Author
Hari berikutnya Gio makin menunjukkan sifat kasar dan sangat dingin pada keluarganya.
Lain halnya Ratna, ia sangat senang karena Gio menurut dengannya. Ia makin leluasa mengatur Gio bak robot dengan remot kontrol.
"Nah.. udah cantik. Yuk," Gena menggengam tangan mungil Dinda dan mengajaknya keluar dari rumah karena hari ini dirinya ingin ke Cafe.
Ia mengunci pintu dan mengendarai mobilnya untuk menuju Cafe.
Cafe masih sama seperti biasa, ramai dengan pengunjung. Dinda yang sangat aktif kini melepaskan diri dari Mamanya dan memilih untuk menemani Zen dikasir.
"Nih anak ya, bukan anak bos udah gue penyetin ke pintu," ujar Zen saat Dinda menjahilinya dengan mencoret tangannya menggunakan pulpen.
"Huss, psikopat lo. Gue bilangin ke Bu Bos, pengangguran lagi lo," sahut Mei yang mendengar.
Membiarkan anaknya dijaga oleh para karyawannya, Gena sedang khusyuk dengan buku buku catatan pengeluaran dan pemasukan cafenya.
Tok.. Tok.. Tok..
Ia mendongak dan pintu terbuka memperlihatkan seorang laki laki dan perempuan membuka pintu ruangannya.
"Sep.. Sya.." sahut Gena.
"Masuk masuk," sambungnya.
"Sorry gue langsung kesini, kata karyawan lo langsung kesini aja gitu," sahut Septa.
"Iya gapapa, kayak sama siapa aja."
Gena mempersilahkan dua orang tamunya itu duduk disofa yang berada di ruangannya.
"Tumben, ada apa nih? Nyebar undangan?" Candanya.
Septa terkekeh kikuk dan menyenggol lengan Tasya.
"Oh iya, gue ambilin minum dulu."
"Nggak usah Mbak, kita berdua cuma bentar kok," sahut Tasya.
"Oke deh, gimana gimana? Ada apa nih kok kayaknya serius banget," tanya Gena.
Septa dan Tasya saling sikut beberapa saat, dan akhirnya Septa lah yang membuka suara.
Mata Septa meneliti ruangan itu untuk menutupi kegugupannya, hingga matanya tak sengaja melihat sesuatu.
"Gen.. lo isi lagi?" Tanya Septa sedikit terkejut setelah matanya tak sengaja melihat susu ibu hamil diatas meja kerja Gena.
Gena mengangguk dan tersenyum sumringah. Namun tidak dengan Septa dan Tasya, keduanya tersenyum getir.
"Gue belum cerita ya? Iya, gue isi lagi."
Lagi lagi Septa dan Tasya saling sikut.
"Ada apa sih ini, gue lihat dari tadi rusuh mulu tangan lo berdua," tanya Gena.
"Jadi gini Gen, bukan gue mau adu domba atau mau ngerusuh dirumah tangga lo," ucap Septa setelah menghela nafas. Ia menjedanya beberapa saat untuk menghela nafas lagi.
Gena yang mendengar itupun langsung mengubah ekspresinya menjadi lebih serius.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Kemarin, kami berdua ketemu suami Mbak," sahut Tasya.
"Lihatin fotonya Sya," perintah Septa.
Tasya mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan ke Gena.
Gena yang kebingungan akhirnya menerima ponsel itu dan terdiam saat melihat foto yang terpampang dilayar.
"Kemarin gue sama Tasya ke mall, kita gak sengaja ketemu Pak Gio. Dan dia sama perempuan itu. Gue bukannya mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, cuma kita udah kayak keluarga Gen. Jadi gue rasa, gue perlu kasih tau lo tentang apa yang gue lihat," jelas Septa.
"Iya mbak, kita gak bermaksud buat ngerecokin rumah tangga mbak. Tapi yang kita lihat, kemarin suami mbak kayak lengket banget sama perempuan itu," sambung Tasya.
Gena masih mengamati foto itu, ia tak mengenal perempuan yang menggandeng lengan Gio di foto itu.
"Lo kenal Gen? Atau saudara Pak Gio mungkin?" Tanya Septa memastikan.
Gena menggeleng lemah.
Septa menghela nafas pelan melihat jawaban Gena.
"Kemarin kita berdua sempat nyamperin juga."
"Dia bilang gimana?" Tanya Gena menatap kedua orang didepannya.
"Suami mbak sih cuma diam aja, nggak ada mengelak atau apapun. Perempuannya yang nyahut bentaran. Setelah kita datengin, perempuannya langsung pamitan sama kita terus ngajak Pak Gio pergi," terang Tasya.
