My Lovely Boss Mafia || Jirose

Autorstwa sisipratiwi1234

33.7K 2.5K 234

Menceritakan kisah cinta seorang mafia dan gadis asal Australia. Fiona Elizabeth Gabriella seorang gadis peng... Więcej

01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
32
33
34
35

31

474 52 9
Autorstwa sisipratiwi1234













Jika cinta tidak bisa dimiliki, maka siapapun tidak berhak memilikinya. Hal itu mutlak telah menjadi prinsip Mora

Kenyataan memang pahit, tapi ia tidak rela kalau hanya dirinya saja yang merasakan pahit itu. Orang juga harus merasakannya dan harus lebih pahit dari yang dia rasakan.

Setelah kejadian di Restoran itu, Mora telah memutuskan untuk membalas perbuatan Alvaro dan Kenzie. "Kalian pikir, penantianku di Jepang akan sia-sia begitu saja? tidak akan!! sekalipun pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkan cinta Alvaro seutuhnya.. maka siapapun tidak berhak mendapatkannya," gumamnya penuh penekanan.

Langkahnya terdengar berat, dan berketuk keras melihat ia mengenakan heels yang tinggi menghias kaki jenjangnya. Dengan pandangan lurus ia mendekat pada resepsionis.

"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya karyawan bagian resepsionis itu. "Saya ingin bertemu dengan mr.Marvel, saya Adiknya," ucap Mora, seketika karyawan itu mempersilakan Mora untuk pergi ke Lantai 5

Wanita itu menaiki lift di kiri koridor, setelah sampai ia melangkah dengan pasti sesuai petunjuk karyawan tadi. Lalu ia membuka pintu yang di atasnya tergantung nama Marvel Arsenic Melangkah santai ke dalam, sampai ia berhenti di depan seorang pria yang kini duduk di kursi kebesarannya Tampak potongan rambut cepak di balik buku yang di buka, yang membuat pria itu semakin terlihat manly. Apalagi ototnya yang tercetak ketat di balik jas hitamnya. Namun semua itu tidak sedikitpun membuat Mora terpesona atau bahkan jatuh cinta pada pria beriris mata abu-abu itu. Sangat mustahil dan tidak akan terjadi bagi Mora

Menyadari kehadiran seseorang, pria itu meletakkan kembali buku berkas di tangannya ke atas meja. Mengalihkan pandangan pria itu untuk fokus pada wanita cantik berpakaian branded di depannya. lalu mengulas senyum di bibirnya yang sedikit tebal.

"Hei my young sister..." sapa pria itu dengan friendly.

"Kenapa Kak Marvel tidak kabari aku, kalau akan berkunjung ke kantor cabangmu di sini..." ucap Mora mencebikkan bibirnya Melihat ekspresi Mora membuat  Marvel terkekeh Pria itu beranjak dari duduknya menghampiri adik kandungnya itu Meski telah dewasa, Mora tidak pernah bisa bersikap lebih dewasa jika sedang bersama kakaknya.

Marvel menepuk pelan puncak kepala Mora, " Maafkan aku, kemarin aku setelah tiba di sini langsung pergi ke kantor... karena ada hal penting yang harus aku urus."

"Okey," ucap Mora sambil mengangguk paham.

"Emm... Kak ada yang ingin aku katakan," ucap Mora menatap Marvel serius Pria itupun mengajak Adiknya duduk di sofa.

"Ada apa? apa ini masalah pria yang kamu sukai sejak SMA itu?"

"Iya Kak.. tapi di saat aku kembali dia malah sudah menikah," ucap Mota menunduk sedih Marvel menoleh menatap Mora dapat ia lihat dengan jelas betapa Adiknya sangat mencintai pria yang dulu sering Mora ceritakan padanya Tapi sampai sekarang Marvel tidak tahu seperti apa wajah pria yang membuat Adiknya tergila-gila.

Satu hal yang mengganjal di pikirannya, kenapa namanya Alvaro. Terdengar familiar di telinganya.

