Hadiah Istimewa Untuk Suamiku...

By AlRizkyPratama

115K 6.1K 95

VOTE DULU SETELAH BACA! FOLLOW JUGA! "Bangkai itu tidak bisa ditutupi, Mas!" Stefa Azika Isabella, pemilik To... More

Bab 1 - Kabar Dari Pak Andika
Bab 2 - Kepergian Elano
Bab 3 - Ulya Marsadi Utama
Bab 4 - Tiket Liburan Ke Yogyakarta
Bab 5 - Siapa Lagi Elano!
Bab 6 - Pubertas Kedua
Bab 7 - Mimpi Buruk dan Hadiah Terbaik
Bab 8 - Wawancara Karyawan
Bab 9 - Persiapan Pembukaan Cabang
Bab 10 - Toko 29
Bab 11 - Elano, Aku Pusing!
Bab 12 - UIOP Karaoke
Bab 13 - Pertikaian Pagi
Bab 14 - Efano Ngambek
Bab 15 - Lebih Cepat Lebih Baik
Bab 16 - Elano Sudah Gila?
Bab 17 - Jalan Emerald Nomor Tiga
Bab 18 - Teror Tomat dan Telur Busuk
Bab 19 - Elano Menjadi Tersangka
Bab 20 - Lelah
Bab 21 - Sidang Pertama
Bab 22 - Terbongkar
Bab 23 - Tidak Sengaja atau Sengaja?
Bab 24 - Bertemu Arlo Lagi
Bab 25 - Fano Penasaran (1)
Bab 26 - Fano Penasaran (2)
Bab 27 - Semakin Lekat
Bab 28 - Pengadilan Negeri (1)
Bab 29 - Pengadilan Negeri (2)
Bab 30 - Cinta Merubah Segalanya
Bab 31 - Cinta Sejati?
Bab 32 - Pertanyaan Fano (1)
Bab 34 - Masalah Baru
Bab 35 - Pertanyaan Fano (3)
Bab 36 - Hadiah Kecil dari Fano
Bab 37 - Pemimpin Keluarga Baru
Bab 38 - Mantan Suami dan Sang Pelakor
Bab 39 - Rencana Tuhan
Bab 40 - Penentuan Tanggal Pernikahan
Bab 41 - Terkejut
Bab 42 - Terjadi Lagi
Bab 43 - Persiapan Pernikahan (1)
Bab 44 - Jangan Mancing, Stefa!
Bab 45 - Menjelang Bakti Sosial
Bab 46 - Akhir Tahun Sendu (1)
Bab 47 - Akhir Tahun Sendu (2)
Bab 48 - Perdebatan dengan Arlo
Bab 49 - Aku, Kamu dan Sate Kelinci
Bab 50 - Bulan Madu?
Bab 51 - Ujian Menjelang Pernikahan
Bab 52 - Akhir Untuk Awal
Teruntuk Kamu
Visual Elano Kenzo Gautama Versi Penulis
Visual Efano Kenzo Gautama Versi Penulis
Visual Stefa Azika Isabella Versi Penulis
Visual Arlo Gunawan Putra Versi Penulis
Hadiah Istimewa Untuk Suamiku 2

Bab 33 - Pertanyaan Fano (2)

602 40 1
By AlRizkyPratama

Stefa: Hai, sudah tidur?

Pesan itu aku kirimkan ke Arlo, jam di dinding sudah menunjukan pukul dua pagi. Padahal, besok aku ada acara di kantor. Rapat bulanan dengan semua manager.

Ting! Suara gawaiku berbunyi. Satu pesan dari Arlo yang langsung merubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk.

Arlo: Aku sedang bekerja, Ste. Ada apa?

Aku melupakan sesuatu, bahwa Arlo bekerja malam hari. Segera kupastikan dia tidak sibuk---ingin sekali mengobrol dengannya malam ini.

Stefa: Apa kamu tidak sibuk? Aku ingin bicara, ini soal Fano.

Ternyata pesanku langsung dibaca oleh Arlo, tidak menunggu lama ada sebuah panggilan video masuk datangnya dari orang yang sama.

"Hai Ste, tumben belum tidur? Fano kenapa?" Arlo menampakan seluruh wajahnya. Dia sangat segar---walau sudah larut seperti ini.

"Aku kepikiran kata-kata Fano," ucapku sambil bangkit---menyalakan lampu kamar tidur.

"Emangnya Fano ngomong apa Ste?" Ada nada penasaran yang keluar dari mulut Arlo.

