ALEXA ARMAGHAN [HIATUS]

By gasuka_matcha

20.7K 636 20

"Alex gak boleh ninggalin Ella ya." ucap gadis yang masih berumur 7 tahun itu. "Iya enggak sayang," "Kalau ud... More

Prolog
ALEXA || AWAL DARI SEGALANYA
ALEXA || PARASIT
ALEXA || PASAR MALAM
ALEXA || HUJAN
ALEXA || CEMBURU
ALEXA || KESALAH PAHAMAN
ALEXA || BERBAIKAN
ALEXA || PERKEMAHAN SMA TARUNA
ALEXA || HARI KE-2 PERKEMAHAN SMA TARUNA
Visual Cerita Alexa Armaghan
ALEXA || JEJAK ALAM
ALEXA || PULANG
ALEXA || BERTEMU
ALEXA || RENCANA?
ALEXA || MARAH
ALEXA || KEPUTUSAN
INFO PENTING
ALEXA || HAVE FUN
ALEXA || TERLAMBAT
ALEXA || KECELAKAAN
ALEXA || MERASAKAN

ALEXA || PINGSAN

898 24 2
By gasuka_matcha

Jadilah pembaca yang bijak.
Biasakan vote dan follow sebelum baca<3

Ayo ramaikan dipart ini, dengan share cerita ini ke teman-teman kalian.

Yang baca lumayan banyak, tapi yang vote sama follow dikit banget😕

HAPPY READING!!!

22. Stella pingsan

Stella sangat bosan sekarang, berada dikamar sendirian. Karena,Paras sudah pulang kemarin.

Malam ini Stella hanya menonton anime yang direkomendasikan Alex. Ternyata Alex suka menonton anime-anime seperti itu.

Ketika film itu selesai satu part, Stella menutup laptopnya. Bosan, apa yang harus ia lakukan sekarang (?)

Tok... tok... tok...

Suara ketukan dari luar pintu, membuat Stella dengan malas membukanya. Ah, ternyata mamahnya.

Sore tadi orangtua Stella dan Paras pulang bersama, mungkin bertemu dijalan atau ditempat yang lain.

"Sayang, makan dulu ya," ajak Cesa.

"Stella nggak laper," jawab Stella.

"Tapi kamu harus makan, "

"Stella nggak laper mah, " Stella masih kekeh dengan keputusannya. Ya walaupun Stella sedikit lapar, tetapi rasanya dia sangat malas.

"Kamu mau apa? Nanti biar mamah beliin," Ucap Cesa.

"Stella nggak mau apa-apa, mah."
"Kalau kamu laper, kebawah aja ya," Kemudian Cesa menutup pintu itu kembali.

Lalu, Cesa kembali duduk disamping Rehan. "Stellanya mana?" Tanya Rehan pada Cesa.

"Dia nggak mau makan," Cesa menghela nafasnya.

"Biar papah aja,"

Kemudian Rehan berjalan menuju kamar Stella. Lalu langsung memasuki kamar putrinya itu.

Rehan melihat Stella yang sedang berdiri disamping kursi balkon, lalu mendekatinya.

"Stella, jangan diluar. Udah malem, dingin sayang. " Rehan sangat perhatian pada putri semata wayangnya ini.

"Eh papah," gumam Stella.

"Papah ngapain disini?" Tanya Stella.

"Makan dulu yu, mamah udah buatin makanan kesukaan Stella," Ucap Rehan.

"Stella nggak laper pah," Jawab Stella.

"Tapi, kasian mamah. Udah bikinin makanan buat Stella, kalo nggak dimakan mubazir sayang." Ucap Rehan.

Stella masuk kedalam kamarnya, menutup pintu balkon itu lalu menutupnya dengan gorden.

Stella duduk disamping Rehan yang sedang duduk dibibir ranjang. "Pah, Stella nggak laper. Beneran deh," ucap Stella.

kriuk... kriuk...

Rehan terkekeh, "Siapa sih yang bilang nggak laper, tapi perutnya bunyi begitu." Rehan meledek Stella.

"Apaan sih pah," ujar Stella malu.

"Ayo makan," ajak Rehan.

Kali ini Stella mengangguk. Kasian dengan cacing-cacing yang meronta ingin dikasih makan.

"Nah gitu dong makan, apa harus papah terus yang ngebujuk? Mamah jadi gagal jadi orang tua kalo makan aja kamu nggak mau," ucap Cesa ketika Stella sudah duduk diseberang Cesa.

"Maaf mah, Stella nggak lagi-lagi kok." balas Stella.

"Iya, nih makan. Mamah buatin spaghetti khusus Stella," ujar Cesa dengan senyum merekah.

