"Sama saya aja. Berdua," Mas David mengajukan diri.
Hening beberapa detik, karena anak-anak PPI terlalu kaget mendengar ucapan Mas David. Aga memecah suara pertama untuk menyoraki kami. Diikuti riuhan anak-anak PPI lain yang meledek kami.
Aku kesal sekali. Apa sih maksudnya Mas David? Sudah menolakku, membuatku jadi bahan bulanan anak-anak PPI pula. Aku nggak mau mereka berpikir kami ada sesuatu. Rasanya ingin membatalkan penawaran diriku. Tapi aku harus bertanggung jawab.
---
"Hei, hei, hei, don't get me wrong. Dilihat dari daftar belanja, pasti barang yang dibeli banyak dan berat banget. Lebih baik belanja pakai mobil saya. Toh bahannya juga pasti ditaruh di rumah saya."
Iya juga ya. Lily bodoh. Aku nggak kepikiran harus menaruh barang belanjaan di rumah Mas David. Tahu gitu aku nggak sok ide menawarkan diri.
"Yaudah sekalian lo pacaran ya Mas," tukas Prabu.
"Kak Prab, aku nggak pacaran sama Mas Dave," teriakku. Aku takut orang-orang salah paham.
"Santai dong neng Lily. Yaudah mau patungan berapa dulu nih? 10 € cukup nggak ya? Atau 15 aja dulu, sisanya masuk kas atau dibagi-bagi lagi."
"Nggak usah. It's on me. Saya yang bayar."
"Asik, dapet pajak jadian ya kita. Semoga samawa ya Mas Dave sama Lily."
Semua anak PPI ikut mengucapkan terima kasih.
"Bukan kok. Kalau pajak jadian nanti beda lagi."
Seluruh penghuni di rumah Prabu semakin semangat teriak menyoraki, berbanding terbalik dengan amarahku semakin meluap.
Mas David mengusap bahuku. "Hei, sorry, Lily. Just kidding ya guys."
Sejujurnya aku ingin sekali membatalkan pengajuanku untuk belanja bahan. Tapi atas dasar rasa tanggung jawab, terpaksa aku menjalaninya dengan setengah hati.
Setelah percakapan mengenai ATM Mas David yang gagal aku kembalikan, nggak ada lagi percakapan di antara kami. Setelah rapat selesai aku langsung pulang. Sengaja menghindari Mas David.
Aku sempat berharap semoga Mas David lupa dengan tugas belanja kami. Jadi biar aku dan Uwi saja yang belanja. Tapi tentu saja mustahil. Seorang Mas David nggak akan pernah lari dari tanggung jawab.
Sebelum tidur, aku melakukan ritual kegalauanku. Mendengarkan lagu sambil menonton video liburanku dan Mas David kemarin. Ah, perasaan rindu kembali menyusup. Pas sekali, aku menerima chat dari Mas David.
Seperti biasa, Mas David si pengambil keputusan tanpa diskusi. Dia hanya memberitahu besok akan menjemputku pukul satu siang. Dia bahkan nggak bertanya pendapatku. Ya sudah lah nggak perlu aku balas. Hanya FYI (For Your Information) saja kan?
Keesokan paginya, Mas David mengirim chat padaku lagi. Hanya untuk reminder yang nggak perlu aku balas.
Entah mengapa aku bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Sehingga aku memulai hari dengan penuh semangat. Dari mulai jogging, mencuci baju, mengeringkan lalu melipatnya. Tak lupa memasak makanan lalu mencuci piring. Bahkan aku mengelap ulang piring di dalam rak.
Waktu menunjukkan pukul setengah 11 ketika aku akan mandi. Aku mengecek ponsel, rupanya Mas David mengirim pesan padaku lagi. Kali ini bertanya apakah aku bisa berangkat jam 1. Walaupun pertanyaannya sudah basi, tapi aku menghargainya. Jadi aku balas saja.
"Senyum-senyum sendiri. Hati-hati kesambet lo beb."
Aku melebarkan mata sambil memegang kedua pipiku. Memastikan kebenaran ucapan Uwi. "Oya? Engga ah. Halu lo Wiii."
"Daritadi pagi ya muka lo cerah. Nyuci piring aja sambil senyum-senyum. Mentang-mentang mau jalan berdua."
Aku langsung masuk ke kamar mandi, nggak menanggapi ucapan Uwi. Lalu terkejut mendapati wajahku yang bersemu merah di depan kaca westafel.
Aku sengaja berlama-lama di kamar mandi. Memakai masker rambut, masker wajah, hingga luluran. Berakhir dengan berendam di bathub minimalis sepanjang 1,2 meter. Selesai mandi, aku sibuk memoles wajah dengan makeup.
"Deuh wangi amat yang mau pacaran. Niat banget lipstikan segala, biasanya juga pake liptint doang."
Aku sedang serius memoles lipstik, memastikan nggak ada lipstik yang keluar dari garis bibir.
"Masa sih? Perasaan lo doang kali beb. Inget ya, gue nggak pacaran, cuma belanja bareng. Nggak usah menyebar fitnah."
"Iya, mau belanja doang niat banget sampe mandi kembang tujuh rupa. Dandan sama mandi doang satu setengah jam nggak kelar-kelar."
Aku tertegun. Masa sih? Memangnya aku seniat itu ya? Aku juga nggak tahu mengapa rasanya terlalu bersemangat sejak pagi.
"Kata lo Mas David mau jemput jam 1? Ini kan masih jam 12.15."