"Kalau begitu, aku akan membantumu mendapatkannya," ucap Marvel kemudian Mora mengangkat kepalanya, namun tidak ada senyum di wajahnya Hanya seringai yang bermakna lain.

"Aku sudah tidak menginginkannya, aku ingin Kakak menghabisinya di depan mataku dan aniaya Istrinya. Tapi bukan hanya dia saja tapi ada satu juga temannya, aku selidiki juga dia sudah punya kekasih. Aku hanya ingin kau menghancurkan mereka Kak..." ucapnya tegas.

Sedangkan Marvel mengerutkan dahi mendengar penuturan Mora Ia paham bagaimana rasa sakit di hati Adiknya, tapi yang menjadi masalah Adiknya itu hanya sakit hati sendiri. Karena sejak awal yang Marvel dapat simpulkan dari cerita Mota dulu, Alvaro ini memang tidak pernah memberi Mora harapan palsu Pria itu dari awal telah menyampaikan dengan jelas pada Adiknya itu jika Alvaro tidak punya rasa dengan Mora, namun Mora tetap optimis dan percaya jika suatu saat Alvaro pasti akan suka padanya Tapi kenyataan memang tidak semanis itu, kini pria yang telah lama Mora sukai telah menikah dengan wanita lain.

Sebenarnya cukup simple, Mora harus bisa mengikhlaskannya.

"Harusnya kau merelakannya saja Mora" ucap Marvel menyarankan. Tapi Mora menoleh menatap Marvel tajam. "Aku bisa rela tapi dengan satu syarat, habisi dia dan aniaya Istrinya di depan mataku baru aku akan dengan lapang dada mengikhlaskan."

Marvel menatap adiknya tanpa kata, meneliti sikap Mora saat ini. "Dia benar-benar mewarisi sikapku dan Ayah, keras kepala dan selalu punya ambisi membalas dendam sekecil apapun masalahnya, tapi aku tidak bisa melakukannya. Itu berlebihan, kecuali memang Alvaro memberinya harapan dan tiba-tiba meninggalkannya baru aku akan memberi perhitungan tanpa berpikir dua kali," batin Marvel.

"Tunggu dulu, aku ingin tahu seperti apa wajahnya sampai membuat kau seperti ini."

Mora meronggoh ponselnya di saku blushnya Menscrool layar ponselnya, lalu sedetik kemudian memberikannya pada Marvel "Ini Alvaro dan di sebelahnya yang menampilannya agak bad boy itu Kenzie" jelas Mora.

Mata Marvel melebar melihat foto itu, sesaat ia coba mengusap matanya tapi foto itu jelas menampilkan wajah yang sama. Pria itu tertegun, hingga tanpa sadar ia mengeratkan genggamannya.

"Kak? are you okay?" Mora menatap Marvel khawatir Marvel masih bergeming, pandangannya berubah tajam melihat foto di ponsel Mora.

"Jadi dia yang kau maksud?" ucap Marvel dingin. "Iya Kak, kenapa?"

Marvel menyerahkan ponsel Mora kembali, pria itu beranjak berdiri berjalan beberapa langkah sampai ia berdiri di depan jendela berkaca lebar. Dapat terlihat jelas jalan raya di bawah gedung itu dan kendaraan yang berlalu lalang seperti semut berjalan. Setelah itu Marvel menoleh sedikit melirikkan matanya.

"Mereka musuh bebuyutanku di kelas taekwondo dulu, sebelum kamu masuk di sekolah itu, aku ingat dengan jelas peristiwa dimasa lalu, mereka yang dulu pernah mematahkan kakiku. saat bertanding."

"Aku telah balas dendam pada mereka sampai membuat mereka tidak berdaya, tapi saat itu ortu mereka melaporkan tindakanku pada anak mereka hingga membuatku di DO dari sekolah itu, dan terpaksa melanjutkannya di Jepang," lanjut Marvel, Mora menatapnya terperangah. "Jadi Kakak dulu tiba-tiba ayah kirim ke Jepang karena masalah itu?" tanya Mora. Marvel mengangguk, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Mora

"Aku akan membantumu tanpa syarat apapun, karena jujur saja aku masih benci pada mereka." Mendengar itu Mora tersenyum sumringah, menepukkan tangannya di bahu Marvel yang lebih tinggi darinya.