"Wah, enak nih." gumam Stella pelan.

"Papah mau?" Tawarnya pada Rehan.

"Papah udah, tinggal Stella aja yang belum," ujar Rehan.

Stella kembali memakan spaghetti itu. Sangat bahagia ketika kita dikelilingi oleh banyak orang, apalagi jika orang itu selalu baik pada kita.

Seperti Stella sekarang, dirinya sangat bahagia. Memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, meski Stella harus sendirian karena Rehan dan Cesa pergi ke perusahaannya.

"Stella, luka kamu masih sakit?" Tanya Rehan.

"Nggak pah," jawab Stella.

"Kamu udah keluar dari ekskul pramuka kan, sayang?" Tanya Cesa.

"Udah mah, waktu 3 hari setelah perkemahan. Sama Alex juga,"

Flashback on

Kini Alex sedang mengajak Stella keruang guru. Alex hanya ingin memberikan jabatannya pada anggota pramuka yang lain saja.

Iya! Dengan kata lain, Alex mengundurkan diri. Selain ketua pramuka, Alex juga mengundurkan diri dari ketua osis.

Alex sangat lelah dengan jabatannya yang double itu.

Ketika sudah diambang pintu ruang guru. Alex menanyakan sesuatu terlebih dahulu pada Stella.

"Kamu masih mau di pramuka?" Tanya Alex.

"Nggak, aku mau keluar juga. Aku selalu sakit kalo abis latihan," Jawab Stella.

"Oke, bener nih?" Alex memastikan.
"Iya, ayo masuk." Ajak Stella.

Lalu mereka pun masuk kedalam ruang guru. Disana sudah ada bu Rena yang tengah duduk dan memainkan ponselnya.

"Permisi bu," Ucap Alex ketika duduk didepan Bu Rena."

Bu Rena mengalihkan pandangannya menghadap Alex. "Iya? Ada yang bisa Ibu Bantu?" Tanya Bu Rena.

"Saya, Alexa Armaghan dan Stella Lacerta. Ingin keluar dari ekstrakurikuler Pramuka. Dan saya juga mengundurkan diri sebagai ketua osis. Saya ingin ibu mengerti, saya sudah kelas dua belas. Harusnya dari bulan-bulan yang lalu sudah diganti dengan kelas sebelas. Karena saya tidak ingin mengganggu belajar saya yang ingin menghadapi Ujian." Ucap Alex panjang.

"Saya berharap Ibu mengerti." Sambungannya.

"Ibu sangat mengerti Alex. Baik, Ibu akan mengabulkan keinginan kamu. Terimakasih juga, karena kamu sekolah ini menjadi sangat tertib dan lebih baik. Semoga ketua osis dan pramuka kali ini akan sama seperti kamu." Balas Bu Rena.

"Iya, terimakasih. Saya harap tugas saya digantikan dengan orang yang lebih tertib dari saya," Ujar Alex dibalas anggukan dari Bu Rena.

"Baiklah, hanya itu. Terimakasih kami permisi,"

Flashback of

*****

Pagi ini Stella akan berangkat ke sekolah. Luka kecelakaan kemarin juga sudah kering, dan perban yang biasa Stella pakai sudah dilepas.

Sekarang Stella sedang berada duduk dimeja riasnya. Menyisir rambutnya dengan telaten. Jangan lupa memakai bedak yang tipis.

Kali ini Stella menguncir rambut yang panjangnya hampir pinggang itu.

"Stella," Panggil Cesa ketika dia sudah masuk kedalam kamar putrinya.

"Iya mah?"

"Ayo sarapan, udah siang. Hari ini upacara kan?" Tanya Cesa.

"Iya mah, ini Stella udah kok." jawab Stella.

Kemudian dua perempuan itu turun dari tangga, lalu berjalan kearah meja makan. Disana ada Rehan yang sedang memakan sarapannya.

"Hari ini sarapan apa mah?" Tanya Stella ketika sudah duduk dihadapan Rehan.

"Mamah bikin omlet sayang,"

"Wah udah lama nggak makan omlet, "

"Makan yang banyak ya," Cesa menaruh omlet diatas piring yang berisi sedikit nasi.

"Nasinya cukup nggak?"

"Udah mah, malah itu kebanyakan,"

"Dihabisin ya?"

"Iya mah,"

Kemudian Stella langsung memakan sarapannya dengan lahap.

Semenjak Cesa sering menemani Rehan, Stella jadi jarang memakan sarapan yang dibuat oleh Cesa. Kadang Stella rindu dengan masakan yang dibuatkan Cesa.

