HELLO, MY TUTOR! [COMPLETED]

By nadyaalfiraa

218K 6.8K 289

[πŸ”žπŸ”žπŸ”ž] Follow akun dulu, karena ada beberapa part yang terprivate. Dingin, namun manis. Julukan yang tepat... More

PROLOG
SATU
DUA
TIGA
EMPAT
LIMA
ENAM
TUJUH
DELAPAN
SEMBILAN
SEPULUH
SEBELAS
DUA BELAS
TIGA BELAS
EMPAT BELAS
LIMA BELAS
ENAM BELAS
TUJUH BELAS
DELAPAN BELAS
SEMBILAN BELAS
DUA PULUH
DUA PULUH SATU
DUA PULUH DUA
DUA PULUH EMPAT
DUA PULUH LIMA
DUA PULUH ENAM
DUA PULUH TUJUH
DUA PULUH DELAPAN
DUA PULUH SEMBILAN
TIGA PULUH
TIGA PULUH SATU
TIGA PULUH DUA
TIGA PULUH TIGA
TIGA PULUH EMPAT
TIGA PULUH LIMA
TIGA PULUH ENAM
TIGA PULUH TUJUH
TIGA PULUH DELAPAN
TIGA PULUH SEMBILAN
EMPAT PULUH
EMPAT PULUH SATU
EMPAT PULUH DUA
EMPAT PULUH TIGA
EPILOG
EXTRA PART

DUA PULUH TIGA

3.1K 132 9
By nadyaalfiraa

Hai hai hallo!!! Gimana? Siap ramaikan cerita ini?

Vote nya dulu🌟 sekalian kasih emoticon buat part ini ♥️

Mungkin ada beberapa typo, karena ngetik tengah malem, so, kasih tau lewat coment yaa

Happy Reading 💕

———————

Detik berganti menit lalu berpindah menjadi jam. Siang berganti malam, dan seterusnya seperti itu. Waktu terus berjalan, sehingga banyak orang yang tak sadar bahwa segala kenangan, pasti akan berlalu.

Mengingat waktu, tepat hari ini adalah dimana Bella dan Dewa merayakan 5 bulan mereka dalam menjalin hubungan sebagai sepasang suami istri.

Bukan merayakan. Lebih tepatnya, seperti memperingati hari ke-5 bulan mereka.

Itu pikiran Bella.

Ah! Ada hal baik pula untuk hari ini.

Setelah dihadapi dengan berbagai lika-liku perjalanan perkuliahannya, akhirnya Bella bisa bernafas lega karena terbebas dari yang namanya skripsi.

Yap. Bertepatan dengan hari ini, tepatnya setelah 2 bulan berlalu, Skripsi Bella berhasil diterima oleh dosen.

Bahkan, yang lebih menyenangkan nya lagi adalah tidak adanya revisi atau pengulangan dalam membuat skripsi.

Tentu saja Bella senang bukan main. Apalagi, tidak hanya diri nya saja yang lulus, melainkan Amanda pun ikut lulus.

Kedua gadis itu, bahagia. Sejenak mereka bisa melepas lelah yang selalu menjadi beban pikiran keduanya.

KLING!

Suara tabrakan kedua gelas itu menjadi pembuka atas keberhasilan dua gadis yang sama-sama meminum minuman sejenis.

"Ahh!! Seger banget!!"

Jari lentik Bella mengusap bibirnya saat mendengar suara Amanda.

"Akhirnya, bebas dari yang namanya skripsi. Ya Allah, bersyukur banget!!" Ujar Amanda histeris.

Bella mengiyakan ucapan Amanda. "Seenggaknya, beban di otak udah berkurang."

Tangan Amanda bergerak untuk mengusap rambut nya. "Lo bener! Beruntung banget!! Tinggal sidang, lulus. Ya ampun, gue menanti banget hari-hari kaya gitu."

"Sama, anjir! Pokoknya, pengen bebas. Semua emang enak, kecuali belajar." Sahut Bella.

"Tapi kalo nggak belajar, nggak bakal dapet yang enak."

