REJECT ME BY GALEXIA
Instagram : @gaalexiaa dan @hf.creations
***
Dengan gerakan lemah Shena mendorong pintu kaca yang memisahkan area kantin dan lorong kamar rawat inap. Satu tangannya membawa kantong plastic berisi bubur ayam hangat yang baru ia beli. Shena hanya membeli satu porsi untuk Arga sarapan. Dia sendiri masih kenyang karena nasi goreng yang dibelikan Arga menjelang subuh tadi. Mereka bergantian membelikan makanan untuk satu sama lain.
Sembari berjalan menuju kamar rawat inap mamanya, Shena memperhatikan beberapa petugas dengan troli berisi tumpukan makanan untuk pasien. Dengan wajah cerah mereka mengetuk pintu dan masuk dari satu ruangan ke ruangan lain.
Berbicara tentang wajah Shena baru sadar kalau wajahnya pasti tampak kacau sekarang. Efek akibat dia tidak bisa tidur semalaman. Dalam hati Shena berharap semoga saja Arga belum bangun. Tadi Arga masih tertidur di sofa saat dia beranjak ke kantin. Cowok itu tidak boleh melihat penampilannya yang kacau balau. Meskipun sebelumnya Arga sudah pernah melihat penampilannya yang buruk, Shena merasa penampilannya kali ini lebih parah dari apapun.
Shena berniat membersihkan diri terlebih dahulu sebelum Arga sempat melihatnya.
Tapi baru saja Shena membuka pintu kamar rawat inap mamanya, dia langsung disambut oleh dua pasang mata yang terarah padanya.
Mamanya sudah sadar. Tatapannya masih tampak lesu saat melihat Shena. Di hadapan wanita itu nampak senampan sarapan yang sepertinya baru disentuh.
"Mama udah sadar? Mama semalem pulas banget tidurnya. Pasti karena kecapekan ya, ditambah efek obatnya juga," ujar Shena sembari berjalan mendekat ke arah tepi ranjang yang kosong.
"Kamu abis dari mana?" tanya Arga menjeda sejenak kegiatan mengupas apelnya. Ternyata harapan Shena tadi tak terkabul. Arga sudah bangun dari tidurnya dan juga sudah melihat penampilannya yang kacau ini. Sekarang tidak ada pilihan lain bagi Shena selain bodo amat.
"Kantin," jawabnya singkat. "Nih, bubur ayam buat Kak Arga sarapan." Selanjutnya dia mengulurkan sekantong plastic di genggamannya kepada Arga.
"Kok cuma satu? Kamu udah sarapan di kantin atau gimana?" Arga menerimanya dengan heran.
"Aku nggak laper."
"Kamu nggak sarapan?"
"Masih kenyang makan nasi goreng tadi."
"It was four hours ago. Lagian yang tadi itungannya late dinner. Ini buburnya kamu aja yang makan buat sarapan, nanti aku beli lagi."
"Udah dibilangin aku belum laper." Shena bersikeras. "Lagian kan itu aku niatnya beli buat Kak Arga masa ujung-ujungnya aku yang makan? Nanti aku beli sendiri aja kalo udah laper."
"Nggak, buat kamu aja."
"Buat Kak Arga aja."
"Buat kamu aja Shena."
"Udah dibilang buat Kak Arga aja, nanti aku beli sendiri."
"Nantinya kapan? Pasti ujung-ujungnya nggak sarapan."
Keduanya malah keterusan berdebat tentang siapa yang akan memakan bubur ayam itu. Arga sampai melupakan apel di tangannya yang belum sepenuhnya terkupas. Yang lebih parah dua manusia itu melupakan keberadaan manusia lain di tengah-tengah mereka. Mama Shena yang dalam posisi setengah duduk menatap keduanya bergantian dengan dahi berkerut.
"Ya nanti kalo—"
"Kalo apa?" potong Arga dengan nada menantang.
"Are you guys officially dating or what?" Belum sempat perdebatan itu berlanjut, Sania segera menyela dengan satu pertanyaan yang terlintas di kepalanya.
Barulah setelah itu Arga dan Shena terdiam. Menyadari bahwa bukan hanya mereka berdua yang ada di ruangan ini.
"Maaf, Tan," ucap Arga buru-buru dihinggapi rasa bersalah dan tak enak. Perilakunya barusan bisa dibilang tidak sopan. Jangan sampai namanya dicoreng sebagai calon menantu idaman.
Arga memasang senyum semanis mungkin. "Tante lanjut aja sarapannya. Arga lanjut kupas buahnya." Setelah berkata demikian Arga menatap Shena sekilas. Senyuman di wajahnya hilang digantikan ekspresi tegas. "Kamu juga sekalian sarapan, dihabisin itu buburnya."
Bibir Shena langsung tertekuk ke bawah. Kesal karena Arga tak henti memaksanya untuk sarapan. "Hiihh!"
"You better hurry up before your boyfriend gets mad," tukas Sania menghentikan perdebatan keduanya.
Telinga Arga memerah. Merasa salah tingkah karena ucapan Mama Shena. Dia bahkan belum menjawab pertanyaan Sania sebelumnya dan mengkonfirmasi hubungannya dengan Shena.
"Arga semalem nginep di sini?" tanya Sania setelah menelan suapan pertamanya.
"Iya, Tan. Semalem saya sempet keluar sebentar terus balik ke sini lagi. Kasian Shena kalo nggak ada temennya," jawab Arga sopan.
