Selepas kejadian itu, Mahesa mulai kembali mengintropeksi dirinya. Dan ini untuk ke sekian kalinya. Dia ingin menghapus rasa lain terhadap Anindita.
Dia tidak mau merusak semuanya. Takut membuat mereka berdua canggung.
"Mahesa, motor lo udah balik nggak?"
Mahesa berbalik. Ada Anindita yang menjaga warung Bu Laila. Ya, Mahesa datang untuk makan. Karena cuma warung itu yang cukup dekat.
"Motor udah balik."
"Wah, jadi bisa pakai lagi nih."
"Hm. Mau gue antar pulang lain kali?"
"Boleh aja sih, kalau nggak keberatan."
"Nggak bakal kok."
Anindita memberikan sepiring nasi kuning dan gorengan, sesuai pesanan Mahesa. Kebetulan lagi mau makan gorengan.
"Neng, bisa bantu Teteh nggak buat masak bakwannya?"
"Iya, Bu. Gue tinggal bentar ya."
Mahesa mengangguk. Dan Anindita ke dapur belakang untuk masak. Mahesa menghentikan makannya. Rasanya jadi tidak lapar.
"Oit, udah datang aja. Si Anin mana?"
Ratih datang dan duduk di kursi dekat Mahesa. Biasa, langganan kalau libur begini. Pagi-pagi buta sudah datang untuk makan.
Maklum, dua anak rantau.
"Tadi sih bantuin Bu Laila buat goreng bakwan. Mau makan juga?"
"Yoi. Lapar."
"Nih, makan aja."
Mahesa memberikan nasi kuningnya pada Ratih. Tapi Ratih menolak. Katanya sudah di makan Mahesa.
"Nggak, itu udah lo makan. Yakali gue makan bekas orang."
"Dih, songong amat."
"Kenapa? Nggak suka?"
Anindita muncul dari dapur. Tapi Mahesa dan Ratih sibuk beradu mulut, entah karena apa itu.
"Ratih."
"Eh, Anin! Mau pesan kayak biasa."
"Oke."
Anindita memberikan nasi kuning juga pada Ratih. Dan sudah kenal dengan pesanannya. Kalau makan nasi kuning kudu banyak tempe dan sambalnya.
"Udah kenyang, Mahesa?"
"Belum."
"Terus kenapa nggak di makan?"
"Makan gorengan dulu, hehe."
Ratih berdehem di dekat mereka. Kejadian uwu semacam ini dia pasti saksikan.
"Udah kayak istri nanya suami aja deh. So sweet."
"Ratih, jangan ngomong gitulah. Kan cuma teman."
Mendengar Mahesa bilang begitu, Anindita mengangguk. Ratih sedikit terkejut. Yakinkah mereka berteman?
"Masa sih? Lengket gini kok bisa nggak saling suka?"
"Ada deh."
"Yeu."
Ratih kembali melanjutkan makan. Kalau begini jadinya, sudah tidak ada harapan untuk Mahesa dekat lagi. Pdkt pun sudah susah.
Anindita itu menganggapnya teman, dan tidak ada rasa sama sekali untuk dia.
"Anin, lo suka sama siapa sekarang?"
Ratih melongo. Mahesa to the point sekali. Apa jangan-jangan mau jujur ke Anindita?
"Gue? Nggak ada sih. Sejauh ini nggak ada."
"Masa sih, Nin."
"Beneran, Ratih. Nggak percayaan amat deh lo."
Ratih mengangguk saja kalau begini. Anindita mau bilang siapa pun tidak akan mau. Mahesa tersenyum. Setidaknya dia bisa berhenti menyukai Anindita dengan tenang.
Karena Anindita murni mengatakan jika dia hanya menganggapnya teman. Dan bukan karena dia menyukai orang lain.
"Gue bungkus aja ya, Nin. Mau makan di rumah."
"Eh? Kenapa nggak makan di sini?"
"Tuh, yang samping gue. Mulutnya nggak bisa diam."
Ratih menatapnya sinis. Tapi dia tidak mau terlalu peduli dan lanjut makan. Ya, Anindita langsung membungkus nasi kuning dan gorengannya. Dan Mahesa pulang.
"Aneh, biasanya dia tinggal sampai habis. Tumbenan minta bungkus."
"Iya, kan. Aneh bener deh tuh anak."
"Lo sendiri, nggak mau bungkus?"
"Nggak lah. Ngusir gue ya lo?"
"Enggak, anjir."
"Huh, capeknya."
Anindita merebahkan badannya di kasur. Badannya pegal-pegal rasanya. Capek kerja.
Tapi bagusnya, dia dapat makanan lagi. Sayang kalau di tolak. Rezeki memang tak akan ke mana.
Tapi negatifnya, badan dia langsung sakit semua. Ya jelas itu karena angkat piring banyak, mondar-mandir sana sini.
"Lapar banget. Mau makan dulu terus belajar."