"Nah. Hambatan nya itu doang."

Keduanya tertawa bersama kemudian meminum kembali minuman berwarna biru itu.

Amanda menjetikkan jari nya sejenak. "Gue baru inget. Lo nggak lupa 'kan, buat rayain skripsi kita?"

"Ah~soal itu. Ya nggak, lah. But, gue harus ijin dulu soal itu."

Bibir Amanda sedikit mengkerut. "Lupa, kalo Lo udah ada pawangnya. Hm, yaudah, ijin aja dulu."

Bella memutar bola matanya. "Ntar aja, sih. Kita nyantai-nyantai aja dulu. Sekarang jam berapa? Tuh! Baru jam segini, 'kan?"

Tepat pukul 3 sore. Bella dan Amanda memang berjanjian untuk bertemu di cafe dekat kampus walau mereka tengah libur saat ini.

Bukan akhir pekan. Hanya libur karena tidak ada jadwal khusus.

"Eh, tapi, bakalan kangen sih, masa-masa riweh nyusun skripsi." Ucap Amanda kala matanya melihat beberapa mahasiswa yang berkutat dengan laptop mereka.

Bella mengikuti arah pandang sahabatnya itu, lalu mengangguk kecil. "Iya, sih. Tapi, lebih baik bebas dari itu, 'kan? Emangnya Lo mau, kelamaan nyusun skripsi? Gue sih, ya nggak lah."

"Gila, Lo. Ogah banget jadi donatur tetap di kampus. Kasian, duit emak bapak gue."

Jari Bella terjentik, membenarkan. "Makanya itu. Udahlah, jauh-jauh deh dari pikiran kaya gitu." Jawabnya. "Lo cari jodoh aja, sono."

Amanda berdecak, dengan tangan yang berpindah untuk bersedekap dada. "Iye-iye. Gue jomblo nyimak aja, pas bestie gue udah punya doi."

"Ah! Ponakan buat gue nya, kapan? Masa iya Lo nyuruh gue nyari jodoh, tapi nggak dapet hadiah dari Lo?"

Lagi. Bola mata Bella berputar malas menanggapi ucapan Amanda. "Ponakan apa nya, anjir? Gue masih unyu gini."

Si lawan bicara hanya menirukan gaya orang muntah. "Unyu dari mana, astaghfirullah. Pengen mengeluarkan kata-kata mutiara jadinya."

"Ck! Lagian, Lo aneh-aneh aja. But, wait about that. Itu bisa diatur."

Amanda mulai menyipitkan matanya penuh dengan selidik dan dirty mind. "Fix, gue bakalan jadi aunty secepatnya."

Tawa Bella langsung membuncah. Walau sejujurnya, ia masih meragukan hal itu.

"Gue baru inget. Hari ini, doi Lo ngajar?" Tanya Amanda melirik kesana-kemari takut ada yang mendengar.

Kepala Bella mengangguk. "Yah~gue sih tenang kalo gitu. Seenggaknya, gue nggak liat cewek-cewek pada genit ke doi gue."

Amanda mencebikkan bibirnya. "Duh, kacian amat cih, bestai gue. Untung nikahnya sama Lo, bukan sama gue."

"Tapi, kalo dulu ngelamar nya ke gue sih, ya bisa diomongin lag–akh! Iya-iya, sorry jamet." Ringis Amanda diiringi dengan tawa kecil karena Bella menekan lengannya dengan jari nya.

Seperti dicubit.

"Udahlah. Bahas healing kita aja. So? Where we should go to healing?" Tanya Bella.

Jari Amanda berpindah ke dagu nya sendiri, tampak berpikir. "Nggak jauh-jauh. Mall?"

Gigi Bella terlihat kala gadis itu tersenyum manis. "Okei! I want to there!"

***

Tangan Dewa bergerak naik, untuk melepaskan kacamata nya. Ia menutup matanya sejenak, dengan usapan kecil dari jari-jari nya.

Kondisi kantor hari ini, terbilang cukup tenang. Tidak ada jadwal khusus yang mengharuskannya menghadiri beberapa rapat meeting.