"Itu yang memang ingin aku dengar dari Kakak..."

Senyum Mora semakin tertarik ke atas, telah banyak rencana yang memenuhi pikirannya.


************************************



Fiona terbaring di atas kasur yang cukup untuk satu orang, ruang itu bernuansa putih. Dan terlihat beberapa alat medis di dekatnya. Aroma obat-obatan juga menguar di sekitarnya. Jujur saja wanita itu tidak bisa berlama-lama di Rumah sakit, karena selalu membuatnya mual.

Ceklek, seorang dokter wanita masuk ruangan. Mengulas senyum sapaan pada Fiona, ia pun membalas tersenyum juga Sesaat kemudian dokter bername tage Renatta mendekat, seraya memasangkan earpiece stetoskop di telinga Lalu menempelkan ujung stetoskop sedikit di atas dadanya sejenak.

" Coba di buka ya Nyonya bajunya, saya akan periksa perut Anda." Fiona pun membuka sedikit bajunya sampai terlihat perutnya yang rata. Dokter itu kembali menempelkan stetoskopnya, sampai beberapa detik lalu mengulas senyum Membuat Fiona menatapnya bertanya- tanya.

Kini Alvaro dan Fiona duduk di depan meja dokter. Menunggu hasil pemeriksaan tadi. Dokter Renatta masih menuliskan sesuatu di kertas keterangan rumah sakit, lalu menyerahkannya pada Alvaro Pria itupun segera membacanya dengan teliti Sampai ia membaca satu kata yang membuat senyum manis terukir di wajahnya, sedangkan Fiona masih menatap Alvaro penasaran Sampai dokter itu berucap, "Selamat Tuan , Istri Anda dinyatakan hamil dan kandungannya sudah berusia 3 minggu Saya harap Anda lebih memperhatikan pola makan Istri Anda dan juga jangan sampai terlalu kelelahan, karena kandungannya masih lemah," jelas dokter itu tersenyum ramah.

Tanpa kata Alvaro menoleh menatap Fiona yang mulai berkaca-kaca, memeluk lembut Istrinya lalau mengecup puncak kepalanya dengan sayang Ia benar-benar merasa seperti bermimpi Tapi ini sungguh nyata. Akhirnya, sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah.

"Terima kasih Dok, kami permisi dulu."

"Iya Tuan silahkan.."

Alvaro dan Fiona melangkah keluar ruangan, dengan tangan kanan yang masih merangkul pundak Fiona. Rasa bahagia masih membuncah di hatinya, ingin sekali ia mencium Istrinya karena saking senangnya. Tapi keadaan tidak memungkin untuk dirinya melakukannya.

Sedetik kemudian senyum itu menghilang, Alvaro menyadari sesuatu.

"Sekarang kondisi semakin bahaya, semoga saja Fiona dan Anakku nanti baik-baik saja Aku akan menjaganya lebih ketat lagi," batinnya penuh keyakinan.




















































Sampai ketemu di part selanjutnya bye bye bye

Czytaj Dalej

To Też Polubisz

291K 13.9K 54
bagaimana jika sekumpulan mafia no 1 jatuh cinta kepada seorang bad boy? baca Kuyy • • • • • • liskook taennie jirose jinsoo
60.9K 7K 32
Kisah Jennie, ketua mafia yang ditakuti oleh orang-orang. Hidupnya hanya dipenuhi kegelapan bahkan tidak ada rasa kasian didalam hatinya. Cinta? Ck...
55K 2.9K 34
Seorang gadis yang ternyata adalah mafia Queen memiliki dendam yang membuat ia bergabung menjadi mafia. Seorang king mafia yang memiliki dendam yang...
Apka Wattpada - odblokuj wyjątkowe funkcje