Aku mulai menceritakan sesuatu semenjak kedatanganku di Malang tadi hingga kejadian makan malam kemarin. Arlo kulihat sangat fokus mendengar, tanpa menyanggah atau memotong.

"Lalu Ste?" Pertanyaan Arlo saat aku berhenti cerita.

"Aku bercerita tentang ajakanmu menikah kepada Fano," tanpa sadar aku mendengkus.

Sampai pada akhirnya obrolan ini terus berlanjut hingga kuulangi perkataan Fano kemarin kepada Arlo. Kulihat di sana, Arlo terlonjak kaget.

Arlo diam beberapa saat, aku juga demikian. Dia tidak berbicara, tetapi pandangannya tetap ke arahku. Kemudian Arlo tiba-tiba tersenyum.

"Lalu? Kamu jawab apa Ste?"

"Aku masih belum menjawabnya, sepertinya aku butuh kamu."

"Kamu juga belum menjawab ajakanku itu, Ste."

"Tanpa aku jawab, kamu sudah tahu sendiri jawabannya Ar."

Tiba-tiba Arlo tersenyum lagi, menampilkan senyum manisnya. Aku hanya tersenyum perlahan terus mengangguk. Mau tahu respon Arlo? Dia kegirangan sampai loncat-loncat.

"Hei, malu dilihat orang di belakangmu." aku heboh sendiri di dalam kamar.

"Aku akan ke Malang, kebetulan besok libur kerja," Arlo kembali duduk di posisinya.

"Terima kasih, Ar." Aku tersenyum---sebelum panggilannya kuakhiri.

---

Aku benar-benar tidak tidur. Padahal azan subuh ini sudah akan berkumandang. Mataku benar-benar segar sekali.

Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku---berjalan menuju lemari, mengambil peralatan salat dan pergi ke masjid.

"Haus, minum kopi susu dulu kali ya," aku berjalan ke dapur. Di sana sudah ada Tejo.

"Jo, kok sudah bangun? Pagi sekali," aku menatap jam dinding baru pukul tiga lewat sepuluh menit.

"Tadi nemenin Mas Fano sejak semalam, katanya tidak bisa tidur," jawaban Tejo membuatku kaget bukan main.

Kenapa? Apa yang dipikirkan anakku sampai dia tidak bisa tidur? Apa pertanyaan-pertanyaan lain muncul? Atau juga ada bisikan-bisikan dari rekan sekolahnya?

Aku menggelengkan kepala berkali-kali, mencoba menghilang pikiran buruk kepada anakku.

"Sekarang dia di mana?" aku melihat Tejo yang sedang sibuk di dapur.

"Mas Fano sudah naik baru saja, sebelum Ibu turun." jawaban Tejo membuatku sedikit lega.

Aku mengangguk, kemudian berjalan menuju rak khusus kopi. Tidak isi kopinya bukan kopi-kopi mahal. Melainkan kopi yang biasa ada di warung.

Kutuang air yang ada di dispenser ke dalam gelas keramik berwarna hijau tua ini. Segera kuangkat menuju meja makan.

Pertanyaan Fano kemarin dan juga pernyataan Tejo baru saja semakin menganggu pikiranku. Aku ingin segera bertemu dengan Arlo. Supaya bisa menjelaskan berdua dengannya kepada Fano.

Tadi nemenin Mas Fano sejak semalam, katanya tidak bisa tidur.

Menikah? Kalau Ibu menikah dengan Pak Arlo. Dan punya keluarga lagi, Ibu akan meninggalkanku di sini?

Dua kalimat itu tiba-tiba berputar lagi dalam pikiranku. Ingin segera kuluruskan pekara ini kepada anakku.

"Ah, gak bawa handphone lagi," aku berniat menghubungi Arlo sekarang.

Dengan sedikit rasa malas, aku berjalan lagi menaiki anak tangga. Kopi yang baru saja kuseduh, kutinggalkan. Cuma-mengambil-gawai-saja.

Aku berhenti di depan kamar Fano, kamar itu tidak dikunci. Ada celah sedikit yang bisa orang lain mengintip.

Ternyata Fano sudah tidur, entah besok dia datang ke sekolah atau tidak? Aku sangat takut sekali dia datang terlambat. Kulanjutkan langkah menuju kamarku sendiri.

Gawai yang berada di atas nakas---berpindah ke tanganku. Ada pesan dari Arlo ternyata.

Arlo: Sayang, aku baru saja pulang. Ini menuju Malang. Menggunakan motor, tunggu aku ya.