Matanya melirik jam. Ia harus kembali lagi ke kampus, karena ada meeting disana.

Ya. Beda cerita lagi antara kampus dan kantor.

Dewa beruntung, jadwal rapat antara kedua tempat itu tak pernah sama.

Keluar dari ruangannya, Dewa melihat Dinda yang masih berkutat dengan layar Komputer nya. Setelah menyadari kedatangan bos nya, wanita itu membungkuk hormat.

"Belum selesai?"

Dinda tersenyum ramah. "Belum, Pak. Tinggal beberapa kalimat lagi sebelum mengirim surel."

"Ah, mohon maaf, Pak. Ini, ada yang memberikan minuman ini untuk Pak Wakil." Sambungnya.

Dewa mendekat ke meja Dinda, lalu melihat minuman itu. "Dari siapa?"

"Oh, karyawan divisi marketing, Pak. Bu Diva."

Secara otomatis, mata Dewa melihat ke arah divisi marketing. Ia tak menemukan sosok yang dimaksud Dinda itu.

"Divisi marketing pulang lebih awal, Pak. Jadi, Bu Diva menitipkan ini pada saya." Jelas Dinda.

Karena menghargai pemberian karyawan nya, Dewa pun menerima minuman panas itu. "Ucapkan terimakasih saya pada dia, kalo kamu ketemu."

"Baik, Pak."

Dewa pun berjalan menjauh dari sana.

Sejujurnya, dulu sebelum menikah dengan Bella pun, Dewa sering mendapatkan hal-hal seperti ini.

Mulai dari minuman, makanan, makan siang, kotak bekal, sampai parsel buah sudah beberapa kali ia dapatkan.

Dewa berpikir, jika itu semua karena mereka yang menghargainya. Karena tak jarang, Direktur pun mendapatkan hal yang sama.

Jadi, Dewa tak pernah menganggap salah satu dari semua ini, adalah cara mereka mendekati Dewa.

Istilahnya, modus.

Entah itu benar atau tidak, Dewa hanya berharap bahwa mereka semua memberikan ini selayaknya menghargai nya saja.

Tidak lebih.

***

Dewa tiba lebih lambat dari jam pulangnya hari ini.

Karena ada beberapa urusan mengenai kampanye kampus, dan ia menjadi penanggung jawabnya, maka rapat bersama beberapa mahasiswa yang menjadi panitia pun, tidak bisa ia hindarkan.

"Pak Dewa udah pulang?"

Mata Dewa yang semula melihat kebawah, mulai naik dan senyumnya mengembang melihat Bella yang datang menghampirinya.

Bella menyalami tangan Dewa, dan langsung menyelipkan tangannya di sela lengan pria itu.

"Pak Dewa udah makan, belum? Pak Dewa pulang nya rada malem soalnya." Ujar Bella menghentikan langkahnya dan Dewa.

"Tadi saya bantuin Bunda masak, buat Pak Dewa. Pak Dewa mau makan?" Tanyanya lagi.

Dewa menganggukkan kepalanya. "Iya. Tapi, bunda dimana?" Tanyanya melihat ruangan yang sedikit kosong.

"Oh, itu. Tadi, Ayah ada makan malam sama client katanya. Trus, bunda ikut ayah makan malem." Jawab Bella.

Hembusan nafas Dewa keluar. "Maaf, bikin kamu jadi sendirian di rumah."

Bella mengibaskan tangannya. "Santai aja, Pak. Saya udah biasa waktu sebelum nikah sama Pak Dewa juga."

Dewa jadi tak enak hati. Bagaimana bisa gadis itu tinggal sendirian, dan ia yang lupa memberikan kabar pada Bella.

Tangan Dewa terulur untuk memeluk tubuh mungil istrinya itu. Tentu saja Bella dengan senang hati menerima pelukan Dewa.

"Maaf, saya lupa kabarin ke kamu. Harusnya, saya pulang lebih awal." Ujar Dewa mengelus rambut Bella yang sudah sepunggung itu.