Aku mematut diri di depan cermin. Memastikan eyeliner dan alisku balance antara kanan dan kiri.
"Biar santai. Kalo siap-siapnya buru-buru malah keringetan. Eh Beb, lebay nggak sih dandanan gue?"
Aku jadi mematut diri berkali-kali di depan cermin. Ngapain ya aku seniat ini? Padahal mau belanja ke supermarket doang.
"Kalo mau ngedate sama gebetan emang harus extra Beb. Siapa tau Mas David jadi khilaf. Tapi awas aja ya balik dari supermarket lo nangis-nangis lagi. Kita sita aja kartu ATM dia, jangan dibalikin, kuras dulu isinya!"
Bahuku menurun lemah. Kembali dipukul telak oleh kenyataan bahwa Mas David sudah punya calon istri, ngapain aku seniat ini, dia juga nggak akan peduli.
Aku bersiap menghapus lipstikku ketika terdengar suara ketukan pintu. Uwi berjalan menuju pintu untuk membukanya. Betapa terkejutnya aku kala mendengar suara Mas David. Aku segera menghampiri pintu masuk.
"Hai, Uwi. Saya pinjam Lilynya dulu ya. Ini ada pizza buat kamu, untuk teman nonton drama korea. Semoga suka ya," ucap Mas David dengan senyum yang sangat cerah.
"Aaaaak Mas David baik banget siih," Uwi berseru senang. "Nggakpapa Mas, ambil aja Lilynya, nggak dibalikin juga nggakpapa."
Dia mengambil alih pizza dari tangan Mas David, lalu mengacir ke meja belajar di pojok rumah. Melanjutkan kegiatan menontonnya.
Memang dasar murah sekali sahabatku ini. Disogok pakai pizza langsung pindah komplotan.
"Hai, Lily. Kamu udah siap?" Mas David mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Katanya jam 1?" tanyaku kaget.
"Iya ternyata hari ini bisa lebih cepat selesainya."
Aku baru memperhatikan kantung mata Mas David yang menghitam dan membesar. Dia terlihat lelah. Secara refleks aku bertanya, "Udah makan siang?"
"Belum."
"Mau makan dulu? Suka nasi ayam hainan nggak?"
"Iya, saya suka."
"Yaudah. Masuk, Mas. Makan siang di rumahku dulu." Aku melebarkan pintu, mempersilahkan masuk.
"Thank you Lily." Kedua sudut bibirnya melengkungkan senyuman yang semakin lebar.
---
Sejak keluar dari rumahku hingga satu jam mengitari supermarket, aku dan Mas David belum membuka suara. Kami menjalani kebersamaan dalam diam. Seperti biasa, jurus ampuhku adalah pura-pura tidur di dalam mobil. Lalu di dalam supermarket sibuk menaruh barang ke dalam trolly sesuai dengan list yang dikirim Feby.
Tapi aku nggak tahan untuk nggak mengomentari Mas David saat dia memasukkan es krim dalam jumlah yang sangat banyak ke dalam trolly.
"Kamu mau jualan es krim atau emang nyetok segitu banyaknya Mas?" tanyaku penasaran.
"Buat anak-anak besok. Kalo yang sebucket es krim oreo sama sebucket Haagen Dazs ini untuk kamu."
"Emangnya aku mau?"
"Memangnya kamu mau menolak eskrim?"
"Emangnya aku suka es krim oreo sama Häagen-Dazs?"
"Memangnya ada es krim yang nggak kamu suka?"
Aku menghela napas. Lelah juga saling melempar pertanyaan. Akhirnya aku mengalah. "Makasih banyak, Mas. Tapi boleh kan lain kali kamu tanya aku dulu?"
"Kamu biasanya menolak kalau saya tawarkan. Apalagi kamu masih marah sama saya."
"Aku nggak marah."
"I haven't seen your smile. It means you're still angry."
Aku nggak menanggapi, hanya berusaha melengkungkan senyuman. "Es krimnya nggak mencair? Kan kita harus ke toko Asia sama toko daging dulu."
"I brought cooler bag with two packs of ice gel, Ly." Ah, bagaimana aku bisa lupa kalau lelaki di sebelahku ini adalah orang yang penuh persiapan.
Saat baru menduduki kursi mobil, Mas David menyodorkan satu bungkus es krim cone padaku.
"Buat kamu."
"Simpen aja dulu, Mas. Nanti mobil kamu kotor."
"It's okay. Kalau kotor bisa dibersihkan."
Mas David membiarkanku makan es krim dalam diam. "Es krim kamu mana Mas?"
"Semua es krim sudah saya masukkan ke dalam cooler bag."
Kembimbangan menyergapku. Rasanya aneh menikmati es krim pemberian orang lain tapi orang tersebut nggak ikut menikmatinya. "Mau sharing? Aku baru gigit yang sebelah kiri."
"Boleh?"
Anggukan dariku membuat Mas David memajukan tubuhnya untuk menggigit es krim yang kupegang. Hal sesederhana ini saja membuatku jantungku bertalu hebat.
"Thank you, Lily."
Mas David membuka dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh euro. "Sorry saya lupa. Kemarin sore Teh Kikan transfer uang ke saya. Teteh titip untuk kamu."
"Engga Mas. Itu untuk bayar utang. Maaf Teteh baru sempet kirim kemarin."
"Ini kelebihannya." Mas David tetap mengulurkan uang padaku.
