"Tugas utama bagi seorang suami bukanlah sekedar memberi makan istrinya. Tugas utama seorang suami adalah mengajarkan istrinya shalat, mengenal Allah, dan menjaga istri dari api neraka."
–Muhammad Avan Ghazalah–
—Zaujati—
Agni terbangun dari tidurnya, gadis itu terus memegangi perutnya yang sangat sakit. Mungkin karena hari ini adalah haid pertamanya jadi ia merasakan rasa sakit di perutnya.
Jujur, Agni belum pernah merasakan sakit perut sampai seperti ini ketika haid. Gadis itu melirik Avan, tidak tega ia membangunkan suaminya. Avan baru tidur satu jam, mana mungkin Agni tega membangunkannya.
Agni berusaha turun dari kasurnya, berjalan dengan pelan menuju dapur. Memasak air di sana untuk mendapatkan air hangat untuk mengompres perutnya. Selama menunggu, Agni terus saja memegangi perutnya.
Agni terkejut ketika ada sebuah tangan melingkar di perutnya, ia menoleh dan mendapati Avan berada di belakangnya.
"Loh Van, kok bangun? Kan lo baru tidur sebentar."
Avan melirik panci berisi air yang sedang dididihkan. "Kamu ke kamar saja, nanti saya antar air hangatnya untuk di kompres di perutmu."
Kedua bola mata Agni terbelalak. "Kok lo bisa tau perut gue lagi sakit?"
"Saya suami kamu Agni, kita juga tidur bersama. Jadi saya sudah pasti tau kalau kamu kenapa-napa."
Baper? Tentu saja! Jika kalian di posisi Agni saat ini pasti kalian akan langsung jungkir balik. Avan selalu tau jika terjadi sesuatu pada Agni, apakah suaminya itu cenayang?
"Yaudah deh," ujar Agni menurut.
"Bisa sendiri?" Agni mengangguk.
Selang beberapa waktu setelah Agni menunggu Avan, lelaki itu datang dengan botol yang sudah diisi air hangat untuk mengompres perut Agni.
Agni sebenarnya ingin mengompres sendiri, namun Avan menolak. Agni akhirnya menurut, Avan dengan telaten mengompres perut Agni.
Agni bisa melihat wajah Avan dari dekat. Kulitnya yang putih, hidungnya yang tak terlalu mancung, matanya yang indah, ah! Agni rasa para gadis akan jatuh cinta hanya dengan menatap Avan. Kenapa Agni baru sadar jika suaminya ini tampan? Bahkan sangat tampan.
"Jangan lihatin saya terus, nanti suka," ujar Avan sambil terkekeh.
Agni berdecak, merasa malu karena terciduk menatap Avan. "Dih, gue gak bakalan ya suka sama lo!"
Avan menatap mata Agni lekat. "Yakin?" Meremehkan.
Glek.
Agni menelan ludahnya susah payah, ditatap seperti itu oleh Avan membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Van, lo bisa munduran dikit gak?"
Bukannya mundur, Avan malah semakin mendekat. "Kenapa? Kita kan sudah sah."
"AVAN!"
Avan terkekeh, lalu memundurkan badannya. Sementara Agni mengatur deru napasnya yang tak beraturan.
"Nyebelin banget sih," gerutu Agni.
Agni kembali menatap Avan ketika cowok itu sibuk mengompres perutnya lagi. Tanpa disadari lengkungan senyum terbit di bibirnya.
"Kok bisa ya gue nikah sama cowok sempurna kayak lo."
Ucapan Agni membuat Avan menoleh. "Kenapa tidak? Yang namanya jodoh mau kita pergi sejauh apapun, pasti akan kembali juga."
"Tapi lo itu husband able Van! Lo sadar gak sih? Lo itu udah ganteng, sholeh, selalu sabar hadapin sikap gue yang kekanak-kanakan, selalu kasih tau gue yang benar, membimbing gue. Lo gak capek ngajarin gue terus?"
"Itu memang sudah kewajiban saya sebagai seorang suami, untuk membimbing kamu ke jalan yang benar. Jadi kamu tidak perlu heran."
"Tugas utama bagi seorang suami bukanlah sekedar memberi makan istrinya. Tugas utama seorang suami adalah mengajarkan istrinya shalat, mengenal Allah, dan menjaga istri dari api neraka," lanjut Avan, membuat Agni sempat terpukau.