"Ish, Pak Dewa. Santai aja sama saya. Lagian, saya tau kok, kalo kerjaan Pak Dewa itu, banyak." Sahutnya. "Katanya Pak Dewa ikut rapat. Rapat apa, Pak?"

Dewa melepas pelukannya, lalu menatap Bella yang lebih pendek dari nya. "Soal kampanye kampus."

Bella mengangguk sok paham. "Yaudah. Pak Dewa ke kamar dulu. Saya mau panasin makanan nya."

"Bisa? Mau saya bantu?"

"Cuma panasin sop doang kok, Pak. Kecil kaya gitu, mah." Ujarnya dengan menjentikkan jarinya.

Dewa terkekeh. "Yaudah, saya ke atas dulu."

"Pak Dewa mau dibawain ke kamar, makanan nya?"

"Nggak usah. Nanti kita makan bareng di sini. Saya tau, kamu juga belum makan." Jawab Dewa karena sebelumnya ia mendengar suara perut dari Bella.

Bella hanya tersenyum untuk menutupi rasa malu nya karena ketahuan oleh Dewa.

"Oke, Pak!"
.
.
.

"Nah, sekarang Pak Dewa makan."

Bella menyajikan makanan yang ia dan Tina masak, kepada Dewa.

Dewa melihat makanan itu, lalu melirik pada Bella yang menunggu dengan antusias.

"Pak Dewa harus review jujur, oke? Saya bakalan Nerima kok."

Ya, selagi masak bersama Tina, Dewa rasa makanan ini akan baik-baik saja. Ada bagusnya, Tina mengajarkan beberapa masakan pada Bella.

Dewa pun menyuapi sup ayam itu dengan satu sendok. Ia menajamkan Indra pengecapan nya, dan melihat ke arah Bella yang selalu tersenyum manis.

"Gimana, Pak? Enak, 'kan? Pasti nya, lah."

Dewa tersenyum. "Iya. Enak kok."

Bella mengibaskan rambutnya sombong. Padahal, jika mengingat waktu sebelumnya, Tina yang lebih mendominasi saat masak sup hangat itu.

"Bagus deh, kalo Pak Dewa suka. Saya sempet takut, rasanya keasinan." Ujar Bella yang mengambil juga makanan untuk ia makan.

"Kamu mau belajar masak lagi?" Tanya Dewa di sela suapannya.

Kepala Bella mengangguk. "Oh, iya, Pak. Kapan kita bisa tempati rumah yang di Kramat Jati, Pak?"

"Kamu mau nya, kapan?"

Bella tampak berpikir sejenak. Ia memikirkan segala kemungkinan jika berpindah ke sana dengan waktu yang cepat.

"Saya ngikutin kamu. Rumah disana juga udah diisi barang-barang, 'kan."

"Lusa, Pak Dewa mau nggak?"

"Lusa?"

Dewa seperti nya bisa. Tidak ada jadwal khusus, dan seperti nya hari libur.

"Itu hari Sabtu?" Tanya Dewa dan Bella mengangguk.

"Kecepetan nggak, Pak?"

"Nggak. Saya setuju. Kita bakalan pindah ke sana lusa."

Senyum Bella langsung membuncah. Ia senang. Pasalnya, ia bisa melakukan apa saja yang ia mau. Seperti memasak makanan yang ia cari di internet, memakan banyak eskrim, jikapun harus mengerjakan pekerjaan rumah, seperti nya ia akan terus mencobanya.

"Makasih, Pak Dewa." Ucap Bella tulus dengan senyum yang tak pernah hilang di bibirnya.

"Sama-sama."
.
.
.

Bella mendudukkan dirinya di kasur dengan lampu yang temaram. Ia melirik ke arah pintu yang tertutup sebelum akhirnya mengeluarkan decakan sebal.

"Lama-lama, gue kesel juga kalo nggak bantuin Pak Dewa." Gumamnya pelan. "Tapi kalo mau bantu pun, bantu apaan anjir? Gue tuh beda materi sama Pak Dewa."

Bella mengacak rambut nya pelan. Sungguh, berdiam diri seperti saat ini membuatnya sedikit khawatir akan kesehatan Dewa.