"Pah, hari ini papah yang nganterin Stella ke sekolah kan?" Tanya Stella setelah menelan makanannya.

"Kamu sama Pak Dadang aja, papah mau jalan-jalan sama mamah," Ucap Rehan dengan nada jenaka.

"Ish, papah kok gitu. Lagian jalan-jalan terus, kapan Stella bisa jalan-jalan sama papah juga." Ucap Stella mencibirkan bibirnya.

"Kan kemarin Stella udah jalan-jalan ke pantai sama mamah. Sekarang giliran papah sama mamah dong,"

"Pokoknya Stella ikut!" tegas Stella.
"Kamu kan sekolah," jawab Rehan.
"Ihhh mamahh, papah kok gitu sihh," rengek Stella.

"Mana ada jalan-jalan. Papah kamu sibuk hari ini, nanti Stella sama papah berangkatnya." Ujar Cesa.

"Tuhh wlee," cibir Stella sambil menjulurkan lidahnya ke Rehan.

Dasar tidak sopan, tapi Rehan sangat bahagia jika Stella bahagia. Rehan tidak akan bisa membuat putri semata wayangnya menangis.

Selama ini Rehan tidak pernah membuatnya menangis. Oleh karena itu, Rehan akan melakukan apapun untuk Stella, begitupun Cesa.

Mendengar kabar Stella kecelakaan saja Rehan dan Cesa menangis. Bagaimana jika lebih dari itu?

Tidak! Rehan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika tidak bisa melindungi kedua bidadarinya.

"Ayo pah, udah jam setengah tujuh," Ajak Stella sambil mengelap bibirnya menggunakan tisu basah.

"Ayo!! Cuss!!! " Rehan mengambil perlengkapan kantornya yang ada diatas kursi kosong yang ada disampingnya.

Lalu Rehan berjalan kearah Cesa. Mengecup kening Cesa lama, dan pipi.

Lalu Cesa beralih ke Stella, melakukan apa yang Rehan lakukan padanya.

"Belajar yang bener, biar jadi orang hebat kayak papah," Ujar Cesa.

"Mamah juga hebat, bisa menjaga dua orang sekaligus," jawab Stella.

"Yaudah, hati-hati ya."

Rehan dan Stella masuk kedalam mobil ferari yang berwarna hitam.

Stella membuka kaca mobilnya, lalu melambaikan tangannya pada Cesa yang ada diteras.

"Dadah mamah!!"

"Dadah sayang,"

*****

"Belajar yang bener, jangan gangguin Alex terus." Ucap Rehan ketika sudah sampai didepan gerbang sekolah SMA Taruna.

"Emang kenapa?" Tanya Stella sambil mengerjapkan matanya lucu.

"Kan Alex mau ujian, kamu harus ngertiin dia. Jangan buang-buang waktu Alex,"

"Stella tau pah, dikira Stella anak kecil apa."

"Yaudah sana masuk,"

"Stella masuk dulu ya Pah, dah!"

Stella pun masuk kedalam gerbang sekolahnya. Berjalan kearah kelasnya.

Saat dikoridor, Stella tersungkur karena kaki tersandung. Saat melihat siapa pelakunya, Stella langsung menatapnya jengah.

"Ups, sory sengaja." ucap Iren sambil tertawa.

Stella menatap tajam kearah kakak kelasnya itu, sangat bosan meladeni orang gila seperti Iren.

"Kalo jalan tuh matanya dipake!" ucap Stella ketus.

"Lo nya aja yang letoy, segitu aja jatoh." balas Iren memutar bola matanya malas.

"Gue doain buta beneran." Stella yang malas meladeni Iren pun langsung meninggalkan area koridor, dan langsung berlari kearah tangga.

Bukannya takut, Stella hanya merasa jengah dengan kelakuan Iren yang sangat terbilang childish.

Sudah tahu jika Alex sudah punya pacar, masih saja berusaha merebutnya.

Saat Stella sudah sampai kelasnya. Dia melihat ada kotak yang dibungkus menggunakan kertas kado.

Stella duduk dikursinya. Bertepatan dengan Paras yang masuk kedalan kelas.

"Hai Stella," sapa Paras.

"Hai, udah mendingan?" Tanya Stella.

"Udah, perbannya juga udah aku lepas, kayak kamu." Ucap Paras.

"Kok lo tahu kelas lo disini?"

"Dianter sama kak Aril," Sontak Stella langsung melihat kearah pintu. Ada Aril yang sedang tersenyum kearah Paras.

Setelah itu Aril langsung membalikkan badannya dan meninggalkan kelas 11.

"Aku duduk dimana?" Tanya Paras.

"Disini," Stella menepuk kursi yang berada disamping Stella.

