Selamat membaca
Vote dulu yuk
Marina merapatkan mantel yang ia kenakan saat berjalan memasuki salah satu gedung rumah sakit terbaik di Dubai. Suhu dingin di Dubai tidaklah main main. Beberapa kali Marina mengangguk mendengarkan briefing yang diberikan oleh salah satu personal asisten ayahnya.
Marina tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan kembali lagi ke tanah kelahirannya. Keluarga besarnya memang memilih Dubai sebagai tempat tinggal mereka walaupun mereka berdarah Indonesia.
Marina baru saja mengetahui bahwa neneknya sedang dalam kondisi kritis. Nenek terinfeksi virus langka yang mulai menggerogoti tubuhnya dan belum ada obatnya. Marina juga mendengar bahwa kakeknya terus menerus berada di dalam ruang ICU, sama sekali tidak mau jauh dari belahan jiwanya.
Dalam pembicaraan dengan Ayahnya tidak ada informasi detail apapun. Ayahnya hanya meminta Marina untuk pulang saat itu juga dan di depan apartemen sudah ada Jeslin yang merupakan salah satu pengawal di keluarga besarnya untuk menjemputnya.
Marina memiliki alasan tersendiri mengapa ia tidak mau membantah pinta ayahnya, itu semua karena rasa bersalah yang menderanya sejak ia lahir ke dunia ini. Bahkan masih sakit rasanya menginjakkan kaki ke negara ini.
Ada banyak alasan yang membuat Marina harus tinggal di Indonesia, terpisah jauh dari keluarga besarnya. Walaupun di Indonesia juga ada kerabat kakeknya yang menyandang nama keluarga yang sama dengannya. Namun Marina memilih untuk tidak menggunakan nama keluarga di Indonesia. Itu semua karena ia merasa menjadi sebuah beban jika menyandang nama keluarga besarnya yang terhormat.
Bukan karena aib orang tuanya ataupun aib dirinya sendiri tapi karena anugerah luar biasa yang ia warisi dari nenek buyutnya. Sayangnya anugrah itu kini menjadi sebuah kutukan bagi Marina.
"Hai Marina. Long time no see." sapa Elisa kakak Marina, adalah anak pertama.
"Halo kak Elis, Kak Wilmar, Kak Theo, Kak Ika, Kak Peter, dan Kak Leon." sapa Marina pada semua kakaknya yang sudah hadir terlebih dahulu.
Marina menatap ke 6 kakaknya yang tengah berkumpul di ruang tamu VIP. Tidak seperti beberapa keluarga besar yang mungkin akan bercanda dan bertegur sapa, keluarganya hanyalah sederetan penyetor muka dan pembual basa basi. Marina sungguh merasa malas berbasa basi dengan mereka. Hanya kak Elisa yang masih mau menyapanya dengan ramah seperti dulu kala.
Lima orang kakaknya yang lain hanya menatap Marina dengan pandangan sinis. Seolah keberadaannya adalah sebuah Kehinaan. Marina juga tidak membutuhkan pengakuan mereka.
"Hei kalian kenapa diam saja? Gak punya mulut atau bisu?" sarkas Elisa pada kelima adiknya yang hanya diam saja.
"Hai bungsu." ucap kelima orang itu.
Marina hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Never mind kak Elis. Aku sungguh tidak peduli." ucap Marina.
"Cincin dengan batu bulan biru, hanya ada sedikit di dunia dan batu itu terdapat di dalam cincinmu. Kamu berhasil menyihirnya lelaki kaya mana supaya memberikannya padamu!" ucap Ika pada Marina dengan pandangan merendahkan.
"Jaga ucapanmu Ika. Kalian juga jaga sikap kalian. Kita bukan reuni arisan. Kita sedang berdoa untuk kesehatan nenek." Elisa memberi peringatan pada Ika dan adik adiknya yang lain.
Semua akhirmya terdiam. Suara pintu terbuka memecah keheningan di dalam ruangan itu. Seorang lelaki paruh baya menghampiri ketujuh bersaudara itu.
"Sudah tiba saatnya. Nenek kalian tidak dapat di selamatkan. Dia tidak bisa hidup tanpa alat. Dan kakek kalian memutuskan untuk melepas kepergian nenek. Marina, sekarang tugasmu untuk membebaskan sekutu kakekmu." ucap Baratha kepada anak anaknya.
"Baik." ucap Marina singkat.
"Apakah kami boleh melihat nenek?" tanya Elisa.
"Nanti saja jika sudah dirumah duka. Saat ini hanya anak dan menantu yang boleh melihat nenek dan kakek." ucap Baratha.