Baru mau melangkah ke dapur, teleponnya bunyi. Jadinya dia terima dulu telepon.
"Halo? Dengan siapa?"
"Mahesa."
Anindita langsung memperbaiki suaranya saat Mahesa menelepon. Jaga image soalnya.
"Ada apa?"
"Sorry ya, besok gue nggak bisa anterin lo ke sekolah."
"Kenapa?"
"Gue izin nggak ke sekolah dulu. Mau pergi."
"O-oh, begitu.."
Mahesa mulai bercerita kenapa dia harus pergi. Hanya urusan kecil. Dia izinnya hanya 3 hari. Anindita tidak mau terlalu kepo.
Itu urusan keluarga Mahesa, dia cukup tahu saja.
"Kalau gitu, lo hati-hati ya. Kalau berangkat sore, jangan lupa nyalain lampu motor. Di sini gelap."
"Iya-iya."
"Kalau hujan, langsung singgah dulu di rumah orang. Nggak baik jalan terus hujan."
"Iya."
"Jangan lupa pakai jaket, daerah sana kan dingin."
"Iya-iya. Peduli amat."
"Ya iyalah, kan teman."
Mahesa meringis dalam hati. Sakitnya terasa ya. Peduli karena teman, bukan karena perasaan lain.
"Tapi gapapa kan? Lo berangkatnya sama Setya aja. Nanti gue suruh dia jemput lo."
"Nggak usah. Gue jalan aja."
"Naik angkot. Jangan jalan kaki. Bisa-bisa telat lo yang ada."
"Yaudah gue naik angkot."
"Oke. Gue tutup ya."
Mahesa memutus sambungan telepon. Anindita sedih dan marah rasanya. Sedih karena Mahesa pergi dan marah karena Mahesa tidak bisa antar dia ke sekolah.
Ya, terserah kalau begitu. Dia bisa naik angkot, jalan kaki juga bisa. Tidak perlu Mahesa terus.
"Tapi tadi kenapa ya, gue peduli banget sama Mahesa?"
"Ah, kan teman. Peduli sama teman."
"Kan?"
"Gara-gara Ratih nih, gue jadi kepikiran mulu. Bikin bego aja."
Anindita lanjut ke dapur untuk makan. Tak lupa nanti dia mau shalat Isya.
"Mana ya koyo di laci. Abis sholat, badan pada ngilu."
"Masa gue umur 17 langsung encok kayak nenek-nenek sih."
Belum lagi, badan pegal dan seperti ada yang panas. Rasanya panas di dahi. Tau-taunya, malah demam.
"Sial betul deh. Malah jatuh sakit!"
"Ah! Yang bener aja!"
"Tapi gapapa, akhirnya bisa libur sehari."
Anindita menyalakan televisinya. Kalau sakit, enaknya menonton sampai mengantuk. Tak lupa minum obat Paracetamol.
Dan besoknya, bukannya sembuh, ternyata parah. Demamnya belum turun turun. Padahal sudah minum obat.
Sampai-sampai Bu Laila datang untuk merawatnya sebelum pergi ke warung.
"Neng Anin udah minum obat, kan?"
"Udah."
"Izin ke teman?"
"Udah."
"Ini, Teteh bawa obat lainnya. Nanti siang, Teteh ke sini lagi. Nanti di buatin bubur ya."
"Iya, Bu."
Tiba-tiba, ada suara motor dari luar. Saat Bu Laila lihat, itu Mahesa datang. Dia berangkat pagi.
"Lho, ini Mas Mahesa nya mau kemana?"
"Mau ke kampung dulu, Bu. Ada urusan keluarga."
"Berarti nggak sekolah?"
"Iya. Mendadak banget soalnya. Tapi omong-omong, Ibu kok di rumah Anin ya?"
"Nah eta, Neng Anin lagi demam. Semalam baru kena. Ini mau jengukin bentar, terus ke warung."
"Eh? Anin sakit?"
"Iya. Ayo jenguk dulu sebelum berangkat."
Mahesa masuk ke rumah. Dan di kamar, ada Anindita lagi mencoba tidur.
"Eh, Anin. Lo kenapa bisa sakit?"
"Nggak tau. Tiba-tiba demam."
"Yah, sayang amat. Nggak ke sekolah. Udah izin belom?"
"Udah."
"Makan sama minum obat?"
"Udah kok. Lo mau berangkat juga?"
"Iya. Tadinya mau pamitan, eh tau-taunya lo sakit. Tapi gapapa deh."
"Bawa oleh-oleh."
"Gue bukan tamasya. Tapi moga cepat sembuh ya. Gue berangkat dulu."
Anindita ingin mencegahnya tapi Mahesa sudah pergi. Bu Laila juga ikut pamit untuk ke warung.
Seketika Anindita teringat. Ada apa dengannya kini. Bahkan dalam hati dia berharap Mahesa tidak pergi.
"Gue kenapa sih.."