"Apa aku deket banget ya sama kamu?"

"Iya. Kan udah gue bilang lo itu sahabat dan sepupu gue."

Paras hanya mengangguk saja. Lalu atensinya beralih pada sebuah kotak yang ada diatas meja Stella.

"Kamu ulang tahun ya?" Tanya Paras.

"Enggak, ulang tahun gue masih lama." Jawab Stella.

"Tapi ada kado didepan kamu,"

"Tapi ulang tahun gue masih lama,"

Sangat aneh rasanya, siapa yang mengirimkannya kado? Apa Alex? Stella terus memikirkan itu Sampai suara panggilan untuk upacara pun tidak terdengar.

"Stella, ayo upacara." Ucap Paras membuyarkan lamunan Stella.

"I-iya."

"Kamu kenapa?"

"Gue nggak apa-apa,"

Kemudian mereka berjalan kearah lapangan outdoor. Saat sudah dilapangan, Stella dan Paras berbaris diantara teman kelasnya.

Saat upacara sedang berlangsung, keringat dingin bercucuran dari dahi Stella. Bukan hanya dahi, semua tubuh Stella mengeluarkan keringat dingin.

Saat pembina upacara sedang menyampaikan amanat, Stella sudah ambruk dilapangan.

Paras yang tidak tahu aba-aba pun langsung berteriak minta tolong.

"PMR! ADA YANG PINGSAN," teriak Bima, ketua kelas Stella.

Bukannya PMR yang datang, melainkan Alex. Sebenarnya Alex sudah melihat Stella dari jauh. Dengan gerakan kilat, Alex langsung menggendong Stella ala brydal style.

Saat sampai UKS, Alex langsung merebahkan tubuh Stella diatas bankar.

Tidak ada PMR satu pun disini, hanya ada Alex dan Stella diruangan UKS.

Alex pun hanya diam, duduk di sofa yang ada dipojok. Menunggu Stella sadar, Alex memainkan ponselnya.

Saat Alex sedang bermain ponselnya, seseorang masuk kedalam UKS.

Ah! Ternyata Vasya. Vasya ikut duduk di sofa panjang yang diduduki Alex.

"Alex," panggil Vasya.

"Hm," Alex membalasnya dengan deheman saja.

"Lo nggak nanya gitu, kenapa gue di UKS?" tanya Vasya.

"I don't care," jawab Alex santai.

Vasya mendengus kesal. Sekarang Alex sudah tidak bisa diluluhkan lagi, jangankan diluluhkan, diajak bicara pun hanya dijawab singkat.

Stella mengerjapkan matanya, menoleh kesamping kiri, melihat pacarnya yang sedang digoda Vasya.

Stella tidak akan tinggal diam. Stella pura-pura terbatuk, sampai Alex datang kearah Stella.

"Stella? Kenapa?" tanya Alex.

"Mau minum," pinta Stella.

Alex pun dengan sigap mengambil air yang tersedia didalam UKS. Memberikannya pada Stella, lalu. Alex memegangi ujung gelasnya, takut tumpah.

Di sofa panjang, Vasya melihat adegan tersebut hanya mengumpat dalam hati.

"Awhs.." ringis Vasya sambil menahan perutnya yang sakit. Vasya berharap akan ditolong oleh Alex.

Tapi nihil, Alex tidak peduli sama sekali padanya. "Alex... tolong Lex.. " ucap Vasya masih dengan memegang perutnya.

"Tinggal panggil PMR aja," sahut Stella yang sedang dipijit pelipisnya oleh Alex.

Pintu UKS terbuka, beberapa PMR masuk kedalam. Mereka langsung menangani Vasya dan beberapa siswa yang pingsan.

"Cewek lo nggak apa-apa?" Tanya Bella pada Alex.

Masih ingat dengan Bella kan?

"Nggak apa-apa kak," bukannya Alex yang menjawab, melainkan Stella sendiri.

"Kenapa?" Tanya Bella, lagi.

"Pingsan," jawab Alex singkat.

"Kok bisa? Udah sarapan?"

"Udah kak,"

"Dia emang kayak gini, capek sedikit pingsan," ujar Alex. Dan langsung mendapat cubitan diperutnya oleh Stella. Sang empu hanya meringis.

"Ihhh! Ngeselin banget," ucap Stella.

Alex tertawa. "Emang iya kan?" tanyanya.

"Nggak usah diperjelas juga!" Jawab Stella ketus.

"Yaudah, gue nanganin mereka dulu," pamit Bella pada Alex dan Stella.

"Alex, mau ke kelas." pinta Stella sambil memeluk lengan Alex.

