CINTA TERLARANG

By asajannati8

66.5K 2K 92

Pernahkah kita mendengar kisah cinta luar biasa istri pada suaminya, kasih sayang ibu kepada anak angkatnya? ... More

Teganya Berzina di dalam Rumahku
Biar Kamu Mohon di Kakiku, Aku Tak Akan Kembali
Reo Jatuh Sakit (3)
Sang Mantan yang Bijak (4)
Dia Sudah Hamil, Aku Bisa Apa
Jadi Memang Sudah Direncanakan Reo!
Biarkan Aku Menata Kembali Semuanya
Amel Adalah Anugerah Untukku! (POV Reo)
Affair Reo Lainnya Terungkap
Ini Jalan yang Kupilih (POV Raya)
Kejujuran Yang Pahit Dari Reo
CINTA TERLARANG ANAK DAN SUAMIKU
Sepakat Menikahi Raya
Jangan Terpaksa Reo, Cintai Raya, Bab 11
Ternyata Raya Bukan Anak Yu Sopinah (Bab 12)
Brian Datang Ke Indonesia (13)
Kusaksikan Ijab Kabul Itu (14)
Tak Sengaja Bertemu Dia (15)
CINTA TERLARANG ANAK DAN SUAMIKU Bab 16
Dia Pertemukan Kita Tuk Saling Mengobati Luka (17)
Aku Bukan Kakak Madumu (18)
Permainan Kata Raya dan Reo (19)
Cinta Samar Brian Akankah Menjadi Terang?(20)
Apakah Luka Itu Bisa Sembuh Oleh Cinta?(21)
Selamat Amel (22)
Sujud Syukur (23)
Fadil Lelaki yang Tepat Untukmu, Mel (24)
Reo dan Brian Bertemu! (25)
Adam, dia mengutarakan isi hatinya padaku! (26)
Selamat Menanggung Akibatnya (27)
Ketuk Palu (28)
How About Dinner With Me?
Pendekatan ke Mama
Lagi, Raya Berzina di Depan Mataku

Raya Selingkuh dari Reo (31)

1K 49 0
By asajannati8

Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 31)

#Seputih_Cinta_Amelia


~Raya Selingkuh dari Reo ~


 “Iya, Ma. Sedari lulus kuliah S1, dia mengambil S2 di sana lalu bekerja. Dapat jodohnya juga orang blasteran setengah bule setengah kita. Sayangnya jodoh dia nggak lama ....” 


Aku berbicara seperti ikut membayangkan kembali kondisi Brian. Timbul rasa iba lagi padanya.


“Ya, kasihan sekali.”


 “Lalu apakah hubungan kalian serius?”


Aku mematung tak menjawab. Merasa ini bukan saat yang tepat untuk jujur. Karena Brian baru saja sekali mencoba mendekatkan diri pada Mama. Seandainya aku jujur, mungkin Mama akan mejadi antipati pada Brian jiak suatu saat bertemu kembali.


“Yah, namanya kami sudah tak lagi muda, Ma. Kami berkomunikasi baik layaknya sahabat.”


“Apakah menurutmu fadil tak lebih baik dari Brian, Mel?”


Hmm, mulai, nich.


“Fadil? Ya, baru saja bertemu satu kali. Nggak bisa bilang siapa yang lebih baik. Amel rasa semuanya baik. Tapi ini bukan masalah siapa yang lebih baik, kan, Ma. Tapi lebih ke siapa yang lebih klik sama Amel nantinya.”


“Ya, tapi kalau Mama bilang, Fadil itu sudah komposisi yang sempurna. Dia pasti akan  cocok denganmu. Dia kalem nggak neko-neko kayak Reo. Dia tidak perokok, dia hafal 15 juz Al –Quran. Nah sudah pasti dalam mengambil keputusan atau tindakan akan selalu berdasar Al-Quran. Orang yang dekat dengan Al-quran, insya Allah hatinya lembut.”


Aduh, kenapa Mama terlalu berharap aku dengan Fadil, sich. Fadil sendiri belum melakukan pendekatan apapun. Gimana aku bisa tahu soal Fadil, gimana bisa punya penilaian apalagi rasa yang lebih.


“Ya lihat saja kedepan, Ma. Sekarang Amel belum bisa menakar apapun soal Fadil.”

“Ya, gimana mau menakar, kamu sendiri menutup diri.”


“Maksudnya, Ma?”


“Ya, kamu sudah terlalu sibuk dengan Brian. Sampai-sampai sapaan fadil pun kamu abaikan.”


“Aduh, abaikan gimana, sich, Ma.” Aku makin nggak ngerti sama jalan pikiran Mama. 


Kenapa dengan Mama.  Ada apa pula dengan Fadil anak dari teman masa lalunya. Segitunya berharap aku harus jadi dengan Fadil.