Tidak ada yang berani bicara satupun, suasana duka sangat terasa di kamar rawat inap VIP itu. Marina menatap keenam om dan tantenya bersama istri dan suami mereka tengah menatap jenazah nenek yang sudah ditutup kain. Tidak seperti kakak kakaknya yang bersikap dingin pada Marina, om dan tante dari pihak ayahnya selalu bersikap hangat pada keponakannya.
Mereka hanya melirik dan mengangguk sekilas saat Marina masuk ke dalam. Karena memang suasana sedang tidak memungkinkan bagi mereka untuk saling berbincang normal. Bagi mereka yang baru saja kehilangan ibu, sedangkan bagi Marina ini adalah sesuatu hal yang asing karena ia tidak merasa kehilangan. Beberapa dari mereka bahkan tengah menangisi kepergian sang nenek. Perlahan Marina menghampiri kakeknya.
Sang kakek tampak berbaring di tempat tidur di sebelah nenek. Dengan air mata yang membasahi pipinya. Marina mulai merasa terintimidasi saat sang kakek menatap kedua bola matanya.
"Cucuku Marina. Penuhi permintaan kakek yang terakhir. Maafkan kakek karena membuat kamu harus menderita selama ini. Kalo kamu tidak membebaskan kakek, maka kamu akan mengulangi sejarah kelam di keluarga kita. Kamu bisa saja mengalami seperti yang ibumu alami. Jangan pernah tergoda untuk menerima tawarannya. Kamu pasti bisa." ucap Wisesa, kakeknya Marina.
"Aku akan berusaha membuat kakek merasa lebih damai bersama nenek." ucap Marina.
"Jaga baik baik dirimu dan janin ini." Wisesa berbicara sambil berbisik ke telinga Marina.
Mata Marina bergetar ingin menangis. Bagaimana kakeknya bisa tau jika dirinya hamil. Sepeka itukah kekuatan kakeknya. Selama ia hidup di Dubai, hanya tatapan kejam dan ucapan jahat yang ia terima dari kakeknya. Tak pernah sekalipun ia mendapat kasih sayang dari kakeknya. Hanya Neneknya dan om tantenya yang sesekali berlaku hangat pada Marina.
Dengan tangan gemetar, Marina melepaskan kalung yang telah ia pakai sejak lahir, kemudian menyimpannya di dalam sebuah kotak kayu. Sebuah ukiran kayu dan terdapat huruf W terukir ditengah tutup kotak kayu itu. Kotak kayu tersebut hanya bisa dibuka dan ditutup oleh keturunan yang mewarisinya, yaitu saat ini Marina. Sedangkan kalung sakti itu adalah milik leluhur Wiratha yang diberikan turun temurun hanya pada keturunan yang juga mewarisi kekuatan gaib. Kalung sakti itu berguna untuk menyembunyikan kekuatan gaib tersebut agar tidak terdeteksi oleh mahkluk gaib disekitarnya, dan juga sebagai pelindung bagi pemiliknya. Marina merasa pusing setelah ia melepas kalung itu, namun kemudian ia mulai terbiasa. Tanpa kalung itu, Marina bisa dengan jelas melihat sosok yang dianggap sekutu sang kakek. Sosok menyeramkan itu tampak tinggi besar, berambut putih yang menjuntai dari ujung kepala hingga ke lantai. Sosok itu menyeringai ke arah Marina, memamerkan taringnya yang besar. Tubuhnya berwarna merah darah, dengan kuku yang panjang bagai cakar di kelima jarinya.
"Kamu kenapa kembali kesini!? Kamu pikir kamu bisa mengusirku dari tubuh ini!?" hardik sosok jin yang ada di dalam tubuh kakek. Sosok jin itu dapat mengenali kekuatan Marina setelah kalung itu dilepas.
Marina tidak menanggapi amarah sosok jin itu. Karena apapun yang akan ia katakan semua sia sia. Marina hanya ingin segera menyelesaikan tugasnya.
Sosok jin itu mulai marah dan berusaha untuk membawa tubuh kakek untuk bangun, tetapi karena Marina sudah memberikan mantera pengikat pada tubuh sang kakek maka upaya sosok jin itu sia sia.