Shena yang melihat interaksi mereka sedikit merasa heran. Sama sekali tak ada nada canggung dalam setiap kata yang diucapkan Arga. Padahal mereka baru bertemu dua kali.
"Padahal aku gapapa," celetuk Shena yang tengah duduk di sofa sambil menyantap sarapannya dengan terpaksa.
"Maaf ya Tante jadi ngrepotin."
"Makanya jangan sakit lagi, Ma." Lagi-lagi Shena menyeletuk.
"Sama sekali nggak ngrepotin kok Tan. Namanya juga orang sakit, udah kewajiban kita yang sehat buat merawat." Arga menjawab dengan lancar. "Tapi lain kali jangan sakit lagi ya Tan. Bukannya kita nggak mau merawat atau gimana, tapi demi diri Tante sendiri. Tante kan dokter pasti lebih ngerti lah," lanjutnya diakhiri cengiran.
Sania hanya tersenyum dan mengangguk pelan mendengar ucapan Arga.
"Kerjaan doang dokter tapi merawat diri sendiri nggak bisa. Pasien doang yang dirawat giliran diri sendiri enggak."
Suasana mendadak canggung dan kaku setelah Shena berucap demikian. Arga melempar kode ke arah Shena lewat tatapan mata. Berharap pacarnya itu mengerti agar lebih mengontrol ucapannya. Hubungan ibu dan anak itu tidak akan pernah membaik jika terus-terusan seperti ini.
Setelah dipikir-pikir Arga dan Shena memiliki satu kesamaan. Mereka suka menunjukan kepedulian dengan berbicara ketus.
"Shena khawatir banget tau sama Tante. Semaleman dia nggak tidur, katanya mau nunggu Tante bangun baru dia bisa tenang." Arga kembali berujar dan mencairkan suasana.
"Dih, kapan aku ngomong kayak gitu? Dasar pendongeng handal."
Arga memaksakan tawa. Mengapa Shena sangat tidak bisa diajak bekerja sama. Seperti yang sudah Arga bilang sebelumnya dia berniat membantu memperbaiki hubungan Shena dengan Mamanya. Tapi yang dibantu malah mulutnya minta dilakban kayak gini.
"Arga gapapa di sini terus? Kamu nggak sekolah? Shena juga kamu nggak sekolah?" Sania memilih untuk mengganti topic pembicaraan.
"Shena udah izin ke gurunya Tan. Kalo Arga udah kelas 12 jadi di sekolah udah nggak ngapa-ngapain. Ujian dan lain-lainnya udah kelar. Kalo nggak masuk pun juga nggak bakal dicariin. Jadi mending di sini aja nemenin Tante sama Shena," jawab Arga sembari meletakkan irisan apel di tepian nampan.
"Oh iya? Berarti kamu tinggal nunggu pengumuman kelulusan dong? Tante baru tau."
"Jelas Mama baru tau. Urusan anak sendiri aja Mama nggak peduli apa lagi urusan orang lain," sahut Shena sarkas. "Atau malah sebaliknya? Mama peduli sama orang lain tapi nggak pernah peduli sama Shena."
"Shena, calm down please," lirih Arga.
"Kenapa? I'm just eating my bubur ayam peacefully and have a little convo with you guys. What's wrong?"
Sania meletakkan sendoknya. Selera makannya hilang. Perkataan Shena membuatnya kesulitan menelan makanan. "Udah ini aja," ujarnya pada Arga untuk tak meneruskan kegiatan memotong buahnya.
"Setelah makan kamu panggil perawat untuk lepas infus Mama. Mama udah baik-baik aja sekarang. Abis ini Mama harus visite."
Emosi Shena memuncak saat mendengar ucapan Mamanya. Sendoknya ia letakkan dengan kasar. "Ma, seriously? Di saat seperti ini bisa-bisanya Mama masih mikirin kerjaan? Mama gapapa kok ga peduli sama aku, tapi seenggaknya peduliin diri Mama sendiri."
Shena benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Dia hanya ingin mengatakan apa yang selama ini ia pendam di kepala dan hatinya. "Semenjak Papa pergi Mama jadi gila kerja. Biar apa? Biar gak keinget terus sama Papa sampai lupain anaknya sendiri. Selama ini aku diem karena aku pikir Mama butuh waktu. Tapi sekarang ini Mama udah kelewatan. Dipikir selama ini Mama doang yang sedih? Mama doang yang kehilangan? Mama doang yang terpuruk?"
Shena bicara dengan cepat sampai napasnya terengah. "Aku juga Ma. Aku juga sedih, aku juga kehilangan, aku juga terpuruk. Aku butuh Mama, tapi Mama selalu ninggalin aku sendirian di rumah. Mama lebih milih lewatin semuanya sendiri daripada bareng sama aku. Padahal kita cuma punya satu sama lain tapi Mama biarin aku sendiri."
Dengan satu tarikan napas dan mata yang sudah berkaca-kaca Shena berujar, "Aku diem bukan berarti aku nggak butuh Mama."
Setelah itu setetes air mata terjun melewati pipinya.
#FROMHFCREATIONS
HaloOOo SemuaaAAa. Akhirnya setelah beberapa minggu Reject Me update lagi. Maaf ya bikin kalian nunggu lama.
Maaf juga hari ini sekalinya update malah kemaleman karena bab ini sedikit lebih emosional menurutku. Jadi nulisnya harus bener-bener dihayati biar kalian nanti dapet feelnya.
Semoga suka ya! Sampai jumpa besok di bab selanjutnya!💖