Aku benar-benar sedikit aneh. Ketika Arlo sudah berani memanggilku 'sayang' tanpa malu-malu lagi. Setelah sekian lama, tidak mendengar perkataan itu keluar dari mulut sosok yang istimewa. Tetapi biarlah, mungkin belum terbiasa.

---

Pukul enam pagi, aku sudah selesai dengan aktifitasku di kamar mandi, saat ini membantu Tejo menyiapkan menu sarapan. Surti sedang berjalan-jalan di depan rumah. Pak Andika juga sudah datang.

"Selamat pagi, Bu," aku mendengar ucapan itu dari Fano pagi ini---membuatku sedikit menghangat.

Walau nada bicara Fano tidak seperti biasanya yang semangat dan selalu tersenyum ke aku.

"Pagi, Nak. Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" aku mencoba menghangatkan perasaan Fano. Kutoleh dia, ternyata sedang duduk di meja makan.

"Sedikit," jawabnya sambil menguap.

"Lain kali jangan begadang lagi ya, Fano," ucapku sambil membawa nasi goreng kesukaan Fano. Menaruhnya di meja makan.

"Saya panggil Surti sebentar ya, Bu." Tejo meminta izin kepadaku---menjemput istrinya.

"Iya."

Setelah semua menu terhidangkan, aku dan Fano serta Pak Andika mulai sarapan. Tejo dan Surti juga---dia kusuruh ikut sarapan bersama di meja makan.

Tetapi, aku tidak membahas sesuatu saat ini kepada Fano. Takut menganggu konsentrasinya saat berada di sekolah nanti. Gawaiku berbunyi lagi, pesan dari Arlo masuk.

Arlo: aku sudah sampai di Malang, setengah jam yang lalu. Ini mau istirahat di rumah. Kita bertemu nanti siang ya.

Segera kubalas pesan itu---sambil mengunyah nasi goreng yang masih ada di mulut.

Stefa: kita ketemu di kantor ya, see you Mas.

Aku lanjutkan proses sarapan pagi, Fano benar-benar tidak bercerita seperti biasanya saat sarapan.

Fano selalu saja bercerita tentang apa yang akan dilakukannya nanti di sekolah. Ternyata sifat keras kepala Elano---menurun ke Fano.

"Kalau kamu masih mengantuk, biar Ibu izinkan ke pihak sekolah ya." aku masih terus menatap Fano sebagai objek utama.

"Jangan, Bu. Aku gak mau ketinggalan pelajaran."

"Nak, begadang itu tidak baik bagi kesehatan sebenarnya. Terlebih lagi kamu juga masih dalam masa pertumbuhan.

Kalau Ibu tidak bertemu Mas Tejo tadi pagi, mungkin Ibu tidak tahu kalau kamu begadang. Kamu mikirin apa?" tanyaku sambil memegang tangan kiri Fano.

"Aku berpikir, kalau nanti aku punya Bapak baru.pasti punya Adik Tiri, lalu apa Ibu akan mulai berkurang rasa sayang kepadaku?" Fano menatapku dengan tatapan serius.

Pak Andika malah yang terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Arlo baru saja. Aku hanya bisa tersenyum lagi kepada Fano.

"Nanti sore, kamu akan tahu jawabannya. Paling penting, kamu sekarang sekolah yang rajin ya." Aku mengelus rambut Fano.

Bersambung...

HIUS sudah update ya, kisahnya semakin seru bukan?

Jangan lupa vote dan follow serta spam komentar ya. Karena itu gratis.

Terima kasih karena sudah membaca sampai bab ini.

Sayang kalian,
Al.

Continue Reading

You'll Also Like

3M 170K 93
Pertengkaran antara Melisa dengan ibu mertuanya tidak dapat dihindari. Ya, maklum, masih tinggal satu rumah sama mertua. Apa saja bisa menjadi bahan...
39.8K 1.2K 41
[SEBAGIAN PART PRIVATE FOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA!] "Saya terima nikahnya Aleta Putri Timofeva binti Ghani Timofeva dengan maskawin terse...
4M 269K 61
Menjadi istri kedua sekaligus ibu pengganti, itulah yang harus Yasmine lakukan setelah pernikahannya gagal. Yasmine pikir ditinggal sendirian di alta...
1.8M 68.2K 52
Ini tentang hidup seorang Renata Anindira Mahardika. Seorang istri yang mendapat kekangan dari suaminya, Aksa Wiliam Mahardika. Renata harus selalu s...
Wattpad App - Unlock exclusive features