijalan, dari kursi penumpang sebelah supir ia memandang kota Singapura yang cantik, kota besar yang sangat teratur, dengan segala fasilitas modernnya. Mara tak pernah menyangka ia akan tinggal disini, memiliki gaji yang besar, apartemen bagus, mengenakan baju-baju bagus, tidak lagi harus makan roti tawar tanpa selai setiap hari. Bahkan ia lulus dari salah satu kampus paling bergengsi di Asia dalam waktu singkat. Mara betul-betul menghidupi mimpinya. Lepas dari ketidakmampuan.
"Pak, mampir Bacha coffee yang deket Hemmingway ya, mau beliin tamu-tamu bapak kopi tapi bapak ga mau kalo saya cuma beliin Starbucks." Ujar Mara pada supirnya.
"Baik, bu Mara."
Mara setengah berlari menuju lift, ia langsung menuju lantai tempat rapat akan berlangsung, disana ia menemukan Ben, salah satu sekretaris Journey yang bertugas didalam kantor.
"Udah telat belom gue?" tanya Mara ke Ben.
"Belom, bapak lagi ngajak team itu ketemu bagian marketing sebelum ngobrolin konsep." Ben buru-buru mengekor Mara kesalah satu ruang meeting sambil membawa bercup-cup kopi dan makanan yang Mara beli di Hemmingway.
Mara langsung membagikan kopi-kopi itu didepan kursi-kursi kosong yang diasumsikan akan ditempati team dari Clique.
Tak lama kemudian Journey masuk bersama tiga orang lainnya, "so, yeah basically our home product is just a basic apparels and essentials." Ujar Journey sambil mempersilahkan team Clique masuk. Ia melihat kearah Mara, "oh, udah sampe, Mar? ini team Clique dari Jakarta." Ia menoleh kearah tiga orang tadi, "Ini sekretaris saya Mara, dia yang biasanya bantu saya urus segala macam."
Saat Journey sibuk memperkenalkan orang-orang itu, Mara terhenti, jantungnya pun melewati satu detakan karena ada satu sosok yang sangat ia kenal. Laki-laki yang kini menatapnya balik dengan tatapan yang sama terkejutnya itu dulu pernah jadi orang paling dekat dengannya, orang yang pernah Mara titipi hatinya tapi dihancurkan. Sosok egois yang melarikan diri disaat Mara sangat membutuhkannya, laki-laki bermulut manis yang kini sangat ia benci yang bahkan bayangannya pun Mara benci.
"Mara?" panggil Journey.
Mara tersentak dari lamunannya, "y-ya?"
"What's wrong?" tanya Journey, "kamu kenal sama team leadernya?"
"N-no..." jawabnya panik, matanya langsung meninggalkan sosok tersebut.
Wajah laki-laki itu terlihat kecewa saat Mara membantah, bertahun-tahun Mara menghilang dari hidupnya, tidak akan pernah ia punya secuilpun bayangan bahwa ia akan bertemu dengan sosok yang telah menjadi tumpuan patah hatinya, seorang perempuan egois yang tak hanya mematahkan hatinya namun menghancurkannya jadi serpihan terkecil yang ga akan pernah utuh lagi. Ia benci Mara, bahkan bayangannya pun ia benci.
Sekarang ia pura-pura tak mengenalnya. So, this is how you play? then game on. Batin Mars.
Kaget, sakit hati, kecewa, segala rasa yang tak hanya dirasakan salah satu dari mereka tapi keduanya. Merasa tak adil karena usaha menghilang dari jarak pandang satu sama lain selama ini hanya dianggap lelucon oleh semesta sampai lagi-lagi mereka ditempatkan diudara yang sama.
Perlahan Mars mengulurkan tangan, "nice to meet you, Mara. Saya Mars, Marshal Asoka."
End.
Ayang... makasih udah baca sampe selesai... walaupun peminat yg baca ternyata ga banyak, tapi semoga ceritanya sesuai ekspektasi ayang semuaa.. lavyu...
Ps. Yang mau baca lanjutan cerita Mars & Mara silahkan baca cerita berjudul METANOIA yang gue tulis yaa.. karena cerita ini hanya spin-off side couple disana.