Bagaimana kesibukan Dewa, Bella paham betul. Apalagi, saat mengingat bahwa pria itu juga memiliki kerjaan kantor yang harus diurus.

"Hah~mau gimana lagi? Mungkin emang takdir gue buat nggak pusing soal begituan." Gumamnya lagi.

Bella bangun dari duduknya, guna berjalan mendekati lemari pakaian nya disana. Tangan bergerak untuk membuka lemari itu, dan melihat isi nya.

Ya, walaupun dalam kondisi kamar temaram seperti ini.

Bukan tanpa sebab, Bella mematikan lampu dan menyalakan lampu kecil dekat nakas. Ia ingin tidur lebih cepat, karena tubuhnya merasa lelah.

Karena Dewa tengah mengerjakan beberapa pekerjaan kampus dan kantor, Bella kerap kali menunggu yang mengakibatkan ia ikutan begadang.

Alhasil, kepala Bella akan berdenyut di pagi hari nya.

Mata Bella melihat isi lemari itu, lalu tangannya ia letakkan di dagu nya. "Kira-kira, semua baju disini, bakalan dibawa ke sono nggak ya, besok?"

Kepala Bella menggeleng. "Kayanya nggak semua, deh. Beberapa baju gue sama Pak Dewa aja."

Dengan keyakinan yang ada, Bella menutup kembali lemari itu dan berdiri di dekat pintu kaca balkon yang tertutup gorden.

"Hah~gue harus cepet tidur."

Seperti kebiasaan nya yang sudah ada sejak lama, Bella pun membuka bajunya. Dalam artian, hanya menyisakan tank top putih nya. Kali ini, ia mengenakan celana training, karena belum terlalu mengantuk.

Tubuhnya dengan segera ia baringkan di ranjang empuk itu. Ia bergumam nyaman, kala punggung nya bersentuhan langsung dengan sprei halus itu.

"Ini, mah bakalan cepet tidur."

KLAP!

Belum juga matanya terpejam, lampu nakas sudah mati dengan sendirinya.

Karena sedikit parnoan, Bella langsung mendudukkan dirinya. "Bikin kaget aja, anjir."

Decakan keluar dari mulut nya. Dengan segera, Bella membuka gorden kamar itu, dan matanya menemukan bahwa seluruh lampu perkomplekan rumah ini mati.

"Ck! Mati lampu berjamaah gini nih, yang nyusahin. Belum juga tengah malem, udah mati lampu." Gerutu Bella.

Teringat sesuatu, Bella berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu itu, dan melihat bagaimana gelapnya rumah Dewa.

"Kayanya, Bunda sama Ayah juga belum pulang, deh. Kok lama banget ya? Dinner dulu, kah?" Tanyanya sendiri.

Dengan mengumpulkan insting yang ada, Bella berjalan perlahan menuju lantai dasar. Ia bukan tipikal orang yang ketakutan akan kegelapan.

Ia hanya takut, saat tidur memakai baju panas.

"Pak Dewa ngerjain tugas dimana, ya?" Tanya nya lagi sendiri.

Menurut Bella, ia percaya bahwa pria itu mengerjakan tugas di ruang tamu. Jadi, kaki Bella pun menuju ke arah sana.

"Pak Dewa, Pak Dewa dimana?" Tanya Bella dengan suara pelan. Sebenarnya, tidak sepenuhnya pelan.

Melihat layar laptop yang menyala, Bella pun segera mendekat. Keningnya berkerut kala melihat tubuh jangkung Dewa yang terlentang di kursi dengan mata yang tertutup oleh lengan kekar pria itu.

"Kok nggak jawab, sih? Apa udah tidur? Masa iya?"

Kini, Bella berdiri di depan Dewa. Mata gadis itu melirik sejenak ke arah laptop, lalu pada pemiliknya.

"Pak Dewa. Pak Dew–akh!"

Bella mengerjabkan matanya setelah sebelumnya memekik pelan. Tubuhnya terasa kaku untuk beberapa saat karena Dewa memeluknya dari samping.