"Buat kamu aja, Mas." Aku memang meminta Teh Kikan transfer lebih banyak karena aku merasa Mas David sudah membantuku banyak sekali.
Mas David menggelengkan kepalanya. "Ini amanah Teteh."
"Yaudah titip dulu di kamu. Kartu ATM kamu juga ada di aku. Maaf aku lupa bawa. Aku belum sempet beli dompet jadi kartu masih berceceran."
"Kalau kamu nggak terima uang ini, saya juga nggak akan terima kartu ATM saya."
"Yaudah Mas. Pake aja untuk patungan makanan besok."
"Saya udah janji saya yang bayar semua."
"Yaudah aku ambil uangnya nanti pas aku kasih kartu ATM kamu."
Akhirnya perdebatan selesai. Mobilpun langsung melaju menuju toko selanjutnya. Kami mampir ke toko Asia untuk membeli herbs dan condiments yang nggak tersedia di supermarket, seperti rempah-rempah dan berbagai macam saus kecap.
Sebetulnya toko Asia memang surga bagiku. Frozen food khas Asianya lengkap seperti bakpao dan dumpling. Berbagai macam bihun dan mie tak kalah lengkapnya, mulai dari berbagai merk mie instan termasuk indomie, juga udon, misoa, kwetiau, ramyun, jajangmyeon hingga ramen instan. Semua ada. Tapi karena nggak membawa tas belanja, aku jadi ragu untuk membelinya.
"Indomie kamu masih banyak?"
"Sisa dua, Mas." Berkat menggalaukan orang di sebelahku, malam-malamku dihabiskan dengan menangis sambil makan indomie rebus pakai cabe, telur, tomat, dan saus sambal.
"Mau berapa? Ambil aja."
"Aku pinjem tas belanja kamu aja."
"Sisa satu tasnya. Nggakpapa digabung aja. Kamu mau berapa?"
"Sepuluh deh. Tapi aku mau ramen, udon, jajangmyeon, sama ramyun juga. Nanti aku ganti, Mas."
"Yang ini udah coba? Pedas banget. Kamu pasti suka." Mas David menunjuk ke salah satu ramen berbungkus merah hati, bergambar api dan cabai merah.
"Belum, Mas. Boleh deh. Yang enak yang mana lagi ya?"
Mas David menunjukkan jenis mie yang belum aku coba. Lalu berakhir dengan dia yang menjelaskan mengenai macam-macam mie dan bihun.
Suasana menjadi hening saat kami memasuki mobil. Untung jarak antara toko Asia dengan toko daging halal cukup dekat. Jadi kami berdua nggak lama tenggelam dalam keheningan.
Aku dan Mas David berjalan beriringan menuju toko. Dia maju duluan lalu membukakan pintu untukku. Bau daging segar menggelitik indra penciuman. Sejak hidup mandiri di Munich, mengunjungi supermarket dan toko daging menjadi kegemaranku.
Mas David mengambil nomor antrian. Kami berdua kompak menelusuri etalase dari ujung ke ujung. Melihat berbagai macam harga daging terkini.
"Ada stok daging sapi atau ayam di rumah?"
"Masih ada, Mas. Beberapa hari lalu baru beli sama Uwi."
"Mau beli lagi nggak?"
"Engga ah. Sayang uangnya. Nanti aja nunggu habis."
Mas David membuka mulut, ingin bersuara, namun dia urungkan.
Tak lama nomor kami dipanggil, Mas David memesan sejumlah daging sesuai dengan list pesanan. Tentu saja dia lebihkan.
"Saya antar ke rumah kamu lagi ya?" Mas David bertanya padaku. Tumben, biasanya langsung tancap gas.
Tadinya aku mau minta diantar sampai stasiun saja. Tapi mengingat sejumlah belanjaan kami yang memenuhi bagasi, aku yakin Mas David harus beberapa kali balikan dari parkiran menuju kamarnya. Walau ada lift, tetap saja merepotkan.
Karena aku nggak tega, akhirnya aku menjawab, "Ke rumah kamu aja dulu nurunin belanjaan."
Mas David tertegun, seperti nggak percaya dengan jawabanku. Dia berdeham, "Ehm. Okay."
Aku kira, Mas David tetap bungkam. Saat mobil terhenti karena lampu merah, dia menoleh padaku. "Lily, saya minta maaf."
Aku bingung sendiri. "Hah? Minta maaf kenapa Mas? Besok kan Idul Adha bukan Idul Fitri."
"I'm sorry for what I did four weeks ago. I was rude. Really." Wajahnya sungguh terlihat menyesal.
Kami kaget karena diklakson oleh mobil di belakang. Ternyata lampu merah sudah berubah hijau.
"Don't apologize Mas. You did nothing wrong."
Aku kembali berbicara, mencegah Mas David yang akan bersuara. "Boleh nggak Mas kita nggak usah bahas masalah itu?" Aku nggak mau suasana di dalam mobil menjadi tegang.
"Okay, Lily."
---
"Ini daging-dagingan aku taroh mana Mas? Chiller atau freezer?" Aku membawa bungkusan daging bersiap memasukkannya ke kulkas.
"Jangan, Ly. Mau saya cuci dulu. Sekalian dimarinasi."
"Semuanya mau kamu cuci?" Kedua alisku terangkat.
"Iya. Kecuali daging sapi. Tolong masukkan daging sapi aja ke chiller." Mas David masih sibuk mengeluarkan hasil belanjaan di supermarket. Sedangkan aku mengeluarkan barang-barang dari kantong belanjaan toko Asia dan toko daging.