Agni menghela napas. "Bersama lo tuh hal terberat Van, gue harus menjadi sempurna biar bisa bersanding sama lo."
Avan menatap Agni lekat. "Kata siapa bersanding dengan saya harus sempurna? Kesempurnaan hanyalah milik Allah."
Avan memegang bahu Agni. "Manusia diciptakan bukan untuk sempurna tapi untuk berguna."
***
Cahaya matahari masuk melalui sela-sela jendela kamar Agni, gadis itu menggeliat karena merasa silau. Kedua mata Agni perlahan terbuka, menyadari matahari sudah terlihat membuat gadis itu cepat-cepat bangkit dari tidurnya dan masuk kamar mandi.
Avan baru saja selesai melakukan jogging pagi. Ketika memasuki kamar, lelaki itu terkejut ketika mendapati Agni sudah memakai mukena miliknya.
Avan mengerutkan kening. "Loh, kamu mau ngapain?"
"Sholat lah, lo gak lihat matahari udah kelihatan. Gue telat sholat subuh Van!" ujar Agni, panik.
"Sholat?" Avan menepuk dahinya, mungkin istrinya lupa jika saat ini ia sedang datang bulan. "Agni, kamu tidak usah sholat, kamu kan sedang-"
Agni melotot. "Gak usah lo bilang?! Katanya sholat itu adalah kewajiban bagi semua yang beragama Islam, dulu aja gue sholatnya bolong-bolong dimarahin. Lah sekarang gue udah mulai rajin malah gak boleh, lo maunya apa sih Van?" cerocos Agni.
Avan menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung bagaimana cara memberitahu Agni bahwa ia tidak boleh sholat dalam keadaan ini.
"Kamu lupa?"
"Kan gue udah bilang, gue lupa sholat subuh. Ih ganteng-ganteng budek."
"Bukan itu maksud saya."
"Terus apa? Udah deh lo cuma buang-buang waktu aja, gue mau sholat dulu nanti dulu ngobrolnya."
Avan menyentuh tangan Agni, membuat gadis itu melotot.
"AVAN! GUE UDAH WUDHU!" teriak Agni. "Kan jadi wudhu lagi."
Agni hendak mengambil wudhu lagi, namun dicegah oleh Avan.
"Apaan sih? Dari tadi mau sholat susah amat."
"Tidak usah wudhu lagi," ujar Avan.
"Kenapa? Sholat harus wudhu dulu kan? Tadi kan udah batal gara-gara lo sentuh."
"Memang benar sholat harus bersuci dengan cara wudhu. Tapi, bagi wanita yang sedang mengalami hadas besar dilarang sholat," jelas Avan.
"Hah gimana?" beo Agni.
Avan geleng-geleng kepala. "Kamu lupa jika sedang datang bulan?"
Agni menepuk dahinya, melirik Avan dengan cengirannya. "Gue lupa, hehe."
***
Agni melirik Avan yang kini tengah sibuk bersiap-siap akan berangkat ke kantor. Agni duduk di sebelah Avan, lelaki yang sedang memakai kaos kaki itu melirik Agni sekilas, bangkit dari duduknya dan mengambil dasi.
"Sebelum saya pergi ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya lelaki itu sembari memakai dasi.
"Uang lo kan banyak Van, kenapa lo gak deposit aja ke bank? Nanti pasti uang lo bakal lebih banyak," saran Agni dengan raut wajah gembira, menayangkan jika Avan benar-benar menjalankan saran darinya.
Avan berpikir sejenak, duduk di sebelah Agni, tersenyum pada istrinya.
"Bisa sih, tapi sebelumnya saya ingin bertanya." Raut wajah Agni seketika berubah menjadi serius. "Bukankah deposit sama saja dengan menggandakan uang?"
Dengan wajah polosnya Agni mengangguk, membuat Avan jadi gemas sendiri.
"Lalu bukankah itu sama saja riba? Apa kamu tau hukum riba?"
Kegembiraan Agni tiba-tiba menghilang, gadis itu melupakan bahwa Avan adalah lelaki muslim yang sangat taat pada peraturan Islam.
Dengan nada lesu Agni menjawab, "Haram."
Avan tersenyum pada Agni, mengusap pelan pipi istrinya. "Coba kamu pikir bagaimana efek jika kita makan dari hasil uang haram?"
