Tenn, Momo, dan Mitsuki berlari ditengah kerumunan orang yang sedang menunggu kemacetan ini selesai. Tubuh mereka yang memang kecil dan langsing lihat menyelinap dan berbelok di antara mobil mobil yang sedang berhenti. Bunyi klakson pun menjadi latar adegan lari maraton dadakan itu. Malam yang semakin larut tidak menyurutkan semangat mereka untuk menembus semua kebisingan. Hanya satu niat mereka, menyelamatkan adik termanis mereka!
'lebih cepat! Aku harus lari lebih cepat!' ucap Tenn dalam hati tak menghiraukan peluh yang ada di dahinya atau pun baju konser yang sudah basah karena keringat. Persetan dengan semua! Bahkan jika tiba-tiba kakinya patah di tengah jalan karena berlari dia akan tetap berlari untuk menemui adiknya. Penjahat itu tak boleh melukai adiknya seincipun!
"Kita hampir sampai! Percepat!" perintah Momo mutlak.
Tak diperintah dua kali, mereka menambah kecepatan lari mereka ke tingkat max mencoba secepat mungkin. Menghilangkan akal logika mereka tentang "penjaga lain Riku".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di sisi lain, saat ini Bibi Tia sedang melangkah pelan menuju ke tuan "kesayangannya" menghiraukan Sakuma dan Sakura yang sudah bersiap siaga di dekat majikan merahnya.
"Berhenti di sana!" gertak Sakura. Namun gertakan itu tak berefek apa-apa. Malah itu seperti melempar minyak ke api. Langkah anggun itu berisikan bahaya nyata bagi mangsanya!
"Aku bilang berhenti!!" teriaknya lagi. Tapi lagi-lagi tak ada respon dari sang empu.
"Tia! Jangan main-main kau! Kau...bukankah kau sangat menyayangi Riku-sama! Tia! Ini bukan dirimu!" suster Sara juga ikut berteriak mencoba menghentikan apa yang ingin diperbuat ART muda itu.
Langkahnya terhenti. Dia dengan pelan menengok ke suster Sara, menimbulkan kesan horor dan teror. Dia tersenyum manis lalu berkata.
"Aku harus melakukannya. Aku..." ucapnya terjeda lalu menunduk.
"Tak ada pilihan lain," lanjutnya dengan suara amat lirih yang tak bisa di dengar oleh siapapun.
Tanpa di ketahui siapapun, Bibi Tia mengeluarkan pisau lipat dari balik baju maidnya. Membukanya perlahan dan...
Jlebb
Berlari ke suster Sara serta menusukkan pisau itu ke perutnya.
"Arghh!!" teriak suster Sara.
Suster Sara yang tidak waspada pun terjatuh terduduk dengan darah yang mengalir dari perutnya. Cepat! Bibi Tia terlalu cepat untuk menembus pertahanan yang sendari tadi ia bangun. Ia hanya sedikit lengah! Sekarang Suster Sara hanya bisa menahan sakit dan memegangi perutnya. Dokter Sora yang tepat di sebelahnya juga tak kalah terkejut. Tapi yang terpenting bukanlah rasa keterkejutannya tapi menghentikan pendarahanya! Dokter Sora yang cekatan lantas langsung memberikannya pertolongan pertama.
Sakura yang juga melihat kejadian itu spontan berteriak
"Suster Sara!!
"Apa yang kau lakukan pada-"
Brukk!!
Melihat kelengahan itu, Bibi Tia langsung menendang perut Sakura menyebabkannya merintih kesakitan.
"Sakura!!"
Sakura terjatuh karena tendangan yang lumayan kuat itu membuatnya bersitabrak dengan ubin itu lumayan keras. Yah cukup untuk merasakan ngilu.
Tapi...itu tak bertahan lama
Perlahan Sakura bangkit dari rasa kesakitan itu dan segera berdiri sejajar dengan sang adik lantas bersiap-siap menyerang.
"Kakak bodoh! Jangan lengah!" sarkas Sakuma.
"Tak kan terjadi lagi! Kita serang bersama?" pertanyaan retoris Sakura.
Sakuma yang terlanjur tak sabar langsung berlari ke Bibi Tia yang sepertinya sedang menyusun strategi menembus keamanan ini.
Merasa ditinggalkan, Sakura lantas berdecak.