"Cabe-cabe bawangnya mau ditaroh mana?"
"Di meja bar aja. Mau dikupas-kupasin dulu supaya besok nggak memakan waktu lama."
"Jadi kamu mau food preparation dulu malam ini?"
Dia mengangguk. "Sekalian mau buat lontong dan opor ayam. Supaya besok pagi anak-anak bisa langsung sarapan sebelum masak-masak."
Tentu saja aku nggak kaget. Mas David memang selalu visioner hingga detail terkecil dalam hidupnya.
Walau dia nggak meminta bantuan, tapi rasanya nggak mungkin aku membiarkan Mas David mengerjakan sendiri. Apalagi aku tahu dia sibuk, sedangkan aku masih berleha-leha karena belum disibukkan kegiatan kuliah.
Tanpa banyak bicara aku membuka plastik yang membalut ayam potong, berniat mencucinya.
"Ada food container nggak Mas? Atau baskom mungkin."
"Untuk apa? Ada di dalam kabinet, tepat di atas kepala kamu."
"Mau bantu kamu nyuci ayam."
Mas David tertegun beberapa detik, lalu senyumannya terbit. Seketika aku berbalik, takut hatiku terkena dampaknya.
"Thank you Lily. Anggap saja rumah sendiri ya. Mau pakai apron?"
"Nggak usah, Mas."
Mas David menghampiriku. "Sebentar saya tunjukkan ke kamu. Kabinet atas ini isinya food container, baskom-baskoman juga ada. Kalau pisau, sendok, garpu ada di laci. Talenan di pojok situ. Kamu bisa pakai talenannya sesuai gambar bahan yang tertera, khusus untuk buah sayur, daging mentah, ikan mentah, dan daging matang." Mas David menjelaskan seolah aku pekerja baru di rumahnya.
"Saya tinggal dulu ya Ly. Mau ganti pakaian sebentar."
Aku menghembuskan napas perlahan. Iya, sejak tadi aku memang menahan napas kala Mas David berdiri di belakangku.
Aku mencuci ayam dengan semangat 45. Entahlah, mencuci piring dan bahan makanan telah menjadi momen me time favoritku. Bisa bermain dengan air hangat, tanganku terus bergerak, hanya berkonsentrasi pada ayam yang kucuci. Hidup dan pikiranku seakan tercurah hanya pada kotoran ayam dan beberapa bulu yang masih menempel. Masalah hidup dapat terlupakan sejenak.
"Cepat banget nyucinya. Ini udah semua?"
Aku terlonjak kaget. "Iya, Mas. Ada yang mau dimarinasi nggak?"
"Saya mau marinasi ayam filet untuk bumbu sate."
"Oke. Aku potong kotak-kotak kecil dulu ya. Tusukan satenya ada?"
"Ada. Saya punya stoknya banyak. Saya ulek bumbunya dulu ya."
Kami seperti dua anak sekolah yang bekerja kelompok untuk praktikum memasak. Begitu kompak tanpa banyak bicara.
Saat ini aku dan Mas David tengah fokus menusukkan potongan dada ayam ke dalam tusukan sate. "Hati-hati ya Ly."
"Iya, Mas."
"Terima kasih ya Ly."
Aku tersenyum geli. "Kamu ngomong makasih berkali-kali lama-lama dapet piring cantik, Mas."
"Apa ada yang pernah bilang kalau kamu itu baik banget?"
Aku mengernyit. "Ini mau gombal apa gimana?"
"No no no. Saya serius. Mengingat betapa kurang ajarnya saya empat minggu lalu. But, look, you're still here Ly. Help me preparing food in my kitchen."
"Aku nggak sebaik itu, Mas. Kamu nggak tau aja, daritadi aku ngucapin sumpah serapah untuk kamu, di dalam hati," bisikku pelan.
"Oya? Let shout it out. I'd like to hear your curse."
Nggak mungkin kan aku teriak 'Dasar ganteng kamu Mas. Kenapa sih pakai kaos aja bisa ganteng banget? Bikin aku istighfar mulu dalam hati!'
Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Derai tawa Mas David menggema, lalu tawanya lenyap berganti senyuman lebar. "Honestly, I miss us, Ly. I always miss our moments together."
Aku nggak tahu harus menanggapi apa. Aku takut berharap lagi. Kepalaku terus mengarah ke potongan dadu daging ayam. Pura-pura fokus menusuk daging.
"Saya nggak tahu ini waktu yang tepat atau enggak untuk membahas ini."
Mas David menaruh daging ayam dan tusuk sate ke dalam wadah. "Last night Teh Kikan called me. And she told me everything. Literally every single thing, about your problem with Gema."
Tanganku berhenti bergerak. Rahangku menegang. Berusaha menahan emosi. Kecewa memikirkan Teh Kikan membocorkan rahasiaku.
"Hei, I hope you're not angry. Teteh hanya mau berbagi masalahnya dengan saya. Mungkin dia juga butuh seseorang untuk cerita. Kebetulan saya orang yang terpilih."
Aku menghela napas dalam. "Harusnya Teteh nggak cerita ke siapapun tanpa seijin aku." Aku memilih melanjutkan kegiatan menusuk daging ayam ke batang tusuk sate sambil menunduk.
"Saya ... betul-betul merasa malu dan bersalah sama kamu Ly."
Mendongakkan kepala, aku bertanya. "Kenapa harus malu? Kamu kan pakai baju, Mas."