"Gak berkah," balas Agni dengan nada kesal. "Tapi kan bisa deposit di bank syariah, Van."
"Tapi kan ada—"
"Gak ada bunga, Van. Adanya sistem bagi hasil. Jadi gak ada riba kan?" Menaik-turunkan alisnya, berusaha membuat Avan setuju.
Avan hanya bisa menghela napas panjang. "Terserah kamu saja."
***
Agni sore ini tengah bersiap untuk berjalan-jalan bersama Sabrina. Mumpung belum waktunya dunia perkuliahan masuk, lebih baik keduanya healing dulu.
Agni pergi tanpa sepengetahuan Avan, menurut gadis itu ia tak perlu memberitahu Avan karena pasti lelaki itu sedang sibuk bekerja.
"Ini beneran laki lo gak nyariin?" tanya Sabrina, agak resah. Bisa-bisa dia kena getahnya karena Agni tak mengabari suaminya jika pergi.
Agni bersikap santai. "Tenang, aman semuanya."
Sabrina hanya bisa geleng-geleng kepala. Keduanya berjalan di sekitaran mall di kota Jakarta pusat. Setelah lelah berjalan-jalan keduanya memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
"Agni, liat tuh banyak cogan," ujar Sabrina sambil melihat wajah beberapa lelaki tampan di sana.
Agni melirik satu persatu wajah lelaki yang dibilang cogan oleh Sabrina, namun entah mengapa tidak ada yang bisa membuat gadis itu tertarik.
Sabrina menyenggol Agni ketika melihat ada seorang cowok menghampiri keduanya. "Tuh ada cowok nyamperin," bisiknya tepat di telinga Agni.
"Permisi, bangkunya kosong gak?" tanya cowok itu, Agni melirik bangku kosong di sebelahnya lalu mengangguk.
Cowok itu duduk setelah mendapat persetujuan, lalu melirik Sabrina dan Agni secara bergantian.
"Gue Wildan, kalian?" ujarnya memperkenalkan diri.
"Sabrina."
Cowok bernama Wildan itu melirik Agni. "Kalau lo?"
"Agni," balasnya singkat.
Wildan mengangguk mengerti, lalu melirik Agni kembali. "Gue mau kenalan lebih dekat sama lo."
Agni mengerutkan kening. "Caranya?"
Wildan mengeluarkan ponselnya. "Bagi nomor lo."
"Buat?"
"Kita sleep call nanti malam." Mengedipkan satu matanya pada Agni.
Agni tersenyum paksa, lalu memperlihatkan jari manisnya yang terpasang cincin.
"Lo udah punya tunangan? Ah tunangan doang, bisa aja nanti putus, mending sama gue," ujar Wildan, pede.
Raut wajah Agni seketika berubah. "Gue udah punya suami bego."
Jleb.
Wildan langsung melirik kearah lain. "Kayaknya gue dipanggil temen gue, permisi."
Setelah kepergian Wildan, Sabrina dapat tertawa puas. Jika saja kalian melihat raut wajah Wildan saat ini, pasti kalian akan tertawa melihatnya.
"Langsung di ulti, mampus!" ujar Sabrina, tak henti-hentinya tertawa.
Sabrina lalu melirik Agni yang masih tampak kesal. "Ekhem, katanya gak bakal suka sama Avan, katanya kalian cuma dijodohin." Bernada mengejek.
"Gak suka belum tentu gue harus selingkuh, gue juga tau batasan kali."
Sabrina mengangguk setuju. "Iya deh, tinggal bilang mulai suka sama Avan aja susah amat."
"Gue gak suka sama dia, harus bilang berapa kali sih?"
"Buktiin!"
"Caranya?"
"Tutup mata lo, orang yang pertama kali muncul di bayangan lo, berarti lo suka sama dia."
Agni berdecih. "Dapet teori itu dari mana lo?"
"Udah deh lakuin aja susah amat."
Agni berdecak, lalu menurut untuk menutup matanya. Baru beberapa detik Agni kembali membuka matanya, ia melotot pada Sabrina.
"KOK ADA MUKA AVAN?!"
***
Wildan kena ulti ygy
Gausah spill Wildan kali ya? Ga penting kan?
Purbalingga, 7 Oktober 2022