"P-Pak Dewa..."

Bella dapat merasakan jika tubuh pria itu sedikit bergetar. Alis Bella mulai berkerut karena mencerna reaksi tubuh Dewa.

Bukannya, seharusnya ia yang bereaksi seperti itu?

"Apa, Pak Dewa ketakutan? Gelap?"

"Pak Dewa, kenapa?" Tanya Bella sedikit mengelus rambut Dewa dengan tangan kirinya.

Sedikit kesusahan, namun tangan kanannya sendiri pun tak bisa digerakkan.

"Temenin saya."

Bella menoleh, lalu menundukkan kepalanya sedikit agar wajahnya bisa melihat wajah Dewa.

Namun, hanya sedikit saja wajah Dewa terlihat yang berasal dari cahaya layar laptop.

"Pak Dewa, kenapa?" Tanya lagi Bella.

Kali ini, Bella menyamankan posisinya walau sedikit sulit. Memeluk Dewa dari arah samping dan mengenakan tank top seperti ini, membuatnya sedikit canggung.

Dalam artian tak nyaman.

"Ehm, Pak Dewa mau saya temenin? Bikin materi nya? Atau proposal nya? Nanti, kalo saya nyontek, gimana?"

Dewa menengak melihat wajah Bella yang justru tersenyum menenangkan. Dewa menyukai hal itu.

Wajah Dewa mulai mengendus leher Bella, mencoba mencari rasa aman disana.

"Gapapa. Pokoknya temenin saya disini." Ujar Dewa. "Kamu... Udah ngantuk?"

Seharusnya, Bella menjawab 'iya'. Namun, melihat ekspresi Dewa, membuatnya menggelengkan kepalanya.

"Belum terlalu malem ini, Pak. Yaudah saya temenin." Ujarnya lalu melirik ke arah dapur. "Hadiahnya eskrim, boleh?"

Senyum Dewa muncul, lalu ia menganggukkan kepalanya. "Besok saya beliin."

Dewa pun meminta Bella untuk duduk di sampingnya, dengan beralaskan karpet buludru disana.

Bella dengan setia menunggu. Sesekali matanya terpejam lalu terbuka lagi, kala kantuk menyerangnya.

"Kok tumben banget mati lampu ya, Pak?" Tanya Bella.

"Saya juga nggak tau. Tapi biasanya, suka ada pemadaman listrik bergilir gitu. Bunda sama Ayah yang tau soal itu."

Kepala Bella manggut-manggut. "Sering Pak?"

"Nggak juga. Kalo lagi lancar, lancar. Tapi pernah, mati lampu itu, sebulan sekali."

"Dikasih tau nggak, sebelumnya?"

"Biasanya, iya. Tapi saya nggak tau, karena nggak masuk grup komplek sini."

Dewa menoleh ke arah Bella yang membuat gadis itu juga melihat wajah suaminya. "Kalo kamu ngantuk, boleh tidur. Tapi, di sofa dulu, karena kamu harus temenin saya."

Bella yang iseng, menyolek lengan Dewa. "Pak Dewa takut gelap, ya?" Ujarnya meledek.

Dewa berdecih kecil. "Nggak juga. Cuma, kalo lagi ngerjain ginian tapi mati lampu, ya nggak enak."

"Makanya saya minta temenin." Sambungnya.

Jika Bella membawa kebiasaannya bersama Amanda, ia akan berkata 'Ah, Pak Dewa, nggak jago banget aktingnya. Kalo boong, mah, ya bilang aja'.

Tapi untungnya, Bella hanya berpura-pura mengiyakan.

"Saya nggak mau bikin Pak Dewa malu, jadi saya diem aja."

Dewa menoleh dengan tatapan tak percaya. Itu yang dibilang tidak ingin membuatnya malu?

"Ah! Saya lupa bilang. Skripsi saya diterima." Ujar Bella yang baru mengingat hal itu. Ia rasa, Dewa belum mengetahuinya.

"Beneran? Congratulation."