Mas David tertawa. "Hhhh. Sorry, saya merasa udah lama nggak tertawa lepas."
"Emangnya aku badut lucu yang bikin kamu ketawa?" Aku mendengkus.
"Bukan kok. Saya ... betul-betul minta maaf Ly atas semua yang saya ucapkan empat minggu lalu. Saya sedang dipengaruhi oleh emosi. I'm an evil, aren't I?"
"It's okay, Mas. Perlahan aku mulai ngerti. Nggak ada yang tahu isi hatiku sendiri, kecuali aku. Orang-orang cuma bisa asal tebak, dan seringnya salah. Termasuk kamu. Kamu pasti salah paham."
"Sorry," lirihnya.
"Sekali lagi bilang maaf, kamu harus kasih es krim satu container ya."
"Mau yang rasa apa Ly?"
"Astaga. Aku bercanda loh Maaas."
"Atau saya harus ngapain untuk menebus kesalahan saya?" Baru kali ini aku melihat wajah Mas David yang kelihatan nggak berdaya.
"Just be yourself maybe?" Aku ingin Mas David yang kukenal selama dua minggu trip keliling Eropa. Empat minggu ini aku kehilangan sosoknya. Kini perlahan aku menemukannya kembali.
---
Puluhan tusuk sate berhasil kami selesaikan. Mas David sudah membalutnya dengan plastic wrap dan menyimpannya di dalam kulkas. Tinggal dibakar besok pagi oleh teman-teman kami.
Lontong juga sudah dibuat. Hanya bermodalkan air dan beras perbandingan 3.5 : 1 yang dimasak di dalam rice cooker. Saat matang nanti tinggal diaduk dan dicetak.
Selanjutnya kami beralih mengupas bawang-bawangan. Selain membuat opor ayam, Mas David memutuskan untuk membuat bumbu halus seluruh masakan. Jadi besok tinggal cemplung-cemplung, jauh lebih menghemat waktu.
Mas David begitu piawai mengupas bawang. Aku kalah cepat, bahkan harus memakai talenan untuk membuka ujungnya.
Walau hanya berdua, tetap rasanya riuh. Aku dan Mas David nggak berhenti berbalas cerita mengenai hidup kami empat minggu ke belakang.
"Saya boleh tahu nggak, cerita detail mengenai masalah Gema? Tapi nggak papa kalau kamu nggak mau cerita."
"Aku yakin pasti Teteh udah cerita," sahutku pelan.
"Saya cuma mau tahu cerita versi kamu." Mas David masih merayu.
Gerakan pisau terhenti. Aku terdiam beberapa lama. Sibuk menimbang apakah sebaiknya aku ceritakan saja atau tetap kusimpan sendiri.
Aku menatap wajah Mas David. Dia menunggu dengan sabar.
"Kamu bisa cerita kapanpun kamu siap. Saya nggak akan bahas lagi kalau kamu merasa nggak nyaman."
"Masalah ini udah selesai, Mas."
"Gema udah mengembalikan uang kamu?" Sambil menatapku, tangannya begitu lentur mengupas butir demi butir bawang merah.
Aku menggelengkan kepala. "Aku ikhlasin."
Mas David nggak terlihat kaget. Raut wajahnya juga tetap tenang. "Boleh saya tau tepatnya berapa banyak?"
"Seratus empat belas juta lima ratus lima puluh ribu rupiah Mas."
Gerakan tangan Mas David terhenti. "Kamu hebat Ly, bisa mengikhlaskan uang segitu banyaknya."
Aku menaruh pisau. Memusatkan pandanganku kepada Mas David. "No. Aku nggak sehebat itu, Mas. Butuh waktu lama untuk ikhlas. Kamu inget waktu aku nangis di Zürich? Aku baru sadar uangku hilang. Dulu emang aku naif banget, buat tabungan berdua sama dia. Ceritanya nabung untuk nikah. Trus setelah putus, aku nggak apa-apain tabungan itu. Gara-gara kita bahas jalan-jalan ke Swiss, aku baru cek, trus ya ... kaget. Speechless. Lemes. Nggak ikhlas. Nggak rela banget. Nyumpahin Gema abis-abisan di dalam hati. Bingung harus gimana. Apalagi kalo aku pilih perjuangin uangku, aku masih harus berurusan sama Gema dan keluarganya dalam waktu yang lama. Aku ... bener-bener clueless banget, Mas." Aku menghela napas.
Mataku menerawang ke arah langit-langit. "Trus kamu ingetin aku tentang konsep ikhlas di tepi danau di Zürich. Nggak tahu kenapa di situ bebanku kayak diangkat perlahan. Semakin lama semakin ringan. Allah kayak nunjukin ke aku, betapa banyak yang udah Allah kasih ke aku. Kesehatan aku. Keluargaku yang lengkap dan sayaaaaang banget sama aku. Keberuntungan bisa kuliah di Jerman, bisa jalan-jalan keliling Eropa, dimana dulu semua ini tuh mustahil."
"Aku susah payah kok ngilangin rasa kepemilikan aku. Kalo aku bengong, tiba-tiba kepikiran lagi, uang itu kan tabungan aku, hasil jerih payah aku, hasil aku menahan diri hidup hemat selama dua tahun. Tapi, setiap malam aku selalu tanemin kata-kata kamu ke otakku, Mas. Semua ini cuma titipan. Harta, keluarga, bahkan nyawa di dalam tubuh ini, semua bukan punya aku. Jadi, kenapa aku harus marah sama keadaan karna Allah mengambil milik-Nya? Toh memang semuanya bukan punya aku kan." Aku nggak menyangka bisa cerita selancar ini di hadapan Mas David.
