Happy reading
-------
Saat Haechan membawa Renjun pulang. Dan saat di perjalanan tadi Renjun masih banyak diam, mungkin dia merasa canggung.
Sekarang mereka berdua sudah berada di rumah.
"Ren. Lo udah mandi?"
"Udah, Miaw udah mandi tadi pagi bareng Nana." Jawab Renjun jujur.
"Jaemin sering mandiin lo?" Renjun mengangguk.
"Nana nyanyiin Renjun tidur, Nana temenin Renjun main, Nana masakin Renjun, Nana mandiin Renjun, temenin Renjun jalan-jalan. Dan Renjun senang, hehe." Renjun antusias banget waktu jelasin itu ke Haechan. Dia nggak sadar aja, gimana ekspresi Haechan. Rasanya sedih banget denger itu. Sekarang Haechan bukan jadi satu-satunya yang bikin Renjun seneng.
"Ren, maafin gue, ya. Gue salah sama lo, nggak seharusnya gue milih Karina di bandingkan milih lo." Ucap Haechan.
"Renjun udah maafin Echan kok." Renjun senyum, dia mendekat ke Haechan dan meluk cowok itu erat.
"Jangan marah Renjun lagi, Renjun takut."
"Iya, nggak bakalan marahin lo lagi. Gue janji."
"Janji, ya." Haechan mengangguk.
"Ren,"
"Ya— mmhh." Tiba-tiba Haechan mempertemukan bibir mereka. Dia melumat bibir pink itu dan menghisap nya.
"Mmhh ahh." Haechan semakin bernafsu saat mendengar desahan Renjun.
Renjun menepuk bahu Haechan karena ngerasa kalo dia kehabisan oksigen.
"Hah, hah, hah." Renjun meraup oksigen dengan rakus.
"Gimana rasanya?" Tanya Haechan.
"Nyam nyam nyam, rasanya... Enak! Miaw mau lagi."
Lah, kucing malah ketagihan
🐈🐈🐈
Sore menjelang malam. Haechan mengajak Renjun ke pembukaan pasar malam, dan tepatnya ini malam minggu jadi enak aja kalo jalan-jalan.
Haechan memakaikan Hoodie kebesaran buat Renjun biar ekornya nggak terlalu keliatan.
"Woah Echan!! Itu apa?" Renjun ngeliat di sana ada badut dan cepat-cepat dia bersembunyi di belakang Haechan.
"Itu namanya badut."
"Dia deket! ECHAN!!" Renjun panik saat badut itu mendekat. Dan orang-orang menahan tawa melihat Renjun.
"Badut nya nggak ngapa-ngapain, njun."
"Huweeee hiks, Miaw takut hiks huwee." Dan berakhir lah dengan Renjun yang nangis kaya anak kecil.
"Mas jangan gitu dong, adek nya abang itu jadi takut." Tegur salah satu pengunjung.
"Huwee, Renjun mau pulang hiks hiks."
"Jangan nangis, ya. Kita ke tempat lain." Haechan memilih buat nge gendong Renjun.
Haechan membawa Renjun ke tempat yang nggak ada badut.
"Udah, ya. Jangan nangis, badutnya udah nggak ada." Jujur aja, Haechan pengen ngakak ngeliat Renjun tadi. Cuma takut, tu kucing tambah nangis.
"Mau makan nggak?" Renjun mengangguk.
"Mau makan apa?" Sekarang mereka lagi duduk di kursi dan meja yang ada payung nya, dan di situ juga cuma khusus dua orang karena masing-masing cuma ada dua kursi.
"Mau makan itu." Renjun nunjuk di salah satu gerobak, itu adalah sosis.
"Mau berapa?"
"Mau lima, boleh?"
"Seratus pun boleh, bentar gue pergi beli. Lo tunggu disini jangan kemana-mana, nanti ada badut tadi."
"Huweeee hiks." Haechan yang mau berdiri langsung duduk lagi dan menenangkan Renjun.
"Becanda gue, tunggu di sini."
Renjun mengangguk. Tak lama kemudian Haechan datang dengan sepuluh sosis yang gede, dan satu mangkuk mie ayam.
"Nih."
"Itu apa?" Tanya Renjun.
"Ini mie ayam, lo mau?"
"Miaw mau rasa." Haechan belum mencampur sambelnya dan menyuapi Renjun.
"Enak nggak?"
"Lumayan." Kemudian Renjun fokus makan sosisnya dan sesekali memanyunkan bibirnya meminta Haechan buat ngelapin saos kecap di bibirnya.
To Be Continue - 18Juni2022
-Rista