Gena menghela nafas pelan
"Lo jangan langsung telen penuturan kita berdua, lebih baik bicarain dulu sama suami. Dengerin dulu apa yang bisa dia jelasin tentang ini. Karena gue cuma lihat itu doang, nggak tau gimana hubungan mereka."
Gena mengangguk sekilas
"Thanks ya, lo bisa kirimin ke gue foto tadi."
Tasya mengangguk dan mengusap pundak Gena.
"Gue belum pernah berkeluarga Gen, jadi gak tau harus kasih wejangan banyak buat lo. Tapi lo harus pakai kepala dingin, jangan gegabah. Bicarain baik baik dulu," ujar Septa.
Lagi lagi Gena hanya bisa mengangguk pelan
"Udah jam segini, gue sama Tasya pulang ya. Lo kalau udah gak ada kerjaan, mending langsung pulang aja. Atau lo mau bareng sama kita? Gue agak khawatir sama lo kalau nyetir sendiri," sambung Septa.
"Gue bisa nyetir sendiri Sep, gue gak mabuk."
Septa terkekeh pelan dan mengangguk, ia berpamitan untuk pulang.
Sepeninggalan Septa dan Tasya, Gena hanya terdiam. Dadanya mendadak sesak mengingat foto tadi.
Ia melirik jam dinding diruangannya dan beranjak keluar ruangan.
"Dinda.." panggilnya saat melihat Dinda sibuk merecoki Zen
"Mama," sahut Dinda kecil.
"Udah jam segini, kita pulang ya."
"Alhamdulillah," gumam lirih Zen.
"Dak mau," sahut Dinda.
"Astaghfirullah," gumam Zen lagi sambil mengelus dadanya.
Gena terkekeh pelan saat Dinda berpegangan pada lengan Zen.
"Om Zen mau kerja lagi. Sekarang udah sore, nanti kalau kita gak cepet pulang kasihan Papa dirumah gak ada orang," terang Gena.
Dinda kecil mendongak melihat Zen yang wajahnya masam. Dalam batin Zen berkomat kamit agar bocah kecil itu segera pulang.
Dinda kecil pun mengangguk dan menghampiri Mamanya.
"Pamit dulu sama Om Zen," perintah Gena.
Bukannya melambaikan tangan atau mengatakan sesuatu, Dinda kecil malah menjulurkan lidah mengejek.
"Huss.. gak boleh gitu."
Selesai berpamitan pada karyawannya itu, Gena bergegas untuk pulang kerumah. Ia sudah tidak tahan ingin mempertanyakan pada Gio.
Mobil Gio ternyata sudah terparkir di depan rumah.
"Assalamualaikum," ucap Gena saat memasuki rumah, namun tak ada jawaban.
"Papa.." panggil Dinda.
Gena mengedarkan pandangan dan melihat pintu belakang sedikit terbuka, kemungkinan Gio sedang berada ditaman belakang.
"Dinda ke kamar dulu ya, Mama mau ngobrol bentar sama Papa."
Dinda kecil mengangguk patuh.
Mulut Gena sudah sangat gatal ingin menanyakan pada Gio. Ia berjalan membuka pintu itu, dan benar saja disana ada Gio yang tengah fokus pada laptop dipangkuannya.
"Udah pulang dari tadi mas?" Tanyanya basa basi.
"Hmm."
"Kamu udah makan Mas? Itu lauk tadi pagi sih yang ada di meja. Kalau mau makan, biar aku angetin dulu,"
"Aku udah makan diluar tadi," sahut Gio tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Keduanya nampak diam, Gena dengan pikirannya sedangkan Gio dengan pekerjaannya.
"Kamu kemarin dari mana aja Mas?" Tanya Gena setelah terdiam cukup lama.
Gio menghentikan jarinya yang menari diatas huruf huruf pada laptop.
"Aku? Ya kerja lah," sahut Gio.
"Oh ya?"
"Pertanyaan kamu itu bener bener gak penting," sahut Gio sembari menutup laptopnya dan beranjak dari duduk berniat untuk masuk kedalam rumah.
"Kamu kemarin ke mall sama perempuan?" Tanya Gena dan sukses menghentikan langkah Gio.
__________________________________________
Halo Halo Halo, balik lagi
Hayooo, Gio bakal jawab apa nih. Apakah diam seperti saat kepergok Tasya dan Septa? Atau malah balik memarahi Gena?
Pantengin terus. Terima Kasih.