"Kamu nggak mau memberi efek jera ke mantan kamu? Seenggaknya supaya dia nggak mengulangi lagi hal yang sama."
"Aku cuma mau ketenangan hati, Mas. Bayangan aku tuh ribet aja kalau sampai harus ke pengadilan. Belum lagi harus berurusan sama Gema. Tanpa ada masalah ini aja aku udah cape disalah-salahin mulu sama keluarganya. Belum lagi kalo mama papaku juga tau, bisa-bisa mereka makin kepikiran. Jadi, yaudahlah, biar Allah yang Maha Adil yang balas. "
"Kalau sudah kamu ikhlasin, kenapa kamu nangis waktu di Amsterdam Ly?" Mas David berusaha mengorek semakin dalam.
Aku menghela napas dalam. "Biasalah. Maminya Gema. Intinya salah paham. Mereka ngira aku masih berhubungan sama Gema. Indri, istrinya Gema, sampai pendarahan dan dirawat di Rumah Sakit."
"Saya yakin nggak sesederhana itu. Kamu pasti dimaki-maki."
Aku mengangguk. "Juga mama papaku. Itu sih yang ngebuat aku sakit banget."
"Sekarang sudah betul-betul selesai masalahnya?"
Aku mengangguk kembali. "Udah. Aku ngomong sama Gema dan istrinya via telepon, waktu kita checkout di hostel. Jadi diloudspeaker gitu Mas. Intinya aku jelasin aku nggak ada apa-apa sama Gema, cuma masalah keuangan aja. Gema akhirnya cerita ke istrinya. Yang penting kan istrinya tau aku nggak ada apa-apa sama Gema. Aku juga nekenin ke mereka jangan bawa-bawa aku lagi. Indri juga bilang mau usahain ganti uang aku."
"Pasti kamu tetap menegaskan kalau kamu sudah mengikhlaskannya."
Aku mengangguk. "Aku pikir-pikir ... mungkin aku cuma perpanjangan tangan aja Mas. Tujuanku nabung memang pure untuk nikah sama Gema. Tabungan itu selalu aku bawa dalam doa. Aku ulaaang terus dalam doa. Walau akhirnya nggak bisa aku pake, tapi uang itu tetap berkah karna terpakai sesuai tujuannya, untuk pernikahan Gema. Lagipula kejadian ini juga jadi pelajaran besar dalam hidup aku. Jangan terlalu percaya sama orang. Terutama jangan buat rekening berdua sama pacar!" Aku tertawa. Entah mengapa, rasanya lega. Episode Gema sudah jauh di belakang. Aku sudah masuk ke fase menertawakan kebodohanku di masa lalu. Bahkan aku lupa kapan terakhir menangisi apalagi memikirkannya.
Karena sekarang penyebab utama tangisanku adalah sosok di sebelahku.
Padahal masih banyak bawang yang harus dikupas, tapi Mas David mencuci tangannya dengan sabun. Setelah mengeringkan tangan, dia berjalan perlahan kembali duduk di stoolnya.
Mas David mengulurkan tangan dan mengusap rambutku. "Pasti berat ya Ly? Selalu mengangkat dan memindahkan beban di bahu kamu sendirian. Nggak bisa berbagi cerita dengan siapapun."
Aku menunduk. Meraih pisau, kembali mengupas bawang merah. Mataku berkaca-kaca. "Aduh perih banget nih bawangnya."
"Kamu hebat Ly. Nggak semua orang bisa mengatasi masalah seberat ini sendirian, tanpa siapapun yang membantu. Kamu betul-betul kuat."
Aku tetap diam menunduk. Ucapan Mas David mampu menghembuskan ingatan saat dimana aku selalu menghadapi segala masalah hidupku sendirian. Ternyata betapa sulitnya menjadi orang dewasa.
"Hey, coba saya mau lihat wajah kamu."
Aku menggelengkan kepala. Air mata meluncur jatuh perlahan. "Mataku perih karna bawang."
"Saya selalu bilang, It's okay to not be okay. Semua perasaan kamu valid. Sedih, hancur, kecewa." Dia mengusap air mataku yang jatuh mengalir di pipi dengan kedua tangannya.
Mas David menggenggam kedua bahuku lalu mengguncangnya. "Lihat saya, Ly. Di depan kamu adalah salah satu orang yang sangat siap mendengarkan sekecil apapun keluh kesah kamu. Masalah-masalah kecil, maupun yang besar sekali. Saya rasa Teteh, A Adit, apalagi Mama Papa kamupun juga begitu."
"Jangan pernah takut untuk membagi beban kamu. Saya ngerti kamu khawatir keluarga kamu kepikiran, ikut merasa sakit. Tapi itulah keluarga, susah senang bersama-sama. Mungkin saya ataupun keluarga kamu nggak bisa kasih solusi yang tepat, tapi seengganya kamu bisa diberi kekuatan, atau bisa melihat masalah dari sudut pandang yang lain."
"Susah, Mas. Aku nggak mau nambah beban hidup keluarga aku. Atau siapapun di sekitar aku. Kamu tau nggak, ternyata kemarin Papa sama Mamaku sampe sakit berminggu-minggu gara-gara mikirin aku."
"May I hug you, Mirielle Sachi?" Mas David merentangkan tangannya.
