Author Pov
hari sudah menjelang sore, baik Jennie ataupun Lisa mereka berdua masih belum mandi sedari pagi. setelah sarapan Jennie, Lisa dan Bunda mengobrol ringan di ruang tamu sehingga menghabiskan waktu berjam-jam.
sekarang ini di kediaman Manoban itu hanya ada Jennie dan Lisa karena Bunda baru saja pamit untuk pergi ke arisan.
"uhh punggung gue remuk." Lisa melenguh.
"mau Kakak pijitin?" tanya Jennie.
Lisa menggeleng. "ga ah, malah patah nantinya." canda Lisa terkekeh pelan.
Jennie pun mengembungkan pipinya, bersedekap dada. "ga sopan ya! Kakak itu udah suhu masalah pijat memijat."
tetapi Lisa tetap menggeleng, menatap Jennie dengan tersenyum lembut, "Kak Jennie pasti cape juga, jadi gausah deh."
Jennie mengangguk-anggukan kepalanya lalu memilih diam. ia memutar otaknya untuk berpikir bagaimana caranya membuat Lisa jatuh cinta kepada dirinya.
"step one udah oke, sekarang gimana caranya bikin Lisa jadi lesbi?"
"ah tapi gimana kalo ternyata Lisa sebenarnya homophobic? aduhh cinta bertepuk sebelah tangan gue."
"eh ga ga, lo ga boleh pesimis Jennie Kim. siapa sih yang bisa nolak karisma lo? orang yang lagi baca ini aja kena pelet Jennie Kim." batin Jennie sombong.
Jennie tersenyum bahkan sampai terkekeh karena merasa lucu dengan pemikirannya sendiri.
"Kak? Kak Jennie? Kak Jen?" Lisa melambaikan tangannya di depan wajah Jennie yang masih tersenyum tidak jelas.
"NINI!"
"YES HONEY?!" balas Jennie cepat. tapi kemudian Jennie menutup mulutnya.
Lisa menaikkan satu alisnya, "honey? aww jadi malu~" goda Lisa tersenyum jahil.
"a—apa sih..." ucap Jennie dengan pipi yang mulai merona.
"kiw kiw honey nya Jennie nih bos."
"Lisa~"
"ahahaha~ iya iya berenti deh, tau kok yang lagi mikirin pacarnya, kangen ya hari ini ga ketemu?" tanya Lisa.
mendengar itu dengan cepat raut wajah Jennie berubah. tidak ada lagi rona merah ataupun senyuman dari bibirnya, malah sekarang gadis kucing itu membuang pandangannya.
"g—gue ada salah ngomong?" batin Lisa.
"bisa ga kalo kita lagi berdua gini jangan bahas orang lain?" ucap Jennie serius.
terdiam sebentar, Lisa akhirnya memilih mengangguk pelan walaupun ia merasa ambigu dengan kalimat Jennie barusan.
"oiya, Kak Jennie ga balik? udah sore loh ini." Lisa mengalihkan topik pembicaraan.
Jennie menggeleng. "engga, entaran aja deh udah nyaman disini."
"malem ini malming cuy, yakali ga jalan sama calon." lanjut Jennie dalam hati.
"yaudah deh kalo gitu gue mandi dulu ya, Kak. lumayan gerah nih."
Jennie tidak membalas apapun selain menganggukkan kepalanya. baru saja Lisa berdiri dari duduknya, tiba-tiba pinggangnya berbunyi.
Krek!
"AAAAKKKK PINGGANG GUEEEE!!"
"HUAAA BUNDAAA."
Lisa kembali terjatuh ke sofa dengan memegang pinggang nya. wajahnya memerah karena terus memekik kesakitan.
"LILI?! YA AMPUN KAN TADI NINI MAU PIJITIN KAMU NYA MALAH GAMAU." Jennie bergeser mendekati Lisa dengan panik.
Lisa tidak membalas ucapan Jennie, ia sekarang sedang tengkurap di atas sofa.
"HIKS~ J—JANGAN MARAHIN LILI HUAAA~"
Jennie menggeleng gemas, rasa paniknya entah kenapa malah berkurang melihat Lisa yang sudah menangis seperti anak kecil.
"aishh sini-sini, biar Nini pijit bentar."
Jennie lalu berdiri di samping Lisa dan dengan perlahan tangan nya mulai memijit pinggang gadis poni itu. isakan kecil dari mulut Lisa mulai berganti dengan suara lenguhan.
"ahh~ uhh ya, ya, ya disitu. ah!"
"ahh Kak Jen terus, iya itu shhhh."
"awwhhh kuatin lagi, Kak. emphh yahhh."