Senyum Bella langsung merekah dengan manis. "Makasih, Pak. Untungnya, saya nggak ada revisi atau semacamnya."

"Mau hadiah?"

Merasa tertarik, Bella mendekatkan diri nya pada Dewa. "Boleh?"

"Boleh. Kamu mau apa?"

Untuk pertanyaan soal itu, Bella bingung menjawabnya. Pasalnya, dari semua keinginannya, ia lebih mengutamakan yang namanya hadiah eskrim vanilla kegemarannya.

"Eskrim?"

"Lagi?"

Bibir Bella langsung mengerucut. "Katanya boleh."

Merasa gemas, Dewa menghentikan sejenak ketikan nya pada laptop, lalu duduk dengan sepenuhnya mengarah pada Bella.

"Bukan gitu. Maksud saya, nggak ada keinginan lain untuk hadiah yang bakal saya kasih?"

Bella tampak berpikir sejenak. "Nggak ada, Pak."

"Okei. Lusa setelah kita pindah rumah, langsung saya beli eskrim satu kulkas."

Bella memeluk Dewa saat itu juga. Membayangkan ia makan eskrim tanpa harus embel-embel pergi ke supermarket adalah keinginannya sejak dulu.

Bella menantikan hal itu.

"Makasih, banget Pak Dewa. Makin sayang jadinya, sama Pak Dewa."

Ucapan Bella membuat Dewa terkekeh geli. "Makin sayang?"

Mendengar respon Dewa, membuat Bella jadi malu. Seharusnya, ia tak mengucapkan hal itu, cukup dalam hati saja.

"Saya males ngulang. Jadi kalo Pak Dewa nggak denger, lupain aja."

Dewa dengan segala kebucinan nya pada Bella pun, tak habis akal. Ia menggendong gadis itu, dan mendudukkan nya di atas pangkuannya.

"Stop senyum Mulu, ish. Nggak boleh." Ujar Bella kala ia menangkap senyuman terpatri di wajah tampan Dewa.

"Why?"

"Nggak ada alasan, pokok nya."

Jawaban Bella lagi-lagi membuat Dewa terkekeh.

"Stay here with me, biar saya makin sayang juga sama kamu."

***

Guys!!! Gimana kabarnya?

Setelah sekian lama menunggu gue update kan yakkk, Haha.

Gimana part kali ini? Masih aman? Masih lah. Cerita gue bukan yang penuh konspirasi kok, jadi santai aja.

Puasanya pada lancar, nggak? Jangan sampe udah ada yang bolong Yee.

Sorry baru update. Tengah malem pula. Tadi jam sepuluh masih nonton drakor 🤣

Sebenarnya kemaren tuh, udah nulis sekitar 500 kata, cuma kaya author kebanyakan. Bisa stuck di tengah jalan gitu. Alhasil, muncul ide nya tengah malem.

Masih ada yang on lah kan yak.

Jangan lupa voment nya ya!!!

See you next time guys 💕

PLEASE VOTE AND COMENT MY STORY
.
.
.
.
.

Jakarta, 27 April 2022
00.47

Continue Reading

You'll Also Like

1M 101K 53
[Daftar Bacaan Wattpad Romance - Januari 2022] Setelah berhasil mendapatkan beasiswa, Leeandra Kusuma Atmadja resmi menyandang status sebagai mahasis...
2.5M 139K 41
BELUM DI REVISI not a perfect lecturer : judul sebelumnya pilih dosen atau pacar ya? kalau bisa pilih keduanya kenapa harus satu "Pak apa apaan sih...
16.5K 509 14
"Kita sudah mendekat untuk menjauh." -Devan Elfrilia Pacaran sama guru? Seriusan? Baca aja! Siap-siap bawa kresek sama tisu, siapa tau ada yang munta...
3.3M 248K 79
AUTHOR SALAH KASIH JUDUL⚠️😭 Kalau kalian mengira ini berisi cerita hot++, KALIAN SALAHHHHH. INI LEBIH KE COMEDI hotnya dikit doangπŸ˜­πŸ™ Virtual?? WAJ...
Wattpad App - Unlock exclusive features