Aku menabrak tubuh Mas David. Memeluk dan mencengkeram kausnya dengan erat. Rasa aman menjalar ke setiap sendi tubuhku. Kotak besar berisi segala ketakutan dan kesakitan yang kupaksa tutup rapat menyeruak seketika. Mas David menghisap seluruhnya. Aku yang sebetulnya rapuh seakan meraih kekuatan di dalam pelukan Mas David. Rasanya aku percaya tubuh kokoh Mas David dapat menghadang semua badai yang akan menyergapku.
Mas David mengusap punggungku naik turun. "I know. Teh Kikan cerita juga. Mama Papa kamu sebetulnya sudah tau, uang kamu dicuri Gema. Mereka sedih membayangkan kamu melalui semua ini sendirian, dan kamu nggak menjadikan mereka tempat cerita."
Aku melepas pelukan Mas David. Sungguh terkejut mendengar apa yang dia katakan.
"Astaghfirullah. Serius kamu Mas?"
"Sekarang sudah tengah malam di Indo. Besok kamu bisa hubungi Papa Mama. Jelaskan cerita versi kamu. They're okay now. Don't worry, Lily."
Kedua tangan Mas David membingkai wajahku. "Saya minta maaf Ly. Bulan lalu saya selalu berada di samping kamu, tapi saya nggak tahu kamu lagi berdarah-darah menghadapi segala ujian hidup kamu. Boleh sekarang saya minta sesuatu?"
"Asal jangan yang mahal-mahal Mas. Tabungan aku masih nol besar."
Tatapan kami bertemu. Mas David melebarkan senyumannya. Kedua ibu jarinya mengusap pipi kiri dan kananku. Menimbulkan gelenyar aneh di dalam perut. Degupan jantungku semakin menggila.
"Saya harap, mulai sekarang, saya selalu dilibatkan dalam setiap masalah kamu. Biarkan saya menjadi tempat mencurahkan seluruh isi hati dan tempat berbagi seluruh beban di hidup kamu."
Hatiku terasa mengembang dan penuh. Mas David membuatku merasa seperti pemeran utama di setiap kisah romantis. "Omongan kamu kayak lagi ngelamar cewe di film-film romantis, Mas," celetukku.
Tangan Mas David menjauh dari pipi, lalu beranjak meraih jemari. Kini kesepuluh jemari kami saling bertaut. "Kamu mau saya lamar?" Dia mengguncang tanganku.
Aku melepas paksa genggaman tangannya. Astaghfirullah. Baru ingat Mas David sudah punya calon istri. "Dasar buaya. Inget calon istri kamu!"
"Memangnya kalau belum menerima lamaran bisa disebut calon istri?" Mas David meraih anak rambutku untuk diselipkan di belakang telinga.
"Kasian banget emang calon kamu nggak dianggep. Udah ah jangan buat aku kegeeran." Aku menoleh ke segala arah, menghindari tatapannya.
"Hei, saya memang belum punya calon istri Ly."
"Ibu sama Bapak bilang punya."
"Kapan saya mengiyakan? Saya belum punya calon istri, pacar, pasangan atau apapun itu. You should believe it."
Aku mengangguk. Menggigit bibir, menahan senyuman. "Oh ... gitu."
"Aku juga udah move on dari Gema. Kamu harus percaya." Tangan Mas David kuguncang pelan.
Mas David meringis. "Iya, maaf ya kemarin saya sok tahu."
Aku mengangguk pelan. Lalu menunduk, menahan malu karena teringat ungkapan perasaanku empat minggu lalu. Rasanya awkward sekali.
"Saya punya pengalaman buruk dengan mantan yang belum move on."
Ucapan Mas David membuat kepalaku kembali terangkat.
"Maura ya?"
"Iya. Saya harus cerita, karna saya juga harus terbuka sama kamu. Dulu Maura dan Raka pernah pacaran, sebelum dia pacaran dengan saya. Pada intinya, dia menjadikan saya pelarian, bahkan batu loncatan untuk menemukan Raka yang hilang kontak."
"Kamu masih ada perasaan sama Maura?" Sejak dulu aku selalu bertanya-tanya.
"Nothing. Di momen saya menemukan Maura selingkuh dengan Raka, di detik itu juga perasaan saya hilang. By the way, sampai sekarang Raka nggak tahu saya sempat pacaran dengan Maura, saya pun nggak tahu dia mantan Maura. Saat itu kami sedang tinggal di negara yang berbeda. And talk about woman is not our thing."
Aku diam menyimak. Menyerap baik-baik cerita Mas David.
"Saya nggak mau terjerumus ke dalam jurang yang sama lagi. Saya nggak mau berhubungan dengan perempuan yang belum move on. Terlalu membuang waktu untuk saingan dengan mantan. Lelah dan membuang energi karena pasti rasa curiga saya tinggi."
"Tapi sebetulnya kemarin saat melihat kamu lagi, setelah empat minggu kita berpisah, rasanya saya rela dijadikan pelarian Ly. Nggak apa asal itu kamu."
Keningku berkerut. "Maksudnya Mas? Aku nggak ngerti."
"Iya. Bicara sama kamu itu harus eksplisit Yi. Harus jelas." tawa Mas David pecah.
Aku cemberut. Memangnya aku selemot itu?
"Sejak dulu memang saya punya perasaan istimewa terhadap kamu. I love you, Mirielle Sachi. Saya sayang sekali sama kamu."