Alex mengernyit heran, semakin kesini sikap Stella semakin manja. Tapi Alex senang karena Stella seperti ini.

"Ayo," ajak Alex.

"Mau gendong, lemes tauuuu." Stella memanyunkan bibirnya.

"Iya, ayo."

Kemudian Stella melingkarkan kedua tangannya di leher Alex dari belakang. Kedua kakinya Stella lingkarkan dipinggang Alex.

Setelah Stella sudah naik, Alex memegangi Stella dari belakang, takut jatuh.

Lalu Alex langsung keluar dari UKS. Banyak pasang mata yang melihat iri dan ingin diposisi Stella.

Begitu pula dengan Vasya, dia sangat ingin dilirik Alex. Tapi itu tidak mungkin.

Vasya tahu jika mereka sahabat dari kecil, tapi itu tidak akan memupuskan untuk berhenti berjuang.

Senyum licik Vasya keluar ketika tidak sengaja melihat dahi Stella yang terdapat bekas luka.

Dengan semangat, Vasya keluar dari ruang UKS. Berjalan kearah kelasnya.

Saat dikoridor, Vasya tidak sengaja melihat Paras. Mungkin upacara sudah selesai. Banyak murid-murid juga yang berhamburan.

"Heh!" Tegur Vasya sambil menahan pundak Paras.

Paras yang diperlakukan seperti itupun langkahnya terhenti. Menatap kakak kelasnya, mungkin.

"Saya kak?" Tanya Paras menunjuk dirinya sendiri.

"Ya lo lah, siapa lagi?" Jawab Vasya ketus.

"Ada apa ya kak?" Tanya Paras hati-hati.

Jujur, sekarang Paras takut dengan tatapan Vasya. Sikap Paras yang seperti ini membuat Vasya geram.

"Heh! Lo pikun apa gimana sih?!" Bentak Vasya.

"M-maaf kak, aku nggak tahu apa mau kakak," ucap Paras gemetar.

"Nggak usah pura-pura lupa lo! Bilang aja lo udah nggak berani sama gue!"

"A-aku nggak tahu maksud kakak apa,"

Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu. Bagaimana tidak? Mereka sedang dikoridor utama, tentunya banyak yang menonton.

"Kak, dia amnesia," celetuk salah satu teman kelas Paras. Namun, Paras tidak mengenalnya.

"Oh, amnesia. Bagus dong," ucap Vasya sambil menyenggol pundak Paras, lalu pergi meninggalkan koridor.

Paras pun langsung masuk kedalam kelasnya. Duduk dikursinya sambil menunggu Stella.

Paras melihat seluruh isi kelas, ketika dirinya melihat pembatas celah antara meja, Paras melihat bayangan dua orang perempuan yang sedang bercanda gurau.

"WOI STELLA MONYET! SINI LO!"

Paras mendengar teriakan seseorang yang berkata kasar, tetapi suaranya sangat persis dengan suaranya.

"Nggak mungkin," gumam Paras sambil menggelengkan kepala.

"Nggak mungkin aku ngomong kasar," sambungnya.

Kepala Paras tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. "ARRGHH!!" Paras berteriak, membuat seisi kelas menatapnya takut.

Stella yang baru saja datang dengan Alex pun terkejut mendengar suara teriakan seseorang.

Ketika mereka masuk, ternyata Paras sudah ambruk tak sadarkan diri.

"PARAS!!" pekik Stella.

******

TBC

Jangan lupa vote, follow dan komen.

Jangan lupa kasih aku saran dan kritikannya juga😁

Btw, sory baru update hehe..

Dan terus ikutin cerita ini sampai tamat ya, makasih all.

Follow ig: @Liya_Lacerta

Jum'at,
15 April 2022

Next part.......

Continue Reading

You'll Also Like

4.8K 356 15
[HARAP FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!] Ada seorang Remaja Laki - laki yang bernama Arga Reval Saputra dia adalah seorang Most Wanted di SMA Rajawali...
849K 22K 49
Bagaimana nasib seorang anak SMA yang harus menikah dengan seorang pengusaha sukses karna hutang dari orang tua nya? apakah harus dia membayar nya d...
3.5M 289K 76
PART MASIH LENGKAP! [FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] 🚫BELUM DIREVISI! 🚫TYPO BERTEBARAN NOTE: Cerita ini aku buat saat belum mengerti EYD. Jadi mohon d...
2.8M 72.2K 26
[SEBAGIAN PART DIHAPUS] Semua perihal keluarga, persahabatan, percintaan hadir disini. Bagaimana bisa terjadi? Apa yang Galvan cari selama ini selalu...
Wattpad App - Unlock exclusive features