"Dasar adik laknat!" umpatnya
Bibi Tia yang merasakan seseorang mendekat spontan memasang kuda kuda
Brukkk
Satu pukulan Sakuma layangkan tepat pada wajah cantiknya. Tapi, ternyata refleknya yang bagus langsung memblokir tendangan Sakuma dengan menyilangkan ke dua tangannya. Lengah, dari samping, Sakura langsung menghantam pinggangnya membuatnya terhuyung di sisi sebaliknya.
"Kau meninggalkanku!" amuk Sakura.
"Kau yang terlalu lama!"
"Cih, dasar saudara tak tau diri!"
Tap tap tap
Wusss
Bukkk!!
Bibi Tia kembali melancarkan serangan kembali. Kali ini targetnya adalah Sakuma.
Ia dengan cepat berlari lalu melompat dengan tinggi dan menukik tajam mengarahkan tendangannya ke Sakuma. Tak tinggal diam, Sakuma dengan cekatan menghindar dan balas menyerang. Sakura juga ikut membantu berusaha menangkap belut di dalam air ini. Adu pukulan dan tendangan tak terelakan. Jatuh dan bangkit lagi. Menghindar dan berbelit menjadi pemandangan umum sekarang. Sungguh pertarungan yang sengit.
Tanpa disangka-sangka, Bibi Tia yang "polos" itu memiliki teknik bela diri yang tidak bisa dihiraukan. Alhasil baik Sakura maupun Sakuma harus menggunakan energi penuh untuk melawannya. Namun, itu tak menyurutkan tekad mereka untuk menangkap musuh dalam selimut ini.
Brukk!!
Sekali lagi Sakuma terkena tendangan dari Bibi Tia dan jatuh terguling cukup jauh.
"Cih, sudah kubilang jangan lengah!"
Tanpa menghiraukan kakaknya yang pasti bisa bangkit sendiri, Sakuma terus melancarkan serangannya.
Hingga Sakuma berhasil menangkap salah satu tangannya dan menahannya.
"Sakura! Tangkap orang ini!" teriak Sakuma pada Sakura yang masih kesakitan. Ugh, dia ditendang di hulu hati mohon maaf. Dan itu adalah salah satu titik vital tersakit jika terkena pukulan. Namun mendengar perintah itu, ia seketika tersadar dan berlari ke Sakuma untuk membantunya. Sedangkan dokter Sora sendiri sudah selesai dengan pertolongan pertama pada suster Sara dan memilih diam mengamati pertarungan itu. Tentu dengan sikap waspada berjaga-jaga jika Bibi Tia tiba-tiba menyerang Riku-samanya.
Grepp!
"Mau kemana kau! Kau tak kan bisa lari!" kata Sakura geram sambil mencengkram salah satu tangan Bibi Tia yang lain.
"Heh! Kau pikir aku sebodoh itu dan senekad itu menyakiti Riku-sama saat terdapat bodyguardnya serta dokter dan suster yang setia mendampinginya. Aku sebenarnya cuma menguji kalian. Apakah aku bisa mengalahkan kalian hanya dengan pisau itu dan serangan-seran tadi atau tidak. Tapi ternyata kalian boleh juga ya," ucapnya mengelak memberi alasan. Sebenarnya dia nekad ingin melukai tuannya karena dia merasa mampu dengan bela dirinya. Tapi ternyata, dia masih harus banyak latihan. Oh iya, jangan lupakan perintah "mutlak" dari sang atasan yang membuatnya nekad menerobos penjagaan ini.
'sial!' umpatnya dalam hati.
"Berhentilah berbicara dasar pengkhianat! Cepat ikut kami ke gudang! Kami akan mengurungmu hingga Tenn-sama datang!" ucap Sakura. Tapi saat dia ingin digeret oleh Sakura dan Sakuma tiba-tiba...
Dengan cekatan ia mengambil masker yang cukup tebal lalu memakainya. Dan...
Bommm!!
Ia menjatuhkan bom asap yang berisi gas tidur itu ke lantai. Menyebabkan asap mengepul memenuhi ruangan.
"Apa ini?!" teriak Sakura.
"Ini gas-"
Brukk
"Dokter Sora!"
"Sakura tutup hi-"
Brukk
"Sakum-"
Brukk
"Jangan bilang ini-"
Brukk
"Penganggu sudah selesai dibersihkan," ucap Bibi Tia.