Dan sapaan? Siapa yang menyapa.


“Coba kamu cek hape. Mungkin ada pesan yang kamu abaikan.”


“Ma, kenapa, sich, Mama terlalu ngotot mencarikan seseorang untuk Amel? Amel kan bukan anak kecil.”


“Karena pilihan kamu belum tentu benar, Mel. Kamu lihat Reo pilihanmu itu. Menyusahkanmu kan saat ini. Coba lihat keputusanmu merawat Raya, sekarang justru jadi bumerang untukmu, makanya Mama mencarikan seseorang untukmu. Agar kamu tidak salah menjalani hidup kedepan. Mama sangat sayang kamu, Mel.”


Hmm, Mama, kenapa seperti tak paham, bahwa dalam hidup seseorang apapun bisa terjadi. 


“Dulu sebelum kamu pada akhirnya menikah dengan Reo. Mama sebenernya sudah punya beberapa kandidat. Diantara mereka ada yang sudah kamu kenal dekat. Tapi kamu sudah terlanjur jatuh hati dengan Reo.”


“Yang lalu yasudahlah, Ma. Biar saja berlalu. Mama percaya kan ada yang namanya usia jodoh. Jodoh tapi hanya bilangan tahun. Menikah tapi setelah itu berpisah. Ya Amel dengan Reo sampai menikah, dipersatukan Allah dalam hubungan rumah tangga. Itu berarti jodoh, Ma. Tapi kemudian bercerai, ya mungkin hanya sampai situ jodohnya sama Reo. Intinya karena memang sudah tidak ditakdirkan Allah untuk sama-sama lagi. Percaya deh, Ma. Amel sudah melakukan yang terbaik.”


“Tapi Mama harap kamu jangan menutup diri dari pria lagin yang mencoba datang mengenalmu. Kamu Mama ajak ketemu Fadil aja, menolak terus.”


“Enggak, Ma. Sama sekali, enggak. Itu bukan menolak. Ya, mungkin semacam merasa, waktunya belum tepat saja. Udah, dech, Ma. Amel minta, Mama cukup mendoakan Amel saja. Soal siapa lelaki pilihan Amel nanti, lihat saja. Amel nggak akan buru-buru menentukan pilihan. Masih banyak waktu. Amel juga masih harus membereskan banyak pekerjaan. Akan butuh banyak pemikiran menuju ke sana. jodoh itu bukan soal dia bagaimana dengan latar belakangnya, tapi bagaimana pasangan bisa mengerti hati kita, Ma.”


Mama terdiam. Sepertinya Mama mulai memahami jalan pikiranku. Ya, kalau aku terlalu manut, nanti malah akan jadi dilema besar bagiku. Harus memilih orang-orang yang sudah terlalu dekat, itu akan menjadi pilihan yang lebih sulit.


Aku ijin membersihkan diri. Lalu mulai fokus beribadah, dizkir dan mengaji hingga adzan isya datang.


Usai shalat, kulipat mukena dan rebahan di atas kasur.


Membuka-buka pesan whatsapp yang masuk. 


[Assalamualaikum, Mel. Apa kabar, ini nomor Fadil. Aku ijin simpan nomor kamu, ya.]


Pesan sepuluh hari yang lalu. Ya Allah, aku ternyata mengabaikan pesannya di antara pesan-pesan lain yang belum terbaca.


[Mel, bolehkah aku bertandang ke rumahmu?]


Masih dari Fadil dengan jeda waktu satu minggu. Dan aku mengabaikannya juga.


Pantes kata Mama ada pesan dari Fadil yang aku tak respon, sehingga membuat Mama berpikir seolah aku menutup diri dari siapapun.


Baru saja hendak kubalas pesan itu, sebuah telepon masuk.


“Assalamualaikum, Mel, aku sudah sampai.”


“Waalaikumussalam.  Kasian kamu baru sampai, pasti macet. Ya?” 


“Yah, biasa. Terima kasih sudah membuat aku dan Mamamu saling mengenal. Aku semakin yakin dengan niatanku ke kamu.”

 Nada bicara Brian terdengar gembira.


“Semoga Mama semakin welcome sama kamu, ya. Tadi kelihatannya kalian enak ngobrolnya.” Aku mencoba membesarkan perasaan Brian.


“Alhamdulillah kalau menurut kamu aku berhasil membuat Mama welcome. Semoga.”


Brian, dia tidak tahu kalau setelah itu, Mama mulai menyebut-nyebut Fadil.


“Terus berusaha, ya.”


“Insyaa Allah. Demi niatan tulus, juga demi cinta,” jawabnya. 


Suara bariton penuh kharisma itu, lembut dan tulus. Ada getar terasa dalam lubuk hati mendnegar perkataan terkahirnya. 


Brian, sebegitu besar harapannya padaku. Semoga Mama terus terbuka hatinya untuk Brian.