PLAK
"ADUH! KOK PANTAT GUE DITAMPAR SIH KAK?!" pekik Lisa.
"ya abisnya kamu desah-desah gitu ih!"
"gue tuh menikmati, Kak. harusnya Kak Jennie seneng dong."
"SENENG LI SENENG BANGET! TAPI NAFSU GUE KEPANCING PLIS! GA MUNGKIN KAN KITA BERSETUBUH, BERSENGGAMA, BERCINTA ATAU APALAH ITU DI SOFA INI?!" batin Jennie memekik.
Jennie berdehem untuk menetralkan nafsunya lalu melanjutkan aktivitas memijatnya. dan lagi-lagi mulut Lisa tidak bisa diam, terus mengeluarkan lenguhan yang membuat nafsu Jennie semakin menggebu-gebu.
mereka berdua tidak menyadari kalau sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatan mereka.
dengan langkah pelan, ia mendekati JenLisa.
"Lisa kenapa?" tubuh Jennie dan Lisa tersentak kaget, mereka menoleh dengan serempak ke sumber suara.
"loh Bang/Mino?" JenLisa.
"udah balik lo, Bang? kirain bakal pisah rumah selamanya." Lisa terkekeh pelan.
Mino mendengus, ia lalu menatap Jennie yang sekarang kembali fokus memijat pinggang Lisa.
"Lisa kenapa? abis jatoh?"
Lisa lalu menepuk lengan Jennie, menggoda agar gadis kucing itu yang menjawab. Jennie pun menghembuskan nafas sebentar lalu menatap Mino.
"encok dia, maklum remaja jompo." Lisa melototkan kedua matanya mendengar itu, ia pun berpindah posisi menjadi duduk bersandar, "enak aja ngatain gue jompo! au ah pundung!"
Lisa langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar. tapi sebelum itu ia menoleh ke Mino sekilas lalu memberikan wink ke abang kesayangannya itu.
Mino tersenyum.
"ahh bodoh banget lo, Mino! bisa-bisanya lo mikir Lisa selingkuhan Jennie sedangkan dia aja ngedukung hubungan lo dengan tulus." batin Mino.
melihat Jennie yang ingin menyusul Lisa, dengan cepat Mino menahan lengan Jennie dan menariknya untuk mendekat.
Jennie langsung melepas pegangan Mino dengan kasar lalu menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Babe—"
"don't call me babe." potong Jennie cepat.
Mino memghela nafas, ia menatap Jennie sendu.
"Jennie, aku minta maaf. a—aku kemarin terlalu emosi sampe akhirnya ngeluarin kata-kata yang ga harusnya aku ucapin. aku tau kamu ga akan maafin kesalahan aku, tapi please kasih aku kesempatan." ucap Mino sungguh-sungguh.
Jennie menatap Mino malas, saat ia ingin kembali berjalan menuju kamar Lisa, Jennie justru melihat Lisa yang sedang mengintip mereka dari celah pintu.
hal itu membuat Jennie mendesah frustasi dalam batinnya. niatnya ingin mengakhiri hubungan dengan Mino tetapi Jennie teringat dengan janjinya malam tadi.
"kalo gue putusin, Lisa bakal kecewa sama gue karena udah ingkar janji. tapi kalo ga gue putusin, kapan gue berlayar sama Lisa anjing??"
setelah berperang dengan batinnya beberapa detik, Jennie membalikkan badannya menghadap Mino. mendongak menatap laki-laki itu yang masih menatapnya dengan tatapan memohon.
"gue maafin, tapi untuk melanjutkan hubungan kasih gue waktu." ucap Jennie.
Mino tersenyum kecut tapi ia tak ingin terlihat sedih. Mino pun berusaha tersenyum manis lalu mengangguk.
"malem ini kita bisa jalan bareng? aku udah pesen tiket bioskop buat kita berdua."
Jennie memejamkan matanya sebentar. "Mino, gue udah bilang kalo kita—"
"aku tau, aku tau Jennie. ini cuman jalan-jalan biasa, aku janji habis kita nonton kita langsung pulang."
Jennie melirik ke pintu kamar Lisa, sang empu kamar masih mengintip mereka berdua dan dapat Jennie lihat Lisa mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengkode Jennie untuk menerima ajakan Mino.
berdecak sebal, Jennie tidak mempunyai pilihan lain lagi dan ia pun mengangguk menyetujui ajakan Mino.
"gue siap-siap dulu."
"Li, kita berangkat dulu ya. lo beneran gapapa sendirian di rumah?"
Jennie dan Mino sudah bersiap untuk pergi menonton bioskop malam ini. Lisa mengantarkan mereka hingga ke depan pintu rumah.