Sebenarnya gas tidur ini adalah senjata terakhirnya disaat ia terdesak. Dan sebenarnya dia juga tak ingin menggunakannya. Alasannya? Karena gas tidur ini memiliki efek yang kuat sehingga dia takut terkena dampaknya juga. Berterima kasihlah pada Kujou yang seenaknya memerintah, jadi dia tak sempat membeli respirator*. Dan bodohnya ia juga tak menyediakan itu sebelumnya. Tapi tunggu, jika dia membawa benda itu saat menjalankan misi bukannya akan merepotkan dan akan ketahuan niat terselubungnya? Dia juga tadi terlalu percaya diri dengan bela dirinya yang tidak seberapa. Sial! Kenapa dia bisa kalah dari bodyguard lemah macam Meraka? Arghh sudahlah, ini yang terbaik. Dia beruntung kali ini karena dia bisa mengalahkan para bodyguard karena mereka lengah. Tapi dia yakin, jika Sakura dan Sakuma sadar, dia dalam bahaya. Jadi, mari selesaikan dengan cepat.
Saat asap sudah mulai menghilang, perlahan ia mendekat ke arah Riku dan tersenyum dibalik maskernya.
Senyum yang memperlihatkan... kesedihan.
"Sayang sekali ya, tuan muda. Jujur, aku sudah menyanyangimu dan menganggapmu adikku. Tapi...kau harus mati!"
Dilihatlah wajah Riku yang dimana mulutnya terpasang ventilator (maaf kan author minna. Yang kemarin itu salah. Bukan masker oksigen tapi ventilator. Terima kasih untuk reader yang mau mengkritik dan mengingatkan😆)
Dieluslah perlahan pipi pucat itu. Dan tak berselang lama, tangan yang dulu sering memegang alat-alat kebersihan itu kini perlahan mengelus pipa ventilator dan berniat menariknya. Tapi sebelum itu...
Brraaaakkkkk
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali beberapa saat yang lalu
Tenn, Momo, dan Mitsuki kini telah sampai di kediaman Nanase. Dan sekarang dengan tidak sabarannya membuka pintu gerbang rumah Nanase itu.
Grekk
"Apa?!"
"Ada apa Tenn?" tanya Mitsuki.
"Terkunci!"
"Apa!!"
"Kenapa bisa?!!"
"Aku juga tak tau! Ini terkunci dari dalam!" Tenn yang panik terus menggedor-gedor pintu pagar itu. Tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Kazuto! Akai! Buka gerbangnya!!" teriak Tenn.
Hening
Tak ada jawaban satupun dari mereka. Tenn yang tidak sabaran terus memanggil mereka dengan dibantu Momo dan Mitsuki.
Tapi tak kunjung ada jawaban.
Geram, Tenn yang dari tadi memang sudah tak sabar, memilih menaiki pagar. Dan tentu saja itu mengundang teriakan kaget dari dua rekannya itu.
"Tenn! Apa yang kau lakukan! Turun!" teriak Mitsuki.
"Maaf tapi aku tak bisa menunggu lagi!" jawab Tenn.
"Dasar anak ini, dari tadi dia nekad terus," ucap Momo tersenyum aneh.
"Huh ayolah! Kau bisa memanjatkan Mitsuki?" tanya Momo.
"Bisa!" jawab cepat Mitsuki.
Dengan cekatan mereka pun memanjat pagar dan bisa sampai di sisi pagar lain dengan selamat.
Tenn yang merasa janggal dengan keadaan memilih mengecek sebentar pos penjaga yang biasanya terdapat Kazuto dan Akai di sana. Dan tada! Benar dugaannya mereka ada di sana, tapi kenapa mereka malah tertidur!
"Sial! Disaat seperti ini mereka malah tertidur!" geram Tenn.
"Sudah Tenn, kita urus ini nanti. Riku lebih penting!!" peringat Momo. Tenn mengangguk lalu berlari ke dalam.
Sesampainya di kamar Riku, Tenn tanpa basa-basi lagi mendobrak pintu. Dia tidak mau direpotkan mengecek pintu itu terkunci atau tidak.
Braakkk!!
Pintu terbuka menampilkan isi kamar Riku yang....apa ini!!
Jelas Tenn terkejut. Dihadapannya sudah tergeletak Sakura, Sakuma, dokter Sora, dan suster Sara yang tergeletak tak sadarkan diri. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah Bibi Tia! Di sana! Sedang melepas ventilator Riku dan berusaha memasukkan entah cairan apa!!
"Bibi Tia!!"
Sedangkan Bibi Tia yang mendengar dobrakan dan panggilan namanya tersentak dan reflek menoleh.
"Tenn...sama..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
*Respirator
Sumber: google
Aku tau adegan actionnya kurang
Hountou ni gomenasai minna😔🙏🏻