“Terima kasih, Bri, atas usaha dan niatanmu.”


“Ya, Mel. Aku lanjut bebersih badan dulu, ya. Assalamualaikum.”


Kujawab salam masih dengan degup yang sama.  


Tak lama, terdengar ketukan dari pintu.


“Bu, diminta Mamanya turun. Ada tamu.”


Tamu? Perasaan aku tidak membuat janji dengan siapapun malam ini. Apakah mungkin tamunya Mama?


“Oke, Bik, bilang sebentar lagi saya turun.”


Kuambil jilbab baru dalam lemari. Segera turun kebawah. Belum setengahnya melewati tangga, aku mendengar  suara ramah Mama kepada seseorang.


“Oh, jadi tadi sempet nyasar, Nak Fadil? Kasihan ....”


Fadil? Jadi dia yang datang. Seketika aku tersadar, pantes Mama masak begitu banyak. Rupanya memang ada tamu spesial untuknya. Aku ragu untuk turun. Sampai kudengar Mama meminta Bik Darti memanggilku lagi.


“Ayo, Bik, panggil lagi Amel untuk turun, ya.”


Baiklah, aku turun.


“Nah ini Amel. Mel ada tamu, nich, Fadil. Kasihan dia tadi sempet nyasar dan sempet shalat maghrib di masjid Al-Fatah.”


“Oh, ada Fadil.”


Aku maju dan menyalaminya dengan kedua tangan tertangkup.


“Iya, Mel, jadi Fadil katanya ingin main ke rumahmu. Tapi pesannya nggak sampai ke kamu, makanya tadi dia menghubungi Mama. Mama pikir bukan hari ini datang. Tapi syukur ternyata datang, pas banget Mama masak banyak nggk sia-sia ini,” ucap Mama sumringah.


Ya, baiklah aku ikut permintaan Mama, untuk welcome dengan lelaki yang datang mendekat, pastinya lelaki yang dimaksud itu kan Fadil. Kami bertiga ngobrol beberapa saat. Lalu Mama mulai meninggalkanku berdua.


Lelaki di hadapanku ini terlihat rapi dan wangi. Pembicaraanpun mengalir bagai air. Sebagai lelaki yang sudah berpengalaman malang melintang di dunia bisnis. Tentu sudah tak canggung lagi baginya untuk sekedar ngobrol santai dengan seseorang. Aku lumayan enjoy dengan obrolan dan sedikit candaannya.


Pembicaraan sesi selanjutnya di meja makan, kami bertiga makan sambil sesekali diskusi mengenai apapun, cukup seru. Terlebih Mood Mama sedang baik. 


“Jadi, Mel. Fadil ini yang pegang saham di Rinegin dan Astrone, bareng Abang kamu berarti. Mama pikir Fadil masih terus di Pekanbaru, rupanya dia sudah sering stay di Jakarta, malah banyakan di Jakarta waktunya sekarang, ya, Nak Fadil?”


“Ya, begitulah, Tante.” 


Hmm, cowok soleh, ganteng, putih, penghafal Quran, pengusaha, masih bujang, apalagi, Ma? Fadil juga belum tentu mau sama aku. 


Jangan-jangan dia datang ke sini juga karena dipaksa Mama.


Aku terkekeh dalam hati.


Ada Telepon masuk dari seseorang yang kemarin kumintai tolong.


“Bu, jadi Mbak Raya tinggal bertiga di rumah itu dengan seorang lelaki bernama Tian dan bayinya. Laki-laki itu kira-kira sudah satu bulan tinggal di situ. Dan tidak ada orang dewasa lagi yang tinggal di situ.”


“Kamu bisa pastikan itu, Yon?”


“Bisa, Bu.”


Keterlaluan Raya. Beraninya berzina di dalam rumahku. Sebegitu liarnya ia. Jadi lelaki bertato itu bernama Tian, dan aku bisa memastikan Tian adalah salah satu kekasih masa lalunya.


Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus datang kesana dan membereskan semuanya!


To Be Continued.  


~Percaya bahwa setiap manusia bisa saja salah, tapi sebuah kesabaran hilang atas permakluman yang tak dihargai.~ (Amelia)

Continue Reading

You'll Also Like

189 20 16
Bagaimana.? Jika kamu tidak mencintai suami mu sendiri.? Akan tetapi kamu punya misi untuk meluluhkan suamimu.? Raganya milik istri nya, akan hati mi...
553K 1.1K 15
WARNING! CERITA KHUSUS DEWASA! 21+! SUPPORT PENULIS KLIK LINK DI PROFILE PENULIS
26K 345 24
Awalnya penuh cinta, rumah yang dibangun bersama. Tapi dalam sekejap, semuanya hancur-dikhianati, dihancurkan, dan dikurung dalam neraka yang berwuju...
Wattpad App - Unlock exclusive features