Tanpa butuh aba-aba, jantungku berdebar, bertalu lebih cepat. Aku terpaku. Dengan mata membelalak lebar, aku menepuk pipiku kencang. Aw, sakit. Tapi ini pasti mimpi kan? Bahkan dalam mimpi liarku sendiri, aku nggak berani membayangkan Mas David menyatakan perasaannya padaku.
"Kamu mau ngeprank aku ya? Ada kamera tersembunyi nggak di sini?" Mataku menyisir setiap sudut rumah Mas David.
Terselip kekehan Mas David. "Nggak ada. Saya serius, Yi."
Kedua mataku semakin melotot lebar. "Kok ... bisa? Aku bukan artis Mas. Aku nggak secantik Maura. Aku nggak bisa nyanyi. Aku nggak bisa renang. Aku penakut. Aku banyak nggak bisanya. Aku nggak kuliah di Ivy League. Keluargaku juga bukan keluarga pejabat, papaku cuma pensiunan. Kayaknya satu-satunya kelebihan aku ya porsi makan aku yang berlebih."
Mas David mengusap rambutku pelan. Dia menatapku seperti penuh rasa cinta. Eh, tapi mungkin aku yang halu.
"Hei, kamu terlalu underestimate diri kamu sendiri. Kamu itu perempuan yang luar biasa Yi. Walaupun nggak ada alasan kenapa saya bisa sesayang ini sama kamu."
"Kok bisa? Aku nggak ngerasa melet kamu Mas." Sekali lagi aku mencubit lenganku sendiri. Aw, sakit banget. "Mas, aku nggak mimpi kan?"
Derai tawa Mas David memenuhi ruangan. Dia mencubit pipiku gemas. "Enggak, Adek."
"Engga engga engga. Ini semua masih nggak masuk akal. Kok bisa sih Mas kamu sayang sama aku?"
"Memangnya harus punya alasan ya untuk sayang sama kamu? Tapi kamu tahu nggak. Perempuan di hadapan saya ini, perempuan yang ekspresif, kuat, nggak pernah mengeluh, ceria, pemaaf, perhatian terhadap hal-hal kecil yang nggak perlu saya jelaskan. Dia juga pantang menyerah. Perempuan yang tanpa pikir panjang menyumbang uang ratusan euro untuk orang yang belum dia kenal dekat, yang rela menghabiskan 100 euro terakhirnya untuk membelikan keju dan kroket untuk orangtua saya. Juga yang sebulan terakhir sering menelepon Ibu saya, memastikan beliau nggak kesepian."
Ucapan Mas David seperti perekat yang membuat seluruh ketidaksempurnaanku menjadi utuh. Mataku berkaca-kaca. "Kamu berlebihan. Aku nggak kayak gitu, Mas."
"Sekarang saya mau nanya pendapat kamu. Kamu mau memilih jadi pacar atau calon istri saya? Kalau kamu siap menikah dalam waktu dekat, saya lamar kamu sekarang. Tapi kalau belum siap, berarti kita pacaran dulu."
Kali ini aku rela kelenjar air mata mulai bekerja. Air mataku nggak bisa terbendung lagi.
Aku terkekeh dengan air mata yang membanjiri pipi. "Kok nggak ada pilihan nolak dua-duanya?"
"Nggak boleh. Saya memang memaksa kamu untuk terima." Sembari tersenyum sabar, dia terus menerus mengusap pipiku yang basah.
"Emangnya aku mau?" Tawaku lepas beriringan dengan air mata yang semakin deras. Beginikah rasanya menangis bahagia?
"Empat minggu lalu kamu bilang suka sama saya. Walaupun sekarang perasaan kamu berubah, tapi peluang saya tetap besar."
"Aku baru tau kamu narsis."
"Saya harus jadi pemaksa biar kamu mau."
"Mas, aku nggak bisa baca peta loh. Kemarin aja nyasar berkali-kali. Kamu kan suka jalan-jalan, nanti aku nyusahin kamu, buat kamu kesasar terus," tukasku sambil terisak pelan.
Mas David tertawa seraya maju untuk mendekap tubuhku erat. "It's okay. I wanna get lost with you, Mirielle Sachi."
Perutku bergejolak, sepertinya jumlah populasi kupu-kupu di dalam perutku semakin bertambah. Aku merasa seperti masuk ke rumah baru. Seluruh ketakutan dan keraguanku lenyap tak bersisa. Enggak, aku yakin nggak akan tersesat lagi. Karena aku telah menemukan rumahku.
---
Hanya Aga dan Prabu yang mengetahui password pintu rumah Mas David. Jadi dia menyelonong masuk seperti biasa. Aga terperanjat melihat pemandangan yang disuguhkan dua sejoli di hadapannya. Laki-laki itu hampir jantungan, saking kagetnya. Yang ada di otaknya hanya satu, semua orang harus tahu.
---
* Aku boleh nanya nggak, kalian tau cerita ini darimana? Pengen tau dehhh hehehehe.
* Sejujurnya ada banyak skenario acara tembak-tembakan ini di dalam otakku. Bahkan ngomong di dapur sambil ngupas bawang tuh nggak kepikiran sama sekali. Tapi dipikir-pikir, aku pengen latar dan suasana yang intimate, momen mereka lagi deep talk berdua aja sambil tatap-tatapan. 🤣🤣.
Udah yaa udah bisa tenang wkwkwk. Kan kalo nggak jadi pacarnya, Lily jadi calon istrinya Mas David.
Belum tamat kok belum 🤗. Pengennya setelah tamat nggak ada ektra part-extra part yang lain.