Marina menggenggam sebuah botol kaca ukuran kecil yang telah ia siapkan sebelumnya, kemudian membuka tutupnya. Marina memegang botol itu ditangan kiri kemudian tangan kanannya ia tumpangkan diatas tubuh sang kakek. Marina memejamkan mata kemudian ia memutar telapak tangannya dengan gerakkan seperti menarik sesuatu. Suara raungan yang nyaring dan mengerikan terdengar tetapi hanya Marina yang bisa mendengarnya. Setelah beberapa kali berusaha, Marina berhasil menarik sosok jin dari dalam tubuh kakeknya dan memasukkannya ke dalam botol kemudian menutup botol itu. Marina membungkus botol kaca itu dengan kain putih dan mengikatnya dengan kuat sambil mengucapkan mantera segel.
"Sudah selesai pa. Jika ada yang ingin memakai jin ini, aku akan membantu memindahkannya." ucap Marina kepada om dan tantenya. Mereka dengan tegas menggelengkan kepalanya.
Tubuh kakek langsung menghitam seperti orang terbakar. Semua yang berada disitu tercengang dan ketakutan bahkan ada beberapa yang pingsan.
"Simpan atau segel saja jin itu selamanya. Kita tidak perlu lagi berurusan dengan dunia iblis." ucap Om Bisma, kakak ketiga dari pihak papanya Marina.
Marina mengangguk. Mereka langsung memasukkan jenazah kakek dan nenek dalam satu peti. Marina menggigit jarinya sambil menatap tutup peti yang akan segera dipasang. Ia tampak berpikir keras, cara untuk menyembunyikan jin ini.
"Tunggu sebentar, jangan ditutup. Bisa tolong tinggalkan saya berdua dengan jenazah kakek nenek?" Marina berbicara pada salah satu petugas yang sedang memegang tutup peti.
"Baik nona. Jangan terlalu lama."
Marina mengangguk dan mendekati jenazah. Marina kemudian meraih bungkusan botol kaca itu kemudian mengucapkan mantra dan doa. Setelah selesai, Marina kemudian meletakkan bungkusan itu di dasar peti kemudian memantrai lagi bungkusan itu agar tidak bisa dilihat dengan mata orang biasa. Hanya orang yang memiliki indera ke enam yang akan bisa melihat keberadaan bungkusannya itu.
"Beristirahatlah dengan tenang ya kakek nenek."ucap Marina. Ia kemudian berjalan menjauh dari peti.
"Marina, kamu baik baik saja?" tanya tante Irma, anak kakek yang nomor 5 setelah Marina menjauhi peti jenazah dengan badan sedikit terhuyung. Sepertinya ia terlalu banyak memakai kekuatannya hari ini.
Marina memiliki kemampuan untuk melihat mahkluk gaib. Bahkan ia memiliki kekuatan yang bisa mengendalikan keberadaan mahkluk gaib itu. Itulah warisan leluhurnya. Tidak semua generasi Wiratha bisa memiliki kekuatan itu.
"Aku gak apa apa tante. Aku hanya perlu istirahat." ucap Marina sambil tersenyum.
"Istirahatlah sebentar kemudian bersiap. Kita akan berangkat ke Indonesia dengan pesawat jet sekitar 1 jam lagi. Kalian bisa lanjutkan istirahat di dalam pesawat." ucap Om Tito, anak sulung dari pasangan kakek dan neneknya Marina.
Mereka yang mendengar hanya mengelus dada. Termasuk Marina yang tak kaget lagi dengan keluarga besar ayahnya yang sat set sat set dalam bertindak. Membuat Marina teringat kembali pada didikan di masa kecilnya.
.....
"Jeslin, kamu sudah siapkan keperluanku kan?" tanya Marina setelah ia sampai di hotel.
"Sudah nona. Bersiaplah, 15 menit lagi saya akan menjemput anda."
"Ok. Terima kasih Jes."
Marina langsung menyambungkan ponselnya pada kabel charger. Karena terburu buru ia sampai lupa membawa benda penting ini.
Saat ponselnya aktif, beragam notifikasi muncul. Kini jam 10 malam waktu Dubai. Marina melihat ada banyak notifikasi pesan dan panggilan dari Arya.
Suara ponsel kembali terdengar, bola matanya berputar karena merasa kesal. Lagi lagi ponselnya berbunyi di saat ia baru selesai mandi. Marina oun bergegas menyambar jubah mandi dan memakainya. Langkah kakinya dengan cepat menghampiri ponselnya.
Kali ini Marina memastikan siapa penelponnya. Mata Marina tak otomatis melebar saat terlihat nama Arya disana. Lelaki ini pasti sudah cemas karena tidak ada kabar seharian dari dirinya.
"Halo Marina." suara Arya terdengar panik dari sebrang sana.
"Kamu dimana? Oh tunggu tunggu, kirim lokasimu sekarang, aku yang akan kesana. Kita harus bicara baik baik Marina." ucap Arya dengan terburu buru.