"gapapa, Bang. udah biasa jugaan." Lisa mengacungkan jempolnya.
Mino tersenyum, mengangguk. "kalo gitu gue pamit dulu ya, pintunya kunci aja abis ini."
"iya aman dah, tiati ya lo bedua. jangan kemaleman baliknya kesian Kak Jennie."
Mino mengangguk. ia menyalakan motornya tapi kemudian ia melihat Lisa yang berjalan mendekat.
"kenapa lagi, Li?" tanya Mino.
"hm? gue mau liat Kak Jennie, daritadi ga ada senyum-senyumnya tuh."
memang benar, sedari Jennie bersiap gadis itu sama sekali tidak tersenyum. berbicara dengan Lisa saja enggan, entahlah sepertinya gadis kucing itu sedang merajuk.
Lisa pun mendekat ke arah Jennie yang terlihat menghindari tatapan lembut Lisa. terus mendekat hingga mereka berhadapan karena Jennie duduk dengan posisi menyamping.
Lisa melirik Mino sebentar, setelah memastikan laki-laki itu tidak memperhatikan mereka dengan cepat Lisa memajukan wajahnya.
Cup!
Lisa mencium sudut bibir Jennie pelan. hal itu membuat Jennie tersentak juga membulatkan kedua bola matanya.
"senyum dong, Kak Jennie cemberut gitu bukannya serem malah lucu. nanti banyak yang naksir di jalan." bisik Lisa pelan.
Jennie tidak bisa berkata-kata selain raut wajahnya yang menjawab. kedua pipi Jennie memerah, Jennie juga terlihat berusaha menahan senyumnya membuat Lisa terkekeh melihat itu.
"udah ngobrol nya lo bedua? nanti telat nih nonton film nya." ucap Mino.
Lisa mengangguk lalu melangkah mundur. gadis poni itu melambaikan tangan nya dan motor Mino pun melaju meninggalkan halaman kediaman nya.
setelah memastikan motor Mino sudah jauh, Lisa pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. setelah itu ia berjalan menuju kamarnya. baru saja ia ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur tiba-tiba handphone nya berbunyi.
"ah taik! siapa dah nelpon gue?"
Lisa melihat layar handphone nya dan disana tertera nomer asing yang bahkan kontaknya tidak di save oleh Lisa. tanpa pikir panjang Lisa menerima panggilan itu.
"h—halo?"
"ya? siapa ya?"
"Lisa, gue Somi."
"ohh Somi, ada perlu apa?"
"hmm gue mau ngajakin lo jalan aja sih malem ini, siapa tau lo ga sibuk."
sudah 30 menit lamanya film diputar dan Jennie sekarang sudah mati kebosanan. ternyata Mino membeli tiket film dengan genre romance tetapi Jennie sama sekali tidak menikmatinya.
berbeda dengan Mino, laki-laki itu sangat fokus menonton. bukannya tidak sadar, Jennie justru sangat sadar bahwa Mino sedari tadi berusaha untuk menggenggam tangan nya tetapi Jennie tidak meladeni.
ia lebih memilih bersedekap dada sesekali juga menguap karena ia benar-benar bosan sekarang. tidak tahan berlama-lama Jennie meminta izin untuk ke toilet sebentar.
"Mino, gue mau ke toilet bentar."
"mau aku temenin?"
Jennie dengan cepat menggeleng. "ga, gausah." setelah itu ia langsung berdiri dan berjalan keluar dari bioskop.
Jennie mendesah lega setelah ia berhasil keluar. ia memilih duduk di kursi yang ada di dekat pintu studio dan menyandarkan tubuhnya.
"gila deh, ga tahan gue sama suasana nya."
"tuh cowo mau sat set sat set jatohnya malah maksa anjing."
"ahhh rencana jalan gue sama Lisa jadi ancur kan gara-gara dia dateng~"
"huh jadi kangen Lisa, telpon deh."
Jennie mengeluarkan handphone nya dari tas lalu mencari kontak Lisa. setelah menemukannya tanpa lama Jennie langsung memencet tombol memanggil.
baru saja ia ingin menempelkan handphone itu ke telinga nya, mata kucingnya membaca pemberitahuan yang membuat suasana hatinya langsung memburuk.
"berada di panggilan lain?! the hell dengan siapa dia telponan?!"
TBC
AGSKDHDJSHD STRESS GUE LAMA-LAMA MIKIRIN LAPTOP. NIATNYA PEN NYOBA PERBAIKIN SENDIRI MALAH GUE NYA IKUTAN RUSAK.
dahlah, mood author sedang tidak baik jadi maafkeun kalo part ini feel nya kurang huhu~
vote n komennya dipersilakan kak🙇♂️🙇♂️