"Mas Arya, calm down. Aku sedang berada di Dubai." sahut Marina.
"Dubai? Kamu serius? Apa yang terjadi Marina?"
"Maaf mas Arya aku sedang terburu buru. Aku akan menjelaskannya nanti." ucap Marina singkat.
"Apa penjelasan yang kamu maksud itu termasuk hasil tes positif yang aku temukan di kamar mandi?"
"Oh my God. Mas Arya sudah melihatnya.. Maafkan aku mas tapi aku benar benar sedang diburu waktu. Sampai jumpa di Indonesia mas, segera." ucap Marina kemudian menutup telponnya. Arya kembali menelpon Marina tetapi tak dijawab oleh Marina. Karena ada hal yang lebih prioritas saat ini yaitu keluarganya.
Marina mandi dengan cepat dan segera mengeringkan tubuhnya. Memakai baju kemudian menyapukan riasan tipis dan dalam waktu kurang dari 10 menit, Marina telah siap. Bertepatan dengan itu, pintu kamar diketuk. Marina bergegas menyambar tas jinjingnya kemudian membuka pintu.
"Mari nona, sudah saatnya berangkat ke bandara." ucap Jeslin yang telah berada di depan pintu.
"Huft. Ok, ayo kita berangkat." ucap Marina yang kemudian berjalan dengan cepat.
.....
"Keluarga Wiratha yang telah bertahun tahun merajai dunia perekonomian di Indonesia dan di beberapa belahan dunia, hari ini tengah berduka. Tadi malam waktu setempat Bapak Wisesa Adi Wiratha dan Ibu Damayanti Ayuningtyas telah meninggal dunia di usia mereka yaitu 103 tahun dan 99 tahun."
Arya yang sedang menikmati kopi pagi itu langsung menoleh ke layar kaca yang berada di ruang kantornya. Ia kemudian menaikkan volume, saat melihat seorang pembawa berita sedang membawakan sebuah berita yang membuatnya tertarik.
"Kepergian pasangan ini telah meninggalkan 4 putra dan 3 putri, yaitu : Tito Dama Wiratha, Restu Dama Wiratha, Bisma Dama Wiratha, Kresna Dama Wirata, Irma Dama Wiratha, Tiara Dama Wiratha dan Bathara Dama Wiratha. Selain 7 anak, pasangan suami istri Wiratha ini juga meninggalkan 20 cucu yaitu Dewa, Dewi, Wisanggeni, Hasan, Hani, Sinta, Nurani, Damanik, Timur, Artha, Laras, Ambar, Nining, Elisa, Wilmar, Theodore, Kartika, Peter, Leon dan yang terakhir Marina. Semua cucunya walaupun punya nama tengah yang berbeda beda tetapi mereka memiliki nama belakang Wiratha."
"Selain keluarga inti yang akan hadir, keluarga jauh dan sanak saudara dari keturunan Wiratha juga akan hadir. Saat ini kami sedang menunggu kedatangan jenazah yang akan diterbangkan dari Dubai. Menurut informasi yang kami dapat, mereka akan sampai di Jakarta pada pukul 8 malam waktu indonesia bagian barat. Dan akan dimakamkan kan di Wiratha Hills pada esok harinya. Demikian berita pagi ini...."
"Pak Arya, sebentar lagi meeting akan di mulai." ucap Martin sekretaris Arya. Arya menoleh dan tampak memikirkan sesuatu.
"Oke. Tin tunggu sebentar. Emm, Martin apa kamu tau nama belakang Marina?" tanya Arya tiba tiba dan membuat kening Martin berkerut.
"Nayaka pak." sahut Martin.
"Kamu yakin? Bukan Wiratha?"
"Itu yang tertulis di data pribadi bu Marina." ucap Martin dengan yakin.
Arya mengangguk tanda mengerti. Arya hendak melangkah keluar ruangan saat suara dari pembawa berita itu kembali terdengar dan masih menyinggung tentang keluarga Wiratha
"Berikut adalah profil keluarga inti dari Wisesa dan Damayanti."
Sesaat kemudian di layar kaca muncul foto foto keturunan pasangan Wisesa dan Damayanti beserta nama lengkap mereka.
"Marina Wiratha tidak mungkin kembar identik dengan Marina Nayaka kan? Aku akan butuh banyak penjelasan darimu Marina." ucap Arya sambil menatap lekat foto seorang wanita yang sama persis dengan Marina yang muncul di layar kaca.
..... BERSAMBUNG .....
PUBLISH : 12 05 2022